Pages

LANJUTKAN

 LANJUTKAN

oleh : Faiz Abadi

Mari tengoklah pagi selalu ceria

Mentari tak pernah lelah

Pancarkan sinarnya

Mengapa harus harus berlama-lama angankan segelas kopi

Ayo segera berangkat

Ke tempat indah terdekat

Sambil dendangkan

Lagu-lagu usum layangan

Kenangkan masa kecil kecil yang bahagia

Pembekalan Perwakafan bagi Pengadministrasi PPAIW

 Pembekalan Perwakafan bagi Pengadministrasi PPAIW



Salah satu jabatan dari Kepala KUA Kecamatan adalah sebagai Pejabat Pembuat Akta Ikrar Wakaf (PPAIW), karenanya pengetahuan dibidang Perwakafan bukan hanya harus dikuasai PPAIW, tetapi juga Pengadministrasi Perwakafan yang ada pada KUA Kecamatan. Hal ini disampaikan Imam Muklis, Penyelenggara Zakat dan Wakaf pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Senin (21/6) dalam acara sosialisasi pendaftaran Perwakafan yang dilaksanakan di aula bawah.

"Banyak Pengadministrasi


Perwakafan pada KUA Kecamatan yang tidak memahami sepenuhnya dibidang berwakafan, sehingga perlu sosialisasi dibidang Perwakafan" ungkapnya.

Lebih lanjut Imam Muklis menyampaikan bahwa pihaknya membuka konsultasi secara offline maupun online bagi Pengadministrasi maupun PPAIW.

Selanjutnya dalam kegiatan yang juga dihadiri Syafaat, dari Seksi Bimas Islam yang berpengalaman di bidang Perwakafan lebih banyak menyampaikan tehnis yang berkaitan dengan hukum pertanahan. ' yang harus difahami oleh pelaksana adalah alas hak untuk perwakafan, terlebih bagi tanah hak waris" ungkapnya.

Kegiatan ini dilaksanakan dengan mengingat Perwakafan merupakan hal yang sangat penting yang merupakan aset bagi umat Islam.

Diskusi Musisi Muda dengan Lentera Sastra

 

Diskusi Musisi Muda dengan Lentera Sastra

 


Musik, seni dan budaya sebagai salah satu wahana untuk mengaktualisasikan rasa dan cita dalam alunan nada, karenanya tidak berlebihan jika Walisongo dalam menyebarkan ajaran Agama Islam juga menggunakan media ini untuk mengajarkan nilai nilai religi kepada masyarakat. Hal ini yang mendasari Aekanu Hariyono ketika menghadirkan pengurus Lentera Sastra untuk ikut memberikan pencerahan terhadap para musisi tradisional muda Joyokaryo dari kelurahan  Singotrunan yang dinobatkan sebagai juara dalam festival patrol beberapa bulan yang lalu. Kegiatan tidak resmi dengan nuansa pedesaan yang dilaksanakan di Omah Kopi Desa Telemung hari Rabu (16/6) ini disamping dihadiri Pengurus Lentera Sastra, juga dari Dewan Kesenian Blambangan (DKB).

“saya menghadirkan Lentera sastra agar ikut memberikan pencerahan kepada anak anak ini agar mereka bisa menempatkan sesuati pada tempatnya” ungkapnya. Lebih lanjur Aekanu Hariyono menyampaikan bahwa tidak jarang anak anak yang yang menekuni musik ini terjerat dalam minuman keras bahkan narkoba, karenanya pembekalan kepada mereka perlu dilakukan. Dipilihnya Lentera Sastra mrnurut budayawan yang biasa dipanggil Pak Eka ini dengan mengingat pegiat Sastra yang tergabung dalam Lentera sastra dapat dijadikan salah satu contoh pegiat sastra, seni dan budaya yang bernuansa Religi.

Slamet Hariyanto atau biasa dipanggil Kang momo dari DKB  menyampaikan bahwa dirinya dan kawan kawan yang dianggap lebih senior berharap lebih banyak musisi muda yang menekuni musik tradisional agar anak anak muda dapat lebih memperkenalkan seni dan budaya Banyuwangi ke kancah dunia. “mereka sangat berpotensi dan perlu kita beri semangat dan motivasi” ungkap pria yang lama tinggal di Kota Madinah ini.

Sementara itu Syafaat sebagai Ketua Lentera Sastra mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada komunitasnya untuk ikut memberi pencerahan terhadap anak anak muda yang menekuni musik tradisional ini. “Sebuah musik sangat tergantng terhadap kegunaanya, ketika musik tersebut digunakan untuk kebaikan, maka akan baik, tetapi jika sebuah musik digunakan sebagai salah satu jalan menuju kemaksiatan, maka lebih baik ditinggalkan” ungkapnya.

Sekretaris Lentera Sastra, Nurul Ludfia Rochmah memberikan motivasi terhadap anak anak untuk melakukan inovasi terhadap musik tradisional yang digelutinya. Guru Bahasa pada MAN 1 Banyuwangi ini ikut bermain musik dan bernyanyi, sehingga keakraban terjalin dengan baik, anak anak juga merasa senang karena diperhatikan.

Begitu juga dengan Fatah Yasin Nor, Pengurus DKB ini turut memberikan apresiasi terhadap anak-anak yang dengan penuh semangat mengasah kemampuan dibidang musik tradisional. “Musik patrol merupakan salah satu kearifan lokal yang dimiliki Banyuwangi” ungkapnya. (Syaf)

NDARU

 NDARU

oleh : Faiz Abadi

Cahaya itu datang ketika terlelap dalam tidur

Untukmu Mas karebet

Untuk Danang Sutawijaya

Untukmu siapa saja pada garda terdepan

Keris Nogososro, Setan Kober, Rompi onto kusumo menyaksikan

Begitu pula diri kita

Hanyalah orang biasa

Tetapi saat sekutu membakar Surabaya

Kita akan hadir

Merah putih tetaplah harus berkibar

NKRI adalah darah merah dan putih

Dinasti politik sejak dari dulu

Joko Tingkir adalah titisan Majapahit

Danang Sutawijaya meneruskan kejayaan bangsa lewat Mataram

Dinasti politik sejak dari dulu

Politik dinasti adalah wahyu keprabon milineal

Tak mengapa istri sekalipun 

Meneruskan kejayaan

Ini soal demokrasi

Trik politik, intrik, korporasi hak siapa saja

Sejak Majapahit, Demak, Pajajaran luruh dalam kurun waktu

Sebenarnya kita sama

Titisan darah mereka

Buat apa turun di jalan

Demo mengganggu roda ekonomi

Berapa juta orang kalian rugikan

Apalagi harus ada kematian sia-sia

Tutuplah cerita tentang darah yang tumpah

Apalagi harus meledakkan diri

Hingga kini tak berarti

Malah cibiran bertubi-tubi

Phobia dimana-mana

Karena nyawa tak berdosa lenyap begitu saja

Di Bali, di tempat -tempat ibadah

Adakah kebenaran tersampaikan

Harus dengan paksaan

Itu karena tidak mengenal

Ndaru

Sejak dari dulu

Saksikan saja

Koak Garuda selamanya di angkasa

Kibarkan bendera

Bhineka tunggal ika

Ndaru adalah wahyu keprabon

Jika bukan untukmu

Biarlah

Kelak akan tiba waktunya

Jangan ada lagi pertumpahan darah

Kamus Using-Indonesia Untuk Madrasah

 

Kamus Using-Indonesia Untuk Madrasah

Pengurus DKB (Dewan Kesenian Blambangan) Kabupaten Banyuwangi Nanik Asiyani memberikan apresiasi terhadap perkembangan seni, budaya dan literasi dilingkungan Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Guna peningkatan kemampuan dibidang bahasa daerah, diberikan sepuluh buku Kamus Bahasa Daerah Using-Banyuwangi yang ditulis oleh Hasan Ali. Penyerahan tersebut disampaikan melalui Ketua Lentera Sastra dirumah B. Nanik minggu (13/6).


“Buku ini tidak kita jual belikan, karena pesan dari yang memberikan yakni Mbak Emilia Contessa (artis penyanyi dan politisi yang juga anak kandung dari Hasan Ali) bahwa buku tersebut tidak boleh diperjual belikan dan diberikan kepada mereka yang benar benar membutuhkan” ungkapnya. B. Nanik mempercayakan kepada Komunitas Lentera Sastra untuk menyerahkan kepada Madrasah yang benar benar komit dan membutuhkan untuk menambah referensi tentang bahasa daerah using.

Dengan mengingat keterbatasan jumlah buku, untuk saat ini hanya mamu memberikan 10 buah. “kami tidak berjanji, namun kami usahakan untuk seluruh MI yang ada di Banyuwangi akan menerimanya” ungkapnya.


Sementera itu Ketua Lentera Sastra Kemenag Kab. Banyuwangi Syafaat menyambut baik bantuan yang tekah diberikannya. “akan kami sampaikan kepada Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi bantuan tersebut” ungkapnya. Lebih lanjut Syafaat berharap semua MI di Kabupaten Banyuwangi, baik Negeri maupun suasta neberina Buku yang sangat penting untuk pembelajaran Bahasa Using tersebut. Hal ini dengan mengingat Bahasa Usiing sangat Khas dan hanya ada di Kabupaten Banyuwangi, (syaf)

Parade Puisi Lentera Sastra

 

Parade Puisi Lentera Sastra


Komunitas Lentera Sastra (Terminal Literasi Pegawai Kementerian Agama) Kabupaten Banyuwangi, mengadakan Parade Puisi di anjungan wisata Jopuro Desa Kampunganyar Kecamatan Glagah, Minggu (13/6). Kegiatan tersebut dihadiri Budayawan dan Sastrawan di Kabupaten Banyuwangi, baik yang bergabung dengan Dewan Kesenian Blambangan (DKB) maupun konunitas budaaya dan sastra lainnya di Kabupaten Banyuwangi.

H. Dimyati, Kepala Seksi PAIS (Pendidikaan Agama Islam) mewakili Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menyampaikan bahwa dengan adanya komunitas Lentera Sastra ini, semangat literasi dilingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupatren Banyuwangi tumbuh dengan pesat. “Penulis pada Kantor Kementerian Agama selalu memberikan warna religi dalam karyanya” ungkapnya. lebih lanjut H. Dimyati menyampaikan bahwa Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi memberikan suport penuh dengan kegiatan Lentera Sastra yang dilaksanakan secara mandiri.

DKB Kabupaten Banyuwangi yang diwakili beberapa pengurusnya memberikan apresiasi setinggi tingginya terhadap yang sudah dilakukan ASN pada Kementerian Agama. Sebagaimana disampaikan Slamet Hariyanto atau biasa dipanggil Kang Momo, pria yang aktif menulis puisi dan lirik lagu ini merasa bangga sekaligus malu ketika mendapat undangan dari Lentera Sastra, Bangga karena semangat ASN Kementerian Agama yang secara mandiri mampu menggerakkan Sastra dan literasi. “kami bangga dan sekaligus malu, karena DKB belum melaksanakan kegiatan sebagaimana yang telah dilaksanakan Lentera Sastra” ungkapnya. Senada dengan yang disampaikan Kang Momo, Sekretaris DKB Nanik  Asiyani turut bangga dengan semangat literasi di Kementerian Agama, dari tingkat MI, MTs, MA hingga para guru penggerak Literasi “hampir tiap hari saya membaca opini yang ditulis guru maupun siswa madrasah di media cetak terkemuka di Kabupaten Banyuwangi” ungkapnya. Bu nanik juga berkenan menyampaikan Buku Kamus Bahasa Daerah Using-Indonesia kepada Lentera Sastra. “Buku tersebut di cetak oleh Mbak Emillia Contessa (anak kandung Hasan Ali) untuk diberikan kepada yang benar benar membutuhkan.

Dalam Parade Puisi juga diadakan ngaji sastra yang dipandu oleh Nurul Ludfia Rohmah, menghadirkan banyak narasumber dari DKB seperti Kang Pomo, Bu Nanik Bu Yety dan Fatah Yasin Nor, juga Ketua Sanggar Merah Putih 45 Agus Wakyu Nurhadi yang biasa dipangil Cak Aguk memberikan banyak masukan terhadap pembacaan puisi baik yang dilakukann siswa MAN 1 Banyuwangi maupun ASN Kementerian Agama. “tidak ada aturan yang benar benar baku tentang pembacaan puisi” ungkapnya. Menyinggung tentang penulisan puisi, Bung Aguk (pangilan akrabnya) membahas beberpa puiisi yang ada pada Buku Pojok Romanza. “Almarhum Achlis Yusrianto sesuai dengan puisinya bukanlah sastrawan, melaikan seorang filosof, sehingga tulisan puisinya bukan hanya bernilai sastra, tetapi juga tuntunnya sufireligi” ungkapnya.


Berbeda dengan para Narasumber sebelumnya,   Budayawan Banyuwangi Aekanu Hariyono, Ketua Komunitas Kiling Osing sangat tertarik dengan beberapa penampilan pembacaan puisi, seperti pembacaan puisi secara bersama yang dilakukan Faiz Abadi dengan kedua putranya. “penampilannya sangat bagus, sebagai salah satu bentuk pendidikan dan pengkaderan sastra kepada anak-anaknya, begitu juga dengan penampilan eti Chotimah yang juga pengurus DKB dan anaknya Istiqlal Syukri Ahmad, yang baru kelas 4 MI Islamiyah Rogojampi, karena guru terbaik bagi anak anak adalah kedua orang tuanya” ungkapnya. Tour Guide yang telah malang melintang di beberapa negara tersebut berharap semangat menumbuhkan budaya dan sastra terus dipupuk untuk tetap menjaga kearifan lokal di Kabupaten Banyuwangi.

Menanggapi yang disampaikan pengurus DKB Kabupaten Banyuwangi, Ketua Lentera Sastra Syafaat, menyampaikan bahwa apa yang dilakukan oleh Lentera Sastra semoga menjadi pemantik agar sastra yang telah tumbuh subur di Bumi Blambangan ini semakin tumbuh berkembang. “Kerjasama antar lembaga tetap harus kita jaga dan kembangkan untuk perkembangan Literasi, Budaya dan sastra di Kabupaten Banyuwangi” ungkapnya. Dalam kesempatan tersebut Syafaat juga menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu sukses pelaksanaan acara/ “Terima kasih kepada semua pihak yang mensuport kegiatan ini, terutama Bu Latifah, Kepala Desa Kampunganyar yang memfasilitasi tempat” ungkapnya. Juga kepada BPAN-AI yang juga hadir dalam kesempatan tersebut.

Gegap gempita pengunjung Wisata Jopuro dihebohkan dengan penampilan Pembacaan Puisi dan drama yang dilakukan oleh Tjatur Pramukho Shakti ( Mas Pram's...), seniman dan Budayawan Banyuwangi dan Istiqlal Syukri Ahmad (siswa kelas 4 MI Islamiyah Rogojampi) yang mampu menghipnotis pengunjung. Penampilan pria berambut gondrong yang sudah memuth semua tersebut sangat totalitas ketika membacakan puisi, anjungan Wisata Jopuro menjadi pusat perhatian ketika budayawan gaek ini tampil. Yang mampu diimbangi oleh Istiqlal Syukri Ahmad. (Syaf/AWN)

Mei 2020

 Mei 2020

oleh : Unu Masnun

Palu takdir sudah terketuk

Siap berkelana meniti waktu 

Alur sudah terbuka 

Ruang hari membuka jalan 

Siapa melewati nya 

Dan bukan jalan di belakang 

Yang berusaha selalu diintip 


Membentang cakrawala 

Menyambut kabut yang mulai terkikis

Arah cahaya memancar

Pendarnya sudah menyelusup

Dari balik himpitan masa

Angin 

Angan

Ingin

Menjelma pelangi 🌈


Kebaman, Juni 2021

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger