Pages

CEMBURU TAK BERUJUNG

 CEMBURU TAK BERUJUNG

Oleh : Faiz Abadi

Cemburu menyelinap begitu saja

Pada raga- raga di sekitar

Bahkan terlalu membakar hati

Ketika rasa iri datang

Ketika hasad menghampiri

Hasutpun mulai tebarkan kata-kata

Hinggap kesana kemari

Hingga tempat terendah 

Dibakar api cemburu

Padahal hanya pada jasmani tidak sama

Mengapa bila warna tidak sama

Mungkin terlihat lebih mengkilap

Mestinya semua mengerti

Mereka terkadang membandingkan juga

Sehingga juga cemburu

Terkadang terlalu bangga 

Lahirlah diskriminasi warna

Bahkan membunuh lainnya

Seperti pembantaian Yahudi oleh Hitler

Lahirkan dendam berkepanjangan

Di tanah perebutan terus membara

Dunia pun terbelah

Terbakar rasa empati

Lahirlah simpati-simpati untuk ketidak adilan

Sedangkan cemburu terus memburu

Dirikan pemukiman baru

Terus merampas tanah tersisa

Diklaim milik nenek moyangnya

Tak pedulikan nyawa anak bahkan sang bunda

TERHENYAK

 TERHENYAK

Oleh : Faiz Abadi

Bom-bom berjatuhan di Gaza

Tembakan roket balasan dari pejuang Palestina

Belum cukupkah

Menghenyakkan semuanya

Dibalik kelemahan selalu ada penindasan

Di atas kekuasaan sering terselip kesewenang-wenangan

Di antara derap kehidupan selalu ada persaingan

Terlepas sehat atau tidak

Bergantung Siapa dirinya

Pagi cerah di atas langit megah

Pelan-pelan berganti terik mentari

Perlahan senja membayang

Malam pun segera tiba

Terus berganti siang dan malam

Cerita manusia tidaklah terlalu berbeda

Makan, minum, tidur, perjuangan,  eksistensi, eksploitasi

Lalu tercermin lewat mimpi

Terlintas seperti apa

Dalam dengkur semalam semua manusia angankan apa?

Gelegak gelombak ombak

Pendam geram magma bumi

Seolah menunggu muntahkan marahnya

Mengapa masih ada terjebak pada lubang sama

Apakah karena kita masih bangsa manusia

Apabila malapetaka datang

Barulah semuanya terhenyak

Gesah Lentera Sastra

 

Gesah Lentera Sastra


Bertempat di Pringsewu Osing Resto Rogojampi, Lentera Sastra (Terminal Literasi Pegawai Kementerian Agama) Kabupaten Banyuwangi mengadakan gesah sastra  secara online dan offline, Jumat (7/5). Pertemuan yang dilakukan dengan judul Buka bersama semi online tersebut membahas perkembangan karya tulis dilingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi.


Ketua Lentera Sastra H.Syafaat menyampaikan bahwa komunitas Lentera Sastra tidak mengadakan pertemuan dengan menghadirkan seluruh anggota secara bersama, hal ini dilakukan untuk menghindari kerumunan guna mencegah penularan covid-19. "Buka bersama tidak harus di tempat yang sama, yang penting waktunya bersama dan ada kebersamaan" ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut gesah sastra disamping membahas berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan seperti Lounching buku "Pojok Romanza", sebuah buku Antologi puisi untuk mengenang almarhum Achlis Yusrianto secara virtual, juga menyempurnakan kepengurusan dengan beberapa bdang seperti bidang pengembangan sastra dan puisi, pengembangan Fotografi dan sinemagrfi, hal ini terkait dengan perkembangan daya imajinasi yang tidak hanya dalam bingkai karya tulis semata."pengembangan Fotografi dan sinemagrafi kita fokuskan kegiatan ekstra pada anak madrasah" ungkapnya.

Beberapa lembaga bermaksud melakukan kerjasama dengan Lentera Sastra untuk pelatihan dan  pendampingan karya tulis maupun baca puisi. Beberapa MI telah meminta pelatihan baca puisi, dalam waktu dekat juga sudah terjadwal pelatihan offline atas permintaan sebuah yayasan. "Kita harus berbagi tugas sesuai dengan bidang dan kemampuan masing masing' ungkap Syafaat.

Seperti diketahui bahwa dua tahun terakhir perkembangan literasi dilingkungan Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi berkembang dengan sangat pesat, hal ini tidak terlepas dari dukungan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi H. Slamet. "Kita beriksn etalase khusus bagi buku karya ASN dan siswa madrasah dilingkungan Kementerian Agama" ungkapnya.

H. Slamet juga memberikan support kepada komunitas Lentera Sastra yang telah menggerakkan semangat Literasi di Kabupaten Banyuwangi, beliau berharap semangat Literasi tersebut terus berkembang kepada seluruh civitas Kementerian Agama. (Syaf)

Bagi Takjil dan Santunan Yatim Kemenag Rider Comutity

 


Bagi Takjil dan Santunan Yatim Kemenag Rider Comutity


Kemenag Rider Comutity, sebuah club rider karyawan Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi melakukan kegiatan bagi bagi takjil dan santunan kepada anak yatim di jalan MIN 2 Banyuwangi di Kecamatan Songgon, Sabtu (8/5). Sebagian besar yang disantuni juga merupakan siswa MIN 2. Sengaja kegiatan dilaksanakan diwilayah Kecamatan Songgon yang relatif sepi agar terhindar dari kerumunan, dan bantuan yang diberikan lebih tepat sasaran.


Ketua rombongan Yusuf menyampaikan bahwa sengaja kegiatan tidak mendatangkan banyak orang, tidak ada acara buka bersama yang dapat mendatangkan kerumunan. 'yang penting santunan tersampaikan tepat sasaran" ungkapnya. Dana santunan didapatkan dari komunitas Rider Comutity yang anggotanya dari beberapa karyawan Kementerian Agama dan KUA Kecamatan. Acara ini disambut baik oleh masyarakat sekitar.

Slamet Riyadi Ketua takmir masjid Baitul Huda mewakili masyarakat sekitar menyampaikan banyak terima kasih terhadap club Kemenag Rider Comutity yang melakukan kegiatan diwilayahnya "semoga jariyah yang diberikan terutama bagi anak yatim bernamfaat dan memberikan motivasi kepadanya" ungkapnya. Sementara itu ditempst terpisah Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menyambut baik kegiatan yang dilakukan para karyawannya dari berbay komunitas, terlebih dengan kegiatan santunan. Kepala Kantor Kementerian Agama juga mengingatkan agar dalam segala kegiatan tetap mematuhi Surat Edaran tentang larangan Buka Bersama dan open house. terbukti meskipun tanpa buka bersama dan mendatangkan keruminan, santunan masih dapat dilakukan(Syaf)

UCAPAN `IDUL FITRI YANG SALAH KAPRAH

 UCAPAN `IDUL FITRI YANG SALAH KAPRAH

Oleh : Drs. H. Abdul Azis, M.Pd.I


SALAH dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah tidak benar; tidak betul, kliru, luput; tidak mengenai sasaran, sedangkan  “ KAPRAH “ adalah  lazim; biasa, umum. “SALAH KAPRAH” Maksudnya adalah kesalahan yang umum sekali sehingga orang tidak merasakan sebagai kesalahan. Bahasa adalah bentuk komunikasi linguistik yang dapat diucapkan, ditulis, dan dipahami oleh sekelompok orang yang sama-sama menggunakan cara komunikasi tersebut. Sebagai orang Indonesia, tentu kita menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari. Namun, ternyata banyak kesalahpahaman yang terjadi pada saat kita berbahasa. Entah karena kita terlalu sering mendengar dan membacanya, kita justru jadi enggan untuk mengoreksinya. Inilah beberapa salah kaprah bahasa yang sering terjadi pada saat kita berkomunikasi dengan orang lain. 

Pada sebuah pertemuan formal sering kita temui salah kaprah yang disampaikan pembawa acara (MC), misalnya “acara berikutnya adalah  ceramah agama dari Almukarrom Bapak Kiyai Haji Fulan,….. Waktu dan tempat kami persilakan.”. sudah menjadi lumrah tanpa koreksi, tanpa pikir panjang Pak Kiyai pasti terpanggil naik ke podium. Padahal yang dipersilakan adalah Waktu dan tempat,  bukan al Mukarrom Bapak kiyai. Ini bukan lelucon, tetapi memang betul betul sering kita jumpai, bukan karena pembawa acara orang bodoh, tetapi karena memang sudah lumrah dipakai oleh kebanyakan pembawa acara (MC). Kalimat yang seharusnya dipakai oleh MC adalah “acara berikutnya adalah  ceramah agama dari Almukarrom Bapak Kiyai Haji Fulan,….. kepada almukarrom bapak kiyai Fulan dipersilakan,  Waktu dan tempat kami sediakan.”.

Pembawa acara berkata; “Untuk mempersingkat waktu, kita lanjutkan acara berikutnya.” Apakah waktu bisa dipersingkat..? tentunya tidak bisa, waktu tidak dapat disingkat karena rentang waktu sehari semalam sudah pasti 24 jam; satu jam sama dengan 60 menit; satu menit sama dengan 60 detik. Yang dapat kita lakukan bukanlah mempersingkat waktu, melainkan menghemat waktu. Inilah salah kaprah yang lumrah, seharusnya yang betul adalah Untuk menghemat waktu, kita lanjutkan acara berikutnya”. Termasuk salah kaprah tentang ucapan idul fitri  “MOHON MAAF LAHIR & BATHIN”.

“MOHON MAAF LAHIR & BATHIN”. Ucapan yang sudah akrap ditengah tengah masyarakat Indonesia,  melegenda bahkan menjadi tradisi setiap datangnya `idul fitri. Tanpa ucapan tersebut seakan hampa, bagaikan sayur tanpa garam. Ucapan “mohon maaf lahir batin” ini secara bahasa Tidak ada yang salah, tidak ada yang kliru. tapi kalau mengkhususkan ucapan tersebut hanya di `idul fitri, maka itulah yang salah kaprah. Karena ucapan Memaafkan bisa kapan saja tidak terpaku di hari Idul Fitri. bahkan ucapan mohon maaf lahir batin dianjurkan setelah melakukan kesalahan, tidak boleh ditunda tunda sampai datangnya `idul fitri tiba. Allah SWT berFirman 

 وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

artinya Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu  dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (QS Ali 'Imran: 133). 

Nabi SAW bersabda; 

 وعن أَبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، عن النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: مَنْ كَانتْ عِنْدَه مَظْلمَةٌ لأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ مِنْ شَيْءٍ فَلْيتَحَلَّلْه ِمِنْه الْيَوْمَ قَبْلَ أَلَّا يكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ، إنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمتِهِ، وإنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سيِّئَاتِ صاحِبِهِ، فَحُمِلَ عَلَيْهِ رواه البخاري.

artinya “Dari Abu Hurairoh Ra, dari Nabi SAW bersabda; barang siapa yang mempunyai kesalahan ( mendolimi ) saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya segera, sebelum datang hari dimana tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut memiliki amal saleh, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezalimannya. Namun jika ia tidak memiliki amal saleh, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zalimi” (HR. Bukhari no.2449)

Dari disinilah jelas bahwa ucapan mohon ma`af lahir batin yang khusus pada `idul fitri adalah salah kaprah, karena Tidak ada dalil satu ayat Qur’an ataupun Hadits yang menunjukan keharusan mengucapkan ”Mohon Maaf Lahir & Batin” di saat-saat Idul Fitri. Ucapan yang tepat sesuai syariat diucapkan pada saat `idul fitri adalah  “TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM”. dengan  merujuk beberapa referensi diantaranya sebagaimana diungkapkan dalam kitab al Hawi Lil Fatawa; 

عن مُحمَّد بن زِيادٍ الأَلْهانيِّ، قال: (رأيتُ أبا أُمامةَ الباهليَّ يقول في العيدِ لأصحابِه: تَقبَّلَ اللهُ مِنَّا ومِنكُم رواه زاهرُ بن طاهر

Artinya : dari Muhammad bin Ziyad al Haniy berkata; saya melihat Abu Umamah Al Bahiliy mengucapkan selamat kepada para Sahabat Nabi pada saat `idul Fitri dengan ucapan Taqabbalallahu minna wa minkum ( vide: Al Hawi Lil Fatawa, 1/94, lihat juga Syaikh Al Albani dalam Tamamul Minnah 355 ) 

dicontohkan langsung oleh para sahabat Rasululloh SAW ketika `idul fitri.  Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Sunan al-Baihaqi meriwayatkan yang 

عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ قَالَ: لَقِيتُ وَاثِلَةَ بْنَ الأَسْقَعِ فِي يَوْمِ عِيدٍ فَقُلْتُ: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ، فَقَالَ: نَعَمْ تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ، قَالَ وَاثِلَةُ: لَقِيتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ عِيدٍ فَقُلْتُ: تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ، فَقَالَ: نَعَمْ تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكَ.

artinya  “ Diriwayatkan dari Khalid bin Ma’dan, ia berkata, “Aku bertemu Watsilah bin Asqa’ pada hari Raya. Aku katakan padanya: Taqabbalallahu minna wa minka. Watsilah menanggapi, ‘Aku pernah bertemu Rasulullah SAW pada hari raya, lantas aku katakan ‘Taqabbalallahu minna wa minka’. Beliau menjawab, ‘Ya, Taqabbalallahu minna wa minka.” 

Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. ( Vide: Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, Darul Ma’rifah, 1379, 2/446. Syaikh Al Albani dalam Tamamul Minnah (354) mengatakan bahwa sanad riwayat ini shahih )

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, 

أَمَّا التَّهْنِئَةُ يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ إذَا لَقِيَهُ بَعْدَ صَلاةِ الْعِيدِ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ , وَأَحَالَهُ اللَّهُ عَلَيْك , وَنَحْوُ ذَلِكَ , فَهَذَا قَدْ رُوِيَ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْ الصَّحَابَةِ أَنَّهُمْ كَانُوا يَفْعَلُونَهُ وَرَخَّصَ فِيهِ , الأَئِمَّةُ , كَأَحْمَدَ وَغَيْرِهِ . لَكِنْ قَالَ أَحْمَدُ : أَنَا لا أَبْتَدِئُ أَحَدًا , فَإِنْ ابْتَدَأَنِي أَحَدٌ أَجَبْته , وَذَلِكَ لأَنَّ جَوَابَ التَّحِيَّةِ وَاجِبٌ , وَأَمَّا الابْتِدَاءُ بِالتَّهْنِئَةِ فَلَيْسَ سُنَّةً مَأْمُورًا بِهَا  وَلَا هُوَ أَيْضًا مِمَّا نُهِيَ عَنْهُ فَمَنْ فَعَلَهُ فَلَهُ قُدْوَةٌ وَمَنْ تَرَكَهُ فَلَهُ قُدْوَةٌ . وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

 .Artinya : “Adapun tentang ucapan selamat (tah-niah) ketika hari ‘ied seperti sebagian orang mengatakan pada yang lainnya ketika berjumpa setelah shalat ‘ied, “Taqobbalallahu minna wa minkum wa ahaalallahu ‘alaika” dan semacamnya, maka seperti ini telah diriwayatkan oleh beberapa sahabat Nabi. Mereka biasa mengucapkan semacam itu dan para imam juga memberikan keringanan dalam melakukan hal ini sebagaimana Imam Ahmad dan lainnya. Akan tetapi, Imam Ahmad mengatakan, “Aku tidak mau mendahului mengucapkan selamat hari raya pada seorang pun. Namun kalau ada yang mengucapkan selamat padaku, aku akan membalasnya”. Imam Ahmad melakukan semacam ini karena menjawab ucapan selamat adalah wajib, sedangkan memulai mengucapkannya itu bukanlah sunnah yang diperintahkan dan bukan pula sesuatu yang dilarang. Karena itu, siapa yang melakukannya, maka ia memiliki teladan dalam hal ini. sedangkan yang meninggalkannya, maka ia pun memiliki teladan dalam hal ini. Wallahu a’lam.  

( vide: Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, 24/138 )

قال أحمدُ: لا بأسَ أن يقولَ الرجلُ للرجل يومَ العيد: تقبَّل الله منَّا ومنك.

Artinya : Ahmad berkata; tidak apa apa pada `idul fitri  seseorang mengucapkan kepada orang lain dengan ucapan Taqabbalallahu minnaa wa minka. 

( vide: Ibnu Qudamah di Al Mughni, 3/294 )

Ibnu Hajar Al Asqalani pengarang kitab Fathul Bari  berkata, 

فعن جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ قَالَ : كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك

Artinya : dari Jubair bin Nufair, ia (Jubair bin Nufair) berkata: “Jika Para sahabat Rasulullah saling bertemu di hari raya, sebagiannya mengucapkan kepada sebagian lainnya: “Taqabbalallahu minnaa wa minka". 

( vide: Al Hawi Lil Fatawa, 1/94, Fathul Bari Juz II Halaman 517 )

Dari beberapa Riwayat diatas, memberikan benang merah, ucapan ‘Taqabbalallahu minna wa minka’ merupakan bacaan yang disyariatkan (masyru’) dan hukum mengucapkannya sunnah di hari raya `idul fitri. disamping itu ucapan ini termasuk Jumlah do`aiyyah ( kalimat do`a) mempunyai harapan agar seluruh ibadah di bulan romadhan diterima disisi Allah SWT. Disini tampak jelas Korelasi ucapan Taqabbalallahu minna wa minka’ dengan do`a setelah shalat taraweh dan Witir

اَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ صَلاَتَنَا وَصِيَا مَنَا وَرُكُوْ عَنَا وَسُجُوْدَنَا وَقُعُوْدَنَا وَتَضَرُّ عَنَا وَتَخَشُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ  تَقْصِيْرَ نَا يَا اَلله يَا رَبَّ الْعَا لَمِيْنَ

Artinya “Ya Allah, terimalah shalat kami, puasa kami, rukuk kami, sujud kami, duduk rabah kami, kerendahdirian kami, kekhusyukan kami, pengabdian kami, dan sempurnakanlah apa yang kami lakukan selama kami menunaikan shalat  Ya Allah, Tuhan seru sekalian alam.”



Walaupun ucapan yang disyariatkan adalah ‘Taqabbalallahu minna wa minka’, tidak menutup kemungkinan ucapan ucapan lain yang sudah mentradisi dan adat di masyarakat tidak diperbolehkan, tentunya  tetap diperbolehkan sepanjang ucapan pada `idul fitri tersebut tidaklah menjadikannya sebagai ibadah ritual. Ini hanyalah semata mata dilakukan dalam rangka ‘adat (kebiasaan), memuliakan dan penghormatan. Disamping itu  ucapan pada `idul fitri tersebut mengandung  kebaikan dan do`a,  sekalipun salah kaprah dalam penerapannya dan maknanya,  seperti Minal ‘aidin wal faizin mohon ma`af lahir (selamat hari raya, semoga kembali suci, dan meraih kemenangan) ‘Ied mubarak (semoga menjadi ‘ied yang penuh berkah), (selamat berhari raya dan meraih kemenangan),  Kullu ‘aamin wa antum bi khair (semoga di sepanjang tahun terus berada dalam kebaikan). Sugeng Riyadin (selamat hari raya dalam bahasa Jawa) dan lain sebagainya.

*Penulis adalah Kepala KUA Kecamatan Gambiran

PANCARONA MASA REMAJA

 

PANCARONA MASA REMAJA

oleh : Ana Luftiah Karomah

Masa remaja merupakan masa yang penuh dengan rasa keingintahuan. Keingin tahuan ini  dapat menyebakan remaja termotivasi dalam mencari jati dirinya. Bagi orang yang mencari jati diri, tentu saja mereka akan melakukan apa saja yang membuat mereka tertarik dan mencoba hal-hal yang membuat mereka puas dalam memenuhi keingintahuannya.

Rasa ingin tahu pada remaja juga merupakan bagian dari usaha untuk menjadi bermakna, tidak hanya untuk dirinya tapi juga untuk orang disekitarnya. Maka dari itu lingkungan sekitar juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan keprbadian remaja dalam hal pembentukan keberanian, kejujuran, kemandirian, budi pekerti, dan sebagainya. Apalagi di era globalisasi ini pengaruh lingkungan jauh lebih terasa karena para remaja lebih mudah mengakses informasi.

Kecanggihan teknologi dan kemudahan berkomunikasi serta tersedianya beragam fasilitas justru membuat para remaja mempunyai kebebasan yang melewati batas. Remaja mudah mengakses beragam informasi yang menyesatkan dan tidak sesuai dengan norma sosial yang berlaku, serta langsung menirunya karena menganggap hal tersebut membuat mereka lebih hebat. Banyak orang tua yang memberikan akses internet tanpa menyadari dampaknya terhadap anak sehingga akan sulit menghindari pergaulan bebas.

Dalam hal ini, peran orang tua tentu sangat dibutuhkan dalam menghadapi masa peralihan menuju dewasa, terlebih saat mengalami kegagalan yang mampu menyurutkan semangat mereka, pada saat itu pula orang tua menjadi pendorong untuk menanamkan kekuatan dan rasa percaya diri dalam menghadapi masalah. Menjadi panutan suri tauladan, baik dalam menjalankan norma yang berlaku umum di masyarakat maupun dalam menjalankan aturan keagamaan dan norma-norma lain dalam masyarakat. Orang tua memiliki multi peran, mereka bisa sebagai pengawas, teman, dan juga sebagai penasehat.

Kurangnya kasih sayang dan perhatian dari orang tua dapat membuat mereka mencari jati diri ditempat lain dan dalam kondisi yang seperti inilah remaja mudah terjerumus dalam pergaulan bebas. Fenomena yang sering terjadi dikalangan remaja ini tak memiliki batasan hingga menimbulkan beragam dampak negative, dan seringkali muncul perilaku yang menyimpang sehingga melewati batas norma dan tanggung jawab.

Banyak tindakan tidak terpuji yang acapkali dilakukan para remaja hanya untuk menarik perhatian orang tua.  Seperti membolos, tawuran antar pelajar, merokok, aksi balap liar, dan bahkan seringkali melakukan aksi bullying secara sadar.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata pergaulan memiliki makna menjalin pertemanan dalam kehidupan bermasyarakat. Sedangkan kata bebas berarti lepas atau tidak terikat. Jadi dapat disimpulkan pergaulan bebas adalah jalinan pertemanan yang bersifat lepas atau tidak terikat.

Untuk menghindarinya tentu kita harus mengenali ciri cirinya terlebih dahulu. Apa sajakah ciri ciri pergaulan bebas? Dikutip dari situs kementrian pendidikan dan kebudayaan (kemendikbud) ciri ciri pergaulan bebas sebagai berikut:

1.    Memiliki rasa ingin tahu yang berlebihan pada hal-hal  yang bersifat negatif. Contohnya penggunaan narkotika.

2.    Melakukan tindakan konsumtif terhadap  barang yang kurang penting.

3.    Kecanduan menonton konten pornografi, bahkan melakukan seks bebas.

4.    Mengonsumsi alkohol dan minuman keras.

5.    Mudah mengalami kegelisahan, tidak sabar, emosional, selalu ingin melawan, atau rasa malas.

Pergaulan bebas juga mengacu pada pertemanan yang tidak sehat, bahkan teman tersebut mungkin termasuk kategori toxid friend. Biasanya dalam pertemanan yang tidak sehat mereka berperilaku seperti boss dan sering memanfaatkan orang lain. Selalu mengatur dan memutuskan sepihak tanpa mau mendengarkan pendapat satu sama lain. Teman yang seperti ini akan membuat kita seolah-olah tidak mempunyai kendali terhadap diri sendiri. Toxid friend mudah menyalahkan orang lain dan bahkan selalu mengungkit-ungkit kesalahan yang telah berlalu sehingga menganggap orang lain tampak tidak berharga. Jika kita selalu menuruti kemauan mereka, maka toxid friend semakin merasa menang dan tak menghargai keputusan, bahkan mengkritik setiap perbedaan yang terjadi tanpa mau mengintropeksi diri. Terkadang mereka kerap cemburu terhadap kesuksesan atau keberhasilan orang lain dalam menggapai mimpi. Toxid friend akan senang jika melihat yang lain susah dan susah jika yang lain senang. Pertemanan semacam ini akan menjadi virus yang menyebabkan gejala stres fisik, seperti tekanan darah tinggi, depresi, dan kecemasan. Jika kita memiliki circle pertemanan seperti ini hendaklah kita membatasi diri dengan imun yang kuat sehingga tidak mudah terpengaruh oleh virus yang sedemikian berbahaya.

Ikatan secara emosional dalam kelompok pertemanan dapat mendatangkan  berbagai pengaruh besar bagi individu maupun kelompok. Seseorang akan merasa puas jika kesan yang ditampilkan tidak jauh berbeda dari kesan yang diberikan lingkungannya. Banyak kasus remaja yang terjerumus dalam kenakalan remaja hanya karena ikut-ikutan atau sekedar ingin diakui.

Teman yang baik akan selalu menemani dalam keadaan senang maupun susah, saling tertawa bahkan menangis bersama, menjaga satu sama lain, dan saling support dalam menggapai kesuksesan. Pertemanan yang sehat tidak akan membatasi lingkaran sosial kita.


Para remaja harus pintar dalam memilih pergaulan yang baik agar bisa memberikan dampak positif, remaja harus perkuat diri dengan pengetahuan agama dengan baik sehingga akan tertanam moral yang kokoh dan tidak akan mudah terjerumus dalam pergaulan bebas, memperbaiki cara pandang berpikir tentang memiliki rencana masa depan yang baik dan menyenangkan, bersikap optimis dan percaya diri sehingga bisa menghargai diri sendiri, sibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan yang dapat memberikan dampak positif yang bermanfaat untuk diri dan lingkungan.

Semua hal tersebut tidak bisa dilakukan hanya dari satu sisi saja, atau dilakukan sendiri oleh anak tanpa dukungan dari orang tua dan lingkungannya. Anak, orang tua, dan lingkungan merupakan komponen yag tidak dapat dipisahkan satu sama lain pada masa remaja dalam menggapai masa depan yang cerah.

*Penulis adalah Siswa MTsN 12 Banyuwangi

 

Lentera Sastra Ajarkan Merdeka Belajar yang Sesungguhnya

 Lentera Sastra Ajarkan Merdeka Belajar yang Sesungguhnya

Oleh : Imtiyaza Syifa Ramadhani Risdayanti

Merdeka Belajar adalah program kebijakan baru Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Kabinet Indonesia Maju, Nadiem Anwar Makarim.  Esensi kemerdekaan berpikir, menurut Nadiem, harus didahului oleh para guru sebelum mereka mengajarkannya pada siswa-siswi. Nadiem menyebut, dalam kompetensi guru di level apa pun, tanpa ada proses penerjemahan dari kompetensi dasar dan kurikulum yang ada, maka tidak akan pernah ada pembelajaran yang terjadi.(wikipedia). Tentunya cara berfikir tersebut harus sesuai dengan koridor keilmuan yang harus dikuasai oleh seorang pendidik, sehingga dapat mengarahkan cara berfikir siswa dengan benar.

Menulis merupakan salah satu cara untuk mengungkapkan ide dan gagasan dari proses berfikir dan menganalisa dalam bentuk karya tulis, secara teoritis yang diajarkan guru secara turun temurun dalam menulis tersebut setelah ditentukan tema dari sebuah tulisan, maka terlebih dahulu dibuat kerangka tulisan agar tulisan yang akan kita susun menjadi mudah dan terarah, sebagaimana mata pelajaran yang harus menggunakan kurikulum secara rinci atau bahkan menggunakan bahan ajar yang sama, sehingga setiap guru akan memberikan materi yang relatif sama pada mata pelajaran yang sama.


Dua tahun terakhir lembar opini Jawa Pos Radar Banyuwangi dihiasi dengan berbagai opini yang ditulis siswa dan guru madrasah serta pegawai pada Kementerian Agama. Sebuah kemajuan dibidang literasi tersebut tidak terlepas dari peran kelompok Lentera Sastra (Terminal Literasi Pegawai kementerian Agama) yang memberikan pelatihan dan pendampingan secara berkelanjutan, baik secara ofline maupun online.

Menarik dicermati dari pembelajaran tersebut adalah guru dan siswa diajarkan cara menulis yang keluar dari pakem yang selama ini banyak diajarkan, pembelajaran dan cara penulisan merdeka benar-benar diterapkan, hal ini bukan hanya mengajarkan guru dan siswa menulis diluar materi yang diajarkan di sekolah, tetapi sistim penulisan tanpa kerangka yang diajarkan benar-benar membuat guru dan siswa semakin leluasa untuk menuangkan karya tulis tanoa harus disekat dengan kerangka yang kadangkala harus berubah atau disesuaikan ketika kita sedang menulis. Penggunaan imajinasi liar (istilah yang digunakan) dalam menulis merupakan sebuah teriobosan baru untuk menjadikan sebuah tulisan menjadi lebih konfrehenship, dan tidak hanya terpaku pada satu bidang keilmuan.

Kebangkitan semangat menulis di kalangan guru dan siswa tersebut menjadikan tonggak sejarah baru di dunia pendidikan di Kabupaten Banyuwangi, bukan hanya arya tulis yang dipublikasikan melalui media saja yang telah digerakkan, tetapi juga munculnya buku-buku karya ASN maupun siswa terus bermunculan dari berbagai disiplin ilmu maupun tema tulisan. Hal ini merupakan lomcatan besar dari dunia pendidikan, siswa bukan hanya diajarkan menerima ilmu dari guru, tetapi juga diajarkan untuk menganalisa dari berbagai sudut pandang serta menuangkan hasil renungan tersebut dalam bentuk karya tulis yang dipublikasikan maupun dibukukan, baik sendiri sendiri maupun bersama sama.

Keinginan dan kemampuan menulis kini juga mulai merambah pada siswa MTsN (setingkat SMP), baik dalam bentuk kanya tulis opini yang dipublikasikan, maupun karya tulis Fiksi dalam bentuk novel yang diunggah dan dipasarkan secara online. Beberapa madrasah memberikan apresiasi terhadap siswa yang tekkah mengembangkan karya tulis ini dengan mengingat bahwa karya tulis tersebut sangat bermanfaat bukan hanya bagi penulisnuya saja, namun juga memberikan wawasan baru bagi para pembacanya,  terlebih beberapa tulisan dibuat berdasarkan pengalaman pribadi sang penulis.

Konsep merdeka belajar yang dicanangkan pemerintah sangat klop jika dilaksanakan bersamaan dengan pencanangan madrasah literasi, terlebih dengan proses pembelajaran tanpa sekat ruang dan waktu yang memungkinkan siswa dapat berkonsultasi dengan para guru maupun mentor kapanpun secara online. Penerapan pembelajaran maupun pelatihan menulis yang dilakukan Lentera sastra menjadi salah satu metode yang dapat ditiru dalam konsep merdeka belajar, karena siswa tidak dituntut dengan skor maupun nilai, tidak ada deadline waktu tertentu untuk mengerjakan tugas, mereka diberika kelluasaan untuk mengerjakan tugas, namun demikian terbukti para peserta berlomba untuk menyeesaikan tugas dengan baik, tepat dan cepat.

Membuat karya tulis yang hanya berdasarkan tema tanpa harus membuat kerangka karangan menjadi salah satu bentuk merdeka belajar dan merdeka berfikir, penulis tidak dikekang dalam satu kerangka yang menurut orang lain akan memudahkan, namun bagi sebagian yang lain juga menyulitkan dan mengakibatkan kebuntuan dalam dunia penulisan. Namun demikian nbukan berarti bener benar bebas dalam menulis, karena masih terikan pada sebuah tema yang harus menjadi pedoman dasar dari sebuah karya tulis.

Bentuk pembelajaran diluar kelas akan mendekatkan peserta didik pada objek pembelajaran tersebut, menghilangkan sekat yang kaku hubungan antara siswa dengan sang pengajarnya, suasana yang lebih santai tersebut membuat peserta didik lebih rilek dan berani untuk menyampaikan pendapat yang kadang kadang tidak dapat dilakukan diruangan.

Merdeka belajar bukan berarti penerapan pembelajaran dengan sangat bebas tanpa mempedulikan etika, karena pembelajaran yang beretika dan bermartabat masih tetap harus dilaksanakan meskipun dalam kondisi yang sangat akrab antara pendidik dan pengajarnya. Hal inilah yang membedakan ilmu yang didapat pada lembaga pendidikan dengan yang didapat melalui media online sepenuhnya, karena dengan adanya pendidik yang profesional yang mendampingi peserta didik dalam mengais ilmu sebanyak-banyaknya tersebut masih tetap terukur dan terarah dengan bimbingannya.

 

*Penulis Mahasiswa FKIP Jurusan Pendidikan Matematika Unej Jember

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger