Pages

Sepinggan Mantra

 “Sepinggan Mantra”

oleh : Datdiri

Letakkan sepatumu di situ,

Di kaki-kaki rumput yang telanjang itu,

Dan masuklah,

Ke dalam losmen beratap daun nira,

Lalu minumlah sepuas dahagamu,


Ada pepatah,

Asam di gunung garam di laut,

Bagaimana kalau lahir istilah baru?,

Gula di lembah sungai dan lada di kebun-kebun landai,


Sejak pertemuan di ngarai berkaki rumput itu,

Di dalam losmen berpasak batang palma itu,

Denyut nadimu senantiasa melonjak dan memberontak,

Menggurat peradaban baru,


Bahwa kamu adalah asam dan gula,

Dan aku adalah garam dan lada,


Dalam sepinggan  mantra,

Kita,-


(K G P H : 02 Maret 2021)

Peluru

 “Peluru”

oleh : Dardiri

Tunggu,

Jangan buru-buru kau patuk kepalaku,

Tak inginkah kau ajukan tanya untukku?,

Buat apa aku di lumerkan dari timah panas yang lalu dibekukan dan dihaluskan kemudian diletakkan di pucuk-pucuk tembaga tidak berongga?,

Buat apa bubuk mesiu yang berbau menyengat itu ditimbunkan di dalam sepatuku?,

Buat apa aku dilesakkan dengan sesak dan paksa dalam rumah baja yang kedap udara?,

Buat apa pada akhirnya aku dimuntahkan dari lubang silinder bergaris tipis itu?,


Semua karena menuruti keinginanmu bukan?,

Keinginanmu itulah yang mengejutkanku dan meledakkan tumpuan kakiku,

Dan setelah aku lepas,

Kau tahu bahwa aku tak pernah kembali atau menoleh kepadamu lagi,


Tunggu,


Sebentar saja biarkan aku menikmati udara yang asing ini dan memberitahukan kepadanya bahwa aku adalah peluru,


Sesaat,


Sebelum aku dipaksa memburu dan meminta hidup dari-mu,-


(K G P H : 02 Maret 2021)

SEMUA TAKKAN DIBAWA

 SEMUA TAKKAN DIBAWA

oleh : Faiz Abadi

Kupandang Piala terpajang di meja

Sebenarnya sementara saja

Bahwa Allah telah memberi

Manusia hanya menggali

Kupandang pialaku 

Juga piala para anakku

Lewat itu akan kuselipkan pesan langit

Bekerjalah seolah-olah hidup selamanya

Beribadahlah seolah mati esok pagi

Sebenarnyalah hendak ku sampaikan

Kepada mereka 

Walau wabah tidak segera enyah

Semua masih bisa berbenah

Asalkan jati diri mandiri tetap terjaga

Kejujuran 

Kegigihan

Ketangguhan mental

Harus tetap diwariskan pada seluruh generasi

Tinggalkan kamuflase

Tinggalkan manja dan memanjakan

Semua kepalsuan tidak akan bermanfaat

Tidak akan dibawa

Saat pertarungan antar negeri, antar benua, atau di mana saja

Bahkan hanya amal saleh saja

Meninggalkan jejak-jejaknya

Walaupun nama sudah tiada

Terkubur bersama daun-daun gugur

Kembali menyatu dengan bumi

Kun 2

 “Kun 2”

oleh : Dardiri

Bulan sabit berwarna merah itu patah,

Dan jatuh menancap di tiga belas mata angin,

Melipat tiga puluh enam jalan,

Mengucurkan delapan mata air,

Menulis sembilan nama,

Menutup dua puluh pintu terbuka,

Membuka dua puluh jendela,

Melabuhkan dua belas muara,

Melebur tujuh benua,

Membelah lima samudera,

Menyudutkan empat kutub,

Memporak-porandakan lima gurun,

Meledakkan tiga dunia,

Meniadakan ada,


Menyisakan gelar,


Dia,-


(K G P H : 01 Maret 2021)

Mantra dan Puisi

 “Mantra dan Puisi”

oleh : Dardiri

Yang ada,

Di atas ubun-ubunku yang hampa itu adalah puisi,

Di dalam rambutku yang mengelabu itu adalah puisi,

Di dalam lembar kulit kepalaku yang menjamur itu adalah puisi,

Di dalam tempurung kepalaku yang semacam langit-langit berkubah itu adalah puisi,

Di dalam otakku yang berisi ratusan juta sel saraf itu adalah puisi,

Di dalam pendar mataku yang memantulkan titik, garis , dan warna itu adalah puisi,

Di dalam penciumanku yang mendulang harum dan anyir itu adalah puisi,

Di dalam lidahku yang mencecap corak rasa itu adalah puisi,

Di dalam sekat tipis kulit ariku yang mengapung itu adalah puisi,

Di dalam ujung bibir yang mengatup dan mencecar ribuan ujar itu adalah puisi,

Di dalam buku bulu-bulu yang berserabut halus itu adalah puisi,

Di dalam warna kulit yang membentang di atas daging itu adalah puisi,

Di dalam gulungan daging yang memadati tulang-tulangku itu adalah puisi,

Di dalam garis- garis ototku yang membiru itu adalah puisi,

Di dalam aliran darah yang mengalir dan membulir itu adalah puisi,

Di dalam batang-batang tulang yang memanjang itu adalah puisi,

Di dalam sumsum yang menggumpal dan menyumpal di rongga tulangku itu adalah puisi,

Di dalam ciptaku yang menampung segenap rahasia itu adalah puisi,

Di dalam rasaku yang merekam segala isyarat itu adalah puisi,

Di dalam karsaku yang melahirkan semua tanda itu adalah puisi,

Di dalam nafsu yang senantiasa memburu keyakinanku itu adalah puisi,

Di dalam jengkal jari yang selalu sedia mengepal dan melambai itu adalah puisi,

Di dalam jejak pijak kakiku yang selalu menjerang gerak langkah itu adalah puisi,

Di dalam mata air air mataku yang tak pernah mengering itu adalah puisi,

Di dalam syahwatku yang senantiasa berkutat hasrat itu adalah puisi,

Di dalam setiap kedipan bola mataku yang tak pernah dihinggapi jemu itu adalah puisi,

Di dalam jiwaku yang menjadi wadah sukma dan nyawa itu adalah puisi,

Di dalam tenggorokanku, di dalam saluran napasku, di dalam sebongkah hatiku, di dalam katup jantungku, di dalam hulu nadiku, di dalam limpaku, di dalam usus-ususku, di dalam ginjalku, di dalam kujur kemanusiaanku yang menjadi wadah raga itu adalah puisi,


Di dalam bait-bait puisi-ku ada kamu,

Di dalam larik-larik sajak-mu,


Bersemayamlah aku,-


(K G P H : 01 Maret 2021)

Dunia dan Mantra

 “Dunia dan Mantra 2”

Oleh : Dardiri

Dunia adalah Tantra,

Altar besar bagi Yantra dan Mantra,

Mewadah Jagra dan Yadnya,

Dan lahirlah segala niskala,

Bukan tiba-tiba,

Ada yang sepertinya menyihir kita dari dalam canang dan takir ponthang,

Melayang seperti selendang panjang  dengan kerawang birunya,


Dunia adalan mantra,

Asmara Dahana yang melumat api bagi dirinya sendiri,

Kidung Taksaka yang meliuk dan melilit kesendiriannya,

Apakah engkau masih ingat,

Sepenggal saja,

Bait nyanyian pelabuh rindu Anjasmara dan Damar Sasangka?,

Apilah yang merawat sendunya,

Bukan kita,


Hanya dunia yang benar-benar dunia,

Bisa kita lesakkan dalam lubang silinder bergaris,

Lalu ketika dengan seksama ditarik pelatuk pemicunya,

Lahirlah hentak,

Lalu meledak,

Mesiu melepas raungan keras,

Membiji nyeri dan membuka luka,

Biru pula jejaknya,


Hanya dunia yang benar-benar dunia,

Bisa kita tuangkan di atas mangkuk atau periuk,

Berisi air dengan wewangian alam baka tak kasat mata,

Lalu ketika tersibak hembusan napas,

Muncullah gelembung kecil di tengahnya,

Melebar menjadi lingkaran besar,

Merupa kaca benggala,

Dan kitapun terangkum di dalamnya,


Apa yang kau katakan,

Jika dunia adalah mantra,

Lalu seperti ada yang komat-kamit di atas sepinggan air,

Mendulang percik wajahnya sendiri,


Dan jika dunia adalah benar-benar mantra,

Sepertinya,

Kita-lah yang gila karena sihirnya,-


(K G P H : 28 Februari 2021)

ISUN TETEP TEGAR

 ISUN TETEP TEGAR

Oleh : Faiz Abadi

Masio riko tinggal

Atin isun tetap kuat

Yonggo roso loro

Ati hang keroso-

roso

Sedino rong dino urip koyo sing ono artine

Godong hang rontok

Kembang cecer keleleran

Dadi paribahasan

Uwong wadon hing mung siji

Hang biso ngarteni

arti bebraenan

Osing wis

Hing kiro mundur sak langkah baen

Sunar serngenge nang pucuk wetan

Madangi ati

Nguweni semangat

Urip kudu tansoyo nandur kebajikan

Yoro hing kiro

Kadung urip mung nelongso

Biso hing biso

Sun tegarno

Sun adepi

Klawan ati hang sabar

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger