Pages

TAKUTLAH PADA MEREKA

 TAKUTLAH PADA MEREKA

Oleh : Faiz Abadi

Wahai siapa saja

Takutlah pada mereka

Memfakirkan diri

dari segala kepemilikan

Atau mereka para Duafa

Suara mereka adalah suara tuhan

Kemurnian jiwa

Keakraban dengan derita

Menghilangkan segala jumawa

Pergi

Pergilah

Dekati

Jenguk mereka

Apalagi jika sekitarmu

Merekalah kelak menjadi para penggotongmu

Dalam kereta tanpa roda biasa

AMPUN KAMI TAK MAMPU

 AMPUN KAMI TAK MAMPU

Oleh : Faiz Abadi

Hari ini ku pandangi jasadku sendiri

Desiran angin hinggap di dada

Mengapa?

Apakah ada lagi

Puting beliung di sana

Atau mara bahaya bencana

Jangan

Ku pinta jangan lagi

Tapi mengapa juga tak kau murnikan tauhidmu

Hanya satu

Penguasa yang Esa

Masihkah pikiran hinggap ke mana mana

Padahal lahirmu bayi sederhana

Pergipun hanya dengan kafan saja

Rumitmu karena ulah maumu

Terbang kesana kemari

Sehingga selalu lupa

Alpa dari segala tembang puja

DEMI SEBUAH NAMA

 DEMI SEBUAH NAMA

Oleh : Faiz Abadi

Benarkah sudah kita pahami

Ikhlas seperti menghirup oksigen

Kemudian melepaskannya

Tidak berbekas

Tidak ada nama

Tidak perlu nama

Atau malah menama-namakan

Sudah sanggupkah

Padahal selalu memnta upah dalam setiap tindakan

Dan lihatlah disana

Bahkan mengorbankan orang lain

Demi sebuah nama

Kita terlahir sederhana

Kembalipun sangat sederhana

Atas nama jiwa

Kita pernah ada

Sebelum di dalam kandungan bunda

Kita pernah hidup

Sebelum lahir ke dunia

Kita tetap hidup walau di alam bawah sana

Kitapun berkumpul dengan jasad kita kembali 

Dibangkitkan dalam hari pembalasan

Ketika matahari di dekatkan di atas kepala

Sudahkah dengarlah dengan ikhlas

Mungkin baru seperti  Nabi Musa 

Banyak bertanya 

Ketika harus bertemu Nabi Khidir

Karena semua perintah 

Semua penilaian

Semua kerja

Semua laporan

Semua prasangka

Semua rundingan

Semua dugaan

Semua kasak kusuk

Semua percalonan

Karena hanya nalar semata

Sejak dulu telah ada

Pemberontakan

Arogansi

Intimidasi

Pembunuhan jasad

Pembunuhan karakter

Sekarang lahir dari rahim peradaban baru

Perkusi

Bully

Prank

Lengkaplah sudah

Pelengkap kebajikan

Di sudut sudut kedholiman

Kun

 “Kun”

Oleh : Dardiri

Sebermula azali kodrati. Setelahnya. Turunlah dari pusaran nun ta ya. Bergelimang gemilang cahaya nubuwat. Bergelantungan di syajarat hakikat. Melesat cepat lewat tiga kutub gaibul guyub. Melintas batas empat gelaran kejadian. Menempa nyawa. Menyusun gumpalan sumsum. Membilang batang tulang. Mencecah darah. Menyadap jalinan syaraf. Mengguling gulungan daging. Melimit lembaran kulit. Membuku bulu-bulu. Membiak seruak. Membentuk biduk. Mencetak bidak. Mengiris pahatan garis. Merintik kumparan titik. Meraung di ruang lapang. Menangis di iris gerimpis. Tertawa di padang terbuka. Bergelar “ada”.


(K G P H : 12 Februari 2021)

Sabana 2

 "Sabana 2"

Oleh : Dardiri

Aku berbicara dengan bahasa rumput,

Mengambang di padang berkabut,

Memburu pagi,

Mengejar sesiapa yang berkawan tanah,


Siapa yang mendawai kecipak air di kakiku?,

Tanah basah,

Begitu nyaris sempurna,

Membentuk jalinan rindu,

Menebar jala sutra dengan mantra manyura,


Apa yang didapatinya?,

Kijang emas dengan mutu manikam di tanduknya,

Serimpang hujan dengan catatan rindu semalam di rintiknya,

Selasar embun dengan pendar spektra di sekelilingnya,

Patahan bulan sabit dengan warna perak di ujungnya,


Sia-sia,

Tidak ada yang bisa membaca,

Perbincangan rumput dan tanah,

Hanya menyisakan cecaran basah,

Dan sedikit percik dari dulang besar merata,

Sabana,


Aku bercerita dengan bahasa rumput,

Merimbun di halaman rumahmu,

Tepat di bawah rekah mawar,

Yang selalu tersipu oleh kerling matamu,

Dan ketika kelopaknya berguguran satu persatu,

Ada pula namaku,

Di situ,-


(K G P H : 13 Februari 2021)

Sabana 3

 "Sabana 3"


Dari negeri sabana,

Yang hanya dibatasi pagi dan senja,

Aku berkelana bersama jingkrak kuda,

Berkejaran dengan lompatan rusa,

Membilang bulu-bulu halus,

Tikar panjang merupa padang membentang,


Syahdan,

Angin yang telanjang,

Terhenti dari perburuan panjang,

Rebah di ujung pundakku yang basah,

Pendakiannya disudahi usia,

Yang berkerak di belakang angka-angka,


Bila,

Sebinar rumput berwarna cokelat jingga, 

Adalah aku,


Mungkin,

Sebidang tanah dalam rona basah,

Adalah sempurna rindu-mu,-


(K G P H : 13 Februari 2021)

Sabana

 “Sabana”

Oleh : Dardiri

Hanya hati pernah meluka,

Dapat dengan sempurna menyimpan ruam masa silam,

Dan bila waktunya tiba,

Pecahlah,

Merupa seekor anak kelinci,

Berjingkat dengan kaki sewarna salju,

Memamah pembicaraan rumput dan embun,

Pagi memang,

Karena senja tak memerlukan perbincangan keduanya,

Untuk membajak langit barat,

Dan menanam semenjana malam di bawah sangkar rembulan,


Anak kelinci yang lepas,

Meloncat ke tengah renda sabana,

Hatimu,

Penuh lubang menganga,-


(K G P H : 12 Februari 2021)

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger