Pages

TUHAN BUKAN PINTU MU

 TUHAN BUKAN PINTU MU

Oleh ; Faiz Abadi

Bukakan pintu taubat untukku

Hingga taubatan nasuha

Tuhan aku sudah merapal istighfar

Dalam setiap pintu kehilangan malu

Namun masih saja kuulang pada setiap kesempatan

Pada jalan pintu

Mata

Telinga

Hidung

Mulut

Segala suka di bawah perut

Segenap duka di atas kepala

Segenap duka nestapa dalam rasa

Tuhan sudah kubaca beribu kalimat ampunan 

Tak juga Kau peluk aku dalam MaafMu

Aku belumlah seperti mereka tabah

Dalam derita karena lelah

Akupun tidak selalu sabar

Tenggelam pada lautan istigfar

Janganlah Engkau biarkan aku terlantar

Anganku limbung dalam langit langit fatamorgana

Mencoba memanggilmu aku kadang tak bisa

Pada deru nafas tanpa irama

Aku terus melambai dengan sepenggal cita cita

Berenang kesana kemari 

Arus deras membawaku tanpa kendali

Sabda Pamuncak

 Sabda Pamuncak

By. Viefa


Melesak rinduku tak henti-henti

Meremah jiwaku hingga kini


Sabda Pamuncak


Luncah nikmatku terhentak


Pada siapa diri ini tersia

Tuhan 

Aku pasrahkan letih rinduku dilerai khianat


rautmalam@viefa

BWI,20/1/21

Hujan rintik-rintik

 “Hujan rintik-rintik, 

Oleh : Dardiri

Menyuguhkan sepi_sunyi terbungkus rangkak malam, Miris seperti penantian hari kepada keterjagaan pagi, Dibalut rasa dingin yang benar-benar menggetarkan pergantian waktu, Bergeser dari persangkaan yang tak kasat mata, Terlihat seperti tajamnya keadaan terasah pusaran kehidupan, Berputar seperti sifat ketidak abadian makhluk, Dilukis oleh tanda dan praduga kehidupan, Sungguh karya agung dari Sang Pencipta”

Solitude 1

 “Solitude 1”

Oleh : Dardiri

Kinatah_Sinarasah,

Jika kau tempa sekali lagi hilang bentuknya,

Tentu,

Paron bukanlah abon,

Yang menjadi penyedap rasa di pagi buta, 

Seperti sisiran mentega di atas meja,


Sepagi ini,


Tuhan,

Membukakan “Pintu Kamar”-Nya yang paling dalam,


Dan,

Kita,


Keranjingan di tikungan zaman,-


(K G P H : 19 Januari 2021)

BARU KU SADAR

 BARU KU SADAR

Oleh : Faiz Abadi

Berpuluh tahun merenda asa bersama

Barulah aku sadar

Engkaulah yang terbaik

Ku kecup tanganmu tatkala tidur

Kupandang raut wajahmu

Ya tuhan barulah aku mengerti

Dialah yang terindah

Terkadang aku menyesal 

Mengapa aku baru sadar

Dalam kepayahan rasa setia

Pada tawaran gemerlap bahtera

di seberang sana

Pada setiap prahara diujung biduk rumah tangga

Kini buah hati semakin memukau hati

Memupus kecewa

Pada tingginya harapan

Tuhan telah kau berikan biji biji emas permata

Untuk mereka berdua

Ku persiapkan sebagai unjung tombak negeri

Melengkapi kegagahan dan kecantikan

Setelah sekian puluh tahun

Sungguh sungguh aku menyesal

Karena sempat telantarkan

Pada ruang ruang kebosanan

Pada naluri binal kerdip nakal

Pada harum melati, mawar jingga menawarkan aroma

Pada madu liar dibalik racun asmara

Pernah hilang percaya

Mereka memang keturunan terbaik

Untuk nyalakan api cita cita

Tentang dendang kejayaan bangsa

Tentang nyanyi suci peraduan bermahkota surga

Fragmen Hujan 3”

 “Fragmen Hujan 3”

Oleh : Dardiri

Baru saja,

Arloji yang melingkar di pergelangan kirimu menunjukkan kearifan senja,


Gerimis memacu langkahnya menjadi hujan,


Betapa kemarau telah kehilangan peraduan panjangnya,


Sungguh,


Sedikitpun,

Aku tak ingin kehilangan lentik jari-mu,

Di ujung pendar bola mata-ku,-


(K G P H : 18 Januari 2021)

Fragmen Hujan 2

 “Fragmen Hujan 2”

Oleh ; Dardiri

Ada kalanya,

Hujan,

Yang berkalang di perlintasan,

Membawakan sebidang tanah datar,


Lalu,


Kau tanami biji-biji sunyi di permukaannya yang rata,


Selekas kemudian,


Rindu-ku,

Berhamburan menjadi cendawan,-


(K G P H : 18 Januari 2021)

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger