Pages

Transendensi Tugas dan Kewajiban, Ikhtiyar untuk Amanah

 

Transendensi Tugas dan Kewajiban, Ikhtiyar untuk Amanah

Oleh : Agus Novel Mukholis, S.Psi.I (Guru MAN 2 Banyuwangi)

 

            Menjadi seorang yang amanah dalam menjalankan tugas dan kewajiban yang diemban merupakan kunci atas keberhasilan sebuah tatanan kehidupan masyarakat. Kalimat itu sangat relevan jika dilontarkan di iklim politik saat ini. Betapa tidak, saat ini sedang ramainya pemberitaan disahkannya UU Cipta Kerja atau lebih sering kita dengar dengan omnibus law. Saya sendiri tidak terlalu mengikuti perjalanan kabar omnibus law yang di awal masih menjadi RUU Cipta Lapangan Kerja. Namun dari hasil menyimak di media sosial dan televisi banyak muncul pro dan kontra terhadap omnibus law yang digadang-gadang disebut sebagai penyelamat kondisi perekonomian negara kita karena mempermudah regulasi datangnya investor asing di negara kita. Walaupun begitu, menurut beberapa pengamat juga terdapat banyak kecerobohan karena dianggap tidak memihak dan merugikan wong cilik seperti buruh, petani dan nelayan.

            Itu selayang pandang tentang omnibus law. Namun bukan itu yang akan saya bahas dalam tulisan ini. Tapi ada garis besar dari beberapa rentetan peristiwa politik di Indonesia yang mencolok untuk diperbincangkan, yaitu krisis kepercayaan. Amanah dan krisis kepercayaan adalah dua term atau bahasan yang saling berlawanan. Akibat dari tidak bisanya menjalankan amanah membuat seseorang kehilangan image “dapat dipercaya”, sehingga berakhir pada krisis kepercayaan dari orang-orang disekitarnya. Nah ini sama dengan yang terjadi di negeri kita tercinta. Dewan Perwakilan Rakyat, tentunya tidak ada habis-habisnya ketika membahas beliau yang berdasi dan menamakan dirinya wakil rakyat. Membahas tentang DPR hari ini juga sangat sensitif dan menimbulkan sentimen politik. Namun sebenarnya bukan hanya soal wakil rakyat saja yang rentan terhadap “krisis kepercayaan”, namun juga profesi-profesi sosial yang lain yang mengemban amanah dari orang banyak seperti Kepala Daerah, Kepala Sekolah, Kepala Dinas, Kepala Desa hingga Kepala Keluarga. Ketidak-mampuan mereka dalam menjalankan tugas dan kewajiban (amanah) sebagai mana mestinya akan membuat mereka terperosok ke dalam kehinaan, bukan hanya di mata manusia namun juga di mata Tuhan. Kehinaan itu dibangun atas citra mereka di mata masyarakat yang bermula dari kekecewaan. Rakyat, masyarakat, anggota keluarga yang seharusnya ditunaikan haknya malah diabaikan bahkan dirampas haknya oleh mereka.

            Sangat sulit memimpikan tatanan masyarakat yang adil dan beradab jika masing-masing pribadi sulit memposisikan diri untuk fokus terhadap tugas dan kewajiban. Hal ini harus ditarik ulur untuk menemukan sumber keruwetan berfikir, mengapa sih banyak pemimpin yang lupa akan janji kampanyenya?. Tentu ini sangat erat kaitannya dengan orientasi, tujuan dan motivasi. Jika motivasi mereka ke arah pribadi dan materi ya pasti akan membelokkan keluhuran dalam memimpin. Akan dapat apa saya nanti jika melakukan ini, keuntungan apa yang akan saya peroleh jika saya merealisasikan program ini, materi apa yang saya dapatkan jika saya merelakan waktu saya untuk melayani orang lain, dan lain sebagainya. Banyak pertanyaan materialistik yang akan menghambat lahirnya keluhuran dalam memimpin.

            Jika konsep agama Islam yang Rahmatan Lil Alamin benar-benar direalisasikan tentunya orientasi kemaslahatan bersama akan menjadi pegangan dalam memimpin. Namun realita yang terjadi konsep rahmatan lil alamain bergeser menjadi rahmatan lil agama, rahmatan lil aliran, rahmatan lil kepentingan. Sedikit mengutip kata-kata Sujiwo Tejo, bahwa negeri ini kebanyakan pagi kekurangan senja, kebanyakan gairah kurang perenungan. Jika dunia ini telah melenakan kita dan menggeser arah prinsip kehidupan kita, maka sudah saatnya kita untuk mentransendensikan tugas dan kewajiban kita sebagai apapun itu di lini sosial kemasyarakatan. Sudah saatnya kita untuk Fafiruu Ilallah, yang didengungkan dalam Al Qur’an potongan ayat ke 50 surat Az Zariyat. Jika saya meminjam penjelasan dari wikipedia, konsep transendensi adalah kesadaran ke-Tuhanan atau kesadaran vertikal manusia. Itu berarti kita kembali meluruskan orientasi terhadap Tuhan, tujuan dan motivasi hanyalah Tuhan, untuk Tuhan, untuk Tuhan dan untuk Tuhan. Jika mata kita tidak melihat apa-apa kecuali Tuhan, maka hal apapun di dunia ini, tidak ada yang lebih penting dari Tuhan, hanya Tuhan dan cukup Tuhan.

            Sehingga dalam menjalankan aktivitas apapun dalam kehidupan kita, dalam kesadaran nan jauh di sana hanya semata-mata menjalankan perintah Allah swt. Hal ini sebagai manifestasi terhadap tugas utama kita sebagai seorang hamba. Karena sejatinya kita dibuat ada oleh Allah, dibuat hidup oleh Allah bukan untuk yang lain kecuali beribadah. Pesan tersebut sangat jelas termaktub di dalam Al Qur’an surat Az Zariyat ayat 56. Logikanya ketika apapun yang kita lakukan (asalkan tidak melanggar norma agama, sosial dan hukum) diniatkan hanya untuk menjalankan perintah Allah, hanya sebagai manifestasi ke-hambaan, maka tidak mungkin kita berani dan rela membuat Allah kecewa dan marah. Akhirnya yang kita lakukan semata-mata hanya ingin membuat Allah senang, membuat Allah ridlo terhadap kita. Maka sudah bisa dipastikan bahwa ha-hal yang diridloi Allah pasti maslahat dan manfaat untuk alam termasuk manusia, tidak hanya pada lingkup negara saja.

            Pertanyaan Sayyidina Muhammad dalam mimpi seseorang yang Fadh Djibran tulis dalam sebuah novel Seribu Malam Untuk Muhammad, adakah yang lebih penting dari pada iman? Ialah Ihsan (Kebaikan). Maka sebenarnya buah dari iman itu adalah ihsan. Jadi bisa dikatakan semakin sempurna imannya seseorang, maka semakin banyak ia memberikan manfaat untuk sesama. Bukan sebaliknya. Iman tidak bisa diukur dari anggap sendiri terhadap kebenarannya sendiri. Karena di dalam term tasawuf, semakin kita tenggelam dalam ke-Esa-an Allah maka semakin kita merasa tidak ada. Sehingga semakin kita memantabkan keimanan semakin kita merasa bahwa kebenaran subjektif kita sirna, hancur dan hilang.

            Maka jika kita bukan seorang yang ahli ibadah secara lahiriah, kita bukan seorang yang rajin berdzikir,  kita bukan seorang yang mampu bangun malam dan ibadah sepanjang malam, maka mari kita persembahkan semua aktivitas positif kita hanya semata-mata untuk mengabdikan diri kita kepada Allah. Apapun yang sudah menjadi tugas dan kewajiban kita, mari kita laksanakan hanya untuk Allah. Kita sebagai seoarang guru mari kita laksanakan tugas dan kewajiban kita mengajar siswa hanya untuk dipersembahkan kepada Allah swt. Kita sebagai kepala keluarga memberikan nafkah kepada istri dan anak, mari kita niati ini semua hanya karena Allah bukan karena motivasi-motivasi yang lain selain Allah. Mari kita mengembangkan karir kita bukan untuk motivasi materi, tapi untuk kita persembahkan kepada Allah. Sehingga akan muncul nilai kemanfaatn dan kemaslahatan untuk umat.

            Jika hati dan jiwa kita latih untuk mempersembahkan apapun tugas dan kewajiban kita hanya untuk Allah maka tidak mungkin kita khianat. Sifat-sifat Tuhan (Asmaul Husna) dan uswatun hasanah dalam diri Muhammad harus mulai diinternalisasikan dalam diri untuk kemudian terealisasi dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk keimanan kepada sang Maha dan RasulNya.


            Mari belajar untuk lebih mengenal tentang hakikat kita sebagai manusia. Tuhan memberikan dua tugas kepada setiap manusia yang dilahirkan di dunia. Pertama seperti yang dibahas di atas, yaitu untuk menyembah mengabdikan diri kita kepada Allah (Surat Az Zariyat Ayat 56). Kedua sebagai manifestasi dari keberhasilan nilai penghambaan adalah sebagai wakil Tuhan atau khalifatullah fil Ardh yaitu memakmurkan bumi, memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk sesama dan untuk alam (Surat Al Baqarah ayat 30). Jika dua tugas telah kita lakukan maka transendeni tugas dan kewajiban kita di kehidupan ini pasti akan terwujud yaitu mendasari semua tugas dan kewajiban kita hanya untuk Allah swt. Sehingga kita akan bisa menjadi pribadi yang amanah sebagai pemimpin, memimpin diri sendiri dan memimpin orang lain. Semoga bermanfaat.

Perjuangan di Tengah Pandemi Covid-19

 

Perjuangan di Tengah Pandemi Covid-19

Oleh : Tria Susilowati

 

Pasti istilah Omnibus Law sudah tidak asing terdengar oleh telinga.  Masyarakat ada yang tidak setuju dengan disahkannya Undang-Undang ini. Sehingga terjadilah aksi demo di depan gedung DPR. Sejumlah buruh dan mahasiswa melakukan aksi demo menolak Undang Undang Cipta Kerja (Omnibus Law). Undang-Undang ini dianggap dapat merugikan para buruh. Semuanya pasti memiliki sisi baik dan buruk.  Meskioun demikian tidak semua orang memahami istilah omnibus Low, termasuk kaum terpelajar. omnibus law adalah suatu rancangan undang-undang (bill) yang mencakup lebih dari satu aspek yang digabung menjadi satu undang-undang. Omnibus law berasal dari kata Omni yang berarti segala, seperti istilah omnivora yang berarti pemakan segala, sedankan Lau berarti Hukum atau aturan.

Indonesia memang negara demokrasi yang membebaskan rakyatnya dalam berpendapat. Tapi jika terjadi aksi demo yang tidak baik malah menimbulkan kerusuhan. Dari sekian banyak aksi demonstrasi yang diwarnai perusakan, penjarahan, pembakaran dan pertumpahan darah, masih ada jalan yang lebih elegan atau secara damai. Apalagi sekarang masih dalam masa pandemi. Penyebaran virus korona menjadi lebih mudah. Para pendemo memang memakai masker. Namun, untuk jaga jarak sulit dilakukan.

Penyaringan informasi juga penting untuk diperhatikan. Perlu perbandingan dari berbagai sumber dengan meningkatkan budaya literasi. Memahami betul sebab akibat yang akan terjadi. Kita tidak bisa melakukan sesuatu hanya karena ikut-ikutan saja Berjuang bukan sekedar memikirkan masa depan tapi juga masa kini. Setiap manusia pasti punya kesulitan tersendiri dalam hidupnya. Masalah yang terjadi bisa diselesaikan dengan berjuang bersama serta saling menguatkan. Dan pejuang yang tangguh tidak akan mengeluh.

Saat ini kita sedang mengahadapi masa pandemi yang disebabkan oleh Covid-19. Wabah ini memberikan banyak dampak negatif. Pengaruhnya dalam kehidupan manusia yaitu menyebabkan kematian. Angka kematian cukup tinggi dan yang dinyatakan positif juga semakin bertambah. Semua kalangan umur bisa terjangkit virus ini. Penyebaran virus korona bisa melalui tetesan kecil dari hidung atau mulut pada saat bersin atau batuk. Sering cuci tangan menggunakan sabun menjadi upaya untuk membunuh virus korona. Selalu memakai masker saat di luar rumah. Hindari kerumunan agar kita tetap aman. Lebih baik tetap dirumah jika tidak ada kepentingan. Kesadaran dari semua masyarakat sangat dibutuhkan demi berakhirnya masa pandemi.

Hal lain yang perlu diperhatikan yaitu kegiatan ekonomi  ikut terganggu karena sampai saat ini pandemi masih belum berakhir. Orang-orang harus bekerja dari rumah untuk mencegah penyebaran virus korona. Lantas bagaimana dengan orang yang pekerjaannya harus dilakukan diluar rumah? Mereka pasti kesulitan jika tidak bekerja, mau dapat uang darimana pikirnya. Maka dari itu harus tetap mengikuti protokol kesehatan yang ada.

Tetapi masih ada saja masyarakat yang seakan acuh tak acuh. Padahal sudah banyak korban yang berjatuhan. Mereka menyepelekan dan malah ada yang tidak percaya dengan keberadaan virus korona ini. Masker saja enggan untuk dipakai. Jika sudah terinfeksi pasti akan datang sebuah penyesalan. Kita bisa langsung mencari bantuan medis jika mengalami gejala serius seperti nyeri pada dada atau kesulitan bernapas.

Dalam dunia pendidikan, proses pembelajaran dilakukan secara daring. Tidak sedikit siswa yang mengalami kesulitan belajar tanpa tatap muka langsung. Pemahaman seorang siswa itu berbeda-beda.  Apalagi jika ada yang masih bermalas-malasan untuk mengerjakan tugas atau sekedar berusaha memahami suatu materi.  Sebagai seorang siswa sudah menjadi kewajiban untuk rajin belajar. Mengembangkan potensi yang ada. Mencari pengalaman sebanyak-banyaknya. Tujuan utama adalah menjadi orang yang berguna bagi bangsa. Membanggakan kedua orang tua. Yakinlah jika perjuanganmu tidak sia-sia.

Dibalik semua ini ada tenaga medis yang sedang berjuang melawan virus korona. Mereka adalah garda terdepan yang paling kuat. Berani mengambil risiko besar untuk turun tangan berhadapan langsung dengan virus korona. Bahkan rela tidak pulang demi berhasilnya sebuah tujuan. Mereka juga berharap agar keluarganya tetap aman meski rasa rindu tak tertahan. Antara hidup dan mati menjadi taruhan. Tak sedikit tenaga medis yang juga terpapar virus korona. Pasien yang ditangani menjadi penyebab utama tenaga medis bisa ikut terinfeksi.

Kondisi ini merupakan sejarah baru di tahun 2020 yang memang berat bagi kita semua. Masa pandemi belum usai, tapi masalah baru malah muncul. Aksi demo contohnya. Hal yang perlu difokuskan adalah perlawanan terhadap Covid-19. Masyarakat dan pemerintah harusnya bisa berjuang bersama. Kita pasti bisa mengusir Covid-19. Ayo sama-sama berjuang dan saling percaya pada sesama rakyat Indonesia.

Selalu ada hal yang bisa kita syukuri dari setiap keadaan, tidak terkecuali pada masa pandemi ini. Masa pandemi bisa dimanfaatkan untuk melakukan hal-hal positif. Pemanfaatan waktu yang bijak adalah kunci utamanya. Saat ini bukan waktunya bermain-main. Belajar dari rumah juga menyenangkan.

Karena masyarakat jarang bepergian dengan kendaraan, jumlah polusi pun berkurang dan udara jadi lebih bersih. Tidak ada salahnya tetap di rumah berkumpul dengan keluarga. Kesempatan ini juga bisa membuat orang tua lebih mengenali karakter anak-anak dan sebaliknya, serta membangun kekompakan melalui pembagian tugas rumah tangga atau berbagi hiburan.

Situasi ini bisa menjadikan orang terbiasa hidup sehat dan bersih. Kita bisa memiliki kesempatan untuk belajar banyak hal baru. Pendekatan diri kepada Tuhan dan sering mengamalkan perbuatan baik dapat dilakukan di masa pandemi ini. Ada banyak hikmah yang bisa kita ambil. Tetap berdoa agar semuanya kembali normal.

 

Siswi Kelas XI MAN 2 Banyuwangi di Genteng

 

Pencarian Jatidiri Masa Pubertas

 

Pencarian Jatidiri Masa Pubertas

Oleh : Nur Intan Kusuma Dewi

 

Tidak jarang, keluhan terlontar dari orang tua sendiri sebagai orang terdekat anak. Padahal orang tua seharusnya adalah orang terdekat bagi remaja yang bisa membimbingnya. Berbagai masalah yang terjadi di lingkungan keluarga menjadi penyebab utama remaja bersikap tidak selayaknya pada lingkungan.Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari anak-anak menuju dewasa. Pada masa inilah bisanya mereka sering berbuat ulah. Dalam masa ini manusia sedang mencari jati dirinya ingin mengenal siapa dirinya sebenarnya. Dalam masa ini, seorang manusia mengalami masa yang dinamakan masa pubertas. Saat pubertas, biasanya manusia ingin mencoba segala suatu yang baru dalam hidupnya, muncul berbagai macam gejolak emosi, Banyak timbul masalah baik dalam keluarga maupun lingkungan sosialnya,bahkan biasanya pada masa ini para remaja sering berbuat kenakalan yang biasanya hanya untuk mencari perhatian ataupun sensasi.pencarian jatidiri di masa pubertas.  Menurut ahli sosiologi Kartono, Kenakalan Remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan “gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang”. Sedangkan menurut Santrock “Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal”.

Kenakalan remaja kebanyakan dilakukan oleh mereka yang gagal dalam mengembangkan emosi jiwanya, mereka tidak bisa menahan diri terhadap hal baru yang masuk ke dalam dirinya, sehingga menimbulkan sikap yang tidak seharusnya mereka lakukan. Menurut penelitian yang dilakukan Balitbang Departemen Sosial (2002), Hamzah (2002, Prahesti (2002), mengindikasikan bahwa kematangan emosi pada remaja yang masih labil merupakan salah satu faktor terjadinya kenakalan remaja. Tidak matangnya emosi seseorang ditandai dengan meledaknya emosi di hadapan orang lain, tidak dapat melihat situasi dengan kritis, dan memiliki emosi yang tidak stabil. Sebaliknya matangnya emosi seseorang ditandai dengan tidak meledaknya emosi di hadapan orang lain, dapat penilaian situasi kritis dan memiliki emosi stabil serta memiliki kepercayaan diri seperti percaya pada kemampuan diri sendiri, bertindak mandiri dalam mengambil keputusan, memiliki konsep diri yang positif dan berani mengungkapkan pendapat.

Bentuk kenakalan remaja banyak sekali, antara lain : Narkoba, kebanyakan para remaja yang memakai narkoba bermula dari  dorongan rasa keingintahuan yang tinggi sehingga mereka mencoba barang nikotin tersebut. Dalam beberapa kasus,biasanya para remaja juga dipengaruhi oleh teman dekatnya yang lebih dulu memakai narkoba.

Balapan liar, biasanya kenakalan remaja yang ini dilakukan oleh beberapa kelompok tertentu. Balapan liar tentu sangat berbahaya bagi diri sendiri karena dapat merenggut nyawa. Serta mengganggu lingkungan sekitar. Selain itu remaja yang mengikuti balapan liar biasanya belum memiliki SIM, KTP, STNK, dan surat-surat untuk mengemudi lainnya.

Tawuran, sejak dahulu banyak media yang memberitakan tentang tawuran antar pelajar. Kenakalan remaja yang satu ini dilakukan oleh kelompok pelajar dari sekolah atau universitas tertentu. Para remaja yang melakukan kenakalan biasanya mereka membutuhkan pelampiasan untuk masalah tertentu yang biasanya disebabkan oleh berbagai factor,diantaranya yaitu:

Faktor Keluarga

Keluarga tidak harmonis, Hal ini disebabkan karena orang tua yang sering bertengkar hingga tindakan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) yang dilakukan di depan anaknya tersebut yang dapat menyebabkan remaja melakukan berbagai perilaku nakal untuk mencari perhatian. Saat keluarga tidak harmonis, sudah tentu komunikasi antar orang tua dan anak menjadi tidak baik. Hal ini menjadi salah satu faktor penyebab kenakalan remaja yang paling banyak kita temui. Remaja menjadi tidak terbuka kepada orang tua mengenai masalah yang terjadi padanya karena orang tua sibuk bertengkar dan tidak mempedulikan anak. Hal inilah yang mengakibatkan remaja mencari tempat di luar rumah untuk bernaung dengan menunjukkan kenakalannya.

Kurangnya kasih sayang dari orang tua, hal ini biasanya terjadi karena orang tua sering bertengkar atau jarang bertemu karena bekerja dari pagi hingga larut malam. Terkadang para orang tua yang sibuk bekerja hanya fokus mencari uang, padahal sang anak yang dibutuhkan bukan uang saja tetapi yang terpenting adalah kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tua. Hal ini menyebabkan anak mencari pelampiasan agar orang tuanya lebih memperhatikan dirinya. Kebanyakan remaja melakukan berbagai kenakalan untuk membuat orang tuanya merasa jengkel,  agar dirinya lebih diperhatikan oleh orang tuanya.

Terbiasa dimanja dan dididik terlalu keras, Anak-anak yang terbiasa dimanjakan dari kecil akan merasa keinginannya wajib dipenuhi sampai ia beranjak remaja. Dengan begitu, ia akan bertindak semaunya. Namun, mendidik anak terlalu keras juga tidak baik dilakukan. Sebagian orang tua memberikan pendidikan yang keras pada dengan harapan anak akan tumbuh seperti yang diharapkan. Padahal, melakukan hal ini dapat membuat anak merasa tertekan dan menjadi pemicu anak memberontak dan melakukan berbagai kenakalan.

Faktor Religi, setiap orang tua wajib memberikan anak-anaknya pendidikan tentang agama. Dari pendidikan tentang agama lah mereka akan mendapatkan etika serta moral di kehidupan. Saat seorang anak tidak dibekali dengan pendidikan agama sejak kecil, tentunya hal ini menjadi salah satu faktor penyebab kenakalan remaja nantinya. Apabila para remaja tidak memiliki bekal tentang pendidikan agama, mereka pasti cenderung menyepelekan bahwa kenakalan yang dilakukannya biasa-biasa saja dan tidak akan menimbulkan dosa.

Faktor Ekonomi, kondisi ekonomi yang kekurangan dapat membuat remaja bertindak nakal dan melakukan tindakan kriminal, seperti pencurian. Banyaknya keinginan seorang remaja dapat membuatnya nekat memenuhi keinginan tersebut dengan jalan apapun. Namun, tidak hanya kekurangan ekonomi yang menjadi faktor penyebab kenakalan remaja, remaja dengan kelebihan ekonomi juga dapat berbuat kenakalan. Hal ini disebabkan oleh kebiasaan sifat dimanjanya yang membuat remaja menjadi cenderung berbuat semaunya.

 

Lingkungan Pergaulan dan Tempat Tinggal, remaja yang tidak dibimbing dengan baik di rumah oleh orang tuanya, akan mengikuti teman di pergaulan di sekitarnya. Oleh karena itu, pergaulan remaja harus benar-benar diperhatikan oleh para orang tua. Lingkungan tempat tinggal juga bisa menjadi faktor penyebab kenakalan remaja. Jika lingkungan tempat tinggal banyak pelaku buruk seperti mabuk-mabukan, judi, pencurian, narkoba dan lain-lain, bisa jadi remaja akan terpengaruh,karena masa remaja ini mereka memiliki sifat yang sangat mudah terpengaruh.

Kemajuan teknologi, kemajuan teknologi memang bisa menjadi pemudah untuk mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk belajar dan ilmu pengetahuan, namun di sisi lain hal ini juga dapat merusak remaja dengan sangat mudah. Pengaruh internet yang membuat semua informasi di seluruh dunia bisa didapatkan oleh remaja dapat berakibat buruk. Apalagi bila hal ini tidak dikontrol dan dibimbing oleh orang tua. Konten-konten yang seharusnya hanya dibuka oleh orang dewasa bisa saja dibuka oleh anak remaja dengan mudah, yang tentunya akan berakibat buruk nantinya bila tidak ada bimbingan yang baik.

Maka dari itu untuk menghindari/mengatasi kenakalan remaja agar tidak berlebihan bisa dilakukan dengan cara orang tua memberikan kasih sayang dan perhatian dalam hal apapun, karena dengan adanya rasa kasih sayang dari orang tua maka anak akan merasa diperhatikan dan dibimbing, serta dengan kasih sayang itu pula akan mudah mengontrol remaja jika ia mulai melakukan kenakalan. Para orang tua juga perlu memberikan pengawasan yang intensif terhadap media komunikasi seperti TV, Internet, Radio, Handphone dan lain- lain.Lalu,perlunya bimbingan kepribadian di sekolah, karena disanalah tempat anak lebih banyak menghabiskan waktunya selain di rumah. Perlunya pembelajaran agama yang dilakukan sejak dini seperti beribadah dan mengunjungi tempat ibadah sesuai dengan iman dan kepercayaannya.

 

Penulis Siswa Kelas XI MAN 2 Banyuwangi di Genteng

                                                                   

Hikmah di Balik Musibah

 

Hikmah di Balik Musibah

Oleh: Dliya Rana Nabila

“Tiadalah seorang muslim yang ditimpa musibah dalam bentuk kelelahan, sakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, dan kecemasan, melainkan Allah menghapuskan darinya segala kesalahan dan dosa, hingga duri yang menusuknya juga menjadi penghapus dosa.” (HR. al-Bukhari no. 5318)

Seperti kita ketahui, pandemi Covid-19 sudah mendunia. Pertama kali virus ini ditemukan di kota Wuhan, China pada Desember 2019. Di Indonesia sendiri ditemukannya virus ini sejak Januari 2020, tetapi mulai menyebarnya pada bulan Maret 2020 sampai saat ini. Selalu ada peningkatan jumlah orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 setiap harinya. Sudah sekitar tujuh bulan kita berhadapan dengan pandemi ini. Pandemi ini mendorong kita untuk dapat menyesuaikan dengan keadaan yang ada. Sekolah-sekolah ditutup, perekonomian kacau, banyak pegawai-pegawai yang diPHK, dan masih banyak dampak lainnya. Namun, dibalik itu semua terdapat hikmah yang bisa kita ambil dari masalah ini.

            Pandemi ini membuat kita menjadi lebih sadar terhadap pentingnya menjaga kesehatan diri sendiri. Salah satunya dengan rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama kurang lebih 20 detik atau menggunakan cairan handsanitizer jika tangan kita tidak bersih atau memegang barang-barang yang mengandung kuman. Padahal, aktivitas rajin mencuci tangan sudah seharusnya menjadi kebiasaan kita dalam menerapkan hidup bersih dan sehat. Dan juga betapa pentingnya untuk menjaga kekebalan tubuh dengan cara makan makanan yang sehat dan bergizi untuk menangkal virus yang masuk ke tubuh, berjemur dibawah matahari pada pagi hari, dan berolahraga setiap pagi dan sore minimal lari-lari kecil disekitar rumah. Pandemi ini menyadarkan kita tentang betapa nikmatnya kesehatan. Ketika kita sakit, yang kita inginkan hanya satu, yaitu sehat dan bisa beraktifitas kembali. Sehat adalah nikmat Allah yang sangat besar. Namun, kita sering lupa untuk mensyukuri nikmat tersebut.

            Sadar atau tidak, pandemi ini membuat bumi kita menjadi bebas polusi dan udara menjadi lebih segar dan sejuk karena sejak pemerintah memerintahkan untuk karantina dirumah, orang-orang menjadi jarang keluar rumah, maka dari itu tidak ada asap kendaraan yang berhamburan diudara. Jalan-jalan menjadi lancar dan tidak ada kemacetan lalu lintas. Dengan diadakannya kebijakan New Normal, masyarakat menjadi lebih disiplin dalam hal apa pun. Misalnya: Kini, masyarakat untuk keluar rumah saja perlu berfikir dua kali. Apakah sangat perlu untuk keluar rumah atau tidak karena jika kita tidak berfikir dua kali untuk keluar rumah, maka akan membahayakan kesehatan diri sendiri maupun keluarga yang ada di rumah.

            Berada di rumah saja selama masa pandemi mendorong masyarakat mencari referensi kegiatan yang bisa dilakukan untuk menghilangkan kebosanan. Salah satu aktifitas yang efektif menghilangkan rasa bosan adalah dengan memasak. Apalagi saat ini bayak ditemukan konten memasak di media sosial. Selain untuk mengisi kegiatan. Memasak juga efektif untuk menghemat uang agar tidak selalu memesan makanan secara online.

Dari segi sosial, Covid-19 mengajarkan kita untuk saling membantu dan mengembangkan kepedulian terhadap orang lain agar meringankan penderitaan mereka yang terkena dampak dari pandemi ini. Pemerintah terus memberikan bantuan kepada mereka yang terkena dampak dari pandemi ini.  Dengan memberikan dana bantuan berupa uang, sembako, masker, handsanitizer dan lain-lain. Selain itu, dengan adanya pemberlakuan bekerja dan sekolah dari rumah dapat memberikan kesempatan kepada mereka yang tidak punya waktu untuk keluarga. Inilah kesempatan bagi anak dan orang tua untuk saling berkomunikasi satu sama lain. Para orang tua dapat mendampingi belajar anak-anak nya dan harapannya para orang tua juga semakin mengerti dan menghargai peran guru di sekolah. Karena sebelum ada pandemi ini, banyak orang yang jarang berkumpul dengan keluarga mereka, karena kesibukan masing-masing, seperti sekolah dan kerja. Dan juga mengajarkan kepada mereka yang hari raya tahun ini tidak sempat mudik ke kampung halaman rumah mereka agar dapat mengalah dan lebih bersabar lagi. Jika mereka nekat untuk mudik, itu akan membahayakan kesehatan mereka karena virus ini.

Selain itu, dengan adanya pemberlakuan sekolah  online dari rumah, pengetahuan tentang teknologi meningkat karena para siswa menggunakan teknologi handphone, laptop, dan lain-lain. Kondisi tersebut memaksa para pengajar untuk berstrategi menyiapkan cara belajar yang efektif berbasis teknologi digital. Biasanya para siswa menggunakan aplikasi-aplikasi dari hp maupun laptop agar bisa mengikuti pelajaran. Misalnya: Para siswa memanfaatkan aplikasi zoom meeting agar memudahkan untuk pembelajaran langsung dengan guru mereka. Selain disekolah, kemampuan IT juga meningkat pada orang-orang yang bekerja dari rumah.

Dari segi agama pun mengajarkan kita agar selalu mengingat dan meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT.yang menciptakan alam semesta ini. Covid-19 ini merupakan bukti kekuasaan dari Allah.  Karena pandemi ini juga datang jika tidak ada izin dari-Nya. Sebagai hamba-Nya kita harus terus berdo’a dan berusaha agar masalah pandemi ini cepat segera hilang. Dan untuk kita yang masih sehat agar selalu bersyukur karena masih diberi kesehatan hingga saat ini. Allah pasti tidak akan menguji hambanya diluar kemampuan kita.

Banyak hikmah yang bisa kita ambil dari masalah ini, tergantung kita bagaimana memandang nya. Dengan menjadikannya sebuah pembelajaran dan pengalaman hidup yang menjadi bekal kita untuk menjalani masa depan. Semoga wabah virus corona ini segera berlalu. Dan aktifitas masyarakat pun bisa kembali berjalan dengan normal. Ingatlah satu hal, akan selalu ada kebaikan meskipun itu dalam suatu musibah atau keburukan sekalipun.

Penulis Siswa Kelas XI MAN 2 Banyuwangi di Genteng

 

 

Remaja Diantara Modernisasi dan Pandemi

 Remaja Diantara Modernisasi dan Pandemi

Oleh : Taqiyyah Jaizah

 

Modernisasi; dalam ilmu sosial dapat didefinisikan sebagai istilah yang menyebutkan bahwa bentuk perubahan (transformasi) dari keadaan kurang maju atau kurang berkembang, menjadi keadaan yang lebih baik dengan harapan akan tercapainya kehidupan masyarakat yang lebih baik, sejahtera, makmur, dan juga bermartabat. Namun dalam proses transformasinya sendiri, hal itu pasti akan melalui berbagai macam tantangan ataupun resiko yang dirasakan oleh masyakarat dalam suatu negara bahkan lingkup dunia. Pada kenyataannya, pola perilaku kegiatan masyarakat ini berubah drastis sejak datangnya Si Makhluk Kecil ini—Covid-19. Dalam keadaan seperti ini, mari kita coba untuk mengambil sample remaja sebagai object dan subject, dimana peran remaja di era moderenisasi ini sangatlah penting. Karena pada saat berumur remaja, saat itulah manusia akan rentan terhadap dampak dari modernisasi tersebut. Terlebih pada bidang teknologi yang dirasa semakin maju, khususnya di tengah pandemic seperti ini yang terlihat seolah menopang kemajuan atau justru membahayakan bagi pengembangan karakter remaja. Modernisasi ini akan terus terjadi, baik secara revolusi maupun evolusi. Karena keduanya merupakan hal yang sama dan akan terus terjadi di kehidupan masyarakat dunia. Walaupun terdapat beberapa kelompok yang masih lamban dengan perubahan-perubahan tersebut. Namun hal itu tidak memungkiri bahwa kelompok tersebut juga dapat merasakan perubahan meski dalam skala kecil sekalipun.

Di tengah pandemi seperti ini, banyak pola kehidupan yang berubah. Salah satunya adalah dibidang pendidikan, yang mana sebelumnya pembelajaran dilakukan secara tatap muka, kini mengharuskan siswanya belajar dari rumah secara online dan melalui daring. Hal tersebut dianggap sebagai solusi terbaik di tengah pandemi, demi keberlangsungan para pelajar yang merupakan harta berharga bagi negara agar tetap aman dari jajahan pandemi Covid-19 ini. Namun kembali lagi pada perubahan pola kehidupan yang terjadi pasti memiliki berbagai macam tantangan bagi masyarakat dunia, khususnya untuk para remaja.

                Remaja adalah warisan dunia, dimana remaja akan menjadi penentu gambaran kehidupan selanjutnya pada generasi berikutnya. Hal itu juga tak luput dari kuasa Allah SWT. Sebagai seorang pelajar, remaja memang memiliki tugas untuk terus mengemban ilmu. Seperti pepatah yang mengatakan, kerjalah ilmu sampai ke negeri China. Di tengah pandemi seperti ini, tak menjadi halangan bagi para pelajar untuk menuntut ilmu. Maka pemerintah berkewajiban memberikan berbagai macam sarana dan prasarana, serta bantuan biaya kuota atau yang lainnya bagi para pelajar untuk melanjutkan study-nya melalui daring. Namun dibalik dari pembelajaran daring tersebut, terdapat sebuah sisi kelemahan, yaitu kurangnya pemberian pendidikan pengembangan karakter bagi para pelajar.

                Dalam keadaan pandemi seperti ini, teknologi yang semakin berkembang justru membuat dampak negatif di beberapa bidang. Contohnya pada bidang pendidikan yang kini dilakukan secara online melalui daring. Pembelajaran ini jauh dari kata baik daripada pembelajaran yang dilakukan secara tatap muka langsung. Karena faktanya, pembelajaran daring bagi para pelajar tidaklah efektif. Terlebih jika diilihat dari perbandingan dengan luring–pembelajaran secara tatap muka seperti biasa–yang didampingi langsung oleh guru, pun tidak akan menjamin para remaja belajar secara produktif. Apalagi di tengah situasi pandemi seperti ini, yang mengharuskan siswa belajar melalui daring dan hanya dipantau secara online melalui gawai atau laptop. Serta pendidikan karakter melalui daring juga tidak dirasa se-efektif luring.

Banyak sekali kasus penurunan daya kreativitas serta pemikiran kritis pada para remaja karena rasa tertekan atau bahkan rasa malas pada diri mereka. Rasa tertekan itu sendiri datang karena remaja merasakan ketidakmampuan dalam melaksanakan tugas sekolah dan faktor-faktor internal bahkan eksternal yang dirasakan oleh para remaja. Sedangkan rasa malas itu sendiri didapatkan karena rasa nyaman yang berlebihan terhadap suatu situasi, misalnya rebahan. Inilah hal yang paling sering dialami oleh para remaja di era pandemi seperti ini. Jika dilihat dari keadaan yang mana mengharuskan untuk menetap di rumah, hal itu menjadi peluang rasa malas dapat masuk ke dalam diri remaja tersebut. Apabila sudah terlanjur terbawa dan merasuk dalam diri remaja tersebut, maka akan sulit untuk melepas dari zona nyaman secara tidak langsung. Dua keadaan itulah yang membawa perubahan bagi karakter remaja sebagai seorang pelajar menjadi buruk. Perubahan karakter itu sendiri menjadi hal yang penting, karena jika karakter remaja berubah menjadi lebih baik maka hal itu patut disyukuri. Namun apabila pada kenyataanya perubahan karakter yang diharapkan tersebut justru berbanding terbalik dengan ekspetasi, kita patut mencari solusi untuk masalah ini. Karena dampak negatif yang diakibatkan oleh pandemi virus ini semakin banyak.

Semua kondisi tersebut tergantung bagaimana para remaja itu kembali pada niatan dan semangat untuk berkembang. Maka dari itu, untuk menjaga dan meningkatkan pendidikan karakter di era modernisasi di tengah pandemi seperti ini dapat dilakukan dengan cara berpegang teguh pada agama melalui pendekatan diri kepada Allah SWT. Lalu juga menambah iman dan taqwa pada diri masing-masing. Karena agama merupakan suatu pedoman nomor satu bagi semua umat untuk menjaga diri dari dampak negatif modernisasi yang mengakibatkan perubahan karakteristik ke arah yang negatif.

Peningkatan pendidikan karakter juga dapat dilakukan melalui seminar. Arti seminar sendiri ialah sebuah kegiatan pertemuan sekelompok orang yang diselenggarakan untuk membahas suatu masalah dan mencari solusi ilmiah terhadap permasalahan tersebut. Contoh seminar yang dapat kita ambil sebagai penunjang pendidikan karakter salah satunya ialah seminar remaja Islam. Berhubung agama adalah jalan terbaik untuk menjaga dan meningkatkan pendidikan karakter di era modernisasi di tengah pandemi seperti ini, seminar juga dapat dilalukan secara online melalui daring dan lebih menguntungkan lagi jika kegiatan ini ternyata tanpa dipungut biaya sepeserpun. Hanya dengan modal kuota atau gawai, kita mendapatkan sebuah pengalaman baru.

                Dengan mengikuti kegiatan tersebut, para remaja secara tidak langsung telah membantu diri mereka sendiri dengan meningkatkan pembentukan karakter secara perlahan. Bahkan kegiatan tersebut dapat membuat mereka menjadi lebih produktif kembali seperti semula. Hal ini juga dapat meningkatkan rasa semangat pada diri mereka sehingga rasa malas yang tadinya selalu mereka rasakan akan perlahan menghilang seiring dengan rutinitas yang terbiasa dilakukan.

 

Saya merasa bahwa pendidikan karakter melalui seminar online ini, dirasa cukup mampu untuk menunjang pembentukkan karakter remaja di masa pandemi seperti ini. Selain mengandalkan ilmu dari sekolah melalui daring, hal tersebut juga dapat menjadi nilai tambahan untuk mendapatkan lebih banyak pengalaman dan memperluas wawasan sehingga karakter remaja dapat terbentuk dengan sendirinya secara baik dan optimal. Karakter remaja bagaikan baja. Artinya baja itu sendiri adalah remaja yang memiliki karakter kuat serta mental yang tangguh sehingga dapat menunjang produktivitas sebagai remaja maupun pelajar, meski ditengah pandemi sekalipun yang mengurung mereka, namun tidak pernah bisa membatasi diri untuk berkelana mencari berbagai sumber ilmu yang ada.

 

Siswi : MAN 2 Banyuwangi di Genteng

Jangan Lupa Bahagia

 

Jangan Lupa Bahagia 

Oleh : Malika Naelun Salsabilah

 

Penulis adalah julukan atau  sebutan bagi orang yang melakukan pekerjaan menulis. Menulis itu dapat menggunakan alat tulis di suatu sarana atau media penulisan, untuk ; mengungkapkan ide, pikiran, perasaan melalui kegiatan menulis, atau menciptakan suatu karangan dalam bentuk tulisan. Seperti yang sering kita jumpai tertuang dalam bentuk ; Koran, Novel, Majalah, Buku Fiksi, dan lain lain.

Menghasilkan sebuah karya tulis dalam posisi masih berprofesi sebagai seorang pelajar merupakan suatu langkah untuk mulai menemukan harapan dan membangun impian. Cita-cita yang begitu banyak, setidaknya sudah terjawab walau dengan satu langkah saja. Namun, semua perjuangan belum berakhir, belum bisa mewujudkan mimpi yang sesungguhnya. Menerjang jalan bebatuan lebih muskil daripada melewati jalan lurus dan mulus.

Penulis professional mayoritas sudah berpengalaman dan menguasai ilmunya. Namun, seorang pelajar yang masih belajar tak ada salahnya juga untuk ikut terlibat dalam profesi seorang penulis bukan?. Mencoba hal baru, terjun di dunia asing yang tak begitu dikenal. Menuju sukses banyak hal yang bisa kita lakukan. Walau melakukannya secara perlahan, bertahap, tapi pasti!.

Banyak orang yang takut mencoba padahal dia bisa. Banyak pula bakat tidak tersalurkan karena  takut pada angan-angan. Memikirkan sebab akibat itu baik, tapi tidak untuk menggagalkan sukses kita. Apa yang sudah menjadi rencana matang, tiba-tiba berhenti tengah jalan, banyak terjadi, contohnya saya.

Menurut Saya, Rencana itu hilang karena mindset kita telah mengubahnya. Seorang pelajar yang belum begitu menguasai ilmu kepenulisan, bisa saja terjun ke dunia penulis. Saya yang masih minim tentang pengetahuan tulis menulis pun ikut merasakan, terjun di dunia kepenulisan. Dengan membukukan salah satu karya yang menjadi suatu penyemangat untuk terus melangkah, untuk terus berjuang. Walau masih perlu adanya bimbingan. Novel yang saya buat, mungkin masih dalam kategori pemula atau penulis awal. Saya sempat berpikir bahwa sangat tidak mungkin, saya menulis karya untuk dibukukan. Namun, atas izin Allah semua ini dapat terwujud dan harus didasari dengan tekad dan keinginan.

Beberapa orang mengatakan menulis hanya sekedar hiburan atau pengisi waktu Luang. Definis ini juga ada benarnya. Ada orang yang menulis memang sekedar untuk hal itu, tidak mempunyai target yang terlalu serius. Menjadi penulis untuk hiburan, mengisi waktu dengan hal yang lebih bermanfaat. Dengan menulis membuat kita semakin bahagia, karena luapan emosi yang kita pendam dapat kita luapkan dalam bentuk karya tulis, sehingga kita seakan terlepas dari beban, orang bilang seberat apapun pekerjaanmu, Jangan Lupa Bahagia.

Yang harus anda ketahui, penulis itu tidak sendirian, terdapat juga beberapa bagian yang memiliki peranan penting dalam ruang kerja seorang penulis.  Ada yang namanya ; Penerbit, Ilustrator, dll. Menjadi seorang penulis  itu mudah jika anda benar-benar mempunyai niatan. Tidak ada salahnya jika ada yang mengatakan bahwa menjadi seorang Penulis adalah untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Memang menulis itu banyak tujuannya, tapi semua itu tergantung orang yang menjalani. Apapun tantangan dan rintangan menjadi seorang penulis, jika dijalani itu mudah.

Saya hanya Penulis awam dan alami dan belum mendapat pengetahuan sebagaimana seorang penulis profesional, tapi bagi saya menjadi Penulis adalah sebuah kebanggaan. Dan saya ingin mempertahankannya dengan berusaha keras untuk tetap menulis, walaupun sering kali terjeda  oleh waktu dan sarana. Ada juga penulis yang terlibat dalam penulisan naskah skenario iklan. Para penulis skenario ini tugasnya menulis naskah iklan supaya pesan yang ingin disampaikan lewat suatu produk bisa dimengerti oleh khalayak. Banyak orang-orang yang ingin menjadi penulis buku. Dengan berbagai alasan yang mereka miliki.

Menurut saya, profesi sebagai penulis bisa berkembang ke mana saja dengan cepat. Zaman sekarang, sangat besar kemungkinan seseorang bisa menjadi penulis. Seorang penulis juga berkontribusi pada majalah, surat kabar, jurnal dan sejenisnya melalui tulisannya. Proses menulis yang panjang membutuhkan tenaga dan komitmen yang tidak main-main. Untuk menjadi penulis yang bisa konsisten menghasilkan karya, harus rela bekerja keras untuk terus menulis dan  tak peduli apapun rintangan yang menghadang di depan.

Menurut saya, hal terberat yang harus dihadapi oleh penulis dalam proses berkarya adalah menemukan motivasi untuk memulai. Ketakuttan di awal hanya memikirkan sebuah kegagalan saja. Namun, semua itu sirna dengan adanya tekad dan dorongan dari diri saya sendiri. proses yang sangat bergantung pada niat dari diri sendiri itu penting. Penulis yang bisa menjadikan kegiatan menulisnya sebagai pekerjaan adalah dia yang selalu bisa menemukan alasan untuk bangun dan kembali berkarya setiap hari.

Jika anda memang berminat untuk jadi penulis, rasa malas  itu buang jauh-jauh rasa malas, kalahkan dia dari diri anda. Sulit ? iya, memang diawal sulit, tapi kalau dijalani semua itu indah, nikmat. Malahan kita bisa melawan rasa malas itu dengan mudah lho. Ingat masa depan anda, impian anda yang ingin menikmati keberhasilan bukan hanya kesakitan.

Ada pengalaman dari teman saya, dia nulis tapi tak kunjung usai, karena banyaknya topik yang akan dibicarakan. Lalu gimana cara mengatasi itu ya ?.  Mudah banget, banyak topik?, gabungkan aja dengan cerita awal, karena jika anda banyak menulis cerita yang berbeda-beda itu menurut saya sulit. Namun, semua itu tergantung kita yang menjalani ya.

 Jadi, mencobalah jangan anggap pekerjaan itu sebuah beban tapi anggap semua ini hiburan, gimana? Mudahkan. Kita juga harus percaya bahwa kita bisa. Tantang, jangan dibuat beban hidup. Mulai sekarang, biasakan untuk mencatat setiap ide yang muncul, jika kamu ingin menerbitkan buku atau menulis.

Penulis Siswa Kelas XI MAN 2 Banyuwangi di Genteng

Pendidikan Karakter di Masa Golden Age

 

Pendidikan Karakter di Masa Golden Age

       Oleh : Julia Permata Nur Rohmah

           


Kunci sukses keberhasilan suatu negara sangat ditentukan oleh sejauh mana masyarakat mempunyai karakter yang kondusif untuk maju ke depannya. Jadi, bukan ditentukan oleh banyaknya sumber daya alam atau jumlah penduduknya. Karakter terbentuk sebagai hasil pemahaman dari hubungan dengan diri sendiri, dengan lingkungan (hubungan alam sekitar dan sosial), serta hubungan dengan tuhan Yang Maha Esa. Karakter yang berkualitas harus diterapkan sejak dini. Karakter dapat diartikan sebagai cara pola berpikir dan perilaku seseorang yang merupakan mencerminkan dirinya baik secara individu maupun secara bersama-sama, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, dan bernegara.

Usia dini merupakan usia yang sangat kritis terhadap pembentukan karakter seseorang. Penanaman moral melalui pendidikan karakter sedini mungkin kepada anak-anak adalah kunci utama untuk membangun suatu bangsa. Pada usia anak-anak ini merupakan masa yang sangat menentukan kepribadian dasar seseorang.atau biasa disebut dengan Golden Age (masa keemasan) Perkembangan anak tidak dari faktor perkembangan fisiknya tetapi juga dari pola berfikir, perilaku, serta moral dari anak tersebut. Pelaku utama dari pembentukan karakter seorang anak tidak lain adalah kedua orang tuanya atau keluarga dan dari keadaan lingkungan sekitarnya. Jika pola pendidikan karakter di tengah keluarga sudah terbangun dengan baik, dengan sendirinya anak akan lebih mudah untuk menerima pendidikan karakter di sekolah. Dengan pendidikan karakter, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Yang dimaksud cerdas emosinya disini adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak untuk menyongsong masa depannya kelak, karena dengan begitu kita bisa berhasil melewati tantangan dan menghadapinya dengan baik dan berhasil.

 Pada usia anak-anak ini perkembangan otak manusia dapat menyerap dan menerima segala macam informasi dengan mudah, sehingga apa yang diberikan pada anak akan ia serap dengan baik dan akan ia terapkan dalam kehidupannya. Oleh karena itu, pada masa anak-anak ini sering juga disebut dengan masa emas anak-anak. Jika pendidikan karakter tidak diberikan kepada anak, jelas akan terlihat suatu perbedaan antara anak yang diberikan pendidikan karakter dengan baik dan tidak sama sekali. Membangun karakter, merupakan proses yang berlangsung seumur hidup. Anak-anak, akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter jika ia tumbuh pada lingkungan yang berkarakter pula.

Nilai yang ditanamkan dalam mendidik anak di usian dini dalam membangun karakter anak kita harus menanamkan nilai-nilai positif seperti, taat kepada agama, jujur baik perkataan maupun dalam perbuatan, bertanggung jawab dalam segala hal yang ia lakukan, hormat dan sopan kepada orang tua serta orang lain yang lebih tua.

            Anak-anak merupakan generasi penerus bangsa yang harus memiliki modal pengerahuan, karakter yang baik, dan kreativitas yang tinggi. Dari ketiga modal tersebut anak-anak kelak bisa menjadi generasi penerus bangsa yang berwawasan luas serta tidak menyimpang dari moral yang telah ditanam oleh kedua orang tuanya maupun gurunya.

            Masalah yang sering dihadapi yaitu tidak sedikit orang tua yang lalai akan perannya dalam membimbing anak-anaknya. Kebanyakan dari mereka lebih mementingkan urusan pekerjaan dan hal-hal lainnya yang bisa membuat lupa akan pentingnya dalam membimbing karakter anak-anaknya  sehingga mereka sering merasa di abaikan oleh orang tuanya. Orang tua memiliki tanggung jawab yang besar terhadap pertumbuhan serta penanaman karakter seorang anak dan penanaman moral yang harus ditanam sejak usia dini. Jika seorang anak sudah salah pergaulan maka akan sulit untuk menanamknan kembali karakter yang baik kepada anak tersebut. Misalnya pengggunan obat-obat terlarang, sulit dalam memahami dan mempelajari pelajaran di sekolah, dan terkadang mereka juga merasa kalau mereka tidak dianggap oleh kedua orang tuanya.

            Era globalisasi ini telah mengubah segalanya, seperti yang telah di sebutkan diatas yaitu persaingan hidup yang berat membuat para orang tua sibuk untuk mencari nafkah demi menghidupi keluarganya sehingga lalai akan tugas nya untuk menjaga serta mendidik anaknya supaya memiliki karakter yang baik. Mencari nafkah memanglah penting bahkan hal itu sangat penting tetapi bagaimanapun anak dan keluarga harus tetap menjadi nomer satu karena kelak anak-anak tersebut akan menjadi penerus bangsa.

            Seperti yang bisa kita lihat, di Indonesia sendiri jumlah anak-anak sangatlah banyak. Dan pasti mereka kelak akan menjadi penerus bangsa bahkan yang menentukan masa depan bangsa kita kelak. Oleh sebab itu penanaman karakter sejak dini merupakan hal yang lumrah dilakukan oleh kedua orang tua demi kebaikan anak itu sendiri bahkan untuk masa depan bangsa.

            Pada era globalisasi ini, perkembangan di bidang teknologi informasi dan komunikasi telah menyebabkan budaya dari luar negri masuk dengan bebas. Di sinilah peran kedua orang tua sangatlah diperlukan untuk mengantisipasi para putra putri nya dalam menggali informasi atau melihat konten-konten yang menyimpang dari norma. Apabila seorang anak tidak diawasi akan menyebabkan dampak buruk bagi anak tersebut. Dengan adanya orang tua di sisi anak tersebut kemungkinan kecil anak tersebut akan berfikir tentang hal-hal yang menyimpang dari norma. Membangun karakter seorang anak memanglah tidak mudah, dibutuhkan upaya yang serius dari berbagai pihak terutama dari pihak orang tua. Penanaman dan pendidikan karakter seorang anak dilakukan untuk tujuan agar anak tersebut memliki tanggung jawab atas apa yang dia lakukan kelak, membangun jiwa kemandirian, serta agar anak tersebut bisa membedakan antara yang baik dan yang benar. Selain itu manfaatnya adalah untuk menciptakan generasi yang berintegritas (konsep yang berkaitan dengan tindakan-tindakan seseorang dan berbagai hal yang dihasilkan), integritas ini yang penting dibentuk untuk pendidikan karakter seorang anak. Dengan adanya integritas yang tinggi akan menjadikan individu yang menjunjung tinggi nilai integritas bangsa dan negaranya.

            Tujuan mengembangkan karakter seorang anak adalah mendorong lahirnya anak-anak yang memiliki perilaku baik. Begitu ia tumbuh dalam karakter yang baik, anak-anak akan tumbuh dengan melakukan berbagai hal yang baik dan melakukannya dengan benar, serta mereka akan memiliki tujuan hidup sehingga tercipta manusia yang kondusif untuk maju. Tujuan yang lainnya adalah untuk dapat mengetahui berbagai karakter baik dari seseorang dan menunjukkan atau menerapkan contoh perilaku berkarakter dalam kehidupan sehari harinya.

Penulis adalah Siswa Kelas XI MAN 2 Bbanyuwangi di Genteng



 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger