Pages

Sekab Banyuwangi memberikan Apresiasi Terhadap Penulis dari Kemenag Banyuwangi

Ir. H Mujiono Msi, Sekretaris Kabupaten Bnyuwangi memberikaan apresiasi khusus terhadap Syafaat, salah satu peraih lima bersar terbaik lomba Essay dalam rangka hari lahir Pancasila yang digelar D{RD Kabupaten Banyuwangi. Pria lulusan MI Al Ath Har Benculuk tersebut nampak terkejut ketika Nama Syafaat disebut  sebagai salah satu pemenang Essay bertajuk Spirit Pancasila ; Gotong Royong Hadapi Covid-19 yang diumumkan Senin (29/6) di gedung dewan tersebut.
Pada kesempatan tersebut Syafaat memberikan Buku Karyanya berjudul Perjaanan Haji Orang Orang terpilih, dimana isi buku tersebut tentang pengalaman penulis ketika menjadi Ketua Kelompok Terbang (Kloter) jamaah Haji Embarkasi Surabaya tahun 2017. Syafaat menyampaikan bahwa Kloter yang dipimpinnya merupakan Kloter terberat se Embarkasi Surabaya, dimanna dalam kloternya banyak anggota jamaah dari Lansia dan berpenyakit, “ada enam jamaah yang meninggal dalam kloterrtersebut dan tertinggi se Embarkasi, namun tidak ada yang meninggal di maktab. Semua meninggal di Rumah sakit” Ungkapnya.

Ir. H. Mujiono, MSI yang saat itu mewakili Bupati Banyuwangi sempat kaget karena selama ini mengenal Syafaat sebagai anggota LSM yang dulu aktif dalam kegiatan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan, ternyata sekarang menjadi ASN pada Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. “Saya tadi terkejut ketika nama sampeyan disebut, dan ada tayangan videonya” ungkapnya. mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum tersebut menjabat sebagai salah seorang Kepala Bidang pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah ketika PNPM Mandiri sedang berlangsung.”Kebetulan beliau PPK dalam kegiatan yang kami lakukan, sehingga sering berinteraksi dengannya” unbgkap Syafaat.
Sementara itu Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi H. Slamet memberikan ucapan selamat kepada Stafnya yang berhasil masuk lima besar dalam penulisan essay tersebut. H. Slamet berharap Essay yang disampaikan Syafaat memberikan inspirasi dan motivasi kepada masyarakat di Kabupaten Banyuwangi untuk melakukan gotong royong dan bersedekah, terutama menghadapi Pandemi Covid-19.
Salah seorang dewan juri dari Radar Banyuwangi, Rahman Bayu Saksono berharap semua essay yang memenuhi sarat dapatnya di bukukan, sehingga dapat memberikan nilai lebih, issu yang diangat menjadi masukan bagi anggota DPRD dan masyarakat di Kabupaten Banyuwangi.

Cegah Covid 19 Ala Warga Lundin


Cegah Covid 19 Ala Warga Lundin
Oleh : Fava Nurbaity

Saat ini, bumi sedang mengalami permasalahan kesehatan yang sangat serius dan hampir terjadi secara menyeluruh. Salah satu virus yang tidak terduga sebelumnya datang ke tubuh manusia dan menjangkiti sebagian orang di Dunia ini. Virus tersebut adalah Covid 19 atau Corona. Awal mula munculnya virus ini yaitu dari Kota Wuhan, Cina dan kemudian menyebar ke seluruh benua, termasuk Indonesia. Hampir lima bulan lamanya virus ini berada di Indonesia, tidak ada yang menyangka jika virus ini akan lama berada disini. Kasus pertama Covid 19 di Indonesia terungkap dari kasus ibu dan anak yang dinyatakan positif setelah bertemu dengan kawan dari Jepang. Dari kasus tersebut kemudian muncul lagi kasus kedua, ketiga dan sekarang kasusnya tercatat mencapai tiga puluh ribu orang yang positif. Hari ke hari yang positif terlihat semakin bertambah, namun di sisi lain kita patut bersyukur karena pasien yang dinyatakan sembuh juga semakin banyak. Walaupun begitu, kita tidak boleh lengah dengan kondisi yang masih belum kondusif ini.
Sejak kasus Covid 19 masuk ke Indonesia, pemerintah telah mengupayakan berbagai cara untuk menekan kasus Covid 19 agar tidak bertambah dengan memberlakukan protokol-protokol kesehatan, seperti wajib menggunakan masker jika keluar rumah, cuci tangan setiap saat, segera berganti pakaian usai bepergian, tidak bersalaman, tidak berkerumun. Tidak hanya pemberlakuan itu saja, pemerintah Indonesia juga mengikuti cara negara lainnya yaitu dengan menetapkan lockdown atau istilah Indonesianya adalah PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di beberapa daerah. Selama PSBB masyarakat dihimbau untuk tidak sering keluar rumah (stay at home), sehingga semua aktivitas masyarakat dilakukan di rumah, mulai belajar, berkuliah, sampai bekerja. Tujuannya adalah untuk memutus rantai penyebaran Covid 19 agar tidak meluas. Sebab, penularan virus ini tidak terduga dan sering tanpa gejala. Maka dari itu, Covid 19 juga termasuk pandemi, karena bisa menjadi sangat berbahaya jika kita tidak berhatihati dan mencegahnya dari awal.
Partisipasi masyarakat Indonesia terhadap pencegahan Covid 19 cukup tinggi dalam mengikuti semua himbauan pemerintah. Walaupun di awal kasus ini muncul, perilaku masyarakat Indonesia belum terkendali, seperti: membeli masker, makanan, handsanitizer, dan barang kesehatan lainnya secara berlebihan. Dengan adanya kejadian itu, pemerintah Indonesia kemudian memberikan sosialisasi secara visual dan/atau non visual kepada masyarakat agar tidak panik dan berlebihan dalam membeli barang kesehatan. Sosialisasi tersebut cukup efektif, dan hasilnya masyarakat tidak lagi melakukan penimbunan. Justru saat ini, masyarakat telah melakukan pencegahan Covid 19 dengan tepat sesuai prosedur pemerintah. Selain itu, rasa gotong royong pada masyarakat Indonesia kembali tumbuh dan semakin giat ketika ada Covid 19 ini. Beragam bentuk gotong royong pada masyarakat Indonesia dalam menghadapi Covid 19 begitu banyak, baik itu di lingkup keluarga maupun kelompok.
Seperti yang dilakukan oleh warga di tempat tinggal penulis yang beralamat di Jl. Lundin, Kelurahan Kalipuro, Kecamatan Klatak, RT. 001/ RW. 002, beberapa bulan belakangan ini warga sangat giat melakukan kegiatan pencegahan Covid 19, baik secara gotong royong dengan sesama warga maupun bekerja sama dengan kelompok tertentu. Sejak Covid 19 masuk ke Kabupaten Banyuwangi, warga setempat dengan cepat tanggap melakukan pencegahan dini dengan penyemprotan disinfektan massal ke rumah-rumah. Penyemprotan disinfektan di Lingkungan Lundin telah dilakukan selama dua kali dalam kurun waktu tiga bulan. Kegiatan penyemprotan pertama, yaitu warga Lundin bersama dengan Kelompok Pokdarwis Pantai Cacalan. Kegiatan penyemprotan tersebut dilakukan dalam waktu sehari, dan yang bertindak langsung sebagai petugasnya ialah Pak Sugeng (RT 001).
Untuk penyemprotan disinfektan kedua diadakan sekitar awal Bulan Juni ini, saat status pasien positif Covid 19 di Banyuwangi mencapai hampir dua puluh lima orang, dan didorong juga oleh adanya salah satu korban yang tinggalnya dekat dengan Lingkungan Lundin. Jadi, warga Lundin langsung bergerak cepat melakukan penyemprotan lanjutan. Untuk yang sekarang ini, penyemprotan tidak lagi bekerjasama dengan kelompok tertentu seperti waktu lalu, melainkan murni dari kerjasama antar warga yang didanai dari iuran warga. Tidak hanya sampai disitu saja tindakan pencegahannya, beberapa warga Lundin juga melakukan pencegahan lainnya yaitu dengan menyiapkan wadah membasuh tangan di teras rumah. Mereka menyiapkan itu semua dengan maksud agar sebelum masuk rumah terlebih dahulu cuci tangan, ini berlaku untuk tuan rumah atau tamu.
Sarana dan prasarana pada tempat ibadah, seperti: musola ikut juga disterilkan oleh warga Lundin. Sajadah-sajadah besar di musola untuk sementara digulung sampai Covid 19 di Indonesia berakhir, dan warga dianjurkan untuk membawa sajadah sendiri apabila akan berjamaah di musola. Takmir musola menyiapkan dua sabun cair cuci tangan di tempat wudhu untuk para jamaah. Kegiatan pengajian tahlilan yang awalnya rutin dilakukan harus terkena dampaknya yaitu diliburkan sementara sampai hampir dua bulan lamanya. Sekitar awal Bulan Juni, kegiatan pengajian tahlilan akhirnya dibuka kembali dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah. Sebelum pengajian tahlilan berlangsung, penyelenggara membagikan masker kepada para pengaji. Masker tersebut dibeli dengan menggunakan kas pengajian, dan masker diberikan hanya sekali saja. Masker harus dipakai oleh para pengaji setiap akan datang ke pengajian.
Gotong royong dalam menghadapi Covid 19 juga bisa dimulai pada lingkup yang terkecil yaitu keluarga. Keluarga adalah salah satu bagian terpenting dari sosialisasi pencegahan Covid 19 pada dasarnya. Adanya keluarga bisa membantu kita untuk satu sama lain saling mengingatkan dalam hal prakteknya mencegah Covid 19. Maka, peran keluarga itu sangatlah penting. Apabila di keluarga sudah biasa menerapkan seluruh protokol kesehatan, tentu ketika keluar rumah tidak akan kesusahan dalam beradaptasinya. Ini juga yang dilakukan oleh keluarga penulis yang turut bergotong royong dalam menghadapi Covid 19, dari membiasakan diri untuk segera mencuci pakaian selepas keluar rumah, tidak keluar jika tidak penting, memakai masker setiap keluar rumah, dan tidak lupa mencuci tangan setiap waktu. Penulis juga harus menahan diri untuk tidak melakukan kumpul keluarga, dan diganti oleh video call bersama saudara jauh yang tidak bisa mudik tahun ini. Tahun ini mungkin adalah tahun terberat untuk seluruh manusia. Tidak ada satupun orang yang menginginkan virus ini berada di bumi, terlebih sampai mematikan beberapa orang. Tentu saja ini bukanlah kasus virus biasa dan tidak bisa lagi dianggap gampang. Sebab, sedikit saja kita mengabaikan kesehatan diri sendiri, maka virus ini akan hadir di tubuh dalam kurun waktu cepat atau lambat. Hal tersebut yang kemudian mendasari pemerintah menerbitkan aturan selama kasus Covid 19. Ibarat pepatah, lebih baik mencegah daripada mengobati yang sangat tepat untuk menggambarkan kondisi Indonesia saat ini.
Penulis adalah Juara Haraapan II lomba menulis Essay DPRD Kaabupaten Banyuwangi Taahun 2020

Nilai Pancasila Dalam Terminal Sedekah Covid-19


Nilai Pancasila Dalam Terminal Sedekah Covid-19
Oleh : Syafaat
            Pandemi Corona Virus yang melanda dunia bukan hanya merenggut nyawa ribuan manusia, merusak sendi sosial ekonomi, namun juga banyak mengajarkan kebaikandan, rasa kepedulian antar sesama yang seakan telah lama hilang, terlebih sebagai orang timur yang terkenal dengan semgat gotong royong dan kekeluargaan yang menjadi ciri khas kepribadian Bangsa Indonesia.
Gotong royong menjadi salah satu ciri khas Bangsa Indonesia sebagai nilai luhur budaya bangsa yang tetap terjaga sampai sekarang, dimana budaya ini lebih terlihat diwilayah perdesaan. Kita dapat menyaksikan semangat gotong royong ini ketika ada penduduk yang sedang membangun rumah, biasanya ketika pada pekerjaan peletakan gording dan genting. Nampak gotong royong warga dalam pelaksanaannya.
Nilai Pancasila tergambar jelas dalam aksi yang dilakukan warga di beberapa daerah di Kabupaten Banyuwangi pada masa pandemi covid-19 dengan kegiatan berbagi dalam bentuk terminal sedekah covid-19. Dimana bentuk kegiatan ini dilakukan dengan cara warga membuat tempat untuk meletakkan bahan makanan pada suatu tempat, warga yang mampu atau merasa mampu dapat meletakkan bahan makanan tesebut yang iasanya digantungkan pada tempat yang disediakan untuk diambil oleh warga lainnya yang membutuhkannya secara gratis.

Pada awalnya muncul kekhawatiran bahwa warga yang sebenarnya mampu juga akan mengambil bahan pokok yang niatnya diberikan kepada warga yang kurang mampu tersebut, namun hal ini bukanlah halangan bagi warga untuk tetap melakukan kegiatan yang sangat bermanfaat. Ketika diambil oleh orang yang sebenarnya mampu, setidaknya memberikan pelajaran kepadanya tentang sedekah dan berbagi dengan sesama. Dan dari segi agama, pemberian kepada siapapun baik kepada masyarakat miskin atau tidak miskin maupun pemberian kepada sesama makhuk hidup tetap akan dinilai sebuah ibadah.
Sebagaimana banyak dilakukan di Masjid dan tempat peribadatan lainnya dengan meyiapkan etalase, dimana masyarakat juga dapat meletakkan makanan dan minuman yang dapat diambil oleh siapapun yang membutuhkannya, hal ini sangat membantu para buruh dan jamaah yang membutuhkan ketika selesai melaksanakan peribadatan tersebut.
Bahan makanan merupakan salah satu hal yang paling prinsip dalam rangka bertahan hidup, dimana dengan ketersediaan bahan makanan tersebut sangat berpengaruh terhadap dampak sosial dimasyarakat, dimana banyak kriminalitas yang dilakukan seseorang dengan alasan untuk mencukupi kebutuhan makan dirinya dan keluarganya. Dengan ketersediaan bahan makanan ini terutama lauk pauk diharapkan mampu meredam kriminalitas tersebut.
Covid-19 juga memberikah hikmah dalam memupuk nilai nilai agama dalam kehidupan rumah tangga, mengajarkan penerapan Ibadah dalam keluarga, dimana pada masa pandemi ini, kerumunan massa sangat dibatasi, sehingga dalam beribadah sehari hari yang biasanya dilaksanakan di Tempat Ibadah, kini banyak dilakukan di rumah dengan keluarga inti. Banyak suami yang menjadi Imam Sholat Taraweh dan Sholat Id dirumah dengan membacakan khutbah Idhul Fitri dihadapan isri dan anak anaknya. Dimana hal ini sulit terjadi jika tidak terjadi pandemi corona.
Gotong royong merupakan istilah Indonesia untuk bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu hasil yang didambakan. Istilah ini berasal dari kata gotong yang berarti "bekerja" dan royong yang berarti "bersama". Dimana dalam istiah sehari hari gotong royong ini merupakan sebuah pekerjaan yang dilakukan secara bersama sama untuk mencapai tujuan tanpa dibayar dengan uang tertentu.
Dalam kehidupan bermasyarakat,  berbangsa dan bernegara di Indonesia, pasti setiap saat kita banyak menjumpai bahkan melakukan berbagai perbuatan berasaskan nilai-nilai Pancasila, karena pada dasarnya, Pancasila memiliki lima nilai mendasar, yaitu nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuaan, kerakyatan, dan keadilan, dimana kelima nilai dasar tersebut satu sama lainnya ada keterkaitan dan tidak dapat dipisahkan, dimana nilai luhur dalam Pancasila tersebut digali dari nilai nilai luhur yang telah lama hidup dan berkembang di masyarakat.
Sebagaimana Pidato Bung Karno dalam Rapat khusus untuk menentukan dasar negara yang kemudian disepakati dengan nama Pancasila, "Gotong Royong" adalah faham yang dinamis, lebih dinamis dari "kekeluargaan ", saudara-saudara! Kekeluargaan adalah satu faham yang statis, tetapi gotong -royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, yang dinamakan anggota yang terhormat Soekardjo satu karya, satu gawe.(Pidato Ir. Soekarno 1 Juni 1945), gotong royong menjadi ruh utama dalam Pancasila, Istilah Gotong Royong pernah dijadikan sebagai nama Kabinet di Era Pemerintahan Presiden Soekarno dan Presiden ke 5 Megawati Soekarno Putri.
Semangat gotong royong tersebut tergambar jelas ketika masyarakat mempunyai kepentingan yang sama, menginginkan hal yang sama, tujuan yang sama, seperti agar wilayahnya aman, baik dari ancaman covid-19 maupun dampak lain dari akibat adanya pandemi tersebut dimana dengan merosotnya pendapatan masyarakat dari akibat ditutupnya sumber ekonomi yang mengakibatkan meningkatnya krimnalitas. Masyarakat tanpa harus dikomando melakukan penjagaan lingkungan secara bersama sama agar lingkungan tempat tinggalnya aman dari tindakan kriminalitas, membuat tempat khusus untuk menyalurkan bahan pokok dengan nama Terminal Sedekah Covid-19 agar masyarakat yang terdampak krisis masih dapat bertahan hidup meski sederhana.
Falsafah “mangan ora mangan sing penting kumpul” (makan tidak makan yang penting kumpul) sering diartikan sangat dangkal dan dianggap tidak moderat alias kuno yang sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi masa kini. Hal ini terjadi dari akibat falsafah tersebut hanya diartikan bahwa kumpul lebih utama daripada makan, padahal kecukupan makan lebih utama daripada sekedar kumpul. Falsafah Jawa ini sebenarya sangat relevan diterapkan di Indonesia, dimana makna kumpul dalam arti musyawarah dan gotong royong untuk menyelesaikan berbagai masalah sangat perlu, dimana dengan kumpul bersama keluarga, persoalan kekurangan bahan makanan dapat diselesaikan,mereka dapat saling menolong satu dengan lainnya, Kumpul dalam arti luas bukan berarti harus bertemu dalam satu tempat dalam wujut yang sebenarnya, terlebih dalam situasi penyebaran Covid-19 seperti saat ini. Dengan perkembangan tehnologi dan informatika, kumpul dapat dilakukan dengan menggunakan media online dengan memanfaatkan aplikasi yang tersedia, meskipun jarak berjauhan, namun musyawarah dan semangat gotong royong masih dapat dilakukan.

Penulis : ASN pada Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi
No HP : 082338630738



PATUHI PROTOKOL KESEHATAN WUJUD GOTONG ROYONG LAWAN COVID-19


PATUHI PROTOKOL KESEHATAN WUJUD GOTONG ROYONG LAWAN COVID-19
Oleh : Uswatun Hasanah


Pemerintah terus saja mengumumkan perkembangan terkini kasus Covid-19. Bahkan hampir setiap jamnya. Melalui juru bicara khusus penanganan Covid-19 yaitu Achmad Yurianto.  Selalu saja menjadi Newsline, Breaking News, Trending Topics ataupun Headline. Hal ini terkesan bahwa seakan tak ada berita lain yang lebih berharga dibandingkan dengan Covid-19. Sebagian orang beranggapan bahwa hal itu seakan diada-adakan. Sebagai orang lagi menganggap berita itu sangat membosankan. Sampai-sampai saking antipatinya. Begitu muncul breaking news atau yang sejenisnya, langsung saja bergegas untuk pindah chanel. Tapi disisi lain, justru ada yang menanggapi berita tentang Covid-19 ini memang berita yang benar-benar penting. Jadi begitu muncul Breaking News, malah semakin antusias untuk menyimaknya. Dan mengikutinya dengan penuh seksama. Bahkan tak mau diganggu sedikit pun. Ada anak yang ramai atau berbicara agak keras, ditegur nya, disuruh nya diam.  Dengan harapan bisa mendengarkan perkembangan berita tersebut.
Hal ini bukan tanpa alasan. Kenapa akhirnya pemerintah terus mencanangkan sikap hati-hati dan waspada kepada seluruh warganya terhadap Covid-19 ini. Betapa tidak dari pertama diumumkannya kasus Covid-19 ini,  hingga kini sudah memasuki masa ke 6 bulan. Tapi belum ada tanda-tanda kasus Covid - 19 ini akan segera berakhir. Ini menunjukkan bahwa kasus ini adalah kasus besar. Kasus yang sangat berbahaya. Bahkan korbannya semakin lama semakin banyak. Mulai dari masyarakat kecil,  menengah hingga para pejabat.  Mulai dari orang tua hingga anak-anak.  Bahkan bayi yang baru lahir pun ada yang sudah menjadi korbannya.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah. Dari pusat hingga ke pelosok-pelosok daerah.  Mulai dari upaya anjuran selalu menggunakan masker,  rajin cuci tangan, anjuran di rumah saja,  Lockdown,  Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga kini memasuki kebijakan New Normal dan tes Swab serta Rapid Test. Akan tetapi itu belum bisa menjamin sepenuhnya kasus Covid-19 ini akan segera berlalu.
Yang lebih miris lagi. Yang perlu dijadikan pemikiran bersama, sebagai upaya sungguh-sungguh, penanganan dan pencegahan kasus Covid-19 ini, adalah Pemberian bantuan material yang diambil dari anggaran khusus.  Tidak tanggung-tanggung, Pemerintah sengaja mengalokasikan dana triliunan rupiah. Dengan alokasi yang fantastis. Sebagai peruntukannya adalah digunakan untuk pembelian Alat Pelindung Diri (APD), untuk para tenaga medis,  untuk bantuan bagi warga yang terdampak. Sungguh baru kali ini tercatat dalam sejarah dunia.  Heboh, gempar, mengerikan dan begitu sangat mengguncang.
Namun,  dibalik itu semua. Tidak semua orang menanggapi kasus ini dengan serius.  Banyak orang yang abai. Banyak sekali pelanggaran terjadi dimana-mana.  Bahkan di kota-kota besar.  Kota dimana pandemi terbesar. Taruhlah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Dengan berbagai alasan. Alasan yang ringan hingga alasan yang sengaja dibuat-buat demi kepentingan pribadi. Sebagai contoh para pengendara tidak menggunakan masker,  alasan lupa, para pedagang tetap nekat membuka lapak dagangannya, alasannya urusan ekonomi, tetap berkerumun dengan mengabaikan social distancing,  alasannya takut tidak kebagian jatah saat pengambilan bantuan. Sungguh mengenaskan.  Demi kepentingan pribadi, kepentingan segelintir orang, harus mengorbankan banyak orang.
Pada kasus lain yang sangat miris. Taruhlah yang terjadi di Makassar dan beberapa daerah lain di Indonesia. Mereka berbuat sesuatu yang arogan. Mengambil paksa jenazah dari Rumah Sakit, yang telah dinyatakan positif Covid-19. Belum lagi,  pemakaman jenazah Covid-19 yang dilakukan dengan tanpa mematuhi protokol kesehatan. Mereka bertindak sendiri tanpa memikirkan keselamatan orang lain. Tanpa menghargai upaya dan jerih payahnya para tenaga medis yang telah berjuang di garda terdepan. Mereka pasang badan demi keselamatan orang lain. Sementara keselamatan mereka sendiri diabaikan. Betapa tidak,  para tenaga medis tersebut dalam menjalankan tugasnya, mereka harus memakai APD yang sangat ribet.  Dalam pemakaiannya tidak cukup dilakukan sendiri, butuh bantuan orang lain. Belum lagi, mereka harus mengenakan APD tersebut hingga berjam-jam bahkan tak jarang harus seharian penuh. Sungguh tak dapat dibayangkan. Sedangkan saat normal saja,  ketika cuaca cerah kemudian harus memakai mantel atau jas hujan,  dalam jangka waktu maksimal 2 jam saja,  begitu gerah dan pengapnya. Apalagi mereka sampai sehari semalam. Belum lagi, para tenaga medis itu tak jarang mereka juga sudah berkeluarga. Memiliki anak,  istri ataupun suami. Mereka rela berkorban meninggalkan keluarganya demi menjalankan tugas. Tugas sebagai profesi dan terlebih lagi adalah tugas kemanusiaan.
Jika hingga memasuki bulan Juli atau perkiraan pesimistis hingga akhir tahun ini nanti.  Kasus Covid-19 tidak segera berakhir. Akan berapa banyak lagi pengorbanan yang harus dikeluarkan? Akan berapa banyak lagi nyawa yang melayang? Ataupun harus berapa banyak lagi anggaran yang harus dikeluarkan? Bahkan harus berapa lama lagi rasa stress, depresi bahkan trauma nasional ini berlangsung?
Haruskah pengorbanan mereka yang telah berjuang di garda terdepan diabaikan? Haruskah triliunan anggaran menjadi sia-sia? Oleh karena itu, marilah kita semua saling bergotong royong demi mencegah dan mengakhiri ini semua. Senantiasa berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)  dan mematuhi semua anjuran dari pemerintah. Sebagai apapun kita dan dimanapun kita berada. Kalau tidak sekarang, kapan lagi.  Kalau bukan kita siapa lagi?

Oleh : Uswatun Hasanah
Alamat : Dusun Krajan 2, RT/RW : 003/008 Desa Gambiran Kecamatan Gambiran Kabupaten Banyuwangi


BERTABUR RINDU


BERTABUR RINDU
Oleh : Uswatun Hasanah,M.Pd.I


Hari-hari hanya bisa memandangi   kalender. Menghitung waktu yang tiada pernah menentu.  Hanya melakukan kegiatan yang monoton.  Aktivitas rumah selesai,  lanjut pada aktivitas rutin yang inti,  yakni memegang hp.  Memainkan lentiknya jari jemari.  Membuka fitur WA, instagram dan google drive untuk menulis dan mengirimkan tugas. Semua itu bukan tanpa sebab. Galau,  sedih,  bosan dan jenuh dengan keadaan yang ada. Mau apa,  mau kemana serba semrawut. Campur aduk jadi satu. 
Menunggu siapa yang ditunggu. Menanti siapa juga yang dinanti.  Mau diam saja,  nyatanya bekerja. Mau bekerja nyatanya butuh teman butuh rekan yang bisa membantu kerjanya. Mau pergi kemana,  nyatanya masih ada tugas yang harus diselesaikan. Banyak bertanya, banyak berharap, sedangkan tutorial tak jarang masih mengalami kesulitan. Yang lebih dalam lagi mau menyelesaikan tugas nyatanya tidak ada petunjuk yang pasti. Jadi Serba salah.  Kepastian yang diharapkan tak juga datang.  Tarik ulur kebijakan semakin membuat hati tak karuan.
Berada di rumah  saja.  Bekerja dari rumah saja.  Beribadah dari rumah saja.  Tapi ketika harus memenuhi kebutuhan hidup, barangnya tidak tersedia di rumah. Barangnya ada di toko,  di pasar dan bahkan di tempat kerja atau di tempat lain yang jauh dari jangkauan. Ada saran bisa online.  Tapi tak semua yang dibutuhkan tersedia jaring online nya. Sungguh membingungkan. Ibarat kata pepatah. Bagai makan buah simalakama. 
        Sebagai seorang guru. Yang tempat kerjanya di sekolah lengkap beserta suasananya.  Ada gedung sekolah, rekan sesama guru,  ruang kelas dan yang paling utama adalah para muridnya sebagai peserta didiknya.  Semua disuruh menghilangkan.  Menggantinya dengan tatanan baru. Semua harus dilakukan di rumah. Meski menurut para ilmuwan ini merupakan era milenial.  Jaman modern. Era 4.0 bahkan era digital.  Guru mengajar bisa menggunakan teknologi yang serba canggih. Tak perlu tatap muka.  Cukup menggunakan android. Guru cukup berada di rumah, sudah bisa melaksanakan kegiatan pembelajaran. Pembelajaran Virtual istilahnya. Tapi hal itu masih tetap dirasakan berbeda.  Sungguh tidaklah sama.
Kadang terlintas di benak. Apa karena ini sebagai akibat dari belum biasa.  Atau karena belum bisa mengubah mindset dari pelaku dunia pendidikan saat ini.  Sehingga masih senantiasa berpikir secara konvensional. Yang beranggapan bahwa Kegiatan pembelajaran itu identik dengan kegiatan tatap muka di kelas. Atau memang mayoritas orang yang belum siap dengan perubahan era ini.

Diakui atau tidak. Keadaan ini tak dapat disangkal. Membuat kita semua merindukan suasana indahnya kebersamaan. Dimana ada ada tawa canda para murid. Tangis gurau dan keriuhan yang khas.  Bersalaman saat berjumpa, sekadar menepuk pundak untuk memberikan penguatan. Ungkapan bahasa tubuh yang spontanitas. Yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Meskipun harus menggunakan majas personifikasi ataupun hiperbola sekalipun.  Jujur kerinduan mendalam tak tersampaikan. Tak bisa digantikan. Walau sudah bisa menelpon ataupun melakukan  video call ataupun google meet. Tapi rasa puas ketika tatap muka dengan menikmati tanya jawab sembari ada kekonyolan dari beberapa siswa dengan ulah jail dan nakalnya.  Itulah yang tak bisa dirasakan ketika melakukan kegiatan virtual atau google meet.
Sekarang dalam keadaan yang serba dibatasi.  Semua itu hanya menjadi sebuah cerita yang beraneka ragam sudut pandangnya. Guru - murid merindukan suasana sekolah. Orang dalam perantauan rindu kampung halaman. Anak merindukan orang tua begitu juga sebaliknya. Yang lebih tragis lagi seorang pecinta merindukan kehadiran kekasihnya. Keterbatasan ruang dan gerak serba menjadi penghalang.  Namun pada intinya semua orang sepakat bahwa kehadiran nyata adalah hal segala-galanya.
Tak jarang dijumpai dalam media sosial. Rintihan kekalutan hati sang murid yang mendambakan bisa masuk sekolah seperti semula. Bisa bertemu dengan gurunya,  bisa mendapatkan pujian saat memperoleh nilai bagus,  bisa bertemu teman-temannya,  bermain bersama, membeli jajanan bersama di kantin sekolah. Dan masih banyak lagi aktivitas lain yang ingin dilakukan. Di sisi lain curhat manja dari para wali murid yang memiliki putra putri masih duduk di bangku sekolah dasar.  Mereka merasakan begitu beratnya beban hidup yang ditanggung. Selain harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari masih harus mengajari putra putrinya dalam mengerjakan tugas dari sekolahnya. Masih ditambah lagi dengan permasalahan krisis kepercayaan yang dialami. Betapa tidak, tidak jarang para putra putri sendiri di rumah ketika diajari mengerjakan tugas. Mereka mempertanyakan kebenaran jawaban yang diajarkan oleh orang tua. Para putra putri kita percayanya lebih besar kepada bapak dan ibu guru di sekolah. Jadi ketika orang tua yang mengajarinya,  mereka tidak percaya meskipun tak jarang orang tuanya juga berprofesi sebagai guru. Bagi mayoritas anak,  pelajaran yang paling manjur adalah pelajaran yang disampaikan oleh bapak/ibu gurunya di sekolah.
       Kalau mengingat hal itu semua, harus berapa lama lagi semua ini akan berakhir?  Haruskah kita mengorbankan segalanya? Materi, waktu, fisik dan psikis kita semua. Yang tak kalah pentingnya yang harus jadi pemikiran bersama, yaitu generasi penerus bangsa ini. Haruskah mereka menjadi korban? Di masa yang seperti ini,  yang menjadi harapan kita semua adalah Pandemi segera berakhir. Berakhir dan tak akan pernah terulang lagi.

Oleh : Uswatun Hasanah,M.Pd.I
Kepala MIS Miftahul Huda Yosomulyo
No. WA : 081231534111

Bersama Kita Bisa Menghadapi Covid-19


Bersama Kita Bisa Menghadapi Covid-19
Penulis : Lulu’ Anwariyah, S.S
Covid-19 telah membuat lesu semua pihak, terutama perekonomian masyarakat kecil yang mengandalkan sektor ekonomi dari dunia pendidikan. Pedagang kaki lima, penjual jajanan yang ada di kantin sekolah terpaksa harus gulung tikar dan mencari pendapatan yang lain. Haruskah kita mencerca dan memaki dengan kondisi yang ada saat ini? Masyarakat harus tetap bangkit dan berusaha untuk menopang kelanjutan ekonomi keluarga dan bangsa.
            Bersama kita bisa menghadapi masalah yang sangat sulit ini, pemerintah dengan segala upaya telah menggelontorkan beberapa bantuan kepada masyarakat. Hal ini merupakan wujud kepedulian pemerintah terhadap kondisi masyarakat yang terdampak covid-19. Bangsa Indonesia menganut ideologi pancasila, yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945. Sehingga dengan spirit pancasila, bangsa Indonesia menyadari bahwa setiap manusia selalu berada bersama orang lain. Kebahagian dan keberhasilan pada hakekatnya adalah berkat bantuan dan kerjasama orang lain.
            Kepedulian kita bersama adalah wujud kesejahteraan bangsa dan negara. Melalui nilai-nilai luhur Pancasila, dengan mengedepankan nilai bergotong royong maka keadaan yang sulit akan terasa ringan. Bersyukur kita menjadi bagian bangsa yang besar yang mempunyai ideologi pancasila, karena ideologi pancasila merupakan kumpulan nilai keyakinan dan cara berpikir untuk mencapai tujuan dengan berdasarkan kepada lima sila dalam pancasila. Lima sila tersebut memiliki nilai Ketuhanan, Kemanusian, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan.
            Hal ini menggugah para instansi dunia pendidikan seperti madrasah, dan organisasi sosial untuk ikut peduli dengan masyarakat sekitar yang terdampak covid-19. Dengan spirit gotong royong ASN (Aparatur Sipil Negara) di Kementrian Agama kabupaten Banyuwangi ikut serta bergotong royong menyisihkan sebagian rezekinya, sebagai bentuk kepedulian rasa empati tehadap lingkungan sekitar bagi keluarga kurang mampu yang terdampak covid-19.  Hal ini wujud nyata kepedulian masyarakat, sebagai wujud kebersamaan dalam memikul beban tanggungjawab demi kepentingan bersama.
            Usaha-usaha bersama yang dapat kita lakukan untuk meringankan beban para masyarakat yang terdampak covid-19 adalah sebagai berikut :
1.      Membangun rasa peduli
Kepedulian kita terhadap lingkungan yang memerlukan uluran tangan adalah bentuk nilai luhur dari spirit pancasila yang termaktub pada sila ke-2 yang berbunyi “Kemanusiaan yang adi dan beradab,” penanaman rasa peduli ini bisa berupa hal-hal kecil semampu yang bisa kita lakukan. Bisa berbagi makanan, bisa berbagi tenaga, dan bahkan berbagi pendapat dan solusi terhadap seseorang yang sedang merasa memerlukan bantuan kita.
2.      Meredam nyinyiran pilu
Kegagalan yang dirasakan masyarakat, entah karena terdampak PHK, atau berkurangnya mata pencaharian. Hal tersebut membuat sebagian mereka sedih bahkan frustasi. Mendukung, dan membantu mencarikan solusi, bukan memberikan nyinyiran pilu. Support kita bersama, akan membantu spirit berjuang untuk tetap bangkit dalam keadaan dan situasi sesulit apapun.
3.      Begotong royong
Nilai-nilai luhur yang berdasarkan ideologi pancasila sudah tercermin dalam tatanan masyarakat desa yang menganggap warga lainnya sebagai saudara sekeluarga, sehingga dalam kehidupan keluarga kepentingan bersama harus didahulukan dari kepetingan pribadi atau golongan. Oleh karena itu, dengan bergotong royong maka, “Ringan sama dijinjing, berat sama di pikul”.

            Bukan hanya masalah ekonomi yang mengguncang kehidupan di masa covid-19 ini, tetapi dampak physicis dari penderita yang di nyatakan positif membuat mereka merasa frustasi. Kondisi ini diakibatkan karena virus corona yang mudah menular lewat droplet atau titik air berisi virus dari batuk dan bersin. Sehingga masyarakat mempunyai rasa ketakutan yang mendalam akan tertular virus tersebut. Hal ini perlu pemahaman dan sosialisai terhadap masyarakat tentang virus corana itu sendiri. Masyarakat harus tetap waspada dan tenang, jangan merasa takut yang berlebihan, dengan tetap  mengikuti aturan protokol kesehatan yang sudah di tentukan.
            Berikut beberapa protokol standar kesehatan yang harus dipatuhi oleh masyarakat, sebagai usaha memutus mata rantai penyeberan virus corona :
1.      Jaga kebersihan tangan
Bersihkan tangan dngan cairan pencuci tangan atau hand sanitizer, atau dengan menggunakan sabun dan air yang mengalir.
2.      Jangan menyentuh wajah
Dalam kondisi tangan belum bersih, hindari menyentuh wajah, khususnya mata, hidung, dan mulut. Dikhawatirkan, ada virus dan bakteri yang terdapat pada tangan kita setelah melakukan aktivitas
3.      Pakai masker jika beraktifitas di luar
Penggunaan masker sangat penting ketika kita beraktifitas di luar, karena sebagai pelindung aman jika sewaktu-waktu kita tiba-tiba bersin, atau bahkan sebaliknya. Sehingga jika kita membawa virus, virus tersebut tidak akan terpapar orang lain
4.      Jaga jarak
Physical distancing sangat penting untuk dilakukan, minimal satu meter untuk meghindari terjadinya paparan virus dari orang lain. Kita di larang untuk mendatangi kerumunan, untuk meminimalisir kontak fisik dengan orang lain.
5.      Isolasi mandiri
Bagi yang tidak merasa sehat, seperti mengalami demam, batuk/pilek/nyeri tenggorokan/sesak napas, diminta untuk tetap dirumah dan berhenti dengan segala aktifitas pekerjaan di luar rumah.
6.      Jaga Kesehatan
Mengatur pola makan dengan gizi yang seimbang sangatlah penting untuk menjaga imun tubuh supaya selalu fit dan bugar. Tidak lupa diimbangi dengan berolah raga secara rutin, serta istirahat yang cukup.
            Menuju new normal masyarakat harus tetap beraktifitas untuk melanjutkan kehidupan mereka, bantuan-bantuan yang selama ini diberikan hanyalah sementara. Masyarakat harus kembali beraktifitas berdampingan dengan kondisi sulit di masa pandemi dengan tetap waspada. Membiasakan hidup sehat sesuai standar protokol kesehatan, sebagai usaha memutus mata rantai penyebaran virus corona. Bersama kita bisa menuju tatanan masyarakat baru, melalui spirit pancasila dan nilai gotong royong menuju Banyuwangi sehat dan sejahtera.

Penulis : Lulu’ Anwariyah, S.S (Guru Bahasa Inggris MTsN 4 Banyuwangi)

Tradisi Gotong Royong Suku Using Menghadapi Pandemi Covid-19


Tradisi Gotong Royong Suku Using Menghadapi Pandemi Covid-19
Oleh : Tria Aini Wulandari, S.Pd
Tradisi gotong royong dan kebersamaan masyarakat suku using sangat terlihat dari bentuk ruah dan kedekatannya dengan tetangga, sehingga diwilayah ujung timur Pulau Jawa yang berjuluk The Sunrise Of Java ini, terutama di perdesaan, kita mudah membedakan apakah dalam lingkungan tersebut dihuni suku using atau bukan. Jarak rumah yang cenderung berhimpitan meski berada di perdesaan, menjadi salah satu ciri khas masyarakat suku using, dimana falsafah “mangan sing mangan hang penting ngumpul” masih tetap dilestarikan dalam kehidupan sehari hari sebagai salah satu bentuk rasa kekeluargaan dan gotong royong dalam masyarakat.
Pola pemukiman masyarakat Suku Using memiliki karakteristik tersendiri. Hal ini dipengaruhi oleh sejarah terbentuknya sebuah perkampungan, sistem kekerabatan, kegiatan sosial budaya, dan topografi . Sejarah terbentuknya perkampungan menjadi salah satu pertimbangan dalam pembentukan pola pemukiman. Perencanaan pembangunan perkampungan  diawali dari para buyut yang membuka hutan untuk perkampungan. Meletakkan perkampungan padat penduduk dengan dikelilingi persawahan, memudahkan masyarakat untuk saling membantu satu sama lainnya.
Dalam menghadapi pandemi coronaviruse Disease (Covid-19), warga secara sukarela meminjamkan rumah sebagai tempat karantina bagi perantau, warga yang tidak memberi tempatpun bergotong royong menyediakan kebutuhan pokok bagi warga yang melakukan karantina, terlebih dalam satu wilayah perkampungan suku using biasanya masih terikat kekerabatan, sehingga rasa peduli tersebut semakin nyata sebagai salah satu wujud saling membantu untuk mewujutkan tujuan bersama, yakni menangkal kemungkinan penularan covid-19.

Rasa kemanusiaan dan gotong royong bukan hanya diwujudkan dalam pelaksanaan karantina warga saja, tetapi juga ketika warga kesulitan dalam mendapatkan kecukupan kebutuhan hidupnya dari akibat tersendatnya roda perekonomian, dimana dengan falsafah tidak makan yang penting kumpul, bukan berarti mengabaikan kebutuhan makanan dan mementingkan berkumpul dengan kerabat, namun lebih ditekankan pada gotong royong dan saling membantu ketika kerabatnya tertimpa kesusahan. Dengan berkumpulnya satu kesatuan kerabat dalam satu lingkungan akan memudahan saling membantu segala kesulitan yang dihadapi.
Prinsip kekeluargaan dan gotong royong dalam kehidupan berbangsa dan bernegara nampak dalam kehidupan sosial bermasyarakat, sosial, politik dan ekonomi ; Nilai nilai Ketuhanan, kemanusiaan, rasa persatuan, musyawarah untuk mufakat dan keadilan sosial merupakan inti dari nilai nilai Pancasila yang mendasari sifat gotong royong dalam kehidupan bernegara, nilai nilai tersebut berkembang di masyarakat yang telah menyatu dalam adat dan kebiasaan di masyarakat.
Tanpa harus diberi penataran tentang nilai-nilai Pancasila dalam pelaksanaan kehidupan sehari hari, dalam hal sikap gotong royong dan rasa peduli terhadap sesama, masyarakat Suku Using dengan sendirinya telah menerapkan nilai-nilai yang terkandung dalam lima dasar negara  yang oleh Ir Soekarno diberi nama Pancasila pada tanggal 1 Juni 1945 dimana pada tanggal tersebut diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila. Terutama nilai kemanusiaan dan gotong royong sebagai salah satu budaya khas bangsa Indonesia, dimana dalam tradisi gotong royong ini masyarakat membantu melakukan kegitan warga secara bersama sama tanpa mendapatkan imbalan uang, dan dilakukan secara bergantian bagi warga yang membutuhkan.
Masyarakat Suku Using memiliki tradisi gotong royong dalam kehidupan keseharian, seperti sayan atau ngersaya ketika mendirikan rumah, yakni melakukan pekerjaan yang dilakukan selain tenaga ahli untuk bersama sama membantu dalam pembangunan rumah, terutama ketika pemasangan gording dan genteng, melabot atau rewang ketika warga melaksanakan hajatan, baik walimah pernikahan maupun khitanan,  dimana warga membantu mempersiapkan hajatan yang digelar warga mulai dari memasak pelaksanaan pesta, hingga pesta usai.
Upacara adat yang digelar warga sarat dengan tradisi kebersamaan,  kekeluargaan, dan gotong royong, sebagai contoh adalah tradisi Tumpengan atau Tumpeng Sewu dimana tradisi yang digelar pada bulan Dzulhijah ini dengan cara bersama-sama makan tumpeng yang sudah disiapkan yang sebelumnya dilakukan upacara dengan cara tertentu.upacara ini sebagai salah satu contoh tradisi warga yang mengedepankan rasa gotong royong .
Pancasila yang dijadikan dasar Negara oleh para pendiri bangsa dengan ruh gotong royong, diambil dari nilai nilai luhur budaya bangsa Indonesia, karenanya ideologi Pancasila diterima dengan baik oleh segenap lapisan masyarakat, karena pada hakekatnya nilai-nilai luhur tersebut telah ada sejak sebelum berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Terlebih budaya gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.
Pancasila sebagai Ideologi dalam berbangsa, bernegara sebagai perjanjian luhur Bangsa Indonesia yang terdiri dari bermacam Suku, Agama, Ras dan Antargolongan, dimana dengan dengan ditetapkannya Pancasila sebagai dasar negara dapat diterima oleh semua pihak, karena dalam nilai-nilai Pancasila tersebut tidak bertentangan dengan Agama, Budaya dan Kepercayaan yang telah lama tumbuh dan berkembang dimasyarakat, terutama sifat gotong royong yang ada disetiap suku dan wilayah yang ada di Indonesia. 
Rasa kebersamaan dan gotong royong tersebut akan muncul dengan sendirinya ketika terjadi musibah atau kesusahan ditengah tengah masyarakat, terlebih Suku Using yang sarat dengan nilai kekeluargaan sebagaimana yang terjadi pada saat ini. Secara bersama sama masyarakat menjaga lingkungan dari tindak kriminalitas dari akibat krisis ekonomi dari akibat pandemi Covid-19, dimana kriminalitas meningkat. Membantu warga yang kesulitan ekonomii dari akibat PHK serta sebab lain yang mengakibatkan seseorang kehilangan pekerjaan atau penghasilan.
Musibah Pandemi Covid-19 telah memperkuat rasa kebersamaan dan kegotong royongan yang telah lama hidup dan menjadi budaya di masyarakat. Dengan adanya musibah yang melamda seluruh dunia tersebut budaya gotong royong yang sedikit memudar tersebut kembali kuat mengakar di masyarakat. Nilai-nilai Pancasila dalam gotong royong ini lebih nampak ketika menghadapi Pandemi Covid-19 karena adanya tujuan yang sama untuk tetap bertahan hidup dan terhindar dari ancaman penularan virus tersebut.

Penulis : Tria Aini Wulandari, S.Pd
No HP : +62 821-3928-9798
Pekerjaan : Guru Swasta pada MI Darul Amien Jajag Banyuwangi.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger