Pages

PAT Online Dan Segala Keruwetannya.

PAT online dan segala keruwetannya.
Oleh : Eny Susiani
PAT ( Peniaian Akhir Tahun) kali berbeda dari biasanya. Kalau biasanya persiapan PAT itu identik dengan pembagian kartu peserta, menata bangku, menempel nomor ujian, membuat denah ruang dan denah kelas, serta sekertariat dan hal tetek bengek tersebut sama sekali tidak berlaku. Sama sibuknya, sama njlimetnya tapi beda karena semua serba virtual, kartu untuk masuk ke server elearning madrasah milik resmi Kementrian Agama di bagi secara online, tidak ada bangku,tidak ada denah, tidak ada pengawas ruang favorit dan pengawas innalilahi atau pengawas masyaallah.
Jadi teringat ketika Semesteran biasa pakai kertas maupun perangkat elektronik tapi tetap ada siswa dan guru dalam satu ruang, para siswa setia hari harap harap cemas menunggu siapa yang bakal menjadi pengawasnya karena kata mereka itu berdampak signifikan terhadap hasil ujian, jadi doa mereka hari itu mendapat pengawas yang sabar bukan pengawas yang kiler, mereka punya julukan julukan lucu pada guru gurunya, ada guru yang selalu di tunggu dan diharapkan menjaga di ruang mereka dan ketika guru itu lewat pasti akan di sambut bak menyambut kekasih  pujaan hati. Disambut dengan senyuman semanis mungkin,dengan dua tangan yang di rentangkan. Dan ada guru yang sama sekali tidak di harapkan kehadirannya di ruang ujian karena diangap monter yang matanya siap melirik kesana kemari sehingga membuat dada mereka berdetak bukan karena sedang jatuh cinta melainkan sedang ketakutan dan mencari celah serta cara bagaimana main mata dan kode kode dengan temannya ah dasar anak anak meski mereka sudah SLTA tetap saja seperti anak anak , dan ketika guru yang model seperti ini masuk ruang kelas akan ada celetukan innalilahi atau astagfirullah dan bila guru itu melewati kelas mereka akan ada desahan lega seakan menang lotre.
Semua itu tinggal kenangan semesteran atau penilaian akhir tahun, kini menorehkan sejarah baru karena kami tidak saling bertemu dan berada dalam ruang yang sama, tidak ada lagi pengawas yang ada adalah guru guru mata pelajaran yang diujikan dan wali kelas yang harus ekatra perhatian dan terus merayu siswa untuk siap ujian, bahkan kadang harus membangunkan siswa yang tidak masuk atau tidak segera masuk ke soal CBT, guru, wali kelas, kurikulum dan pengelola semester sibuk memelototi layar komputer atau laptop melihat jumlah siswa yang sudah login dan menyemangati yang masih gagal login serta mencari bahkan menelepon siswa yang tidak ikut ujian semua dalam dimensi ruang yang berbeda saling menyapa, saling menyemangati meski raga tak bersua dan mencarikan solusi bagi yang gagal ujian dengan mengeset dan membuat ujian baru di luar jam padahal jadwal kami ada yang sampai pukul  19.00 WIB dan kami mulai 07.00 WIB. Kami berusaha melayani dan membesarkan hati mereka yang gagal login, yang lucu ada guru sangat terkenal kiler tapi ternyata juga sangat di cintai siswanya buktinya ketika anak anak gagal login telp berdering terus menerus menyampaikan kesulitan mereka masuk ujian secara online.Saya dan salah satu teman guru sampai tertawa terpingkal pingkal melihat dan mendengar keluhan untuk login, karena siswa kami kelas X dan XI 689 tentu ada kesabaran ekstra yang mesti dipersiapkan siswa, meski kami sudah berusaha mengoptimalkan server dengan membagi ujian dengan sistem sif.
Pengelola semester dan guru mata pelajaran, wali kelas, siap mengawal ujian dengan energi lebih sebab ada anak yang memang semangat 45 ada yang asal ngomong saja katanya katanya kesulitan login padahal server lancar dan itu alasan mereka saja agar tidak ikut ujian, atau alasan agar ditegur guru yang cantik dan ganteng idola mereka, ada ada saja modusnya dasar anak muda, gurunyapun di goda. Sepekan sebelum ujian kami sibuk mengunduh templet dan memasukkan soal satu persatu persoal,peritem,apalagi yang ada gambar gambarnya di tambah lagi bagi guru yang belum terlalu pinter IT ini adalah stresing tingkat dewa, yang membuat seisi ruangan hening tanpa kata kata, kami serasa punya dunia masing masing, meski kami tetap saling membantu dan menyemangati satu sama lain.Kepala dan Gurupun belajar era baru ini, era covid yang merangsang dan  semanggat guru guru untuk adaftif terhadap tuntutan jaman dan tuntutan keadaan, belum lagi disibukkan mwmbuat banyak sekalin laporan, mulai lapor shopfail, laporan hard fail benar benar perlu energi baru untuk itu semua.
Tapi ternyata di luar sana kami sering mendengar suara sumbang, yang mengatakan kami makan tidur digaji, padahal kami melayani siswa justru tanpa mengenal waktu, kapan saja siswa japri maupun lewat group guru siap melayani, tidak ada PNS tidak ada Non PNS semua guru siap melayani dan menberikan yang terbaik untuk siswa siswinya dengan sekelumit asa ilmunya barokah dan menjadi ladang ibadah kami. Di luar sana ada yang mengatas namakan wali menanyakan ketiadaan kegiatan di semster ini. Dengan berbagai macam argumen yang membuat saya tersenyum dan berkata biarlah mereka bicara begitu karena tidak paham dan mengerti apa yang kami lakukan, padahal separuh dari guru kami suasta yang juga punya tangungan anak istri tentu juga butuh amunisi.
Benar benar hal baru bagi siswa untuk adaftif terhadap perubahan agar tetap eksis sesuai dengan peran masing masing, kami tidak menuntut untuk di hargai lebih karena di luar sana bayak orang yang berjuang melebihi kami tapi setidaknya tidak dipandang sebelah mata dan diangap makan gaji buta, tidak diangap pahlawan asal diangap kawan untuk kemajuan anak bangsa yang suatu saat nanti ditangan mereka yang hari ini kami didik kami titipkan kemajuan dan kejayaan negeri ini di pundak mereka. Kami para guru selalu ingin muridnya lebih sukses dari dirinya, kami akan sangat bangga bila ada anak didik kami berhasil tanpa minta diingat maupun beri hadiah dari murid atau siswanya yang sukses. Kami akan sangat bangga meski dilupa sekalipun, tidak penting itu semua bagi kami. Harapannya semua sukses sesuai bakat dan minat masing masing.
Meski kami harus menset atau membuat ujian susulan untuk anak yang kesulitan login,dan bisa jadi itu hanya satu siswa karena tidak mampu beli paketan dan kami motivasi ujian di sekitar balai desa terdekat tentu tetap  dengan memperhatikan protokol kesehatan, seperti hari ini ketika baru saja kurebahkan badanku yang penat dan ting tung ada sms masuk bu saya ujian dapat nol karena paketan lemot dan sekarang saya sudah  siap ujian susulan, saya sudah di balai desa bu, ku jawab dengan senyum simpul ok, tunggu saya set kan khusus untukmu, sambil menawar sekarang apa nanti malam? Dengan sedikit berharap di jawab nanti malam , oh my Good sekarang bu, dan dengan tetap tersenyum simpul ku jawab tunggu ibu buatkan ujian jam ini dan hari ini, kemudian saya kirim tokennya. Saya tunggu 10 menit kok belum login, saya telp dan iya bu ini sudah login dan alhamdulillah sudah masuk. Leganya seperti leganya buka puasaku hari ini .


Eny Susiani
Guru PPKn MAN 3 Banyuwangi di Srono






Membangun Karakter Anak Di Rumah Saat Pandemi Covid-19


               
 Dunia tergoncang dengan datangnya wabah corona yang semakin menyebar ke seluruh penjuru dunia. Virus ini telah mengakibatkan aktifitas manusia sebagian terhenti, karena penyebaran virus ini melalui sentuhan terhadap benda di sekitar kita. Memaksa manusia sebagai makhluk sosial untuk berhenti bersosialisasi dengan orang lain (Socia Distancing), tidak bersalaman dan jaga jarak aman minimal 1 meter. Demi keamanan, sekolah dan madrasah pun di tutup, dunia pendidikan tergoncang. Siswa harus tetap belajar di rumah, guru pun harus tetap mengajar dari rumah. Sistem pembelajaran daring pun menjadi solusi agar interaksi proses pembelajaran tetap bisa di laksanakan.
                Peran orang tua menjadi sangat penting dalam melancarkan proses pembelajaran tersebut. Tidak sedikit orang tua merasa kewalahan dalam mengatur kedisiplinan anak dalam belajar, para orang tua benar-benar menjadi agen perubahan bagi anaknya. Biasanya orang tua sibuk bekerja, dan menyerahkan keberhasilan belajar anak di sekolah atau madrasah. Kini orang tua harus mampu menjadi guru bagi anak-anaknya. Saya pun mengalami hal yang sama, sangat mudah mengajar sekian ratus siswa dari pada mengajar dua anak di rumah. Kebutuhan pelajaran yang beragam adalah kendala tersendiri bagi orang tua dalam membimbing proses belajar ini.
                Anak terbiasa berdiskusi dengan teman dan gurunya ketika belajar di sekolah dan madrasah. Di rumah anak hanya berjibaku dengan satu central kehidupan yakni teknologi, jelas rasa bosan dan frustasi akan mengglayuti pikiran mereka. Peran orang tua untuk memberikan kebahagian dan rasa aman sangatlah dibutuhkan. Ada pepatah dalam Islam yang terkenal menyebutkan bahwa “Al Ummu Madrasatul Ula,” artinya seorang ibu atau dalam hal ini orang tua adalah sekolah atau madrasah pertama bagi anak-anaknya. Kalimat ini sering kita dengar, tetapi para orang tua terkadang lupa akan esensinya. Kiasan tersebut mengandung arti yang sangat penting, mendalam dan substansial. Ibu adalah guru pertama, ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya sebelum anak menimba ilmu di sekolah atau madrasah atau belajar dengan lingkungan sekitarnya.
                Saatnya membangun karakter anak ketika di rumah saja, tidak perlu bosan dan murka atas keadaan. Tetap kita jalani dengan rasa syukur dan bahagia. Banyak aktifitas yang bisa kita tanamkan untuk menanamkan karakter anak yang sesungguhnya. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2018 Tentang Penguatan Pendidikan Karakter Pada Satuan Pendidikan formal melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan bekerjasa sama antara satuan pendidikan, keluarga dan masyarakat. Dalam kodisi saat ini peran keluarga menjadi tombak utama dalam membangun karakter anak yang sesungguhnya.
                Beberapa nilai karakter yang bisa di bangun dalam keluarga pada masa di rumah aja sebagai berikut : (1) Religius adalah sikap ketaatan dan kepatuhan dalam memahami dan melaksanakan ajaran agama. Membangun karakter religius harus dengan penguatan contoh dari kedua orang tua yang secara disiplin melaksanakan kepatuhan beribadah. Anak akan mudah melaksanakannya jika kedua orang tua juga melakukan hal yang sama. Suri tauladan orang tua berperan penting untuk membiasakan anak melaksanakn rutinitas ibadah tanpa harus di perintah. Seperti pembiasaan salat berjamaah dan membaca Al-Qur’an. Secara kontinyu kedua orang tua harus sabar dan telaten dalam membimbing sikap religius anak, hingga terbentuk menjadi karakter religius. Seperti dalam hadits Rasulullah SAW yang telah diriwayatkan dari Amr bin Syu’aib, dari kakeknya, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidurnya.” (Abu Daud : 495 dan Ahmad: 6650 dishahihkan oleh Al-Abany dalam Irwa’u Ghali, no.247. Hal tersebut bertujuan agar anak tidak meninggalkan salat ketika sudah baligh, sebagai orang tua wajib memberi perintah dan mendidik perkara yang wajib. Memukul anak dengan tanpa melukai, hanya sebagai penguat kedisipinan anak saja.(2) Nilai gotong royong mencerminkan sikap tindakan semangat kerjasama dalam menyelesaikan pekerjaan di rumah mulai dari menyapu halaman, mencuci piring, membersihkan tempat tidur, memasak, berkebun, mengepel lantai. Anak-anak secara rutin di ajak untuk mendisiplinkan diri menyelesaikan kebutuhan diri mereka melalui pembiasaan nilai gotong royong. Karena nilai gotong royong akan melahirkan sikap empati dan simpati terhadap orang lain, terutama dalam membantu kedua orang tua. Sehingga tujuan orang tua menjadikan anak-anak mereka anak yang shalih dan shalihah akan terwujud. (3) Mandiri adalah sikap dan prilaku yang tidak tergantung kepada orang lain dalam menyelesaikan berbagai tugas dan persoalan. Jika selama ini anak-anak belajar dengan bantuan guru, maka secara mandiri orang tua membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar mereka sesui jadwal dan arahan dari sekolah dan madrasah. Secara penuh orang tua dapat mendampingi kegiatan mereka, sehingga anak pun merasa nyaman dalam belajar. Mandiri dalam melaksanakan tugas sehari-hari di rumah, seperti pembiasaan membersihkan tempat tidur, dan mencuci piringnya sendiri setelah makan (4) Tanggug jawab adalah sikap dan prilaku seseorang dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, baik berkaitan dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Nilai sikap religius, gotong royong, dan mandiri akan membentuk sikap tannggung jawab anak terhadap kewajibannya. Walaupun pembiasaan ini harus di laksanakan dengan penuh kesabaran dan cinta kasih, tanpa hardikan dan bentakan kedua orang tua. Dengan sikap kelembutan dari kedua orang tuanya, anak akan melaksanakan tanggung jawabnya dengan disiplin dan percaya diri. (5) Komunikatif adalah sikap dan tindakan terbuka terhadap orang lain melalui komunikasi yang santun sehingga tercipta kerja sama secara kolaboratif dengan baik. Jika selama ini orang tua jarang berkomunikasi dengan anak-anak mereka karena sibuk dengan pekerjaannya. Maka, masa di rumah aja adalah saat yang tepat untuk membuka komunikasi tentang kebutuhan dan keinginan mereka. Sehingga akan menjadika suasana keluarga yang harmonis, karena adanya komunikasi yang berimbang antara orang tua dan anak.
                Begitu banyak kegiatan di rumah yang bisa orang tua terapkan selama masa stay at home ini. Pelajaran yang sesungguhnya adalah datang dari kegiatan pembiasaan yang di terapkan orang tua di rumah. Kegiatan tersebut merupakan bentuk praktik langsung dari teori yang mereka dapatkan dari bangku sekolah bersama guru mereka. Semoga para orang tua tidak merasa bosan dan lelah dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai guru di rumah. Tetap akan lahir generasi emas lewat rumah mereka masing-masing jika orang tua mampu membangun karakter mereka selama di rumah saja.                                       
Penulis :, Lulu’ Anwariyah, S.S.,
Guru MTsN 4 Banyuwangi. 




Maaf Sayang, Kecele Lagi..


Sepanjang sejarah dunia,  baru kini terjadi.  Siswa harus libur atau istilah kerennya Belajar Dari Rumah (BDR). Tidak hanya satu dua hari saja. Bahkan kini sudah memasuki bulan ke-4.
Senin, 16 Maret 2020 merupakan tonggak awal dari pengumuman Work From Home (WFH)  dan stay at home disampaikan. Menjelang pengumuman itu, Bupati Banyuwangi mengadakan video conference dengan sejumlah Kepala Dinas terkait pada hari Minggu,  15 Maret 2020, sekitar pukul 20.00 - 22.00 WIB. Alhasil,  pada malam itu resmi dinyatakan semua siswa dari tingkat dasar hingga tingkat atas diwajibkan Belajar dari rumah.
Sungguh kehebohan masal terjadi pada pagi tersebut. Betapa tidak. Efek Surat Edaran Bupati tersebut, berakibat sangat dahsyat. Banyak pedagang dan penjual makanan ringan yang mengais rejeki bersumber dari kegiatan sekolah,  mengalami Kebangkrutan Massal. Mungkin untuk sebagian orang tidak berdampak atau bisa dianggap biasa saja atau bahkan sepele.
Namun bagi para pedagang mainan,  penjual makanan ringan, contoh kecil:  penjual cilok,  es krim dan lain lain yang setiap harinya keliling dari satu sekolah ke sekolah yang lain. Ataupun mereka yang menjajakan dagangannya titip ke kantin sekolah. Sungguh pengumuman stay at home dan belajar dari rumah,  yang diumumkan mendadak,  menjadi mimpi buruk yang tak terlupakan.  Mereka semua sudah membuat makanan ataupun minuman matang siap dijajakan dengan mengeluarkan banyak modal. Harus menelan pil pahit. Barang dagangan Mereka mangkrak tak terjual. Para pembeli yang menjadi sasaran pasar mereka adalah para siswa di sekolah, diliburkan mendadak.
Mendengar curahan hati para pedagang tersebut, pastinya kita tidak akan tega. Andai pengumuman itu disampaikan pada hari Sabtu nya,  mereka pasti sudah siap. Tidak perlu mengeluarkan uang untuk belanja. Tidak perlu memasak atau membuat olahan makanan matang,  yang tak bisa diawetkan lagi.  Kerugian besar dari rakyat kecil. Sungguh mengenaskan.
Belum lagi pengumuman stay at home dan Belajar Dari Rumah yang terus berlanjut dan berlarut,  menjadikan lumpuh segala segi sektor ekonomi masyarakat.
Di sisi lain, tidak semua siswa ataupun orang tua memiliki Hp android yg menggunakan Whatsapp (WA). Dimana dari grup-grup WA itulah pengumuman tentang SE Bupati itu disampaikan. Terutama siswa yang tinggal di desa dan orang tuanya kurang beruntung dalam bidang ekonominya. Mereka tidak memiliki Hp android lantaran menganggap dari pada dibuat beli Hp lebih baik dibuat kepentingan yang lain,  taruhlah membeli beras.  Bisa dimakan seluruh anggota keluarga.
Sejak keputusan stay at home dan BDR itu diberlakukan banyak kasus anak yang mengalami kesulitan belajar di rumah. Mereka terbiasa belajar dengan bimbingan dari para Bapak/Ibu guru di sekolah, kini belajar dengan orang tua. Pada awalnya, masih sehari dua hari atau bahkan satu minggu masih enjoy,  tapi lama kelamaan para orang tua juga menjadi stres. Lantaran tidak semua orang tua mampu menjawab pertanyaan yang diajukan anaknya.  Hari hari dirasakan semakin membosankan.
Belum lagi kasus yang harus dihadapi oleh para siswa SMP/SMA yang setiap hari menerima tugas secara Daring/on line mengeluh keberatan. Tugas yang mereka terima lebih berat dibanding dengan tugas yang biasa diterima saat kegiatan pembelajaran di sekolah. Ditambah lagi dengan biaya yang harus mereka keluarkan untuk membeli paket data internet. Sungguh memberatkan.
Sampai bulan Juni ini,  pengumuman stay at home atau Work From Home sejak awal 16 - 29 Maret 2020. Sebelum berakhir sudah muncul pengumuman perpanjangan lagi 30 Maret - 5 April. Itupun masih diulur lagi tanggal 6 - 26 April 2020. Para siswa,  guru dan wali murid maupun para pedagang yang mengais rejeki di sekolah semua berharap segera bisa normal dan masuk sekolah kembali.
Kerinduan, kecemasan dan perasaan stres semakin menjadi. Angan-angan tentang saat indah bersama teman dan suasana sekolah dengan kehadiran guru di kelas semakin kuat menjangkiti hati, perasaan dan pikiran mereka. Berharap keadaan ini segera berlalu. Mereka semua menghitung hari demi hari. Tak jarang yang sengaja memberikan tanda merah ataupun lingkaran di kalender yang mereka punya di rumahnya.
Tapi sungguh harapan itu "plas" hilang begitu saja.  Belum lagi sampai pada tanda merah atau lingkaran di kalender. Sudah muncul pengumuman baru yang menyatakan bahwa stay at home dan BDR diperpanjang. Yang semula sampai tanggal 26 April 2020 sampai 2 Juni 2020. Seiring dengan harapan yang pudar,  semangat belajar siswa pun semakin drastis menurun. Bahkan bukan saja para siswa. Guru pun demikian. Banyak hal yang ingin disampaikan kepada para siswa secara langsung. Tapi apalah daya. Guru dan siswa tak boleh saling bertemu di sekolah sebagai mana mestinya. Tidak boleh ada kerumunan. Harus social distancing dan physical distancing. Padahal tidak semua materi ataupun pesan, bisa disampaikan melalui Hp. Ada hal lain yang tak bisa diungkapkan. Sungguh membuat hubungan rasa guru dan siswa benar-benar terasa terpisah oleh jarak dan waktu.
Ada hal lain yang lebih tragis dan memilukan lagi. Tak jarang para siswa membuat video lalu dishare. Mereka mengatakan rindu sekolah, rindu guru dengan berbagai gaya. Hal ini membuat hati guru semakin terenyuh. Tak lupa pula setiap kali video call menanyakan kapan bisa masuk sekolah.
Padahal guru juga tak jauh beda.  Keadaan ini juga dirasakan sangat berat. Tugas dari atasan untuk membuat laporan kegiatan setiap hari. Harus mengisi instrumen dan menyiapkan lampiran tugas yang sudah diberikan kepada para siswa. Membuat instrumen pemantauan kegiatan siswa BDR dalam bentuk google drive yang harus terus menerus. Ditambah lagi, itu semua harus dilakukan secara on line.  Otomatis itu semua membutuhkan biaya tambahan. Yaitu harus membeli paket data. Yang biasanya satu bulan maksimal cukup Rp 50000. Kini tak cukup lagi.
Belum lagi harus menerima berita miring dari medsos. Jadi guru itu enak. Guru dikatakan makan gaji buta. Tidak bekerja,  libur dan leha-leha di rumah saja. Tapi mereka masih tetap menerima gaji. Sungguh miris nasib mereka.
Kami semua rindu keadaan yang seperti semula. Kami semua berharap badai ini segera berlalu. Keadaan kembali aman,  tentram dan terkendali semua. Tapi lagi-lagi kami kecele lagi. 
Tanggal 2 Juni 2020 kurang 4 hari lagi. Namun sama seperti yang sebelumnya. Pemerintah kembali menyatakan keadaan masih belum aman. Dan Menteri Nadiem dan diteruskan oleh Bupati Banyuwangi dengan mengumumkan kembali BDR diperpanjang lagi sampai tanggal 14 Juni 2020. Dan siswa baru akan diperbolehkan masuk tanggal 15 Juni 2020. Sekali lagi kita semua kecele.
Dengan perasaan berat hati. Tanggal 31 Mei 2020, pihak sekolah mengumumkan bahwa BDR diperpanjang. Sontak hal itu memantik emosi kecewa mendalam bagi para siswa,  terutama siswa setingkat Sekolah Dasar. Mereka sudah menyiapkan banyak cerita dan pernak pernik oleh-oleh hari raya. Mereka ingin berbagi dengan teman dan guru di sekolah. Tapi apalah daya.  Ternyata BDR diperpanjang lagi. Kecewa dan seakan frustasi mereka rasakan. Ngambek dengan orang tua. Yang lebih dahsyat lagi,  ada yang meminta kepada orang tuanya agar seragam sekolahnya dibuang saja.  Karena sekolah sudah ditutup. Saking kecewanya. Kecele lagi.

Oleh : Uswatun Hasanah



Idul Fitri 1441 H. : Kemenangan Untuk Siapa?


 Idul Fitri 1441 H. : Kemenangan Untuk Siapa? 

Oleh : Uswatun Hasanah


Hari Raya Idul Fitri atau lebih kental orang menyebutnya sebagai Lebaran.  Idul Fitri 1441 H. berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya. Sungguh, ini diucapkan atau tidak semua orang mengakuinya. Bukan saja di Indonesia tapi di seluruh penjuru dunia.  Betapa tidak, lebaran kali ini dirayakan di tengah hiruk pikuknya wabah yang melanda dunia.  Dunia sedang sibuk dengan Covid-19. Virus yang telah memakan banyak korban bahkan mayoritas penduduk di belahan dunia. Bahkan bisa dikatakan bahwa dunia sedang berduka.
Belajar dari peristiwa  besar Pandemi Covid-19. Hendaknya kita jangan pongah atau sombong. Jangan suka menganggap segala sesuatu itu remeh dan tidak ada artinya.  Kalau kita mengaca lebih jauh lagi. Kurang besar apa negara Amerika Serikat yang menyebut dirinya sebagai negara adikuasa dan adidaya,  yang merupakan negara kuat dan modem, yang memiliki tenaga ahli yang jenius,  yang memiliki teknologi serba canggih. toh hingga kini,  kenyataannya lemah dan tak tak berdaya ketika menghadapi pandemi Covid-19 ini. Bahkan Amerika Serikat termasuk negara terbesar tingkat kematiannya dalam pandemi Covid-19.

Hal ini berpengaruh besar dalam menyambut momen Idul Fitri. Perayaan lebaran pada tahun-tahun sebelumnya disambut dengan penuh keceriaan, kegembiraan bahkan diagung-agungkan sebagai Hari Kemenangan. Dimana pada hari itu suasana penuh suka cita sangat dirasakan di berbagai tempat. Terutama di pedesaan.  Para perantau pulang kampung untuk mudik demi berkumpul dengan keluarga dan sanak saudara. Mereka rela mempersiapkan segala sesuatunya dengan penuh semangat dengan harapan bisa berlebaran bersama.  Belanja,  ya belanja untuk lebaran. Membuat aneka olahan makanan,  kue dan masakan semua dilakukan semata untuk lebaran.  Dari orang tua sampai yang anak-anak minta baju baru. Agar di hari yang fitri tampil layak dan pantas di hadapan semua orang. Euphoria tak berhenti sebatas itu. Kegiatan bersih-bersih rumah,  juga pengecatan dan banyak hal kegiatan dilakukan demi menyambut Lebaran. Padahal pada saat Idul Fitri telah tiba.  Mulai setelah maghrib, di penghujung bulan Ramadhan, Takbir terdengar berkumandang. Suara syahdu para pelantun takbir "Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar… " bergema di mana mana.  Yang terasa adalah rasa haru yang mendalam. Tak jarang tanpa disadari butiran air bening menetes di sudut pipi.  Pelan namun semakin lama semakin deras dan menyesakkan dada.  Teringat orang-orang terkasih yang kini sudah lagi tiada. Teringat orang-orang terdekat dan keluarga yang tak bisa mudik di tahun ini. Sungguh kepedihan dan kebahagiaan yang membaur mengaduk aduk isi hati. Belum lagi, yang terjadi saat Sholat melaksanakan Sholat 'Ied berjamaah. Pastinya para jamaah yang hadir dengan pakaian yang serba bagus dan mayoritas baru dengan aroma wewangian parfum, yang ketika berangkat semangatnya bersungut-sungut.  Tapi pada saat dikumandangkan takbir dan Sholat berjamaah telah sampai pada sesi khutbah. Sudah bisa dipastikan bukan tawa ataupun senyuman yang keluar dari bibir-bibir mereka. Melainkan uraian air mata haru. Entah dengan alasan apa. Setiap orang punya tendensi yang berbeda.  Apalagi untuk tahun ini. Idul Fitri yang harus dirayakan atau lebih tepatnya diperingati dengan berbagai aturan dari pemerintah, larangan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB), social distancing, anjuran beribadah di rumah dan otomatis berhari raya di rumah. Ini akan semakin membuat suasana yang biasanya hikmat,  berubah menjadi suasana berkabung masal.
Memang pada dasarnya perayaan 'Idul Fitri sebagaimana anjuran dari berbagai sumber Hadits Nabi Muhammad Saw yang sudah banyak disampaikan oleh para alim ulama menyatakan bahwa yang dikatakan Idul Fitri bukanlah bagi mereka yang memakai/mengenakan baju baru,  ataupun perhiasan baru.  Akan tetapi Idul Fikri lebih diarahkan agar kita umat Islam meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT Sang Kholik. Hikmah lain juga agar perayaan Idul Fitri bukan sekadar untuk berpesta,  tetapi lebih diarahkan utamanya untuk mau bersyukur dan berbagi dengan sesama.  Dan momen di tengah wabah atau pandemi Covid-19 ini adalah momen yang paling tepat. Selain berbagi dengan para asnaf 8 penerima zakat fitrah. Juga diharapkan bisa berbagi makanan ataupun barang-barang yang berguna bagi mereka yang terdampak langsung dari pandemi Covid-19 ini. Kita harus lebih memiliki sifat empati.  Bisa merasakan lebih dalam apa yang dialami oleh orang lain. Jangan lagi mengedepankan sifat egois. Ingin menang sendiri. Ingin jadi yang nomor satu. Sungguh tidak tepat. Andai kata kita tak mampu berbagi dengan materi yang kita punya hendaknya kita jangan menyakiti dengan mengeluarkan kata-kata kasar.  Berkatalah yang baik atau jika tidak bisa, lebih baik diam.
Agar harmonisasi dan keselarasan hidup antar umat bisa terwujud. Sehingga apa yang dikatakan bahwa Hari Raya Idul Fitri sebagai hari Kemenangan akan dapat dicapai. Diraih dengan berbagai tahap yang sudah dilalui selama bulan Ramadhan dengan upaya melaksanakan puasa satu bulan penuh. Upaya pengendalian hawa nafsu. Menahan diri dari emosi. Dan kini datang hari raya Idul Fitri ini.  Mari bersama-sama kita raih kemenangan yang hakiki. Mampu introspeksi diri.
Marilah kita berupaya dengan senantiasa menjaga kesehatan dan kebersihan baik jiwa maupun raga kita.  Bukankah Islam telah mengajarkan kepada kita umatnya bahwa Islam itu bersih,  kebersihan itu sebagian dari pada Iman. Dan "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat,  dan menyukai orang-orang yang bersih." Masihkah kita meragukan Islam dengan segala kebenaran ajaran-ajaranya?  Kemenangan Idul Fitri untuk kita yang telah lulus dalam menjalani segala ujian ini.  Allahu Akbar … Allahu Akbar… Allahu Akbar...Selamat Idul Fitri 1441 H.

Uswatun Hasanah,, M.Pd.I*
Kepala MI Miftahul Huda Yosomulyo



Kemenangan di Tengah Kepungan Pandemi Corona


Kemenangan di Tengah Kepungan Pandemi Corona
Oleh : Nur Khofifah

         
Lebaran tahun ini berbeda dari tahun-tahun biasanya. Situasi sulit masih kita rasakan di tengah kepungan pandemi virus yang sangat mematikan, wabah Corona telah membawa kita pada kondisi yang serba memprihatinkan. Kemenangan telah diraih umat islam dalam dimensi yang serba terbatas. Menahan lapar, menahan dahaga, meredam hawa napsu di tengah kepungan Covid 19 yang terus menggempur manusia tak lekas henti, maka hari kemengan tahun ini layak dikatakan sebagai kemenangan sangat besar bagi umat islam di seluruh dunia.
            Idul Fitri disebut hari kemenganan. Idul Fitri berarti kembali ke fitrah, asal kejadian atau kesucian. Seperti halnya manusia yang terlahir kembali dalam keadaan fitrah yaitu suci bersih terhapus dari salah dan dosa setelah melewati tapa brata yakni berpuasa satu bulan penuh di bulan Ramadan dan kita rayakan Idul Fitri ini tetap dengan hati yang suka cita meskipun dengan kondisi yang penuh pembatasan. Hal yang paling meungkinkan untuk tetap menjalin tali silaturhmi adalah dengan tetap saling sapa dan mendokan memanfaatkan media sosial, lebaran tetap di rumah adalah salah satu strategi menghadapi kepungan virus yang membahayakan ini..
Bersalam-salaman dan saling memafkan menjadi budaya yang mengakar di negeri kita. Tradisi yang mengiringi lebaran dari tahun ke tahun memiliki makna yang dalam untuk mempererat tali kasih dengan keluarga, kerabat, sanak saudara, sahabat, dan kolega. Budaya turun temurun manifestasi keramahan yang terbentuk sejak berabad lalu, warisan leluhur yang banyak memberi pitutur dari laku manusia yang harus diukur untuk tetap menjadi manusia yang pandai bersyukur, tidak heran bila momen lebaran selalu ditunggu kehadirannya menikmati kebahagiaan dalam indahnya kebersamaan. Lebaran bukan hanya sekedar ritual agama dan kumpul-kumpul saja, ada nilai-nilai sosial yang nampak di sana, saling berbagi dan saling menghargai mengenyahkan status yang tersandang untuk berani mengakui salah tanpa rasa hampa.
Idul Fitri bertabur doa mengiringi, semua orang berebut mengakui salah mengenyahkan ego yang pernah bersarang menuju titik kesadaran sebagai manusia yang penuh pengharapan menuju ridla Tuhan. Titik keimanan yang terpancar seiring kemenagan di satu Syawal setelah menjalani kewajiban beribadah yang paling berat yaitu melawan hawa napsu, maka jadilah satu Syawal adalah lambang kesuksesan dan kemurnian sebagai pribadi baru menuju kesempurnaan.
            Tahun ini kerja ekstra dilakukan untuk menyongsong Idul Fitri. Arus mobilitas penduduk ditata sedemikian rupa. Acungan jempol dan angkat topi setinggi-tingginya sangat pantas diberikan kepada para petugas yang mendedikasikan waktu dan tenaganya untuk mengawal kegitan menjelang hari kemengan Idul Fitri. Di tahun ini kegiatan mereka lebih berat, memang tidak mudah menghadapi situasi ini. Pelarangan demi pelarangan dan pelanggaran dengan pelanggran silih berganti terpapar menjadi pandangan tersendiri, dan itu bagian dari perjuangan yang membutuhkan keteguhan hati yang kuat terutama untuk para petugas yang makin kewalahan menghadapi . Anjuran pemerintah untuk tetap merayakan lebaran di rumah harus kita dukung demi tidak makin merebaknya Covid 19 ini.
            Kontradiksi keadaan menjadi bagian yang tak terelakkan. Menjadi catatan tersendiri ketika pemerintah mengatur sedemikian rupa dengan berbagai upaya, tetapi kenyataan di lapangan masyrakat dengan berbeda alasan terpaksa tidak mengikutinya apalagi menjelang Idul Fitri yang lekat dengan budaya silaturrahmi dan berkumpul dengan keluarga. Alhasil budaya mudik yang coba diredam tetap menyeruak menjadi bagian yang tak terelak, masyarakat tetap banyak yang pulang kampung untuk lebaranan bersama keluarga.
          Situasi sulit tengah kita hadapi dan situasi perang belum berakhir. Satu kemenangan setelah puasa Ramadan memang telah kita raih sehingga kita kembali kepada firah yaitu terlahir dalam kesucian hati, tetapi kita masih dalam pertempuran perang yang kedua memusnahkan bala tentara corona yang memangsa ribuan nyawa. Kita hadapi situasi ini dengan tetap menjaga keseimbangan hati, kita sadari hal ini merupakan bagian penting dari manusia untuk menahan diri.
            Kemengan di tengah pandemi adalah proses alam menuju titik keseimbangannya. Kemenangan melawan hawa napsu di bulan Ramadan jadikanlah pembelajaran terpenting untuk bangkit melawan keterpurukan di tengah bombardir virus Corona. Tidak bisa kita diamkan, marilah bersatu padu saling membantu melawan kepungan virus ini untuk meraih kemengan yang kedua, yaitu terbebas dari wabah mematikan, Corona. Di hari hari kemengan ini kami ucapkan Selamat hari raya Idul Fitri 1441 H, Minal Aidzin wal Faidziin Mohon Maaf lahir dan Batin.


                                    *NurKhofifah, S.Pd, guru MIN 3 Banyuwangi.

CO Mahajana MTsN 5 Banyuwangi Berbagi Berkah dengan Mbah Supri


H-3 hari raya CO Mahajana menutup kegiatan dengan berbagi kebahagian dengan warga Karangrejo RT 02 RT 02 desa cluring kecamatan Cluring yang bernama Mbah Supri yang kurang lebih berumur 82 tahun .hari ini kamis 21 Mei 2020 anak anak CO Mahajana berbagi sembako kembali dan membantu membersihkan kediaman Mbah Supri yang tinggal sendirian dirumah.dengan membersihkan rumah dan menyiapkan suguhan jajan untuk menjelang hari raya.mbah supri mengatakan sangat senang sekali dengan kedatangan CO Mahajana  untuk yang kedua kalinya.mbah supri sangat senang karna sdah dbantu dan dbersihkan rmahnya.mbah supri juga senang karna ngrasa tidak kesepian dengan kedatangan anak anakCO Mahajanai ni..
Dilain itu juga mereka masih mendapatkan donatur sembako hingga pada hari terkhir ini mereka masih mndatangi para kaum dhuafa untuk membagikannya...(Wulan)

Terkenal Tidak Harus Bermental Sampah


Terkenal Tidak Harus Bermental Sampah
Oleh : Tria Aini Wulandari

Belajar dari kasus seorang youtuber yang sempat menjadi buah bibir dimedia sosial akibat tingkah konyolnya membuat konten youtube yang tak patut dicontoh oleh siapapun, yaitu bagi-bagi sembako sampah kepada para waria dan anak-anak. Alih-alih masih dalam kondisi genting dimana semua masyarakat tengah berjuang melawan virus corona yang bisa mengintai siapa saja. Baginya itu adalah sebuah lelucon yang cukup menghiburnya karena berhasil mengerjai seseorang, istilah gaulnya "Prank” demi keuntungan mendapatkan banyak follower, sehingga tidak sedikit netizen yang menghujatnya. Tidak berhenti disitu, setelah apa yang diperbuatnya, ia muncul kembali dengan unggahan video permintaan maafnya “Tapi Bo’ong”. Hal ini membuat para netizen semakin geram dan mengakibatkan dirinya sekarang harus menikam di balik jeruji besi. Sayang seribu sayang, masih muda sudah harus berurusan dengan hukum yang menjeratnya dengan pasal berlapis yakni :
Pasal 45 Ayat 3 Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), Pasal 36 Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE yang menyatakan bahwa “setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 27 sampai dengan pasal 34 yang mengakibatkan kerugian bagi orang lain”. Dan pasal 51 ayat 2 UU ITE Nomor 11 tahun 2008 menyebutkan setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam pasal 36 dipidana paling lama 12 tahun penjara dan atau denda paling banyak Rp 12 miliar.
Begitu kejam dunia maya dunia dimana dengan mudahnya orang mempulish,
membroadcast, share sebuah berita,  karenanya kita harus pintar-pintar menggunakan media sosial dengan bijak, jika salah sedikit saja akan berakibat fatal. terlebih jika melihat perkembangan dunia teknologi saat ini, mau tak mau mendorong seseorang untuk menjadi manusia masa kini agar tidak dikatai kuper (kurang pergaulan), kudet (kurang update) atau istilah yang lainnya yang bisa mengarah ke arah bullying. Boleh kita menggunakan aplikasi youtube, instagram, tik tok, dan aplikasi-aplikasi lainnya tapi dalam hal kebaikan. Jangan hanya mengikuti trend agar dikatakan anak gaul, kita menggunakan media sosial asal-asalan demi mendongkrak popularitas, terkenal meski dengan cara yang kurang bijak.
Bukankah kita adalah generasi terdidik? atau Generasi terpelajar? Generasi yang telah di didik dan diajarkan tentang etika, sopan santun, adab dan akhlak. Apa yang baik dan apa yang buruk tentang hak dan kewajiban moral, dimana kita harus memiliki budi pekerti baik dan tata krama dalam pergaulan hidup bemasyarakat sehingga kebaikan budi pekerti dan kelakuan kita diterima oleh masyarakat umum. Jadi tak etis, bila generasi terdidik atau terpelajar melakukan hal yang tak senonoh.
Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai sebagaimana istilah siapa yang menabur angin akan menuai badai. Gambaran perilaku kita akan selalu ada balasannya. Ada keluarga dibelakang kita, maka berusaha jadi seseorang yang bisa membanggakan bukan yang menyusahkan. Pengen terkenal itu mudah, sebagaimana yang pernah disamaikan Alharhum KH Zainuddin MZ yang mengutip adagium Arab bahwa Jika Ingin Terkenal, maka kencingi air zamzam, namun hal ini tidal lazi dan tidak pantas dilakukan. Apalagi kita seorang pelajar, kita bisa terkenal melalui prestasi, baik prestasi akademik maupun nonakademik. Sehingga sebagai bentuk apresiasi orang akan dengan sendirinya mengenal kita. Tinggal kita nya mau berusaha untuk menjadi yang terbaik apa tidak, masih banyak ide kreatif yang lucu, mendidik dan menghibur yang dapat mendongkak popularitas seseorang.
Bila kamu mengaku generasi milineal, jadilah generasi milineal yang bermanfaat. Dimana kita menjadi generasi yang mampu berfikir kritis terhadap apa yang terjadi disekeliling kita, mulai dari masalah Politik, Hukum, Ekonomi hingga sosial dan budaya. Generasi milineal yang bisa menggunakan media sosial secara bijak karena media sosial bisa menjadi pedang bermata dua, tergantung bagaimana kita menggunakannya. Dan Generasi yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain yang bukan hanya bisa memperhatikan keluarga inti saja, melainkan konsep masyarakat secara menyeluruh. Jika kita dapat membantu 10 atau bahkan 100 keluarga sekaligus, kenapa kita cuman puas dengan satu?
Indonesia membutuhkan banyak anak muda dengan visi yang jelas dan eksekusi yang nyata. Buatlah visi yang realistis dan smart melalui diskusi ide yang kamu miliki. Jangan pernah takut ide kamu dicuri, karena tidak ada ide yang original, dan ingatlah ide itu murah yang mahal eksekusinya. Bila kita bisa melakukannya, secara otomatis kita akan dikenal banyak orang tanpa harus membuat konten-konten yang nyleneh yang tidan mendidik.
Video Jangan Mudik milik Ucup Klaten yang menampilkan Mbah Minto sebagai salah satu video kreatif yang bukan hanya menghibur, namun juga memberikan pesan moral yang sangat apik ditengah pandemi Covid-19, ide kretif tersebut patut diacungi jempol, dimana pesan yang disampaikan akan lebih mengena, begitu juga dengan video video dari youtuber lain yang mengangkat ide ide ringan namun digarap dengan apik dan mendidik.
*Penulis adalah Guru pada MI Darul Amien Jajag Ke. Gambiran Kab. Banyuwangi



 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger