Malam di Banyuwangi selalu tahu bagaimana menempatkan dirinya: tidak tergesa-gesa, tidak pula berambisi menjadi pusat perhatian. Ia seperti seorang tua yang duduk di beranda, mengamati lalu lintas manusia dengan mata yang sudah terlalu sering melihat perubahan, hingga tak lagi mudah terkejut. Di bawah langit yang kadang murung, kadang lapang, malam merangkai percakapan menjadi semacam doa yang tak selalu selesai diucapkan. Dan pada malam itu, saya tidak sedang menjadi siapa-siapa hanya seorang yang duduk di emperan, memungut serpihan suara yang berjatuhan dari lingkaran diskusi yang, dalam ukuran tertentu, disebut penting.
Acara itu diberi nama Tandang Bareng Banyuwangi. Sebuah nama yang terdengar akrab, seolah mengundang siapa saja untuk datang dan berbagi. Tapi seperti banyak ruang yang tampak terbuka, ia tetap memiliki lingkarannya sendiri. Di dalamnya, duduk para pejabat, tokoh agama, aktivis, dan mereka yang terbiasa berbicara atas nama banyak orang. Di luar lingkaran itu, ada saya—dan mungkin juga banyak orang lain yang hanya ingin mendengar tanpa harus ikut menentukan arah.
Dari tempat yang tidak terlalu dekat itu, saya justru merasa mendengar lebih jernih. Sebab jarak sering kali menyelamatkan kita dari ilusi kepastian. Ia memberi ruang bagi keraguan, dan dari sanalah pemahaman pelan-pelan tumbuh.
Pembicaraan malam itu berputar pada satu hal yang tampak sederhana di atas kertas, tapi menjelma menjadi rumit ketika disentuh oleh kehidupan: pembatasan jam operasional toko swalayan dan ritel modern di Banyuwangi. Sebuah kebijakan yang tertuang rapi dalam Surat Edaran, lengkap dengan nomor, tanggal, dan tanda tangan yang sah. Di atas dokumen, ia terlihat seperti keputusan administratif yang biasa. Tapi di meja diskusi, ia berubah menjadi sesuatu yang hidup—dipertanyakan, diperdebatkan, bahkan dirasakan.
Saya mendengar keberatan yang dilontarkan dengan nada tertahan, seperti api yang tidak ingin membesar tapi juga tidak ingin padam. “Ini tidak adil,” kata seseorang. Dan kata adil itu, seperti biasa, segera mengundang banyak tafsir. Sebab keadilan, dalam kehidupan sosial, jarang sekali hadir sebagai sesuatu yang utuh. Ia lebih sering muncul sebagai bayangan yang berubah-ubah, tergantung dari mana kita memandangnya. Di satu sisi, pembatasan itu dianggap sebagai langkah yang tidak selaras dengan geliat pariwisata yang selama ini dibangun. Banyuwangi, yang dipromosikan sebagai ruang terbuka bagi siapa saja untuk datang dan menikmati, tiba-tiba seperti memasang batas pada salah satu denyut ekonominya. Bukankah wisatawan datang dengan kebutuhan yang tidak mengenal jam? Bukankah kota yang hidup adalah kota yang selalu siap melayani?
Namun di sisi lain, suara yang lebih pelan, tapi tidak kalah kuat, mengingatkan bahwa kota bukan hanya milik mereka yang datang, tetapi juga mereka yang tinggal. Bahwa di balik terang toko-toko modern, ada bayang-bayang warung kecil yang pelan-pelan tersisih. Bahwa persaingan tidak selalu berlangsung di medan yang setara. Di titik ini, saya mulai merasakan bahwa diskusi itu tidak sedang membicarakan jam buka atau jam tutup semata. Ia sedang membicarakan sesuatu yang lebih dalam: tentang siapa yang diberi ruang untuk bertahan, dan siapa yang dibiarkan menyesuaikan diri dengan perubahan yang tidak selalu mereka pahami.
Seorang yang tampaknya terbiasa berbicara dengan hati-hati mengutarakan pandangannya. Ia tidak meninggikan suara, tapi kalimatnya terasa menetap lebih lama di udara. “Kalau kita bicara keadilan,” katanya, “kita juga harus melihat siapa yang selama ini tidak punya daya.”
Kalimat itu seperti membuka pintu ke ruang yang lebih sunyi—ruang di mana kita dipaksa untuk melihat hal-hal yang sering kita abaikan. Warung kecil, toko kelontong, pedagang yang membuka usahanya dengan modal seadanya—mereka adalah bagian dari kehidupan sehari-hari yang sering kita anggap biasa. Padahal di situlah, ekonomi rakyat berdenyut dengan cara yang paling jujur.
Mereka tidak punya pendingin ruangan, tidak punya sistem inventori yang canggih, tidak punya promosi besar-besaran. Tapi mereka punya sesuatu yang tidak selalu dimiliki oleh toko modern: kedekatan. Di sana, pembeli bukan sekadar angka dalam laporan penjualan. Mereka adalah tetangga, kerabat, atau setidaknya wajah yang dikenal. Di sana, transaksi tidak selalu diukur dengan uang yang langsung dibayar. Ada utang kecil yang dimaklumi, ada kepercayaan yang menjadi pengikat.
Namun dunia tidak berhenti bergerak hanya karena ada yang belum siap. Modernitas datang dengan logikanya sendiri: efisiensi, kecepatan, kepastian. Dan toko-toko modern adalah representasi dari logika itu. Mereka hadir dengan janji yang sederhana: apa yang Anda butuhkan, tersedia; kapan Anda datang, kami buka.
Di tengah dua realitas itu, kebijakan pembatasan jam operasional tampak seperti upaya untuk menahan laju sesuatu yang terlalu cepat. Bukan untuk menghentikannya, tapi setidaknya untuk memberi waktu bagi yang tertinggal agar tidak sepenuhnya hilang. Namun pertanyaannya kemudian menjadi lebih rumit: apakah membatasi yang besar adalah cara terbaik untuk melindungi yang kecil? Ataukah itu hanya bentuk lain dari ketidakmampuan kita menciptakan persaingan yang sehat?
Di emperan itu, saya tidak menemukan jawaban yang pasti. Yang saya temukan justru kesadaran bahwa setiap pilihan selalu membawa konsekuensi. Membiarkan toko modern beroperasi tanpa batas mungkin akan mempercepat pertumbuhan ekonomi dalam ukuran tertentu, tapi juga berisiko memperlebar jarak antara yang kuat dan yang lemah. Sebaliknya, membatasi mereka mungkin memberi napas bagi yang kecil, tapi juga bisa mengurangi kenyamanan yang sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.
Seorang aktivis mengangkat pertanyaan yang membuat suasana menjadi sedikit lebih hening. Ia berbicara tentang aliran pajak, tentang bagaimana keuntungan dari toko-toko modern tidak sepenuhnya kembali ke daerah. Tentang bagaimana daerah hanya menerima bagian kecil dari sesuatu yang tumbuh besar di wilayahnya sendiri.
Pertanyaan itu tidak mudah dijawab. Sebab ia menyentuh persoalan yang lebih luas dari sekadar kebijakan lokal. Ia menyangkut sistem yang lebih besar, yang tidak selalu bisa diubah dengan keputusan di tingkat daerah. Namun setidaknya, ia membuka mata bahwa kehadiran sesuatu tidak selalu sejalan dengan manfaat yang dirasakan. Di sisi lain, suara lain muncul, lebih sederhana, tapi justru terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. “Kalau tengah malam butuh sesuatu, kita harus ke mana?” pertanyaan itu terdengar hampir seperti keluhan yang jujur.
Dan di situlah, realitas kembali mengetuk. Sebab kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan jadwal yang rapi. Kebutuhan bisa datang kapan saja, tanpa memberi tahu lebih dulu. Dalam kondisi seperti itu, toko modern sering kali menjadi tempat yang paling bisa diandalkan. Maka perdebatan itu kembali berputar pada titik yang sama: antara kebutuhan untuk melindungi dan kebutuhan untuk melayani. Antara idealisme dan kenyamanan. Antara masa lalu yang ingin dipertahankan dan masa depan yang terus datang tanpa permisi.
Saya kembali menyeruput kopi yang mulai kehilangan hangatnya. Di antara pahit yang tersisa, saya menyadari bahwa mungkin kita terlalu sering berharap pada kebijakan untuk menyelesaikan hal-hal yang sebenarnya lebih kompleks dari sekadar aturan. Kita ingin keadilan, tapi kita juga ingin kemudahan. Kita ingin melindungi yang kecil, tapi kita juga tidak ingin kehilangan kenyamanan yang diberikan oleh yang besar. Padahal, kehidupan tidak pernah menawarkan keduanya secara bersamaan tanpa syarat.
Malam semakin larut. Percakapan mulai kehilangan intensitasnya. Beberapa orang tampak lelah, sebagian lain masih mencoba merangkai argumen yang tersisa. Tapi seperti semua diskusi, ia pada akhirnya harus berhenti, bukan karena semua telah sepakat, melainkan karena waktu tidak memberi pilihan lain. Saya berdiri dari emperan dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan karena saya menemukan jawaban, tetapi justru karena saya menyadari betapa banyak pertanyaan yang tidak bisa diselesaikan dalam satu malam.
Pembatasan jam operasional toko modern di Banyuwangi mungkin akan terus diperdebatkan. Ia mungkin akan dikritik, diperbaiki, atau bahkan suatu hari nanti diganti. Tapi di balik semua itu, ada satu hal yang menurut saya lebih penting untuk kita renungkan: bahwa keberadaan yang kecil bukanlah sesuatu yang bisa kita anggap remeh. Sebab ketika yang kecil hilang, yang hilang bukan hanya bentuk usaha, tetapi juga cara hidup. Cara kita berinteraksi, cara kita saling mengenal, cara kita membangun kepercayaan dalam skala yang paling sederhana.
Kota yang hanya terdiri dari bangunan besar dan sistem yang rapi mungkin akan terlihat modern. Tapi ia juga berisiko kehilangan sesuatu yang lebih halus, sesuatu yang tidak bisa diukur dengan angka, tapi terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Di antara terang toko modern dan redup lampu warung kecil, sebenarnya kita sedang memilih jenis kehidupan seperti apa yang ingin kita jalani. Dan pilihan itu tidak selalu harus ekstrem. Tidak harus memihak sepenuhnya pada satu sisi dan meniadakan yang lain. Mungkin yang kita butuhkan bukan sekadar pembatasan, tetapi juga pemberdayaan. Bukan hanya mengurangi ruang bagi yang besar, tetapi juga memperluas kemungkinan bagi yang kecil. Agar mereka tidak hanya bertahan karena dilindungi, tetapi juga karena mampu bersaing dengan caranya sendiri. Namun itu tentu membutuhkan waktu, kesabaran, dan kebijakan yang tidak berhenti pada satu keputusan saja.
Dari emperan itu, saya belajar bahwa mendengar adalah bentuk lain dari memahami. Bahwa di balik setiap perdebatan, selalu ada lapisan-lapisan yang tidak terlihat jika kita terlalu cepat mengambil kesimpulan. Dan mungkin, pada akhirnya, keadilan memang bukan tentang membuat semua menjadi sama. Ia lebih menyerupai upaya untuk menjaga agar tidak ada yang sepenuhnya hilang.
Malam di Banyuwangi pun kembali pada dirinya sendiri—tenang, tidak tergesa, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Tapi bagi saya, malam itu meninggalkan jejak yang tidak mudah dihapus: kesadaran bahwa kehidupan sosial selalu berada di antara tarik-menarik yang tidak pernah benar-benar selesai. Dan di antara semua itu, kita, entah sebagai warga, sebagai pembuat kebijakan, atau sekadar sebagai penikmat kopi di emperan, selalu punya peran, sekecil apa pun, dalam menentukan arah ke mana kota ini akan berjalan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jaga kesopanan dalam komentar