Pelangi yang Mengabdi: Catatan Bakti di Usia Delapan Puluh
Saya mengenal Dr. Akhmad Sruji Bakhtiar bukan pertama-tama sebagai pejabat, melainkan sebagai seorang penutur. Kami dipertemukan dalam sebuah bimbingan teknis yang berlangsung sepuluh hari, waktu yang cukup panjang untuk saling mengenal, berbagi ruang, ngopi bareng, kadang juga rasa rasan bareng dan menanggalkan jarak formal. Di sanalah diskusi mengalir tanpa moderator, obrolan tumbuh tanpa alur, dan bahasa sesekali keluar dari seragam resminya. Saat itu beliau masih menjabat Kepala Kantor Kementerian Agama di daerah. Kini beliau memikul amanah sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur. Jabatan boleh berganti, tetapi cara bertuturnya tetap: penuh filosofi, tenang, dan terasa seperti mengajak berpikir, bukan memerintah.
Ada orang-orang yang ketika berbicara, kata-katanya hanya sampai di telinga. Ada pula yang ucapannya turun lebih dalam, menetap di dada. Dr. Akhmad Sruji Bakhtiar termasuk jenis yang kedua. Ia tidak sekadar menyampaikan kalimat, tetapi menyelipkan makna di sela-selanya, seperti doa yang tidak selalu keras dilafalkan, namun lama tinggalnya. Itulah yang kembali saya rasakan ketika beliau menyampaikan pembinaan dalam rangka Hari Amal Bakti ke-80 Kementerian Agama.
Hari Amal Bakti, sebuah istilah yang sering kita ucapkan setiap tahun, tetapi jarang kita endapkan. Dalam penuturannya, istilah itu tidak dibiarkan menjadi slogan. Ia dibedah pelan-pelan, seolah ingin memastikan kita benar-benar memahami maknanya. Amal adalah kerja. Bakti adalah pengabdian. Maka Hari Amal Bakti bukan sekadar hari peringatan, melainkan ajakan untuk mengandikan diri, menyerahkan sebagian ego, kenyamanan, bahkan ambisi pribadi, demi sebuah pengabdian yang lebih besar.
Mengendalikan diri, kata beliau, bukan berarti menghapus diri. Justru sebaliknya: kita diminta menghadirkan diri seutuhnya. Sebab hanya manusia yang hidup yang mampu beramal dan berbakti. Benda mati tidak punya kehendak, tidak punya harapan, tidak punya keinginan untuk menjadi lebih baik. Kita berbeda. Kita masih memiliki keresahan atas kekurangan, dan dari keresahan itulah lahir harapan. Maka refleksi atas tahun yang telah lewat menjadi penting, bukan untuk menyesali, melainkan untuk menandai apa yang perlu diperbaiki di tahun yang akan datang.
Di titik ini, yang sering membawa kita pada perenungan sunyi: bahwa iman tidak selalu hadir dalam bentuk pekik, tetapi dalam kesediaan menengok ke dalam diri. Hari Amal Bakti, dalam kerangka itu, adalah semacam cermin. Kita berdiri di depannya, melihat wajah pengabdian kita sendiri: adakah yang retak, adakah yang mulai kusam, adakah yang perlu dibersihkan.v
Bakti, sebagaimana ditegaskan beliau, adalah kesetiaan. Dalam konteks aparatur negara, ia adalah kesetiaan kepada negara. Namun di Kementerian Agama, kesetiaan itu memiliki lapis tambahan: kesetiaan pada nilai. Moderasi dan toleransi bukan sekadar kata kunci kebijakan, melainkan napas yang harus terus dijaga. Kita bekerja di rumah besar yang menaungi keberagaman keyakinan, tafsir, dan praktik keberagamaan. Di sinilah bakti diuji: mampukah kita setia pada negara tanpa mengkhianati kemanusiaan, dan setia pada agama tanpa meniadakan perbedaan?
Perbedaan, kata beliau, adalah keindahan. Seperti pelangi. Analogi ini terdengar sederhana, bahkan klise, tetapi justru karena kesederhanaannya ia menjadi kuat. Pelangi tidak akan indah jika hanya satu warna. Ia memerlukan perbedaan yang berdampingan, bukan saling meniadakan. Moderasi beragama bekerja dengan cara yang sama: bukan mengaburkan warna, melainkan memastikan setiap warna mendapat tempatnya di langit yang sama.
Di usia delapan puluh tahun, Kementerian Agama telah melewati banyak musim. Ia lahir dari pergulatan sejarah, tumbuh di tengah dinamika politik, dan dewasa dalam kompleksitas masyarakat yang terus berubah. Hari Amal Bakti ke-80 bukan sekadar penanda usia, tetapi momentum untuk bertanya: sejauh mana kita telah benar-benar berbakti? Bukan kepada gedung, bukan kepada jabatan, melainkan kepada nilai yang sejak awal ingin diperjuangkan.
Saya melihat dalam sosok Dr. Akhmad Sruji Bakhtiar, konsistensi itu terjaga. Dari ruang bimbingan teknis yang penuh canda dan diskusi hingga podium pembinaan yang sarat makna, ada benang merah yang tidak putus: keyakinan bahwa pengabdian adalah laku batin sebelum menjadi kerja administratif. Bahwa filosofi bukan hiasan pidato, melainkan kompas dalam mengambil keputusan.
Pada akhirnya, Hari Amal Bakti mengingatkan kita pada satu hal sederhana namun mendasar: kita masih manusia. Kita masih punya keinginan untuk memperbaiki diri, masih punya harapan untuk melayani dengan lebih baik. Selama itu ada, bakti tidak akan pernah menjadi rutinitas yang kering. Ia akan tetap hidup—seperti pelangi yang selalu menunggu hujan dan cahaya bekerja bersama.
Bicaranya sedikit tetapi mengena, dengan bahasa yang mudah diterima. Dengan bahasa tasawuf yang tidak terlalu rumit

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Jaga kesopanan dalam komentar