Pages

Bantuan Armada Truk untuk Koperasi Merah Putih Tiba di Banyuwangi

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Bantuan armada truk untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) telah tiba di Banyuwangi. Terdapat 18 truk telah diserahkan kepada ketua KDKMP serta kepala desa penerima bantuan, di Markas Komando Distrik Militer (Kodim) 0825 Banyuwangi, Rabu pagi (22/4/2026).


Penyerahan dilakukan oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani bersama Komandan Kodim (Dandim) 0825 Banyuwangi Letkol Arm Tryadi Indrawijaya, beserta unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). 

Bupati Ipuk berpesan agar bantuan dari Presiden Prabowo Subianto ini dirawat dengan baik serta digunakan secara optimal dan produktif.

"Saya minta bantuan truk operasional ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kinerja. Tolong dirawat secara rutin agar masa pakainya panjang," pesan Ipuk.

Ipuk menambahkan bantuan tersebut untuk mendorong pengembangan ekonomi di wilayah KDKMP, terutama dalam memperlancar jalur distribusi.

"Bapak Presiden berharap Koperasi Merah Putih menjadi simpul ekonomi desa/kelurahan yang menghubungkan produksi hasil rakyat. Dengan begitu, keberadaan armada ini memberikan nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat di sekitar koperasi," tutur Ipuk.

Ditambahkan Dandim Banyuwangi, penyaluran 18 truk ini merupakan bagian dari tahap awal. Dari total 217 KDKMP yang ada di Banyuwangi, bantuan akan diberikan secara bertahap.

Hingga saat ini, tercatat sudah ada 27 KDKMP yang selesai 100 persen dalam pembentukan koperasi, sementara sisanya masih dalam proses kelengkapan.

"Bantuan armada disalurkan secara bertahap seiring dengan kesiapan masing-masing Koperasi Merah Putih di lapangan," kata Dandim.

Ia menambahkan, armada ini berfungsi sebagai stimulus untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi di tingkat akar rumput.

"Kepada kepala desa dan ketua KDKMP, negara menitipkan aset ini. Anggaplah kendaraan ini sebagai amanah yang harus dijaga dan dirawat. Pastikan armada ini memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan warga di wilayah masing-masing," tambah Dandim. (*)

Buka MUSDA VIII, Bupati Ipuk Sebut LDII Mitra Strategis Pembangunan Banyuwangi

BANYUWANGI (Lensa Banyuwangi)  Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, secara resmi membuka Musyawarah Daerah (Musda) VIII Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Banyuwangi di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Rabu (22/4/2026). Dalam forum tersebut, Bupati menegaskan posisi LDII sebagai mitra strategis dalam mempercepat pembangunan daerah.

“Kemajuan Banyuwangi saat ini tidak terlepas dari peran penting LDII. Organisasi ini telah menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam berbagai program pembangunan,” ujar Bupati Ipuk dalam sambutannya.


Bupati Ipuk juga memberikan apresiasi tinggi terhadap kepemimpinan Ketua DPD LDII Banyuwangi, KH. Astro Junaedi. Ia menilai, di bawah kepemimpinan KH. Astro, LDII konsisten menunjukkan dukungannya terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah daerah secara harmonis tanpa gesekan internal.

"Saya berharap Musda ini menjadi ajang pemersatu. Saya yakin setiap kegiatan LDII selalu berjalan kondusif," imbuhnya.

Mengutip pernyataan Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso, Bupati Ipuk menekankan bahwa dakwah LDII harus terus memperkuat karakter bangsa dan memberikan kontribusi nyata. Secara khusus, ia meminta Musda VIII ini merumuskan program yang selaras dengan visi "Banyuwangi Asri".

Di tengah efisiensi anggaran yang sedang dilakukan pemerintah, Bupati Ipuk menekankan pentingnya konsep kolaborasi atau tandang bareng.

"Program dari Pak Astro yang sudah baik wajib dilanjutkan. Mengingat adanya efisiensi anggaran saat ini, kita harus mengedepankan konsep 'tandang bareng' (kerja bersama) dalam setiap program pembangunan," tegas Ipuk hingga tiga kali dalam sambutannya.

Sementara itu, Ketua DPW LDII Jawa Timur, H. Moch Amrodji Konawi, mengungkapkan adanya dinamika suksesi dalam organisasi. Amrodji menyebut awalnya berniat mencalonkan kembali KH. Astro Junaedi mengingat keberhasilannya, namun yang bersangkutan telah menyatakan pamit untuk tidak dicalonkan kembali.

Amrodji menjelaskan bahwa Musda merupakan momentum krusial untuk mengevaluasi program lima tahun terakhir sekaligus menyusun rencana kerja strategis ke depan.

“Fokus kami adalah meningkatkan kualitas SDM yang profesional dan religius. LDII berkomitmen berkontribusi dalam pembinaan generasi muda dan siap bersinergi penuh dengan pemerintah daerah,” tutur Amrodji.

Musda VIII LDII Kabupaten Banyuwangi kali ini mengusung tema “Penguatan SDM Profesional Religius yang Berdaya Saing untuk Pembangunan Berkelanjutan Menuju Banyuwangi Sejahtera." Agenda ini dihadiri oleh jajaran pengurus LDII dari tingkat kecamatan, tokoh masyarakat, serta sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. (**)

Musancab PDI Perjuangan Banyuwangi Jadikan Anak Muda sebagai Penerus Kepemimpinan Partai

BANYUWANGI (Warta Blambangan)  Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (DPC PDI Perjuangan) Banyuwangi resmi menggelar Musyawarah Anak Cabang (Musancab) serentak pada Rabu (22/04/2026).

Pelaksanaan Musyawarah Anak Cabang serentak oleh 25 Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan se Banyuwangi ini dibagi menjadi dua Lokasi. Untuk PAC di wilayah daerah pemilihan (Dapil) Banyuwangi 1,2,7 dan 8 bertempat di Hotel Aston. Sedangkan untuk PAC di wilayah Dapil 3,4,5 dan 6 atau wilayah Banyuwangi Selatan bertempat di Havana Waterpark,Jajag Kecamatan Gambiran.


Agenda lima tahunan partai berlambang banteng moncong putih ini dilaksanakan sebagai langkah strategis PDI Perjuangan untuk menjamin keberlanjutan kepemimpinan partai dan memperluas basis dukungan di akar rumput dengan focus meningkatkan keterwakilan kader muda (Gen Z) serta Perempuan.

Ketua DPC PDI Perjuangan Banyuwangi, Ana Aniati menyampaikan, Musancab ini merupakan tindak lanjut instruksi partai yang dilakukan serentak untuk menyusun kepengurusan baru di tingkat kecamatan.

“ Musancab menjadi momen strategis untuk membentuk struktur kepengurusan PAC yang solid sekaligus memperkuat konsolidasi hingga tingkat kelurahan/ desa dan anak ranting atau setingkat dusun, “ ucap Ana Aniati.

Pada kesempatan itu, Ia menekankan pentingnya soliditas antar kader partai dari tingkat DPC, PAC, Ranting dan Anak Ranting sebagai kunci dalam melaksanakan kerja kerja politik untuk kepentingan rakyat sekaligus juga menghadapi kontestasi Pemilu mendatang.

“ Kekompakan internal, kepatuhan dalam satu komando dan konsolidasi yang kuat dari Tingkat DPC hingga Anak Ranting menjadi modal dasar untuk meraih kemenangan , “ tegasnya.

Ana Aniati juga menegaskan komitmennya membuka ruang seluas-luasnya bagi anak muda, termasuk generasi milenial dan Gen Z untuk terlibat aktif di kancah politik guna merespons perubahan demografi pemilih yang didominasi kalangan muda.

“ PDI Perjuangan tidak hanya menjadi anak muda sebagai pemilih,tetapi juga sebagai penerus perjuangan partai, “ ucapnya.

Sebelum Musancab dibuka secara resmi, Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Deni Wicaksono, menegaskan bahwa penguatan peran perempuan dan anak muda bukan sekadar wacana, melainkan kebijakan struktural yang mengikat. 

Setiap kepengurusan hasil Musancab di tingkat PAC diwajibkan memenuhi keterwakilan perempuan minimal 30 persen dan generasi muda atau Gen Z minimal 20 persen.

"Semua kita wajibkan, salah satu dari mereka harus menjadi Ketua, Sekretaris, atau Bendahara. Ini bukan sekadar pelengkap, tapi posisi strategis dalam kepengurusan," ucap Deni saat ditemui di sela-sela agenda Musancab.

Menurut Deni, kebijakan ini menjadi pondasi awal bagi regenerasi kepemimpinan partai di tingkat akar rumput. PAC sebagai ujung tombak pergerakan partai dituntut mampu membaca situasi sosial, menyerap aspirasi masyarakat, sekaligus merespons tantangan masa depan dengan cermat.

“Kehadiran generasi muda sangat krusial untuk membawa perspektif baru, terutama dalam menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat,” pungkasnya. (**)

Ficky Septalinda: Sinergi Tiga Pilar Jadi Kunci Kemenangan PDI Perjuangan Banyuwangi

Banyuwangi (Warta Blambangan) Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Banyuwangi menegaskan pentingnya soliditas internal dalam menghadapi kontestasi politik ke depan. Hal ini disampaikan Sekretaris DPC PDI Perjuangan Banyuwangi, Ficky Septalinda , saat membuka Musyawarah Anak Cabang (Musancab) di wilayah Banyuwangi Utara, Rabu (23/4/2026).


Musancab yang digelar di Ballroom Hotel Aston tersebut diikuti Pengurus Anak Cabang (PAC) dari daerah pemilihan (Dapil) 1, 2, 7, dan 8. Dalam sambutannya, Ficky menekankan bahwa kekuatan utama partai terletak pada sinergi tiga pilar, yakni struktur partai, legislatif, dan eksekutif.

“Soliditas tiga pilar menjadi kunci utama untuk menjaga kemenangan di setiap kontestasi, baik Pemilu, Pilkada, maupun Pilpres,” ujarnya.Ia menyebut PDI Perjuangan Banyuwangi memiliki modal politik yang kuat, mulai dari keberadaan kader di eksekutif, dominasi kursi legislatif, hingga struktur organisasi yang lengkap hingga tingkat akar rumputDengan kekuatan tersebut, partai menargetkan capaian suara minimal 20 persen dalam pemilu mendatang.

“Kita punya amunisi yang lengkap. Tinggal bagaimana menjaga kekompakan dan kerja kolektif untuk mencapai target,” kata Ficky.Selain itu, ia menegaskan pentingnya disiplin kader terhadap keputusan partai, termasuk dalam penetapan kepengurusan PAC hasil Musancab.

“Keputusan partai bukan diambil secara sembarangan. Semua harus patuh dan menjaga soliditas,” tegasnya.

Ficky juga menyinggung pentingnya dukungan sumber daya bagi operasional partai, termasuk harapan adanya peningkatan bantuan keuangan partai politik (Banpol) di tengah kondisi efisiensi anggaran.Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Kehormatan DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Agus Wicaksono, mengingatkan bahwa pengurus PAC yang terpilih harus bekerja secara nyata dan tidak sekadar menjalankan fungsi administratif.“Pengurus PAC harus aktif, solid, dan benar-benar bekerja di tengah masyarakat untuk memenangkan partai,” ujarnya.

Ia optimistis kader yang terpilih merupakan figur yang siap menjalankan tugas politik di wilayah masing-masing.Ke depan, kepengurusan PAC periode 2026–2031 akan melanjutkan konsolidasi melalui Musyawarah Ranting dan Anak Ranting sebagai bagian dari penguatan struktur partai hingga tingkat paling bawah. (fj)

Dari Kebaya ke Kesadaran Kritis menuju Kesalehan Sosial

 Dari Kebaya ke Kesadaran Kritis menuju Kesalehan Sosial

Emi Hidayati, Dosen Fak. Dakwah – Ketua YPM NU Banyuwangi

“Kau tanyakan kepadaku, bagaimana keadaanku di antara empat dinding tebal itu. Kau tentu pikir tentang sebuah sel atau semacamnya. Tidak, Stella, penjaraku adalah sebuah rumah besar, dengan perkarangan luas, tapi sebuah pagar tembok tinggi mengelilinginya, dan pagar itulah yang mengurung aku.” (Toer, 2018: 67)


Penggalan surat Kartini tersebut menghadirkan ironi yang tetap relevan hingga hari ini: keterbatasan tidak selalu tampak sebagai penderitaan yang kasar, melainkan bisa hadir dalam kemapanan yang rapi dan “layak”. Rumah besar itu bukan sekadar ruang fisik, tetapi simbol dari sistem sosial yang membatasi tanpa terlihat menindas. Jika pada masa Kartini tembok itu berupa adat pingitan dan struktur feodal, maka di era global dan digital, “tembok-tembok” baru justru hadir dalam bentuk yang lebih halus—tak kasat mata, tetapi bekerja dalam kesadaran.

Perayaan Hari Kartini dengan simbol kebaya yang terus direproduksi setiap tahun dapat dibaca sebagai bagian dari bagaimana masyarakat memaknai perempuan. Ia penting sebagai penanda sejarah, tetapi juga berpotensi menjadi ruang normalisasi baru ketika makna perempuan direduksi pada estetika dan kepantasan. Dalam perspektif Michel Foucault, kekuasaan bekerja melalui produksi norma yang diterima sebagai kebenaran bersama. Hari ini, norma itu tidak hanya dibentuk oleh keluarga atau negara, tetapi juga oleh algoritma, media sosial, dan industri budaya global.

Di era digital, perempuan tidak lagi dipingit dalam ruang domestik, tetapi seringkali “dipingit” dalam ekspektasi tak terlihat: standar kecantikan yang dikonstruksi media, tuntutan untuk selalu tampil sempurna, hingga tekanan untuk memenuhi peran ganda tanpa ruang negosiasi yang adil. Media sosial, yang semula dianggap membuka ruang ekspresi, justru kerap menjadi arena disiplin baru—di mana tubuh, pilihan hidup, bahkan suara perempuan dinilai, dibandingkan, dan dikontrol secara kolektif. Dalam konteks ini, kebebasan akses tidak otomatis melahirkan kemerdekaan; ia bisa menjadi bentuk baru dari keterikatan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa hambatan perempuan hari ini tidak lagi semata soal akses pendidikan atau ruang publik, tetapi juga soal kemampuan untuk membangun kesadaran di tengah banjir informasi. Kartini pada masanya menggunakan surat sebagai medium untuk melawan—membangun diskursus tandingan terhadap norma yang mengekang. Hari ini, ruang itu terbuka jauh lebih luas, tetapi juga jauh lebih bising. Tanpa kesadaran kritis, perempuan justru berisiko menjadi konsumen pasif dari nilai-nilai yang terus direproduksi tanpa disadari.

Di sinilah pentingnya memaknai kesadaran kritis sebagai bentuk kesalehan sosial. Kesalehan tidak lagi hanya dipahami sebagai kepatuhan individual, tetapi sebagai kepekaan terhadap struktur ketidakadilan dan keberanian untuk tidak tunduk pada normalisasi yang mengekang. Kesadaran kritis memungkinkan perempuan membaca realitas secara lebih utuh—memilah mana nilai yang membebaskan dan mana yang justru membatasi dalam wajah yang tampak modern.

Namun, realitas juga menunjukkan bahwa akses terhadap kesadaran ini tidak merata. Perempuan di wilayah pedesaan, kelompok marjinal, atau mereka yang terjebak dalam tekanan ekonomi, seringkali masih berhadapan dengan “tembok-tembok” lama sekaligus baru. Di satu sisi, mereka menghadapi keterbatasan struktural seperti pendidikan dan akses informasi; di sisi lain, mereka juga terpapar pada arus global yang tidak selalu berpihak. Di sinilah tantangan kelembagaan menjadi penting—bagaimana pendidikan, kebijakan, dan gerakan sosial mampu menjembatani kesenjangan ini, agar kesadaran tidak menjadi privilese, tetapi menjadi hak yang hidup.

Maka, dari tradisi kebaya menuju kesadaran kritis bukanlah upaya menanggalkan simbol, melainkan menghidupkan makna. Kebaya tidak berhenti sebagai pakaian seremonial, tetapi menjadi pengingat akan sejarah keterbatasan yang pernah—dan dalam bentuk tertentu masih—dialami perempuan. Dari sana, perayaan Kartini dapat bergeser dari sekadar ritual menuju refleksi sosial yang lebih dalam.

Kartini tidak hanya meninggalkan jejak sejarah, tetapi juga cara berpikir. Ia menunjukkan bahwa perlawanan tidak selalu hadir dalam bentuk besar, melainkan bisa tumbuh dari kesadaran yang perlahan menggeser batas. Di era digital yang serba cepat ini, kesadaran kritis menjadi bentuk perjuangan yang paling mendasar—dan dalam konteks sosial, ia menjelma sebagai kesalehan: sebuah upaya untuk tetap adil, reflektif, dan merdeka di tengah relasi kuasa yang terus berubah.

 

Sastrawan Kemenag Banyuwangi Hadirkan Suara Damai di Rubaiyat Hormuz

BANYUWANGI, (Warta Blambangan) Keikutsertaan para sastrawan dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi mewarnai perhelatan sastra bertajuk “Rubaiyat Hormuz: Lantunan Puisi Kemanusiaan dari Bumi Blambangan” yang digelar di Langgar Art, Jalan Ikan Wijinongko, Perum Griya Wiyata B.50, Banyuwangi, Selasa (14/4/2026). Sejumlah pegiat sastra dari lingkungan Kemenag turut hadir dan membacakan puisi, di antaranya Ketua Lentera Sastra Banyuwangi Syafaat, Penyelenggara Bimas Katolik Purwowidodo, Kepala MTsN 2 Banyuwangi Dr. Uswatun Hasanah, Kepala MTsN 12 Banyuwangi Herny Nilawati, Pengawas Madrasah St. Muanifah, serta pegiat sastra dari MAN 1 Banyuwangi sekaligus peraih Sastratama, Nur Khofifah. Kehadiran mereka menjadi bentuk respons atas konflik di kawasan Selat Hormuz yang berdampak luas bagi dunia.


Kegiatan ini diprakarsai oleh MWC-NU Kecamatan Banyuwangi bersama Lentera Sastra Banyuwangi, Komite Bahasa dan Sastra Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Banyuwangi, IPNU-IPPNU Banyuwangi, Forum 28, serta komunitas Mocoan Wadon Lontar Yusuf. Kolaborasi lintas komunitas ini menghadirkan ruang refleksi bersama melalui puisi dan sastra sebagai medium suara kemanusiaan. Dalam kesempatan tersebut juga dilantunkan Mocoan Lontar Yusuf, sebuah tradisi sastra yang sebagian kisahnya diambil dari perjalanan Nabi Yusuf.

Sejumlah tokoh seni dan budaya Banyuwangi tampak hadir dan ambil bagian dalam pembacaan puisi. Di antaranya Hasan Basri selaku Ketua DKB Banyuwangi, sastrawan Fatah Yasin Nor, Aekanu Hariyono dari Killing Osing Banyuwangi, serta Muttafaqurrohmah dari Forum 28 yang juga dosen di Untag dan ISI Kampus B Banyuwangi bersama para mahasiswanya.


Kehadiran lintas elemen juga terlihat dari partisipasi pengurus Muslimat NU dan ISNU Banyuwangi. Purwowidodo pun turut membacakan puisi, menegaskan bahwa suara kemanusiaan melampaui sekat-sekat identitas.

Menariknya, Diah Fitriani, owner Klinik KDS Rogojampi, juga hadir dan menyampaikan harapannya melalui bahasa sastra. Ia menuturkan bahwa kegiatan ini menjadi pengingat bahwa perdamaian adalah kebutuhan bersama, dan para pemimpin dunia diharapkan dijauhkan dari ambisi menguasai bangsa lain yang berdaulat. Sejumlah pengurus Muslimat NU dan ISNU Banyuwangi juga tampak hadir dalam kegiatan tersebut.

Konflik di Selat Hormuz sendiri dipandang sebagai ancaman serius bagi stabilitas ekonomi global. Jalur tersebut merupakan salah satu rute distribusi minyak paling vital di dunia, dengan sekitar 20 juta barel minyak—setara 20 persen konsumsi global—melintasinya setiap hari. Ketegangan atau penutupan jalur ini berpotensi mengguncang perekonomian dunia secara luas.

Puisi-puisi yang dilantunkan dalam acara tersebut sebagian besar menggambarkan kondisi terkini di Selat Hormuz—tentang kecemasan, kehilangan, dan harapan yang terombang-ambing di tengah konflik. Dalam nuansa religius dan reflektif, beberapa pembacaan juga mengaitkan situasi tersebut dengan sejarah peperangan di masa awal Islam, seperti Perang Badar dan Perang Khandaq, di mana ketimpangan kekuatan tidak selalu menjadi penentu akhir.

Melalui lantunan kata dan makna, “Rubaiyat Hormuz” menjadi lebih dari sekadar acara sastra. Ia menjelma sebagai doa yang hidup, sebagai suara sunyi dari Banyuwangi untuk dunia—menggaungkan harapan akan damai di tengah riuh konflik global.

Pelatihan Jurnalis Warga Pegiat Rakom JRKBB di Radio Bisma FM Gambiran

Acara dipandu oleh Haderi dri CITRA FM

Jaringan Radio Komunitas Broadcast Banyuwangi (JRKBB) senyampamg halal bihalal, mengadakan peningkatan kapasitas kru dengan adakan pelatihan reportase di Studio Bisma FM Gambiran, Minggu, 12 April 2026,dengan hadirkan pegiat Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) dan wartawan online.

Ketua  Perkumpulan Komunitas Gotong royong'45 Aguk Wahyu Nuryadi selaku pembina JRKBB berharap sebagai insan pers, semua menyadari fungsi media tak sekedar hiburan tapi juga informasi dan edukasi. Dan hendaknya anggota JRKBB programnya tak tak hanya karaoke, tapi ada talkshow, podcast, putar ILM maupun sampaikan warta berita.

"Setelah hari pers 9 Februari lalu di Kedai Makmoer saat pelantikan JRKBB dengan mengundang pemimpin umum Jurnal news dan Sastra wacana. Co. Id serta sinergi media, dari Dinas Kominfo dan Persandian Nafi Ferdian ingatkan untuk patuhi regulasi dan buat pendengar cerdas dan melek informasi dengan fakta tanpa hoax!Maka hari ini kita praktek baca berita, laporan langsung di lapangan dan juga ikuti era digital dengan bermain di media sosial" tukas Bung Aguk--denikian panggilan akrabnya yang juga reporter pertama Radio Mandala di awal Reformasi dan kini aktif sebagai wartawan Menara Madinah. Com ini.

Flyer Kegiatan

Dalam akhir sambutannya, Aguk disamping minal aidin wal faidzin  mengajak audience baca ummul kitab untuk mantan Ketua JRKI Jatim Untung Surojo serta orangtua pengurus JRKBB yang juga baru meninggal:Al Fatihah... Aamiin.. mugi husnul khotimah.

Wakil Ketua Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI) Jatim, Hadi Purwanto, yang sudah 29 tahun gawangi Radio Planet FM Bajulmati, ajak peserta jadi jurnalis warga di era tranformasi era digital untuk lebih bermakna dan manfaat untuk masyarakat. Sembari bekali dasar 5W+1H juga untuk perhatikan fakta yang obyektif tanpa opini, obyektif berimbang, sistematika runtut baik sesekali kalimat langsung, ejaan yang benar dan "bekali dokumentasi dengan caption atau keterangan yang mendukung! " tutur pemilik channel Ha Pe Aja, nama udara Venus dan pemegang Kartu Pers Jurnal news PT Tampo Mas Grup ini.

Materi Spotify dibawakan oleh Maulana Afandi dari Sastra Wacana

Acara yang dipandu Haderi dari Radio Komunitas BRIT FM Gendoh Sempu ini lanjut menampilkan narasumber jurnalis yang konten creator, Maulana Affandi, SS, pemimpin umum Sastra wacana. Ia berikan ilmu soal pahami demografi sasaran informasi dan primetime yang bernilai. "Jadi paham ya TKW Taiwan dan Hongkong yang proaktif dan para emak-emak enjoy mendengar sekira pukul 09.17-10.45! "tutur alumni UNEJ yang kini tempuh S-2 di Universitas Muhammadiah Malang ini yang punya viewers jutaan ini.

Yang menarik peserta untuk buka aplikasi spotify dan praktek siaran yang langsung didengarkan seantero. " jadi saya bisa hari ini punya 4-5 channel radio tanpa beli pemancar, tanpa buat studio standar, tanpa ijin serta bisa beriklan profesional dan ILM! " ungkapnya sambil senyum.

Pimpinan Bisma FM  Hariyanto persilahkan kru nambah penghasilan dan memperluas jejaring untuk nambah rejeki. Mesti ikuti jaman dan banyak pilihan sistem aplikasi termasuk streaming via fb atau tiktok dan youtube.

Pelatihan ditandai juga Ketua JRKBB Bambang Irawan menyerahkan sertifikat buat narasumber dan buat kader kartu pers JRKBB serta dipungkasi doa oleh pengusaha lontong lepet dan juragan pisang Ki Sukirman dari Radio Krisna FM Wongsorejo. (Yeti Chotimah/Haderi) 

Hadi Purwanto di Studio Rekaman BISMA FM


 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger