Pages

Jalur Langit ke Banyuwangi

 Jalur Langit ke Banyuwangi 

Oleh: Syafaat 


Ketika dia pertama kali datang ke Banyuwangi, ia merasa seperti sedang diturunkan dari langit ke hutan yang tidak bernama. Di terminal Sri Tanjung Ketapang, dia berhenti. Dunia berhenti. Pandangannya pun ikut berhenti. Semua yang dia tahu tentang kota ini adalah sunyi panjang jalan, pepohonan, dan aroma tanah basah yang belum dijamah lampu malam.

Dia naik bus jurusan Tegaldlimo. Bus itu lambat, tua, dan seperti baru bangun dari tidur panjang. Jendela-jendelanya berkeringat. Jalanan yang dilalui meliuk seperti ular tua yang sedang merayap di antara akar-akar Baluran dan Grajagan. Dari balik kaca, ia menyaksikan pohon-pohon yang tidak pernah bisa ia beri nama, tumbuh di kedua sisi jalan, seolah menyimpan rahasia masa lalu yang tak pernah selesai. Di benaknya, Banyuwangi adalah ujung, bukan lintasan. Ia membayangkan dunia berhenti di sana. Tempat tugasnya, Tegaldlimo, seperti titik kecil yang hanya bisa dijangkau dengan izin para pohon jati. Ia merasa dikirim ke tempat yang dipilih oleh sunyi dan dijaga oleh hutan.

Setiap kali hendak ke pusat kota, ia harus melalui hutan Curahjati yang panjang dan malas menjawab. Bayangannya tentang Tegaldlimo dan Banyuwangi kian gelap. Ia mengira semua orang di sana hidup dalam ritme sunyi, bicara pada angin, dan menanak hari dengan sabar.


Namun dunia memiliki caranya sendiri untuk mengejutkan manusia yang terlalu yakin. Suatu hari, mungkin karena bosan, atau mungkin karena hati kecilnya membisikkan, "Cobalah sedikit tersesat," ia menyalakan motornya dan melaju tanpa rencana. Jalan yang ia ambil ternyata menuju Muncar. Jalur itu padat, ramai, hidup. Orang-orang lalu-lalang, truk kontainer mengangkut beban laut, pabrik-pabrik pengolahan ikan berdiri tanpa malu. Udara berbau asin, tapi hangat oleh kehidupan. Di sana, ia melihat pelabuhan penangkapan ikan terbesar di Banyuwangi. Dan ia terdiam.

“Ternyata ada dunia di sisi lain,” gumamnya. Bukan pada siapa-siapa, hanya pada dirinya sendiri. Ia teruskan perjalanan dari Muncar ke Srono, lalu ke kota. Jalan-jalan itu, tidak seperti yang selama ini ia takuti. Tidak ada pohon-pohon gelap yang menutup langit, tidak ada kesunyian yang menetes dari langit-langit daun. Di situ, ia melihat pasar, sekolah, kantor, toko bahan bangunan, dan orang-orang yang membunyikan klakson seperti ingin mengucapkan selamat datang.

Saat itulah ia sadar: bukan Banyuwangi yang terpencil, melainkan pikirannya sendiri. Ia selama ini hidup dalam jalur yang dipilih oleh rasa takut. Jalur yang hanya bisa diterima oleh orang yang tak bertanya. Padahal Banyuwangi bukanlah satu jalan, melainkan percabangan ratusan rute yang masing-masing punya terang dan bunyinya sendiri. Ada jalur Pantura yang sunyi, ada hutan jati yang bersahabat dengan waktu, tapi juga ada jalur selatan yang ramai dan sibuk seperti kota-kota besar lain di Jawa. Dan ia tertawa pada dirinya sendiri. Tertawa kecil yang terdengar seperti permintaan maaf. Kepada siapa? Kepada jalan-jalan yang selama ini ia hindari. Kepada kota yang ia anggap terpencil. Kepada orang-orang yang ia kira tinggal di balik semak dan sunyi.

Ketika ia kembali ke kampung halamannya, ia bercerita. Tapi tidak dengan kata-kata yang biasa. Ia bercerita seperti orang yang baru pulang dari dalam dirinya sendiri. Ia bercerita tentang hutan, ya, tapi juga tentang pelabuhan. Tentang sunyi, tapi juga tentang hiruk-pikuk yang mengejutkan. Tentang jalur yang menanjak ke Gumitiri, dan tentang jalan berkelok ke Muncar yang membuka matanya. Ia pernah menuduh Banyuwangi sebagai wilayah terpencil, padahal sebenarnya ia hanya belum menempuh cukup jauh. Ia belum tersesat ke arah yang benar.

Sekarang, jika ditanya bagaimana cara menuju Banyuwangi dari arah barat, ia tak lagi menyebut Pantura. Ia akan bicara tentang jalan Gumitir. Tentang kabut pagi yang turun seperti jubah. Tentang gunung dan langit yang bersekutu menciptakan rasa takjub. Tentang perjalanan yang tidak menakutkan, melainkan menyembuhkan. Dan dari situ kita tahu: kadang-kadang, satu-satunya cara untuk melihat kota dengan jujur adalah menempuh jalan yang tidak biasa. Menyusuri sisi-sisi yang tak terduga. Menyapa tempat bukan dengan peta, tapi dengan rasa ingin tahu. Karena yang terpencil sebenarnya bukan kota itu. Yang terpencil adalah pikiran yang tak mau berjalan lebih jauh.


Setiap kota punya banyak jalan menuju dirinya. Tapi tidak semua orang memilih jalan yang sama. Sebagian besar orang akan memilih jalur yang lebih sering disebut dalam percakapan: Pantura atau Gumitir. Karena di sanalah peta terasa paling masuk akal. Tapi tidak semua perjalanan ingin masuk akal. Ada juga yang ingin masuk rasa.

Saya pernah bertemu seseorang yang memilih jalur tengah menuju Banyuwangi. Bukan karena dia punya keberanian lebih, melainkan karena kebetulan. Kadang hidup tidak memberi kita pilihan, hanya memberi kita jalan, lalu berkata: “Cobalah lewat sini.” Jalur tengah itu—melalui Gunung Ijen dan Bondowoso, bukan sekadar jalan, melainkan lintasan sabar. Jalan yang dipeluk jurang dan dipagut tikungan. Jalan yang kalau malam tak sekadar gelap, tapi seperti ditutup doa agar tak sembarang kendaraan lewat.

Di satu titik, orang-orang menyebutnya “Erek-erek.” Nama yang terdengar main-main, tapi tidak main-main menanjaknya. Jika mobilmu punya mesin yang tidak percaya diri, ia akan berhenti di tengah tanjakan, mengeluh, dan meminta waktu. Dan kalau kau memakai sepeda motor matic, barangkali kau sedang berdoa sambil mengendarai. Karena turunan di sana seperti pertanyaan hidup yang terlalu curam: kau bisa menolak meluncur, tapi tak bisa menolak meluncur perlahan. Kau harus tahu kapan mengerem, kapan membiarkan motor ikut gravitasi. Jangan terlalu percaya pada rem. Mereka bisa lelah. Mereka bisa meleleh. Jalan ini, kata teman saya, seperti pasangan lama yang tidak bisa kau paksa berjalan cepat. Ia harus diajak bicara baik-baik. Tapi seperti hidup juga, jika satu jalan membuatmu gemetar, ada jalan lain yang menawarkan tenang. Dan jalan itu adalah rel kereta api.

Kereta dari Banyuwangi menuju Jember tidak menawarkan kecepatan, tapi ketepatan. Ia tidak peduli pada kemacetan atau antrian truk di tanjakan. Ia melenggang dalam irama sendiri. Ia masuk ke perut gunung melalui terowongan peninggalan Belanda, terowongan yang panjangnya hampir satu kilometer, gelap dan dingin, seperti menembus masa lalu. Di dalam terowongan itu, semua cahaya ditelan. Tapi begitu keluar, pemandangan yang dijanjikan tidak akan membuatmu menyesal: kebun kopi yang tertib, hutan yang bicara dengan angin, dan langit yang membuka tirai perlahan. Kalau kau naik kereta di siang hari, kau bisa melihat semuanya. Tapi kalau malam, ya sudah, gelap lagi. Tapi gelap yang tidak menakutkan. Gelap yang menerima.

Dan jalan ini, rel ini, punya aturan sendiri: kendaraan lain harus berhenti saat dia lewat. Kereta tidak menoleh. Ia tidak bisa berhenti mendadak hanya karena ada sepeda motor nekat di perlintasan. Rel adalah garis lurus yang memaksa semua orang menghormatinya. Dan mungkin itu sebabnya orang menyukainya, kereta tidak minta dimengerti, hanya minta diberi ruang.

Tapi Banyuwangi bukan hanya bisa dicapai dari barat. Dari timur, ia berbatasan langsung dengan laut. Selat Bali adalah gerbang air yang memisahkan dua dunia: Jawa dan Bali. Dan siapa pun yang ingin menuju Banyuwangi dari timur, harus menyeberang melalui pelabuhan Ketapang. Jalur laut ini adalah jalur yang tenang, jika laut sedang ingin tenang. Tapi ketika ombak menggelar amarahnya, Ketapang berubah jadi halaman depan dari antrean tak berkesudahan. Truk, mobil, pejalan kaki, semuanya mengendap pelan menunggu giliran. Bukan karena kesalahan siapa-siapa. Laut tidak salah, hanya sedang tidak ingin dilalui. Kadang orang-orang dari Jawa tengah atau barat, ingin ke Bali, harus menunggu di ujung pulau ini. Dan jika pelabuhan Ketapang terhambat, yang macet bukan hanya Banyuwangi, tapi juga punggung Jawa yang tak sabar menyeberang.

Di tengah-tengah semua itu, Banyuwangi berdiri seperti orang tua yang bijak. Ia menerima siapa pun yang datang dari mana pun: dari jalan curam di Gunung Ijen, dari lekuk Gumitir, dari keramaian Pantura, dari pelabuhan Ketapang, atau dari rel sunyi yang membelah hutan dan gunung. Banyuwangi adalah tempat yang tidak keberatan dijangkau dengan pelan, karena ia tahu: keindahan tidak datang dari kecepatan. Kau bisa datang dengan tergesa, tapi kota ini akan tetap lambat. Jalan-jalannya akan tetap melingkar. Tikungan-tikungannya akan tetap sabar.

Dan kau akan sadar, seperti teman saya itu, bahwa sesungguhnya kita tidak sedang menempuh jalan ke Banyuwangi. Kita sedang menempuh jalan menuju diri sendiri.

Ada masa-masa ketika Banyuwangi seperti ditarik dari dunia. Bukan karena ia marah. Bukan karena ia memilih mengasingkan diri. Tapi karena laut dan gunung sedang bersamaan bicara dengan bahasa yang tak mudah dimengerti manusia.

Beberapa hari lalu, sebuah perahu tenggelam di Selat Bali. Laut memeluknya dengan gelombang yang tinggi, seperti mengingatkan bahwa tak semua yang ringan boleh melintas seenaknya. Lalu pelabuhan Ketapang-Gilimanuk mengambil jeda. Bukan berhenti total, hanya menahan napas. Kapal-kapal yang tubuhnya dirasa lelah dan kurang layak, diminta istirahat. Hanya segelintir yang diizinkan membelah selat. Dan di daratan, kendaraan-kendaraan menumpuk. Di barisan panjang yang makin panjang. Di jalanan yang awalnya hanya ingin dilewati dalam satu-dua jam, kini berubah menjadi tempat menginap. Ada truk-truk yang sopirnya sudah terbiasa tidur dalam kabin. Tapi tetap saja, tidur di bawah terik dan di sela deru mesin bukanlah tidur yang sungguh-sungguh.

Antrian kendaraan melilit dari Ketapang hingga ke batas-batas hutan Baluran. Bayangkan, satu jalan penuh truk, mobil pribadi, motor-motor yang bosan berdiri, dan orang-orang yang menggerutu dalam diam. Dan semua ini terjadi karena laut sedang tidak ingin terburu-buru.

Lalu orang-orang berkata, “Lewat selatan saja, lewat Gumitir.”

Tapi Gumitir pun tidak bersedia. Di sana, tanah mengalah. Tebing longsor. Jalan amblas. Lalu lintas disetop. Jalan ditutup total, hanya bisa dibuka untuk suara-suara mesin alat berat yang mencoba memperbaiki luka gunung. Jalur perkebunan dibuka sebagai alternatif. Tapi hanya untuk roda dua. Itu pun hanya sampai jam empat sore, karena setelah itu, gelap dan sunyi punya aturannya sendiri di ladang kopi dan pohon-pohon cengkeh. Maka semua lalu lintas yang tadinya bisa memilih: lewat selatan, lewat tengah, atau lewat laut, kini bertumpuk di satu arah: jalur utara. Tapi jalur utara bukan ruang kosong. Ia sedang penuh. Ia sedang sesak. Dan jalan darat ke Banyuwangi nyaris seperti puzzle yang tak ada celah kosongnya.

Kini orang-orang menatap rel kereta. Satu-satunya jalur yang masih sabar dan bisa diandalkan. Tapi tidak semua barang bisa masuk ke perut kereta api. Sayuran tidak bisa lama-lama menunggu. Ikan segar tidak bisa bertahan dengan sabar. Bensin tidak bisa menunggu antrean. Solar tidak bisa menunggu berita. Dan manusia tidak bisa hidup hanya dengan berharap.

Tanah Banyuwangi adalah tanah yang subur. Ia bisa menumbuhkan hampir segalanya: padi, cabai, tomat, jagung, jeruk, buah naga, dan harapan. Tapi untuk bisa menjangkau keluar, hasil bumi ini butuh jalan. Butuh pelabuhan. Butuh keran distribusi. Tanpa itu, tanah yang subur hanya akan menjadi cerita yang tidak bisa disampaikan.

Pelabuhan Ketapang bukan hanya gerbang ke Bali. Ia adalah pusat nadi logistik. Di situlah minyak diturunkan, solar disalurkan, dan kota-kota di seberang diberi napas. Kini, dengan pelabuhan yang terseok, dengan jalur darat yang sempit, dan dengan jalur selatan yang terputus, Banyuwangi seperti seorang petani yang ingin bicara, tapi pita suaranya dirajam oleh kabut. Lalu kita bertanya: bagaimana dua bulan ke depan ini? Dua bulan yang harus dijalani dengan separuh tubuh terpotong dari dunia. Dua bulan dengan jalan yang hanya bisa dilalui kereta api dan kesabaran. Dua bulan di mana truk-truk logistik harus menunggu di tengah langit yang panas dan malam yang lama.

Kita tahu, waktu adalah penyembuh. Tapi bagaimana jika waktu juga datang sambil membawa antrean panjang dan kabar-kabar tentang barang yang tertahan? Sungguh, Banyuwangi sedang belajar menahan diri. Ia tidak marah, hanya sedang diam. Dan diam, kadang-kadang, adalah cara paling jujur untuk mengatakan: “Aku sedang tidak bisa menyambutmu sekarang.”

Langit Banyuwangi kini tidak lagi sunyi. Pesawat-pesawat telah datang dan pergi seperti burung-burung besar yang sudah diajari waktu. Dari Jakarta ke Banyuwangi kini tak lebih dari dua jam, bahkan kadang tak sampai. Seolah-olah kita hanya memejam sebentar dan tahu-tahu sudah sampai di kaki Gunung Ijen, di antara kabut pagi dan bau tanah yang baru disiram hujan.

Dulu, untuk ke Banyuwangi, orang menghitung waktu dalam hari. Sekarang cukup dalam jam. Bahkan menit. Orang-orang yang biasa mendengar nama Banyuwangi dengan samar, kini mulai mengucapkannya dengan jelas. Karena bandara telah dibuka. Karena langit telah dijadikan pintu masuk. Tapi tidak semua bisa naik langit. Tidak semua bisa mengangkut rezeki dengan pesawat.

Tidak ada petani buah naga yang mampu mengirim hasil panennya yang berton-ton ke Jakarta lewat udara. Tidak ada nelayan yang membawa ikan asin ke Cengkareng dengan harapan aroma asin itu bisa dikemas dalam kargo pesawat. Biayanya tidak masuk akal. Ikan asin tidak dibuat untuk kelas bisnis. Ia dibungkus koran bekas, naik truk, dan menunggu di antrean pelabuhan atau di tikungan Gumitir yang sabar. Saya tidak pernah melihat ekspedisi hasil laut dari Pelabuhan Muncar yang diberangkatkan lewat Bandara Blimbingsari. Mungkin karena langit terlalu mahal untuk hasil bumi. Terlalu bersih untuk sesuatu yang berbau tanah dan asin. Maka langit memang untuk manusia, bukan untuk barang. Dan itu membuat saya berpikir: bagaimana mungkin satu-satunya jalan yang tidak macet di Banyuwangi hanyalah langit?

Saya pernah bermimpi suatu hari akan ada jalan darat yang tak lagi harus bersahabat dengan tikungan maut dan lereng yang mudah longsor. Saya membayangkan terowongan. Jalan yang tidak memanjat gunung, tapi menembusnya. Jalan yang seperti yang dilakukan Belanda dahulu, terowongan kereta api di perut Gumitir yang sampai hari ini masih kokoh, diam, dan setia. Jalan yang tidak menunggu hujan untuk longsor atau matahari untuk kering. Tapi sepertinya mimpi itu terlalu mahal. Terowongan di Arab Saudi bisa menembus batu. Di sini, tanah lunak saja belum bisa. Di sini, mimpi masih harus antre seperti kendaraan di Ketapang saat kapal lambat berlayar. Di sini, impian dianggap proyek yang terlalu panjang untuk diingat pemerintah.

Kita sering iri pada negara yang bisa membelah gunung seperti memotong kue. Tapi kadang kita terlalu cepat menyerah pada gagasan bahwa gunung kita terlalu tinggi, bahwa biaya terlalu besar, bahwa tanah terlalu lembut, dan bahwa semuanya terlalu rumit untuk disederhanakan. Maka begitulah Banyuwangi hari ini. Kita masih harus sabar di tikungan. Masih harus mendengarkan berita longsor sebelum berangkat. Masih harus membawa doa sebanyak bensin dalam tangki. Masih harus berharap langit tidak mendung agar pesawat tak tertunda. Sementara itu, kita hidup di tanah yang begitu subur. Tanah yang bisa tumbuh apa saja, kecuali mungkin: kepastian. Tapi kita tetap berjalan. Kita tetap berangkat. Karena kita tahu, jalan bukan hanya soal aspal dan batu. Jalan adalah keinginan untuk sampai. Jalan adalah keyakinan bahwa rezeki selalu menemukan jalannya, meski melalui kabut, kerikil, bahkan bencana. Dan memang, rezeki tidak selalu datang dari orang yang sedang tertawa. Kadang ia datang dari orang yang sedang menangis. Dari kecelakaan, dari luka, dari musibah yang kita doakan tak terjadi, tapi tetap saja datang. Rezeki tidak selalu harum. Ia kadang datang dari tempat yang basah dan berbau tajam. Tapi tetap saja ia datang.

Maka untuk sementara ini, kita nikmati saja yang ada. Kita hirup udara pagi yang masih gratis. Kita tatap langit biru yang tidak mengenal antrean. Kita pelihara sabar seperti kita merawat tanaman: perlahan, rutin, dan dengan keyakinan bahwa sesuatu pasti akan tumbuh dari tanah ini. Banyuwangi adalah rumah yang jalannya belum semuanya terbuka. Tapi selama masih ada yang ingin datang, dan selama kita masih ingin menyambut, rumah ini tak pernah benar-benar tertutup. 

Ditulis ketika jalan Gumitir di tutup 25-07-3025

Penyuluh Agama Islam Dilatih Media Digital dan Pembuatan Film Pendek: Dakwah Tak Lagi di Mimbar Saja

 


BANYUWANGI (Warta Blambangan) Kamis siang itu, aula Ma’had MTsN 1 Banyuwangi berubah menjadi ruang belajar yang tak biasa. Di dalamnya, puluhan penyuluh agama Islam dari berbagai KUA Kecamatan duduk bersisian dengan laptop dan gawai di depan mereka. Tidak ada kitab tebal yang dibuka atau lembaran-lembaran teks dakwah yang dibagikan seperti biasanya. Kali ini, yang mereka pelajari adalah bagaimana menyampaikan pesan agama melalui layar — bukan mimbar. 


Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menggelar Pelatihan Media Digital dan Pembuatan Film Pendek, sebuah program yang dirancang untuk membekali para penyuluh agama dengan keterampilan komunikasi digital. Tujuannya sederhana tapi revolusioner: dakwah harus ikut bermigrasi, dari corong masjid ke layar ponsel.

Adalah Nur Ahmadi Indartono yang menjadi narasumber utama dalam pelatihan ini. Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Komputer (STIKOM) Banyuwangi dan sekaligus anggota Dewan Kesenian Blambangan ini datang tak hanya membawa teori, tetapi juga pengalaman artistik dan ide-ide segar. Di hadapan para penyuluh, ia memutar potongan film pendek garapannya yang memuat pesan toleransi dan moderasi beragama.

“Penyuluh agama sekarang ini harus berpikir sebagai kreator. Dakwah itu tidak hanya ceramah. Dakwah bisa jadi film pendek, bisa jadi konten TikTok, bisa jadi infografis. Audiens kita sudah berubah, maka cara menyapanya juga harus berubah,” kata Nur Ahmadi yang disambut anggukan setuju peserta.

Bukan sekadar teori, para peserta diajak praktik langsung membuat skenario film, merancang adegan, hingga menyusun storyboard sederhana. Beberapa peserta tampak antusias mendiskusikan ide film bertema kehidupan desa, isu sosial keagamaan, hingga kisah-kisah inspiratif dari lapangan dakwah mereka sendiri.

Kepala Seksi Bimas Islam, H. Mastur, membuka acara dengan nada optimisme. Dalam sambutannya, ia menyatakan bahwa pelatihan ini adalah bagian dari langkah strategis menghadapi perubahan zaman.

“Kita ingin setiap KUA punya tim kreator. Jadi ketika ada kegiatan, tidak hanya ditulis dalam laporan, tapi juga bisa didokumentasikan dalam bentuk video yang informatif dan inspiratif,” ujar Mastur.

Ia menambahkan bahwa penyuluhan keagamaan akan lebih efektif jika dibungkus dalam format yang digemari generasi muda. “Film pendek itu bisa menyentuh lebih dalam. Anak-anak muda sekarang lebih banyak melihat layar daripada mendengar ceramah. Maka kita harus hadir di layar mereka,” imbuhnya.

Pelatihan ini menjadi bagian dari arus besar transformasi digital yang diusung Kementerian Agama. Di tengah masyarakat yang makin terhubung lewat internet dan media sosial, penyuluh agama kini didorong untuk menjadi content creator—pencipta narasi keagamaan yang inklusif, moderat, dan menarik.

Bagi para peserta, pelatihan ini menjadi momen penting yang membuka perspektif baru. Seorang penyuluh dari Kecamatan Pesanggaran, misalnya, mengaku sudah lama ingin membuat video kisah mualaf binaannya, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. “Sekarang saya jadi punya bayangan. Ternyata tidak serumit yang saya pikir,” katanya.

Saat pelatihan usai menjelang sore, sebagian peserta masih terlihat berdiskusi kecil sambil mencatat ide-ide baru. Dari balik pintu aula yang mulai ditutup, terdengar potongan percakapan: tentang kamera, tentang pengambilan gambar, dan tentang pesan-pesan agama yang lebih mengena jika dikisahkan dalam bentuk cerita.

Di era digital ini, penyuluh agama tidak lagi hanya berdiri di mimbar. Mereka kini bersiap menulis skenario, menyusun gambar, dan menyuarakan pesan damai dari balik kamera — menyapa umat melalui cahaya layar.

Preservasi Jalan Nasional Alas Gumitir: Jalur Gumitir Ditutup Total Selama Dua Bulan Demi Keselamatan dan Keandalan Infrastruktur

Banyuwangii (Warta Blambangan) Dalam rangka menjaga kesinambungan fungsi dan keamanan infrastruktur jalan nasional, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur–Bali akan melaksanakan penutupan total ruas Jalur Gumitir (KM 233+500) selama dua bulan, terhitung mulai Kamis, 24 Juli 2025 pukul 00.00 WIB hingga Rabu, 24 September 2025 pukul 24.00 WIB. Penutupan ini merupakan bagian dari kegiatan Preservasi Jalan Nasional yang berlokasi di kawasan Alas Gumitir, Kabupaten Jember.

Kegiatan preservasi ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas, keamanan, dan keberlanjutan jalur strategis nasional yang menghubungkan wilayah timur dan barat Jawa Timur. Jalur Gumitir merupakan koridor vital yang dilalui ribuan kendaraan setiap harinya, sehingga pemeliharaan berkala dengan pendekatan teknis yang komprehensif menjadi sangat krusial. 


Adapun ruang lingkup pekerjaan yang akan dilakukan meliputi:

  1. Penanganan longsor di beberapa titik rawan pergerakan tanah, sebagai respons terhadap tingginya kerentanan geologis kawasan pegunungan Alas Gumitir.

  2. Perkuatan lereng dengan menggunakan metode bored pile pada 55 titik, dengan total panjang mencapai 115 meter. Metode ini dipilih karena terbukti efektif dalam menstabilisasi struktur tanah di lereng curam yang memiliki potensi longsor tinggi.

  3. Perbaikan geometri jalan, termasuk penyesuaian elevasi dan perataan lintasan, guna meningkatkan keselamatan berkendara, memperbaiki visibilitas pandangan, serta mendukung efisiensi arus lalu lintas.

Keputusan penutupan total ini tidak diambil secara sembarangan. Mengingat medan sempit dan kontur ekstrem Jalur Gumitir, pelaksanaan pekerjaan yang melibatkan alat berat dalam skala besar sangat berisiko apabila dilakukan bersamaan dengan lalu lintas umum. Oleh karena itu, penutupan penuh dipandang sebagai opsi paling aman dan rasional, demi melindungi keselamatan pengguna jalan maupun tenaga teknis di lapangan.

BBPJN Jawa Timur–Bali juga telah menyiapkan rute alternatif serta informasi pengalihan arus lalu lintas yang dapat diakses melalui infografis resmi dan kanal media sosial BBPJN. Koordinasi dengan instansi terkait, seperti Dinas Perhubungan dan kepolisian, terus dilakukan guna memastikan kelancaran arus lalu lintas selama masa pekerjaan berlangsung. 


Masyarakat pengguna jalan diimbau untuk merencanakan perjalanan lebih awal, mengikuti petunjuk pengalihan arus, serta mengutamakan keselamatan dalam berkendara. Selain itu, BBPJN juga memohon doa dan dukungan publik agar proses preservasi berjalan lancar, tepat waktu, dan memberi manfaat jangka panjang bagi konektivitas wilayah dan perekonomian regional.

Melalui program ini, BBPJN Jawa Timur–Bali menegaskan komitmennya untuk terus MenyambungNegeri, membangun jaringan jalan yang tangguh, aman, dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat.

#

Seorang yang Pernah Membakar Lilin-Lilin Kami

 Seorang yang Pernah Membakar Lilin-Lilin Kami

Pagi itu datang dengan biasa saja. Angin berhembus lembut dari arah selatan, melewati genting-genting tua yang sudah sering mendengar nama disebut tanpa harus memanggil. Kopi di gelas masih beruap, dan orang-orang sibuk membetulkan kerah baju batik mereka. Tapi kami tahu, pagi itu akan berisi sesuatu yang tak akan biasa. Karena yang datang bukan orang sembarangan. Yang datang adalah orang yang pernah menyalakan nyala kecil di kepala kami—dan membiarkannya tumbuh menjadi lentera. 


Namanya Dr. Moh. Amak Burhanuddin. Kini beliau menjabat sebagai Kepala Bidang Pendidikan Agama Islam di Kanwil Kemenag Jawa Timur. Tapi bagi kami, beliau bukan hanya itu. Ia adalah api pertama yang menyalakan kayu-kayu basah kami, saat literasi di tempat ini hanyalah angan di jendela, kabur dan sering kabur pula.

Beliau pernah menjadi Kepala Kemenag Kabupaten Banyuwangi. Saat itu, literasi belum menjadi kata yang sering dilafalkan. Menulis berita kegiatan hanyalah hobi anak-anak jurnalistik sekolah, bukan kerja para guru atau pejabat di KUA. Tapi entah bagaimana, kehadiran beliau mengubah banyak hal.

Pagi itu, dalam kesederhanaan yang senyap, saya memberanikan diri untuk memberikan tiga buku. Dua karya saya sendiri, dan satu karya bersama para guru Madrasah Ibtidaiyah Banyuwangi. Rasanya seperti menyerahkan bunga dari pekarangan sendiri kepada orang yang dahulu menanam benihnya. Aneh. Ada gugup yang tak perlu, tapi ada juga rasa haru yang tak bisa dielakkan.

Saya selalu percaya, bahwa memberi buku kepada orang yang pernah menyalakan semangat kita, adalah cara terbaik untuk berkata: “Terima kasih telah membuat kami percaya bahwa menulis bukan sekadar kegiatan, tapi jalan sunyi menuju makna.”

Karena sejak itu, kami berubah. Kami tak lagi menyimpan kegiatan dalam laci, atau hanya di folder laptop yang jarang dibuka. Kami menulisnya. Mewartakannya. Membagikannya ke publik. Supaya orang lain tahu, bahwa di madrasah-madrasah ini, di kantor-kantor kecil ini, ada kegiatan yang berarti. Ada dedikasi. Ada kehidupan yang pantas disiarkan.

Menulis berita, bagi kami, bukan lagi urusan administrasi. Ia telah menjelma menjadi kesaksian. Karena berita tidak bisa dihapus. Ia lahir dari waktu dan akan terus membawa waktu di tubuhnya. Tak seperti foto yang sering berdusta tentang kapan ia diambil. Berita mencatat tanggal, jam, bahkan detik. Dan dari sana, kehadiran kita akan selalu bisa ditemukan kembali.

Beliau, Dr. Amak Burhanuddin, bukan hanya memberi motivasi. Ia memberi arah. Memberi contoh bahwa di tengah kesibukan sebagai kepala kantor, ia bisa menyelesaikan studi doktoralnya. Dan lucunya, penerus beliau juga menyelesaikan program doktor saat bertugas di Banyuwangi. Seolah ada sesuatu di kota ini yang membuat orang ingin belajar lebih dalam, menulis lebih jauh, dan mengakar lebih kuat.

Saya sering berpikir, mungkin tanah ini mengandung sesuatu yang menyuburkan ilmu. Atau mungkin, udara di sini membawa bisik-bisik dari masa lalu. Dari zaman di mana sastra bukan sekadar milik penyair. Karena sejarah mencatat, di tahun 60-an, syair legendaris Sholawat Badar ditulis di kota ini oleh K.H. Ali Manshur, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Kemenag Banyuwangi.

Jadi kalau hari ini para kepala kantor, para kepala seksi, para guru madrasah di Banyuwangi menulis puisi, merangkai berita, menyusun buku antologi, atau sekadar menorehkan kisah kegiatan ke dalam catatan publik, itu bukan sesuatu yang tiba-tiba. Kita hanya sedang membuka kembali jejak yang sudah lebih dulu ditorehkan oleh mereka yang mendahului.

Sastra, di lingkungan Kementerian Agama, bukan barang baru. Ia telah lama ada. Mungkin tersembunyi di balik rapat-rapat serius, mungkin tertidur di laci-laci penuh berkas. Tapi ia selalu menunggu untuk dibangunkan. Dan ketika seseorang datang, mengetuk, dan berkata: “Ayo kita mulai menulis,” maka pintu-pintu itu pun terbuka.

Saya selalu suka membayangkan bahwa buku-buku yang hari ini saya serahkan kepada beliau, akan beliau letakkan di rak kecil di rumahnya. Atau mungkin akan beliau baca diam-diam di sela perjalanan dinasnya. Dan mungkin, suatu saat nanti, ia akan tersenyum sendiri lalu berkata, “Mereka tetap menulis. Api itu tak padam.”

Dan saya akan terus menulis. Karena saya tahu, setiap kalimat yang terbit adalah bentuk penghormatan kepada orang-orang yang pernah percaya pada saya, bahkan sebelum saya sendiri percaya.


Ketegangan Warnai Malam Ucapan Selamat Pelantikan Pengurus PGRI Banyuwangi

Banyuwangi, (Warta Blambangan)  Suasana di Kantor Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Banyuwangi, Jalan Ahmad Yani, sedikit memanas pada Sabtu malam. Setelah siang harinya berlangsung pelantikan kepengurusan PGRI versi Ahmad Sodiq, malam harinya muncul ketegangan terkait pemasangan banner ucapan selamat dari pengurus PGRI yang masih mengacu pada Surat Keputusan (SK) sebelumnya, dengan ketua Sudarman.

Peristiwa ini terjadi di lantai atas kantor PGRI. Banner ucapan selamat kepada pengurus baru yang baru saja dilantik pada siang harinya, tertutup oleh banner kegiatan yang dipasang oleh tim pengurus PGRI di bawah kepemimpinan Sudarman. Hal ini menimbulkan ketegangan, karena dua orang dari pihak pengurus baru datang dan menyatakan keberatan atas pemasangan banner tersebut. 


Mereka menilai bahwa penutupan banner pelantikan yang baru berlangsung beberapa jam sebelumnya merupakan bentuk tidak menghormati proses pelantikan dan pengakuan pengurus yang sah. Namun, menurut pihak pengurus lama, pemasangan banner malam itu murni sebagai ucapan selamat dan bagian dari kegiatan internal organisasi.

“Saya terbuka dan bersedia mengundurkan diri secara terhormat apabila memang terbukti bersalah dalam menjalankan roda organisasi,” ujar Sudarman dengan nada tenang kepada media yang hadir. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki niat konfrontatif dan selalu mengedepankan musyawarah mufakat dalam menyikapi dinamika internal PGRI.

“Namun hingga malam ini, seluruh pengurus yang selama ini bersama saya tetap solid dan mendukung saya untuk menuntaskan masa jabatan hingga 2029 sesuai SK yang masih berlaku,” tambah Sudarman. 


Meskipun sempat terjadi ketegangan, situasi malam itu tidak berkembang menjadi insiden fisik. Kedua belah pihak memilih untuk menahan diri, dan sejumlah tokoh pendidikan yang hadir turut mengimbau agar perbedaan pandangan diselesaikan secara organisasi dan sesuai mekanisme yang ada.

Peristiwa ini menjadi sorotan di tengah dinamika internal PGRI Kabupaten Banyuwangi. Sebagian guru berharap agar kedua belah pihak dapat menempuh jalan damai dan menomorsatukan kepentingan pendidikan di atas ego kelompok.

Sampai berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Ahmad Sodiq selaku pengurus baru terkait insiden malam itu. Namun, sejumlah sumber menyebut bahwa komunikasi antar pihak masih terus diupayakan demi menjaga marwah organisasi guru terbesar di tanah air ini.

Jalur Cinta yang Tak Bisa Terulang

 *Jalur Cinta yang Tak Bisa Terulang*



Sore itu selepas kerja aku membawva cinta dalam kardus kecil. Ia mengeong pelan, seperti tahu bahwa ia akan diserahkan kepada tangan lain yang lebih lembut daripada tanganku: tangan anak perempuanku, belahan jiwaku, amanah terbesar dalam hidupku.

Dia, anakku, kini berada di semester terakhir kuliahnya. Usianya telah menginjak dewasa, tapi dalam benakku, ia masih bocah kecil yang dulu sering memelukku saat takut petir, tidak dapat tidur sebelum kupeluk erat-erat, Kulitnya bersih seperti lembaran pagi pertama di musim semi. Wajahnya membawa cahaya, dan setiap kali ia tersenyum, dunia seperti menunduk hormat. Sebagai ayah, aku tahu: kelak ia akan pergi. Bukan karena ia tidak cinta, tapi karena cinta yang lain akan menjemputnya, dan aku harus rela berdiri di tepi peron kehidupannya, melambaikan tangan kepada kereta yang tak lagi kutumpangi.

Tapi malam ini aku masih punya alasan untuk mendekap sebentar waktu bersamanya. Kucing kecil ini, kesayangannya, harus aku antarkan. Dan cinta seorang ayah, tak pernah bertanya "kenapa" atau "kenapa harus aku". Ia hanya berjalan, bahkan ketika jalannya gerimis, bahkan ketika tubuh lelah dan jarak jauh. Aku tak bisa membawa kucing ini naik kereta, kereta tidak menerima binatang piaraan. Maka aku memilih motor. Setia seperti rindu, motor tua itu kupacu menembus jalanan yang mula-mula hanya dipeluk gerimis, namun perlahan dibalut hujan. Gerimis itu seperti kesedihan kecil yang datang tanpa alasan. Tapi hujan, ia seperti air mata yang telah menumpuk dan tak sanggup ditahan. Dan malam itu, aku diguyur oleh keduanya oleh hujan dan oleh kenangan.

Aku membayangkan makan malam di alun-alun. Duduk berdua, membicarakan hal-hal remeh yang tidak akan pernah aku anggap remeh. Tapi hujan membuat semuanya harus ditunda. Begitulah hidup: ia tak pernah selesai sesuai rencana, tapi tetap harus dijalani. Aku tiba di tempat anakku pukul setengah delapan malam. Hanya ada waktu satu setengah jam sebelum kereta membawaku kembali ke Banyuwangi. Dan dalam waktu yang sempit itu, tidak ada yang bisa kulakukan kecuali menatap wajah cantik anakku, dan mendengar suaranya seperti doa yang dibacakan pelan-pelan. Kami menuju stasiun. Ia mengantarku, berjalan di sampingku, seperti dulu ia berjalan menggandeng tanganku saat belum tahu arah mata angin. Tapi kini ia tahu ke mana ia melangkah. Dan aku hanya bisa berharap, langkahnya selalu baik, selalu disertai langit yang cerah.

Stasiun ramai tapi sunyi. Orang-orang saling menunggu, saling meninggalkan. Di sana, kereta ekonomi jurusan Malang–Banyuwangi telah bersiap. Dari manapun penumpang naik, harga tiketnya sama. Seperti hidup, yang kadang tidak adil dalam logikanya, tapi adil dalam ketetapannya. Aku teringat: bahkan jika aku naik dari Jember, biayanya sama dengan yang naik dari Malang. Begitulah hidup memperlakukan kita, kadang kita merasa terlambat datang, tapi tetap harus membayar utuh. Dan kita tidak punya pilihan selain menerima, atau turun dari perjalanan.

Kereta itu indah. Ia punya jalur sendiri. Tak ada yang bisa melintasi selain dirinya sendiri .Jika ada yang menghalangi, ia akan melindas. Tak peduli siapa. Karena kereta diciptakan bukan untuk berhenti demi hal-hal kecil. Ia berjalan teguh, dengan tujuan yang pasti. Dan siapa pun yang mencoba menghentikannya, akan ditinggal, atau terluka. Dan aku berpikir, begitulah cinta seorang ayah. Ia berjalan di jalurnya sendiri. Ia tak bisa dihentikan oleh lelah, oleh jarak, bahkan oleh perpisahan. Cinta itu tidak menuntut dibalas. Ia hanya ingin anaknya bahagia, meski harus melambaikan tangan di balik kaca gerbong.

Aku naik ke kereta, sementara anakku berdiri di luar. Hujan masih menetes dari sayap stasiun, seakan langit pun ikut bersedih karena waktu kami terlalu singkat. Tapi aku tersenyum, dan ia tersenyum.

"Jaga kucingnya baik-baik," kataku.

"Selalu," jawabnya.

Kereta pun melaju. Aku tak menoleh lagi. Karena aku tahu, kenangan tak butuh ditatap dua kali untuk hidup selamanya. Ia akan tinggal di rel hati, berjalan pelan, dan suatu hari, akan berhenti di stasiun rindu yang sama, ketika semua telah tua, dan cinta telah mengendap jadi doa yang tak pernah habis.

Dan malam itu, aku tahu satu hal: seorang ayah tidak pernah benar-benar pulang. Ia hanya berpindah, dari rumah ke dalam hati anaknya.

Stasiun Jember, 14-07-2025

Ngelukat di Banyuwangi

 *Ngelukat*

Saya tidak sedang ingin menulis tentang budaya. Tapi setiap kali kata “ngelukat” muncul, saya teringat air. Dan air adalah hal paling jujur di dunia ini. Di kalangan masyarakat Osing Banyuwangi, ngelukat berarti menyucikan diri. Konon berasal dari ajaran Hindu. Tapi saya tidak tertarik dari mana asalnya. Saya lebih tertarik pada bagaimana sebuah tradisi bisa tetap hidup meski tak ada yang benar-benar mengerti maknanya secara utuh.

Saya pernah diajak ngelukat. Diajak begitu saja. Tidak ada upacara. Tidak ada bendera. Tidak ada juru foto. Hanya saya, tubuh saya, dan seember air pancuran pegunungan yang dinginnya terasa seperti sisa kutukan dari masa lalu. Saya tidak tahu apakah air itu suci, tapi saya percaya air tidak pernah punya niat buruk. Saya diam, lalu menyiramkan air ke kepala. Seperti orang yang ingin memaafkan diri sendiri, padahal tahu tidak semua bisa dimaafkan.

Ngelukat, di Banyuwangi, katanya bagian dari warisan budaya Osing. Tapi Banyuwangi itu sendiri adalah perpaduan yang terlalu jujur antara nuansa Islam, Hindu, dan entah apa lagi. Di satu sisi orang membaca shalawat dalam irama Gembrung yang menggetarkan, di sisi lain ada yang duduk di bawah pohon tua, membisikkan doa dalam bahasa Osing atau jawa. Semuanya hidup bersama. Tidak bertengkar. Tidak merasa paling benar. Kadang saya iri pada ketenteraman seperti itu. 

Dalam dunia yang begitu ingin semua dijelaskan, ngelukat adalah pengecualian. Ia tidak butuh kata. Tidak butuh dalil. Bahkan tidak butuh tujuan. Ia hanya berlangsung, seperti angin laut yang tak pernah minta difoto tapi tetap membuat orang merasa damai. Kadang saya berpikir, jangan-jangan ngelukat bukan tentang membersihkan dosa. Tapi tentang menerima bahwa kita tidak akan pernah benar-benar bersih. Dan itu tidak apa-apa.

Di Banyuwangi Ethno Carnival tahun ini, ngelukat dijadikan tema. Orang-orang berdandan. Kostum dibuat dari ide tentang rahim, air ketuban, masa kecil, remaja, dewasa, dan seterusnya. Semua tampak megah. Semua tampak bermakna.

Saya tidak ingin mengecilkan itu. Tapi saya tahu, ngelukat tidak butuh perayaan. Ia hanya butuh kesepian. Ia hanya butuh satu orang yang mau berkata dalam hati: “Saya capek jadi orang yang terus berpura-pura.” Dan air akan datang. Tanpa janji. Tanpa pamit. Tradisi ini tidak butuh panggung. Tapi saya maklum kalau pemerintah perlu membuat tema, perlu mengangkat budaya. Saya tidak sinis. Saya hanya tidak yakin tradisi semacam ini bisa dijelaskan melalui tata rias dan koreografi.

Karena ngelukat sejatinya bukan milik siapa-siapa. Ia milik orang yang pernah seperti ingin bunuh diri tapi kemudian berubah pikiran setelah menyiram muka dengan air pancuran jam tiga pagi. Ia milik perempuan tua yang mencuci kaki anaknya sebelum berangkat kerja. Ia milik siapa saja yang masih percaya bahwa air bukan sekadar basah, tapi mengandung sesuatu yang lebih dalam dari luka.

Saya pernah merasakan air zam-zam di Mekah. Rasanya biasa saja. Tapi saya menangis waktu meminumnya. Bukan karena keajaibannya. Tapi karena saya teringat air itu didapatkan dengan penuh doa dan perjuangan, saya juga teringat pancuran di dusun Bayu, tempat saya pertama kali diajak ngelukat oleh seorang lelaki yang sudah tidak ada.ia bilang: “Air itu tidak menghapus dosa. Tapi bisa mengingatkan kita bahwa kita masih bisa mulai lagi.”

Sejak itu, saya percaya bahwa air bukan benda mati. Air punya cara sendiri untuk berbicara. Ia menyusup ke pori-pori tubuh dan menyampaikan pesan tanpa suara. Kadang pesan itu hanya satu: “Tenanglah sebentar. Kamu tidak harus selalu baik.”

Saya tahu manusia tidak akan pernah sepenuhnya bersih. Bahkan setelah mandi tujuh kali. Bahkan setelah ngelukat di tujuh sumur berbeda. Tapi mungkin kita tidak diminta untuk benar-benar bersih. Kita hanya diminta untuk tidak menyerah.

Dan ngelukat, dalam bentuknya yang paling sunyi, adalah cara untuk tidak menyerah. Cara untuk berkata kepada diri sendiri: “Aku tidak baik. Tapi aku ingin mencoba jadi baik, setidaknya hari ini.”

Saya tidak tahu apakah itu disebut spiritualitas. Tapi saya tahu itu manusiawi. Dan dalam dunia yang terlalu ribut ini, menjadi manusia yang jujur kepada dirinya sendiri sudah lebih dari cukup. 


Kalau kamu ke Banyuwangi, jangan cari tempat ngelukat yang paling ramai. Carilah yang paling sepi. Yang tidak punya plakat. Tidak masuk Instagram. Tidak ada tiket masuk. Datangi pancuran itu. Duduklah. Dengarkan airnya. Jangan bicara. Jangan berharap apa-apa. Lalu basuh wajahmu.

Dan biarkan air berbicara.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger