Pages

Polresta Banyuwangi Implementasikan Program Humanis “Mayur Kamtibmas” sebagai Strategi Pendekatan Sosial dan Edukasi Keamanan

 

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Kepolisian Resor Kota (Polresta) Banyuwangi kembali merealisasikan komitmen institusionalnya dalam memperkuat hubungan sosial dengan masyarakat melalui pelaksanaan program “Mayur Kamtibmas” (Mobil Sayur Keamanan dan Ketertiban Masyarakat). Kegiatan ini diselenggarakan di Dusun Maron, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng, dengan melibatkan kolaborasi multi-stakeholder yang terdiri atas Satuan Pembinaan Masyarakat (Binmas) Polresta Banyuwangi, Polsek Genteng, Pemerintah Desa, serta unsur Bhayangkari.

Program Mayur Kamtibmas merupakan inovasi strategis berbasis pendekatan humanistik yang bertujuan memberikan dukungan sosial berupa distribusi kebutuhan pokok kepada masyarakat kurang mampu, serta menyampaikan edukasi langsung terkait urgensi pemeliharaan keamanan dan ketertiban lingkungan. Pelaksanaan program ini tidak hanya menitikberatkan pada aspek karitatif, tetapi juga sebagai wahana komunikasi dua arah antara aparat penegak hukum dan warga.

Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, personel kepolisian mendistribusikan paket sembako dan sayur kepada warga rentan ekonomi, sembari menyampaikan materi edukatif tentang pentingnya kesadaran hukum dan partisipasi masyarakat dalam menjaga stabilitas sosial. Respons masyarakat menunjukkan apresiasi tinggi terhadap program ini, yang dinilai memberikan manfaat nyata dan meningkatkan rasa dihargai dalam struktur kehidupan sosial. 


Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol. Rama Samtama Putra, S.I.K., M.Si., M.H., dalam pernyataannya menyatakan bahwa program Mayur Kamtibmas merupakan implementasi nyata dari paradigma kepolisian modern yang menempatkan pendekatan humanis sebagai landasan utama dalam membangun kepercayaan publik.

“Program ini tidak sekadar kegiatan bantuan sosial, tetapi juga merupakan instrumen untuk membangun komunikasi dan kolaborasi berkelanjutan antara aparat keamanan dan masyarakat. Keamanan lingkungan tidak bisa hanya dibebankan kepada institusi kepolisian, tetapi merupakan tanggung jawab kolektif,” jelasnya.

Lebih lanjut, Kombes Pol. Rama menegaskan bahwa keberlanjutan program ini di berbagai wilayah akan memperkuat sinergi antara Polri dan masyarakat dalam menciptakan kondisi sosial yang aman, tertib, dan berdaya secara ekonomi maupun hukum.

Dari sisi pemerintahan desa, Kepala Desa Genteng Kulon, Supandi, turut mengemukakan apresiasinya terhadap implementasi program tersebut. Ia menyatakan bahwa program Mayur Kamtibmas memberikan nilai tambah yang signifikan bagi kehidupan sosial masyarakat desa.

“Kami sangat mengapresiasi inisiatif ini. Selain mendukung kebutuhan dasar warga, kegiatan ini turut mempererat relasi antara masyarakat dan aparat keamanan. Harapan kami, program ini dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak wilayah. Kolaborasi semacam inilah yang menjadi fondasi desa yang aman dan harmonis,” ujarnya.

Sementara itu, partisipasi warga dalam kegiatan tersebut menunjukkan dimensi partisipatif yang konstruktif. Salah satu penerima manfaat, Bu Wati, menyampaikan kesan positifnya atas kehadiran program tersebut.

“Kami merasa diperhatikan. Tidak hanya menerima bantuan, tapi juga mendapat pemahaman baru tentang pentingnya menjaga keamanan di lingkungan sekitar. Semoga kegiatan seperti ini terus dilakukan dan semakin banyak warga yang terlibat,” ungkapnya.

Secara keseluruhan, program Mayur Kamtibmas mencerminkan pendekatan integratif yang menggabungkan dimensi sosial, edukatif, dan preventif. Keberlanjutan program ini diharapkan dapat membentuk kultur keamanan berbasis kesadaran kolektif dan memperkuat daya tahan sosial masyarakat terhadap potensi gangguan kamtibmas.

Dengan demikian, Polresta Banyuwangi menunjukkan bahwa upaya menjaga stabilitas keamanan tidak hanya dapat dilakukan melalui pendekatan represif, tetapi juga melalui strategi humanis dan kolaboratif yang menyentuh akar kehidupan masyarakat.

Rujak Soto dan Kue Bagiak: Warisan Rasa yang Kini Sah Menjadi Kekayaan Bangsa

BANYUWANGI (Warta Blambangan) Di bawah langit Blambangan yang mengguratkan kabut pagi dan nyanyian laut selatan, dua pusaka rasa akhirnya menapaki podium pengakuan. Rujak Soto—sebuah simfoni kuliner dari petis dan kuah daging—serta Kue Bagiak—renyah manis yang lahir dari panggangan masa silam—kini telah sah menjadi Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) milik Banyuwangi. Sebuah kabar yang bukan hanya menenangkan lidah, tapi juga menggembirakan jiwa.

Pada 24 Maret 2025, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM resmi menyerahkan surat pencatatan KIK itu kepada Pemkab Banyuwangi. Sebuah pengesahan yang tidak hanya menambatkan rasa pada tempat kelahirannya, tapi juga mengikatkan jati diri budaya pada batang tubuh sejarah. 


Seperti matahari yang bangkit dari ujung timur Jawa, pengakuan ini menyinari jejak-jejak kuliner yang telah lama menjadi napas keseharian rakyat Banyuwangi. Rujak soto bukan sekadar hidangan, melainkan cerita tentang keberanian mencampur dua kutub rasa menjadi satu—sebuah cerminan harmoni di tengah keberagaman. Dan kue bagiak, dengan gurih kelapanya dan rasa manis yang membekas, mengajarkan bahwa kenangan bisa dilipat dalam gigitan.

Sebelum keduanya, telah lebih dahulu tercatat lima kuliner Blambangan sebagai KIK: sego cawuk yang menggamit rasa pagi, sego tempong dengan semburan cabai yang jujur, pecel pitik sebagai jamuan upacara, ayam kesrut yang mencecap asam pedas, dan pecel rawon, pertautan lembut sayur dan daging dalam balutan bumbu hitam.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyambut kabar ini dengan syukur dan komitmen. “Alhamdulillah, rujak soto dan kue bagiak sudah sah diakui secara hukum berasal dari Banyuwangi. Ini bukan hanya legalitas, tapi penghormatan kepada para leluhur yang telah mewariskan rasa. Ke depan, kita akan terus menjaga dan melestarikan agar warisan ini tak hilang digerus zaman,” tuturnya dalam nada penuh harap, Kamis (15/5/2025). 


KIK adalah pagar hukum bagi warisan tradisi. Ia melindungi, menyekat dari tangan-tangan yang ingin mencuri identitas. Dalam dunia yang kian datar dan seragam, pengakuan semacam ini menjadi semacam mantra untuk mempertahankan keunikan lokal.

Sejak 2021, sebanyak 220 produk telah diajukan oleh Pemkab Banyuwangi kepada Kemenkumham. Bukan hanya makanan, tapi juga kriya dan nama dagang yang lahir dari tangan-tangan warga Blambangan. Dari jumlah itu, sebagian besar telah mengantongi KIK, sementara sisanya masih dalam antrean panjang proses negara.

“Kita ingin tahu walik dan pindang koyong juga segera tercatat. Keduanya telah kita ajukan sejak tahun 2023,” ujar Ipuk, sembari mengisyaratkan bahwa perjuangan belum selesai. Lidah-lidah rakyat tak akan berhenti meracik, mencipta, dan mewariskan.

Tahun ini, enam produk kembali dikirim untuk dinilai dan diakui sebagai milik Bumi Blambangan. Termasuk di antaranya tagline The Sunrise of Java, yang selama ini menjadi salam pembuka Banyuwangi kepada dunia, dan Internasional Tour de Banyuwangi Ijen (ITDBI), ajang olahraga yang melintasi lereng-lereng keindahan Gunung Ijen.

Tak hanya komunal, hak cipta individu juga menjadi perhatian. Pemerintah daerah menggelar sosialisasi agar para pelaku UMKM dan masyarakat sadar akan pentingnya mendaftarkan karya mereka. Salon kecantikan, beras biofortifikasi, bahkan warung kopi pun bisa menjadi karya berharga jika dikelola dengan rasa bangga dan hukum yang menyertai.

“Dengan mendaftarkan hak cipta, masyarakat tak hanya mendapat perlindungan hukum, tetapi juga perlindungan ekonomi. Sertifikat itu bisa jadi jaminan fidusia, bisa jadi modal kerja,” pungkas Ipuk.

Rujak soto dan kue bagiak kini tak lagi sekadar sajian warung atau bingkisan tamu dari Banyuwangi. Ia telah menjadi mahkota dari lidah rakyat, menjadi pusaka sah milik negeri. Di setiap suapan, tersimpan benih keabadian. Di setiap gigitan, mengalir kisah yang tak akan usai ditulis oleh zaman.
(*)

Sebanyak 376 Jamaah Haji Kloter Sub-44 Banyuwangi Dilepas Bupati Banyuwangi

Banyuwangi (Warta Blambangan) Sebanyak 376 jamaah haji asal Banyuwangi yang tergabung dalam Kloter Sub-44 diberangkatkan ke Asrama Haji Surabaya pada Selasa pagi, 13 Mei 2025. Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani melepas secara langsung para tamu Allah di halaman Kantor Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.



Dalam sambutannya, Bupati Ipuk menyampaikan harapan agar para jamaah senantiasa menjaga sikap dan menjadi duta bangsa yang membawa nama baik Indonesia, khususnya Banyuwangi.



"Bapak-Ibu adalah duta bangsa. Jaga sikap, jaga kekompakan, mari kita manfaatkan undangan dari Allah ini dengan sebaik-baiknya. Kita umat Nabi Muhammad saling kuatkan persaudaraan," ujar Ipuk di hadapan ratusan jamaah dan keluarga yang mengantar.


Ipuk juga menitipkan doa kepada para jamaah agar memohonkan kebaikan dan keberkahan bagi Banyuwangi.


"Titip doa untuk Banyuwangi agar selalu dalam lindungan Allah, diberi keberkahan, dijauhkan dari hal-hal buruk," tambahnya.


Pagi itu, sebanyak sembilan rombongan dari Kloter Sub-44 menaiki armada bus yang telah disiapkan. Sebelum keberangkatan, Bupati Ipuk turut menyapa dan mendoakan jamaah langsung di dalam bus, satu per satu, memberikan semangat dan doa agar perjalanan ibadah haji berjalan lancar dan selamat hingga kembali ke tanah air.


Suasana haru dan khidmat menyelimuti proses pemberangkatan, diiringi lantunan salawat dan doa dari para petugas serta keluarga yang mengantar.


Jamaah haji Kloter Sub-44 ini dijadwalkan tiba di Asrama Haji Sukolilo Surabaya siang hari dan akan diterbangkan menuju Tanah Suci pada jadwal yang telah ditentukan oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH). Pemerintah Kabupaten bersama Kantor Kementerian Agama Banyuwangi memastikan seluruh layanan keberangkatan berjalan lancar dan tertib.

Kepala SMPN menjadi Pembimbing Ibadah Haji Kloter

 Kepala SMPN menjadi Pembimbing Ibadah Haji Kloter

Saya mengenalnya tahun lalu di Makkah, Saat saya menjadi ketua kloter SUB-58. Namanya Zainur Rofik. Masih muda. Jauh lebih muda daripada saya. Tapi perannya penting. Dia ketua rombongan. Satu dari beberapa ketua rombongan yang saya koordinasi.

Yang paling saya ingat: dia berangkat bersama istrinya. Dan sang istri—yang kalem, murah senyum, dan sabar itu—selalu memanggilnya dengan sebutan yang membuat saya tertegun pertama kali mendengarnya: Sayyang.


Itu bukan panggilan umum di kloter kami. Bukan pula bahasa Arab. Saya baru tahu kemudian, itu bahasa Bugis. Artinya: sayang. Atau kekasih. Atau mungkin lebih tepat: belahan hati yang dikuduskan oleh waktu dan pengorbanan.

Saya sering mencatat panggilan-panggilan unik antara suami dan istri dalam kloter. Ada yang memanggil "Pakne", "Ibuk", ada pula "Mas", "Dik", atau yang paling sering: “Woi!” Tapi Sayyang adalah panggilan yang membuat saya diam sejenak. Dalam hati saya berkata, “Ah, masih ada cinta seperti ini di dunia yang bising oleh perceraian dan status galau.”

Zainur Rofik bukan hanya suami romantis. Ia juga seorang pengusaha. Awalnya saya hanya tahu itu. Seorang pebisnis muda. Tegap, rapi, komunikatif. Tapi setelah musim haji usai, ia ikut pelatihan pembimbing ibadah. Dan lolos. Saya ucapkan selamat padanya via WhatsApp. Dia balas dengan stiker tangan yang menengadah. Dan emoji mata berkaca-kaca.

Belakangan saya baru tahu: dia ternyata PNS. Bahkan kepala sekolah. Di sebuah SMP negeri di Banyuwangi. Itu mengejutkan saya. Bukan karena ia muda dan sudah kepala sekolah. Tapi karena baru kali ini ada petugas haji dari Banyuwangi yang berasal dari instansi pemerintah daerah—bukan dari Kementerian Agama, bukan pula dosen PTAI, apalagi ustaz dari pesantren. Zainur memecahkan pola. Dan ia melakukannya dengan tenang.

Saya tahu jalur seleksi petugas haji sekarang ketat. Tidak cukup hanya punya gelar agama. Harus ikut pelatihan. Harus lulus ujian. Harus bersedia berlelah-lelah. Dan—yang paling penting—harus tahan mental menghadapi 376 orang jamaah yang bisa menanyakan arah kiblat lima kali sehari, mengantar ke miqot jamaah yang umroh, berkomunikasi dengan masyarakat setempat dengan Bahasa Arab dan lain-lain.

Zainur membuktikan satu hal: manasik itu bisa dipelajari. Bukan warisan tunggal milik fakultas syariah atau alumni pesantren. Saya sendiri dari fakultas hukum. Dan saya bisa. Zainur dari fakultas pendidikan bahasa Inggris. Dan dia juga bisa. Karena manasik itu bukan tentang gelar. Tapi tentang belajar. Tentang panggilan.

Kadang saya merasa haji itu misterius. Ada orang yang niatnya setengah hati, tahu-tahu bisa berangkat. Ada pula yang menabung seumur hidup, tapi tak sempat berangkat karena dipanggil Allah lebih dulu. Begitu pula dengan petugas. Ada yang mengejar posisi itu bertahun-tahun dan tidak pernah lolos. Ada pula yang baru coba sekali langsung diterima. Panggilan itu misteri. Seperti cinta. Seperti takdir.

Zainur Rofik mengingatkan saya bahwa panggilan itu bisa datang pada siapa saja. Pada kepala sekolah. Pada pengusaha. Pada guru bahasa Inggris. Asalkan punya kesungguhan.

Saya tidak tahu apakah nanti dia akan kembali menjadi petugas lagi. Atau akan kembali penuh pada sekolah dan bisnisnya. Tapi saya yakin, dalam setiap rapat kloter, akan selalu ada satu orang istri yang memanggil suaminya dengan kata paling lembut yang pernah saya dengar di Makkah: Sayyang.

Banyuwangi Berangkatkan 752 Jamaah Haji dalam Dua Kloter Besar

Banyuwangi (Warta Blambangan) Sebanyak 752 jamaah haji asal Kabupaten Banyuwangi resmi diberangkatkan menuju Tanah Suci pada Senin, 12 Mei 2025. Prosesi pemberangkatan berlangsung khidmat di halaman Kantor Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, yang terbagi dalam dua kelompok terbang (kloter) besar: SUB-42 dan SUB-43, masing-masing terdiri dari 376 jamaah.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. H. Chaironi Hidayat, menyampaikan bahwa tahun ini jamaah Banyuwangi tergabung dalam tujuh kloter, jumlah yang relatif sedikit dibandingkan daerah lain. Hal ini disebabkan oleh penerapan sistem baru oleh Pemerintah Arab Saudi dalam pengelolaan haji. 

"Jumlah jamaah yang sudah melakukan pelunasan awal sebanyak 1.144 orang. Namun satu orang di antaranya meninggal dunia sebelum keberangkatan," ujar Chaironi.

Dari total jamaah tersebut, sebanyak 72 orang tergolong lanjut usia. Jamaah tertua adalah Sukirman Kertonadi (94) dari Muncar, sedangkan yang termuda adalah Naila Nur Fitriah (18) asal Songgon.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, hadir langsung melepas para jamaah. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan haru dan kebanggaannya melihat semangat para calon tamu Allah.

"Semangat dan keikhlasan yang terpancar dari wajah bapak ibu semuanya, mudah-mudahan kita doakan bersama, semoga beliau-beliau semua sehat hingga kembali. Saya melihat, bapak ibu sudah tidak sabar untuk segera berangkat," ungkap Ipuk.

Mengutip seorang ulama dan pemikir Islam, Ipuk mengajak jamaah untuk merenungi makna thawaf: “Ketika manusia mengelilingi Ka'bah bersama jutaan orang lain, ia menyadari betapa kecil dunia dan betapa besarnya umat Islam ketika bersatu dalam satu tujuan—mencari ridho Allah.”

Nilai-nilai tersebut, lanjut Ipuk, sangat penting dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam membangun Banyuwangi sebagai daerah yang religius, harmonis, dan berkemajuan. Ia pun menitipkan pesan kepada seluruh jamaah agar menjaga kekompakan, saling menolong, menaati aturan, dan menjaga sikap sebagai representasi bangsa.

“Jamaah haji Indonesia, khususnya Banyuwangi, adalah duta bangsa. Nama Indonesia dan Banyuwangi akan harum jika jamaahnya mampu mencerminkan Islam yang rahmatan lil alamin dan menjaga budaya Indonesia yang baik di mata dunia,” tegasnya.

Secara khusus, Ipuk juga menitipkan harapan agar para jamaah turut mendoakan Kabupaten Banyuwangi ketika berada di depan Ka’bah.

“Doakan agar Banyuwangi semakin baik, berprestasi, dan selalu dijaga Allah dari marabahaya dan bencana. Doa kami juga menyertai bapak ibu semua agar dapat menjalankan ibadah dengan lancar dan kembali dalam keadaan sehat,” tuturnya.

Menutup sambutannya, Ipuk mengajak seluruh hadirin untuk memaknai keberangkatan ini dengan penuh kesyukuran. “Di bumi ada Baitullah, dan di langit ada Baitul Ma’mur. Dengan mengharap ridho Allah. Insyaallah, menjadi haji yang mampu dan mabrur. Demikian yang bisa kami sampaikan,” pungkasnya.

Dari Abdullah bin Umar RA, “bahwasanya Nabi SAW bertakbir pada hari Idul Fitri sejak beliau keluar dari rumah sampai tiba di tempat salat (lapangan).“(HR. As-Sayuthi)).

Penjelasan Hadis
Hadis ini menjelaskan anjuran melafalkan kalimat Allahu Akbar pada saat Idul Fitri, dimana Rasulullah SAW senantiasa bertakbir ketika menuju tempat salat Idul Fitri.

Idul Fitri merupakan salah satu hari besar bagi umat Islam. Karenanya, Islam membolehkan umatnya untuk mengungkapkan perasaan bahagia dan bersenang-senang pada hari itu, salah satunya dengan bertakbir. Membaca kalimat takbir, tahmi, dan tahlil pada malam Idul Fitri merupakan ibadah yang disunahkan bagi umat Islam. Anjuran bertakbir ini dapat dilakukan di rumah, di masjid, di kendaraan, di jalan, di rumah sakit, di kantor, dan di tempat-tempat umum sebagai syiar keagamaan. Pada tahun-tahun sebelumnya, semarak bertakbir biasa dilakukan dengan berkeliling kampung oleh sekelompok anak-anak pengajian atau kaum remaja masjid sambil membawa bedug dan menyalakan obor. Demikian pula, orang-orang berkumpul mengumandangkan takbir di masjid maupun musalla.

Kalimat “sejak beliau keluar dari rumah sampai tiba di lapangan”menunjukkan salah satu moment sunnah mengumandangkan takbir yaitu ketika berjalan dari rumah menuju masjid. Mengapa? Karena kebanyakan orang melupakan atau lalai bertakbir pada saat berjalan dari rumah ke tempat salat, sehingga Rasulullah SAW memberikan contoh bertakbir sambil melangkahkan kaki ke tempat salat. Alasan lainnya, karena perintah bertakbir di malam Idul Fitri telah ditegaskan dalam Al-Qur’an yaitu perintah  bertakbir sejak terbenamnya matahari pada hari terakhir bulan Ramadan sebagaimana firman Allah SWT: “…hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (puasa) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu.” (Qs. Al Baqarah: 185)

Dalam tafsir Al-Jami` Li Ahkamil Quran karya Al-Qurthubi disebutkan bahwa ayat ini telah menjadi dasar perintah mengumandangkan takbir di malam `Idul Fitri. Sebab perintah bertakbir pada ayat tersebut bersamaan dengan berakhirnya hitungan Ramadan. Artinya bertakbir tidak dimulia sejak pagi hari keesokan harinya, melainkan sejak terbenam matahari sampai pelaksanaan salat Idul Fitri.

Kalimat takbir yaitu Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar merupakan kalimat yang paling mudah diucapkan yang terkandung kemuliaan dan kebesaran Dzat Allah SWT. Tidak ada kata lain yang paling pantas untuk mengekspresikan keberhasilan spiritual atas kemenangan meraih petunjuk Allah SWT di bulan Ramadan selain kalimat Allahu Akbar. Bertakbir di malam Idul Fitri bukanlah sekedar ucapan lisan, tetapi ekspresi keimanan yang menyatakan keagungan Allah SWT dan keyakinan bahwa tidak ada satupun benda atau mahkluk yang lebih agung dan sempurna dari-Nya, dan manusia tidak memiliki daya dan kekuatan apapun tanpa kehendak-Nya. Menyemarakkan bertakbir atau mengagungkan Allah SWT atas dorongan keimanan dan berharap ridha-Nya sangat baik dan lebih mendatangkan berkah, karena mengagungkan nama-Nya sama saja memperkuat rasa syukur dan membuat hubungan batiniah kita dengan Allah SWT selalu dekat, dan kita menyakini akan selalu terlindungi dari perbuatan dosa akibat tipu daya setan yang terkutuk.

Selain dianjurkan bertakbir, di malam hari raya Idul Fitri juga dianjurkan memperbanyak beribadah dan berdoa memohon rahmat Allah SWT. Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm mengatakan, terdapat lima malam untuk menghaturkan do’a yang mudah diijabah antara lain: malam Jumat, malam Idul Adha, malam Idul Fitri, malam pertama Rajab, dan malam Nishfu Sya’ban. Oleh karena itu, semarakkanlah malam Idul Fitri dengan bertakbir dan memperbanyak berdoa, serta janganlah malam Idul Fitri dihabiskan dengan kesibukkan mempersiapkan makanan di hari raya. Tetapi sisipkan waktu untuk bermunajat di malam Ied.

Semarak Bertakbir di Tengah Pandemi
Dalam kondisi pandemi virus corona ini menjadikan perayaan malam Idul Fitri berbeda dengan tahun sebelumnya. Tahun ini, semarak bertakbir dalam dilakukan di masjid dengan memenuhi protokol kesehatan, dan dianjurkan menyemarakkan takbir di rumah bersama anggota keluarga atau melalui media sosial. Untuk sementara orang dilarang melakukan takbir keliling, dan diminta tetap berada di rumah demi memutus penyebaran virus penyebab Covid-19.

Tapi bukan berarti tak bisa melaksanakan ibadah malam takbiran. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerbitkan panduan melaksanakan takbiran. Pedoman ini tertuang dalam fatwa No. 28 tahun 2020 tentang panduan kaifiat takbir dan salat Idul Fitri saat pandemi Covid-19.  Berikut panduan takbir Idul Fitri:

1. Setiap Muslim dalam kondisi apapun disunahkan untuk menghidupkan malam Idul Fitri dengan takbir, tahmid,  tahlil menyeru keagungan Allah SWT.

2. Waktu pelaksanaan takbir mulai dari tenggelamnya matahari di akhir Ramadan hingga jelang dilaksanakannya salat Idul Fitri.

3. Disunahkan membaca takbir di rumah, di masjid, di pasar, di kendaraan, di jalan, di rumah sakit, di kantor, dan di tempat-tempat umum sebagai syiar keagamaan.

4. Pelaksanaan takbir bisa dilaksanakan sendiri atau bersama-sama, dengan cara jahr (suara keras) atau sirr (pelan).

5. Dalam situasi pandemi yang belum terkendali, takbir bisa dilaksanakan di rumah, di masjid oleh pengurus takmir, di jalan oleh petugas atau jamaah secara terbatas, dan juga melalui media televisi, radio, media sosial, dan media digital lainnya.

6. Umat Islam, pemerintah, dan masyarakat perlu menggemakan takbir, tahmid, dan tahlil saat malam Idul Fitri sebagai tanda syukur sekaligus doa agar wabah Covid-19 segera diangkat oleh Allah SWT.

Demikian, semoga bermanfaat.

Subhan Nur, Lc, M.Ag
(Kepala Seksi Pengembangan Metode dan Materi Dakwah Dit. Penerangan Agama Islam)

Antisipasi Kekeringan, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi Intensifkan Pembersihan Sedimentasi DAM dan Embung Menjelang Musim Kemarau

Banyuwangi (Warta Blambangan) Menyongsong periode musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang pada tahun ini, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi melalui Dinas Pekerjaan Umum Pengairan mengambil langkah-langkah strategis untuk menjamin keberlanjutan suplai air irigasi. Salah satu upaya konkret yang tengah dilakukan adalah pembersihan sedimentasi dan pengurasan (gelontor waled) pada seluruh bangunan penampung air, meliputi DAM, embung, dan bendung di wilayah kabupaten.


Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menegaskan bahwa upaya ini bertujuan menjaga ketahanan air irigasi guna mendukung kelangsungan produksi pangan. “Kami berkomitmen memastikan ketersediaan air irigasi selama musim kemarau agar aktivitas pertanian tetap berlangsung optimal. Dengan demikian, petani tetap dapat melaksanakan pola tanam dan panen sebagaimana mestinya,” ujar Ipuk pada Jumat (9/5/2025).



Sekretaris Dinas PU Pengairan Kabupaten Banyuwangi, Riza Al Fahrobi, menambahkan bahwa kegiatan ini telah dimulai sejak April, seiring dengan indikasi awal masuknya musim kemarau di beberapa kecamatan. Menurutnya, pengangkatan endapan dan material sedimen dilakukan secara kolaboratif bersama Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) setempat guna mengembalikan kapasitas tampung optimal dari infrastruktur air.


“Kegiatan ini merupakan bagian dari pemeliharaan rutin yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat petani melalui HIPPA. Pembersihan endapan sangat penting untuk menjaga efisiensi fungsi hidraulik dan operasional sistem irigasi,” terang Riza.


Berdasarkan data Dinas PU Pengairan, Kabupaten Banyuwangi memiliki 390 daerah irigasi yang secara total mengairi lahan pertanian seluas 62.000 hektare. Rencana tata tanam global yang telah disusun memperhitungkan ketersediaan sumber daya air saat musim kemarau, dan menurut Riza, suplai air masih dalam kategori aman untuk mendukung kebutuhan irigasi pada seluruh areal baku sawah.


Sebagai bagian dari pengawasan langsung, Bupati Ipuk sebelumnya juga telah melakukan kunjungan ke Waduk Bajulmati yang berada di Kecamatan Wongsorejo. Hasil monitoring menunjukkan bahwa waduk tersebut diproyeksikan mampu menopang kebutuhan air irigasi untuk sekitar 1.800 hektare lahan pertanian selama musim kemarau.


Langkah-langkah antisipatif ini menjadi bagian integral dari kebijakan adaptasi perubahan iklim daerah, sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal melalui pengelolaan sumber daya air yang terukur dan berkelanjutan.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger