Pages

Wisatawan Asing Ramaikan Arus Mudik di Pelabuhan ASDP Ketapang

Banyuwangi +Warta Blambangan) Arus penumpang di Pelabuhan ASDP Ketapang selama musim libur Lebaran 2025 tak hanya dipadati pemudik, tetapi juga wisatawan asing (wisman), terutama dari China, yang hendak berlibur ke Bali. Kehadiran mereka menambah semarak suasana pelabuhan di tengah kepadatan penumpang yang hendak menyeberang ke Pulau Dewata.

Salah satu wisatawan asal China, Huang, mengungkapkan bahwa dirinya akan menghabiskan beberapa hari di Bali bersama teman-temannya. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Bali, mereka telah singgah di Bromo dan Kawah Ijen untuk menikmati keindahan alam Indonesia. 


"Kami sudah beberapa hari ini di Indonesia. Kemarin dari Ijen, dan hari ini melanjutkan perjalanan ke Bali untuk menikmati liburan di sana," ujar Huang saat ditemui di Pelabuhan ASDP Ketapang, Jumat (28/3/2025).

Koordinator Satuan Pelabuhan (Korsatpel) BPTD Ketapang, Bayu Kusumo Nugroho, mengatakan bahwa keberadaan wisatawan asing, termasuk dari China, turut memberikan dinamika tersendiri di pelabuhan. Mayoritas mereka adalah wisatawan backpacker yang bepergian dengan berjalan kaki.

"Hampir setiap hari ada wisatawan asing yang menyeberang ke Bali, dan mayoritas merupakan penumpang pejalan kaki," ungkap Bayu.

Dengan meningkatnya jumlah wisatawan asing yang memanfaatkan jalur penyeberangan Ketapang–Gilimanuk, suasana di pelabuhan menjadi lebih beragam. Kehadiran mereka tidak hanya menyeimbangkan arus penumpang di musim mudik Lebaran, tetapi juga menunjukkan bahwa Indonesia tetap menjadi destinasi menarik bagi wisatawan mancanegara.

Kapolresta Banyuwangi Bersilaturahmi dengan Seniman Lintas Generasi

BANYUWANGI (Warta Blambangan) – Memasuki hari ke-25 Ramadan, Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rama Samtama Putra bersilaturahmi dengan puluhan seniman lintas generasi Banyuwangi. Acara yang berlangsung di Studio One Nada (Wandra), Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, ini menjadi ajang kebersamaan antara kepolisian dan insan seni.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati Banyuwangi Ir. Mujiono, M.Si., Plt. Kepala Dinas Pariwisata Banyuwangi Taufik Rohman, K.H. Makhrus Ali, pemilik Studio One Nada Wandra, owner Seblang Erwin, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat Cluring. 


Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rama Samtama Putra menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk merangkul para seniman musik yang ada di Kabupaten Banyuwangi.

"Semua elemen kami rangkul karena selaras dengan tagline Polri untuk Masyarakat," ujarnya.

Lebih lanjut, Kombes Pol Rama menegaskan bahwa Polri hadir untuk semua golongan masyarakat, termasuk seniman.

"Ini merupakan wujud kepedulian Polri kepada masyarakat, khususnya para seniman musik, baik yang masih junior maupun senior," tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Kapolresta Banyuwangi juga memberikan penghargaan dan tali asih kepada para seniman sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusi mereka dalam menjaga dan mengembangkan budaya Banyuwangi.

"Nilai tali asih ini mungkin tidak seberapa, namun ini adalah bentuk perhatian dan kepedulian Polresta Banyuwangi kepada para seniman," ungkapnya.

Kapolresta juga berpesan kepada para seniman agar tetap adaptif terhadap perkembangan seni global.

"Perkembangan seni kontemporer adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Karena virus budaya global kini sangat mudah diakses, maka tugas kita adalah mengimbanginya dengan tetap menghadirkan seni, budaya, dan adat istiadat lokal agar tidak hilang," pesannya.

Wakil Bupati Banyuwangi Ir. Mujiono, M.Si. turut menyampaikan apresiasinya terhadap langkah Polresta Banyuwangi yang memberikan perhatian kepada para seniman.

"Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berkomitmen untuk memajukan sektor pariwisata berbasis budaya," ujarnya.

Para seniman yang hadir menyambut positif inisiatif Kapolresta Banyuwangi ini sebagai bentuk kepedulian kepolisian terhadap pelaku seni, sekaligus upaya dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

Acara yang berlangsung penuh kehangatan ini diakhiri dengan diskusi dan pertunjukan musik dari para seniman Banyuwangi. (*)

Banyuwangi Siapkan Atraksi Budaya dan Destinasi Wisata untuk Pemudik Lebaran 2025

Banyuwangi (Warta Blambangan) Menjelang libur Lebaran 2025, Kabupaten Banyuwangi siap menyambut pemudik dan wisatawan dengan beragam atraksi budaya serta destinasi wisata unggulan. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggandeng berbagai pihak, termasuk rumah makan dan hotel, untuk menghadirkan pengalaman liburan yang berkesan bagi para pengunjung. 


Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono, menekankan pentingnya kolaborasi antara pelaku wisata dan seniman dalam menyuguhkan daya tarik khas daerah.

"Berbagai atraksi seni budaya telah disiapkan selama libur Lebaran. Kami juga meminta agar hotel maupun destinasi wisata berkolaborasi dengan seniman untuk menyuguhkan atraksi wisata di tempat masing-masing," ujar Mujiono, Rabu (26/3/2025).

Selain itu, Mujiono mengajak seluruh pelaku wisata untuk memberikan pelayanan terbaik demi menciptakan kesan positif bagi wisatawan.

"Mari berikan kesan yang baik dan menarik kepada para wisatawan agar mereka kembali berkunjung ke Banyuwangi," tambahnya.

Atraksi Budaya Khas Banyuwangi

Sejumlah atraksi budaya khas Banyuwangi siap memeriahkan suasana Lebaran. Salah satunya adalah Barong Ider Bumi, ritual bersih desa yang digelar di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, setiap 2 Syawal. Selain itu, wisatawan juga bisa menyaksikan Tari Seblang Olehsari, tradisi unik di mana seorang penari terpilih menari selama 5-7 hari berturut-turut di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah.

Selain seni dan budaya, wisatawan juga dapat menikmati beragam kuliner khas Banyuwangi yang tersebar di berbagai lokasi.

"Di Banyuwangi, wisatawan bisa menikmati wisata kuliner di sejumlah titik, seperti Fish Market di Pantai Ancol, aneka sajian seafood di Pelabuhan Rakyat Marina Boom, seafood segar di Pantai Blimbingsari, hingga lobster nikmat di Pantai Pulau Merah dengan pemandangan sunset yang memukau," jelas Mujiono.

Kuliner khas Banyuwangi seperti Pecel Pitik, Rujak Soto, Nasi Tempong, dan Pecel Rawon juga dapat dinikmati di berbagai rumah makan di pusat kota. Sementara bagi pecinta makanan pedas, Kecamatan Genteng terkenal dengan sajian ayam pedas khas Banyuwangi.

Destinasi Wisata Alam dari Gunung hingga Pantai

Banyuwangi menawarkan destinasi wisata yang lengkap, mulai dari pegunungan hingga pantai. Salah satu ikon utamanya adalah Gunung Ijen, yang telah menjadi bagian dari jejaring Geopark UNESCO. Di lerengnya, terdapat Taman Gandrung Terakota dengan 1.000 patung terakota penari Gandrung.

Di sisi pantai, wisatawan bisa menjelajahi berbagai lokasi menarik seperti Bangsring Underwater, Grand Watudodol, Pantai Cacalan, dan Pantai Boom Marina yang cocok untuk liburan keluarga. Bagi peselancar pemula, Pantai Pulau Merah bisa menjadi pilihan yang tepat.

Sementara bagi pencinta alam, Pantai Sukamade di ujung selatan Banyuwangi menawarkan pengalaman konservasi penyu di tengah suasana yang masih alami.

Mujiono menegaskan bahwa kesiapan seluruh pihak sangat penting demi kenyamanan wisatawan.

"Semua harus bersiap. Jaga kebersihan, kenyamanan, dan keamanan wisatawan agar mereka betah dan ingin kembali," tambahnya.

Di akhir acara, Mujiono mengapresiasi peran aktif para pelaku wisata, seniman, dan budayawan yang terus berkontribusi dalam pengembangan sektor pariwisata Banyuwangi. Ia berharap sinergi ini semakin memperkuat daya tarik Banyuwangi sebagai destinasi wisata unggulan di Indonesia. (*)

TPG 318 Guru PAI PNS dan PPPK Banyuwangi Cair Sebelum Idul Fitri

Banyuwangi  (Warta Blambangan) Kabar gembira bagi 318 Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) PNS dan PPPK di Kabupaten Banyuwangi. Sebelum berakhirnya bulan Ramadan, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi melalui Seksi Pendidikan Agama Islam (PAIS) telah menyelesaikan pencairan Tunjangan Profesi Guru (TPG) untuk periode Januari dan Februari 2025.

Kepala Seksi PAIS, H. Zaenal Abidin, S.Ag., M.Ag., menyampaikan bahwa pencairan dilakukan pada Selasa, 25 Maret 2025, dengan total anggaran sekitar Rp2,3 miliar. Tunjangan ini diperuntukkan bagi Guru PAI di bawah naungan Pemerintah Daerah, Guru DPK Kemenag, serta Pengawas PAI. 


"Pencairan TPG ini merupakan hasil kerja keras tim di Seksi PAIS, yang memastikan seluruh proses administrasi berjalan dengan baik. Meski ada kendala seperti keterlambatan pengunggahan berkas, rekening baru bagi penerima baru, serta rekening tidak aktif, semua dapat diselesaikan berkat koordinasi yang baik dengan tim Keuangan, KPPN, dan Bank BSI sebagai mitra penyalur," ungkapnya.

Pencairan TPG menjelang Hari Raya Idul Fitri ini sangat dinanti para guru, mengingat banyaknya kebutuhan yang harus dipersiapkan untuk menyambut hari raya. Ratma Dwi, operator Siaga yang menangani pencairan TPG, juga mengungkapkan rasa syukurnya atas kelancaran proses ini.

"Hari Selasa kemarin, tanggal 25 Maret 2025, TPG sudah cair di rekening masing-masing. Alhamdulillah, barakallah... Semoga menjadi berkah bagi para GPAI di bulan suci Ramadan ini," ujarnya.

Dengan pencairan ini, diharapkan para guru dapat lebih tenang dalam menyambut Idul Fitri dan terus bersemangat dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik.

Relokasi Pasar Induk Banyuwangi Sepi Pembeli, Pedagang Terancam Gulung Tikar

Banyuwangi (Warta Blambangan) Menjelang Lebaran Idulfitri 2025, kondisi pasar tradisional biasanya ramai oleh pembeli. Namun, suasana berbeda terlihat di Relokasi Pasar Induk Banyuwangi, yang berada di Jl. RA Kartini (Gedung Wanita). Sejumlah pedagang mengeluhkan minimnya pembeli, bahkan beberapa di antaranya terancam gulung tikar akibat sepinya transaksi.


Ketua Paguyuban Pasar Joko Tole, Agus Hariyono, mengungkapkan bahwa sejak para pedagang dipindahkan ke tempat relokasi, omzet mereka menurun drastis. Ia menyayangkan minimnya perhatian pemerintah terhadap kondisi pasar saat ini.



"Miris mas, banyak pedagang yang gulung tikar setelah pindah ke tempat ini. Dulu pemkab bilang akan mewajibkan belanja di sini tiap tanggal cantik, tapi kenyataannya hanya sekali dilakukan. Sampai sekarang, bupati maupun wakil bupati pun sudah tidak pernah mengunjungi pasar ini," keluhnya pada media, Rabu (26/03/25).


Pedagang Berjuang di Tengah Sepinya Pembeli


Para pedagang pun merasakan dampak besar dari kondisi ini. Bu Sri, seorang pedagang kebutuhan pokok, mengaku seharian belum mendapatkan satu pun pembeli.


"Seharian ini belum dapat penglaris, untungnya masih ada kiriman uang dari anak. Kalau dagangan seperti sayur tidak habis, terpaksa harus dibagikan ke orang lain," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.


Hal serupa dialami Bu Misna, pedagang udang, yang hanya mampu meraup Rp25.000 dari pagi hingga sore. Sementara itu, Bu Ani, yang berjualan pindang, mengaku dulu bisa menjual 50 kg pindang per hari saat masih di Pasar Induk, namun kini 20 kg saja butuh dua hari untuk terjual.


Bu Lis, yang memiliki usaha selep kelapa sekaligus merawat anak yatim piatu, bahkan lebih terpukul. Ia mengaku hampir tidak memiliki pembeli dalam sehari, sehingga kelapa yang sudah dikupas sering kali menjadi tak layak jual.


"Kadang sehari tidak ada pembeli sama sekali. Hutang di bank harian makin menumpuk, sedangkan hasil jualan kadang cuma dapat Rp5.000 sehari," tuturnya.


Proyek Pasar Induk Masih 30%, Diprediksi Molor


Sementara itu, pembangunan Pasar Induk Banyuwangi yang ditangani oleh PT. Lince Romauli Raya masih dalam tahap pengerjaan dan baru mencapai 30%. Pihak kontraktor sebelumnya menargetkan proyek ini selesai pada Oktober 2025, namun beberapa ahli menilai target tersebut sulit tercapai.


Ahli bangunan Andi Purnama, S.T., mengungkapkan bahwa kondisi proyek saat ini tidak menunjukkan progres signifikan.


"Melihat kondisi di lapangan, banyak bahan bangunan yang berserakan dan pekerja yang tidak dilengkapi APD. Dengan situasi seperti ini, kemungkinan besar proyek tidak akan selesai tepat waktu," ujarnya.


Dengan kondisi pasar yang sepi dan proyek yang masih jauh dari rampung, pedagang berharap ada perhatian lebih dari pemerintah untuk membantu mereka bertahan hingga Pasar Induk kembali beroperasi penuh.

Menakar Selawat Badar: Sejarah, Budaya, dan Kontroversi di Banyuwangi

 

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Diskusi budaya dan sastra mengenai Selawat Badar yang diselenggarakan di Palinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi menjadi ruang refleksi bagi masyarakat dan akademisi dalam memahami dimensi sejarah, budaya, dan sosial dari sholawat yang telah mendunia ini. Acara yang dikemas dalam bentuk bedah buku karya Ayung Notonegoro tersebut menghadirkan berbagai perspektif, baik dari segi keagamaan, politik, maupun sastra.

Dalam forum yang dihadiri oleh perwakilan Dewan Kesenian Belambangan (DKB), Lentera Sastra Banyuwangi, serta mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Dewa Alit, menegaskan bahwa Selawat Badar telah memperoleh pengakuan resmi dari negara. Presiden Republik Indonesia bahkan menganugerahkan penghargaan Satyalancana kepada penciptanya, KH. Ali Mansur, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam dakwah Islam melalui seni religius.

Namun, di luar pengakuan resmi tersebut, diskusi berkembang lebih luas ke aspek historis dan sosiopolitik yang melingkupi lahirnya Selawat Badar.


Ayung Notonegoro dalam pemaparannya menjelaskan bahwa Selawat Badar diciptakan oleh KH. Ali Mansur pada dekade 1960-an. Beliau merupakan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang pernah menjabat sebagai Ketua Pengurus Cabang NU Banyuwangi serta Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kabupaten Banyuwangi—sebuah jabatan yang dalam konteks saat ini setara dengan Kepala Kementerian Agama Kabupaten. KH. Ali Mansur juga tercatat sebagai anggota Konstituante yang berperan dalam perumusan dasar negara pasca-kemerdekaan.

Dalam kajian akademik, Selawat Badar dipandang sebagai salah satu bentuk ekspresi keagamaan yang berkembang secara dinamis. Ayung menegaskan bahwa sholawat tidak memiliki aturan baku dalam redaksinya, sebagaimana dibuktikan dengan munculnya berbagai varian seperti Selawat Nariyah, Selawat Munjiyat, dan Selawat Asyghil di berbagai wilayah Nusantara. Namun, keberadaan Selawat Badar di Banyuwangi tidak hanya terkait dengan aspek spiritual, tetapi juga dengan dinamika sosial-politik yang terjadi pada masa itu.

Diskusi kemudian berkembang ke arah yang lebih kompleks ketika sejumlah panelis menyoroti peran Selawat Badar dalam lanskap politik dan kebudayaan lokal Banyuwangi.



Syafaat, Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi sekaligus Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, mengemukakan bahwa penciptaan Selawat Badar tidak dapat dilepaskan dari situasi politik pada masa itu. Ia menyinggung bagaimana persaingan ideologi antara Partai Komunis Indonesia (PKI) dan NU turut memengaruhi lahirnya sholawat ini. "Tanpa kiprah KH. Ali Mansur di Banyuwangi, mungkin Selawat Badar tidak akan tercipta," ujarnya.

Sementara itu, Hasan Basri, Ketua DKB, menyoroti dimensi sastra dalam Selawat Badar. Menurutnya, struktur puisi yang digunakan dalam sholawat ini mencerminkan kekayaan sastra Arab yang dipadukan dengan karakteristik budaya Islam Nusantara. "Sholawat ini bukan sekadar doa, tetapi juga sebuah bentuk ekspresi sastra religius yang memiliki kedalaman makna," paparnya.

Menambahkan perspektif yang lebih luas, Iqbal Baraas dari Universitas Islam Ibrahimy Genteng menyoroti bagaimana seni religius di era 1950-1960-an sering kali memiliki keterkaitan erat dengan politik. Ia menyebut bahwa Selawat Badar dapat dilihat sebagai salah satu bentuk seni yang digunakan sebagai alat ekspresi dan bahkan propaganda dalam konteks sosial-politik pada masanya.

Kontroversi dalam diskusi semakin menguat ketika Elvin Hendrata, salah satu peserta, mengajukan pertanyaan kritis mengenai bagaimana Selawat Badar mendapatkan perhatian lebih dibandingkan dengan warisan budaya Banyuwangi lainnya. Ia menyinggung keberadaan lagu Genjer-genjer, yang juga lahir di Banyuwangi, tetapi mengalami nasib yang berbeda. "Sementara Selawat Badar kita banggakan, Genjer-genjer dibiarkan tanpa pelurusan sejarah," ungkapnya. Pernyataan ini memicu diskusi lebih lanjut mengenai bagaimana suatu karya seni atau budaya mendapatkan legitimasi dalam narasi sejarah dan politik.

Sebagaimana diketahui, Genjer-genjer adalah lagu rakyat Banyuwangi yang pada masa Orde Lama digunakan sebagai alat propaganda politik dan kemudian dilarang oleh pemerintah Orde Baru. Pernyataan Elvin membuka wacana baru mengenai bagaimana beberapa warisan budaya Banyuwangi mungkin masih berada dalam bayang-bayang glorifikasi budaya lainnya.



Diskusi ditutup dengan pembacaan Selawat Badar secara kolektif serta buka puasa bersama. Namun, berbagai pertanyaan yang mengemuka dalam forum ini masih menggantung, menuntut kajian yang lebih mendalam mengenai posisi Selawat Badar dalam lanskap kebudayaan Banyuwangi.

Lebih dari sekadar ritual keagamaan, Selawat Badar telah menjelma menjadi simbol identitas sosial, politik, dan budaya Banyuwangi. Forum ini menunjukkan bahwa kajian terhadap sholawat tidak hanya terbatas pada aspek teologis semata, tetapi juga perlu memperhitungkan konteks historis, sosiologis, dan politik yang melingkupinya.

Pada akhirnya, diskusi ini menjadi pengingat bahwa warisan budaya bukanlah sesuatu yang statis, melainkan terus berkembang dalam narasi dan interpretasi masyarakatnya. Sejarah, seperti halnya Selawat Badar, selalu terbuka untuk dipahami kembali dari berbagai perspektif.


Berita ini ditulis dengan pendekatan ilmiah dan akademik, menggabungkan aspek sejarah, budaya, politik, dan sastra dalam menganalisis Selawat Badar.

PGRI Prihatin atas Gugurnya Guru di Papua, Desak Perlindungan dan Kesejahteraan

Banyuwangi (Warta Blambangan) Suasana duka menyelimuti dunia pendidikan Indonesia. Kabar gugurnya para guru di Provinsi Pegunungan Tengah, Papua, akibat serangan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), mengguncang hati banyak pihak. Di tengah tugas mulia mencerdaskan anak bangsa, mereka harus menghadapi ancaman yang merenggut nyawa. 


Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Dr. Drs. H. Teguh Sumarno, M.M., menyampaikan keprihatinan mendalam atas tragedi ini. Baginya, guru adalah garda terdepan peradaban, pilar bangsa yang tak hanya mengajar di ruang kelas, tetapi juga membawa harapan bagi masa depan Indonesia.

"Mereka berbekal buku, alat tulis, dan semangat, bukan senjata. Namun, kini mereka menjadi korban kekerasan yang tak berperikemanusiaan. Kami mendesak pemerintah untuk memastikan perlindungan dan keselamatan bagi seluruh guru, terutama di wilayah rawan konflik seperti Papua," tegasnya.

Tragedi ini semakin menegaskan urgensi perhatian terhadap tenaga pendidik di daerah terpencil. PGRI menyerukan percepatan pengangkatan guru honorer menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), sebagaimana telah dijanjikan oleh pemerintah. Sebab, kesejahteraan guru adalah kunci utama dalam menjaga kualitas pendidikan, terlebih bagi mereka yang mengabdi di daerah dengan kondisi sulit.

Selain perlindungan dan status kepegawaian, keamanan menjadi aspek yang tak boleh diabaikan. PGRI meminta pemerintah daerah, baik bupati maupun gubernur, untuk lebih serius dalam menjamin keselamatan guru yang bertugas di wilayah konflik.

Kisah salah satu guru yang gugur, berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT), semakin meneguhkan bahwa pengabdian tak mengenal batas. Dengan penuh dedikasi, ia meninggalkan kampung halamannya untuk mencerdaskan anak-anak Papua. Kini, namanya terukir sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, yang gugur dalam tugas.

Sebagai bentuk solidaritas, PGRI menyerukan kepada seluruh anggotanya dan masyarakat luas untuk mengibarkan bendera setengah tiang. Ini bukan sekadar tanda belasungkawa, melainkan simbol penghormatan bagi para guru yang telah berjuang dengan segenap jiwa raga mereka.

Di sisi lain, PGRI mengapresiasi langkah pemerintah dalam memberikan tunjangan profesi guru dan dosen secara langsung ke rekening penerima. Namun, organisasi ini juga menekankan bahwa lebih dari sekadar kesejahteraan finansial, yang paling mendesak adalah kepastian keamanan bagi para guru yang bertugas di daerah rawan.

Di akhir pernyataannya, Teguh Sumarno mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus mendukung perjuangan guru dalam membangun negeri ini.

"Doa para guru adalah doa bagi negeri ini. Semoga Indonesia menjadi lebih damai, bermartabat, dan melahirkan generasi penerus yang cerdas serta berkarakter. Masa depan bangsa ini ada di tangan guru-guru yang sejahtera dan terlindungi," pungkasnya.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger