Pages

Patroli Dini Hari, Polresta Banyuwangi Amankan Pemuda Konsumsi Miras di GOR

Banyuwangi (warta Blambangan) Hawa dingin dini hari tak menyurutkan langkah Tim Patroli Perintis Presisi Satsamapta Polresta Banyuwangi dalam menjaga keamanan kota. Minggu (02/02/2025), mereka menyusuri ruas jalan yang lengang, memastikan ketertiban tetap terjaga.

Saat melintas di sekitar GOR Banyuwangi, sorot lampu senter mereka menangkap bayangan sekelompok pemuda yang tengah asyik berkumpul. Suasana yang awalnya hening berubah ketika petugas mendapati tiga botol arak di tengah lingkaran mereka. Sejenak, keheningan menyelimuti, sebelum akhirnya petugas mendekat dan memberi imbauan. 


“Jangan sampai kebiasaan ini membawa kalian ke dalam masalah,” ujar salah seorang petugas, seraya meminta para pemuda untuk menunjukkan identitas mereka. Tak ingin hanya memberi teguran, petugas juga mengamankan barang bukti, memastikan minuman keras tersebut tak lagi menjadi pemicu potensi gangguan ketertiban.

Kasat Samapta Polresta Banyuwangi, Kompol Basori Alwi, S.H., M.H., menegaskan bahwa patroli ini merupakan bagian dari Program Perintis Presisi yang rutin dilakukan untuk menciptakan situasi yang kondusif.

"Kami ingin memastikan lingkungan tetap aman. Konsumsi miras di tempat umum bisa memicu gangguan keamanan, dan ini yang kami cegah sejak dini," ungkapnya.

Senada, Kanit Patroli Presisi Satsamapta, Ipda Eko Tjuk, S.H., menjelaskan bahwa patroli ini bukan sekadar tindakan preventif, tetapi juga bagian dari upaya memberantas penyakit masyarakat.

"Tempat-tempat rawan seperti ini selalu menjadi perhatian kami. Patroli akan terus kami lakukan secara berkelanjutan untuk menjaga ketertiban," tegasnya.

Dengan langkah tegas namun tetap mengedepankan pembinaan, kepolisian berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga keamanan lingkungan. Lebih dari sekadar patroli, ini adalah ajakan bagi semua pihak untuk berperan aktif dalam menciptakan Banyuwangi yang lebih aman dan tertib.

Ngrandu Sahur: Secangkir Kopi, Sejuta Gagasan

Banyuwangi (Warta Blambangan) Malam merambat menuju dini hari, ketika obrolan di sudut Kafe d'Copiz semakin hangat. Secangkir kopi mengepul di meja-meja kecil, menemani diskusi yang menggeliat di antara para jurnalis dan pegiat literasi Banyuwangi. Malam itu, Sabtu (01/03/2025), mereka berkumpul dalam acara "Ngrandu Sahur," sebuah forum santai yang menjelma menjadi ajang bertukar gagasan, merajut kolaborasi, dan meneguhkan komitmen terhadap dunia jurnalistik serta sastra. 


Di antara mereka, tampak Ricky Suliwan, Ketua Komunitas Jurnalis Jawa Timur (KJJT), yang duduk berdampingan dengan Syafaat, Ketua Lentera Sastra Banyuwangi. Moh Husen, penulis yang tak asing di dunia literasi, turut menyimak obrolan yang mengalir seperti aliran kopi dalam cangkir-cangkir mereka.

Syafaat, dengan nada santai namun penuh makna, menyampaikan pandangannya. “Ngopi bareng seperti ini sering kali memantik ide-ide baru. Kadang dari obrolan ringan, lahir gagasan besar yang bisa kita kembangkan,” ujarnya. Matanya berbinar, seakan membayangkan beragam ide yang siap dieksekusi setelah malam ini.

Ricky Suliwan mengangguk setuju. Baginya, sinergi antar komunitas adalah kunci dalam menghidupkan ekosistem jurnalistik dan literasi. "KJJT sudah beberapa kali berkolaborasi dengan Lentera Sastra, dan ke depan, kami ingin semakin mempererat kerja sama ini. Literasi bukan hanya soal tulisan, tapi juga gerakan," katanya.

Malam semakin larut, tetapi semangat mereka tak meredup. Di antara denting sendok yang menyentuh cangkir, di antara aroma kopi yang menguar di udara, mereka menyusun rencana. Ngrandu Sahur bukan sekadar bincang-bincang sahur biasa—ia adalah pijakan bagi masa depan literasi Banyuwangi.

Di luar, fajar mulai menyingsing, menyambut gagasan-gagasan yang siap lahir dan berkembang. (*)

Senja di Festival Ngrandu Buko: Berburu Takjil, Menjaga Bumi


Banyuwangi (Warta Blambangan) Aroma kolak dan gorengan menyeruak di antara riuhnya Festival Ngrandu Buko di Kawasan Pantai Marina Boom. Para pengunjung tampak antusias memilih takjil untuk berbuka puasa, sementara para pedagang sibuk melayani permintaan. Namun, tahun ini ada yang berbeda. Di tengah keriuhan berburu kuliner, hadir semangat baru: menjaga lingkungan.v


Pj Sekretaris Daerah Banyuwangi, Guntur Priambodo, berdiri di panggung utama, menyampaikan pesan penting bagi masyarakat. “Festival ini bukan hanya tentang menikmati kuliner Ramadan, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa lebih peduli terhadap lingkungan. Kami mengajak para pedagang dan pengunjung untuk mengurangi kantong plastik dan styrofoam. Beralihlah ke kemasan yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya dengan penuh semangat.

Seruan itu bukan sekadar wacana. Di beberapa stan, tampak penjual mulai menggunakan kemasan berbahan kertas. Siti, salah satu pedagang, menunjukkan bungkusan kertas yang kini menggantikan plastik dalam dagangannya. “Awalnya ragu, takut repot. Tapi ternyata lebih praktis, dan banyak pelanggan yang mendukung,” katanya sambil tersenyum.

Festival ini juga menggandeng komunitas peduli lingkungan yang membagikan tips dan edukasi tentang pengelolaan sampah. Beberapa relawan tampak membagikan kantong kain kepada pengunjung sebagai alternatif pengganti plastik.

Saat azan magrib berkumandang, pengunjung serentak menghentikan aktivitasnya. Suasana berubah hening, hanya terdengar suara riak ombak di kejauhan. Di tangan mereka, takjil dalam kemasan ramah lingkungan menjadi simbol bahwa tradisi dan kepedulian bisa berjalan beriringan.

Festival Ngrandu Buko tahun ini bukan sekadar perayaan kuliner Ramadan, tetapi juga langkah kecil Banyuwangi menuju kota wisata yang lebih hijau. Di bawah langit senja yang mulai gelap, festival ini meninggalkan pesan: menikmati berbuka puasa tidak harus merusak alam. (*)

Senja, Takjil, dan Kebersamaan di Festival Ngrandu Buko

 Banyuwangi (warta Blambangan) Sore itu, angin laut berembus lembut di Kawasan Pantai Marina Boom, membawa aroma kuliner yang menggoda selera. Festival Ngrandu Buko kembali digelar, mengundang ratusan pengunjung yang ingin menikmati suasana berbuka puasa dengan latar keindahan Selat Bali.

Di tengah keramaian, Bupati Banyuwangi, Hj. Ipuk Fiestiandani, melangkah santai di antara deretan 184 stan UMKM yang menyajikan aneka takjil dan makanan khas Nusantara. Senyumnya merekah saat menyapa para pedagang dan pembeli. "Festival ini bukan sekadar tempat berbuka, tapi juga ruang untuk menggerakkan ekonomi rakyat," ujarnya dengan hangat. 


Sementara itu, suara takmir masjid mengumumkan waktu berbuka. Seorang pria bernama Dennis, yang datang bersama istrinya, menatap meja penuh makanan dengan mata berbinar. "Saking banyaknya pilihan, sampai bingung mau mulai dari mana," katanya seraya tertawa kecil, sementara istrinya menyodorkan segelas es campur.

Di berbagai kecamatan, festival serupa berlangsung serentak. Layar Zoom di panggung utama menampilkan suasana dari Bangorejo hingga Licin, memperlihatkan keriuhan yang sama: tawa anak-anak, obrolan hangat keluarga, dan pedagang yang sibuk melayani pembeli.

Saat malam menjelang, lampu-lampu di sekitar pantai mulai menyala, memantulkan cahaya di permukaan laut yang tenang. Festival Ngrandu Buko bukan sekadar pasar takjil—ia adalah perayaan kebersamaan, yang setiap tahunnya selalu dinanti warga Banyuwangi. (*)

Rukyatul Hilal di Banyuwangi: Menjemput Cahaya Ramadhan


Banyuwangi, (Warta Blambangan) Senja mulai meredup di ufuk barat ketika para ulama, astronom, dan perwakilan ormas Islam berkumpul di Pantai Alas Purwo, Kecamatan Tegaldlimo., Jumat (28/02/2025) Langit bersih membentang, menyisakan semburat jingga yang perlahan tenggelam dalam kegelapan. Di tempat inilah Tim Hisab dan Rukyat dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menggelar observasi Rukyatul Hilal, sebuah ritual ilmiah dan spiritual yang menjadi penentu awal bulan suci Ramadhan.


Di antara gelombang laut yang tenang dan angin yang membawa harum asin pantai, mata-mata terlatih menatap cakrawala dengan penuh harap. Sejumlah ormas Islam, termasuk Nahdlatul Ulama (NU) Al Irsyad dan LDII, serta akademisi dari perguruan tinggi Islam di Banyuwangi, turut hadir menyaksikan momen krusial ini. Melalui teropong canggih, mereka mencari keberadaan hilal—bulan sabit tipis yang menjadi tanda pergantian bulan hijriah.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, dengan penuh ketenangan menyampaikan bahwa hasil pengamatan ini akan segera dilaporkan ke Kementerian Agama Republik Indonesia. "Kami menjalankan tugas sesuai prosedur yang berlaku. Hasil Rukyatul Hilal ini akan menjadi bahan pertimbangan dalam sidang isbat yang digelar oleh Kementerian Agama RI," ujarnya.

Di tempat lain, di Auditorium H.M. Rasjidi, Jakarta Pusat, sidang isbat berlangsung dengan khidmat. Perwakilan ormas Islam dari seluruh penjuru tanah air, serta duta besar negara-negara Islam, turut hadir dalam pertemuan yang akan menentukan kapan umat Islam Indonesia memulai ibadah puasa. Setelah mendengar laporan dari berbagai daerah, termasuk dari Banyuwangi, sidang akhirnya menetapkan: 1 Ramadhan 1446 H jatuh pada Sabtu, 1 Maret 2025.

Di Banyuwangi, kabar itu diterima dengan penuh syukur. Cahaya lampu-lampu masjid mulai menyala, seakan menyambut datangnya bulan penuh berkah. Para jamaah bersiap melangkahkan kaki menuju tarawih pertama, meresapi betapa Ramadhan bukan sekadar pergantian waktu, tetapi juga perjalanan spiritual menuju keikhlasan dan ketakwaan.

Dan di Pantai Alas Purwo, tempat hilal pertama kali dicari, malam pun turun perlahan, menyelimuti pantai dalam ketenangan. Sebuah siklus baru dimulai, menghadirkan harapan dan kesempatan bagi setiap jiwa untuk kembali lebih dekat kepada-Nya.

ISNU Cabang Banyuwang adakan Raker untuk Mengukuhkan Eksistensi NU dan Membangun Kolaborasi Menuju Banyuwang yang Lebih Baiki

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Banyuwangi, Kamis (27/02/2025) menggelar Rapat Kerja Cabang (Raker Cabang) di Ijen Resort. Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pengurus ISNU, tokoh NU, serta perwakilan Forum Pimpinan Daerah, Ketua MUI Banyuwangi dan Pimpinan Cabang NU Banyuwangi.



Ketua PC ISNU Banyuwangi, Abdul Aziz, dalam sambutannya menegaskan bahwa ISNU merupakan wadah bagi intelektual NU yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi, baik sarjana, magister, maupun doktor.


"Sejak awal kehadiran ISNU di Banyuwangi pada tahun 2020, saya sudah mempraktikkan bahwa organisasi ini harus bisa mewadahi sahabat-sahabat dari berbagai latar belakang akademik dan pergerakan. Di sini kita bisa melihat alumni dari PMII, HMI, hingga GMNI. ISNU mampu menyatukan semuanya dalam bingkai keilmuan dan pergerakan intelektual," ujarnya.



Lebih lanjut, Abdul Aziz menekankan bahwa ISNU harus hadir di tengah masyarakat, tidak hanya sebagai kaum intelektual yang sekadar berpikir di menara gading, tetapi juga berkontribusi nyata dalam berbagai persoalan daerah, seperti penegakan hukum, politik, sosial, budaya, hingga pertanian.


Sementara itu, Ketua PCNU Banyuwangi, Guntur Al Badri, menegaskan bahwa ISNU memiliki peran strategis dalam membangun intelektual NU.


"ISNU adalah tempat berhimpunnya intelektual NU yang harus memberikan kontribusi nyata. Jangan sampai NU kehilangan warna dalam berbagai sektor, termasuk politik. Teman-teman ISNU harus bisa mengisi ruang-ruang strategis dengan tetap menjaga nilai-nilai ke-NU-an," katanya.


Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, yang berhalangan hadir diwakili oleh Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat, Yusdi Irawan. Dalam sambutannya, ia menyampaikan permohonan maaf dari Bupati yang sedang menghadiri retreat di Magelang.


"Goalnya adalah menjadikan Banyuwangi semakin sejahtera dan maju. ISNU sebagai bagian dari elemen intelektual NU diharapkan bisa bersinergi dengan pemerintah daerah. Mengkritisi boleh, tapi harus ada solusi. Komunikasi yang baik antara ISNU dan Pemkab sangat penting agar kebijakan yang diambil benar-benar bermanfaat bagi masyarakat," ujar Yusdi.


Acara ini dihadiri oleh seluruh pengurus cabang ISNU Kabupaten Banyuwangi, tokoh NU, serta perwakilan Forum Pimpinan Daerah. Dengan semangat kebersamaan dan intelektualitas, diharapkan ISNU dapat semakin berperan aktif dalam membangun Banyuwangi yang lebih baik.

 Banyuwangi,  – Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, yang diwakili oleh Plt. Kepala Sub Bagian Tata Usaha Dimyati, didampingi Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam, secara resmi melepas dai program Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) di ruang tamu Kepala Kantor Kemenag Banyuwangi, Kamis (27/2)2025).



Moh. Kamil Anwar, dai asal Tegalharjo, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, ditugaskan untuk mengabdi di Desa Banyuanyar, Kecamatan Kalibaru, selama satu bulan hingga 27 Maret 2025. Program ini bertujuan untuk memperkuat syiar Islam di daerah yang membutuhkan pendampingan dalam aspek keagamaan dan sosial.


Dalam kesempatan tersebut, Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam berpesan agar dai tidak hanya menjalankan tugas selama masa penugasan, tetapi juga meninggalkan warisan keilmuan yang dapat terus dilakukan masyarakat setempat. Salah satu fokus utama adalah metode baca tulis Al-Qur'an, yang diharapkan dapat dikembangkan dan dilanjutkan oleh masyarakat meskipun masa tugas dai telah berakhir.


"Pemberdayaan masyarakat dalam bidang keagamaan harus terus berkelanjutan. Kami berharap metode baca tulis Al-Qur'an yang diperkenalkan dapat menjadi wakaf ilmu yang terus bermanfaat," ujar Kepala Seksi Bimas Islam.


Pelepasan dai 3T ini merupakan bagian dari komitmen Kementerian Agama dalam mendukung peningkatan literasi keagamaan serta pembinaan umat di wilayah yang membutuhkan.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger