Pages

Senja, Takjil, dan Kebersamaan di Festival Ngrandu Buko

 Banyuwangi (warta Blambangan) Sore itu, angin laut berembus lembut di Kawasan Pantai Marina Boom, membawa aroma kuliner yang menggoda selera. Festival Ngrandu Buko kembali digelar, mengundang ratusan pengunjung yang ingin menikmati suasana berbuka puasa dengan latar keindahan Selat Bali.

Di tengah keramaian, Bupati Banyuwangi, Hj. Ipuk Fiestiandani, melangkah santai di antara deretan 184 stan UMKM yang menyajikan aneka takjil dan makanan khas Nusantara. Senyumnya merekah saat menyapa para pedagang dan pembeli. "Festival ini bukan sekadar tempat berbuka, tapi juga ruang untuk menggerakkan ekonomi rakyat," ujarnya dengan hangat. 


Sementara itu, suara takmir masjid mengumumkan waktu berbuka. Seorang pria bernama Dennis, yang datang bersama istrinya, menatap meja penuh makanan dengan mata berbinar. "Saking banyaknya pilihan, sampai bingung mau mulai dari mana," katanya seraya tertawa kecil, sementara istrinya menyodorkan segelas es campur.

Di berbagai kecamatan, festival serupa berlangsung serentak. Layar Zoom di panggung utama menampilkan suasana dari Bangorejo hingga Licin, memperlihatkan keriuhan yang sama: tawa anak-anak, obrolan hangat keluarga, dan pedagang yang sibuk melayani pembeli.

Saat malam menjelang, lampu-lampu di sekitar pantai mulai menyala, memantulkan cahaya di permukaan laut yang tenang. Festival Ngrandu Buko bukan sekadar pasar takjil—ia adalah perayaan kebersamaan, yang setiap tahunnya selalu dinanti warga Banyuwangi. (*)

Rukyatul Hilal di Banyuwangi: Menjemput Cahaya Ramadhan


Banyuwangi, (Warta Blambangan) Senja mulai meredup di ufuk barat ketika para ulama, astronom, dan perwakilan ormas Islam berkumpul di Pantai Alas Purwo, Kecamatan Tegaldlimo., Jumat (28/02/2025) Langit bersih membentang, menyisakan semburat jingga yang perlahan tenggelam dalam kegelapan. Di tempat inilah Tim Hisab dan Rukyat dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menggelar observasi Rukyatul Hilal, sebuah ritual ilmiah dan spiritual yang menjadi penentu awal bulan suci Ramadhan.


Di antara gelombang laut yang tenang dan angin yang membawa harum asin pantai, mata-mata terlatih menatap cakrawala dengan penuh harap. Sejumlah ormas Islam, termasuk Nahdlatul Ulama (NU) Al Irsyad dan LDII, serta akademisi dari perguruan tinggi Islam di Banyuwangi, turut hadir menyaksikan momen krusial ini. Melalui teropong canggih, mereka mencari keberadaan hilal—bulan sabit tipis yang menjadi tanda pergantian bulan hijriah.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, dengan penuh ketenangan menyampaikan bahwa hasil pengamatan ini akan segera dilaporkan ke Kementerian Agama Republik Indonesia. "Kami menjalankan tugas sesuai prosedur yang berlaku. Hasil Rukyatul Hilal ini akan menjadi bahan pertimbangan dalam sidang isbat yang digelar oleh Kementerian Agama RI," ujarnya.

Di tempat lain, di Auditorium H.M. Rasjidi, Jakarta Pusat, sidang isbat berlangsung dengan khidmat. Perwakilan ormas Islam dari seluruh penjuru tanah air, serta duta besar negara-negara Islam, turut hadir dalam pertemuan yang akan menentukan kapan umat Islam Indonesia memulai ibadah puasa. Setelah mendengar laporan dari berbagai daerah, termasuk dari Banyuwangi, sidang akhirnya menetapkan: 1 Ramadhan 1446 H jatuh pada Sabtu, 1 Maret 2025.

Di Banyuwangi, kabar itu diterima dengan penuh syukur. Cahaya lampu-lampu masjid mulai menyala, seakan menyambut datangnya bulan penuh berkah. Para jamaah bersiap melangkahkan kaki menuju tarawih pertama, meresapi betapa Ramadhan bukan sekadar pergantian waktu, tetapi juga perjalanan spiritual menuju keikhlasan dan ketakwaan.

Dan di Pantai Alas Purwo, tempat hilal pertama kali dicari, malam pun turun perlahan, menyelimuti pantai dalam ketenangan. Sebuah siklus baru dimulai, menghadirkan harapan dan kesempatan bagi setiap jiwa untuk kembali lebih dekat kepada-Nya.

ISNU Cabang Banyuwang adakan Raker untuk Mengukuhkan Eksistensi NU dan Membangun Kolaborasi Menuju Banyuwang yang Lebih Baiki

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Banyuwangi, Kamis (27/02/2025) menggelar Rapat Kerja Cabang (Raker Cabang) di Ijen Resort. Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pengurus ISNU, tokoh NU, serta perwakilan Forum Pimpinan Daerah, Ketua MUI Banyuwangi dan Pimpinan Cabang NU Banyuwangi.



Ketua PC ISNU Banyuwangi, Abdul Aziz, dalam sambutannya menegaskan bahwa ISNU merupakan wadah bagi intelektual NU yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi, baik sarjana, magister, maupun doktor.


"Sejak awal kehadiran ISNU di Banyuwangi pada tahun 2020, saya sudah mempraktikkan bahwa organisasi ini harus bisa mewadahi sahabat-sahabat dari berbagai latar belakang akademik dan pergerakan. Di sini kita bisa melihat alumni dari PMII, HMI, hingga GMNI. ISNU mampu menyatukan semuanya dalam bingkai keilmuan dan pergerakan intelektual," ujarnya.



Lebih lanjut, Abdul Aziz menekankan bahwa ISNU harus hadir di tengah masyarakat, tidak hanya sebagai kaum intelektual yang sekadar berpikir di menara gading, tetapi juga berkontribusi nyata dalam berbagai persoalan daerah, seperti penegakan hukum, politik, sosial, budaya, hingga pertanian.


Sementara itu, Ketua PCNU Banyuwangi, Guntur Al Badri, menegaskan bahwa ISNU memiliki peran strategis dalam membangun intelektual NU.


"ISNU adalah tempat berhimpunnya intelektual NU yang harus memberikan kontribusi nyata. Jangan sampai NU kehilangan warna dalam berbagai sektor, termasuk politik. Teman-teman ISNU harus bisa mengisi ruang-ruang strategis dengan tetap menjaga nilai-nilai ke-NU-an," katanya.


Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, yang berhalangan hadir diwakili oleh Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat, Yusdi Irawan. Dalam sambutannya, ia menyampaikan permohonan maaf dari Bupati yang sedang menghadiri retreat di Magelang.


"Goalnya adalah menjadikan Banyuwangi semakin sejahtera dan maju. ISNU sebagai bagian dari elemen intelektual NU diharapkan bisa bersinergi dengan pemerintah daerah. Mengkritisi boleh, tapi harus ada solusi. Komunikasi yang baik antara ISNU dan Pemkab sangat penting agar kebijakan yang diambil benar-benar bermanfaat bagi masyarakat," ujar Yusdi.


Acara ini dihadiri oleh seluruh pengurus cabang ISNU Kabupaten Banyuwangi, tokoh NU, serta perwakilan Forum Pimpinan Daerah. Dengan semangat kebersamaan dan intelektualitas, diharapkan ISNU dapat semakin berperan aktif dalam membangun Banyuwangi yang lebih baik.

 Banyuwangi,  – Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, yang diwakili oleh Plt. Kepala Sub Bagian Tata Usaha Dimyati, didampingi Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam, secara resmi melepas dai program Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) di ruang tamu Kepala Kantor Kemenag Banyuwangi, Kamis (27/2)2025).



Moh. Kamil Anwar, dai asal Tegalharjo, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, ditugaskan untuk mengabdi di Desa Banyuanyar, Kecamatan Kalibaru, selama satu bulan hingga 27 Maret 2025. Program ini bertujuan untuk memperkuat syiar Islam di daerah yang membutuhkan pendampingan dalam aspek keagamaan dan sosial.


Dalam kesempatan tersebut, Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam berpesan agar dai tidak hanya menjalankan tugas selama masa penugasan, tetapi juga meninggalkan warisan keilmuan yang dapat terus dilakukan masyarakat setempat. Salah satu fokus utama adalah metode baca tulis Al-Qur'an, yang diharapkan dapat dikembangkan dan dilanjutkan oleh masyarakat meskipun masa tugas dai telah berakhir.


"Pemberdayaan masyarakat dalam bidang keagamaan harus terus berkelanjutan. Kami berharap metode baca tulis Al-Qur'an yang diperkenalkan dapat menjadi wakaf ilmu yang terus bermanfaat," ujar Kepala Seksi Bimas Islam.


Pelepasan dai 3T ini merupakan bagian dari komitmen Kementerian Agama dalam mendukung peningkatan literasi keagamaan serta pembinaan umat di wilayah yang membutuhkan.

Cahaya Doa di Pelataran Kemenag: Istighosah Menyambut Ramadan


Banyuwangi—Malam berpendar cahaya doa, lembar-lembar zikir terbang melangit, menggetarkan langit Banyuwangi. Kamis malam (26/02/2026), halaman Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menjadi saksi helai-helai pengharapan yang dikidungkan dalam istighosah bersama, menyambut datangnya bulan suci Ramadan. 


Di bawah langit yang teduh, Ustadz Fauzan Anshori dari Seksi Bimbingan Masyarakat Islam menjadi pemandu ruhani, membawa para Aparatur Sipil Negara (ASN) Kemenag Banyuwangi dan insan madrasah negeri dalam rangkaian doa yang lirih namun penuh daya.

Dr. Chaironi Hidayat, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, menuturkan dalam sambutannya, bahwa istighosah ini bukan sekadar tradisi, melainkan denyut kehidupan yang menyatukan harapan dan ikhtiar.

“Kita tidak hanya merajut doa, tetapi juga menganyam kebersamaan. Ramadan perlu disambut dengan hati yang lapang, penuh ikhlas, dan jiwa yang bersih dari segala debu dunia,” tuturnya, penuh makna.

Dalam kesyahduan malam, istighosah diawali dengan tawassul, diikuti gemuruh doa yang mengalir tanpa sekat, menembus batas-batas duniawi. Wajah-wajah para jamaah memantulkan cahaya harap, sementara hati mereka bergetar dalam takzim. 


Malam itu, istighosah menjadi jembatan ruhani, menghubungkan insan-insan Kemenag Banyuwangi dengan samudra rahmat Ilahi. Dan di ufuk yang mulai meremang, Ramadan sudah melangkah mendekat, membawa janji keberkahan bagi mereka yang telah bersiap dengan hati penuh keimanan.

Rempeg Jogopati agul-Agule Tanah Belambangan: Napak Tilas Seni Budaya Banyuwangi


Rempeg Rogojampi Agul-Agule Tanah Belambangan: Napak Tilas Seni Budaya Banyuwangi

Saya menghadiri acara yang diadakan oleh komunitas Joyo Karyo di Hedon Cafe dengan tema "Rempeg Jogopati Agul-Agule Tanah Belambangan". Sejak awal, saya penasaran dengan konsep acara ini, mengingat Joyo Karyo dikenal sebagai komunitas yang aktif mengangkat seni dan budaya lokal Banyuwangi. Saya pun beberapa kali menikmati penampilan mereka dalam berbagai acara sebelumnya, serta berdiskusi dengan anak-anak Joyo Karyo di Omah Kopi tentang musik Banyuwangi yang seakan tak ada habisnya untuk dibahas.

Saat melihat tema acara ini, saya belum memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang akan ditampilkan. Namun, perlahan semuanya mulai terasa ketika acara dimulai dengan berbagai pertunjukan seni khas Banyuwangi, seperti "mocoan Pacul Goang", tari Kuntulan, dan Gandrung. Momen ini membawa saya kembali mengenang masa kecil, ketika seni Kuntulan begitu populer di berbagai hajatan kampung dan acara imtihan di pesantren.

Dulu, saya sering menikmati pertunjukan Kuntulan hingga larut malam, terutama ketika ada Kuntulan Caruk—sebuah pertunjukan yang menghadirkan dua atau lebih kelompok Kuntulan untuk saling beradu kreativitas. Namun, seiring waktu, Kuntulan dilarang tampil di tempat umum. Hal ini disebabkan oleh perilaku penonton, terutama anak-anak muda yang tidak bisa menahan diri dan ikut berjoget hingga menimbulkan kericuhan dan tawuran.

Padahal, pada dasarnya tidak ada yang salah dengan tarian ini. Seni tidak mengenal agama, melainkan hanya cara orang menggunakannya yang bisa membuatnya dipandang positif ataupun mungkin negatif. Kuntulan sendiri merupakan bagian dari tradisi Banyuwangi yang memiliki sejarah panjang dan erat kaitannya dengan masyarakat pesantren. 


Dari cerita orang-orang tua yang saya dengar ketika masih kecil, Kuntulan dan Gandrung pernah menjadi simbol dari dua kelompok besar yang berseberangan secara ideologi di masa lalu. Di tahun 1960-an, ketika situasi politik di Indonesia tengah memanas, dua organisasi besar di Banyuwangi menggunakan seni sebagai alat untuk mengumpulkan massa. Salah satu pihak menggunakan seni Gandrung sebagai daya tarik, sementara pihak lainnya mengandalkan tarian Kuntulan.

Namun, menariknya, para pendahulu kita tidak melarang salah satu kelompok untuk menggunakan seni sebagai sarana propaganda. Mereka membiarkan kedua kelompok mengekspresikan diri melalui tarian masing-masing, mencerminkan kebijaksanaan dalam menjaga keberagaman seni dan budaya di Banyuwangi.

Kini, seni-seni tradisional di Banyuwangi terus berkembang dan beradaptasi dengan zaman. Baik Gandrung maupun Kuntulan, keduanya masih eksis dengan berbagai modifikasi agar tetap relevan dan diterima oleh masyarakat modern. Saya merasa beruntung bisa menyaksikan dan menuliskan pengalaman ini, sambil menikmati pertunjukan seni yang kian berkembang di tanah Belambangan.

Keberadaan acara seperti "Agul-Agule Tanah Belambangan" yang diselenggarakan oleh Joyo Karyo membuktikan bahwa seni dan budaya Banyuwangi tetap lestari. Semoga semakin banyak generasi muda yang tertarik untuk melestarikan dan menggali lebih dalam warisan budaya kita, sehingga nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan diwariskan ke generasi selanjutnya.


Lestarikan Tradisi Banyuwangi dengan Mocoan Lontar

Lestarikan Tradisi Banyuwangi dengan Mocoan Lontar

Banyuwangi, sebuah daerah di ujung timur Pulau Jawa, memiliki kekayaan budaya yang begitu kaya dan unik. Salah satu tradisi yang masih bertahan hingga kini adalah mocoan lontar, yaitu pembacaan kitab sastra kuno yang berbahasa Pegon atau huruf Arab yang telah dikodifikasi agar sesuai dengan kebutuhan bahasa lokal. Tradisi ini bukan hanya sekadar membaca teks kuno, tetapi juga sarana untuk melestarikan nilai-nilai budaya dan agama yang telah diwariskan oleh leluhur.



Mocoan lontar merupakan tradisi membaca naskah-naskah kuno yang mengandung nilai-nilai religius, moral, dan sosial. Naskah-naskah ini biasanya ditulis dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab Pegon, yang menjadi media penyebaran ajaran Islam di Nusantara. Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun, terutama di kalangan masyarakat Banyuwangi yang masih mempertahankan nilai-nilai tradisional.

Beberapa lontar yang biasa dibaca dalam tradisi mocoan pacul goang adalah Lontar Yusuf dan Lontar Hadis Dagang. Lontar Yusuf merupakan kisah yang terinspirasi dari perjalanan hidup Nabi Yusuf, penuh dengan ajaran kesabaran, keteguhan hati, serta nilai-nilai kehidupan yang mendalam. Sementara itu, Lontar Hadis Dagang sering dibaca ketika ada hajat yang berkaitan dengan ekonomi dan perdagangan. Pembacaan ini dipercaya membawa berkah bagi mereka yang berwirausaha atau sedang merintis usaha.

Sebagai seorang yang beberapa kali menghadiri acara mocoan lontar, saya menyaksikan langsung bagaimana tradisi ini masih mendapatkan tempat di hati masyarakat. Bahkan, beberapa kali saya turut menemani para peneliti dari perguruan tinggi maupun Balitbang ke berbagai tempat yang masih rutin mengadakan mocoan lontar, salah satunya di pesinaun di Kemiren, sebuah desa adat yang masih kental dengan tradisi Osing.

Di Kemiren, tradisi ini dijalankan dengan penuh kekhidmatan. Para sesepuh desa, dengan suara merdu dan penuh penghayatan, membaca lontar di hadapan para pendengar yang sebagian besar adalah generasi tua. Namun, tak jarang juga anak-anak muda turut serta, meskipun hanya sebagai pendengar. Hal ini memberikan harapan bahwa tradisi ini tidak akan punah begitu saja.

Beberapa lembaga yang peduli terhadap pelestarian budaya juga turut andil dalam menjaga eksistensi mocoan lontar. Dewan Kesenian Belambangan, misalnya, sering mengadakan kegiatan yang bertujuan untuk mengenalkan dan menghidupkan kembali tradisi ini di kalangan generasi muda. Selain itu, para budayawan lokal juga kerap menginisiasi acara mocoan lontar dalam berbagai kesempatan, seperti festival budaya maupun acara keagamaan.



Keberadaan lontar-lontar ini dulu merupakan salah satu pintu utama dalam mengenalkan ajaran agama Islam melalui jalur seni dan budaya. Di masa lalu, banyak masyarakat yang belum bisa membaca Al-Qur’an atau kitab-kitab klasik berbahasa Arab. Oleh karena itu, para ulama dan wali menggunakan media lontar berbahasa Pegon sebagai sarana dakwah yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat awam. Dengan begitu, Islam dapat diterima dengan lebih baik tanpa menghilangkan unsur budaya lokal.

Dalam mocoan lontar, pembacaan sering kali dilakukan dengan irama tertentu, mirip dengan mocopat atau tembang macapat dalam tradisi Jawa. Hal ini membuat teks yang dibacakan lebih mudah diingat dan dipahami. Selain itu, dalam beberapa kesempatan, pembacaan juga diiringi dengan alat musik tradisional seperti rebana atau kendang, yang semakin memperkaya nuansa estetika dan spiritual dalam prosesi mocoan.

Sayangnya, seiring dengan perkembangan zaman, tradisi ini mulai mengalami penurunan peminat, terutama di kalangan generasi muda. Gempuran teknologi dan budaya global membuat anak-anak muda lebih tertarik dengan hal-hal modern dibandingkan tradisi yang dianggap kuno dan ketinggalan zaman.

Untuk mengatasi tantangan ini, beberapa komunitas budaya dan akademisi telah berupaya mengadaptasi tradisi mocoan lontar ke dalam format yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman. Misalnya, ada yang mulai mendigitalisasi naskah-naskah lontar agar lebih mudah diakses oleh generasi muda. Selain itu, penggunaan media sosial sebagai sarana promosi dan edukasi juga menjadi langkah yang efektif untuk memperkenalkan kembali tradisi ini.

Tidak hanya itu, beberapa sekolah dan madrasah di Banyuwangi mulai memasukkan mocoan lontar sebagai bagian dari kegiatan ekstrakurikuler. Hal ini diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan terhadap warisan budaya sejak dini. Dengan begitu, di masa depan, tradisi ini dapat tetap hidup dan berkembang tanpa harus kehilangan esensinya.

Mocoan lontar bukan sekadar kegiatan membaca naskah kuno, tetapi juga sarana untuk menjaga dan meneruskan warisan budaya serta nilai-nilai keagamaan yang telah ada sejak lama. Keberadaan lontar-lontar seperti Lontar Yusuf dan Lontar Hadis Dagang menjadi bukti bagaimana sastra dan agama bisa berjalan beriringan dalam kehidupan masyarakat Banyuwangi.

Di tengah tantangan modernisasi, pelestarian tradisi ini memerlukan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari masyarakat, akademisi, hingga pemerintah. Dengan inovasi dan adaptasi yang tepat, mocoan lontar dapat terus hidup dan menjadi bagian dari identitas budaya Banyuwangi yang kaya dan berharga. Sudah saatnya kita bersama-sama menjaga warisan ini agar tidak hilang ditelan zaman.


 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger