Pages

Lestarikan Tradisi Banyuwangi dengan Mocoan Lontar

Lestarikan Tradisi Banyuwangi dengan Mocoan Lontar

Banyuwangi, sebuah daerah di ujung timur Pulau Jawa, memiliki kekayaan budaya yang begitu kaya dan unik. Salah satu tradisi yang masih bertahan hingga kini adalah mocoan lontar, yaitu pembacaan kitab sastra kuno yang berbahasa Pegon atau huruf Arab yang telah dikodifikasi agar sesuai dengan kebutuhan bahasa lokal. Tradisi ini bukan hanya sekadar membaca teks kuno, tetapi juga sarana untuk melestarikan nilai-nilai budaya dan agama yang telah diwariskan oleh leluhur.



Mocoan lontar merupakan tradisi membaca naskah-naskah kuno yang mengandung nilai-nilai religius, moral, dan sosial. Naskah-naskah ini biasanya ditulis dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab Pegon, yang menjadi media penyebaran ajaran Islam di Nusantara. Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun, terutama di kalangan masyarakat Banyuwangi yang masih mempertahankan nilai-nilai tradisional.

Beberapa lontar yang biasa dibaca dalam tradisi mocoan pacul goang adalah Lontar Yusuf dan Lontar Hadis Dagang. Lontar Yusuf merupakan kisah yang terinspirasi dari perjalanan hidup Nabi Yusuf, penuh dengan ajaran kesabaran, keteguhan hati, serta nilai-nilai kehidupan yang mendalam. Sementara itu, Lontar Hadis Dagang sering dibaca ketika ada hajat yang berkaitan dengan ekonomi dan perdagangan. Pembacaan ini dipercaya membawa berkah bagi mereka yang berwirausaha atau sedang merintis usaha.

Sebagai seorang yang beberapa kali menghadiri acara mocoan lontar, saya menyaksikan langsung bagaimana tradisi ini masih mendapatkan tempat di hati masyarakat. Bahkan, beberapa kali saya turut menemani para peneliti dari perguruan tinggi maupun Balitbang ke berbagai tempat yang masih rutin mengadakan mocoan lontar, salah satunya di pesinaun di Kemiren, sebuah desa adat yang masih kental dengan tradisi Osing.

Di Kemiren, tradisi ini dijalankan dengan penuh kekhidmatan. Para sesepuh desa, dengan suara merdu dan penuh penghayatan, membaca lontar di hadapan para pendengar yang sebagian besar adalah generasi tua. Namun, tak jarang juga anak-anak muda turut serta, meskipun hanya sebagai pendengar. Hal ini memberikan harapan bahwa tradisi ini tidak akan punah begitu saja.

Beberapa lembaga yang peduli terhadap pelestarian budaya juga turut andil dalam menjaga eksistensi mocoan lontar. Dewan Kesenian Belambangan, misalnya, sering mengadakan kegiatan yang bertujuan untuk mengenalkan dan menghidupkan kembali tradisi ini di kalangan generasi muda. Selain itu, para budayawan lokal juga kerap menginisiasi acara mocoan lontar dalam berbagai kesempatan, seperti festival budaya maupun acara keagamaan.



Keberadaan lontar-lontar ini dulu merupakan salah satu pintu utama dalam mengenalkan ajaran agama Islam melalui jalur seni dan budaya. Di masa lalu, banyak masyarakat yang belum bisa membaca Al-Qur’an atau kitab-kitab klasik berbahasa Arab. Oleh karena itu, para ulama dan wali menggunakan media lontar berbahasa Pegon sebagai sarana dakwah yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat awam. Dengan begitu, Islam dapat diterima dengan lebih baik tanpa menghilangkan unsur budaya lokal.

Dalam mocoan lontar, pembacaan sering kali dilakukan dengan irama tertentu, mirip dengan mocopat atau tembang macapat dalam tradisi Jawa. Hal ini membuat teks yang dibacakan lebih mudah diingat dan dipahami. Selain itu, dalam beberapa kesempatan, pembacaan juga diiringi dengan alat musik tradisional seperti rebana atau kendang, yang semakin memperkaya nuansa estetika dan spiritual dalam prosesi mocoan.

Sayangnya, seiring dengan perkembangan zaman, tradisi ini mulai mengalami penurunan peminat, terutama di kalangan generasi muda. Gempuran teknologi dan budaya global membuat anak-anak muda lebih tertarik dengan hal-hal modern dibandingkan tradisi yang dianggap kuno dan ketinggalan zaman.

Untuk mengatasi tantangan ini, beberapa komunitas budaya dan akademisi telah berupaya mengadaptasi tradisi mocoan lontar ke dalam format yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman. Misalnya, ada yang mulai mendigitalisasi naskah-naskah lontar agar lebih mudah diakses oleh generasi muda. Selain itu, penggunaan media sosial sebagai sarana promosi dan edukasi juga menjadi langkah yang efektif untuk memperkenalkan kembali tradisi ini.

Tidak hanya itu, beberapa sekolah dan madrasah di Banyuwangi mulai memasukkan mocoan lontar sebagai bagian dari kegiatan ekstrakurikuler. Hal ini diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan terhadap warisan budaya sejak dini. Dengan begitu, di masa depan, tradisi ini dapat tetap hidup dan berkembang tanpa harus kehilangan esensinya.

Mocoan lontar bukan sekadar kegiatan membaca naskah kuno, tetapi juga sarana untuk menjaga dan meneruskan warisan budaya serta nilai-nilai keagamaan yang telah ada sejak lama. Keberadaan lontar-lontar seperti Lontar Yusuf dan Lontar Hadis Dagang menjadi bukti bagaimana sastra dan agama bisa berjalan beriringan dalam kehidupan masyarakat Banyuwangi.

Di tengah tantangan modernisasi, pelestarian tradisi ini memerlukan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari masyarakat, akademisi, hingga pemerintah. Dengan inovasi dan adaptasi yang tepat, mocoan lontar dapat terus hidup dan menjadi bagian dari identitas budaya Banyuwangi yang kaya dan berharga. Sudah saatnya kita bersama-sama menjaga warisan ini agar tidak hilang ditelan zaman.


Menjalin Asa dalam Buku: Kerja Sama untuk Masa Depan Literasi

 

Banyuwangi (Warta Blambangan) Di sebuah aula Perpustakaan yang dipenuhi aksar, huruf dan  kata serta pemikiran, Herny Nilawati duduk dengan penuh antusias. Bedah buku Jejak Kritik baru saja usai, Jumat (21/02/2025) namun pikirannya masih mengembara, mencari cara agar literasi di madrasahnya bisa berkembang lebih mendunia. Di hadapannya, Zen Kostolani, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banyuwangi, menyambutnya dengan senyum penuh makna.

Dalam percakapan yang mengalir hangat, Zen menegaskan bahwa literasi bukan sekadar membaca dan menulis, tetapi tentang membuka jendela wawasan. Ia menawarkan dukungan penuh untuk menerbitkan buku-buku layak dalam bentuk e-book, agar semakin banyak generasi muda yang terinspirasi untuk berkarya.

Mata Herny berbinar seperti senyunya yang selalu merekah, di dampingi ketua Lentera Sastra Banyuwangi. Dalam bersambut. baginya, ini bukan sekadar janji, melainkan kesempatan emas bagi siswa-siswanya. Ia membayangkan anak-anak duta perpustakaan yang begitu bersemangat, berdiskusi, membaca, dan menulis dengan lebih leluasa, di dampingi para penulis hebat. Dalam waktu dekat, mereka akan menggelar kegiatan bersama, sebuah langkah kecil untuk cita-cita besar: menjadikan perpustakaan sebagai jantung ilmu pengetahuan. 


Literasi bukan hanya tentang menelusuri halaman demi halaman buku, tetapi juga tentang menanamkan mimpi, membangun asa, dan menciptakan masa depan yang lebih terang. Di Banyuwangi, sinar itu mulai menyala. 

Jejak Kritik: Menelusuri Jejak, Mengukir Makna

 

Banyuwangi (Warta Blambangan) Dewan Kesenian Belambangan (DKB) Banyuwangi menggelar bedah buku berjudul Jejak Kritik karya Moh Husen pada Jumat (21/2/2025) di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi. Acara ini dimoderatori oleh Syafaat dari Lentera Sastra Banyuwangi dan dihadiri oleh berbagai kalangan, termasuk akademisi, pegiat literasi, dan masyarakat umum. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Drs. Zen Kostolani, M.Si., turut hadir dan menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan literasi semacam ini. Lebih lanjut, Zen Kostolani menyampaikan bahwa buku yang ditulis Moh Husen ini patut diacungi jempol dengan bahasa santai dalam menyampaikan kritik, dan Dinas Perpusip Kabupaten Banyuwangi memfasilitasi buku tersebut dalam bentuk E-Book sehingga mudah dibaca dan mudah disebarkan.

Dalam diskusi, Samsudin Adlawi, Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi, mengupas makna kritik dan menekankan pentingnya memahami kritik secara konstruktif. “Kritik dapat mengubah keadaan jika pemimpin mau mendengarkan rakyatnya,” ujarnya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa tidak semua orang mampu memahami kritik yang disampaikan.

Sementara itu, Muttafaqurrahmah, dosen Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, menyoroti bahwa buku yang baik adalah buku yang telah selesai dengan baik dan telah memiliki ISBN. Ia juga memberikan catatan tentang gaya bahasa Moh Husen yang sederhana namun kaya makna. Menurutnya, beberapa kata khas yang sering digunakan Husen di akhir tulisan, seperti so, monggo, lha wong, dan lainnya, membuat buku ini terasa luwes dan ringan dibaca. 


Dalam pembahasannya, Husen menjelaskan bahwa buku Jejak Kritik merupakan kumpulan tulisan dari kolom yang pernah dimuat di berbagai media. Buku ini dianalogikan sebagai alat transportasi dalam kehidupan, dengan tiga bagian utama: Rem, Spion, dan Setir.

  • Rem menggambarkan pentingnya pengendalian diri sebelum bertindak.
  • Spion mengajarkan refleksi sosial, melihat ke belakang untuk memahami kondisi sekitar.
  • Setir menjadi simbol bagaimana seseorang mengarahkan hidupnya, seperti yang terlihat dalam tulisan "Kanal YouTube Politik" di dalam buku ini.

Hasan Basri, Ketua Dewan Kesenian Belambangan, mengapresiasi bahasa yang mengalir dalam buku ini meski membahas persoalan serius. “Sudah lima buku yang ditulis Husen, semuanya dengan bahasa yang ringan dan mudah dicerna,” katanya.

Beragam tanggapan muncul dari peserta. Salah satu peserta dari Nukhbatul Fakhiroh dari MTsN 1 Banyuwangi menanyakan bagaimana cara menulis kritik agar yang dikritik dapat menerimanya dengan baik. Samsudin Adlawi menanggapi bahwa tulisan yang baik harus memiliki satu pokok pikiran dalam setiap paragraf agar lebih jelas dan efektif. 


Selain itu, penulis dari Lentera Sastra Banyuwangi, Nurul Ludfia Rochmah, menanyakan fasilitas literasi yang disediakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi. Zen Kostolani menjelaskan bahwa aula dinas dapat digunakan oleh siapa pun untuk kegiatan literasi.

Diskusi ini menggarisbawahi pentingnya kritik sebagai bagian dari perkembangan masyarakat. Seperti yang disampaikan dalam acara ini, bahwa kita boleh menyampaikan kritik dengan cara yang santun, dan lebih elegan menggunakan karya tulis, terlebih dibukukan.

Berbagai kalangan hadir dalam bedah buku ini. Selain dari DKB Banyuwangi dan Lentera Sastra Banyuwangi, juga hadir pengurus cabang ISNU Kabupaten Banyuwangi.

Saya telah mengubah berita menjadi lebih bernuansa prosa lirik dengan judul Jejak Kritik: Menelusuri Jejak, Mengukir Makna. Jika masih ada yang ingin disesuaikan, beri tahu saya!

Saya Pernah Menjadi Juri Porseni

Menjadi juri dalam Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI) Madrasah Ibtidaiyah tingkat Kabupaten Banyuwangi merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan bagi saya. Setidaknya sudah tiga kali saya dipercaya menjadi juri dalam ajang ini. Saya merasa sangat terhormat karena dapat menyaksikan langsung bakat-bakat luar biasa dari anak-anak yang berpartisipasi. Mereka tampil tidak hanya untuk menunjukkan kemampuan mereka di bidang seni, tetapi juga untuk melatih kepercayaan diri mereka dalam berbicara dan tampil di depan publik.


Salah satu hal yang selalu saya apresiasi adalah keberanian anak-anak ketika tampil, meskipun mereka berada di peringkat bawah dalam penilaian. Keberanian mereka untuk menghadapi audiens dan menampilkan kemampuan mereka adalah sebuah kemenangan tersendiri. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk tampil di depan umum, dan waktu terbaik untuk melatih kemampuan ini adalah sejak dini, selagi ada kesempatan di karena kesempatan belum tentu ada setelahnya. Dengan terbiasa tampil di depan banyak orang, mereka akan memiliki modal besar untuk berbicara dan menyampaikan ide dan gagasan ketika sudah dewasa.


Sebagai juri di berbagai event seni, saya selalu berusaha memberikan penilaian yang adil dan objektif. Seorang juri bukan hanya bertugas untuk menentukan siapa yang menjadi juara, tetapi juga harus mempertanggungjawabkan nilai yang diberikan kepada peserta. Zaman sudah berubah, dan tidak boleh lagi ada keberpihakan kepada peserta tertentu karena alasan di luar penjurian. Keunggulan masing-masing peserta harus diakui dan dihargai secara profesional, begitupun masukkan untuk perbaikan tampilan, karena keberanian mereka merupakan aset istimewa yang harus di jaga.



Salah satu cabang seni yang pernah saya nilai adalah lomba pidato. Dalam pengalaman saya, ada beberapa hal dalam petunjuk teknis (juknis) yang menurut saya kurang sesuai. Salah satunya adalah bobot penilaian yang lebih menitikberatkan pada isi pidato. Menurut saya, yang lebih penting adalah bagaimana anak-anak memahami isi pidato tersebut dan menyampaikannya dengan baik. Sebab, isi pidato yang dibawakan bukanlah murni hasil karya mereka, melainkan buatan guru atau pembimbing mereka, atau asal ambil dari internet.Jika terdapat kesalahan dalam isi pidato, maka bukan anak tersebut yang harus disalahkan, melainkan pembuat teks pidato tersebut yang kurang tepat memberikan teks yang sesuai untuk anak-anak.


Selain menjadi juri lomba pidato, saya juga pernah menjadi juri dalam lomba baca puisi. Meskipun pengalaman pribadi saya dalam lomba baca puisi hanya sekali menjadi juara di tingkat kabupaten saat remaja, tetapi saya terus belajar tehnik membaca dari para master, yang pada intinya bagaimana bacaan bisa tepat yang mempertegas makna. Saya menganggap anak-anak yang mengikuti lomba ini sebagai anak-anak istimewa. Mereka tidak hanya melafalkan puisi, tetapi juga mengekspresikan maknanya dengan gerakan dan intonasi yang mendukung bacaan Hal ini menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan lebih dalam memahami dan menghayati puisi sebagai salah satu bentuk seni sastra, mereka bukan hanya hafal, tetapi memahami makna dari bacaannya.


Saya memang bukan seorang guru, tetapi pengalaman saya di berbagai komunitas seni dan budaya sangat membantu dalam memahami sastra dan seni secara lebih mendalam, terlebih saya juga pernah mengenyam pendidikan keguruan.saya juga Berada di kepengurusan Dewan Kesenian Blambangan, di komunitas Lentera Sastra, dan terlibat dalam berbagai kegiatan seni memberikan saya wawasan yang lebih luas tentang dunia sastra. Ini adalah modal berharga yang memungkinkan saya untuk berbagi ilmu dan pengalaman dengan anak-anak yang mengikuti lomba.


Saya selalu percaya bahwa kebermanfaatan seseorang tidak diukur dari profesinya, tetapi dari sejauh mana ilmu dan pengalamannya dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Meskipun saya bukan bagian dari dunia pendidikan secara langsung, saya merasa bertanggung jawab untuk membagikan apa yang saya ketahui kepada generasi muda. Hal ini selaras dengan prinsip bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Dengan berbagi ilmu dan pengalaman, saya berharap dapat turut serta dalam mencetak generasi yang lebih percaya diri, berani, dan memiliki apresiasi tinggi terhadap seni dan sastra.


Menulis adalah Perjalanan Sang Guru

 Setiap kata yang dituangkan adalah jejak pikiran, setiap

 kalimat adalah langkah menuju pemahaman. Bagi seorang guru, menulis bukan hanya kewajiban administratif, tetapi juga cermin dari pengalaman, ilmu, dan kebijaksanaan yang ingin dibagikan.

Ketua Kelompok Kerja Guru Madrasah Ibtidaiyah meminta saya untuk memberikan sumbangsih dalam buku mereka. Saya tersenyum. Mengajari guru menulis? Bukankah mereka telah terbiasa menulis dalam berbagai bentuk? Tetapi, di balik permintaan itu, tersirat sebuah pencarian. Mereka bukan bertanya tentang bagaimana menulis, tetapi bagaimana menuangkan ide yang liar menjadi sesuatu yang bernyawa dalam tulisan.



Menulis di era kecerdasan buatan bukan lagi soal keterampilan teknis semata. Kini, teknologi telah menyulap suara menjadi teks, mengubah tata bahasa menjadi lebih rapi, menyusun paragraf dengan lebih logis. Namun, pertanyaannya: apakah kita masih perlu belajar menulis? Jawabannya jelas, ya.


Kecerdasan buatan adalah alat, bukan pengganti. Ia hanya akan mengolah apa yang kita berikan. Tanpa gagasan, tanpa pengalaman, tanpa emosi, ia hanyalah sekumpulan kode yang bekerja tanpa ruh. Seperti seorang sekretaris yang mampu mengetik cepat tetapi tak memahami isi surat, seperti seorang pelukis yang hanya mampu meniru tanpa merasakan keindahan warna.


Guru, dengan segala pengalamannya, memiliki sumber cerita yang tak terbatas. Kisah di dalam kelas, pergulatan dengan siswa, harapan dan kekecewaan, tawa dan air mata—semuanya adalah bahan bakar bagi tulisan yang bernyawa. Tetapi, bagaimana mengolahnya?


Sebelum pena menari, tanyakan pada diri: apa yang ingin disampaikan? Apakah ingin berbagi pengalaman, menuangkan refleksi, atau menyusun penelitian? Bentuk tulisan harus mengikuti tujuan. Jika ingin menyentuh emosi, mungkin kisah inspiratif lebih tepat. Jika ingin berbagi gagasan, opini bisa menjadi pilihan.


Ide adalah bunga liar. Kadang tumbuh tanpa diduga, kadang menghilang begitu saja. Jangan biarkan ia lenyap begitu saja. Catat dalam jurnal, rekam dalam suara, atau bahkan biarkan ia berkembang dalam percakapan sehari-hari. Setiap pengalaman bisa menjadi bahan baku bagi tulisan yang bermakna.


Teknologi ada untuk membantu, bukan untuk menggantikan kreativitas. Gunakan alat bantu untuk menyusun kerangka, memperbaiki tata bahasa, atau mencari referensi. Namun, jangan biarkan teknologi mengambil alih suara pribadi kita. Sebab, yang membuat sebuah tulisan bernilai bukanlah ketepatan gramatika, tetapi nyawa yang terselip dalam kata-kata.


Menulis bukanlah sekali jadi. Tulisan pertama hanyalah draf kasar. Baca ulang, perbaiki, potong yang berlebih, tambahkan yang kurang. Biarkan tulisan mengalami penyulingan hingga esensi sejatinya muncul dengan lebih jelas.


Tantangan dan Solusi


Waktu adalah tantangan terbesar. Namun, menulis tak harus dilakukan dalam satu duduk. Luangkan waktu sejenak di sela kesibukan, meskipun hanya beberapa menit setiap hari.


Jangan takut salah. Tulisan pertama tak harus sempurna. Yang penting adalah keberanian untuk memulai.


Manfaatkan sumber daya yang ada. Di era digital, informasi ada di ujung jari. Gunakan perpustakaan digital, forum diskusi, dan alat bantu daring.


Menulis bukan sekadar mencatat, tetapi juga membangun warisan ilmu. Guru yang menulis adalah guru yang meninggalkan jejak, bukan hanya di ruang kelas, tetapi juga di dunia yang lebih luas. Jangan takut untuk menulis, jangan ragu untuk berbagi. Sebab, setiap kata yang dituliskan bisa menjadi cahaya bagi mereka yang membacanya.


Dan di tengah kemajuan teknologi, satu hal tetap tak tergantikan: sentuhan manusia dalam setiap tulisan. Itulah yang membuat tulisan menjadi lebih dari sekadar kata-kata—ia menjadi suara, mejnadi jiwa, menjadi abadi.




Orang Santai Diskusi dengan Santri Serius

Siang itu, saya menerima undangan melalui WhatsApp untuk ngopi di sebuah kafe yang cukup unik. Bukan sekadar kafe biasa, tempat ini dikelola oleh sebuah pesantren yang berdiri di tengah kota Banyuwangi. Dalam bayangan saya, pertemuan ini hanya akan diisi dengan perbincangan ringan sembari menikmati secangkir kopi hangat atau mungkin ada tahu walik dan pisang goreng.

 Seperti pertemuan sebelumnya, obrolan dengan teman-teman sering kali tak jauh dari topik keseharian, sastra, budaya dan mungkin sedikit refleksi ringan tentang kehidupan. Namun, siang itu, gesah santai perlahan berubah menjadi diskusi yang lebih dalam.



Ternyata, kami dihadapkan pada sebuah tantangan intelektual. Kami diminta untuk berdiskusi dengan para santri yang telah menulis karya ilmiah dengan pendekatan Al-Qur'an. Ini bukan sesuatu yang mudah bagi saya. Meskipun pernah mengenyam pendidikan di pesantren, masa belajar saya di sana tidak sampai tiga tahun. Akibatnya, pemahaman saya tentang penafsiran kitab suci dan yang berkaitan dengan fiqih pun tidak begitu mendalam. Rasanya seperti dilempar ke dalam kolam yang dalam, sementara saya hanya bisa berenang di tepian.


Hadir pula dalam pertemuan itu Mas Moh. Husen, seorang yang saya kenal memiliki wawasan luas, pekolom yang beberapa kali menerbitkan buku, serta seorang teman lama dedengkot komunitas Pegon, sebuah komunitas yang berfokus pada literasi dan kajian keislaman. Kehadiran mereka tentu saja menambah bobot diskusi.


Saya sendiri lebih suka membaca buku "Jejak Kritik," yang ditulis Moh. Husen dengan gaya santai namun mengangkat isu-isu serius, dibandingkan harus menyelami karya-karya ilmiah yang padat dengan teori njlimet dan dalil.


Namun, saya tetap menikmati diskusi ini. Bertukar pikiran dengan anak-anak muda yang masih belasan tahun namun sudah berani menulis dan menyampaikan gagasan mereka adalah pengalaman yang mengesankan. Mereka mencoba mengupas berbagai persoalan dengan perspektif Al-Qur'an, sesuatu yang bagi saya cukup berat. Saya melihat semangat mereka dalam mengeksplorasi keilmuan dan mencoba mengaitkannya dengan kehidupan modern, sungguh sebuah mutiara masa depan keilmuan yang tidak dapat dianggap enteng.


Dalam diskusi ini, saya menyadari bahwa pendekatan terhadap ilmu pengetahuan bisa sangat beragam. Ada yang serius dengan metode akademik yang ketat, ada pula yang mencoba menyampaikan gagasan dengan bahasa yang lebih santai namun tetap tajam. Bagi saya, buku "Jejak Kritik" adalah contoh bagaimana isu-isu serius dapat dikemas dalam bahasa yang lebih ringan sehingga lebih mudah dicerna oleh pembaca yang mungkin tidak berlatar belakang akademik.


Dalam diskusi serius, salah satu santri, dengan penuh percaya diri, mempresentasikan gagasannya. Ia mengutip ayat-ayat Al-Qur'an, mengaitkannya dengan fenomena sosial, dan mencoba memberikan solusi berbasis nilai-nilai Islam. Saya mengagumi keberanian mereka, meskipun dalam hati saya merasa sedikit minder. Betapa luasnya cakrawala pemikiran yang mereka miliki, sementara saya lebih sering menikmati membaca buku tanpa harus masuk ke dalam ranah yang terlalu akademis, ada juga yang mengupas tentang munafiq, dikaitkan dengan dunia sekarang.


Diskusi ini memberikan perspektif baru bagi saya. Saya menyadari bahwa dunia literasi tidak hanya sebatas pada bagaimana kita menulis atau membaca, tetapi juga bagaimana kita memahami suatu gagasan dan menyampaikannya dengan cara yang bisa diterima oleh berbagai kalangan. Ada kalanya, pendekatan santai justru lebih efektif dalam menyampaikan pesan daripada pendekatan yang terlalu serius dan akademik.


Di akhir diskusi, saya pun berpikir bahwa mungkin para akademisi dan orang-orang yang terbiasa dengan dunia ilmiah juga perlu membaca buku yang lebih ringan seperti "Jejak Kritik." Bukan untuk menggantikan karya-karya ilmiah mereka, tetapi sebagai cara untuk melihat bagaimana persoalan serius bisa diuraikan dalam bahasa yang lebih sederhana. Sebaliknya, orang-orang seperti saya yang lebih nyaman dengan tulisan santai mungkin juga perlu sesekali menyelami dunia akademik untuk memperkaya perspektif.


Ngopi itu ternyata bukan sekadar menikmati secangkir kopi dan obrolan santai. Ada refleksi, ada pembelajaran, dan ada pertemuan antara dua dunia: dunia akademik yang serius dan dunia literasi yang lebih cair. Dan mungkin, di sanalah letak keindahan sebuah diskusi—di mana berbagai gagasan bertemu, saling bersilangan, dan pada akhirnya, saling memperkaya.


Seiring berjalannya waktu, obrolan yang tadinya sekadar berbagi pandangan mulai melebar ke berbagai sudut perdebatan yang menarik. Kami membahas bagaimana literasi bisa menjadi jembatan antara pemikiran tradisional dan modern. Saya mulai melihat bahwa santri-santri ini bukan hanya sekadar memahami teks kitab suci secara harfiah, tetapi juga mencoba menerapkannya dalam kehidupan nyata. Mereka mencari relevansi ayat dengan fenomena sosial yang terjadi di sekitar mereka, sesuatu yang mengingatkan saya pada cara berpikir para intelektual Islam terdahulu, saya yakin para santri ini menjadi penulis handal pada saatnya, menjadi pemikir ulung dengan ide-ide cemerlang yang Adan menjadi pelaku sejarah.


Pengasuh pesantren menuturkan bahwa pemahaman terhadap kitab suci seharusnya tidak berhenti pada hafalan semata, tetapi juga harus berkembang menjadi pemahaman yang kritis. "Kita harus bisa membaca ayat dengan kacamata zaman kita sendiri,". Kalimat itu cukup menggugah saya. Ada makna luas dalam ucapannya. Jika kita hanya terpaku pada teks tanpa berusaha memahami konteks, maka kita akan kehilangan esensi dari ajaran itu sendiri.


Saya pun mulai membayangkan bagaimana jika ada lebih banyak anak muda yang berani mengambil peran dalam dunia literasi dan keilmuan seperti mereka. Akan seperti apa wajah literasi Islam di masa depan jika santri-santri ini terus mengembangkan pemikirannya? Diskusi ini membuka mata saya bahwa keingintahuan adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan pemahaman yang lebih luas.


Dalam perjalanan pulang, saya masih memikirkan obrolan di kafe tadi. Saya merenungi bagaimana dua pendekatan yang berbeda—sastra yang santai dan kajian ilmiah yang mendalam—sebenarnya bisa saling melengkapi. Mungkin, inilah yang disebut dengan "keseimbangan." Kadang kita perlu serius, kadang kita perlu santai. Dan dalam setiap diskusi, selalu ada kesempatan untuk belajar lebih banyak dari apa yang kita kira.


Pesantren Ad Dzikro, 20-02-2025


Santri Pondok Pesantren Ad Dzikro Dibekali Ilmu Karya Tulis Ilmiah Al-Qur'an

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Para santri Pondok Pesantren Ad Dzikro Banyuwangi mendapat kesempatan berharga untuk mendalami ilmu kepenulisan karya tulis ilmiah berbasis Al-Qur'an dalam sebuah diskusi yang menghadirkan tiga penulis ternama dari Banyuwangi. Acara ini digelar di lingkungan pesantren yang diasuh oleh Ir. K.H. Ir. Wahyudi, S.H., M.H. Kamis (22/02/2025).



Dalam diskusi tersebut, para santri mendapatkan pembekalan mengenai teknik menulis yang berfokus pada karya ilmiah dengan landasan dalil-dalil Al-Qur'an. Ir. Wahyudi menyampaikan bahwa karya tulis ilmiah yang dihasilkan oleh santri harus mampu menguraikan ayat-ayat Al-Qur'an secara tuntas dan sistematis, sehingga dapat menjadi kontribusi nyata bagi dunia akademik dan keislaman.


Sebagai bentuk pendampingan, hadir tiga orang penulis ternama Banyuwangi yang telah banyak menerbitkan buku untuk memberikan materi serta menguji karya tulis para santri. Mereka adalah Moh. Husen, seorang penulis sekaligus jurnalis yang aktif dalam dunia literasi; Ayung Notonegoro dari komunitas Pegon yang dikenal dengan karya-karya bertemakan budaya dan sastra; serta Syafaat, seorang ASN Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang juga menjabat sebagai Ketua Lentera Sastra Banyuwangi.


Moh. Husen dalam kesempatan ini menekankan pentingnya disiplin dalam menulis dan memahami metodologi penelitian berbasis Al-Qur'an. Sementara itu, Ayung Notonegoro mengajak para santri untuk mengembangkan kreativitas dalam merangkai ide-ide mereka ke dalam tulisan yang menarik namun tetap berbasis akademik. Syafaat menambahkan bahwa menulis bukan sekadar menuangkan gagasan, tetapi juga menjadi bagian dari syiar Islam yang harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab.


Diskusi ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan para santri dalam menulis karya ilmiah yang tidak hanya bernilai akademis tetapi juga memiliki kedalaman spiritual berdasarkan pemahaman yang benar terhadap Al-Qur'an. Dengan adanya bimbingan dari para penulis profesional, para santri diharapkan dapat menghasilkan karya-karya berkualitas yang dapat memberikan manfaat luas bagi umat.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger