Pages

Orang Santai Diskusi dengan Santri Serius

Siang itu, saya menerima undangan melalui WhatsApp untuk ngopi di sebuah kafe yang cukup unik. Bukan sekadar kafe biasa, tempat ini dikelola oleh sebuah pesantren yang berdiri di tengah kota Banyuwangi. Dalam bayangan saya, pertemuan ini hanya akan diisi dengan perbincangan ringan sembari menikmati secangkir kopi hangat atau mungkin ada tahu walik dan pisang goreng.

 Seperti pertemuan sebelumnya, obrolan dengan teman-teman sering kali tak jauh dari topik keseharian, sastra, budaya dan mungkin sedikit refleksi ringan tentang kehidupan. Namun, siang itu, gesah santai perlahan berubah menjadi diskusi yang lebih dalam.



Ternyata, kami dihadapkan pada sebuah tantangan intelektual. Kami diminta untuk berdiskusi dengan para santri yang telah menulis karya ilmiah dengan pendekatan Al-Qur'an. Ini bukan sesuatu yang mudah bagi saya. Meskipun pernah mengenyam pendidikan di pesantren, masa belajar saya di sana tidak sampai tiga tahun. Akibatnya, pemahaman saya tentang penafsiran kitab suci dan yang berkaitan dengan fiqih pun tidak begitu mendalam. Rasanya seperti dilempar ke dalam kolam yang dalam, sementara saya hanya bisa berenang di tepian.


Hadir pula dalam pertemuan itu Mas Moh. Husen, seorang yang saya kenal memiliki wawasan luas, pekolom yang beberapa kali menerbitkan buku, serta seorang teman lama dedengkot komunitas Pegon, sebuah komunitas yang berfokus pada literasi dan kajian keislaman. Kehadiran mereka tentu saja menambah bobot diskusi.


Saya sendiri lebih suka membaca buku "Jejak Kritik," yang ditulis Moh. Husen dengan gaya santai namun mengangkat isu-isu serius, dibandingkan harus menyelami karya-karya ilmiah yang padat dengan teori njlimet dan dalil.


Namun, saya tetap menikmati diskusi ini. Bertukar pikiran dengan anak-anak muda yang masih belasan tahun namun sudah berani menulis dan menyampaikan gagasan mereka adalah pengalaman yang mengesankan. Mereka mencoba mengupas berbagai persoalan dengan perspektif Al-Qur'an, sesuatu yang bagi saya cukup berat. Saya melihat semangat mereka dalam mengeksplorasi keilmuan dan mencoba mengaitkannya dengan kehidupan modern, sungguh sebuah mutiara masa depan keilmuan yang tidak dapat dianggap enteng.


Dalam diskusi ini, saya menyadari bahwa pendekatan terhadap ilmu pengetahuan bisa sangat beragam. Ada yang serius dengan metode akademik yang ketat, ada pula yang mencoba menyampaikan gagasan dengan bahasa yang lebih santai namun tetap tajam. Bagi saya, buku "Jejak Kritik" adalah contoh bagaimana isu-isu serius dapat dikemas dalam bahasa yang lebih ringan sehingga lebih mudah dicerna oleh pembaca yang mungkin tidak berlatar belakang akademik.


Dalam diskusi serius, salah satu santri, dengan penuh percaya diri, mempresentasikan gagasannya. Ia mengutip ayat-ayat Al-Qur'an, mengaitkannya dengan fenomena sosial, dan mencoba memberikan solusi berbasis nilai-nilai Islam. Saya mengagumi keberanian mereka, meskipun dalam hati saya merasa sedikit minder. Betapa luasnya cakrawala pemikiran yang mereka miliki, sementara saya lebih sering menikmati membaca buku tanpa harus masuk ke dalam ranah yang terlalu akademis, ada juga yang mengupas tentang munafiq, dikaitkan dengan dunia sekarang.


Diskusi ini memberikan perspektif baru bagi saya. Saya menyadari bahwa dunia literasi tidak hanya sebatas pada bagaimana kita menulis atau membaca, tetapi juga bagaimana kita memahami suatu gagasan dan menyampaikannya dengan cara yang bisa diterima oleh berbagai kalangan. Ada kalanya, pendekatan santai justru lebih efektif dalam menyampaikan pesan daripada pendekatan yang terlalu serius dan akademik.


Di akhir diskusi, saya pun berpikir bahwa mungkin para akademisi dan orang-orang yang terbiasa dengan dunia ilmiah juga perlu membaca buku yang lebih ringan seperti "Jejak Kritik." Bukan untuk menggantikan karya-karya ilmiah mereka, tetapi sebagai cara untuk melihat bagaimana persoalan serius bisa diuraikan dalam bahasa yang lebih sederhana. Sebaliknya, orang-orang seperti saya yang lebih nyaman dengan tulisan santai mungkin juga perlu sesekali menyelami dunia akademik untuk memperkaya perspektif.


Ngopi itu ternyata bukan sekadar menikmati secangkir kopi dan obrolan santai. Ada refleksi, ada pembelajaran, dan ada pertemuan antara dua dunia: dunia akademik yang serius dan dunia literasi yang lebih cair. Dan mungkin, di sanalah letak keindahan sebuah diskusi—di mana berbagai gagasan bertemu, saling bersilangan, dan pada akhirnya, saling memperkaya.


Seiring berjalannya waktu, obrolan yang tadinya sekadar berbagi pandangan mulai melebar ke berbagai sudut perdebatan yang menarik. Kami membahas bagaimana literasi bisa menjadi jembatan antara pemikiran tradisional dan modern. Saya mulai melihat bahwa santri-santri ini bukan hanya sekadar memahami teks kitab suci secara harfiah, tetapi juga mencoba menerapkannya dalam kehidupan nyata. Mereka mencari relevansi ayat dengan fenomena sosial yang terjadi di sekitar mereka, sesuatu yang mengingatkan saya pada cara berpikir para intelektual Islam terdahulu, saya yakin para santri ini menjadi penulis handal pada saatnya, menjadi pemikir ulung dengan ide-ide cemerlang yang Adan menjadi pelaku sejarah.


Pengasuh pesantren menuturkan bahwa pemahaman terhadap kitab suci seharusnya tidak berhenti pada hafalan semata, tetapi juga harus berkembang menjadi pemahaman yang kritis. "Kita harus bisa membaca ayat dengan kacamata zaman kita sendiri,". Kalimat itu cukup menggugah saya. Ada makna luas dalam ucapannya. Jika kita hanya terpaku pada teks tanpa berusaha memahami konteks, maka kita akan kehilangan esensi dari ajaran itu sendiri.


Saya pun mulai membayangkan bagaimana jika ada lebih banyak anak muda yang berani mengambil peran dalam dunia literasi dan keilmuan seperti mereka. Akan seperti apa wajah literasi Islam di masa depan jika santri-santri ini terus mengembangkan pemikirannya? Diskusi ini membuka mata saya bahwa keingintahuan adalah jembatan yang menghubungkan kita dengan pemahaman yang lebih luas.


Dalam perjalanan pulang, saya masih memikirkan obrolan di kafe tadi. Saya merenungi bagaimana dua pendekatan yang berbeda—sastra yang santai dan kajian ilmiah yang mendalam—sebenarnya bisa saling melengkapi. Mungkin, inilah yang disebut dengan "keseimbangan." Kadang kita perlu serius, kadang kita perlu santai. Dan dalam setiap diskusi, selalu ada kesempatan untuk belajar lebih banyak dari apa yang kita kira.


Pesantren Ad Dzikro, 20-02-2025


Santri Pondok Pesantren Ad Dzikro Dibekali Ilmu Karya Tulis Ilmiah Al-Qur'an

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Para santri Pondok Pesantren Ad Dzikro Banyuwangi mendapat kesempatan berharga untuk mendalami ilmu kepenulisan karya tulis ilmiah berbasis Al-Qur'an dalam sebuah diskusi yang menghadirkan tiga penulis ternama dari Banyuwangi. Acara ini digelar di lingkungan pesantren yang diasuh oleh Ir. K.H. Ir. Wahyudi, S.H., M.H. Kamis (22/02/2025).



Dalam diskusi tersebut, para santri mendapatkan pembekalan mengenai teknik menulis yang berfokus pada karya ilmiah dengan landasan dalil-dalil Al-Qur'an. Ir. Wahyudi menyampaikan bahwa karya tulis ilmiah yang dihasilkan oleh santri harus mampu menguraikan ayat-ayat Al-Qur'an secara tuntas dan sistematis, sehingga dapat menjadi kontribusi nyata bagi dunia akademik dan keislaman.


Sebagai bentuk pendampingan, hadir tiga orang penulis ternama Banyuwangi yang telah banyak menerbitkan buku untuk memberikan materi serta menguji karya tulis para santri. Mereka adalah Moh. Husen, seorang penulis sekaligus jurnalis yang aktif dalam dunia literasi; Ayung Notonegoro dari komunitas Pegon yang dikenal dengan karya-karya bertemakan budaya dan sastra; serta Syafaat, seorang ASN Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang juga menjabat sebagai Ketua Lentera Sastra Banyuwangi.


Moh. Husen dalam kesempatan ini menekankan pentingnya disiplin dalam menulis dan memahami metodologi penelitian berbasis Al-Qur'an. Sementara itu, Ayung Notonegoro mengajak para santri untuk mengembangkan kreativitas dalam merangkai ide-ide mereka ke dalam tulisan yang menarik namun tetap berbasis akademik. Syafaat menambahkan bahwa menulis bukan sekadar menuangkan gagasan, tetapi juga menjadi bagian dari syiar Islam yang harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab.


Diskusi ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan para santri dalam menulis karya ilmiah yang tidak hanya bernilai akademis tetapi juga memiliki kedalaman spiritual berdasarkan pemahaman yang benar terhadap Al-Qur'an. Dengan adanya bimbingan dari para penulis profesional, para santri diharapkan dapat menghasilkan karya-karya berkualitas yang dapat memberikan manfaat luas bagi umat.

Tausiyah di Masjid Ar-Royan: Sambut Ramadan dengan Penuh Keberkahan

Banyuwangi, (Bimas Islam) Menjelang bulan suci Ramadan, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menggelar tausyiah di Masjid Ar-Royan yang dihadiri oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, beserta seluruh ASN di lingkungan Kemenag Banyuwangi. Tausyiah disampaikan oleh H. Mastur yang mengajak seluruh jamaah untuk menyambut bulan Ramadan dengan penuh kebahagiaan dan semangat beribadah, Kamis (21/02/2025)

Dalam tausyiahnya, H. Mastur mengingatkan bahwa bulan Ramadan yang penuh keberkahan akan segera tiba dalam waktu kurang dari sembilan hari. “Mudah-mudahan kita tetap sehat walafiat dan diberi kelancaran dalam segala aktivitas, sehingga kita dapat menyambut bulan Ramadan dengan bahagia,” ujarnya.

Beliau juga menyampaikan bahwa di akhir bulan Sya’ban, Rasulullah SAW selalu mengingatkan para sahabat akan keistimewaan bulan Ramadan. “Wahai manusia, sungguh akan datang bulan yang penuh keagungan dan keberkahan, bulan yang memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadr,” kata H. Mastur mengutip hadits Rasulullah SAW.

Lebih lanjut, H. Mastur menegaskan bahwa setiap amal ibadah di bulan Ramadan akan dilipatgandakan pahalanya. “Barang siapa yang melakukan amal sunnah di bulan Ramadan, maka nilainya seperti kewajiban di bulan lain. Sedangkan yang melaksanakan kewajiban di bulan Ramadan, pahalanya setara dengan 70 kali lipat kewajiban di bulan lainnya,” jelasnya. 


Selain itu, H. Mastur juga mengingatkan tentang keutamaan memberi buka puasa kepada orang yang berpuasa. “Siapa yang memberikan makanan untuk berbuka kepada orang yang berpuasa, maka akan diampuni dosa-dosanya dan dibebaskan dari api neraka. Ia juga akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikit pun.”

Sebagai penutup, H. Mastur mengajak seluruh ASN Kemenag Banyuwangi untuk menyambut Ramadan dengan penuh kegembiraan dan memperbanyak amal ibadah. “Mumpung kita akan masuk bulan Ramadan, mari kita sambut dengan riang gembira, dengan penuh semangat untuk melaksanakan ibadah dan berbuat kebaikan. Barang siapa yang bergembira dengan datangnya bulan Ramadan dan meningkatkan amal saleh, maka ia akan dibebaskan dari siksa api neraka,” pungkasnya.

Acara tausyiah ini diakhiri dengan doa bersama, memohon kesehatan dan keberkahan agar dapat menjalani Ramadan dengan sebaik-baiknya.

Berita tausyiah di Masjid Ar-Royan telah saya susun. Jika ada tambahan atau perubahan yang diinginkan, silakan beri tahu!

Pekan Olahraga dan Seni MI Kecamatan Kalipuro Digelar, Ajang Bergengsi dengan Persiapan Matang

 Kalipuro (Warta Blambangan) Pekan Olahraga dan Seni Madrasah Ibtidaiyah (Porseni MI) tingkat Kecamatan Kalipuro resmi digelar di Madrasah Ibtidaiyah Syamsul Huda Bulusan pada Rabu (19/02/2025). Ajang ini menjadi kesempatan bagi para siswa untuk menunjukkan bakat dan potensinya dalam berbagai cabang olahraga dan seni.

Salah satu kompetisi yang menarik perhatian adalah lomba seni baca puisi. Uniknya, dua orang juri dalam ajang ini merupakan anggota Komite Bahasa dan Sastra Dewan Kesenian Belambangan, yakni Syafaat dan Nurul Ludfia Rochmah. Keduanya juga merupakan pengurus Lentera Sastra Banyuwangi, sebuah komunitas yang aktif dalam pembinaan sastra di daerah Banyuwangi. 


Pelaksanaan Porseni tingkat Kecamatan Kalipuro tahun ini dinilai setara dengan tingkat kabupaten. Hal ini dikarenakan adanya pertemuan teknis yang diselenggarakan sepekan sebelum lomba. Pertemuan ini memberikan kesempatan bagi peserta dan pelatih untuk memahami aturan perlombaan serta mempersiapkan diri dengan lebih matang.

“Banyak potensi yang dimiliki oleh siswa yang dapat terus dikembangkan melalui ajang seperti ini,” ujar Ketua Porseni MI Kecamatan Kalipuro, Misrato. Ia juga menyampaikan harapannya agar Kecamatan Kalipuro dapat meraih gelar juara umum pada Porseni MI tingkat berikutnya.

Ajang ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana untuk menumbuhkan semangat sportivitas dan kreativitas siswa madrasah ibtidaiyah di Kecamatan Kalipuro. Dengan persiapan yang matang dan dukungan dari berbagai pihak, diharapkan para peserta dapat menunjukkan performa terbaik mereka di setiap cabang lomba.


Bedah Buku "Jejak Kritik" Moh. Husen, DKB Banyuwangi Hadirkan Tokoh Sastra dan Literasi

Banyuwangi (Warta Blambangan) Buku Jejak Kritik karya Moh. Husen mendapat perhatian luas dari berbagai kalangan di Banyuwangi. Setelah mendapat dukungan dari komunitas Lentera Sastra Banyuwangi, kini Dewan Kesenian Blambangan (DKB) akan menggelar acara bedah buku tersebut pada 21 Februari 2025 di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banyuwangi.

Acara ini menghadirkan sejumlah tokoh penting di bidang literasi dan budaya, termasuk Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banyuwangi, Drs. Zen Kostolani, M.Si. Sebagai moderator, Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, Syafaat, akan memandu jalannya diskusi. 


Para pembedah buku merupakan tokoh-tokoh berpengaruh di dunia literasi Banyuwangi, di antaranya Ketua DKB Hasan Basri, Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi Samsudin Adlawi, serta Muttafaqurrohmah, anggota Komite Bahasa dan Sastra DKB sekaligus dosen di Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi.

Sebelumnya, pada 18 Februari 2025, Moh. Husen telah menyerahkan bukunya kepada Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyuwangi. Buku tersebut diterima langsung oleh Fitrin Kuntartini, S.Sos., M.Si., pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banyuwangi. Penyerahan ini menandai bahwa Jejak Kritik kini dapat diakses oleh masyarakat yang ingin mendalami kritik sastra dan wacana intelektual di Banyuwangi.

Sebagai kumpulan tulisan kritik sastra dan budaya, Jejak Kritik mencerminkan dinamika perkembangan seni dan sastra di Banyuwangi. Kehadirannya diharapkan menjadi referensi berharga bagi pecinta sastra dan akademisi dalam mengkaji literasi daerah.

Acara bedah buku ini diprediksi menjadi momen penting dalam perkembangan literasi dan apresiasi sastra di Banyuwangi. Diskusi yang berlangsung diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak penulis dan akademisi untuk terus mengembangkan dunia sastra.

Dengan tingginya atensi terhadap Jejak Kritik, terbukti bahwa kritik sastra masih memiliki tempat di hati para pecinta literasi Banyuwangi. Buku ini diharapkan membuka wacana baru dalam memahami perkembangan sastra lokal serta memperkaya diskursus budaya di Indonesia.

MI Darun Najah II Banyuwangi Gelar Lomba Binaussholah: Sebuah Perjalanan Ibadah dalam Lirik dan Gerak

 

Banyuwangi (Warta Blambangan) Langit pagi menyapa dengan doa, suara adzan berbisik dalam sanubari. Di sudut madrasah, langkah-langkah kecil bergegas menuju cahaya. Sholat, tiang agama yang tegak, menjadi saksi bisu perjalanan suci. MI Darun Najah II Banyuwangi, tempat ilmu dan akhlak bertaut, menorehkan jejak dalam balutan lomba Binaussholah.

Rabu (05/02/2025), Masjid Darun Najah menjadi panggung kebersamaan. 247 siswi, dalam 35 kelompok kecil, merangkai gerakan dalam harmoni. Setiap bacaan terpatri, setiap rukuk menjadi bukti, setiap sujud menyentuh bumi dengan kepasrahan sejati. 


Firman-Nya dalam Surah Al-Ankabut ayat 45 mengalun pelan, “Sesungguhnya sholat itu akan mencegah dari perbuatan keji dan munkar.” Dalam sujud, ada ketundukan. Dalam doa, ada harapan. Dalam lomba ini, ada semangat meniti jalan kebaikan.

Di madrasah ini, sholat bukan sekadar ritual. Sejak langkah pertama di kelas satu, mereka diajari dengan kasih. Bacaan demi bacaan, gerakan demi gerakan, semua menjadi rangkaian cahaya. Semester pertama, niat hingga salam. Semester kedua, gerakan yang terjalin dalam jamaah. Bukan sekadar lomba, tapi perjalanan menuju-Nya.

Kepala MI Darun Najah II menuturkan, “Untuk mengukur ketercapaian pembelajaran sholat dan meningkatkan kualitas sholat siswi, kami menggelar lomba ini setiap tahun. Peristiwa Isra’ dan Mi’raj menjadi pengingat akan amanah yang kita emban.”

Di antara barisan kecil, iqomah menggema, shaf tersusun rapi. Sementara, di sisi lain, suara adzan mengalun merdu dari bibir-bibir mungil. Wali murid pun terlibat, membimbing, mendampingi, berharap anak-anaknya menjadi cahaya yang menerangi zaman.

Gerakan yang serentak, bacaan yang syahdu, adab yang melekat. Semua dinilai dalam ketelitian. Ustadz Nasrudin dan Ustadz Umar Sandi, dua juri yang mengamati dengan cermat. Kelas satu, dengan sholat Maghrib. Kelas dua hingga enam, dengan sholat Subuh, doa qunut mengalun dalam khidmat.

Pemenang Lomba Binaussholah:

Kategori Kelas Bawah:

  • Juara 1: Nikel Ramadhani dkk (Kelas 1B)
  • Juara 2: Fakhira Aulia Ramadhani dkk (Kelas 3B)
  • Juara 3: Ananda Fatimatuzzahra Fakhruddin dkk (Kelas 3A)
  • Juara Harapan 1: Zaitun Izzati Salami dkk (Kelas 3B)
  • Juara Harapan 2: Lailatul Robbani Al-Qudsi dkk (Kelas 2B)

Kategori Kelas Atas:

  • Juara 1: Siti Rafiqotul Hasna dkk (Kelas 5)
  • Juara 2: Siti Rafidatul Hasna dkk (Kelas 5)
  • Juara 3: Raisya Rahmidiani dkk (Kelas 4B)
  • Juara Harapan 1: Aulia Izzatun Nisa Wardana dkk (Kelas 5)
  • Juara Harapan 2: Azzahra Rahma dkk (Kelas 6)

Langit senja memeluk mereka dalam doa. Hari itu bukan sekadar perlombaan, tapi sebuah langkah kecil menuju cahaya. Sebuah janji, bahwa sholat bukan hanya di atas panggung, tapi akan menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup mereka. MI Darun Najah II terus menanam, agar kelak menuai dalam keberkahan.


Kreasi Hantaran Kue di Pertemuan Rutin Dharma Wanita Persatuan

Banyuwangi (Warta Blambangan) Senin pagi, 17 Februari 2025, aula bawah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi dipenuhi semangat para anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP). Pertemuan rutin yang dihadiri seluruh unit DWP menjadi ajang berbagi ilmu dan pengalaman, kali ini dengan tema yang menggugah kreativitas: kreasi penyusunan kue kering untuk hantaran. 


Ketua DWP Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Hj. Siti Qudsiyah Chaironi, S.Ag., menyampaikan pentingnya keterampilan ini dalam menambah nilai estetika dan daya tarik hantaran kue. "Kreasi ini dapat menambah keterampilan anggota dalam menyusun hantaran kue menjadi semakin menarik, terlebih sebulan lagi kita akan menyambut Idul Fitri," ujarnya dengan penuh semangat.

Dengan meja-meja yang dipenuhi berbagai jenis kue kering, para anggota dengan antusias menyusun dan menghias hantaran. Dari pemilihan warna hingga tata letak, semua diperhatikan dengan cermat. Setiap sentuhan tangan melahirkan keindahan yang tidak hanya sedap dipandang, tetapi juga bernilai jual tinggi. Warna-warni toples kue berpadu dengan pita-pita indah, membentuk kombinasi yang harmonis.

Pertemuan ini bukan sekadar ajang berbagi ilmu, tetapi juga wadah mempererat kebersamaan antaranggota. Gelak tawa dan canda menghiasi ruangan, menciptakan suasana penuh kehangatan. Setiap peserta berbagi tips dan trik, dari cara menyusun kue agar tampak lebih elegan hingga bagaimana memilih kemasan yang sesuai. 


Salah satu peserta, Ny. Rini, mengungkapkan rasa senangnya mengikuti kegiatan ini. "Saya merasa sangat terbantu dengan adanya pelatihan ini. Selain menambah keterampilan, saya juga jadi terinspirasi untuk membuat hantaran sendiri di rumah. Mungkin ini bisa menjadi ide usaha sampingan di masa mendatang," tuturnya.

Suasana semakin meriah ketika diadakan sesi tanya jawab dan diskusi. Beberapa anggota berbagi pengalaman tentang usaha kue kering yang telah mereka jalankan. Mereka berbagi rahasia dalam memilih bahan berkualitas, menjaga kerenyahan kue, serta strategi pemasaran yang efektif. Ilmu yang diberikan tidak hanya berhenti pada aspek estetika, tetapi juga membuka wawasan mengenai peluang bisnis yang menjanjikan.

Di penghujung acara, Ny. Chaironi Hidayat berharap keterampilan ini dapat terus dikembangkan dan diterapkan. "Semoga ibu-ibu semakin kreatif dan bisa menjadikan keterampilan ini sebagai peluang usaha," pungkasnya.

Banyuwangi pagi itu bukan hanya tentang pertemuan rutin, tetapi tentang perjalanan kreativitas, kebersamaan, dan semangat berbagi. Dengan tangan yang semakin terampil, para anggota DWP bersiap menyambut Idul Fitri dengan hantaran yang penuh cinta dan keindahan. Dari aula bawah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, semangat berkarya terus mengalir, menginspirasi dan membawa manfaat bagi banyak orang.

Dokumen telah dibuat dengan judul "Kreasi Hantaran Dwp." Jika ada perubahan atau tambahan yang perlu dimasukkan, silakan beri tahu saya!

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger