Pages

Tausiyah di Masjid Ar-Royan: Sambut Ramadan dengan Penuh Keberkahan

Banyuwangi, (Bimas Islam) Menjelang bulan suci Ramadan, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menggelar tausyiah di Masjid Ar-Royan yang dihadiri oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, beserta seluruh ASN di lingkungan Kemenag Banyuwangi. Tausyiah disampaikan oleh H. Mastur yang mengajak seluruh jamaah untuk menyambut bulan Ramadan dengan penuh kebahagiaan dan semangat beribadah, Kamis (21/02/2025)

Dalam tausyiahnya, H. Mastur mengingatkan bahwa bulan Ramadan yang penuh keberkahan akan segera tiba dalam waktu kurang dari sembilan hari. “Mudah-mudahan kita tetap sehat walafiat dan diberi kelancaran dalam segala aktivitas, sehingga kita dapat menyambut bulan Ramadan dengan bahagia,” ujarnya.

Beliau juga menyampaikan bahwa di akhir bulan Sya’ban, Rasulullah SAW selalu mengingatkan para sahabat akan keistimewaan bulan Ramadan. “Wahai manusia, sungguh akan datang bulan yang penuh keagungan dan keberkahan, bulan yang memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadr,” kata H. Mastur mengutip hadits Rasulullah SAW.

Lebih lanjut, H. Mastur menegaskan bahwa setiap amal ibadah di bulan Ramadan akan dilipatgandakan pahalanya. “Barang siapa yang melakukan amal sunnah di bulan Ramadan, maka nilainya seperti kewajiban di bulan lain. Sedangkan yang melaksanakan kewajiban di bulan Ramadan, pahalanya setara dengan 70 kali lipat kewajiban di bulan lainnya,” jelasnya. 


Selain itu, H. Mastur juga mengingatkan tentang keutamaan memberi buka puasa kepada orang yang berpuasa. “Siapa yang memberikan makanan untuk berbuka kepada orang yang berpuasa, maka akan diampuni dosa-dosanya dan dibebaskan dari api neraka. Ia juga akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikit pun.”

Sebagai penutup, H. Mastur mengajak seluruh ASN Kemenag Banyuwangi untuk menyambut Ramadan dengan penuh kegembiraan dan memperbanyak amal ibadah. “Mumpung kita akan masuk bulan Ramadan, mari kita sambut dengan riang gembira, dengan penuh semangat untuk melaksanakan ibadah dan berbuat kebaikan. Barang siapa yang bergembira dengan datangnya bulan Ramadan dan meningkatkan amal saleh, maka ia akan dibebaskan dari siksa api neraka,” pungkasnya.

Acara tausyiah ini diakhiri dengan doa bersama, memohon kesehatan dan keberkahan agar dapat menjalani Ramadan dengan sebaik-baiknya.

Berita tausyiah di Masjid Ar-Royan telah saya susun. Jika ada tambahan atau perubahan yang diinginkan, silakan beri tahu!

Pekan Olahraga dan Seni MI Kecamatan Kalipuro Digelar, Ajang Bergengsi dengan Persiapan Matang

 Kalipuro (Warta Blambangan) Pekan Olahraga dan Seni Madrasah Ibtidaiyah (Porseni MI) tingkat Kecamatan Kalipuro resmi digelar di Madrasah Ibtidaiyah Syamsul Huda Bulusan pada Rabu (19/02/2025). Ajang ini menjadi kesempatan bagi para siswa untuk menunjukkan bakat dan potensinya dalam berbagai cabang olahraga dan seni.

Salah satu kompetisi yang menarik perhatian adalah lomba seni baca puisi. Uniknya, dua orang juri dalam ajang ini merupakan anggota Komite Bahasa dan Sastra Dewan Kesenian Belambangan, yakni Syafaat dan Nurul Ludfia Rochmah. Keduanya juga merupakan pengurus Lentera Sastra Banyuwangi, sebuah komunitas yang aktif dalam pembinaan sastra di daerah Banyuwangi. 


Pelaksanaan Porseni tingkat Kecamatan Kalipuro tahun ini dinilai setara dengan tingkat kabupaten. Hal ini dikarenakan adanya pertemuan teknis yang diselenggarakan sepekan sebelum lomba. Pertemuan ini memberikan kesempatan bagi peserta dan pelatih untuk memahami aturan perlombaan serta mempersiapkan diri dengan lebih matang.

“Banyak potensi yang dimiliki oleh siswa yang dapat terus dikembangkan melalui ajang seperti ini,” ujar Ketua Porseni MI Kecamatan Kalipuro, Misrato. Ia juga menyampaikan harapannya agar Kecamatan Kalipuro dapat meraih gelar juara umum pada Porseni MI tingkat berikutnya.

Ajang ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana untuk menumbuhkan semangat sportivitas dan kreativitas siswa madrasah ibtidaiyah di Kecamatan Kalipuro. Dengan persiapan yang matang dan dukungan dari berbagai pihak, diharapkan para peserta dapat menunjukkan performa terbaik mereka di setiap cabang lomba.


Bedah Buku "Jejak Kritik" Moh. Husen, DKB Banyuwangi Hadirkan Tokoh Sastra dan Literasi

Banyuwangi (Warta Blambangan) Buku Jejak Kritik karya Moh. Husen mendapat perhatian luas dari berbagai kalangan di Banyuwangi. Setelah mendapat dukungan dari komunitas Lentera Sastra Banyuwangi, kini Dewan Kesenian Blambangan (DKB) akan menggelar acara bedah buku tersebut pada 21 Februari 2025 di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banyuwangi.

Acara ini menghadirkan sejumlah tokoh penting di bidang literasi dan budaya, termasuk Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banyuwangi, Drs. Zen Kostolani, M.Si. Sebagai moderator, Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, Syafaat, akan memandu jalannya diskusi. 


Para pembedah buku merupakan tokoh-tokoh berpengaruh di dunia literasi Banyuwangi, di antaranya Ketua DKB Hasan Basri, Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi Samsudin Adlawi, serta Muttafaqurrohmah, anggota Komite Bahasa dan Sastra DKB sekaligus dosen di Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi.

Sebelumnya, pada 18 Februari 2025, Moh. Husen telah menyerahkan bukunya kepada Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyuwangi. Buku tersebut diterima langsung oleh Fitrin Kuntartini, S.Sos., M.Si., pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banyuwangi. Penyerahan ini menandai bahwa Jejak Kritik kini dapat diakses oleh masyarakat yang ingin mendalami kritik sastra dan wacana intelektual di Banyuwangi.

Sebagai kumpulan tulisan kritik sastra dan budaya, Jejak Kritik mencerminkan dinamika perkembangan seni dan sastra di Banyuwangi. Kehadirannya diharapkan menjadi referensi berharga bagi pecinta sastra dan akademisi dalam mengkaji literasi daerah.

Acara bedah buku ini diprediksi menjadi momen penting dalam perkembangan literasi dan apresiasi sastra di Banyuwangi. Diskusi yang berlangsung diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak penulis dan akademisi untuk terus mengembangkan dunia sastra.

Dengan tingginya atensi terhadap Jejak Kritik, terbukti bahwa kritik sastra masih memiliki tempat di hati para pecinta literasi Banyuwangi. Buku ini diharapkan membuka wacana baru dalam memahami perkembangan sastra lokal serta memperkaya diskursus budaya di Indonesia.

MI Darun Najah II Banyuwangi Gelar Lomba Binaussholah: Sebuah Perjalanan Ibadah dalam Lirik dan Gerak

 

Banyuwangi (Warta Blambangan) Langit pagi menyapa dengan doa, suara adzan berbisik dalam sanubari. Di sudut madrasah, langkah-langkah kecil bergegas menuju cahaya. Sholat, tiang agama yang tegak, menjadi saksi bisu perjalanan suci. MI Darun Najah II Banyuwangi, tempat ilmu dan akhlak bertaut, menorehkan jejak dalam balutan lomba Binaussholah.

Rabu (05/02/2025), Masjid Darun Najah menjadi panggung kebersamaan. 247 siswi, dalam 35 kelompok kecil, merangkai gerakan dalam harmoni. Setiap bacaan terpatri, setiap rukuk menjadi bukti, setiap sujud menyentuh bumi dengan kepasrahan sejati. 


Firman-Nya dalam Surah Al-Ankabut ayat 45 mengalun pelan, “Sesungguhnya sholat itu akan mencegah dari perbuatan keji dan munkar.” Dalam sujud, ada ketundukan. Dalam doa, ada harapan. Dalam lomba ini, ada semangat meniti jalan kebaikan.

Di madrasah ini, sholat bukan sekadar ritual. Sejak langkah pertama di kelas satu, mereka diajari dengan kasih. Bacaan demi bacaan, gerakan demi gerakan, semua menjadi rangkaian cahaya. Semester pertama, niat hingga salam. Semester kedua, gerakan yang terjalin dalam jamaah. Bukan sekadar lomba, tapi perjalanan menuju-Nya.

Kepala MI Darun Najah II menuturkan, “Untuk mengukur ketercapaian pembelajaran sholat dan meningkatkan kualitas sholat siswi, kami menggelar lomba ini setiap tahun. Peristiwa Isra’ dan Mi’raj menjadi pengingat akan amanah yang kita emban.”

Di antara barisan kecil, iqomah menggema, shaf tersusun rapi. Sementara, di sisi lain, suara adzan mengalun merdu dari bibir-bibir mungil. Wali murid pun terlibat, membimbing, mendampingi, berharap anak-anaknya menjadi cahaya yang menerangi zaman.

Gerakan yang serentak, bacaan yang syahdu, adab yang melekat. Semua dinilai dalam ketelitian. Ustadz Nasrudin dan Ustadz Umar Sandi, dua juri yang mengamati dengan cermat. Kelas satu, dengan sholat Maghrib. Kelas dua hingga enam, dengan sholat Subuh, doa qunut mengalun dalam khidmat.

Pemenang Lomba Binaussholah:

Kategori Kelas Bawah:

  • Juara 1: Nikel Ramadhani dkk (Kelas 1B)
  • Juara 2: Fakhira Aulia Ramadhani dkk (Kelas 3B)
  • Juara 3: Ananda Fatimatuzzahra Fakhruddin dkk (Kelas 3A)
  • Juara Harapan 1: Zaitun Izzati Salami dkk (Kelas 3B)
  • Juara Harapan 2: Lailatul Robbani Al-Qudsi dkk (Kelas 2B)

Kategori Kelas Atas:

  • Juara 1: Siti Rafiqotul Hasna dkk (Kelas 5)
  • Juara 2: Siti Rafidatul Hasna dkk (Kelas 5)
  • Juara 3: Raisya Rahmidiani dkk (Kelas 4B)
  • Juara Harapan 1: Aulia Izzatun Nisa Wardana dkk (Kelas 5)
  • Juara Harapan 2: Azzahra Rahma dkk (Kelas 6)

Langit senja memeluk mereka dalam doa. Hari itu bukan sekadar perlombaan, tapi sebuah langkah kecil menuju cahaya. Sebuah janji, bahwa sholat bukan hanya di atas panggung, tapi akan menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup mereka. MI Darun Najah II terus menanam, agar kelak menuai dalam keberkahan.


Kreasi Hantaran Kue di Pertemuan Rutin Dharma Wanita Persatuan

Banyuwangi (Warta Blambangan) Senin pagi, 17 Februari 2025, aula bawah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi dipenuhi semangat para anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP). Pertemuan rutin yang dihadiri seluruh unit DWP menjadi ajang berbagi ilmu dan pengalaman, kali ini dengan tema yang menggugah kreativitas: kreasi penyusunan kue kering untuk hantaran. 


Ketua DWP Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Hj. Siti Qudsiyah Chaironi, S.Ag., menyampaikan pentingnya keterampilan ini dalam menambah nilai estetika dan daya tarik hantaran kue. "Kreasi ini dapat menambah keterampilan anggota dalam menyusun hantaran kue menjadi semakin menarik, terlebih sebulan lagi kita akan menyambut Idul Fitri," ujarnya dengan penuh semangat.

Dengan meja-meja yang dipenuhi berbagai jenis kue kering, para anggota dengan antusias menyusun dan menghias hantaran. Dari pemilihan warna hingga tata letak, semua diperhatikan dengan cermat. Setiap sentuhan tangan melahirkan keindahan yang tidak hanya sedap dipandang, tetapi juga bernilai jual tinggi. Warna-warni toples kue berpadu dengan pita-pita indah, membentuk kombinasi yang harmonis.

Pertemuan ini bukan sekadar ajang berbagi ilmu, tetapi juga wadah mempererat kebersamaan antaranggota. Gelak tawa dan canda menghiasi ruangan, menciptakan suasana penuh kehangatan. Setiap peserta berbagi tips dan trik, dari cara menyusun kue agar tampak lebih elegan hingga bagaimana memilih kemasan yang sesuai. 


Salah satu peserta, Ny. Rini, mengungkapkan rasa senangnya mengikuti kegiatan ini. "Saya merasa sangat terbantu dengan adanya pelatihan ini. Selain menambah keterampilan, saya juga jadi terinspirasi untuk membuat hantaran sendiri di rumah. Mungkin ini bisa menjadi ide usaha sampingan di masa mendatang," tuturnya.

Suasana semakin meriah ketika diadakan sesi tanya jawab dan diskusi. Beberapa anggota berbagi pengalaman tentang usaha kue kering yang telah mereka jalankan. Mereka berbagi rahasia dalam memilih bahan berkualitas, menjaga kerenyahan kue, serta strategi pemasaran yang efektif. Ilmu yang diberikan tidak hanya berhenti pada aspek estetika, tetapi juga membuka wawasan mengenai peluang bisnis yang menjanjikan.

Di penghujung acara, Ny. Chaironi Hidayat berharap keterampilan ini dapat terus dikembangkan dan diterapkan. "Semoga ibu-ibu semakin kreatif dan bisa menjadikan keterampilan ini sebagai peluang usaha," pungkasnya.

Banyuwangi pagi itu bukan hanya tentang pertemuan rutin, tetapi tentang perjalanan kreativitas, kebersamaan, dan semangat berbagi. Dengan tangan yang semakin terampil, para anggota DWP bersiap menyambut Idul Fitri dengan hantaran yang penuh cinta dan keindahan. Dari aula bawah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, semangat berkarya terus mengalir, menginspirasi dan membawa manfaat bagi banyak orang.

Dokumen telah dibuat dengan judul "Kreasi Hantaran Dwp." Jika ada perubahan atau tambahan yang perlu dimasukkan, silakan beri tahu saya!

Menyelami Dunia Daur Ulang: Outing Class MI Darun Najah II di Bank Sampah

Banyuwangi (Warta Blambangan) Kamis pagi yang cerah (13/02/2025) di Banyuwangi menjadi saksi semangat tiga puluh siswi kelas enam MI Darun Najah II saat melangkah menuju Bank Sampah. Didampingi wali kelas dan pengurus Paguyuban Wali Murid (PWM), mereka siap menjalani pengalaman baru dalam menjaga kebersihan lingkungan melalui pengelolaan sampah plastik dan daur ulang. 


Madrasah Ibtidaiyah Darun Najah II selama ini dikenal tidak hanya sebagai lembaga pendidikan yang menekankan akademik, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan. Outing class ini menjadi salah satu wujud nyata dari komitmen tersebut.

"Kami berharap dengan kegiatan ini, siswi memiliki kesadaran dan pengetahuan yang baik tentang pengelolaan sampah serta dapat mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di rumah maupun di madrasah," ungkap Kepala MI Darun Najah II, Majidatul Himmah.

Setibanya di Bank Sampah, para siswi disambut oleh Pak Suryadi, seorang narasumber yang telah lama berkecimpung dalam dunia pengelolaan limbah. Dengan penuh semangat, ia menjelaskan perbedaan antara sampah organik, anorganik, dan B3. Tidak hanya mendengar teori, siswi juga diajak untuk langsung mempraktikkan pembuatan pupuk organik dan pupuk cair dari limbah dapur.

Salah satu sesi yang menarik perhatian adalah budidaya maggot. Pak Suryadi menerangkan bahwa larva ini memiliki kandungan nutrisi dan protein tinggi, yang menjadikannya pakan ternak dan ikan yang berkualitas. Dengan mata berbinar, siswi pun mengamati proses pengembangbiakan maggot dengan penuh antusias.

Tak berhenti di situ, kegiatan berlanjut dengan praktik pemilahan sampah. Para siswi diajarkan untuk memilah sampah berdasarkan jenisnya, serta mengetahui harga jual dari setiap kategori sampah. Melalui kegiatan ini, mereka semakin menyadari bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak berharga ternyata memiliki nilai ekonomi.

Sebagai penutup, sesi kreasi daur ulang pun digelar. Dengan bahan-bahan bekas yang telah dipilah, siswi mulai berkreasi menciptakan berbagai produk bernilai seni dan guna. Dari tangan-tangan kecil mereka, lahirlah karya-karya unik yang memiliki nilai jual.

Salah satu peserta outing class, mengungkapkan rasa senangnya. "Saya sangat senang dengan kegiatan ini, karena ternyata sampah itu bisa jadi sesuatu yang bermanfaat, bahkan bisa menghasilkan uang jika kita bisa mengelola dengan baik," tuturnya.

Kegiatan ini menjadi pengalaman berharga bagi para siswi MI Darun Najah II. Mereka pulang tidak hanya dengan ilmu baru, tetapi juga dengan kesadaran bahwa menjaga kebersihan lingkungan bukan sekadar kewajiban, melainkan juga peluang untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat dan bernilai.

Berita prosa telah dibuat dengan narasi yang lebih mengalir dan menggambarkan pengalaman siswi MI Darun Najah II dalam outing class mereka. Jika ada revisi atau tambahan, silakan beri tahu saya!

Malam Penuh Cahaya: Shalawat Menggema di Langit Dadapan

Banyuwangi (Warta Blambangan) Malam itu, langit Lapangan Dadapan berselimut ketenangan. Angin berembus pelan, membawa harum tanah yang masih menyimpan jejak siang. Di bawah gemerlap lampu-lampu yang menerangi panggung sederhana, ratusan orang duduk bersila, menunggu lantunan shalawat mengalun dari bibir-bibir yang haus akan keberkahan.

Malam  itu, 14 Februari 2025, menjadi malam yang tak hanya bermakna bagi insan pers, tetapi juga bagi siapa saja yang meyakini bahwa cahaya kebersamaan lebih terang dari sekadar kata-kata. Forum Komunikasi Wartawan Bersatu (FKWB) telah menyiapkan peringatan Hari Pers Nasional dengan cara berbeda. Bukan sekadar diskusi atau seminar, melainkan dengan shalawat—doa yang terangkai dalam irama, yang meluruhkan kesombongan, mendekatkan hati yang jauh. Dari sisi lapangan, Kapolsek Kabat, AKP Kusmin, berdiri tegap, mengawal jalannya acara dengan senyum tipis. 


Kapolres Banyuwangi, Kombes Pol Rama Samtama Putra, memotong tumpeng di Balai Desa Dadapan sebelum puncak acara, dengan penuh kebanggaan. Saat Kapolresta berbicara sebelum potong tumpeng, suaranya menghangatkan suasana.

“Saya berharap agar sinergi antara Polri dan insan media makin solid dan terjaga dengan baik. Dengan demikian, kita dapat bekerja sama untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan masyarakat.”

Kata-kata itu disambut anggukan, seolah menjadi janji tak terucap antara kepolisian dan insan pers. Janji untuk saling menguatkan, bukan hanya dalam berita, tetapi juga dalam kenyataan.

Lalu, saat kelompok hadrah Riyadhul Jannah mulai melantunkan shalawat di lapangan, waktu seakan melambat. Setiap suara, setiap tabuhan rebana, melayang ke langit, membangun jembatan tak kasat mata yang menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta. Masyarakat yang hadir menutup mata, meresapi kedamaian yang jarang ditemukan di tengah hiruk-pikuk dunia.

Di antara mereka, seorang pria tersenyum samar. Syafaat, Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, memandang Kapolsek Kusmin dengan mata yang menyimpan kenangan. Keduanya pernah duduk di bangku kuliah yang sama, bersama Wartawan Joko Wiyono yang Pada akhirnya menempuh jalan takdir yang berbeda, tapi malam itu, mereka bertemu kembali dalam satu frekuensi yang sama—cinta akan keadilan, kebenaran, dan persaudaraan.

“Ini bukan hanya tentang memperingati Hari Pers Nasional, tetapi juga tentang memperkuat tali persaudaraan,” katanya, nyaris seperti bisikan yang hanya didengar oleh mereka yang mengerti maknanya.

Sebelum shalawat berakhir, tumpeng dipotong sebagai tanda syukur. Doa mengalir, bukan hanya untuk pers yang lebih bermartabat, tetapi juga untuk negeri yang lebih damai.

Malam itu, Banyuwangi menjadi saksi bahwa shalawat, doa, dan kebersamaan adalah bahasa universal yang mampu menyatukan siapa saja. Bahwa cahaya yang lahir dari persatuan lebih terang daripada sekadar kilatan kamera atau sorot lampu panggung. Dan bahwa di balik berita, selalu ada hati yang bergetar—menuliskan kisah yang tak hanya hidup di lembaran koran, tetapi juga di sanubari mereka yang menyaksikannya.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger