Pages

Ngopi Senja di Omah Kopi Telemung: Inspirasi dari Kopi, Budaya, dan Sastra

 

BANYUWANGI (Warta Blambangan) – Suasana santai namun penuh inspirasi mewarnai diskusi sambil ngopi di Omah Kopi Desa Telemung pada Jumat (14/2/2025). Acara ini menjadi ajang bertukar gagasan tentang kopi, budaya, hingga perkembangan sastra dan teknologi.

Aekanu Haryono dari Kiling Osing Banyuwangi menuturkan bahwa kopi Banyuwangi memiliki citarasa khas yang tidak hanya menggugah selera tetapi juga menyimpan filosofi mendalam. Sementara itu, KRT Ilham, yang pada Agustus lalu dipercaya sebagai pawang hujan di Ibu Kota Nusantara (IKN), berbagi pandangannya tentang budaya Banyuwangi yang telah mendunia. 


Ketua Lentera Sastra Banyuwangi Syafaat, mengungkapkan harapannya agar acara seperti ini lebih sering diadakan. Menurutnya, suasana santai dan tidak formal justru mampu menghadirkan lebih banyak inspirasi dan gagasan segar.

Senada dengan itu, penyair Banyuwangi, Fatah Yasin Nor, turut menyinggung perkembangan sastra di era kecerdasan buatan (AI). Baginya, tantangan dan peluang AI dalam dunia sastra harus disikapi dengan bijak agar tidak menggeser nilai-nilai kreatifitas manusia.

Diskusi semakin hangat dengan kehadiran pemusik Ribut Kalembuan yang turut menghidupkan suasana.

Acara ini bukan hanya sekadar menikmati kopi, tetapi juga menjadi ruang bertukar wawasan dan merajut silaturahmi antarseniman dan pecinta budaya Banyuwangi.

Sarapan di Atas Daun Pisang: Sepotong Kebersamaan di Jumat Pagi

Banyuwangi (Warta Blambangan) – Matahari merayap perlahan, membasuh halaman Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi dengan sinar keemasan. Embun yang tersisa di rumput mulai menguap, seiring derai tawa yang membuncah selepas senam pagi. Jumat ini berbeda. Ada sesuatu yang lebih dari sekadar olahraga rutin—sebuah momen kecil yang menghangatkan hati, Jumat (14/02/2025)

Daun pisang dibentangkan, hijau dan segar. Selembar, dua lembar, hingga menyatu menjadi hamparan panjang, menggantikan meja dan piring yang biasa menemani waktu makan. Di atasnya, nasi putih mengepul, berdampingan dengan urap sayur, ayam goreng, tempe dan tahu bacem, ikan asin yang menggoda, sambal yang merah menggairahkan, serta kerupuk yang siap renyah di mulut. 


Satu per satu, aparatur sipil negara (ASN) duduk melingkar, tak ada sekat, tak ada hirarki. Di sini, kepala kantor dan stafnya sama-sama meraih nasi dengan tangan, membiarkan jemari merasakan tekstur makanan yang jarang tersentuh langsung. Ada tawa kecil ketika sambal terasa terlalu pedas, ada gurauan ringan saat seseorang berebut potongan ayam terakhir.

Chaironi Hidayat, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, mengamati suasana ini dengan senyum yang tak lekang. “Kita ingin mengingatkan kembali nilai gotong royong dan kesederhanaan,” ucapnya. “Makan di atas daun pisang bukan hanya soal cara, tapi tentang makna. Kita berbagi, kita saling mendekat, kita adalah satu keluarga.”

Di sudut lain, Elfi Nur Eka Putri menyesap momen ini dengan penuh rasa syukur. "Biasanya kita makan di meja masing-masing, sibuk dengan urusan sendiri. Tapi hari ini, rasanya berbeda. Lebih akrab, lebih hangat," katanya sambil menyuapkan nasi ke mulut, terasa lebih lezat dari biasanya.

Di atas daun pisang itu, bukan hanya makanan yang tersaji, tetapi juga kebersamaan. Setiap suapan membawa rasa syukur, setiap tawa menguatkan ikatan yang mungkin mulai renggang oleh rutinitas. Mereka makan perlahan, menikmati bukan hanya hidangan, tetapi juga keberadaan satu sama lain.

Waktu berjalan, namun kehangatan ini tak ingin lekas berlalu. Hingga akhirnya, doa bersama mengakhiri pagi yang penuh makna. Tangan menangkup, bibir berbisik harapan, agar kebersamaan ini tak sekadar ada di atas daun pisang, tapi juga dalam setiap langkah mereka melayani masyarakat.

Jumat ini akan berlalu, seperti pagi-pagi lainnya. Tapi jejaknya tetap tinggal—di hati, di ingatan, di rasa syukur yang semakin dalam.


Sarapan Bersama dengan Daun Pisang: Kebersamaan ASN Kemenag Banyuwangi di Hari Istimewa

Banyuwangi (Warta Blambangan) Ada yang berbeda dari suasana pagi di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi pada Jumat (14/2/2025). Usai melaksanakan senam bersama di halaman kantor, para aparatur sipil negara (ASN) menggelar sarapan bersama dengan cara yang tak biasa. Jika biasanya mereka menikmati hidangan dengan piring masing-masing, kali ini mereka menggunakan daun pisang sebagai alas makanan, menciptakan suasana kebersamaan yang lebih akrab dan penuh makna.

Momen istimewa ini berlangsung dengan penuh keceriaan. Selembar daun pisang yang panjang dibentangkan di atas lantai, lalu aneka lauk pauk dan nasi ditata berjajar. Semua ASN duduk melingkar, menikmati hidangan dengan tangan tanpa menggunakan sendok atau garpu, seperti tradisi makan bersama yang dikenal dalam budaya Nusantara.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Chaironi Hidayat, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar sarapan biasa, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan dan kekompakan di lingkungan kerja.

"Hari ini kita mencoba sesuatu yang berbeda, bukan hanya untuk merasakan sensasi makan bersama dengan daun pisang, tetapi juga untuk mempererat rasa kebersamaan. Di hari istimewa ini, kita ingin menunjukkan bahwa nilai gotong royong dan kesederhanaan adalah bagian dari budaya kita yang patut dilestarikan," ujarnya.

Berbagai menu khas Banyuwangi tersaji di atas daun pisang, mulai dari nasi putih, urap sayur, ayam goreng, tempe dan tahu bacem, ikan asin, sambal, serta kerupuk. Suasana semakin hangat dengan canda tawa di antara para pegawai yang menikmati hidangan dengan santai.

Salah satu peserta, Elfi Nur Eka Putri, mengungkapkan kesan positifnya terhadap kegiatan ini.

"Biasanya kita sarapan sendiri-sendiri di meja atau di kantin, tapi hari ini berbeda. Dengan makan bersama seperti ini, kita merasa lebih dekat satu sama lain. Rasanya lebih nikmat karena dinikmati bareng-bareng," katanya.

Kegiatan ini juga menjadi ajang refleksi bagi para ASN tentang pentingnya menjaga solidaritas dan kebersamaan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai pelayan masyarakat. Selain itu, tradisi makan beralas daun pisang juga mengingatkan mereka pada kearifan lokal yang masih relevan hingga kini.

Di tengah kesibukan dan tuntutan pekerjaan, momen-momen seperti ini menjadi penyegar bagi para pegawai. Tidak hanya memberikan pengalaman unik, tetapi juga mempererat hubungan di antara mereka. Senam pagi yang dilanjutkan dengan sarapan bersama ini diharapkan dapat meningkatkan semangat kerja dan menjaga keharmonisan dalam lingkungan kantor. 


Kegiatan pun ditutup dengan doa bersama, berharap agar kebersamaan yang telah terjalin dapat terus terjaga. Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan semangat kebersamaan tidak hanya terasa dalam momen tertentu, tetapi juga dalam keseharian kerja ASN di Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi.

Lapas Banyuwangi Gelar Tabligh Akbar Peringatan Isra Mi’raj, Warga Binaan Antusias Mengikuti

Banyuwangi, (Warta Blambangan) – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi menggelar tabligh akbar dalam rangka memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad Saw. Kegiatan yang berlangsung di aula utama lapas ini diikuti dengan penuh antusias oleh warga binaan, Rabu (12/02/2025)

Hadir sebagai penceramah, Ustadz Fauzan Anshori dari Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Dalam tausiyahnya, ia membahas hikmah Isra Mi’raj serta bagaimana peristiwa luar biasa tersebut dapat menjadi motivasi bagi umat Islam, termasuk warga binaan, untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah.

Kepala Lapas Banyuwangi, Mochamad Mukaffi, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan keagamaan seperti tabligh akbar ini merupakan bagian dari pembinaan mental dan spiritual bagi warga binaan. Ia berharap peringatan Isra Mi’raj dapat memberikan pelajaran berharga bagi mereka dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan.b


"Isra Mi’raj bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi juga membawa pesan mendalam tentang kesabaran, ketekunan dalam ibadah, serta keyakinan terhadap pertolongan Allah. Kami berharap para warga binaan dapat menjadikan momen ini sebagai refleksi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik," ujarnya.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Fauzan Anshori menjelaskan bahwa Isra Mi’raj merupakan perjalanan agung yang menjadi bukti kekuasaan Allah Swt. Salah satu hikmah utama dari peristiwa ini adalah perintah shalat lima waktu yang langsung diterima oleh Nabi Muhammad Saw.

"Shalat bukan hanya kewajiban, tetapi juga sarana komunikasi langsung antara hamba dengan Allah. Bagi warga binaan, shalat bisa menjadi cara untuk mendekatkan diri kepada Allah, memohon ampunan, serta petunjuk agar kelak bisa menjalani kehidupan yang lebih baik," jelasnya.

Selain membahas tentang shalat, Ustadz Fauzan juga mengajak warga binaan untuk menjadikan Isra Mi’raj sebagai motivasi untuk berubah, meningkatkan hubungan dengan Allah, serta memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Ia menegaskan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan kembali ke jalan yang lebih baik.

Tabligh akbar ini mendapat sambutan positif dari para warga binaan. Salah satu peserta, Ahmad (35), mengaku sangat bersyukur bisa mengikuti kegiatan ini.

"Saya merasa mendapatkan pencerahan dan semakin termotivasi untuk memperbaiki diri. Isra Mi’raj mengajarkan bahwa setiap manusia bisa berubah menjadi lebih baik asalkan ada niat dan usaha," ungkapnya.

Kegiatan ini diakhiri dengan doa bersama, diharapkan dapat memberikan ketenangan hati serta semangat baru bagi warga binaan dalam menjalani kehidupan ke depan.

Momen Hari Pers Nasional, Rumah Kebangsaan Basecamp Karangrejo Pererat Sinergitas Media, Aktivis, dan Forkopimda Banyuwangi

 BANYUWANGI (Warta Blambangan) Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional, Rumah Kebangsaan Basecamp Karangrejo menjadi ruang strategis bagi jurnalis, aktivis, dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Banyuwangi untuk memperkuat sinergitas. Acara yang berlangsung pada Selasa malam (11/02/25) ini dihadiri oleh para jurnalis senior, aktivis, serta perwakilan Forkopimda, termasuk Kapolresta Banyuwangi Kombes Pol Rama Samtama Putra beserta jajarannya, serta Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Banyuwangi.b


Hakim Said, S.H., Ketua Rumah Kebangsaan Basecamp Karangrejo, yang beralamat di Jl. MT Haryono No.72 B, Karangrejo, Kecamatan Banyuwangi, menyambut hangat kehadiran berbagai elemen masyarakat. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya ruang-ruang diskusi sebagai wadah bertukar gagasan dan solusi demi kemajuan Banyuwangi.

Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol Rama Samtama Putra, dalam kesempatan tersebut menegaskan komitmennya untuk membangun komunikasi yang terbuka dengan berbagai pihak. Menurutnya, sinergi antara kepolisian, media, jurnalis, pemerhati sosial, ulama, dan aktivis sangat penting dalam membangun paradigma baru yang lebih inklusif dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.

“Hari ini bukan hanya sekadar peringatan Hari Pers Nasional, tetapi juga momentum untuk memperkuat sinergitas antara institusi kepolisian dan elemen masyarakat. Dengan komunikasi yang baik, kita dapat bersama-sama menciptakan Banyuwangi yang lebih aman, kondusif, dan maju,” ujar Kapolresta dalam sambutannya.

Senada dengan hal tersebut, Kalapas Banyuwangi turut mengapresiasi peran media dalam menyampaikan informasi yang akurat dan berimbang kepada masyarakat. Ia menegaskan bahwa sinergi antara lembaga pemasyarakatan dan media sangat penting dalam membangun transparansi serta mendukung program pembinaan warga binaan.

“Media memiliki peran besar dalam membentuk opini publik yang positif. Kami berharap kerja sama ini dapat terus ditingkatkan demi mendukung berbagai program pembinaan di Lapas serta menjaga keterbukaan informasi kepada masyarakat,” ungkapnya.

Respon positif dari Kapolresta dan Kalapas terhadap peran media ini mendapat apresiasi dari para jurnalis dan aktivis yang hadir. Mereka menilai bahwa membangun hubungan yang harmonis antara instansi pemerintah, kepolisian, dan media adalah langkah maju dalam menciptakan transparansi dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum dan pemasyarakatan.

Acara kemudian diakhiri dengan diskusi santai yang penuh keakraban antara Kapolresta, Kalapas, serta para jurnalis dan aktivis. Harapannya, sinergitas yang telah terjalin dapat terus diperkuat untuk menciptakan iklim komunikasi yang lebih sehat serta berkontribusi dalam membangun Banyuwangi yang lebih baik.

Tarian Gandrung dalam Arus Zaman: Antara Pelestarian dan Ekspresi Bebas

 Tarian Gandrung dalam Arus Zaman: Antara Pelestarian dan Ekspresi Bebas

oleh : Syafaat 


Saya membuka grup WhatsApp Komunitas Lentera Budaya dan menemukan unggahan yang menarik perhatian. Seorang perempuan cantik bertubuh semampai, sepertinya masih usia belasan tahun yang bukan berasal dari Banyuwangi, sedang menari sendirian dengan penuh semangat. Ia mengenakan kostum Gandrung, tetapi tanpa ompyog (mahkota khas Gandrung). Namun, yang membuat saya tertegun bukan sekadar kostumnya, melainkan gerakannya yang dilakukan ditengah jalan diantara truk pembaes sound tidak seperti tarian Gandrung pada umumnya. Ia bergerak spontan mengikuti irama musik koplo yang mengalun dari sound horeg di atas truk, sementara penonton di sekitarnya tertawa dan menikmati pertunjukan tersebut.


Seperti biasa, unggahan semacam ini memicu beragam reaksi netizen. Ada yang menganggapnya biasa saja, hanya sekadar hiburan tak sengaja belaka. Tetapi ada pula yang merasa risih, bahkan sedikit emosi. Beberapa komentar menilai aksi tersebut sebagai bentuk pelecehan atau setidaknya kurang menghargai terhadap kostum Gandrung, yang memiliki nilai historis dan sakral. Mereka berpendapat bahwa kostum Gandrung seharusnya dikenakan dalam konteks yang sesuai, bukan sekadar pakaian untuk menari diiringi musik yang jauh dari akar tradisinya.



Saya sendiri memilih untuk tidak ikut berkomentar dalam diskusi yang sedikit panas tersebut. Perbedaan cara pandang kerap kali membawa seseorang ke dalam perdebatan yang tiada ujung. Bisa jadi saya akan dianggap tidak mengerti atau kurang menghormati budaya, hanya karena mencoba memahami kedua sisi perdebatan. Atau sebaliknya, saya bisa dianggap membela sang penari hanya karena ia berparas cantik.



Bagi masyarakat Osing Banyuwangi, Gandrung bukan sekadar tarian untuk menyambut wisatawan atau mengisi panggung hiburan semata. Tarian ini memiliki akar sejarah yang dalam, dan tidak bisa dilepaskan dari perjuangan suku Osing melawan kolonialisme.


Gandrung muncul sebagai salah satu bentuk perlawanan terhadap belenggu kolonial yang kreatif. Pada masa lalu, tarian ini menjadi strategi rakyat untuk menyamar dan mengumpulkan informasi dari penjajah. Selain itu, ada ritual tertentu yang harus dijalani oleh seorang penari sebelum benar-benar bisa disebut sebagai Gandrung. Salah satunya adalah meras—sebuah ritual inisiasi yang menandai kelahiran seorang penari Gandrung. Ia harus melewati tahapan panjang, mulai dari belajar tari sejak kecil, menjalani prosesi ritual, hingga akhirnya diakui oleh masyarakat. Seorang penari Gandrung juga memiliki kode etik dalam berpenampilan dan menampilkan tarian.


Oleh karena itu, wajar jika ada sebagian orang yang merasa tidak nyaman melihat kostum Gandrung dipakai dalam konteks yang kurang sesuai. Mereka khawatir bahwa jika dibiarkan, pemakaian kostum Gandrung tanpa memahami nilai-nilai di baliknya akan mereduksi esensi budaya itu sendiri.


Namun, zaman telah berubah. Gandrung kini lebih fleksibel dan terbuka terhadap berbagai inovasi. Ada Gandrung Marsan yang dikemas lebih teatrikal, Gandrung Nusantara yang dikolaborasikan dengan tarian daerah lain, hingga Gandrung yang masuk ke dalam format pertunjukan modern seperti festival dan parade budaya, tetapi masih dalam konteks yang diperbolehkan.


Tetapi, seberapa jauh fleksibilitas ini bisa diterima oleh masyarakat? Apakah ketika kostum Gandrung dikenakan tanpa menyajikan tarian Gandrung, hal itu masih dianggap sebagai bentuk apresiasi, atau justru dianggap sebagai pemerkosaan budaya?



Polemik seperti ini bukan hanya terjadi pada Gandrung. Banyak bentuk kesenian tradisional lain yang mengalami benturan serupa. Misalnya, busana adat wilayah tertentu yang dikenakan dalam fashion show tanpa ritual yang seharusnya, atau pakaian adat yang digunakan dalam pertunjukan yang tidak berkaitan dengan kebudayaan daerah tersebut.


Fenomena ini menunjukkan adanya perbedaan cara pandang dalam masyarakat. Sebagian orang berpendapat bahwa budaya harus dijaga keasliannya dan tidak boleh diperlakukan sembarangan. Namun, ada pula yang melihatnya sebagai bentuk ekspresi individu dan dinamika zaman yang terus berkembang dan tak bisa dihindari, seperti sang penari yang gagal menahan diri untuk menari mengikuti musik koplo tanpa memperdulikan bahwa ia sedang berpakaian apa.


Dalam kasus perempuan yang menari dengan kostum Gandrung diiringi musik koplo, kita bisa melihat dua perspektif:


1. Dari sisi pelestarian budaya, hal ini bisa dianggap sebagai tindakan yang kurang menghormati nilai historis dan sakralitas Gandrung. Kostum Gandrung bukan sekadar pakaian biasa, tetapi memiliki makna tersendiri dalam budaya Banyuwangi. Jika dikenakan di luar konteksnya, apalagi dalam pertunjukan yang terkesan asal-asalan, hal itu bisa menurunkan marwah dan keistimewaan tarian ini.


2. Dari sisi ekspresi seni, tarian adalah bentuk kebebasan berekspresi. Musik koplo yang identik dengan spontanitas dan hiburan rakyat tanpa pakem memang kerap membangkitkan semangat seseorang untuk menari. Jika seorang perempuan kebetulan mengenakan kostum Gandrung lalu terbawa suasana untuk menari, apakah itu berarti ia sengaja melecehkan budaya? Bisa jadi tidak. Mungkin, itu hanya spontanitas belaka.




Seiring perkembangan zaman, budaya memang mengalami transformasi. Gandrung yang dulu eksklusif, kini lebih terbuka untuk dikembangkan dalam berbagai bentuk pertunjukan. Tetapi, sejauh mana batasan perubahan itu bisa diterima?


Pada diskusi yang lebih luas tentang "budaya yang berkembang" versus "budaya yang harus dijaga keasliannya." Dalam banyak kasus, budaya yang terlalu kaku justru sulit berkembang dan akhirnya ditinggalkan generasi muda. Namun, jika terlalu bebas, dikhawatirkan nilai-nilai inti dari budaya itu sendiri akan hilang.


Kasus perempuan yang menari dengan kostum Gandrung diiringi musik koplo bisa menjadi refleksi bagi kita semua. Apakah kita masih memiliki standar yang jelas tentang bagaimana budaya kita harus dihormati? Dan bagaimana cara kita menyampaikan kritik terhadap fenomena ini tanpa terjebak dalam perdebatan yang tidak produktif?


Dalam realitas sosial, fenomena seperti ini akan terus terjadi. Tidak semua orang memiliki pemahaman yang sama tentang nilai budaya, dan tidak semua orang sadar akan makna mendalam di balik simbol budaya tertentu. Maka, alih-alih terjebak dalam debat yang tak berujung, mungkin yang lebih bijak adalah dengan terus memberikan edukasi tentang budaya secara santun dan inklusif. Jika seseorang tidak memahami nilai-nilai di balik kostum Gandrung, mungkin itu karena kurangnya edukasi, bukan karena niat buruk.


Di era digital saat ini, edukasi budaya bisa dilakukan dengan banyak cara. Media sosial, misalnya, bisa dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi tentang sejarah dan nilai filosofis Gandrung. Generasi muda yang aktif di dunia digital bisa menjadi agen pelestarian budaya dengan cara yang lebih kreatif dan menarik.



Pada akhirnya, budaya adalah milik bersama. Setiap orang memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengembangkan budaya dengan cara yang tetap menghormati akar sejarahnya. Namun, di sisi lain, kita juga harus bijak dalam memahami dinamika zaman yang terus berubah.


Apakah perempuan itu sepenuhnya salah karena menari spontan dengan kostum Gandrung? Bisa jadi ya, bisa juga tidak, tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Yang jelas, fenomena ini memberi kita pelajaran bahwa budaya bukan hanya soal mempertahankan tradisi, tetapi juga soal bagaimana kita memahami dan menyikapinya dengan bijaksana.


Jika kita ingin budaya tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang, maka kuncinya adalah keseimbangan. Menjaga keaslian tanpa menutup diri terhadap perubahan. Membuka ruang inovasi tanpa menghilangkan esensi. Dan yang paling penting, mendidik dengan cara yang santun, bukan sekadar menghakimi.


Penulis adalah Ketua Lentera Sastra Banyuwangi

Diskusi Peran Media di Era Digital

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2025 di Kabupaten Banyuwangi berlangsung istimewa. Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Banyuwangi menggelar sarasehan di Kantor Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian (Kominfosandi) Banyuwangi, Senin (10/2/2025). Acara ini menghadirkan diskusi ringan yang diikuti oleh insan pers dan berbagai pemangku kepentingan.



Hadir dalam kegiatan ini Forkopimda Banyuwangi, Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Banyuwangi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Banyuwangi, serta sejumlah jurnalis dari berbagai media di Banyuwangi. Sarasehan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat peran pers dalam pembangunan daerah serta menangkal maraknya hoaks di media sosial.


Kepala Dinas Kominfosandi Banyuwangi, Budi Santoso, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menekankan pentingnya peran pers dalam memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat.


“Kami berharap kegiatan ini menjadi awal yang baik bagi SMSI dalam berkontribusi terhadap ekosistem media yang sehat di Banyuwangi,” ujarnya.



Senada dengan Budi, Ketua PWI Banyuwangi, Budi Widiyanto, menegaskan bahwa SMSI bukanlah organisasi baru, melainkan sudah lama berdiri di berbagai daerah.


“SMSI ini bagian dari PWI, karena banyak pemilik media yang tergabung di PWI juga menjadi pengurus di SMSI. Semoga SMSI Banyuwangi bisa bersinergi dengan organisasi media lainnya untuk kepentingan masyarakat,” ungkapnya.


Ketua IJTI Banyuwangi, Syamsul Arifin alias Bono, juga menyoroti peran SMSI dalam menangkal penyebaran hoaks.


“Di era digital ini, kita harus bersama-sama memerangi informasi hoaks, terutama yang beredar di Banyuwangi. Media siber harus menjadi sumber informasi yang kredibel dan dapat dipercaya,” tegasnya.


Sementara itu, Ketua SMSI Banyuwangi, Joko Purnomo, mengungkapkan harapannya agar SMSI dapat berperan aktif dalam inovasi dan kemajuan daerah.

Ketua Lentera Sastra Banyuwangi Syafaat yang hadir dalam sarasehan tersebut berharap jurnalis juga memperhatikan nilai sastra dalam tulisannya.

"Jurnalis merupakan pilar keadilan, penyampai informasi yang mencerahkan, serta pengawal ketahanan pangan yang berkontribusi bagi kesejahteraan negeri" katanya 


“Peran media siber saat ini sangat dinamis. Semoga HPN 2025 ini menjadi momentum bagi SMSI Banyuwangi untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam menyajikan informasi yang transparan dan bertanggung jawab,” katanya.


Selain sarasehan, HPN 2025 di Banyuwangi juga dimeriahkan dengan ajang PWI Awards yang digelar di Pelinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi. Acara penghargaan ini mengusung tema “Jejak Langkah Inspiratif Bersama Pers untuk Kemajuan Banyuwangi”. Sebanyak 17 tokoh dan instansi menerima penghargaan atas kontribusi mereka dalam berbagai bidang.


Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, yang meraih penghargaan sebagai Tokoh dalam Penurunan Angka Kemiskinan Banyuwangi, menyampaikan apresiasinya terhadap peran pers dalam mendukung pembangunan daerah.


“PWI Banyuwangi selalu responsif dalam menyajikan berita yang konstruktif. Semoga kolaborasi antara pers dan pemerintah terus terjalin untuk kemajuan Banyuwangi,” ungkap Ipuk.


Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan insan pers di Banyuwangi semakin solid dan mampu menjalankan tugasnya secara profesional dalam menyampaikan informasi yang akurat dan bermanfaat bagi masyarakat. (Red)


 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger