Pages

Hari Pers Nasional: Tantangan Berita di Era Media Sosial

Hari Pers Nasional: Tantangan Berita di Era Media Sosial

oleh : Syafaat 

Setiap tanggal 9 Februari, Indonesia memperingati Hari Pers Nasional (HPN). Hari ini menjadi momentum refleksi bagi dunia jurnalistik di tanah air, terutama dalam menghadapi perubahan besar akibat perkembangan teknologi dan media sosial. Di era digital ini, siapa saja bisa menjadi "penyebar informasi" tanpa memahami kaidah jurnalistik.

Munculnya berbagai berita di media sosial, baik dalam bentuk tulisan, gambar, maupun video, sering kali tidak melewati proses verifikasi yang baik. Akibatnya, banyak informasi yang tersebar tanpa kejelasan fakta, bahkan berpotensi menyesatkan. Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi fenomena ini?


Dahulu, berita disampaikan melalui media cetak, radio, dan televisi yang memiliki sistem editorial ketat. Namun, kini dengan kehadiran internet dan media sosial, siapa pun bisa membuat dan menyebarkan informasi dalam hitungan detik.

Keberadaan media sosial memang membawa dampak positif, seperti mempercepat penyebaran informasi dan memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyuarakan pendapat. Namun, di sisi lain, kebebasan ini juga memunculkan tantangan, seperti:

  1. Meningkatnya Hoaks dan Misinformasi
    Tidak semua orang yang membagikan berita di media sosial memahami pentingnya verifikasi. Kadang, berita yang belum jelas kebenarannya langsung disebarkan hanya karena menarik atau sesuai dengan opini pribadi.

  2. Kurangnya Pemahaman Kaidah Jurnalistik
    Banyak pengguna media sosial yang tidak memahami prinsip jurnalistik seperti keberimbangan, akurasi, dan verifikasi. Mereka hanya berfokus pada kecepatan dalam menyebarkan informasi, tanpa mempertimbangkan dampaknya.

  3. Penyalahgunaan Media Sosial untuk Kepentingan Tertentu
    Media sosial sering digunakan untuk menyebarkan propaganda, baik untuk kepentingan politik, ekonomi, maupun pribadi. Informasi yang disajikan sering kali sudah dimanipulasi agar menguntungkan pihak tertentu.

  4. Menurunnya Kepercayaan terhadap Media Konvensional
    Akibat maraknya berita tidak valid di media sosial, masyarakat sering kali sulit membedakan mana informasi yang benar dan mana yang tidak. Hal ini membuat sebagian orang justru meragukan media konvensional yang selama ini berpegang pada kaidah jurnalistik

Jurnalistik bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga bertanggung jawab untuk memastikan kebenaran berita sebelum dipublikasikan. Beberapa prinsip utama jurnalistik yang harus diterapkan dalam penyebaran informasi adalah:

  1. Verifikasi Fakta
    Seorang jurnalis tidak boleh menyebarkan berita tanpa memastikan kebenarannya. Fakta harus dicek dari berbagai sumber terpercaya agar informasi yang disampaikan tidak menyesatkan.

  2. Keberimbangan dalam Pemberitaan
    Setiap berita harus mencerminkan berbagai sudut pandang agar tidak bersifat bias atau hanya menguntungkan satu pihak.

  3. Menghindari Sensasionalisme
    Dalam dunia media sosial, berita sensasional lebih cepat menyebar dibandingkan berita yang objektif. Namun, jurnalis yang baik harus tetap berpegang pada etika dengan tidak membuat judul atau isi berita yang berlebihan hanya demi menarik perhatian.

  4. Menjaga Independensi dan Netralitas
    Pers seharusnya tidak berpihak kepada kelompok atau kepentingan tertentu. Jurnalis harus menyampaikan fakta secara objektif tanpa intervensi dari pihak luar. 


Di era digital, muncul konsep jurnalisme warga (citizen journalism), di mana masyarakat biasa bisa berperan sebagai penyampai informasi. Dengan adanya smartphone dan akses internet, siapa saja bisa melaporkan kejadian di sekitarnya secara langsung.

Namun, tantangan terbesar dari jurnalisme warga adalah kurangnya pemahaman terhadap etika jurnalistik. Banyak laporan yang hanya berdasarkan emosi atau asumsi, tanpa ada upaya untuk mengonfirmasi kebenarannya. Ini berpotensi menimbulkan berita bohong atau menyebarkan ketakutan di masyarakat.


Ketika berita yang tidak diverifikasi menyebar luas, dampaknya bisa sangat merugikan, seperti:

  • Menyebabkan Kepanikan Publik
    Misalnya, berita palsu tentang bencana alam atau kejadian kriminal bisa membuat masyarakat panik dan bertindak gegabah.

  • Merusak Reputasi Seseorang atau Institusi
    Banyak kasus di mana seseorang menjadi korban fitnah akibat berita hoaks yang menyebar di media sosial. Reputasi yang sudah dibangun bertahun-tahun bisa hancur dalam hitungan menit hanya karena informasi yang tidak benar.

  • Menyulut Konflik Sosial dan Politik
    Informasi yang tidak akurat sering kali dimanfaatkan untuk memperkeruh situasi politik dan sosial. Berita yang provokatif bisa menimbulkan perpecahan di masyarakat.


Sebagai masyarakat yang hidup di era digital, kita harus lebih cerdas dalam mengonsumsi berita. Berikut beberapa cara untuk menyikapi maraknya informasi di media sosial:

  1. Periksa Sumber Berita
    Pastikan informasi berasal dari media yang kredibel dan bukan dari akun anonim atau situs yang tidak jelas.

  2. Lakukan Cross-Check Informasi
    Jangan langsung percaya pada satu sumber saja. Cek apakah informasi yang sama juga dilaporkan oleh media lain yang terpercaya.

  3. Hindari Menyebarkan Berita yang Belum Jelas
    Sebelum membagikan berita, pastikan kebenarannya. Jika ragu, lebih baik tidak menyebarkannya agar tidak ikut berkontribusi dalam penyebaran hoaks.

  4. Gunakan Akal Sehat dan Jangan Mudah Terprovokasi
    Banyak berita yang dibuat untuk memancing emosi pembaca. Sebelum bereaksi, analisis dulu apakah berita tersebut masuk akal atau hanya bertujuan untuk membentuk opini tertentu.

  5. Laporkan Konten yang Menyesatkan
    Jika menemukan berita palsu, laporkan kepada pihak berwenang atau platform media sosial agar informasi tersebut bisa segera ditindaklanjuti.

Di tengah maraknya berita yang tidak terverifikasi, media profesional harus semakin berperan dalam memberikan informasi yang benar dan dapat dipercaya. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh media konvensional untuk mempertahankan kredibilitasnya adalah:

  • Memperkuat Etika dan Kode Etik Jurnalistik
    Setiap jurnalis harus mematuhi standar jurnalistik yang ketat agar berita yang disampaikan selalu akurat dan berimbang.

  • Memanfaatkan Teknologi untuk Verifikasi Fakta
    Dengan adanya kecerdasan buatan (AI) dan berbagai alat digital, media bisa lebih cepat dalam mengecek kebenaran suatu berita sebelum dipublikasikan.

  • Melibatkan Masyarakat dalam Literasi Media
    Media harus aktif memberikan edukasi kepada masyarakat tentang cara memilah informasi agar tidak mudah terpengaruh oleh berita hoaks.

Hari Pers Nasional bukan sekadar perayaan bagi insan pers, tetapi juga momen refleksi bagi semua pihak. Di era media sosial, penyebaran berita tidak lagi terbatas pada jurnalis profesional, tetapi juga masyarakat umum. Namun, kebebasan ini harus diimbangi dengan tanggung jawab agar informasi yang beredar tidak menyesatkan atau merugikan orang lain.

Sebagai konsumen berita, kita harus lebih bijak dalam menyaring informasi. Jangan mudah percaya dan menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Di sisi lain, media profesional harus terus menjaga integritas dan kepercayaan publik dengan menyajikan berita yang akurat, berimbang, dan bertanggung jawab.

Dengan memahami pentingnya kaidah jurnalistik dan literasi media, kita bisa bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang lebih sehat dan berkualitas. Selamat Hari Pers Nasional!

IWAPI DPC Banyuwangi Gelar Pelatihan Public Speaking di IWAPI Expo 2025

 BANYUWANGI (Warta Blambangan) – Dalam rangka memperingati HUT ke-50, Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) DPC Banyuwangi menggelar Pelatihan Public Speaking sebagai upaya meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum. Acara yang berlangsung di Taman Blambangan ini merupakan bagian dari rangkaian IWAPI Expo 2025 dan diikuti oleh berbagai organisasi wanita serta masyarakat umum pada Sabtu (8/2/2025).

Ketua DPC IWAPI Banyuwangi, Hj. Retno Herlina, menyampaikan bahwa pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan seni berbicara di depan umum bagi perempuan, terutama dalam presentasi dan kepemanduan acara. 


"Diharapkan dengan adanya kegiatan ini, para peserta dapat lebih percaya diri dalam berbicara di depan publik, menyampaikan informasi dengan jelas, dan memengaruhi audiens secara efektif," ujarnya.

Retno menambahkan bahwa keterampilan public speaking tidak hanya bermanfaat dalam dunia bisnis tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan berbicara yang baik dapat membantu seseorang dalam memberikan motivasi, menghibur, serta membangun komunikasi yang lebih efektif.

Sebagai narasumber, IWAPI Banyuwangi menghadirkan Mamik Yuniantri, seorang Profesional Master Ceremony (MC) kondang. Dalam pemaparannya, Mamik menekankan bahwa seni berbicara bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi juga bagaimana memengaruhi sudut pandang audiens.

"Seni berbicara adalah bagaimana kita menyampaikan pesan agar diterima dengan baik dan dapat mengubah perilaku penerima pesan," ujar Mamik. Ia pun membagi peserta ke dalam enam kelompok dan memberikan berbagai praktik langsung untuk meningkatkan rasa percaya diri mereka.

Mamik, yang juga seorang penyiar LPP Blambangan FM dan Humas Marketing RS Yasmin, menekankan pentingnya pemilihan kata, intonasi, dan penekanan dalam berbicara. Menurutnya, public speaking adalah seni yang dapat membangun atau justru menghancurkan hubungan antarindividu, sehingga perlu dipelajari dengan baik.

Pelatihan ini mendapat respons positif dari peserta. Salah satu peserta yang juga dosen Umsyiah serta aktivis BKPRMI dan Forum Banyuwangi Sehat, menyatakan bahwa pelatihan ini sangat penting bagi mereka yang aktif dalam dunia komunikasi dan negosiasi.

Sementara itu, Yuli Karim dari Dharma Wanita Persatuan BPKAD mengaku acara ini membuatnya lebih percaya diri dalam berbicara di depan umum. "Pelatihan ini sangat bermanfaat, terutama untuk memahami situasi aktual dan tetap tenang serta tersenyum saat berbicara," katanya.

Dengan adanya pelatihan ini, IWAPI Banyuwangi berharap semakin banyak perempuan yang memiliki keterampilan berbicara yang baik, sehingga mampu tampil lebih percaya diri di berbagai bidang.

Buku Cinta dan Pernikahan Dapat Dibaca di Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyuwangi

Banyuwangi (Warta Blambangan) Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, Syafaat, menyerahkan buku karyanya yang berjudul Cinta dan Pernikahan kepada Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyuwangi. Buku tersebut diterima langsung oleh pustakawan Yusuf Khoiri, , dalam sebuah acara yang berlangsung di ruang Perpustakaan Daerah Jum'at (07/02/2024)



Buku Cinta dan Pernikahan merupakan kumpulan artikel yang telah dimuat di berbagai media, baik online maupun offline. Artikel-artikel dalam buku ini sebagian besar membahas tentang pernikahan, berdasarkan pengalaman Syafaat selama bertugas di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan.


Dalam kesempatan tersebut, Syafaat menyampaikan harapannya agar buku ini dapat menjadi referensi yang bermanfaat bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang ingin memahami lebih dalam tentang pernikahan dari sudut pandang seorang yang berpengalaman di bidang tersebut. “Semoga buku ini dapat memberikan wawasan bagi masyarakat dalam memahami berbagai aspek pernikahan, baik dari sisi hukum, sosial, maupun pengalaman pribadi yang saya bagikan di dalamnya,” ujarnya.


Yusuf Khoiri, selaku pustakawan Perpustakaan Daerah Banyuwangi, menyambut baik penyerahan buku tersebut. Ia mengapresiasi kontribusi Syafaat dalam menambah koleksi literasi di perpustakaan, khususnya dalam bidang pernikahan. “Buku ini tentunya akan sangat membantu masyarakat dalam mencari referensi terkait pernikahan, baik bagi pasangan yang hendak menikah maupun masyarakat umum yang ingin memperdalam wawasan mereka,” kata Yusuf.


Dengan adanya penyerahan buku ini, diharapkan semakin banyak masyarakat yang tertarik untuk membaca dan memperkaya pengetahuan mereka melalui koleksi buku di Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyuwangi.

PC ISNU Banyuwangi Jalin Sinergi dengan Polresta Banyuwangi

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Banyuwangi menegaskan komitmennya dalam mendukung program serta kinerja positif Polresta Banyuwangi. Pernyataan tersebut disampaikan saat Abdul Aziz dan jajaran pengurus PC ISNU Banyuwangi bersilaturahmi dengan Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol. Rama Samtama Putra, S.I.K., M.Si., M.H., pada Kamis (6/2/2025).



Ketua PC ISNU Banyuwangi, Abdul Aziz,S.H.I., M.H.I. menyampaikan bahwa organisasi yang dipimpinnya siap bersinergi dengan kepolisian dalam berbagai aspek, terutama dalam menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif bagi masyarakat.

Selain Abdul Aziz, jajaran PC-ISNU Kabupaten Banyuwangi juga kompak hadir, Fajar Isnaini, S.E., M.M., Alfian Sholeh, S.Sos., H. Syafaat, S H., M H.I., Gembong Aji Rifai, S.H., Irfan Hidayat, S.H., M.H., Dr. Ana Aniati, M.Pd.I., Nanang Khosim, M.Pd., Ainur Rizqiyah, M.Pd., dan Rizki Febri Yoga Saputra, S.H.

“Kami berkomitmen untuk mendukung program positif Polresta Banyuwangi, terutama dalam hal penertiban minuman keras (Miras) dan pencegahan berbagai bentuk kejahatan yang meresahkan masyarakat,” ujar Aziz.


Dalam diskusi tersebut, PC ISNU Banyuwangi menyoroti beberapa isu penting yang menjadi perhatian bersama, termasuk dukungan terhadap kebijakan penertiban peredaran Miras oleh Tim Terpadu. Aziz menegaskan bahwa pihaknya mendukung penuh langkah Polresta Banyuwangi dalam menekan peredaran minuman keras yang kerap menjadi pemicu tindak kriminalitas.


“Terkait penertiban Miras, kami mendukung penuh langkah-langkah Tim Terpadu yang bekerja sama dengan Polresta Banyuwangi dalam menjaga ketertiban di masyarakat,” tambahnya.


Tak hanya itu, ISNU Banyuwangi juga siap berkolaborasi dengan Polresta dalam upaya pencegahan berbagai masalah sosial lainnya, seperti bahaya perundungan (bullying) di lingkungan pesantren serta edukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban.


“Dalam waktu dekat, kami siap menggelar kegiatan sholawatan menjelang bulan suci Ramadan dengan tema ‘Anti Miras’ sebagai bentuk dukungan moral kepada Polresta Banyuwangi,” terang Aziz.


Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol. Rama Samtama Putra, menyambut baik sinergi yang ditawarkan oleh PC ISNU Banyuwangi. Ia menegaskan bahwa kepolisian selalu terbuka untuk berkolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat guna menjaga stabilitas keamanan di Banyuwangi.


“Polresta Banyuwangi siap berkolaborasi. Untuk kegiatan sholawatan nanti, kami berharap bisa menjadi momentum untuk semakin memperkuat kesadaran masyarakat dalam menjaga kondusifitas,” ujar Kapolresta.


Dalam kesempatan tersebut, Kapolresta juga memaparkan sejumlah program prioritas Polresta Banyuwangi, seperti penanganan balap liar, pemberantasan Miras, pencegahan HIV/AIDS, serta upaya mengatasi kekerasan di masyarakat.


“Agenda yang dirancang ISNU Banyuwangi sangat bermanfaat bagi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Kami sepakat dan siap bersinergi,” pungkasnya.


Silaturahmi ini menjadi salah satu upaya konkret PC ISNU Banyuwangi dalam mengimplementasikan program kerja organisasi, terutama dalam menjaga kondusifitas daerah serta mendukung visi pembangunan yang dicanangkan oleh Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani Azwar Anas.

"Seikat Petikan Jiwa Malam", Karya Syafaat, Kini Hadir di Perpustakaan Daerah Banyuwangi

Banyuwangi (Warta Blambangan)– Karya puisi terbaru berjudul Seikat Petikan Jiwa Malam kini dapat dinikmati oleh masyarakat Banyuwangi di Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyuwangi. Buku yang ditulis oleh penyair Syafaat ini resmi diserahkan pada Kamis (6/2/2025) di ruang baca Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Perpusip) Kabupaten Banyuwangi.

Buku tersebut diterima langsung oleh pustakawan Dinas Perpusip, H. Yusuf Khoiri. Dalam kesempatan itu, Syafaat menyampaikan harapannya agar karyanya dapat memberikan inspirasi bagi para pembaca, terutama generasi muda yang gemar menggeluti dunia sastra.

Seikat Petikan Jiwa Malam merupakan kumpulan puisi yang mengangkat tema refleksi kehidupan, pergulatan batin, dan keindahan perasaan yang dituangkan dalam bait-bait penuh makna. Buku ini diterbitkan oleh Dinas Perpusip Kabupaten Banyuwangi dan telah tersedia tidak hanya dalam bentuk cetak, tetapi juga dalam versi e-book yang dapat diakses melalui website resmi Dinas Perpusip. 


Dengan hadirnya buku ini di Perpustakaan Daerah, masyarakat Banyuwangi kini memiliki kesempatan lebih luas untuk mengenal karya-karya sastra lokal yang berkualitas. "Semoga ini menjadi langkah awal untuk lebih banyak lagi karya sastra daerah yang terdokumentasikan dan dapat dinikmati oleh publik," ujar H. Yusuf Khoiri.

Bagi yang ingin membaca buku Seikat Petikan Jiwa Malam, dapat langsung mengunjungi Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyuwangi atau mengakses e-book-nya melalui laman resmi Dinas Perpusip.

MI Darun Najah II Banyuwangi Gelar Wisuda Tahfidz Al-Qur’an Angkatan Ke-IV

Banyuwangi +Warta Blambangan) Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darun Najah II Banyuwangi kembali menggelar Wisuda Tahfidz Al-Qur’an angkatan ke-IV pada Sabtu (01/02/2025). Acara yang berlangsung di lantai 2 Masjid Darun Najah ini diikuti oleh 36 siswi yang telah menyelesaikan program hafalan Al-Qur’an sesuai dengan target yang ditetapkan madrasah.

Sebelum prosesi wisuda, para peserta telah mengikuti munaqosyah yang dilaksanakan pada 16 hingga 18 Desember 2024. Dari hasil ujian tersebut, 30 siswi dinyatakan lulus dengan hafalan Juz 30, terdiri dari kelas 2, 3, dan 4. Sementara itu, enam siswi lainnya dari kelas 3 dan 4 berhasil menyelesaikan hafalan Juz 1.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chaironi Hidayat, dalam keterangannya di tempat terpisah menyampaikan apresiasi terhadap keberhasilan para wisudawati. Ia berpesan agar mereka terus bersemangat dalam menghafal, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.


.

Kepala MI Darun Najah II, Majidatul Himmah, turut memberikan sambutan dengan mengucapkan selamat kepada para siswi yang telah menyelesaikan program tahfidz. "Mereka telah menunjukkan ketekunan yang luar biasa dalam menghafal Al-Qur’an. Kami juga akan terus berupaya meningkatkan kualitas program tahfidz yang sudah berjalan sejak 2018 ini," ujarnya.

Sekretaris Yayasan Darun Najah, Ma’mulah Harun, juga memberikan apresiasi kepada para wisudawati. Ia menekankan pentingnya tidak hanya membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga belajar menulis serta memahami maknanya.

Momen haru mewarnai acara ketika para siswi mempersembahkan tulisan berisi ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada orang tua mereka, setelah sebelumnya melantunkan lagu Senandung Hafidz Qur’an.

Sebagai puncak acara, penghargaan Duta Tahfidz 2025 diberikan kepada Lailatul Robbani Al-Qudsi, siswi kelas 2 yang meraih nilai terbaik dalam munaqosyah.

Dengan digelarnya wisuda tahfidz ini, MI Darun Najah II Banyuwangi terus berkomitmen mencetak generasi penghafal Al-Qur’an yang tidak hanya mampu menghafal, tetapi juga memahami dan mengamalkan ajaran suci dalam kehidupan sehari-hari.

Lentera Sastra Banyuwangi Agendakan Menulis Cerita-cerita Rakyat Banyuwangi

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Bertepatan dengan libur Imlek, Rabu (29/01/2025) komunitas Lentera Sastra Banyuwangi menggelar kegiatan Ngopi Sastra (Ngobrol Inspirasi Sastra) di Pantai Cacalan, Banyuwangi. Acara ini bertujuan untuk mengevaluasi kegiatan tahun sebelumnya sekaligus merancang program kerja tahun 2025.



Dalam kesempatan tersebut, Ketua Lentera Sastra Banyuwangi Syafaat menyampaikan bahwa pada tahun 2025, komunitas ini akan fokus pada dua agenda utama, yaitu pelatihan menulis cerita pendek berlatar Banyuwangi dan bimbingan teknis konvensi hak anak. Selain itu, mereka juga berencana mengadakan pelatihan pembuatan video profesional sebagai bentuk pengembangan keterampilan kreatif bagi para anggotanya.



Dalam sesi awal, para peserta berdiskusi mengenai kegiatan yang telah dilaksanakan sepanjang tahun 2024. Beberapa program yang berhasil dijalankan di antaranya adalah pelatihan jurnalistik sastra, diskusi puisi, serta keterlibatan anggota komunitas dalam berbagai acara budaya dan literasi di Banyuwangi.



“Banyak capaian yang membanggakan di tahun 2024. Kita telah melibatkan lebih banyak anak muda dalam dunia sastra dan memperkenalkan sastra lokal kepada khalayak yang lebih luas,” ujar Ketua Lentera Sastra Banyuwangi.


Namun, ia juga menyoroti beberapa tantangan yang dihadapi, seperti keterbatasan sumber daya dan masih perlunya peningkatan kualitas karya yang dihasilkan. Oleh karena itu, evaluasi ini menjadi langkah penting untuk memperbaiki dan meningkatkan program di tahun 2025.


Salah satu program unggulan tahun ini adalah pelatihan menulis cerita pendek berlatar Banyuwangi. Ketua komunitas menegaskan bahwa Banyuwangi memiliki kekayaan cerita rakyat yang luar biasa dan dapat diangkat dalam berbagai karya sastra.


“Dari legenda Sri Tanjung-Sidopekso, kisah Buyut Cili, hingga mitos-mitos tentang Ijen dan Alas Purwo, semua itu bisa menjadi sumber inspirasi yang tak ada habisnya,” katanya.


Pelatihan ini diharapkan dapat menggali lebih banyak potensi penulis muda yang ingin mengangkat kearifan lokal dalam karya mereka. Dengan pendekatan kreatif, para peserta akan dibimbing untuk mengolah cerita rakyat menjadi cerpen yang menarik, tidak hanya bagi pembaca lokal tetapi juga untuk audiens yang lebih luas.



Selain fokus pada pengembangan sastra, Lentera Sastra Banyuwangi juga berkomitmen pada isu sosial, salah satunya adalah hak anak. Oleh karena itu, mereka akan mengadakan bimbingan teknis konvensi hak anak bagi para anggotanya.


“Kami ingin menjadikan sastra sebagai media edukasi yang dapat meningkatkan kesadaran akan hak-hak anak. Melalui cerita dan puisi, kita bisa menyampaikan pesan penting dengan cara yang lebih mengena,” jelas Syafaat.


Bimbingan ini akan melibatkan narasumber dari berbagai latar belakang, termasuk pegiat literasi, aktivis perlindungan anak, dan akademisi. Harapannya, anggota Lentera Sastra Banyuwangi tidak hanya mampu menghasilkan karya sastra yang berkualitas, tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi.



Sebagai bentuk adaptasi dengan perkembangan zaman, Lentera Sastra Banyuwangi juga akan mengadakan pelatihan pembuatan video profesional. Program ini bertujuan untuk membekali anggota dengan keterampilan dalam produksi konten digital, terutama dalam mengemas karya sastra dalam bentuk visual.


“Kita tidak bisa hanya terpaku pada media cetak. Sastra juga bisa berkembang dalam bentuk video, film pendek, atau bahkan animasi. Dengan keterampilan ini, kita bisa menjangkau lebih banyak orang dan memperkenalkan sastra Banyuwangi dengan cara yang lebih modern,” ujar Ambar Afiah salah satu anggota komunitas.


Pelatihan ini akan mencakup berbagai aspek, mulai dari penulisan skenario, teknik pengambilan gambar, hingga proses editing. Dengan demikian, peserta dapat mengolah karya sastra mereka menjadi konten digital yang menarik dan berkualitas.


Dipilihnya Pantai Cacalan sebagai lokasi Ngopi Sastra bukan tanpa alasan. Pantai yang terletak di wilayah Kalipuro, Banyuwangi ini dikenal dengan suasana yang tenang dan pemandangan Selat Bali yang indah.


“Tempat ini sangat inspiratif. Angin laut, suara ombak, dan keindahan alamnya membuat kita lebih rileks dan kreatif. Sastra butuh suasana yang mendukung, dan Pantai Cacalan adalah salah satu tempat terbaik untuk itu,” ungkap Nur Saewan seorang  anggota Lentera Sastra 


Para anggota komunitas terlihat antusias mengikuti diskusi, sembari menikmati kopi dan kudapan yang disediakan. Beberapa bahkan spontan membaca puisi dan berbagi pengalaman mereka dalam menulis.



Dengan agenda yang sudah dirancang, Lentera Sastra Banyuwangi berharap tahun 2025 menjadi tahun yang lebih produktif dan bermanfaat bagi komunitas sastra di Banyuwangi. Mereka mengajak lebih banyak anak muda untuk bergabung dan berkontribusi dalam dunia literasi.


“Literasi bukan hanya soal membaca dan menulis, tapi juga tentang menyampaikan pesan, menggali kearifan lokal, dan menyebarkan inspirasi. Mari kita bersama-sama menjadikan sastra sebagai bagian dari kehidupan kita,” pungkas Syafaat.


Dengan semangat baru, Lentera Sastra Banyuwangi siap melangkah lebih jauh, membawa sastra Banyuwangi ke tingkat yang lebih tinggi.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger