Pages

Launching dan Bedah Buku Pengawas Pemilu, Ujung Tombak Penegakan Demokrasi Pemilu 2024

 Banyuwangi - Bertempat di Ballroom Aston Hotel and Conference Center Banyuwangi, Bawaslu Kabupaten Banyuwangi menggelar launching dan bedah buku berjudul Pengawas Pemilu Ujung Tombak Penegakan Demokrasi, pada Sabtu (29/12/2024) yang berlangsung sejak pukul 10.00 WIB.


Buku karya Koordinator Divisi SDM, Organisasi, Pendidikan, dan Pelatihan Bawaslu Kabupaten Banyuwangi Joyo Adikusumo ini, mengangkat pengalaman, tantangan, serta momen unik yang dialami para pengawas ad hoc pada pemilu 2024 di Banyuwangi, mulai dari Panwaslu Kecamatan (Panwascam), Panwaslu Kelurahan/Desa (PKD), hingga Pengawas Tempat Pemungutan Suara (Pengawas TPS)


Acara tersebut menghadirkan dua narasumber kompeten, yaitu H. Syafaat, S.H., M.H.I., Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi, dan Moh. Husen seorang penulis buku dan jurnalis Radar Jatim.id. Bertindak sebagai moderator adalah Abdul Azis dari Koordinator Sekretariat Bawaslu Kabupaten Banyuwangi. 



"Penulisan ini bertujuan mendokumentasikan berbagai aspek pelaksanaan pemilu di Banyuwangi, termasuk kejadian unik dan tantangan yang dihadapi para pengawas pengawas pemilu," kata pria yang akrab disapa Joyo kepada awak media, Sabtu (29/12/2024).


"Acara ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran tentang peran pengawas pemilu dalam menjaga kualitas demokrasi di Indonesia," tambahnya.


Ia menyebut, salah satu cerita yang menarik dalam buku ini adalah pengalaman seorang PKD di Glenmore yang tetap menjalankan tugas meski dalam kondisi hamil 8 bulan serta harus menempuh medan pengawasan yang tidak mudah karena saat pemungutan suara 14 Februari 2024 yang lalu, di lokasi tersebut sedang turun hujan.


Sementara itu, H. Syafaat mengapresiasi upaya penulisan buku ini yang mencerminkan integritas tinggi para pengawas pemilu. Menurutnya, buku ini berhasil menggambarkan betapa beratnya tugas sebagai pengawas pemilu, dengan berbagai godaan dan tekanan. 


"Meski penyampaian dalam buku masih sederhana, isinya sudah cukup mengena. Akan lebih baik jika penerbitan selanjutnya memperluas pembahasannya, terutama pada tantangan di lapangan,” ujarnya.


Adapun Moh. Husen menyoroti tantangan yang dihadapi dalam proses penerbitan buku. “Menulis pengalaman pengawas pemilu bukan hal yang mudah, apalagi bagi yang belum terbiasa menulis. Namun, buku ini menunjukkan keberanian untuk mendokumentasikan hal-hal yang sering kali terlupakan,” ungkapnya.


Para peserta yang terdiri dari Panwascam dan PPK sekabupaten Banyuwangi ini terlihat antusias mengikuti jalannya diskusi, dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan terkait pengalaman lapangan dan strategi peningkatan kualitas pengawasan pemilu di masa mendatang.

Tahun 2025; Semua Calon Pengantin Wajib Bimbingan Perkawinan

Banyuwangi (Warta Blambangan) Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi melalui Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam, H. Mastur, menegaskan pentingnya bimbingan perkawinan bagi calon mempelai sebagai upaya menciptakan keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah. Hal tersebut disampaikan dalam pembinaan  yang digelar di Balai Nikah KUA Kecamatan Gambiran Jumat, (27/12/2024)



Menurut H. Mastur, bimbingan perkawinan bukan hanya mencakup materi standar yang telah ditetapkan, tetapi juga harus disesuaikan dengan kebutuhan calon mempelai, terutama bagi mereka yang mendapatkan dispensasi pengadilan karena usia kurang dari 19 tahun. "Calon pengantin yang menikah di bawah usia 19 tahun membutuhkan materi tambahan yang relevan dengan kondisi mereka agar lebih siap menghadapi kehidupan rumah tangga," jelasnya.


Kepala KUA Kecamatan Gambiran, Gufron Mustofa, menambahkan bahwa bimbingan perkawinan di KUA Gambiran rutin dilaksanakan setiap hari Rabu. Dalam kegiatan ini, selain materi yang disampaikan oleh KUA, juga melibatkan narasumber dari Puskesmas setempat dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). "Kolaborasi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang komprehensif kepada calon mempelai, baik terkait kesehatan reproduksi, psikologi, maupun pengelolaan keluarga," ujarnya.


Bimbingan perkawinan diharapkan dapat menjadi bekal bagi calon mempelai dalam membangun rumah tangga yang harmonis dan berkualitas, sehingga dapat meminimalisasi risiko permasalahan dalam kehidupan berumah tangga.(team)

Gelar Juara untuk MAN 2 Banyuwangi, Bukti Keunggulan Akademik dan Non-Akademik

BANYUWANGI, - Prestasi membanggakan kembali diraih oleh MAN 2 Banyuwangi di ajang Kejuaraan Provinsi Best of The Best Taekwondo Jawa Timur 2024. Para siswa-siswi madrasah ini berhasil menunjukkan kemampuan terbaik mereka, memborong berbagai gelar juara dan mengharumkan nama almamater.  



Kejuaraan bergengsi yang digeber di Gor Tawangalun Kabupaten Banyuwangi pada 19-22 Desember 2024 ini menjadi ajang pembuktian bahwa MAN 2 Banyuwangi tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga di bidang olahraga bela diri. Berikut adalah daftar siswa-siswi yang berhasil meraih gelar juara:  


1. Ahmad Primadana (Kelas XI-Agama) -  Juara 2  

2. Dita Maulia SovI (Kelas XI SAINTEK 2)  - Juara 2  

3. Adinda Nadia Indriani (Kelas XI SAINTEK 6) - Juara 2  

4. Indah Wahyu Aprilia (Kelas XI SAINTEK 3) - Juara 1  

5. Davi Vioni An Naafi (Kelas XI SOSHUM 4) –-Juara 2  

6. Andra Putra Ramadhan (Kelas XI SAINTEK 5) - Juara 1  

7. Ahmad Amiruddin (Kelas XII SKS) - Juara 1  

8. Moh. Reza Aditya (Kelas XII SKS) - Juara 1  

9. Moh. Milanello Andita (Kelas XII SKS) - Juara 2  

10. Abdul Azis (Kelas XI SOSHUM 1) - Juara 1  


Kepala MAN 2 Banyuwangi, Drs. H. Saeroji, M.Ag., menyampaikan rasa bangga dan apresiasinya kepada para siswa-siswinya yang telah mengukir prestasi luar biasa ini. Dalam wawancaranya, dia mengatakan, 


“Keberhasilan para siswa-siswi ini merupakan hasil dari kerja keras, latihan yang disiplin, serta dukungan dari para pelatih dan guru di MAN 2 Banyuwangi. Semoga prestasi ini dapat menjadi motivasi bagi siswa-siswi lainnya untuk terus berprestasi di bidang apapun.”  


Ditambahkan oleh Saeroji, bahwa MAN 2 Banyuwangi akan terus mendukung kegiatan ekstrakurikuler yang mampu mengembangkan potensi siswa, baik di bidang akademik maupun non-akademik.  


Prestasi ini juga tidak terlepas dari peran para pelatih juga guru olahraganya yang dengan sabar dan konsisten membimbing siswa-siswinya dalam latihan, baik teknik bela diri maupun mental bertanding.  


Dengan torehan prestasi ini, MAN 2 Banyuwangi kembali membuktikan bahwa generasi muda madrasah mampu bersaing dan menjadi yang terbaik di berbagai bidang. Harapannya, prestasi ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi madrasah, tetapi juga bagi Kabupaten Banyuwangi dan Provinsi Jawa Timur.  


Prestasi yang diraih oleh siswa-siswi MAN 2 Banyuwangi ini semoga dapat terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi seluruh pelajar Banyuwangi khususnya dan Indonesia pada umumnya. Selamat kepada para juara ! (red)

Workshop Teknik Penulisan Berita dan Jurnalistik Digital: Melahirkan Penulis Hebat di Era Digital

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Banyuwangi,  – Sebanyak 40 siswa dari berbagai organisasi Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Banyuwangi mengikuti workshop penulisan berita dan jurnalistik digital bertajuk “Membangun Siswa Menjadi Aktif dan Kreatif” yang berlangsung di Aula Ma’had Nurul Ilmi MTsN 1 Banyuwangi, Sabtu (21/12/2024). Acara yang digelar ini bertujuan membekali siswa dengan keterampilan menulis berita, artikel, hingga opini, serta memanfaatkan media digital secara efektif.



Kegiatan ini diikuti oleh para jurnalis madrasah, duta perpustakaan, anggota Palang Merah Remaja (PMR), dan pengurus Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM). Dalam sambutannya, Kepala MTsN 1 Banyuwangi, H. Munawar Efendi, S.Pd., M.Pd.I., menyampaikan pentingnya kegiatan semacam ini untuk meningkatkan kapasitas siswa dalam dunia jurnalistik.


“Kegiatan seperti ini adalah kesempatan langka. Tidak semua siswa mendapatkan pengalaman berharga seperti ini. Semoga kalian dapat memanfaatkannya dengan baik, bukan hanya untuk menulis berita, tetapi juga mengembangkan kemampuan menulis artikel atau opini,” tutur Munawar.


Ia menambahkan, kemampuan menulis adalah modal besar di era digital saat ini. “Dengan memanfaatkan media digital, karya kalian tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi tetapi juga memberikan manfaat bagi madrasah dan masyarakat luas,” imbuhnya.




Workshop ini menghadirkan narasumber Syafaat, S.H., M.H.I., ASN Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Ketua Lentera Sastra Banyuwangi yang dikenal sebagai penulis produktif dan telah melahirkan sejumlah buku, termasuk karya terbarunya yang berjudul “Catatan Kecil Perjalanan Petugas Haji”. Buku ini ia tulis berdasarkan pengalaman menjadi Ketua Kloter Haji tahun 2024. Menariknya, H. Munawar Efendi, yang membuka acara ini, juga turut menjadi peserta haji dalam tahun yang sama.


Dalam sesi materi, Syafaat menekankan pentingnya karya tulis sebagai identitas diri. “Orang dapat dikenal dan dikenang melalui karya tulisnya. Karya tulis adalah jejak sejarah yang abadi,” ujar Syafaat. Ia juga menjelaskan fungsi berita bagi madrasah, yaitu sebagai sarana informasi, dokumentasi, dan publikasi yang dapat mengangkat citra positif lembaga pendidikan.


Selain membagikan pengalamannya dalam dunia penulisan, Syafaat memberikan sejumlah trik menulis secara cepat namun tetap berkualitas. Ia menekankan pentingnya melakukan riset, menentukan angle yang menarik, dan menyusun kerangka tulisan sebelum mulai menulis.



Workshop yang berlangsung selama sehari ini disambut antusias oleh para peserta. Mereka terlihat aktif mengikuti setiap sesi, baik dalam teori maupun praktik penulisan. Salah satu peserta, Maura, mengungkapkan rasa senangnya bisa mengikuti kegiatan ini.


“Saya jadi tahu cara menulis berita yang menarik dan bagaimana memanfaatkan media digital untuk publikasi. Materinya sangat bermanfaat, apalagi disampaikan langsung oleh penulis hebat seperti Pak Syafaat,” ujarnya.


Sementara itu, Putri Novia Wulandari selaku panitia pelaksana berharap workshop ini menjadi langkah awal bagi siswa untuk lebih aktif dan kreatif dalam dunia jurnalistik.


“Narasumber yang kami hadirkan bukan hanya seorang penulis, tetapi juga seorang inspirator. Pak Syafaat telah menerbitkan banyak buku dan pernah meraih juara menulis artikel yang diadakan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Banyuwangi. Harapannya, siswa dapat mengikuti jejak beliau,” kata Putri.


Sebagai apresiasi, Syafaat membagikan buku “Catatan Kecil Perjalanan Petugas Haji” dan beberapa buku karyanya kepada para peserta yang berhasil menyelesaikan tugas praktik menulis selama workshop. Hal ini menjadi motivasi tambahan bagi peserta untuk terus berlatih menulis.



Selain membahas teknik penulisan, Syafaat juga mengajak para siswa untuk memanfaatkan media digital sebagai wadah kreatif. Ia menyarankan penggunaan blog, media sosial, hingga platform publikasi online lainnya untuk mempublikasikan karya mereka.


“Di era digital ini, peluang untuk berkarya sangat terbuka lebar. Manfaatkan teknologi untuk menunjukkan kemampuan kalian. Jangan takut untuk memulai,” pesannya.


Pada sesi tanya jawab yang penuh semangat. Peserta mengajukan berbagai pertanyaan, mulai dari cara menemukan ide tulisan hingga strategi menghadapi kebuntuan saat menulis.


Kegiatan seperti ini diharapkan dapat membekali siswa dengan keterampilan yang relevan di dunia modern. Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk menumbuhkan budaya literasi di kalangan siswa.


“Madrasah harus menjadi pusat kreativitas, dan salah satu langkahnya adalah melalui kegiatan jurnalistik seperti ini,” pungkas Syafaat.


Dengan workshop ini, peserta diharapkan mampu mengimplementasikan ilmu yang mereka dapatkan untuk mendukung aktivitas organisasi di madrasah maupun pengembangan diri secara pribadi. (Team)

Chaironi Hidayat: Inspirator Sastra Kementerian Agama

Banyuwangi - Dr. Chaironi Hidayat, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, menerima anugerah Inspirator Sastra Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi dari Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi. Penghargaan ini diberikan pada acara bedah buku Hebat Bersama Umat yang berlangsung meriah, sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan kontribusinya dalam menginspirasi dunia sastra, khususnya di lingkungan Kementerian Agama Banyuwangi.



Chaironi yang baru genap setahun menjabat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Banyuwangi telah menunjukkan peran besar dalam membangkitkan semangat literasi di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan siswa madrasah. Sosoknya yang lahir dari lingkungan pesantren memberikan nuansa religius dan mendalam dalam setiap karyanya.


Majalah sastra legendaris, Horison, yang sering dibacanya sejak muda menjadi salah satu sumber inspirasi. “Horison adalah petualangan jiwa yang memperkaya pikiran dan hati saya. Dari sana, saya belajar melihat dunia dan kehidupan melalui lensa yang berbeda," ungkap Chaironi saat memberikan sambutan.


Beberapa hari setelah resmi bertugas di Banyuwangi pada akhir 2023, Chaironi menuangkan kesan perdananya dalam sebuah puisi berjudul Di Sini Tempatku. Puisi ini mengisahkan perjalanan mutasinya dari Besuki ke Banyuwangi, melewati kemacetan lalu lintas dan tantangan baru yang menanti. Puisi tersebut dimuat dalam antologi bersama berjudul Ketika Kau, Dia, dan Aku Menjadi Kita, yang diterbitkan untuk memperingati Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-252 pada tahun 2023.


Puisi Di Sini Tempatku tidak hanya menjadi refleksi perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin. Melalui bait-baitnya, Chaironi menggambarkan proses adaptasi, perjuangan, dan harapan untuk terus berkontribusi bagi masyarakat Banyuwangi.


Karyanya yang lain, dua puisi berjudul Tuhan, Aku Malu dan Meng-IT-kan Hidup, menjadi sorotan utama pada acara bedah buku tersebut. Samsudin Adlawi, Ketua Majelis Kehormatan Dewan Kesenian Belambangan, mengupas kedua puisi ini dengan penuh antusias.


Puisi Meng-IT-kan Hidup menggunakan bahasa kekinian yang relevan dengan era digital. Melalui metafora cerdas, Chaironi mengaitkan kehidupan manusia dengan teknologi informasi, mengajak pembaca untuk merenungkan bagaimana teknologi seharusnya menjadi alat, bukan tujuan.


"Puisi ini memiliki nilai tersendiri karena mampu mengemas isu modern dengan bahasa yang ringan namun sarat makna," kata Samsudin. Ia juga memuji kemampuan Chaironi dalam merangkai kata yang khas dan bermakna.


Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi, Syafaat, turut mengapresiasi puisi ini. "Ada kalimat-kalimat khas dalam Meng-IT-kan Hidup yang memaksa pembaca untuk berhenti sejenak, merenungkan hakikat hidup di tengah derasnya arus digitalisasi. Ini karya yang sangat relevan untuk generasi sekarang," ujar Syafaat.



Chaironi tidak hanya dikenal sebagai birokrat yang tegas dan berdedikasi, tetapi juga sebagai figur yang peduli pada pengembangan sastra dan literasi. Melalui berbagai kegiatan di Kementerian Agama Banyuwangi, ia mendorong ASN dan siswa madrasah untuk mencintai literasi.


“Literasi adalah pintu menuju kebijaksanaan. Dengan membaca dan menulis, kita tidak hanya memahami dunia, tetapi juga diri kita sendiri,” ujar Chaironi dalam salah satu kesempatan.


Komitmennya tercermin dalam berbagai program yang digagasnya, termasuk pelatihan menulis untuk siswa madrasah dan ASN. Ia juga menginisiasi pembuatan ruang baca di kantor Kementerian Agama Banyuwangi, tempat ASN bisa membaca berbagai buku sastra, agama, dan pengetahuan umum.



Penghargaan Inspirator Sastra Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menjadi bukti nyata atas kontribusi Chaironi dalam dunia sastra di Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi menganggap bahwa sosoknya adalah inspirasi bagi banyak pihak, khususnya dalam memadukan nilai-nilai agama dengan kreativitas sastra.


“Chaironi adalah contoh bagaimana seorang pemimpin mampu menggerakkan perubahan tidak hanya melalui kebijakan, tetapi juga melalui karya dan inspirasi. Ia membawa semangat baru di Banyuwangi, khususnya di lingkungan Kementerian Agama,” ujar Syafaat.



Melalui puisi nya, Chaironi Hidayat tidak hanya menjadi pemimpin birokrasi, tetapi juga inspirasi sastra yang mampu menyentuh hati banyak orang. Dengan segala upaya yang telah ia lakukan, Banyuwangi patut berbangga memiliki sosok seperti Dr. Chaironi Hidayat.

Seni dan Budaya Banyuwangi, Kunci Perekat Kerukunan Lintas Agama

 BANYUWANGI,(Warta Blambangan) Rumah Kebangsaan Basecamp Karangrejo (RKBK) Banyuwangi menjadi destinasi penting dalam kunjungan 41 anggota Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) serta pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Mojokerto pada Jumat (13/12/2024). Kunjungan ini menjadi ajang berbagi pengalaman tentang harmoni keberagaman yang telah sukses terbangun di Banyuwangi, daerah yang dikenal sebagai miniatur Indonesia dengan keberagaman etnis, agama, dan budaya.  



Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) yang juga utusan FKUB Kabupaten Mojokerto, Drs. H. Mahfudz Said, M.Pd, sekaligus juga salah satu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Mojokerto, memimpin rombongan bersama Kepala Bakesbangpol Kabupaten Mojokerto, Drs. Nugraha Budhi Sulistya, M.Si.


Dalam kesempatan itu, Kepala Bakesbangpol Mojokerto menyampaikan apresiasinya yang tinggi atas penyambutan hangat dari Rumah Kebangsaan. Dalam sambutannya, dia menyatakan, kunjungan ini bukan sekadar studi, tetapi sebuah langkah konkrit untuk membangun kolaborasi yang lebih erat antara dua kabupaten dalam upaya memperkuat kerukunan dan moderasi beragama. "Kami melihat bagaimana inovasi Banyuwangi dalam membangun harmoni sosial dapat menjadi inspirasi yang berharga untuk diterapkan di Mojokerto," ujar Nugraha.


Sedangkan Mahfudz Said dalam sambutannya, mengapresiasi keberhasilan Banyuwangi menjaga keharmonisan dalam keberagaman. “Banyuwangi adalah bukti nyata bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan penghalang. Kehidupan harmonis di sini memberikan pelajaran berharga bagi kami,” ujar Mahfudz.  



Acara ini dipandu oleh Hakim Said, Ketua RKBK Banyuwangi. Selain rombongan Bakesbangpol dan FKUB Mojokerto, kegiatan juga dihadiri berbagai elemen masyarakat lintas agama dan budayawan, termasuk Aekanu Haryono, Ki Pramoe Sakti, Pdt. Herman, dosen UBI Dr. Setyo Utomo, Ketua Kelompok Kerja Bina Sehat (KKBS) Moch. Hairon, serta Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, H. Syafaat.  


Dalam sesi dialog, H. Syafaat berbagi pengalaman bersama Wakil Ketua FKUB Mojokerto, H. Nur Rokhmad, terkait membangun komunikasi lintas budaya dan agama, baik di tanah air maupun saat bertugas sebagai pembimbing ibadah haji.  


Hakim Said menjelaskan bahwa RKBK didesain sebagai ruang dialog dan kajian bersama untuk menyelesaikan masalah sosial dengan prinsip “3KO: Komunikasi, Koordinasi, Kolaborasi.” 


“Dengan pendekatan santai sambil menikmati kopi, kami percaya semua persoalan bisa diselesaikan lewat dialog,” ungkap Hakim, yang juga alumni PKPA angkatan ke-2 tahun 2006 di Universitas Jember.  


Kelurahan Karangrejo, tempat RKBK berada, merupakan simbol harmoni keberagaman, dihuni oleh berbagai etnis dan agama. Lokasi ini juga menjadi tempat berdirinya kelenteng Hoo Tong Bio, salah satu kelenteng terbesar di Indonesia. Inspirasi harmoni juga terlihat di daerah lain, seperti Kampung Pancasila di Desa Patemon, yang menjadi contoh moderasi beragama, dan Desa Yosomulyo dengan slogan “Desaku Beda Tapi Mesra.”  


Aekanu Hariyono dari Dewan Kesenian Blambangan menegaskan peran seni dan budaya dalam memperkuat harmoni. “Seni adalah perekat sosial yang menyatukan semua elemen masyarakat,” katanya. Sementara itu, Moch. Hairon menambahkan bahwa komunitas seni sering terlibat dalam kegiatan lintas agama untuk mempromosikan dialog dan persatuan.  


RKBK, yang diresmikan beberapa tahun lalu, kini menjadi pusat kegiatan moderasi beragama di Banyuwangi. “Kunjungan ini memberikan banyak pelajaran. Semoga semangat kebersamaan di Banyuwangi dapat menginspirasi daerah lain di Indonesia,” tutup Mahfudz Said.  



Santri Ma'had Nurul Ilmi MTsN 1 Banyuwangi Hadiri Sarasehan Film dan Pameran Seni Rupa

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Santri Ma'had Nurul Ilmi MTsN 1 Banyuwangi menghadiri sarasehan film dalam rangkaian Festival Seni Rupa Hari Jadi Banyuwangi ke-253 yang digelar di Gedung Juang 45, Jumat (06/12/2024) Kegiatan ini didampingi oleh Nuhbatul Fakhiroh sebagai pembimbing.



Kehadiran para santri bertujuan untuk memperdalam wawasan tentang perfilman lokal serta memahami karya seni rupa yang dipamerkan. Dalam kesempatan ini, pengurus Dewan Kesenian Belambangan (DKB), yakni Syafaat dan Slamet Hariyanto, turut mendampingi para santri. Mereka memberikan penjelasan mendalam tentang lukisan-lukisan yang dipamerkan dalam acara tersebut.


"Tema pameran tahun ini adalah Banyu Kening, yang menggambarkan filosofi kehidupan dan kedalaman makna dari sumber kehidupan manusia," ujar Slamet Hariyanto.


Melalui kegiatan ini, para santri diharapkan dapat terinspirasi untuk terus berkarya dan menghargai seni lokal. Tidak hanya mendapatkan wawasan tentang perfilman di Banyuwangi, mereka juga memetik semangat dari karya seni yang dipamerkan sebagai pemantik kreativitas.


Festival seni rupa ini merupakan bagian dari perayaan Hari Jadi Banyuwangi ke-253, yang diisi dengan berbagai kegiatan budaya, seni hingga shalawat untuk mengangkat kekayaan lokal dan mempererat semangat kebersamaan.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger