Pages

Workshop Teknik Penulisan Berita dan Jurnalistik Digital: Melahirkan Penulis Hebat di Era Digital

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Banyuwangi,  – Sebanyak 40 siswa dari berbagai organisasi Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Banyuwangi mengikuti workshop penulisan berita dan jurnalistik digital bertajuk “Membangun Siswa Menjadi Aktif dan Kreatif” yang berlangsung di Aula Ma’had Nurul Ilmi MTsN 1 Banyuwangi, Sabtu (21/12/2024). Acara yang digelar ini bertujuan membekali siswa dengan keterampilan menulis berita, artikel, hingga opini, serta memanfaatkan media digital secara efektif.



Kegiatan ini diikuti oleh para jurnalis madrasah, duta perpustakaan, anggota Palang Merah Remaja (PMR), dan pengurus Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM). Dalam sambutannya, Kepala MTsN 1 Banyuwangi, H. Munawar Efendi, S.Pd., M.Pd.I., menyampaikan pentingnya kegiatan semacam ini untuk meningkatkan kapasitas siswa dalam dunia jurnalistik.


“Kegiatan seperti ini adalah kesempatan langka. Tidak semua siswa mendapatkan pengalaman berharga seperti ini. Semoga kalian dapat memanfaatkannya dengan baik, bukan hanya untuk menulis berita, tetapi juga mengembangkan kemampuan menulis artikel atau opini,” tutur Munawar.


Ia menambahkan, kemampuan menulis adalah modal besar di era digital saat ini. “Dengan memanfaatkan media digital, karya kalian tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi tetapi juga memberikan manfaat bagi madrasah dan masyarakat luas,” imbuhnya.




Workshop ini menghadirkan narasumber Syafaat, S.H., M.H.I., ASN Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Ketua Lentera Sastra Banyuwangi yang dikenal sebagai penulis produktif dan telah melahirkan sejumlah buku, termasuk karya terbarunya yang berjudul “Catatan Kecil Perjalanan Petugas Haji”. Buku ini ia tulis berdasarkan pengalaman menjadi Ketua Kloter Haji tahun 2024. Menariknya, H. Munawar Efendi, yang membuka acara ini, juga turut menjadi peserta haji dalam tahun yang sama.


Dalam sesi materi, Syafaat menekankan pentingnya karya tulis sebagai identitas diri. “Orang dapat dikenal dan dikenang melalui karya tulisnya. Karya tulis adalah jejak sejarah yang abadi,” ujar Syafaat. Ia juga menjelaskan fungsi berita bagi madrasah, yaitu sebagai sarana informasi, dokumentasi, dan publikasi yang dapat mengangkat citra positif lembaga pendidikan.


Selain membagikan pengalamannya dalam dunia penulisan, Syafaat memberikan sejumlah trik menulis secara cepat namun tetap berkualitas. Ia menekankan pentingnya melakukan riset, menentukan angle yang menarik, dan menyusun kerangka tulisan sebelum mulai menulis.



Workshop yang berlangsung selama sehari ini disambut antusias oleh para peserta. Mereka terlihat aktif mengikuti setiap sesi, baik dalam teori maupun praktik penulisan. Salah satu peserta, Maura, mengungkapkan rasa senangnya bisa mengikuti kegiatan ini.


“Saya jadi tahu cara menulis berita yang menarik dan bagaimana memanfaatkan media digital untuk publikasi. Materinya sangat bermanfaat, apalagi disampaikan langsung oleh penulis hebat seperti Pak Syafaat,” ujarnya.


Sementara itu, Putri Novia Wulandari selaku panitia pelaksana berharap workshop ini menjadi langkah awal bagi siswa untuk lebih aktif dan kreatif dalam dunia jurnalistik.


“Narasumber yang kami hadirkan bukan hanya seorang penulis, tetapi juga seorang inspirator. Pak Syafaat telah menerbitkan banyak buku dan pernah meraih juara menulis artikel yang diadakan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Banyuwangi. Harapannya, siswa dapat mengikuti jejak beliau,” kata Putri.


Sebagai apresiasi, Syafaat membagikan buku “Catatan Kecil Perjalanan Petugas Haji” dan beberapa buku karyanya kepada para peserta yang berhasil menyelesaikan tugas praktik menulis selama workshop. Hal ini menjadi motivasi tambahan bagi peserta untuk terus berlatih menulis.



Selain membahas teknik penulisan, Syafaat juga mengajak para siswa untuk memanfaatkan media digital sebagai wadah kreatif. Ia menyarankan penggunaan blog, media sosial, hingga platform publikasi online lainnya untuk mempublikasikan karya mereka.


“Di era digital ini, peluang untuk berkarya sangat terbuka lebar. Manfaatkan teknologi untuk menunjukkan kemampuan kalian. Jangan takut untuk memulai,” pesannya.


Pada sesi tanya jawab yang penuh semangat. Peserta mengajukan berbagai pertanyaan, mulai dari cara menemukan ide tulisan hingga strategi menghadapi kebuntuan saat menulis.


Kegiatan seperti ini diharapkan dapat membekali siswa dengan keterampilan yang relevan di dunia modern. Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk menumbuhkan budaya literasi di kalangan siswa.


“Madrasah harus menjadi pusat kreativitas, dan salah satu langkahnya adalah melalui kegiatan jurnalistik seperti ini,” pungkas Syafaat.


Dengan workshop ini, peserta diharapkan mampu mengimplementasikan ilmu yang mereka dapatkan untuk mendukung aktivitas organisasi di madrasah maupun pengembangan diri secara pribadi. (Team)

Chaironi Hidayat: Inspirator Sastra Kementerian Agama

Banyuwangi - Dr. Chaironi Hidayat, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, menerima anugerah Inspirator Sastra Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi dari Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi. Penghargaan ini diberikan pada acara bedah buku Hebat Bersama Umat yang berlangsung meriah, sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan kontribusinya dalam menginspirasi dunia sastra, khususnya di lingkungan Kementerian Agama Banyuwangi.



Chaironi yang baru genap setahun menjabat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama Banyuwangi telah menunjukkan peran besar dalam membangkitkan semangat literasi di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan siswa madrasah. Sosoknya yang lahir dari lingkungan pesantren memberikan nuansa religius dan mendalam dalam setiap karyanya.


Majalah sastra legendaris, Horison, yang sering dibacanya sejak muda menjadi salah satu sumber inspirasi. “Horison adalah petualangan jiwa yang memperkaya pikiran dan hati saya. Dari sana, saya belajar melihat dunia dan kehidupan melalui lensa yang berbeda," ungkap Chaironi saat memberikan sambutan.


Beberapa hari setelah resmi bertugas di Banyuwangi pada akhir 2023, Chaironi menuangkan kesan perdananya dalam sebuah puisi berjudul Di Sini Tempatku. Puisi ini mengisahkan perjalanan mutasinya dari Besuki ke Banyuwangi, melewati kemacetan lalu lintas dan tantangan baru yang menanti. Puisi tersebut dimuat dalam antologi bersama berjudul Ketika Kau, Dia, dan Aku Menjadi Kita, yang diterbitkan untuk memperingati Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-252 pada tahun 2023.


Puisi Di Sini Tempatku tidak hanya menjadi refleksi perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin. Melalui bait-baitnya, Chaironi menggambarkan proses adaptasi, perjuangan, dan harapan untuk terus berkontribusi bagi masyarakat Banyuwangi.


Karyanya yang lain, dua puisi berjudul Tuhan, Aku Malu dan Meng-IT-kan Hidup, menjadi sorotan utama pada acara bedah buku tersebut. Samsudin Adlawi, Ketua Majelis Kehormatan Dewan Kesenian Belambangan, mengupas kedua puisi ini dengan penuh antusias.


Puisi Meng-IT-kan Hidup menggunakan bahasa kekinian yang relevan dengan era digital. Melalui metafora cerdas, Chaironi mengaitkan kehidupan manusia dengan teknologi informasi, mengajak pembaca untuk merenungkan bagaimana teknologi seharusnya menjadi alat, bukan tujuan.


"Puisi ini memiliki nilai tersendiri karena mampu mengemas isu modern dengan bahasa yang ringan namun sarat makna," kata Samsudin. Ia juga memuji kemampuan Chaironi dalam merangkai kata yang khas dan bermakna.


Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi, Syafaat, turut mengapresiasi puisi ini. "Ada kalimat-kalimat khas dalam Meng-IT-kan Hidup yang memaksa pembaca untuk berhenti sejenak, merenungkan hakikat hidup di tengah derasnya arus digitalisasi. Ini karya yang sangat relevan untuk generasi sekarang," ujar Syafaat.



Chaironi tidak hanya dikenal sebagai birokrat yang tegas dan berdedikasi, tetapi juga sebagai figur yang peduli pada pengembangan sastra dan literasi. Melalui berbagai kegiatan di Kementerian Agama Banyuwangi, ia mendorong ASN dan siswa madrasah untuk mencintai literasi.


“Literasi adalah pintu menuju kebijaksanaan. Dengan membaca dan menulis, kita tidak hanya memahami dunia, tetapi juga diri kita sendiri,” ujar Chaironi dalam salah satu kesempatan.


Komitmennya tercermin dalam berbagai program yang digagasnya, termasuk pelatihan menulis untuk siswa madrasah dan ASN. Ia juga menginisiasi pembuatan ruang baca di kantor Kementerian Agama Banyuwangi, tempat ASN bisa membaca berbagai buku sastra, agama, dan pengetahuan umum.



Penghargaan Inspirator Sastra Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi menjadi bukti nyata atas kontribusi Chaironi dalam dunia sastra di Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi menganggap bahwa sosoknya adalah inspirasi bagi banyak pihak, khususnya dalam memadukan nilai-nilai agama dengan kreativitas sastra.


“Chaironi adalah contoh bagaimana seorang pemimpin mampu menggerakkan perubahan tidak hanya melalui kebijakan, tetapi juga melalui karya dan inspirasi. Ia membawa semangat baru di Banyuwangi, khususnya di lingkungan Kementerian Agama,” ujar Syafaat.



Melalui puisi nya, Chaironi Hidayat tidak hanya menjadi pemimpin birokrasi, tetapi juga inspirasi sastra yang mampu menyentuh hati banyak orang. Dengan segala upaya yang telah ia lakukan, Banyuwangi patut berbangga memiliki sosok seperti Dr. Chaironi Hidayat.

Seni dan Budaya Banyuwangi, Kunci Perekat Kerukunan Lintas Agama

 BANYUWANGI,(Warta Blambangan) Rumah Kebangsaan Basecamp Karangrejo (RKBK) Banyuwangi menjadi destinasi penting dalam kunjungan 41 anggota Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) serta pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Mojokerto pada Jumat (13/12/2024). Kunjungan ini menjadi ajang berbagi pengalaman tentang harmoni keberagaman yang telah sukses terbangun di Banyuwangi, daerah yang dikenal sebagai miniatur Indonesia dengan keberagaman etnis, agama, dan budaya.  



Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) yang juga utusan FKUB Kabupaten Mojokerto, Drs. H. Mahfudz Said, M.Pd, sekaligus juga salah satu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Mojokerto, memimpin rombongan bersama Kepala Bakesbangpol Kabupaten Mojokerto, Drs. Nugraha Budhi Sulistya, M.Si.


Dalam kesempatan itu, Kepala Bakesbangpol Mojokerto menyampaikan apresiasinya yang tinggi atas penyambutan hangat dari Rumah Kebangsaan. Dalam sambutannya, dia menyatakan, kunjungan ini bukan sekadar studi, tetapi sebuah langkah konkrit untuk membangun kolaborasi yang lebih erat antara dua kabupaten dalam upaya memperkuat kerukunan dan moderasi beragama. "Kami melihat bagaimana inovasi Banyuwangi dalam membangun harmoni sosial dapat menjadi inspirasi yang berharga untuk diterapkan di Mojokerto," ujar Nugraha.


Sedangkan Mahfudz Said dalam sambutannya, mengapresiasi keberhasilan Banyuwangi menjaga keharmonisan dalam keberagaman. “Banyuwangi adalah bukti nyata bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan penghalang. Kehidupan harmonis di sini memberikan pelajaran berharga bagi kami,” ujar Mahfudz.  



Acara ini dipandu oleh Hakim Said, Ketua RKBK Banyuwangi. Selain rombongan Bakesbangpol dan FKUB Mojokerto, kegiatan juga dihadiri berbagai elemen masyarakat lintas agama dan budayawan, termasuk Aekanu Haryono, Ki Pramoe Sakti, Pdt. Herman, dosen UBI Dr. Setyo Utomo, Ketua Kelompok Kerja Bina Sehat (KKBS) Moch. Hairon, serta Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, H. Syafaat.  


Dalam sesi dialog, H. Syafaat berbagi pengalaman bersama Wakil Ketua FKUB Mojokerto, H. Nur Rokhmad, terkait membangun komunikasi lintas budaya dan agama, baik di tanah air maupun saat bertugas sebagai pembimbing ibadah haji.  


Hakim Said menjelaskan bahwa RKBK didesain sebagai ruang dialog dan kajian bersama untuk menyelesaikan masalah sosial dengan prinsip “3KO: Komunikasi, Koordinasi, Kolaborasi.” 


“Dengan pendekatan santai sambil menikmati kopi, kami percaya semua persoalan bisa diselesaikan lewat dialog,” ungkap Hakim, yang juga alumni PKPA angkatan ke-2 tahun 2006 di Universitas Jember.  


Kelurahan Karangrejo, tempat RKBK berada, merupakan simbol harmoni keberagaman, dihuni oleh berbagai etnis dan agama. Lokasi ini juga menjadi tempat berdirinya kelenteng Hoo Tong Bio, salah satu kelenteng terbesar di Indonesia. Inspirasi harmoni juga terlihat di daerah lain, seperti Kampung Pancasila di Desa Patemon, yang menjadi contoh moderasi beragama, dan Desa Yosomulyo dengan slogan “Desaku Beda Tapi Mesra.”  


Aekanu Hariyono dari Dewan Kesenian Blambangan menegaskan peran seni dan budaya dalam memperkuat harmoni. “Seni adalah perekat sosial yang menyatukan semua elemen masyarakat,” katanya. Sementara itu, Moch. Hairon menambahkan bahwa komunitas seni sering terlibat dalam kegiatan lintas agama untuk mempromosikan dialog dan persatuan.  


RKBK, yang diresmikan beberapa tahun lalu, kini menjadi pusat kegiatan moderasi beragama di Banyuwangi. “Kunjungan ini memberikan banyak pelajaran. Semoga semangat kebersamaan di Banyuwangi dapat menginspirasi daerah lain di Indonesia,” tutup Mahfudz Said.  



Santri Ma'had Nurul Ilmi MTsN 1 Banyuwangi Hadiri Sarasehan Film dan Pameran Seni Rupa

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Santri Ma'had Nurul Ilmi MTsN 1 Banyuwangi menghadiri sarasehan film dalam rangkaian Festival Seni Rupa Hari Jadi Banyuwangi ke-253 yang digelar di Gedung Juang 45, Jumat (06/12/2024) Kegiatan ini didampingi oleh Nuhbatul Fakhiroh sebagai pembimbing.



Kehadiran para santri bertujuan untuk memperdalam wawasan tentang perfilman lokal serta memahami karya seni rupa yang dipamerkan. Dalam kesempatan ini, pengurus Dewan Kesenian Belambangan (DKB), yakni Syafaat dan Slamet Hariyanto, turut mendampingi para santri. Mereka memberikan penjelasan mendalam tentang lukisan-lukisan yang dipamerkan dalam acara tersebut.


"Tema pameran tahun ini adalah Banyu Kening, yang menggambarkan filosofi kehidupan dan kedalaman makna dari sumber kehidupan manusia," ujar Slamet Hariyanto.


Melalui kegiatan ini, para santri diharapkan dapat terinspirasi untuk terus berkarya dan menghargai seni lokal. Tidak hanya mendapatkan wawasan tentang perfilman di Banyuwangi, mereka juga memetik semangat dari karya seni yang dipamerkan sebagai pemantik kreativitas.


Festival seni rupa ini merupakan bagian dari perayaan Hari Jadi Banyuwangi ke-253, yang diisi dengan berbagai kegiatan budaya, seni hingga shalawat untuk mengangkat kekayaan lokal dan mempererat semangat kebersamaan.

Perupa Bershalawat di Hari Keenam Pameran Seni Rupa “Banyu Kening”

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Pameran seni rupa yang bertajuk Banyu Kening di Gedung Juang, dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Banyuwangi ke-253, memasuki hari keenam dengan suguhan istimewa. Malam ini, pengunjung disuguhi alunan syahdu shalawat dari grup New Shalawat Club Banyuwangi, sebuah kolaborasi unik yang mempertemukan seni rupa dengan tradisi shalawat, pertama kalinya dalam sejarah pameran seni di Banyuwangi.



Ketua Dewan Kesenian Belambangan (DKB), Hasan Basri, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan terobosan baru dalam dunia seni rupa di Banyuwangi. “Ini adalah pertama kalinya pameran seni rupa dikombinasikan dengan kegiatan bershalawat. Kami ingin menampilkan seni tidak hanya dalam bentuk visual, tetapi juga dalam bentuk spiritual yang dapat menyentuh hati setiap pengunjung,” ujarnya.


Pameran seni rupa yang berlangsung sejak 30 November hingga 7 Desember 2024 ini menghadirkan beragam kegiatan dari seluruh komite yang ada di DKB. Selama sepekan, pengunjung dapat mengikuti berbagai acara seperti kursus sehari melukis dan membuat patung, pentas teater, seminar seni rupa, pemutaran film, hingga pembacaan puisi.


“Kami ingin pameran ini menjadi wadah yang inklusif, di mana semua jenis seni dapat berinteraksi dan saling mendukung. Seni rupa tidak berdiri sendiri, tetapi berhubungan erat dengan seni-seni lain seperti teater, sastra, dan musik,” tambah Hasan Basri.


Syafaat, salah satu pengurus dari Komite Bahasa dan Sastra DKB yang juga Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi menekankan pentingnya kegiatan bershalawat dalam konteks budaya Banyuwangi. “Banyuwangi adalah tempat lahirnya Shalawat Badar, sebuah shalawat yang sangat dikenal di seluruh Indonesia. Membumikan shalawat badar di tanah kelahirannya merupakan sebuah keniscayaan, dan pameran ini menjadi salah satu cara kami untuk melakukannya,” ungkapnya.


Pada malam ini, seluruh pengurus DKB bersama-sama melantunkan Shalawat Badar di tengah-tengah pameran, menciptakan suasana yang khusyuk dan penuh spiritualitas. Pengunjung pun diajak untuk ikut bershalawat, menjadikan malam ini tidak hanya sebagai pengalaman visual, tetapi juga pengalaman batin yang mendalam.


Tema Banyu Kening yang diangkat dalam pameran ini memiliki filosofi mendalam. “Air adalah sumber kehidupan. Semua makhluk hidup membutuhkan air untuk bertahan hidup. Dalam filosofi Jawa, air juga sering dikaitkan dengan kebersihan dan kesucian,” ujar Syafaat.


Ia juga mengaitkan tema ini dengan ajaran Islam, khususnya doa yang biasa dipanjatkan ketika meminum air zamzam. “Ada tiga doa yang kita panjatkan ketika minum air zamzam: meminta ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas, dan kesembuhan dari penyakit. Air mengajarkan kita untuk senantiasa bersyukur dan berdoa kepada Allah,” jelasnya.


Dengan mengusung tema ini, pameran Banyu Kening tidak hanya menampilkan karya seni yang indah, tetapi juga menyampaikan pesan spiritual dan filosofis yang mendalam. “Semoga melalui shalawat, kita selalu ingat pada ajaran Nabi Muhammad SAW, dan semoga suatu hari kita dapat berziarah ke makam beliau,” harap Hasan Basri.


Kegiatan malam ini mendapatkan respons positif dari pengunjung. Banyak di antara mereka yang terkesan dengan perpaduan seni rupa dan shalawat yang disuguhkan. “Saya tidak menyangka pameran seni rupa bisa seindah dan sesyahdu ini. Biasanya, pameran hanya menampilkan lukisan atau patung, tetapi di sini ada nuansa spiritual yang membuat saya merasa lebih dekat dengan Tuhan,” ujar Siti Muslikah, salah satu pengunjung yang hadir bersama keluarganya.


Sementara itu, Rini Dyah Diningrum, seorang pelukis lokal yang juga ikut serta dalam pameran ini, mengungkapkan rasa syukurnya bisa berpartisipasi dalam kegiatan yang penuh makna ini. “Ini adalah pengalaman yang luar biasa. Seni rupa adalah ekspresi jiwa, dan malam ini jiwa kami terhubung dengan spiritualitas melalui shalawat,” katanya.


Hasan Basri berharap kolaborasi seni dan spiritualitas seperti ini dapat terus dikembangkan di masa depan. “Banyuwangi adalah daerah yang kaya akan budaya dan tradisi. Kami ingin terus mengangkat kekayaan ini melalui berbagai kegiatan seni yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan nilai-nilai spiritual dan filosofis kepada masyarakat,” tuturnya.

Lebih lanjut disampaikan bahwa tahun depan insyaallah pameran seni rupa juga memamerkan karya kaligrafi Arab.


Pameran seni rupa Banyu Kening masih akan berlangsung hingga 7 Desember 2024, dengan berbagai kegiatan menarik yang bisa dinikmati oleh pengunjung. “Kami mengundang seluruh masyarakat Banyuwangi untuk datang dan menikmati pameran ini. Mari kita rayakan Hari Jadi Banyuwangi dengan cara yang berbeda, dengan seni, budaya, dan spiritualitas,” ajak Hasan Basri.


Dengan semangat memperingati Hari Jadi Banyuwangi ke-253, pameran seni rupa Banyu Kening menjadi bukti bahwa seni tidak hanya indah untuk dilihat, tetapi juga memiliki kekuatan untuk menyatukan dan memperkuat nilai-nilai budaya dan spiritual masyarakat.


Lentera Sastra Jalin Kerja Sama dengan Kelompok Masyarakat Berkah: Bedah Buku "Hebat Bersama Umat" di Mila Cafe

Banyuwangi, (Warta Blambangan) Lentera Sastra, sebuah komunitas sastra yang berkomitmen untuk memperkuat literasi dan kebudayaan di Banyuwangi, kembali menunjukkan dedikasinya dalam mempererat harmoni sosial di ujung timur Pulau Jawa. Bertempat di Mila Cafe, Lentera Sastra menjalin kerja sama strategis dengan Kelompok Masyarakat Berkah, yang bertujuan untuk mempromosikan nilai-nilai moderasi beragama dan kerukunan sosial melalui literasi.



Puncak dari kolaborasi ini adalah acara bedah buku antologi puisi "Hebat Bersama Umat", yang akan diadakan dalam waktu dekat. Buku ini merupakan kumpulan puisi yang menggambarkan keragaman etnis, budaya, dan agama di Banyuwangi, serta bagaimana harmoni dan toleransi menjadi kunci kehidupan masyarakatnya. Acara ini juga melibatkan narasumber terkemuka dari berbagai institusi, termasuk Dewan Kesenian Belambangan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banyuwangi, serta Universitas KH Mukhtar Syafaat, Blok Agung.


Dalam pertemuan yang berlangsung di Mila Cafe pada Rabu pagi, Ketua Panitia Bedah Buku Lentera Sastra, Uswatun Hasanah, menyampaikan bahwa kerja sama dengan Kelompok Masyarakat Berkah merupakan langkah penting dalam memperkuat literasi di Banyuwangi.


“Melalui bedah buku ini, yang akan dihelat bukan ini kami ingin menunjukkan bahwa sastra dapat menjadi sarana yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan toleransi dan moderasi beragama. Banyuwangi sebagai daerah yang dihuni oleh berbagai etnis dan agama, membutuhkan ruang dialog yang terbuka dan konstruktif, dan sastra adalah salah satu jalannya,” ujar Uswatun Hasanah.


Perwakilan Kelompok Masyarakat Berkah, Bajuri, turut menyampaikan antusiasmenya terhadap kolaborasi ini. Menurutnya, moderasi beragama bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga komunitas-komunitas masyarakat yang peduli terhadap keberagaman.


“Kami percaya bahwa kolaborasi ini akan memberikan dampak positif bagi masyarakat Banyuwangi, khususnya dalam membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya kerukunan. Buku Hebat Bersama Umat menjadi medium yang tepat untuk memperkenalkan nilai-nilai tersebut,” kata Bajuri.


Banyuwangi, yang terletak di ujung timur Pulau Jawa, dikenal sebagai miniatur Indonesia karena keragaman etnis, budaya, dan agamanya. Kabupaten ini menjadi rumah bagi komunitas Osing sebagai penduduk asli, serta suku Jawa, Madura, Bali, Arab, Mandar dan Tionghoa yang hidup berdampingan. Keberagaman ini tercermin dalam beragam seni dan budaya yang tumbuh subur, mulai dari tari Gandrung, ritual Seblang, hingga seni barong yang merupakan warisan budaya yang kaya.


Namun, keberagaman tersebut juga menghadirkan tantangan tersendiri dalam menjaga harmoni sosial. Oleh karena itu, Lentera Sastra dan Kelompok Masyarakat Berkah melihat perlunya upaya yang terus-menerus untuk membangun dialog lintas budaya dan agama.


Antologi puisi "Hebat Bersama Umat" yang akan dibedah dalam acara tersebut, merupakan karya kolektif dari para penyair lokal Banyuwangi. Buku ini menampilkan puisi-puisi yang merefleksikan kehidupan sehari-hari masyarakat dalam menghadapi tantangan keberagaman.


Beberapa puisi dalam antologi ini, adalah karya penyair yang pernah meraih predikat Sastratama, puisi dalam antologi ini menggambarkan bagaimana masyarakat Banyuwangi mampu hidup rukun meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda.


Acara bedah buku ini diharapkan menjadi katalisator untuk memperkuat literasi di Banyuwangi, sekaligus memperkuat nilai-nilai kerukunan yang sudah lama menjadi fondasi kehidupan masyarakatnya. Dalam sesi diskusi yang direncanakan, peserta akan diajak untuk berdialog dan berbagi pengalaman tentang bagaimana keberagaman dapat menjadi kekuatan, bukan sumber konflik.


Selain itu, Lentera Sastra dan Kelompok Masyarakat Berkah juga berencana untuk mendistribusikan buku Hebat Bersama Umat ke sekolah-sekolah dan komunitas-komunitas literasi di Banyuwangi.


“Kami ingin buku ini tidak hanya dibaca, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus menjaga dan memperkuat kerukunan di tengah keberagaman,” ujar Bajuri.


Pertemuan antara Lentera Sastra dan Kelompok Masyarakat Berkah di Mila Cafe bukan hanya sekadar acara formal, tetapi juga menjadi simbol kolaborasi lintas komunitas yang peduli terhadap masa depan Banyuwangi. Melalui bedah buku "Hebat Bersama Umat", kedua komunitas ini berupaya menguatkan harmoni sosial dan membangun Banyuwangi sebagai daerah yang tidak hanya kaya akan budaya, tetapi juga kaya akan nilai-nilai kemanusiaan.


Dengan langkah ini, diharapkan Banyuwangi dapat terus menjadi contoh daerah yang mampu menjaga harmoni dalam keberagaman, dan sastra menjadi jembatan yang mempererat ikatan sosial di tengah masyarakat yang heterogen.


Akustik Puisi dan Lagu Meriahkan Pameran Lukisan Harjaba ke-253 Bertema Banyu Kening

Banyuwangi, (Warta Blambangan)  Malam kelima pameran seni rupa dalam rangka Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-253 yang bertema Banyu Kening berlangsung meriah di Gedung Juang 45 Banyuwangi, Rabu (4/12/24). Acara ini dimeriahkan oleh penampilan akustik puisi dan lagu yang memukau para pengunjung.


Salah satu momen yang paling dinanti adalah penampilan Elvin Hendratha, mantan vice president Bank Mandiri yang sekarang aktif dalam aktivitas seni dan pengurus DKB. Di tengah kesibukannya, Elvin turut berkontribusi menyemarakkan acara dengan menyanyikan beberapa lagu khas Banyuwangi. Suara merdu dan alunan musik akustik dari Ribut Kalembuan dan Wowok Meirianto menghidupkan suasana malam itu. Lagu-lagu seperti Kelangan yang dibawakan dengan penuh penghayatan berhasil memikat hati para hadirin.



"Acara ini tidak hanya menunjukkan kreativitas seniman Banyuwangi, tetapi juga mempererat ikatan budaya lokal yang harus kita jaga bersama," ujar Elvin Hendratha saat ditemui setelah penampilannya.


Tidak hanya hiburan musik, malam tersebut juga menjadi panggung bagi Lentera Sastra Banyuwangi. Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, dengan penuh semangat, membacakan beberapa puisi bertemakan Banyu Kening. Puisi-puisi tersebut menggambarkan filosofi air sebagai sumber kehidupan yang selaras dengan tema pameran.


Salah satu puisi yang dibacakan berjudul Banyu Kening, yang menggambarkan perjalanan air dari hulu hingga hilir sebagai simbol kebersamaan dan harmoni alam Banyuwangi. Puisi tersebut mendapat sambutan meriah dari para penonton yang hadir.


“Kami ingin menyampaikan pesan bahwa seni, baik dalam bentuk lukisan, puisi, maupun musik, adalah medium yang efektif untuk memperkuat identitas dan kearifan lokal Banyuwangi. Banyu Kening tidak hanya tentang air secara harfiah, tetapi juga tentang keseimbangan dan kehidupan,” ujar Ketua Lentera Sastra Banyuwangi di sela-sela acara.


Sebagai bentuk dukungan terhadap kesenian lokal, Komite Bahasa dan Sastra Dewan Kesenian Belambangan turut hadir memberikan apresiasi. Muttafaqurrohmah, salah satu perwakilan komite Bahasa dan Sastra, menyampaikan penghargaan kepada para pengisi acara yang telah berkontribusi dalam menyukseskan pameran seni rupa ini.


“Seni rupa, musik, dan sastra adalah bagian tak terpisahkan dari kebudayaan kita. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat melihat betapa kayanya budaya Banyuwangi yang harus kita jaga dan kembangkan bersama,” ujar Muttafaqurrohmah. 

Ia juga berharap kolaborasi antara seniman, penyair, dan musisi lokal dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan di masa mendatang.


Muttafaqurrohmah, bersama beberapa pengurus DKB lainnya seperti Slamet Hariyanto (Momo) juga Sugiono menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam melestarikan budaya lokal. Menurutnya, keterlibatan kaum muda dalam acara seperti ini menjadi indikator positif bahwa seni dan budaya Banyuwangi masih relevan dan diminati.


Pameran seni rupa yang berlangsung sejak 30 November hingga 7 Desember 2024 ini menampilkan karya-karya dari berbagai seniman lokal Banyuwangi: serta beberapa kegiatan seminar hingga bershalawat. 

Mengusung tema Banyu Kening, pameran ini menyuguhkan beragam interpretasi visual tentang air sebagai elemen penting dalam kehidupan masyarakat Banyuwangi.


Lukisan-lukisan yang dipamerkan menggambarkan kekayaan alam Banyuwangi, seperti budaya,  keindahan alam, dan mata air yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat. Beberapa karya juga mengeksplorasi filosofi air sebagai simbol ketenangan, keseimbangan, dan kekuatan alam.


Pengunjung yang hadir malam itu tidak hanya berasal dari kalangan seniman dan budayawan, tetapi juga masyarakat umum yang antusias menikmati pameran seni rupa sekaligus pertunjukan musik dan puisi. Salah satu pengunjung, Siti Rahmawati, mengaku terkesan dengan konsep acara yang memadukan berbagai jenis seni dalam satu panggung.


“Saya sangat menikmati pameran ini. Selain bisa melihat karya seni yang indah, saya juga terhibur dengan penampilan musik dan puisi yang penuh makna. Acara seperti ini sangat menginspirasi dan membuat saya semakin mencintai budaya Banyuwangi,” ujar Siti


Pameran lukisan Harjaba ke-253 ini menjadi bukti bahwa seni dan budaya lokal Banyuwangi memiliki daya tarik yang kuat dan mampu menyatukan berbagai elemen masyarakat. Penyelenggara berharap acara ini dapat menjadi agenda tahunan yang terus berkembang dan menjadi wadah bagi para seniman untuk mengekspresikan karya-karyanya.


“Kami berharap pameran ini dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berkarya dan melestarikan budaya Banyuwangi. Kolaborasi antara seni rupa, musik, dan sastra ini menjadi langkah awal untuk menciptakan ekosistem seni yang lebih dinamis di Banyuwangi,” ujar salah satu Panitia Pameran, Kang Momo.


Pameran Banyu Kening masih akan berlangsung hingga 7 Desember 2024 di Gedung Juang 45 Banyuwangi, memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati karya seni yang mengangkat nilai-nilai lokal, dan beberapa kegiatan edukasi lainnya.


Duet Ribut Kalembuan dan Wowok Meirianto menutup acara yang mengundang detak kagum pengunjung, Wowok Meirianto dengan menggunakan Painles Guitara yang merupakan owner Kemarang sangat intens dalam seni dan budaya lokal.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger