Pages

Thawaf Pakai Mobil Golf

 Thawaf Pakai Mobil Golf 





Dalam manasik haji, tidak banyak yang menyampaikan bagaimana jika melakukan thawaf, yakni mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali dari kiri ke kanan dimulai dari Hajar Aswad dengan menggunakan mobil atau kendaraan lainnya, kalau Thawaf dengan berjalan kaki, kita tahu dengan tepat kita sudah sampai dimana? Apakah sampai makom Ibrahim ataukah Rukun Yamani.

Perkembangan zaman mengakibatkan perkembangan alat transparansi yang semakin canggih, tidak hanya unta dan kuda, peralatan semakin canggih dan tanpa suara, untuk thawaf bisa menggunakan mobil golf dengan kecepatan satu kali putaran di lantai atas 2,25 menit.

Banyak jamaah lansia yang melaksanakan thawaf ifadah menggunakan mobil golf, tarifnya lebih murah dibandingkan dengan di dorong menggunakan kursi roda, jamaah juga masih dapat melihat Ka'bah ketika menggunakan mobil golf di lantai tiga, namun jika di roof top, Ka'bah tidak terlihat.

Menjadi tugas tim kloter untuk memfasilitasi jamaah terutama lansia dan resiko tinggi untuk melakukan thawaf menggunakan mobil golf, karena naik mobil golf thawaf tidak semudah naik bus shalawat, perlu membeli tiket yang pada saat tertentu lumayan panjang antriannya.

Sebagai ketua kloter, saya juga berkewajiban untuk mengkonfirmasi jamaah haji yang ingin melaksanakan thawaf dengan menggunakan fasilitas mobil golf, menyiapkan pendamping bagi mereka yang memakai kursi roda yang diambilkan dari jamaah haji yang masih muda serta menyiapkan jadwal keberangkatan, karena jika waktunya tidak tepat, bisa jadi bersamaan dengan waktu shalat, sehingga tidak dapat masuk ke lantai dua atau empat, tempat pembelian karcis.

Ada tiga puluh jamaah haji yang akan melaksanakan thawaf dan Sai menggunakan mobil golf, kami telah menyiapkan tim agar semua baik-baik saja, kita berangkat bersama pagi setelah sarapan, para lansia ini sebagian besar sarapan dengan bubur yang disediakan PPIH, mereka request melalui ketua rombongan masing-masing, dan layanan ramah lansia dibidang konsumsi ini sangat membantu, karena dengan demikian makanan yang mereka terima mudah di cerna, apalagi buburnya lumayan enak.

Ada layanan bus shalawat khusus lansia ketika kita request ke petugas, sehingga bus yang kita tumpangi tidak berdesakan dengan jamaah lainnya, kami berangkat bersama dalam satu bus, para lansia yang butuh pendampingan juga kita siapkan oleh tim Kloter dibantu jamaah, hanya satu tim kesehatan yang kita tinggal di hotel bersama jamaah haji lainnya, kita tidak berani membawa semua tim kloter dalam misi ini, sebab ada beberapa kemungkinan yang bisa saja terjadi dengan jamaah haji yang berada di hotel, sehingga kita selalu berbagi dalam setiap tugas.

Saya selalu membawa botol semprot berisi air zamzam yang fungsinya bukan hanya menyemprotkan air ke wajah menghindari dehidrasi, namun juga dapat diminum bahkan dalam kondisi tertentu saya gunakan untuk berwudlu.

Ketika di puncak panas, sorban gajah oling yang biasa saya pakai saya basahi dengan air zamzam, saya gunakan untuk menutupi kepala, karena panas di Saudi Arabia berbeda dengan di Indonesia, panas bukan hanya berasal dari sinar matahari secara langsung, tetapi dari udara sekitar yang menerpa, karenanya menutupi kepala dan sebagian wajah seperti pada umumnya pakaian timur tengah merupakan cara logis untuk mengatasinya.

Mungkin saya satu-satunya yang menggunakan sorban gajah oling, sebuah kain segi empat yang sebenarnya merupakan kain udeng dengan motif batik khas Banyuwangi, dengan menggunakan sorban tersebut para jamaah lebih cepat mengenali, karena ada ciri khas yang berbeda dengan petugas haji lainnya, sorban juga multifungsi, kadangkala juga saya gunakan untuk sajadah ketika mau sholat.

Saya turun dari bus shalawat paling duluan, para jamaah lansia saya serahkan kepada tim kloter lainnya, karena saya harus mengambil antrian agar jamaah haji tidak terlalu lama di antrian, bagi saya yang biasa jalan kaki sejak kecil, jarak satu atau dua kilometer bukanlah masalah, ketika di Madrasah Ibtidaiyah, dulu juga satu kilometer saya tempuh dengan berjalan kaki, begitupun ketika membantu orang tua ke sawah yang jaraknya lebih dari satu kilometer juga ditempuh dengan jalan kaki, kadangkala juga membawa beban panenan yang beratnya lebih dari lima puluh kilogram, karenanya tidak kaget ketika jadi petugas haji kemana-mana harus berjalan kaki.

Antrian membeli tiket Golf Cart lumayan ramai, apalagi loket tiket di lantai dua yang mobilnya di lantai tiga, jamaah dapat memandang Ka'bah secara langsung, dan ini berbeda dengan ketika mobil di lantai atas atau di dorong dengan menggunakan kursi roda, bisa jadi selama menjalankan ibadah haji jamaah tersebut tidak pernah melihat Ka'bah secara langsung, saya sengaja antri dilantai dua agar jamaah dapat melihat Ka'bah, saya merasa kasihan jika ada jamaah haji yang ketika melaksanakan ibadah haji tidak melihat Ka'bah, meskipun hajinya juga dianggap sah, namun tingkat kematangannya berbeda.

Antrian masih lama, jamaah haji yang saya bawa sudah datang, dan saya tempatkan di tempat khusus, sedangkan saya masih setia antri menunggu, hingga dokter Kloter kami datang, saya suruh menempati tempat antrian saya dan untuk selanjutnya saya mengantar beberapa jamaah haji yang ingin Thawaf di lantai dasar, dekat dengan Ka'bah.

Pagi itu di lantai dasar tidak terlalu ramai, sehingga jamaah haji yang saya antar dengan mudah mendekati Ka'bah, saya hanya mengantar sampai awal Thawaf, menyampaikan bagaimana cara thawaf dan memberikan sebuah tasbih berisi tujuh butir anak tasbih agar mudah menghitung jumlah putaran.

Saya kembali ke atas karena jamaah sudah mendapatkan tiket, dan bersiap-siap untuk melaksanakan Thawaf, dan oleh petugas diarahkan untuk menggunakan mobil golf di lantai atas atau roof top.

Dalam situasi seperti ini yang dibutuhkan adalah negosiasi dengan polisi penjaga pintu menuju mobil golf, saya minta jamaah untuk tenang, karena jika harus ke roof top, para jamaah tua tersebut tidak dapat melihat Ka'bah, sehingga kita perlu komunikasi dengan para polisi penjaga yang suaranya lantang dan terlihat galak.

Segalak apapun dia juga manusia, segagah apapun dia tetap seorang laki-laki, dan saya sadar bahwa negosiasi akan sulit dilakukan jika yang menyampaikan juga laki-laki, apalagi laki-laki yang pinter banget Bahasa Arab.

Saya minta dokter Kloter berwajah manis yang juga bisa Bahasa Arab untuk komunikasi, dibantu dengan seorang jamaah haji yang mendampingi orang tuanya yang juga bisa Bahasa Arab karena lama bekerja di Saudi Arabia, saya kebagian menyampaikan kepada kedua juru loby tentang spa yang harus disampaikan, dan berdoa semoga semuanya lancar, dan benar juga yang saya prediksi, sang polisi tidak lagi terlihat galak ketika berhadapan dengan orang cantik khas Indonesia dan murah senyum, kita diperbolehkan menuju lantai tiga untuk melakukan thawaf dan Sai menggunakan mobil golf.

Saya memberikan arahan kepada jamaah bagaimana cara Thawaf dan Sai menggunakan mobil, karena hanya ada tanda lampu hijau tempat di mulainya Thawaf, tidak ada tanda yang sejajar dengan makom Ibrahim dan Rukun Yamani, sedangkan waktu satu putaran tidak sampai tiga menit, karenanya doa yang dibaca hanya yang pendek saja yang mereka bisa, sopir mobil golf juga faham dengan aturan Thawaf, mereka juga kadang menuntun jamaah haji berdoa sepanjang perjalanan, memberikan kode ketika sampai sejajar dengan lampu hijau atau Hajar Aswad, sehingga jamaah faham dengan apa yang harus dilakukan.


Makkah, 26/06)2024

Hajinya Orang Tidak Bisa Baca Al-Qur'an

 Hajinya Orang Tidak Bisa Baca Al-Qur'an 


Tidak ada sarat orang berangkat haji harus bisa baca Al-Qur'an, meskipun juga agak aneh jika ada orang yang agamanya karena warisan, tidak memahami agama yang telah lama dianut oleh orang tuanya, faktanya tidak sedikit orang Islam yang tidak dapat membaca Al-Qur'an, mereka hafal bacaan-bacaan shalat dan beberapa doa, dia belajar bukan dengan cara membaca, tetapi dengan cara menghafalkannya, biasanya orang seperti ini shalatnya sering dilakukan di Masjid dan dia sebagai makmum, mengikuti gerakan Imam begitu saja. 


Hal yang sering ditakutkan oleh orang yang berangkat haji adalah ketika pulang diminta doa oleh para peziarah dengan menggunakan Bahasa Arab, beberapa jamaah haji yang bisa membaca dengan cara membaca tulisan doa di handphone, ada juga yang menggunakan bahasa Indonesia, serta campuran. Biasanya yang dibaca adalah doa yang sama dibaca pada saat thawaf putaran keempat, ada juga yang hanya membaca doa sapu jagat.

Ada satu jamaah yang ketika melaksanakan ibadah haji selalu minta saya kawal, dia merasa nggak memahami masalah agama, bahkan pada saat pertama keluar Masjidil Haram usai jamaah shalat, dia berbisik bertanya, "pak ketika selesai shalat fardhu, kita shalat lagi yang hanya berdiri itu shalat apa?."

Saya menjelaskan tentang shalat jenazah, yakni menshalati orang yang sudah meninggal, berikut bacaan-bacaannya, termasuk bacaan doa dalam shalat tersebut, begitupun dengan thawaf dan Sai. Dia selalu mengikuti tepat di sampingku, saya hanya menyampaikan apa yang harus dilakukan, bacaan doa yang dia hafal selama menjalankan ritual thawaf dan Sai, saya tidak mengajarkan doa-doa dalam Bahasa Arab, karena saya tidak yakin orang ini langsung hafal bacaan-bacaannya, karena haji merupakan ibadah fisik, bahkan ketika thawaf dan Sai tidak membaca apa-apa juga sah dan tidak mengurangi nilai ibadah, bisa jadi jamaah haji yang tidak hafal bacaan-bacaan dalam ritual haji ini yang pertama mendapatkan predikat haji mabrur.

Saya menyampaikan kepada jamaah haji yang tidak dapat membaca Al-Qur'an ini tentang apa yang harus dilakukan selama ritual haji maupun umrah, karena saya tidak yakin dapat membersamai terus selama ritual haji maupun umrah, dia nampak memperlihatkan semua yang saya sampaikan, terutama tempat-tempat untuk memanjatkan doa, dan inti dari doa yang disampaikan, baik doa dalam bahasa Indonesia maupun doa dalam bahasa daerah, karena Tuhan mengerti dan mengabulkan doa dengan semua bahasa makhluknya.

Pada suatu malam jamaah ini mengajak saya makan malam di sebuah warung makanan orang Bangladesh, ada menu berbagai ikan laut yang bisa dipesan, dia bercerita bahwa setelah mengikuti saya cara Thawaf dan Sai yang menurutnya tidak ribet, tidak perlu membaca bacaan-bacaan Bahasa Arab, sehingga dia beberapa kali sudah melakukan umrah, dan saya diajak makan malam sebagai ungkapan rasa syukur karena selama musim haji telah melakukan umrah tujuh kali, dan dia merasa penyakit reumatik yang diderita tidak terasa lagi.

Saya merasakan aura keikhlasan dari jamaah haji ini, dan saya menepis kekhawatiran saya ketika mengajarkan bagaimana cara berhaji, semoga saya tetap ikhlas meskipun di traktir makan malam.

Sambil menunggu makanan siap disajikan, kita ngobrol ngalor-ngidul yang sesekali juga membahas masalah haji, jamaah ini merasa bersyukur karena meskipun ekonominya tidak terlalu kaya, namun dapat menjalankan rukun Islam kelima, dan dia juga sangat bersyukur karena ketemu dengan saya dan menjelaskan tentang haji yang tidak ribet seperti yang dibayangkan sebelumnya.

Dalam hati saya juga mbatin, gimana saya mau mengajari bacaan doa dalam bahasa Arab jika saya sendiri juga tidak hafal.


Makkah, Juni 2024.


Ngopi Bareng Akhmad Sruji Bakhtiar

Ngopi Bareng Akhmad Sruji Bakhtiar 


Lidah kita sepakat jika kopi itu rasanya pahit, meskipun pahitnya beda tergantung jenis kopi dan roastingnya, serta bagaimana barista menyuguhkannya, menyeduh kopi asal-asalan juga nggak masalah, asal pas takaran dan siapa yang kita ajak ngopi, barista biasanya menakar kopi sebelum digiling, menuang air panas sembilan puluh derajat dengan takaran satu dibanding dua, berbeda dengan kopi kemasan yang cukup digunting dan dicampur dengan air panas, begitu saja dan langsung disajikan, asal gesahnya nyambung sampai habis kopinya juga masih betah berlama-lama.

Gesah sambil ngopi dengan teman baru, atau setidaknya dengan orang yang jarang bertemu terlihat asyik, terlebih dengan tema yang menarik, sesekali nyruput kopi yang kadang kliru nyruput gelas milik orang lain, dan untuk urusan kopi hal ini tidak terlalu bermasalah, begitu juga dengan yang kita lakukan ketika mengikuti Bimtek (Bimbingan Teknis) petugas haji Embarkasi Surabaya, yang tahun 2024 dengan jumlah petugas PPIH Kloter terbanyak yakni 530 peserta, meskipun ketika break siang hari ada acara ngopi, namun dimalam hari ketika acara resmi usai, beberapa peserta asyik ngopy sambil gesah di lorong, baik ngopy dari ngambil yang disediakan panitia maupun mbikin sendiri dari kopi yang digiling dan bukan di gunting.

Suasana Bimtek tak pernah ada matinya, terlebih Ketua kelas yang ditunjuk sangat pandai membawa suasana, ketika sedang sepi, perawakannya kecil, namun idenya luar biasa dan rnengayomi. 


Pernah ketua kelas ini memberikan trik bagi peserta apel pagi yang sampai lapangan peserta apel banyak yang sudah siap, biasanya peserta yang datang belakangan mendapatkan surprise sorak dari peserta apel lainnya, dan biasanya jika yang lambat peserta perempuan, soraknya lebih lama hingga membuat pipi peserta kemerahan tanpa make up.

Saya berempat dalam satu kamar, pernah suatu pagi saya ketiduran setelah sholat subuh, baru mau akan mandi ketika teman-teman berangkat apel, dan saya terakhir datang ke halaman apel gara-gara semalam terlalu asyik ngopy bareng. Setelah apel, teman sekamar saya bercerita jika tadi sebelum apel dia di soraki teman-teman karena datang beberapa menit sebelum apel di mulai, dia sepertinya sangat malu dengan perlakuan itu, dan sayapun bercerita bahwa meskipun saya keluar dari kamar mengikuti apel yang terakhir, tetapi saya nggak mendapat sorak seperti yang lain.

Ternyata ngopi bareng dapat memunculkan ide-ide kreatif, terlebih dikemas dengan acara tidak formal ditempat santai yang juga terlihat tidak formal, ide-ide mengalir seperti kita menikmati kopi tanpa gula yang ketika kita menikmati akan terasa nikmatnya kopi, dan bukan manisnya gula, dan begitupun dengan trik yang saya gunakan ketika mengikuti apel dan hadir beberapa detik sebelum apel dimulai tanpa harus dapat surprise sorak. Para akhirnya trik yang saya gunakan bersama beberapa teman yang sering datang apel mendekati dimulai, disampaikan oleh sang Ketua kelas setelah apel, dan saya hanya senyum-senyum saja mendengarkannya, sang ketua kelas sangatlah bijak, karena bisa jadi peserta apel yang dalam satu kamar dihuni banyak peserta tersebut antri ke kamar mandi, terlebih bagi perempuan yang biasanya relatif lama, dan kita tidak usah membahas kenapa kok lama mandinya, mereka tidak terlambat apel saja sudah untung, namun bisa jadi masalah ketika ratusan peserta apel hadir bersamaan beberapa detik sebelum apel di mulai, dan bagi yang hadir sesaat sebelum apel dimulai melalui pintu utama, bisa dipastikan akan mendapatkan aplaus rame-rame seperti artis mau naik pentas, berbeda dengan melalui pintu samping yang tidak terlalu terlihat, dan langsung masuk barusan, apesnya barisan kelompok kami berada tepat di depan pintu utama.

Yang disampaikan Akhmad Sruji Bakhtiar, sang Ketua Kelas ada benarnya, karena bagi peserta yang datang mendekati apel dimulai melalui pintu utama bisa mengganggu persiapan apel, dan itu harus dihindari.

Saya pertama bertemu Akhmad Sruji Bakhtiar beberapa hari sebelum tes PPIH Kloter, kami sempat ngobrol lama di depan kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, ketika beliau bersama rombongan silaturahmi,  dibawah payung besar sambil ngopi, saya menjadi pendengar yang baik dari para pejabat yang sedang ngobrol sambil sesekali mencatat apa yang mereka obrolkan menjadi bahan berita media, orangnya supel meski dengan yang baru dikenalnya, dan itu sangat saya rasakan yang hanya sebagai pegawai bawahan.

Ketika saya di seksi Pendidikan Madrasah, saya juga pernah bertemu dengannya yang saat itu menjabat sebagai Kepala Bidang.

Bimtek PPIH Kloter selain kelas besar dengan peserta seluruh petugas kloter, juga dibagi dalam beberapa kelas kecil, dan kebetulan sang ketua kelas yang bergelar doktor juga tergabung dengan jelas saya, kelas jadi hidup dan rasanya sepuluh hari terasa singkat ketika kita hanyut terbawa materi, sesekali diselingi dengan joke segar dari para peserta yang menurut beberapa teman tidak didapatkan di kelas lain, sang ketua kelas sangat lihai membawa suasana kelas, meskipun sedari pagi tanpa istirahat, kantuk pun juga nggak berani menyapa, kalah dengan kegembiraan suasana seperti nggak ada yang punya hutang.

Saya lebih banyak diam, karena jika berbicara saya takut jika ketahuan saya nggak banyak pengetahuan, karena semakin sering saya mengikuti diskusi, semakin saya sadar jika kegiatan itu banyak memberikan kita pengalaman berharga.

Beberapa kali saya berkesempatan ngobrol dengan pak ketua kelas, secara tak sengaja ada yang mengucapkan, Kak Bakhtiar, sampeyan itu cocoknya jadi Kakanwil saja.y

Saya dua kali menjadi petugas haji, suasana Bimtek saat ini sangatlah berbeda, padahal materinya juga tidak jauh berbeda, suasana kekeluargaan saat ini sangatlah terasa, keakraban itu sangat penting karena kita akan membentuk tim kerja di negeri asing, tanpa harus membunuh kejenuhan, komunikasi terus terjaga untuk saling memberikan informasi, karena pengetahuan dan berbagi pengalaman bukan hanya didapatkan dari acara formal, tetapi juga diluar ruangan dengan siapapun yang kita anggap lebih berpengalaman.



Asrama haji Surabaya, 01/03/2024


Man Nahnu Lima Menggahar Cintamani Banyuwangi'

 Man Nahnu Lima

Menggahar Cintamani Banyuwangi' 


Bukunya tidak terlalu tebal, cenderung dengan bahasa ringan namun isinya mantap dan bukan tulisan yang benar-benar baru, hanya kumpulan tulisan yang telah di muat di harian cetak pagi yang dipimpinnya, namun beberapa dosen bergelar doktor dan beberapa pejabat ikut hadir dalam bedah buku yang diadakan di auditorium Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, bahkan Ipuk Fiedtisndani dengan seabrek agenda kegiatan pun juga menyempatkan hadir, walaupun saya melihat sedikit guratan lelah di wajah cantik istri Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi ini. 


Saya telah lama mengenal Samsudin Adlawi (Kang Sam) bukan hanya sebagai Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi, namun juga seorang budayawan dan sastrawan dengan seabrek tulisan yang pada saatnya nanti akan dikenang oleh para pembacanya, beberapa kali saya tandem mengisi acara sastra, dan saya meskipun juga pengisi acara juga menyimak paparan yang disampaikan penulis aktif yang bijaksana dan inspiratif, selalu ada ide cemerlang setiap menyampaikan materi, sayapun beberapa kali menerima kritikan dari sang penulis yang telah menerbitkan banyak buku ini.

Saya menghadiri launching dan bedah buku Man Nahnu jilid lima dengan mengambil judul dari salah satu tulisan yang ada di buku tersebut "Menggahar Cintamani Banyuwangi', saya tadinya tidak faham dengan makna dari judul tersebut, meskipun saya juga pernah membaca hampir semua isi buku di rublik harian pagi Jawa Pos Radar Banyuwangi.

Bahasa sastra nampak dari ulasan dari isi buku tersebut, kita terpancing untuk membacanya ketika kita baca judul menggelitik dari Man Nahnu yang terbit sepekan sekali, selalu diawali dengan bahasa yang membuat pembacanya terus membaca paragraf demi paragraf tanpa melewatkannya, bahkan tidak jenuh jika harus membacanya secara berulang.

Bukan hanya penulisnya yang hebat, buku ini juga dibedah oleh orang-orang hebat di bidangnya, ada Sugihartoyo, Ketua Perpenas 17 Agustus 1945, seorang akademisi yang saya kenal ketika menyampaikan materi kuliah filsafat, ada yang menarik dari ulasan Pak Gik (panggilan akrab Sugihartoyo) bahwa ilmu yang paling tinggi yang dapat diraih manusia adalah kesabaran dan disiplin atau Istiqomah, dan Kang Sam telah mencapai keduanya.

Tulisan Kang Sam meskipun nylekit, mampu menyampaikan kritik dengan bahasa menggelitik, sehingga hanya tersenyum bagi mereka yang merasa tercubit.

Tulisan Man Nahnu selain mengulas kejadian di Banyuwangi, juga menyampaikan kritik sosial yang tajam, namun dibalut dengan bahasa santun, kritik yang dilontarkan ibarat bola bekel, semakin keras terbanting, semakin pantulannya, kita tunggu tulisan-tulisan berikutnya agar dijadikan referensi bagi para petinggi negeri.

Selain Pak Gik, Wakil Ketua Dewan Ahli PC ISNU Kabupaten Banyuwangi bergelar doktor yang juga dosen IAI Ibrahimy Genteng Kurniyatul Faizah serta Ketua DKB Banyuwangi Hasan Basri juga menjadi pembedah buku.

Kang Sam pernah menjabat sebagai Ketua BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) dan Juga DKB (Dewan Kesenian Belambangan) Banyuwangi, saat inipun masih aktif di beberapa organisasi, selain di DKB juga merupakan salah satu Ketua MUI Kabupaten Banyuwangi, karenanya sosoknya tidak dapat diabaikan begitu saja, sayapun mendapat WhatsApp khusus dari pengurus ISNU Kabupaten Banyuwangi agar sedapatnya hadir dalam bedah buku tersebut, sebuah kesempatan langka yang tidak boleh di sia-siakan, bertemu dengan penulis hebat, dibedah oleh orang hebat dan dihadiri oleh orang-orang hebat yang memenuhi ruang auditorium, acara ini bukan sekedar launching dan bedah buku, tetapi juga menjadi ajang refleksi diri, terutama dalam memahami dan menghargai karya sastra yang mampu memberikan pandangan kritis, namun tetap santun, saya berharap akan lahir penulis-penulis muda Banyuwangi dengan karya tulis yang dapat dijadikan referensi berharga.


Syafaat : Ketua Yayasan Lentera Sastra Banyuwangi 



Ketemu Mbak Ipuk Fiedtisndani dan Kang Abdullah Azwar Anas di Makkah

 Ketemu Mbak Ipuk Fiedtisndani dan Kang Abdullah Azwar Anas di Makkah 


Ada tamu istimewa mengunjungi jamaah haji kabupaten Banyuwangi, banyak jamaah yang mengabadikan kehadirannya,  juga seorang ibu muda dan cantik yang memintaku berfoto dengan salah satu tamu istimewa tersebut, tamu berparas cantik dengan memakai kacamata yang menambah keanggunan perempuan Indonesia, tubuhnya semampai, raut wajahnya terlihat sedikit sisa lelah yang menandakan dia seorang pekerja keras, saya nurut saja disuruh action untuk diambil gambarnya, dan ternyata setelahnya saya diminta gantian mengambil foto ibu muda dengan perempuan berkacamata yang menjabat Bupati Banyuwangi, beberapa kali saya cekrak cekrek dengan handphone bagus milik ibu muda tersebut, di tangga dari lantai dua ke lobby hotel, juga mengambil foto ibu muda beserta suaminya yang terlihat agak terpaksa ikut berfoto bersama Bupati Banyuwangi, entah berapa cekrak-cekrek saya dengan hati-hati mengambil fotonya, takut handphonenya terlepas dan jatuh, pastinya gaji saya sebulan belum tentu mampu membelinya. 


Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, Mbak Ipuk Fiedtisndani bersama suaminya Abdullah Azwar Anas yang menjabat Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi melaksanakan Ibadah haji dan tidak lupa menemui jamaah haji Kabupaten Banyuwangi, tentu saja kehadirannya disambut sukacita oleh para jamaah, kesempatan tersebut dipergunakan oleh para jamaah untuk mengabadikan momen langka ditempat istimewa dengan bupatinya, sayapun sebenarnya juga ingin foto berdua dengan Bupati, namun ada rasa takut ketika sampai rumah ada yang membuka galeri foto dan mengakibatkan "gencatan senjata", membisu dalam percakapan.

Pagi itu sebenarnya saya ada rapat di kantor sektor, namun karena ada tamu penting yang berkunjung ke hotel kami, maka saya pamit untuk tidak mengikuti rapat hingga selesai, karena menghormati tamu juga sangat penting, apalagi tamunya merupakan orang-orang penting.

Sampai hotel saya terlambat mengikuti acara penyambutan tamu, hanya dapat mengikuti ketika Mbak Ipuk dan Kang Anas melihat jamaah haji yang sedang dirawat di pos kesehatan satelit, kehadiran Mbak Ipuk dan Kang Anas bersama adiknya yang menjabat anggota DPR RI setidaknya dapat memberikan motivasi kepada para jamaah untuk menjaga kesehatan mendekati puncak haji.

Sebetulnya saya juga ingin seperti mereka yang setiap tahun dapat menunaikan ibadah haji, namun saya menyadari bahwa setiap orang sudah ada takarannya, kita paling uenak itu melihat nasib baik orang lain, seperti juga tim kloter juga dianggap uenak menurut orang lain, begitu juga dengan jamaah haji yang dianggap enak menurut yang belum berangkat haji, kata orang Jawa "Urip iku sawang sinawang" dan saya yakin bahwa surga bukan hanya hak bagi mereka yang pernah haji namun juga bagi mereka yang tidak melaksanakan ibadah haji karena kondisi.

Beberapa kali saya bertemu dengan Mbak Ipuk, meskipun saya nggak yakin Bupati Banyuwangi itu mengingat wajah saya yang nggak seberapa ganteng meskipun menarik, saya juga tidak banyak kesempatan ngobrol, dan ketika ada acara perjamuan setelah bertemu dengan ratusan jamaah haji Kabupaten Banyuwangi di room meeting hotel, ndelalah kursi didepan Bupati Banyuwangi tidak ada yang menempati, dengan sedikit keberanian saya duduk berhadapan dengan Bupati Banyuwangi dan Menpan-RB, saya nggak berani ngomong apa-apa selain diam sambil sesekali nyruput suguhan susu unta yang rasanya sedikit masam, beberapa kyai dan orang-orang penting duduk berjajar mengelilingi meja yang disediakan, begitupun juga tim kloter juga hampir lengkap, kecuali dokter kloter yang ada keperluan penting sehingga tidak dapat ikut ngobrol dengan tiga orang tamu penting tersebut.


Makkah, 12/06/2024


Enak Lewat Belakang

 Enak Lewat Belakang 


Seringkali kita diberi pilihan yang tidak mudah, diam saja itu bukan sikap tidak memilih, tetapi menyerahkan pilihan kepada orang lain ataupun takdir, dan ketika ada pilihan yang sulit, kita harus memilih pilihan dengan resiko yang menurut kita paling kecil, karena hidup merupakan pilihan, jika hanya memilih untuk dirinya sendiri, resiko yang ditanggung hanyalah milik sendiri, tetapi jika pilihan itu mengakibatkan nasib orang banyak, haruslah dipikirkan secara bijak, apalagi menyangkut masalah ibadah. 


Melalui pintu depan merupakan jalan yang lumrah untuk masuk maupun keluar, karena memang jalan itulah yang seharusnya dipilih, namun tidak salah jika mencari sensasi yang berbeda dengan melalui jalur belakang.


Sore ketika matahari masih agak enggan tenggelam, panas udara juga masih tinggi diatas empat puluh derajat, beberapa lelaki menyalakan rokok diatas rumput hijau yang mudah terbakar, lalu lalang bus shalawat dan klakson taksi tak henti-henti menembak telinga. Nampak mbak Saiyyyang menggandeng tangan suaminya turun dari bus, sambil senyum-senyum memasuki hotel yang pintu masuknya beberapa meter dari bahu jalan, tidak ada halaman parkir seperti di Indonesia.

Saya memanggil Mbak Saiyyyang, ingin minta bantuan ngambil gambar ketika berada depan hotel dengan latar belakang Tower Zam-zam dari kejauhan. Hasil fotonya bagus, nampaknya handphone mahal, apalagi mau mengarahkan untuk mengambil anggel menarik. Saya sebenarnya pingin membeli Handphone mahal agar ketika mengambil gambar bisa bagus, tapi entah kenapa hal ini saya urungkan.

Saya menunggu kiriman foto dari Mbak Saiyyyang sambil menikmati hijau rumput sintetis dibawah pohon kurma di taman depan hotel, lama menunggu sambil buka pesan di grup dan ternyata ada pemberitahuan jika kita ke Madinah ada dua klloter beda maktab di hotel kami yang ke Madinah dengan jam yang sama. Bisa dibayangkan, ada 742 orang, 742 koper besar di loby dengan ruang menuju pintu keluar yang hanya empat meter, jamaah haji juga biasanya tidak mau antri dan menunggu di lobby l, belum lagi jalanan macet depan hotel yang harus berjajar 18 bus dalam waktu bersamaan,  otak loading agak lambat, bagaimana hasil foto Mbak Saiyyyangpun sudah tak terpikirkan lagi, yang harus dilakukan hanyalah koordinasi dan memberikan pengertian kepada jamaah, bahwa semua akan baik-baik saja.

Saya menghubungi Maktab, agar berangkat lebih pagi, setidaknya bus yang akan kami tumpangi tidak terlalu jauh dari pintu keluar hotel, karena kasihan bagi jamaah tua jika harus berlama-lama mencari bus, apalagi perjalanan Makkah Madinah tidaklah sebentar.

Benar juga, janji maktab benar-benar ditepati, belum jam enam pagi infonya bus sudah datang, namun saya cari di depan hotel belum ada satupun bus yang datang, masih ada satu mobil parkir sudah tiga hari depan hotel, sehingga bus tidak dapat merapat, saya terus mencari dimana bus berada.

Kopor-kopor sudah diangkat umal (buruh angkut), namun tidak dibawa melalui pintu depan, melainkan melalui pintu belakang, saya mengikuti lorong menuju pintu belakang hotel yang ternyata menuju jalan yang sedikit lengang, ada sembilan bus yang sudah parkir menunggu kopor dan Jamaah Haji untuk diangkut ke Madinah.

Ternyata hotel kami mempunyai jalur belakang yang lebih nyaman ketika kami mau berangkat ke Madinah, jalannya sepi sehingga lebih aman bagi jamaah lansia.


Makkah, 27/06/2024


Man Nahnu Lima

 Man Nahnu Lima

oleh : Syafaat 



aya mendapatkan pesan WhatsApp pribadi dari rekan Pengurus Cabang ISNU Kabupaten Banyuwangi untuk ikut hadir dalam Launching dan Bedah Buku "Menggahar Cintamani Banyuwangi" yang dilaksanakan di auditorium Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, penulis buku tersebut adalah Kang Sam (Samsudin Adlawi), Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi , seorang yang saya kenal sebagai penulis aktif yang sudah banyak menulis, bahasa sastranya sangat kental disetiap tulisannya, enak dibaca mengalir begitu saja oleh semua pembaca dari semua kalangan. 


Saya sudah lama kenal dengan sang penulis ini, dan rasanya aneh jika orang Banyuwangi, tidak kenal dengan Samsudin Adlawi, selain sebagai Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi, beberapa jabatan pernah di jabatnya, diantaranya Ketua BAZNAS. juga Ketua DKB Banyuwangi.

Buku yang di launching dan di bedah merupakan kumpulan tulisan sang penulis yang bisa kita baca di harian Jawa Pos Radar Banyuwangi.

Menariknya buku yang ditulis orang hebat ini juga dibedah oleh orang-orang hebat di bidangnya, yakni H. Sugihartoyo, S.H., M.H. Ketua Perpenas 17 Agustus 1945, saya mengenal beliau ketika saya ngangsu kaweruh di Perguruan Tinggi tersebut, saat Pak Gik menjadi Dekan Fakultas Hukum hingga beliau menjabat Rektor, juga ada Dr. Kurniyatul Faizah, Wakil Ketua Dewan Ahli PC ISNU Kabupaten Banyuwangi yang juga seorang Dosen di IAI Ibrahimy Genteng dan yang terakhir adalah Kang Son  (Hasan Basri), Ketua DKB Banyuwangi.

Saya sebenarnya sudah membaca hampir semua tulisan Kang Sam di harian cetak yang dipimpinnya, yang saya tangkap adalah bagaimana sang penulis ini dapat menulis dengan genre dinamis yang ketika tulisannya sedikit nylekit tidak menimbulkan sakit, bahkan dapat membuat tersenyum bagi yang merasa tercubit.

Kritik yang disampaikan seperti permainan bola bekel, semakin keras terbanting ke bawah, akan semakin tinggi pemantulannya, sayangnya tidak banyak saya membaca tulisan dari sang penulis yang dapat memantulkan jauh melambung tinggi.

Yang jelas buku ini sangat menarik untuk dibaca, karena ada gambaran kejadian-kejadian yang ada di Kabupaten Banyuwangi, bahasanya cukup santun, dan saya berharap lebih banyak tulisan-tulisan dari penulis lainnya yang dapat dijadikan referensi tentang Banyuwangi.

Saya tertarik dengan yang disampaikan Pak Gik bahwa ilmu tertinggi dari seseorang adalah kesabaran dan disiplin, dan menurut Pak Gik, sang penulis sudah sampai pada ilmu tersebut.

Saya juga sependapat dengan Pak Gik yang banyak memberikan motivasi ini, bahwa Kang Sam merupakan orang yang sudah menemukan ilmu ikhlas, tidak mudah  mempunyai kemampuan seperti sang penulis ini.



Untag Banyuwangi. 01/08/2024.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger