Pages

Musium Arsitektur Masjid Nabawi

 Musium Arsitektur Masjid Nabawi 


Siang setelah sholat Dzuhur, saya diajak ke Museum Masjid Nabawi, tepatnya di arah selatan Masjid, keluar melalui pintu 305, saya memakai payung pemberian Bagian Kesehatan Kerajaan Saudi Arabia yang membuka pos kesehatan di pintu masuk 318, tempat hotel kami berada. Panas tetap sangat terasa meskipun memakai payung, karena asal panas bukan hanya dari sengatan matahari yang dapat ditangkis dengan payung, namun dari udara sekitar, sehingga saya menggunakan sorban gajah oling yang aslinya udeng segi empat saya gunakan untuk menutupi sebagian wajah, sedangkan yang mengajak saya seorang perempuan yang pandai berbahasa arab, dia menutup wajahnya dengan masker. 


Ada dua Musium berdampingan ditempat tersebut, yakni Musium perjalanan Nabi Muhammad Saw dan Musium Arsitektur Masjid Nabawi, keduanya masuk dengan menggunakan tiket, untuk Musium Arsitektur Masjid Nabawi tiket satu orang SAR 15.

Ini merupakan salah satu destinasi terpenting bagi pengunjung Masjid Nabawi karena menampilkan gambaran ilmiah kepada para pengunjung tentang berbagai tahapan perluasan dan pembangunan Masjid Nabawi sepanjang sejarah melalui sajian visual, teks dan audio, dari pertama didirikan oleh Nabi Muhammad Saw hingga perkembangan terakhir.

Museum ini merupakan bagian dari layanan yang disediakan oleh Lembaga Urusan Masjid Nabawi, terletak di halaman belakang Masjid Nabawi atau di depan Roudhoh menuju arah kiblat, yang berdiri di atas lahan seluas 2.200 meter persegi. Pengunjung akan disambut oleh sejumlah pemandu khusus dalam bahasa Arab, Urdu dan Inggris. Sementara itu, presentasi audio visual tersaji dalam 12 bahasa, dilengkapi terjemahan audio berteknologi canggih.

Kami berdua masuk dan langsung ditanyakan asal negara, kemudian diberi alat yang tersambung dengan headset, kemudian kami berjalan sesuai arah yang ditentukan.

Museum Arsitektur Masjid Nabawi menghimpun warisan sejarah dan kekayaan ilmu pengetahuan dan budaya bagi pengunjung museum. Mereka dapat mempelajari sejarah Masjid Nabawi, yang terbentang selama lebih dari 1400 tahun, sejak masjid ini didirikan pada masa kenabian, era Khilafah Rasyidah, periode-periode sesudahnya hingga masa pemerintahan Arab Saudi.


Di dalamnya, pengunjung dapat belajar tentang seluk-beluk Masjid Nabawi, kedudukannya dan keunggulan arsitekturnya, serta meningkatkan kesadaran budaya tentang peradaban Islam.l, bukan hanya audio visual yang ditampilkan dan dapat kita dengar penjelasannya melalui headset yang tersambung otomatis dengan wifi, tetapi juga terdapat beberapa artefak kuno berupa tempat lilin dan lain-lain.


Pengunjung juga bisa mengenali keistimewaan Masjid Nabawi, seperti mimbar dan mihrabnya, kubah, payung, pintu, tempat adzan, menara, halamannya, dan sejumlah fasilitas lain yang disediakan untuk para pengunjung Masjid Nabawi.


Perkembangan pembangunan masjid disajikan secara untuk melalui video dan audio yang dapat kita dengarkan melalui alat khusus yang tersambung dengan wifi dengan lambang khusus dibawah video. Begitupun dengan pemugaran rumah sayyidina Aisyah Ra dan Makam Rasulullah beserta kedua orang sahabatnya, pengunjung dapat mengetahui posisi yang tepat dimana beliau di makamkan.


Museum ini menjadi salah satu destinasi bagi pengunjung Masjid Nabawi. Museum ini telah dilengkapi berbagai hal yang memungkinkan pengunjung untuk mendapatkan pengetahuan, melalui audio, visual, maupun teks, dalam durasi kurang lebih 40 menit. Museum ini menyambut 30 orang pengunjung dalam setiap gelombang.

Museum ini menerima pengunjung selama hari kerja: Sabtu hingga Kamis, dan beroperasi dalam dua shift per hari. Shift pertama dimulai dari jam 7 pagi hingga 12 siang. Shift kedua mulai dari jam 4 sore hingga 10 malam.

Bila pengunjung masuk melalui pintu depan, maka ketika selesai, sebelum masuk ke ruang yang menyajikan cinderamata museum, pengunjung terlebih dahulu menyerahkan alat audiovisual yang dipergunakan selama dalam Musium, dan keluar lewat pintu keluar tepat di depan masjid Ghamamah.



Madinah, Juni 2024




Napak Tilas ke Masjid Quba

 Napak Tilas ke Masjid Quba 



Menunaikan ibadah haji merupakan kewajiban bagi muslim yang telah mampu, selain menunaikan ibadah haji di Kota Makkah, jamaah juga ke Kota Madinah untuk Shalat berjalan di Masjid Nabawi serta berziarah ke tempat-tempat bersejarah disekitar kota Madinah, salah satunya adalah Masjid Quba yang mempunyai beberapa keistimewaan.

Masjid Quba merupakan masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun 1 Hijriyah di Quba, ketika beliau pertama menginjakkan kaki hijrah di Madinah. masjid ini memiliki pesona keindahan dan nilai sejarah yang penting dalam sejarah perkembangan Islam sehingga menjadi tempat yang menarik dan bernilai ibadah untuk dikunjungi, meskipun beberapa kali mengalami renovasi, namun tetap mempertahankan ciri khas Masjid Peninggalan nabi yakni bagian tengah Masjid tanpa atap, dan untuk menghindari dari panas matahari, dipasang para-para.


Masjid tersebut menjadi titik awal sejarah kemasjidan dalam Islam. Ia berada di tepi Kota Madinah di kawasan perkampungan yang dinamai Quba, lebih kurang 4 Km di arah selatan Masjid Nabawi.

Untuk menuju ke Masjid tersebut saat ini selain jalan kaki atau mengendarai kendaraan umum, dapat menggunakan Golf Cart yang berada di belakang Masjid Ghamamah dengan tarif SAR 20 untuk pulang pergi. 


Dalam Al Qur'an disebutkan bahwa Masjid Quba adalah masjid yang dibangun dengan dasar ketaatan dan ketaqwaan Rasullullah Saw kepada Allah SWT.


”Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (Masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalam masjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS At-Taubah [9]: 108).


Di kampung Quba, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disambut meriah oleh penduduk Madinah dengan lantunan nasyid thala’al badru’alaina. Beliau singgah di Quba selama empat hari, dan beliau memerintahkan untuk membangun Masjid Quba bahkan ikut terlibat dalam proses pembangunannya.


Setelah berada di Madinah, Nabi Muhammad Saw selalu menyempatkan diri mendatangi Masjid Quba untuk melakukan salat dua rakaat, yang biasanya dilakukan pada hari sabtu.

Dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Abdullah bin Umar, dia berkata. "Dahulu Nabi Muhammad Saw mendatangi Masjid Quba setiap hari Sabtu dengan berjalan kaki atau berkendaraan kemudian melaksanakan salat dua rakaat.”

Jamaah haji Indonesia ada program city tour yang salah satunya di Masjid Quba. Jamaah biasanya sudah berwudlu sebelum memasuki bus, hal ini dilakukan untuk mengikuti yang pernah dilakukan nabi, dan agar tidak  terlalu lama di Quba untuk mengambil wudlu, mereka bisa langsung shalat dua rakaat dan menikmati keindahan bangunan yang penuh sejarah itu, ada pigura foto yang dapat digunakan jamaah untuk mengabadikan kenangan dengan latar belakang Masjid Quba.

Hal ini dikarenakan masjid ini memiliki keutamaan bagi orang yang salat di dalamnya. Di antaranya salat di dalamnya bernilai seperti pahala umrah, sesuai sesuai dengan Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


“Barangsiapa yang keluar dari rumahnya kemudian mendatangi masjid ini, yakni Masjid Quba kemudian salat di dalamnya, maka pahalanya seperti ia menjalankan umrah,” (Ibnu Majah).

Masjid Quba dikelilingi oleh kebun kurma, sehingga jamaah dapat menikmati keindahan kebun kurma ketika sedang berbuah, beberapa tempat yang dapat digunakan sebagai swafoto selain pigura bertuliskan Ana (lambang cinta) Quba, juga gapura bertuliskan Masjid Quba.


Syafaat, Madinah Juli 2024


Doa Orang-orang Tersesat

 Doa Orang-orang Tersesat


J


umat pertama di Kota Makkah, saya ingin mengikuti Sholat Jumat di Masjidil Haram, meskipun di Mushola Hotel juga dilaksanakan sholat Jumat, dengan beberapa pertimbangan bahwa banyaknya jamaah lansia yang tidak dapat ke Haram, beberapa jamaah haji ada yang memilih shalat Jumat di Masjid sekitar hotel, dengan menggunakan google maps mereka dapat menemukan masjid tersebut.

Ada himbauan agar jamaah berangkat pagi, karena bus Shalawat berhenti beroperasi pukul 09:00 WAS, sehingga pagi itu jam setengah sembilan hotel sudah nampak lengang, beberapa masih bergegas ke Masjid dengan bus Shalawat terakhir.

Saya ke haram ketika bus Shalawat berhenti beroperasi, perjalanan 4 kilometer yang biasanya ditempuh menuju haram sudah tak nampak lagi, karena meskipun haram terlihat dekat yang ditandai dengan terlihat jelas jam besar diatas zamzam tower, namun bus memilih jalan memutar dan berhenti di terminal jiyat. Sedangkan jika berjalan kaki dengan jalan lurus dari hotel hanyalah 2 kilometer saja.

Berangkat berjalan kaki menuju haram dengan seragam kebanggaan petugas haji bersama orang-orang berbagai negeri, sepertinya ada kekuatan berbeda hingga perjalanan menjadi tak terasa, karena panggilan nurani untuk bersama jamaah yang telah lama mendahului menjadi penyemangat untuk berjalan kaki ke Haram.

Pukul 10:00 WAS di hari Jumat terminal di Haram di tutup, masjid seperti hampir penuh, saya baru saja masuk halaman Haram, ketika memasuki masjid terbesar di dunia itu kita diarahkan ke lantai entah berapa melalui eskalator.

Usai sholat Jumat, orang-orang keluar dari masjid,  berhamburan seperti laron di musim hujan, entah keluar dari pintu mana mereka lupa, pokoknya keluar begitu saja, sehingga di pelataran masjid jamaah seperti aliran air tumpah dari baskom, mereka banyak yang berjalan Sarah arah lupa tujuan.

Saya berjalan yang sesekali harus berhenti melayani jamaah yang tidak tahu arah mana mereka pulang, sebagian besar dari mereka yang salah arah adalah ketika mereka keluar dari pintu yang berbeda dari mereka masuk, karena memang ketika selesai sholat semua pintu keluar dibuka, berbeda ketika akan dilakukan Sholat, beberapa pintu ditutup karena diarahkan ke tempat lain yang lebih longgar.

Saya berjalan diantara pertokoan, dengan pasti menuju arah pulang berjalan kaki sendirian. Nampak beberapa orang tua menghentikan langkahku, karena seragam kebanggaan petugas yang selalu dipakai ketika keluar memudahkan mereka yang sedang kebingungan. sekelompok orang tua ini nampak bahagia, mungkin bertemu dengan petugas bagi mereka merupakan harapan besar untuk segera pulang.

Saya mengajak mereka menepi dari sengatan matahari di tengah jalan, terlebih arus jamaah yang sedang keluar masjid sangat banyak, sehingga jika harus kembali ke Masjidil Haram, mereka kesempatan. Ngobrol bersama mereka dan mencoba menjawab pertanyaan yang mereka ajukan dengan hati-hati, saya tahu mereka sudah tersesat beberapa kilometer, dan saya tidak ingin mereka orang-orang yang tidak muda lagi ini patah semangat menuju jalan pulang.

Mereka berangkat dan berhenti di terminal Syib Amir, sekitar 3 kilometer dari arah sekarang mereka berada, saya tidak menyampaikan bahwa mereka tersesat terlalu jauh, saya hanya menyampaikan harapan mereka dengan menunjukkan jalan pulang. Karena sejauh apapun kita melangkah, akan terasa menyenangkan dan indah ketika ada kepastian.

Saya begitu terharu karena menjadi jawaban bagi mereka yang tersesat dan menunjukkan jalan pulang, karena tidak ada orang yang tidak akan renta, dalam doaku ketika kita renta, tidak dikurangi nikmat pengingat, begitupun juga tubuh yang suatu saat juga akan rapuh, janganlah dikurangi kekuatan keimanan pada masa akhir kita menikmati kenikmatan iman. 

Jamaah haji dari Embarkasi SOC ini dipandu oleh satu orang yang masih muda. Saya mengarahkan mereka untuk kembali ke Haram, setelah melewati WC 6 mengambil arah kanan, dan lebih aman melewati jalan yang bergandengan dengan Masjid.

Memang WC merupakan tempat paling mudah untuk penanda, karena bangunan di pelataran masjid ini relatif lebih mudah terlihat dan mudah diingat dibandingkan dengan harus mengingat nama toko, hotel maupun bangunan lainnya.

Saya kembali berjalan kaki pelan menuju hotel yang jaraknya tinggal sekitar satu kilometer lagi, sambil sesekali mata terperangkap dengan pertokoan yang menjajakan berbagai jualan, saya memilih berjalan melalui trotoar agar sedikit terhindar dari sengatan matahari yang panasnya sekitar 47 derajat, beberapa orang berkulit hitam juga berjalan pulang dengan langkah cepat, rasanya sulit bagi saya dan Jamaah Haji Indonesia lainnya mengikuti kecepatan langkah mereka yang sepertinya tidak kepanasan berjalan ditengah jalan aspal.

Langkah terhenti ketika melihat orang tua dengan baju batik khas Banyuwangi berjalan dengan arah berlawanan, saya bergegas mendekati, kupegang tangannya dan saya tanyakan kemana tujuannya.

Orang tua ini nampaknya tertinggal dari rombongan, dia sendirian ingin mencari Terminal Jiyat, tempat bus shalawat menuju hotel, dia hanya tahu bahwa ketika datang dan pulang dari haram melalui terminal itu. Karenanya ketika dia merasa salah jalan, akan tetap mencari Terminal yang sama menuju pulang.

Saya ajak orang tua tersebut pulang berjalan kaki menuju hotel, karena hanya beberapa ratus meter lagi sudah sampai hotel, sedangkan jika harus ke Terminal Jiyat harus berjalan lebih dari satu kilometer. Bersyukurlah bahwa orang tua ini tersesat dijalan yang benar, dan memakai baju khas yang mudah dikenali serta dapat saya temukan. Bisa dibayangkan jika orang ini tetap kembali ke arah masjid mencari terminal, sudah berjalan jauh dan belum tentu segera ketemu.

Orang baik akan selalu diberikan kemudahan, terlebih keikhlasan mereka dalam menjalani perintah agama. Tuhan akan menolong mereka dengan mengirimkan orang yang tepat untuk menolongnya.


Makkah, Mei 2024 

Masjid Imam Bukhori di Madinah

 Masjid Imam Bukhori 



Tidak banyak yang tahu keberadaan Masjid Imam Bukhori di Madinah, meskipun letaknya tidak terlalu jauh dengan pintu utama Masjid Nabawi dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki, Masjid ini berada di sisi kiri pintu utama masuk Masjid Nabawi, kalau dari dalam Masjid Nabawi, kita bisa keluar melalui pintu 338 atau 340, beberapa bus yang ziarah keluar kota Madinah biasanya juga melewati masjid tersebut.

Saya ke Masjid Bukhori melalui pintu 333 atau keluar dari masjid Nabawi melalui pintu utama kemudian belok ke Kanan, beberapa warung makanan Nusantara tersedia di wilayah tersebut, sehingga disamping ziarah, kita bisa menikmati kuliner Nusantara.

Masjid berukuran 20x30 meter dan berwarna putih di ujung jalan tersebut diberinama Imam Bukhari sebagai lantaran di tempat ini dulunya Imam Bukhari menulis kitab yang menjadi rujukan umat Muslim di seluruh dunia, Kitab Hadist Shahih Bukhari yang berisi sabda-sabda Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam. 

Seperti Masjid monumen disekitar Masjid Nabawi, Di pintu masuk masjid terlihat ukiran kaligrafi "Masjid Imam Al-Bukhari".

Saat akan masuk ke bagian dalam masjid, kita akan melewati tangga-tangga kecil di depan masjid tersebut.

Di ruangan tempat salat akan tergelar karpet dengan warna merah. Di samping-samping temboknya banyak terlihat rak-rak buku yang berisi Al-Quran dan kitab haits Sahih Bukhari.

Masjid ini dinamai sesuai dengan nama seorang ulama besar dalam Islam, Imam Bukhori, yang dikenal luas melalui karya monumentalnya, "Sahih Bukhori", sebuah kumpulan hadis yang diakui otoritasnya oleh umat Islam di seluruh dunia.

Imam Bukhori, yang bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, lahir pada 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M) di kota Bukhara, yang saat ini terletak di Uzbekistan.


Ia dikenal karena dedikasinya yang luar biasa dalam mengumpulkan, menyaring, dan menyusun hadis Nabi Muhammad SAW. "Sahih Bukhori" adalah karya terbesarnya yang menjadi salah satu kitab hadis paling otoritatif dalam Islam Sunni.

Masjid Imam Bukhori adalah salah satu tempat ibadah yang memiliki nilai sejarah dan religius yang tinggi, terletak di kota Madinah, Arab Saudi.


Masjid ini dinamai sesuai dengan nama seorang ulama besar dalam Islam, Imam Bukhori, yang dikenal luas melalui karya monumentalnya, "Sahih Bukhori", sebuah kumpulan hadis yang diakui otoritasnya oleh umat Islam di seluruh dunia.

Imam Bukhori, yang bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, lahir pada 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M) di kota Bukhara, yang saat ini terletak di Uzbekistan.

Ia dikenal karena dedikasinya yang luar biasa dalam mengumpulkan, menyaring, dan menyusun hadis Nabi Muhammad SAW. "Sahih Bukhori" adalah karya terbesarnya yang menjadi salah satu kitab hadis paling otoritatif dalam Islam Sunni.

Pendirian Masjid Imam Bukhori di Madinah tidak hanya dimaksudkan sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai penghormatan terhadap warisan intelektual dan spiritual Imam Bukhori.


Meskipun Imam Bukhori tidak tinggal di Madinah secara permanen, ia sering mengunjungi kota ini untuk belajar dan mengajar, karena Madinah adalah salah satu pusat utama ilmu keislaman pada masanya.


Masjid ini dibangun untuk menghormati dedikasi dan kontribusi Imam Bukhori dalam ilmu hadis. Pendirian masjid ini didukung oleh berbagai pihak, termasuk pemerintah Arab Saudi dan donatur swasta yang ingin melestarikan warisan keilmuan Islam. Masjid ini juga menjadi tempat bagi umat Islam dari seluruh dunia yang ingin mengenang jasa besar Imam Bukhori.

Masjid Imam Bukhori dirancang dengan arsitektur modern yang menggabungkan elemen tradisional Islam. Hal ini terlihat dari kubah, menara, dan kaligrafi yang menghiasi interior serta eksterior masjid.


Selain sebagai tempat shalat, masjid ini dilengkapi dengan fasilitas pendidikan, termasuk perpustakaan yang menyimpan berbagai buku dan manuskrip tentang hadis dan ilmu keislaman lainnya.

Masjid Imam Bukhori tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran dan pengkajian Islam. Di sini, sering diadakan kuliah, ceramah, dan diskusi yang mendalami ajaran-ajaran Islam, khususnya yang berhubungan dengan hadis dan sunah Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, masjid ini berperan penting dalam melestarikan dan menyebarkan ilmu pengetahuan Islam.


Bagi jamaah haji Indonesia maupun jamaah umrah, ziarah ke Masjid Bukhori dapat dilakukan sambil menikmati wisata kuliner disekitar masjid atau di pintu utama Masjid Nabawi yang dibuka lapak-lapak kuliner dari berbagai negara.

Madinah, 06/07)2024.



Kebun Saqifah Bani Saidah

 Kebun Saqifah Bani Saidah



Terlihat biasa saja, seperti tak ada istimewanya, namun jika di perhatikan, tempat yang sekarang ditutup tersebut ada yang istimewa, sebatang pohon kering dibiarkan sendirian, padahal bisa saja buldozer disampingnya dengan mudah menumbangkannya. Letaknya tidak jauh dari Masjid Nabawi, jamaah haji Indonesia tahun 2024 dengan mudah menemukan di pintu 324, ada pagar mengelilingi yang nampaknya akan ada pembangunan baru di tempat tersebut.

Dipetilasan yang sekarang berada di lapangan luas yang dulu gedung-gedung tinggi menjulang, 1433 tahun silam, para sahabat Anshar berkumpul di sebuah kebun, sedianya mereka hanya ingin memilih pemimpin Kota Madinah setelah mangkatnya Nabi Muhammad.


Namun, kehadiran beberapa sahabat Muhajirin dalam forum di Saqifah, obrolan berubah ke arah siapa yang akan memimpin ummat Islam secara umum, bukan sekedar hanya pemimpin di kota Yatsrib saja. Maka setelah itu, dipilihlah Abu Bakar menjadi Khalifah secara mayoritas yang hadir.


Saqifah Bani Saidah atau As-Saqifah pada tahun 11 Hijriah silam merupakan bangunan beratap yang digunakan oleh kabilah Bani Saidah, suku Khazraj, salah satu kabilah yang berasal dari Madinah, Hijaz, barat daya Jazirah Arab.


Dulunya, Saqifah Bani Saidah yang letaknya berada di barat daya kediaman Nabi Muhammad Saw ini merupakan pemukiman dan perkebunan milik kabilah Bani Saidah. Pada awalnya bentuk saqifah sangat besar, dikarenakan saqifah berfungsi sebagai tempat berkumpulnya kaum Anshar.

Karena belum banyak gedung seperti sekarang, menurut beberapa sumber, saat itu di depan Saqifah terdapat halaman yang luas dan lebar dan di dekatnya terdapat sumur milik Bani Saidah. Saat ini, Saqifah menjadi sebuah taman berpagar yang didalamnya sedang ada aktivitas pembangunan sebagai salah satu rencana besar Kerajaan Saudi Arabia untuk pembangunan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, masyarakat tidak bisa leluasa bermain atau kongkow karena pagar proyek, terlebih hanya tersisa satu pohon kering saja di tempat tersebut.


Saqifah Bani Saidah kerap kali disebut dalam buku-buku sejarah Islam, terutama ketika menceritakan peristiwa pemilihan pemimpin pasca wafatnya Rasulullah SAW pada tahun 11 Hijriyah bertepatan dengan tahun 632 M.

Dari berbagai sumber, disampaikan bahwa pemilihan khilafah Islamiyah sejatinya sahabat Ansor saat itu sudah mempunyai dan sudah siap akan membaiat kandidat yang mereka usung, yaitu Saat bin Ubadah.


Namun, akhirnya, setelah terjadi berbagai diskusi, pertimbangan serta suara mayoritas forum yang hadir, terutama usulan dari Sahabat Muhajirin yang di antaranya Sahabat Umar, mengusulkan Abu Bakar. Kaum Anshor rela menyerahkan posisi khalifah kepada Sayidana Abu Bakar Shiddiq atas usulan Sayidina Umar, bahwa saat itu sempat terjadi perdebatan. Bahkan kelompok Ansor sempat berujar minna amirun wa minkum amirun yang artinya, dari kelompok kita memilih pemimpin sendiri dan dari kelompok lain memilih ketuanya sendiri juga.

pada akhirnya Sayidana Umar berhasil meyakinkan kaum Ansor sehingga mereka membaiat Sahabat Abu Bakar. Padahal, sebetulnya sahabat Abu Bakar cenderung memilih satu di antara dua orang, yaitu Abu Ubaidillah bin al Jarrah dan Umar bin Khottab, untuk menjadi khalifah.


Akan tetapi, Sayyidana Umar menolak dan berujar, "Bagaimana mungkin aku menjadi pemimpin umat yang di dalamnya terdapat Abu bakar". Dan Umar pun mengulurkan tangannya membaiat Sahabat Abu Bakar begitu juga dengan sahabat yang lainnya.


Melihat Taman Saqifah Bani Saidah, Saksi Bisu Pemilihan Abu Bakar Menjadi Khalifah


Taman berpagar setinggi dua anak-anak ini berisi berbagai tanaman. Namun, pohon kurma yang menjulang tinggi lebih mendominasi taman yang dulunya menjadi peristiwa penting setelah wafatnya Rosulullah.


Dipetilasan yang sekarang terhimpit oleh berbagai gedung ini, 1432 tahun silam, para sahabat Anshar berkumpul. Sedianya mereka hanya ingin memilih pemimpin Kota Madinah setelah mangkatnya Nabi Muhammad.


Namun, kehadiran beberapa sahabat Muhajirin dalam forum di Saqifah, obrolan berubah ke arah siapa yang akan memimpin ummat Islam secara umum. Bukan sekedar hanya pemimpin di kota Yatsrib saja. Maka setelah itu, dipilhlah Abu Bakar menjadi Khalifah secara mayoritas yang hadir.

Saqifah Bani Saidah kerap kali disebut dalam buku-buku sejarah Islam, terutama ketika menceritakan peristiwa pemilihan pemimpin pasca wafatnya Rasulullah SAW pada tahun 11 Hijriyah bertepatan dengan tahun 632.


Pakar Sejarah Islam Nasrullah Jasam mengungkapkan, bahwa pada peristiwa pemilihan khilafah Islamiyah sejatinya sahabat Ansor saat itu sudah mempunyai dan sudah siap akan membaiat kandidat yang mereka usung, yaitu Saat bin Ubadah.


Namun, akhirnya, setelah terjadi berbagai diskusi, pertimbangan serta suara mayoritas forum yang hadir, terutama usulan dari Sahabat Muhajirin yang di antaranya Sahabat Umar, mengusulkan Abu Bakar


"Perbedaan pandangan dalam memilih pemimpin adalah hal yang lumrah, dan ini terjadi antara sahabat dari kalangan Anshor dan Muhajirin. Bahkan kalangan bani Hasyim memiliki pandangan lain yang karena beberapa alasan cenderung memilih Sahabat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah," 

Sehingga, hal-hal yang sudah diputuskan akan menjadi keputusan bersama dan harus ditaati. "Demi kesejahteraan dan kedamaian ummat. 

Dalam hal ini, sikap Sayyidina Umar patut dijadikan contoh. Ketika Abu Bakar memintanya untuk menjadi seorang Kholifah maka dia tidak bersedia ketika masih ada orang yang kemampuannya diatasnya.

Semoga peristiwa Saqifah Bani Sa'idah bisa menjadi renungan bagi para pemimpin bangsa.

Saqifah Bani Saidah layak dikunjungi sebagai refleksi diri bahwa Hendaknya setiap orang menyadari dan mengukur diri akan kemampuannya,.


Madinah, 05/07/2024

Misteri Jabal Magnet

 Jabal Magnet Bukan Tujuan Haji

Oleh : Syafaat 



Fenomena Jabal Magnet. sesuai dengan namanya,  memiliki kandungan magnet yang sangat tinggi, akibatnya mobil-mobil di daerah tersebut bergerak sendiri, termasuk jarum kompas tidak dapat berfungsi akibat medan magnet yang sangat kuat. Saya tadinya juga penasaran dengan fenomena alam ini, tetapi setelah bersama jamaah haji Kabupaten Banyuwangi kloter SUB-58 berkesempatan ke tempat tersebut, dan bus yang kami tumpangi mencoba berjalan di medan magnet, bus tersebut bergerak sendiri ketika posisi persneling dalam posisi nol atau netral, pada jalur datar, bus ini berjalan seperti berjalan pada turunan yang semakin lama semakin cepat hingga mencapai kecepatan 100 km/jam, kemudian melambat ketika jalan mulai menanjak.

Jabal Magnet atau bukit magnet bernama asli Manthiqa Baidha atau perkampungan putih. Lembah ini juga disebut Lembah Jin, karena fenomena menarik yang tidak di dapatkan di daerah lain, sehingga mungkin dianggap semua itu dulunya dianggap ulah para jin.

Jabal Magnet berada di bukit tandus, sekitar 30 menit atau 60 kilometer dari pusat Kota Madinah, perjalanan menuju kawasan Jabal Magnet dipenuhi sejumlah perkebunan kurma dan hamparan bukit bebatuan, pada musim haji 2024 bersamaan dengan musim kurma, sehingga jamaah sepanjang perjalanan dapat menikmati pohon kurma yang sedang berbuah menguning, pemandangan ini sangat langka karena sulit dan hampir tidak di temukan kebun kurma berbuah lebat di Indonesia.

10 kilometer menjelang Jabal Magnet, ada sebuah danau buatan yang besar. Kemudian disambut oleh warna hitam dan merah layaknya batu bata yang mendominasi Jabal Magnet. Terlepas dari itu, keajaiban alam tersebut hanya berlangsung sekitar 1-4 kilometer dari arah kepulangan Jabal Magnet, ketika jamaah haji berhenti di kawasan wisata Jabal Magnet, jamaah memanfaatkan fasilitas naik onta dengan tarif SAR 10 setiap orang, dan satu onta dapat di naiki oleh dua orang.

Bagi jamaah haji Indonesia, meskipun tidak ada kaitan langsung antara ritual haji dengan mengunjungi Jabal Magnet, namun rasanya sayang jika dilewatkan kesempatan ke Jabal Magnet ketika jamaah berada di Saudi Arabia.

Guide bus menyampaikan bahwa Jabal Magnet pertama kali ditemukan oleh orang suku Baduy. Penemuan ini berawal dari kebetulan seorang anggota suku Arab Badui yang  menghentikan mobilnya karena keinginan untuk buang air kecil. Karena terburu-buru ia mematikan mesin mobil, namun lupa memasang rem tangan. Setelah ia selesai, dengan rasa kaget, Arab Badui tersebut melihat mobilnya jalan sendiri dan semakin melaju dengan cepat. Akhirnya, mobil itu berhenti setelah terperosok ke dalam tumpukan pasir di daerah tersebut.

Keanehan di Jabal Magnet disebabkan lokasinya berdiri di atas Arabian Shield tua yang berumur 700 juta tahun. Kawasan itu berupa endapan lava "alkali basaltik" (theolitic basalt) seluas 180.000 kilometer persegi. Lava tersebut kemudian muncul ke permukaan bumi dari kedalaman empat puluhan kilometer melalui zona rekahan sepanjang 600 kilometer yang dikenal sebagai "Makkah-Madinah-Nufud volcanic line".

Jabal Magnet memang bukan termasuk situs sejarah, namun banyak jamaah yang merasa rugi jika ketika sudah berada di Madinah tidak ke Jabal Magnet, meskipun bagi jamaah haji reguler harus membayar biaya transportasi sendiri.


Madinah, 04/07/2024.

KBIHU Al Mabrur Lakukan City Tour

Madinah (Warta Blambangan) Jamaah haji KBIHU Al Mabrur Banyuwangi, Kamis (04/07/2025) berkunjung ke kebun kurma Abu Faisal, jamaah dapat membeli kurma dengan sebelumnya bebas mencicipi semua bentuk kurma yang di jajakan. Ketua rombongan 2 Mustain menyampaikan bahwa hal ini di maksudkan agar menambah wawasan jamaah tentang perkebunan kurma. 


"bagi jamaah haji Indonesia dapat menikmati kurma fres merupakan hal yang langka" kata Nanang Mustain.

Para jamaah merasa puas dengan kunjungan ke kebun kurma ini, karena mereka dapat mencicipi segala jenis kurma dengan gratis sebelum mereka memutuskan untuk membelinya.

Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan KBIHU Al Mabrur untuk melengkapi city tour yang dilakukan pihak kloter.

Selain ke kebun kurma, jamaah haji diajak keliling kota Madinah dan mendapatkan penjelasan dari guide tentang beberapa tempat bersejarah di Kota Madinah terutama beberapa masjid yang dilewati.

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger