Pages

Sosialisasi Ingatan Kolektif Nasional di Banyuwangi

Banyuwangi (Warta Blambangan)
Perpustakaan Nasional mengadakan Sosialisasi Pengarusutamaan Naskah Nusantara sebagai Ingatan Kolektif Nasional (IKON) di Banyuwangi mewakili Provinsi Jawa Timur yang diadakan di Hall Room Aston, Selasa-Rabu (7-8/05/2024) yang diikuti para tokoh perguruan tinggi seperti IAII, UIMSYA, Untag Banyuwangi, pondok pesantren dan komunitas literasi dan budaya diantaranya DKB, Lentera Sastra, Komunitas Pegon dan lain-lain. di Kabupaten Banyuwangi dan daerah sekitar.
Kepala Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Agus Sutoyo dalam sambutannya menyampaikan bahwa perlu adanya jejaring antar perpustakaan agar masyarakat lebih gemar membaca, termasuk naskah kuno sebagaimana yang kita lakukan pada hari ini. "ada bentuk-bentuk naskah kuno yang dapat kita adopsi dan kita adakan festival literasi Nusantara" katanya. Literasi merupakan pekerjaan seluruh pihak yang tidak dilakukan secara bersama-sama. Bupati Banyuwangi Ipuk Fiedtisndani, dalam sambutannya melalui saluran virtual menyampaikan terima kasih atas kepercayaan pelaksanaan kegiatan ini dilakukan di Banyuwangi. Ipuk menyampaikan bahwa Banyuwangi mempunyai naskah kuno yang perlu di teliti dan dikaji sebagai nilai budaya. "mudah-mudahan dapat diajukan sebagai warisan yang dinilai abadi di UNESCO" kata Ipuk. Bupati Banyuwangi juga menyampaikan bahwa sudah saatnya kita menyelamatkan naskah kuno yang ada di Banyuwangi.

Perjalanan Muslim Level Lima

 

Perjalanan Muslim Level Lima

Oleh : Syafaat

 


Menjadi muslim yang dapat menjalankan semua rukun Islam merupakan impian umat Islam di seluruh dunia, namun tidak semua orang diberi kesempatan untuk menjalankan semua rukun Islam tersebut, karena dua rukun Islam paling akhir diperuntukkan bagi mereka yang mempunyai kelebihan harta, dan tidak diwajibkan bagi mereka yang tidak diberi kelongggaran harta yang cukup, baik zakat yang merupakan rukun Islam keempat maupun rukun Islam ke lima yang hanya dapat dilakukan di Kota Makkah pada hari tertentu saja.

Perjalanan Ibadah haji yang hanya dapat dilakukan satu tahun sekali menjadi dambaan setiap orang, sehingga antrian pendaftaran haji semakin hari semakin lama hingga puluhan tahun, bahkan tidak sedikit yang sudah mendaftarkan sebagai Jamaah Haji (istilah yang dipakai dala undang-undang bagi mereka yang sudah daftar haji), namun tidak ada kesempatan melaksanakan Ibadah haji karena terburu tutup usia. Begitupun sebaliknya, banyak yang mempunyai harta berlimpah, namun bellum ada kelonggaran hati dan pikiran untuk menunaikan ibadah haji dengan berbgai alasan yang ada pada diri mereka.

Perjalanan haji yang mulai pendaftaran membutuhkan waktu yang panjang dan berbagai liku tersebut membuat perjalanan haji bukan sekedar perjalanan ibadah biasa, yang waktunya bisa kita atur menurut kelonggaran kita, namun kitalah yang harus menyesuaikan diri dengan waktu dan tempat yang tersedia, sehingga kita harus dapat berbagi dengan sesama jamaah yang juga mempunyai kepentingan yang sama dengan kita untuk melaksanakan ibadah haji dengan sempurna.

Setiap jamaah haji inin sempurna dalam melaksanakan ibadah haji, sehingga meskipun pemerintah telah menjadwalkan manasik haji hingga delapan kalu sebelum keberangkatan, banyak jamaah yang nmerasa kurang dan harus menambah dengan biaya mandiri melalui KBIHU (Kelompok Bimbingan Ibadah haji dan Umroh) yang bukan hanya memberikan tambahan bimbingan manasik, namun juga menawarkan Wisata Religi selama di tanah suci, sehingga meskipun dengan tambahan biaya, para jamaah tidak perlu mencari biro perjalanan wisata sendiri selama di saudi. Hal ini berbeda dengaan jamaah Non KBIHU yang ketika mereka ingin melakukan wisata selama musim haji, mereka harus pergi sendiri atau dibantu oleh para petugas mencarikan kendaraan (dengan biaya mandiri).

Seandainya dibawatkan sebuah game, perjalanan haji merupakan Game level lima yang diatasnya sudah tidak ada level lagi, dan seharusnya bagi gamer yang telah melewati level lima ini telah haval dengan level-level diatasnya, melaksanakan setiap hari level pertama hingga level keempat tersebut, karena level lima merupakan level puncak dan level istimewa yang tidak semua orang diberi kesempatan untuk melaksanakannya.

Perjalanan haji bukan hanya dilihat daari dimensi religi secara sempit, namun ada dimensi sosial yang membutuhkaan pencernaan religi lebih luas, terlebih dengan pelaaksanaan perhajian yang lebih lama masa penantian daripada masa pelaksanaan. Terlebih dengan inden lebih dari sepuluh tahun untuk dapat melaksanakannya, bahkan semakin tahun semakin lama saja masa tunggu untuk dapatnya berangkat haji, yang sistim antrian ini tidak dapat di kompromikan untuk jamaah haji reguler, dan dikecualikan bagi yang me ngambil quota petugas.

Dimensi sosial dalam pelaksanaan ibadah haji nampak nyata bukan hanya ketika para jamaah yang bergabung dalam satu klotertelah betangkat ke tanah suci, namun dimulai sejak para jamaah haji tersebut berada di tanah air, sejak pendaftaran hingga melengkapi segala bentuk dokumen yang bisa saja mereka termakan para calo yang memanfaatkan situasi dari para jamaah yang belum pernah bepergian ke luar negeri.

Dimensi sosuial nampak nyata dalam ppelaksanaan perhajian, para jamaah dalam satu kloter dipimpin oleh ketua kloter dan petugas kloter sebagai pimpinan utama dalam kloter, yang kemudian para jamaah ini dibagi lagi dengan kelompok lebih kecil dalam rombongan yang terdiri dari beberapa regu. Kekompakan komponen kloter ini sangat menentukan keberhasilan ibadah haji dalam merasakan kenyamanan melaksanakan ibadah, karenanya sedikit saja mereka bermasalah, akan menimbulkan rasa kurang nyaman yang harus ditanggung oleh para jamaah.

Kick Off Pendampingan Sertifikasi Halal Dilaksanakan Serentak di Desa Wisata Banyuwangi

Banyuwangi (Warta Blambangan) Kementerian Agama bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menggelar acara “Kick Off Pendampingan Sertifikasi Halal” produk makanan dan minuman secara serentak di 3.000 desa wisata di 34 provinsi. Di Kabupaten Banyuwangi, acara ini berlangsung di Balai Desa Tamansari, Kecamatan Licin, pada Sabtu (04/05/2024). Program tersebut mencakup sosialisasi, edukasi, literasi, publikasi, dan sertifikasi halal bagi UMKM di lokasi wisata untuk mendapatkan layanan sertifikasi secara gratis. Hadir dalam acara tersebut, Staf Ahli dari Pemda Banyuwangi H. Dwiyanto, Kepala Kemenag Banyuwangi Dr. Chaironi Hidayat, serta Ketua Satgas Halal H. Jali beserta jajarannya, pelaku usaha UMKM, dan pengelola destinasi wisata. Staf Ahli Pemda Banyuwangi, H. Dwiyanto, menyatakan bahwa percepatan sertifikasi halal akan mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif pelaku UMKM, terutama di desa wisata. “Percepatan sertifikasi halal Ini akan mendukung tumbuh kembangnya ekonomi kreatif pelaku UMKM, khususnya di desa wisata,” kata H.Dwiyanto. Kepala Kemenag Banyuwangi, Chaironi Hidayat, menekankan bahwa sertifikasi halal di destinasi wisata bertujuan memberikan perlindungan kepada konsumen agar merasa aman terhadap produk makanan dan minuman yang dijual. “Halal dalam konteks ini adalah termasuk berkaitan dengan Higienis, mulai dari kesehatan, mutu, hingga kualitas dari sebuah produk,” ujar Chaironi Hidayat. Acara Kick Off Pendampingan Sertifikasi Halal produk makanan dan minuman ini dilaksanakan serentak pada 4 Mei 2024, di 3000 titik Desa Wisata di 34 Provinsi se-Indonesia. Tujuannya adalah memperkuat ekosistem Halal Nasional dan mempercepat sertifikasi halal produk, serta mendorong Pariwisata Ramah Muslim.

Rembuk Anak Kabupaten Banyuwangi

Banyuwangi (Warta Blambangan) Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Anak yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi telah berhasil menarik perhatian. Kegiatan yang diberi nama “Rembug Anak” tersebut bertujuan untuk menggali aspirasi dari generasi muda guna membentuk kebijakan yang lebih inklusif terhadap pemenuhan hak anak.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, dalam sambutannya pada Sabtu (04/05/2024), menggarisbawahi pentingnya memahami perkembangan pemikiran anak-anak di era modern ini. “Rembug Anak ini dibuat untuk memahami kebutuhan mereka di era saat ini,” ujarnya. Rembug Anak diadakan di pelinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, diikuti oleh 50 pelajar dari tingkat SMP/SMA dari seluruh Banyuwangi, termasuk perwakilan forum anak dari tingkat kelurahan, kecamatan, dan kabupaten, serta anak-anak berkebutuhan khusus (ABK). Diskusi terbagi dalam 5 kluster, mulai dari hak sipil dan kebebasan hingga perlindungan khusus. Ipuk menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi langkah awal untuk melibatkan anak-anak dalam proses pembuatan kebijakan. Salah satu perwakilan siswa, Bilquis Syifa Aziza, mengusulkan peningkatan kegiatan outdoor berbasis budaya lokal untuk mengurangi ketergantungan pada gadget dan game online. Sementara itu, M. Ega Arizona Vata mengusulkan pembuatan aplikasi adminduk khusus disabilitas untuk membantu teman netra mengenali identitasnya. Nabila Patricia Elita, Ketua Forum Anak, meminta sosialisasi pencegahan kasus pelecehan seksual, kekerasan anak, bullying, dan pernikahan dini ditingkatkan secara masif, bahkan hingga ke pelosok desa. Sebelumnya, peserta rembug juga diajak mengunjungi beberapa lembaga terkait untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang permasalahan yang dibahas. Ini termasuk kunjungan ke Dinas Pendidikan untuk membahas putus sekolah dan kecanduan game online.

Bimbingan Manasik Haji KBIHU Darussalam

Banyuwangi (Warta Blambangan)Jamaah haji Kabupaten Banyuwangi mulai melaksanakan praktik manasik di beberapa tempat, seperti yang dilakukan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh (KBIHU) Darussalam Blokagung Kecamatan Tegalsari yang berlangsung Sabtu dan Ahad (4-5/05/2024) yang dipandu Ketua KBIHU KH. Hasyim Syafaat diikuti oleh seluruh jamaah haji yang tergabung dalam KBIHU tersebut.
Nampak hadir dalam praktek bimbingan manasik tersebut Ketua Kloter PPIH Syafaat dan Pembimbing Ibadah Haji Kloter Muhammadun. Ketua KBIHU Darussalam Hasyim Syafaat menyampaikan bahwa praktek bimbingan manasik haji ini sangat penting agar jamaah lebih faham tentang perhajian. "mendekati pemberangkatan sengaja kita adakan lagi bimbingan manasik agar tidak lupa" kata Hasyim. Muhamadun menyampaikan bahwa yang disampaikan kepada jamaah merupakan ilmu yang akan di praktekkan dalam ibadah haji jamaah haji Kabupaten Banyuwangi yang berangkat pada gelombang dua. " kita praktekan perjalanan haji mulai pemakaian ihrom di Embarkasi Surabaya, dan niat umroh diatas pesawat ketika berada diatas wilayah Yalamlam" katanya. Kepada media ini Syafaat menyampaikan bahwa semakin banyak jamaah mengikuti bimbingan manasik, maka akan semakin paham jamaah dalam melaksanakan haji nantinya. "sebagian besar jamaah hanya mempunyai satu kali kesempatan untuk melaksanakan ibadah haji, sehingga jangan sampai salah, terutama yang wajib" kata Syafaat. Perlu diketahui bahwa Kementerian Agama telah menjadwal manasik haji di tingkat Kecamatan sebanyak 6 pertemuan yang diadakan di masing-masing kecamatan, dua kali di tingkat Kabupaten serta satu kali pemantapan ketua regu dan rombongan, dan setiap Kloter juga disiapkan Pembimbing Ibadah Kloter yang siap memandu Ibadah jamaah.

Kegaduhan Elit dan Frustasi Sosial

 Kegaduhan Elit dan Frustasi Sosial 

Oleh ; Dr. Emi Hidayati S.pd,. M.Si


Konfik kepentingan di dalam tubuh organisasi sosial ke”ummatan”saat ini menjadi isu hangat dan tranding topik, terutama dalam pusaran persaingan politik dan  kepentingan suksesi. Konflik ini melibatkan berbagai faktor yang memengaruhi dinamika internal sebuah organisasi, mengganggu  stabilitas dan integritas organisasi. Konflik kepentingan dapat muncul dalam berbagai konteks, mulai dari pemilihan pemimpin hingga penetapan kebijakan organisasi. Dalam banyak kasus, persaingan politik menjadi pemicu utama konflik ini. Sebagai contoh, kandidat yang bersaing untuk posisi kepemimpinan menggunakan berbagai strategi, termasuk manipulasi politik, memicu pertentangan dengan kepentingan banyak pihak atau individu dalam organisasi  lalu menciptakan gesekan  dan perpecahan.

Hampir di setiap perhelatan suksesi, Kita bersama telah berulangkali menyaksikan betapa para elit organisasi sosial ikut-ikutan begitu sibuk membincang segala bentuk  ketegangan antar politisi, kalkulasi koalisi, migrasi politisi ke partai sebelah, tawar-menawar kekuatan berkuasa dan oposisi, manuver saling serang antar elit, tentang hasil poling popularitas calon pimpinan daerah. Sangat disayangkan kegaduhan yang sengaja diciptakan oleh elit organisasi sosial  yang menguasai media di balik beban kebutuhan dasar masyarakat yang nyaris tak tertangani dengan serius. 

Hiruk pikuk yang tidak ada kaitannya secara langsung dengan urusan masyarakat, tidak menyentuh permasalahan ummat yang substansial.  Permasalahan  beban angka putus sekolah, angka kesakitan, pengangguran terbuka, kekerasan pada anak , kesehatan lingkungan, bentrokan pemuda, kerentanan pelaku UMKM yang terlilit rentenir ) . Meskipun terkadang para elit merespon masalah – masalah  krusial tersebut , tak jarang sekedar menabur citra sesaat, menampakkan eksistensi diri dan mendulang popularitas.

Bagaimana memahami fenomena konflik kepentingan dalam tubuh organisasi sosial  ?  ini adalah peran yang dimainkan oleh faktor politik, etika, dan kelembagaan. Memotret pemikiran Douglas North (1990) dan Merton (1996), bahwa konflik kepentingan sering kali muncul dalam konteks persaingan politik untuk mendapatkan kekuasaan atau kontrol atas suksesi kepemimpinan. Persaingan ini dapat mencakup berbagai taktik manipulatif, di mana elite organisasi menggunakan kekuasaan dan pengaruh mereka untuk memanipulasi proses pengambilan keputusan atau mengendalikan hasil-hasil politik sesuai dengan kepentingan mereka sendiri.

Manipulasi politik ini tidak hanya memengaruhi dinamika internal organisasi, tetapi juga berdampak pada prinsip-prinsip etika yang menjadi dasar integritas organisasi. etika memainkan peran penting untuk mengatur perilaku dalam organisasi sosial. manipulasi politik sering kali berujung pada penyalahgunaan kekuasaan dan pelanggaran norma-norma   dalam organisasi. Contoh konkret dari penyalahgunaan ini termasuk  kong-kalikong, nepotisme, korupsi, atau diskriminasi ( peminggiran ), serta mengabaikan mekanisme permufakatan. yang dapat merapuhkan khidmad organisasi. 

Peran kelembagaan sedang tertantang  oleh konflik kepentingan pada organisasi sosial . Kelembagaan merujuk pada struktur, prosedur, dan aturan yang ditetapkan dalam sebuah organisasi atau sistem sosial untuk mengatur perilaku individu dan kelompok, serta untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Kelembagaan dapat mencakup hukum, kebijakan, norma-norma sosial, dan praktik-praktik yang terbentuk dari waktu ke waktu dan memberikan kerangka kerja bagi interaksi sosial. kelembagaan bertindak sebagai pengatur dan penjaga etika, menerapkan aturan dan prosedur yang adil untuk menangani konflik internal dan eksternal. Dalam posisi ini kehadiran komite penjaga komitmen dibutuhkan.

Ketika organisasi terlibat dalam konflik internal yang dipicu oleh persaingan politik atau penyalahgunaan kekuasaan. Salah satu implikasinya adalah penurunan kualitas layanan yang diberikan kepada masyarakat., fokus mereka cenderung bergeser dari misi utamanya yaitu memberikan layanan yang berkualitas kepada ummat. terutama dalam bidang layanan dasar seperti  pendidikan, kesehatan, dan ekonomi rakyat.  Mengatasi konflik kepentingan dan mencegah implikasi buruk yang mungkin timbul, penting bagi organisasi sosial dengan mengutamakan transparansi, akuntabilitas, dan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip etika. Sebagaiman prinsip-prinsip dan pesan moral yang titipkan oleh para ‘alim “ Tashorruful iimam ‘ala ro’iyyah manuutun bil maslahah “.

 







PPIH Kloter Dapat Pemantapan di Asrama Haji

Surabaya (Warta Blambangan) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) kloter mendapatkan pemantapan petugas kloter di Asrama Haji Embarkasi Surabaya, Jumat (03/05/2025). Plt. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur Mufi Imron Rosyadi menyampaikan beberapa hal penting kepada PPIH, baik Ketua Kloter, Pembimbing Ibadah maupun Tenaga Kesehatan Kloter.
"Jangan sia-siakan kesempatan menjadi petugas haji, banyak yang ingin menjadi petugas, tapi sampai saat ini, mereka belum di beri kesempatan" kata Mufi. Mufi juga mengingatkan agar petugas kloter menunjukkan loyalitas kepada Bangsa dan Negara dengan memberikan pelayanan kepada Jamaah Haji dengan sebaik mungkin, sabar, tulus dan ikhlas, menunjukkan kepedulian kepada Jemaah Haji, tidak hanya jamaah haji yang didampingi dalam satu kloter tapi juga jamaah haji yang ditemui selama di Tanah Suci. "Sapa mereka, bantu mereka jika mereka mengalami kesulitan. Perkuat komunikasi, koordinasi dan sinergi sesama petugas, Ketua Kloter, Pembimbing Ibadah, Dokter, Perawat, PHD, Pembimbing KBIHU, Karom dan Karu, semua harus kompak dan sinergi dalam memberikan layanan kepada jamaah haji" kata Kabid Penais Zawa tersebut. Mufi mengingatkan agar jangan sampai petugas yang seharusnya melayani, malah justru dilayani. "tanggalkan seluruh atribut yang melekat pada Bapak/Ibu, status sosial, jabatan, kedudukan, dan lain sebagainya, murnikan dan mantapkan niat bahwa anda adalah Petugas Haji yang memberikan pelayanan kepada jamaah haji" katanya Para petugas haji ini mengambil quota petugas, sehingga merupakan kedholiman jika hanya beribadah seperti jamaah haji biasa dan tidak melaksanakan tugasnya, karenanya, bagi petugas, tugasku adalah ibadahku dan berpegang pada prinsip “BERIBADAH UNTUK MELAKSANAKAN TUGAS, BUKAN BERTUGAS UNTUK MELAKSANAKAN IBADAH
 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger