Pages

Siswa MAN 1 Banyuwangi Juara di Afrika

4 orang siswa MAN 1


Banyuwangi menyabet medali emas pada lomba tingkat internasional yang diadakan di Afrika. Ajang penelitian untuk kategori people choice award, yaitu penghargaan yang diberikan karena menjadi pilihan terfavorit dari masyarakat sains, Kepala MAN 1 Banyuwangi Sairoji memberikan apresiasi setinggi tingginya kepada pasa siswa tersebut. Hal ini disampaikan mantan Kepala MAN 4 Banyuwangi di ruang Kerjanya, Sabtu (29/8). 

Keempat siswa tersebut adalah Muhsinul Wafa, Neyriza Widya Pranata, Dinda Rima Rachcita Putri dan Hendika Putra Anugrah. "Menjadikan MAN 1 Banyuwangi sebagai Madrasah Literasi dan Madrasah Riset telah melahirkan banyak siswa berprestasi dibidang Literasi dan Riset" ungkapnya


Ditempat terpisah, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi H. Slamet juga memberikan apresiasi dan ucapan Selamat kepada siswa MAN 1 Banyuwangi yang berhasil menjadi juara ditingkat Internasional, H.Slamet yang pernah menjadi pengajar pada


MAN Banyuwangi tersebut berharap para guru terus memberikan bimbingan dan pendampingan terhadap siswa dalam berliterasi dan riset. "Kami turut bangga dengan berbagai prestasi dan kemajuan yang dilakukan Madrasah, terutama dibidang riset dan Literasi"  ungkapnya.

SENAPELAN DAN WAJAHMU

 Nurul Ludfia Rochmah

SENAPELAN DAN WAJAHMU


Bergegas melaju dalam keramaian 

Menelusuri masa silam dan mengingat kisah

Dari sini sejarah bermula

Kampung Bandar memberi jalan semesta

Memberi gelora adat Melayu 

Menggambari  langit Melayu

Bergegas mencari wajahmu 

dalam riuh Senapelan

Menjelajah tempat yang amat jelas di pikiran

Nanti ketika waktu meminjamkan kendaraan

Dan kesempatan memberi jalan

Tak lama akan kuangkut semua perbekalan 

dan juga perasaan

Mungkin dari Senapelan, sejarah baru dimulakan

Ketika dulu ia simpang lintas perdagangan

Lada, damar, kayu, gambir, dan rotan

Menjadi pekan saudagar tanah Minang

Hulu sungai Siak, wajah Senapelan berbiak

Aku membaca, bandar menjadi Pekanbaru

Kini atau entah nanti jadi jalan rindu

Setelah itu di simpang jalan

Jembatan Siak satu, aku mengeja nama

Entah Senapelan atau kampung dalam

Entah kenangan atau wajah yang terus kugenggam

MENARI

 Faiz Abadi

MENARI

Ku lihat batas langit

Sejauh batas panda gan

Malam semakin jahanam

Ketika kulumat rasa disemak belukar

Seolah pasrah namun menantang

Kau tiba-tiba pandangi rembulan

Debur ombak serakah

Memuncrat basahi bibir merekah

Jangan lanjutkan kisah 

Tubuh rebah bangkit

Tangan memeluk diri

Benarkah rindu harus serakah

Kangkangi lembah sakral

Demi tarian sesaat

Tenggelam sesat tanpa martabat

Baiklah ku peluk erat saja

Walau langkahi norma

Kupeluk hangat

Tepiskan gelora

Kutulis lunas

Entah mengapa

Angker malam lenyap seketika

Musik alam seperti terbenam

Tanganku hanya menari

Lalu membelai rambutmu

Kunikmati seperti sejumput kopi

Seperti bidak-bidak di kedai Catur

Ku korbankan demi gengsi

Menang

Tarianku tak lagi gamang

Enam jam sudah cukup

Bergulat rasa

Bergoyang tanpa irama pasti

Rinduku tambah merdeka

Sepi itu, Entahlah Apa Namanya

 Sepi itu, Entahlah Apa Namanya

By. Viefa


Sepi itu terus menggoda

Aku ingin berlalu saja

Mencari sisa-sisa rahasia yang dianugerahkan untuk semesta

Sepi ini terus melanda

Aku ingin menampik semua

Mistik suara menyusup gending purba

Oh angin mengering

Dimanakah kau sandarkan sisa suaraku yang pernah ku titipkan

Sepi itu bercerita

Riang di balik kaca hanya mampu kutangkap sementara

Selebihnya aku hanya mendengar redup celoteh makin sirna


Banyuwangi, 270821

#healing@viefa

Demi Sekolah di Madrasah, Dua Siswa Naik Turun Lembah dan Seberangi Sungai.

 Demi Sekolah di Madrasah, Dua Siswa Naik Turun Lembah dan Seberangi Sungai.


        Demi ingin tetap sekolah di madrasah, Sugihartono (13) dan Nur Halimah (8) penduduk Dusun Sempu harus berjuang ekstra keras untuk bisa mencapai Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Huda II, yang berada di Dusun Sumberan, Desa Gombolirang, Kecamatan Kabat. Keduanya harus berjalan kaki naik turun lembah dan menyeberangi sungai setiap pergi ke madrasah, s
eperti halnya ketika msngikuti PTM (Pembelajaran tatap Muka) Senin (23/08/2021)

Hal ini dilakukan jarak rumah menuju ke sekolah lebih dekat, kurang dari satu kilometer, dengan jalan pintas melewati lembah dan sungai ini, sedangkan jika melewati jalan kampung, harus memutar dan jaraknya sejauh sekitar 6 kilometer.

Meskipun perjuangan untuk mendpatkan pendidikan harus dibayar dengan konsekuensi keselamatan nyawa. Hartono dan Nur Halimah tak menunjukan sikap takut atau patah semangat berjalan kaki menuju ke sekolahannya. Rutinitas melewati jalan yang mereka anggap sudah tidak berbahaya lagi untuk menuju sekolah tersebut dianggap sebagai tempat bermain, sehingga dapat menikmati dengan riang gembira.

"Mereka sangat semangat ke madrasah, tidak pernah telat ketika ada kegiatan PTM" ungkap Sayu Agustin Izzatul Hilmi, guru pada MI Nurul Huda II.

Perjalanan mereka menuju madrasah sangatlah jauh, dan MI Nurul Huda II merupakan Mi terdekat dari tempat tinggal merena, terlebih ketika mereka mengikuti orang tuanya yang saat ini berada di dusun Sempu yang harus menyeberaang sungai ketika berangkat sekolah.

"Kadang kaki saya sakit harus jalan naik turun seperti ini setiap hari. Tapi ndak papa kak," kata Hartono polos. Yang memiliki keinginan menjadi seorang prajurit TNI. Sementara adiknya, Nurhalimah ingin menjadi seorang Dokter, karena ingin menolong semua orang.

Meskipun ada sekolah lain yang akses jalannya lebih mudah, keduanya mengaku tidak mau untuk pindah sekolah. Itu dikarenakan sudah merasa nyaman sekolah di MI tersebut. Selain itu perhatian dari para guru juga menjadi pertimbangan bagi kedua bocah tersebut. Hal ini dengann mengingat kedua anak tersebut sebelumnya rumahnya relatif lebih dekat dengan MI Nurul Huda II, karena saat ini yang bersangkutan pindah rumah mengikuti orang tuanya di Dusun Sempu, maka jarak ke sekolah menjadi lebih jauh. Yang bersangkutan mengaku lebih nyaman sekolah di MI Nurul Huda II, karena dengan alasan disamping tidak harus dengan suasana yang baru di sekolah yang baru, kedua anak ini juga tetap ingin sekolah di madrasah karena di Madrasah tersebut suasananya nyaman, materi pelajaran agamanya lebih banyak disamping yang bukan madrasah.


"Teman-teman baik semua di sana, guru-guru juga sangat baik ke kami. Jadi saya dan adik ndak mau kalau harus pindah sekolah," ungkap Hartono.

Jalan menuju ke sekolah tak selamanya mulus. Terkadang dengan kondisi jalan yang licin, mereka jatuh terpeleset. Bahkan pernah suatu ketika keduanya basah kuyub karena terjatuh ke sungai saat melepas baju untuk bersiap-siap menyeberang.

Beruntung buku pelajaran yang mereka bawa masih bisa diselamatkan karena selalu di masukkan kedalam kantong plastik. Keduanya terkadang harus basah-basahan saat sampai di sekolah.

"Saya sama cak Tono kadang jatuh kalau jalannya licin pas hujan. Baju jadi kotor. Dan waktu jatuh ke air jadi basah semuanya," ucap Nurhalimah.

Yang membuat haru, ketika sungai sedang banjir, Nur Halimah terpaksa harus digendong oleh kakaknya untuk menyebrang. Meskipun takut, tapi harapannya menjadi seorang dokter membuat tekad dan semangat Halimah tak pernah luntur.


Tidak ada jembatan penghubung bukan halangan bagi Hartono dan Halimah. Bagi keduanya, selagi masih bisa dilalui dengan jalan kaki, maka akan diterjang. Jika biasanya teman sebayanya selalu menunjukkan sikap manja kepada kedua orang tua maupun saudara terdekat, hal yang berbeda ada pada sosok Hartono dan Nur Halimah.

Ayah kedua bocah itu mengungkapkan jika semangat belajar dari anak-anaknya sangat tinggi. Meskipun harus menyebrangi arus sungai, Hartono dan Halimah tidak pernah sekalipun mengeluh kepadanya. Mereka nyaman dengan sekolah di madrasah, rasa kekeluargaannya sangatlah tinggi, dan sangat bagus untuk pembentukan karakter keagamaan bagi anak-anak.

"Saya salut. Sebisa mungkin makanya sebagai kepala keluarga saya harus memberikan pendidikan yang terbaik untuk Hartono dan Halimah," ucap Bajuri, ayah Surhartono dan Nur Halimah. Bajuri mengatakan, saat ini Hartono sudah menginjak di kelas 6. Salah satu keinginan dia setelah lulus dari sekolah MI Nurul Huda II adalah bisa melanjutkan sekolah di pondok pesantren.

"Maunya dia mondok di pesantren, insyallah semoga niat baik ini bisa terlaksana. Segala upaya insyallah saya perjuangkan demi masa depan anak," kata Bajuri. Sedangkan Halimah, masih duduk di bangku kelas 3. Entah bagaimana nasib Halimah saat berangkat dan pulang sekolah setelah kakaknya lulus dari MI, hal ini mengingat anak keduanya adalah cewek dan hanya sendirian ketika berangkat ke sekolah.

Sebagai orang tua, tentu mempunyai anak-anak yang rajin adalah suatu kebanggaan. Apalagi melihat semangat pantang menyerah anaknya tersebut menjadikan orangtua Hartono dan Halimah tambah giat bekerja. Namun begitu disamping kebanggaan orangtua, ada rasa cemas dengan keselamatan anak-anaknya. Sehingga setiap pagi dan waktu pulang sekolah pria yang kesehariannya bekerja sebagai buruh serabutan ini harus meluangkan waktu untuk menjemput di tepian sungai.

Itupun kalau pas ada dirumah. Jika saat bekerja di laut, Bajuri tidak bisa mengantarkan kedua anak kesayangannya itu ke sekolah karena harus bermalam berhari hari di tengah laut mencari ikan.

Bajuri menerangkan, ada jalan yang lebih aman untuk dilalui namun jaraknya harus memutar dengan jarak lebih dari enam kilometer. Meskipun bisa dilalui oleh motor, itupun masih harus ekstra hati-hati karena struktur jalannya yang licin ditambah lagi dengan tanjakan maupun turunan yang cukup terjal. Selain sosok yang tegar dan penuh semangat, rupanya Halimah kecil punya bakat terpendam. Ia ternyata hobi menyanyi lagu-lagu islami. Dia ingin sekali mempunyai sebuah tape recorder agar bisa menyanyi qasidah.

"Mau beli masih ngumpulin uang, inginnya tape recorder yang ada micnya itu biar bisa belajar qosidah. Gak tau berapa harganya. Masih ngumpulin rejeki," ungkap Bajuri.

Berharap Segera Dibangun Jembatan

Harapan dari Hartono dan Halimah sebenarnya sangat sederhana. Yaitu ada sarana penghubung berupa jembatan antar keduanya. Supaya akses jalan menuju ke sekolah favoritnya mudah dan terjangkau.

"Bukan hanya harapan Hartono dan Halimah saja, masyarakat setempat juga sebenarnya ingin ada jembatan penghubung. Supaya dua desa ini bisa tersambung, karena kedekatan warganya sudah terbangun lama," terang Bajuri.

Cerita semangat pantang menyerah Sugihartono dan Nur Halimah dalam berjuang mengeyam pendidikan memang perlu mendapat apresiasi. Tentu pemangku kebijakan wilayah setempat juga harus hadir dan turut andil dalam memberikan solusi terbaiknya.

Anggota DPRD Kabupaten Banyuwangi, Marifatul Kamila dari Fraksi Golongan Karya telah meninjau lokasi, dan berjanji akan memperjuangkan agar ada jembatan yang menghubungkan Dusun Sempu dengan Dusun Sumberan.Rabu (25/08/2021)


“Ternyata setelah kita terjun langsung ke lapangan kondisinya sangat ekstrem dan terjal, saya baru tahu hari ini. Yang dilewati pun jalan setapak yang lebarnya hanya setengah meter, bebatuan dan harus naik turun bukit. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana ketika hujan, pasti sangat licin sulit untuk dilintasi,” kata Rifa di lokasi.

Kepala Desa Gombolirang Muhammad Ridwan menyambut gembira dan berterimakasih kepada anggota dewan atas perhatian terhadap desanya.

“Terimakasih sudah mau membangun jembatan di desa kami. Akses terdekat untuk aktivitas masyarakat Dusun Sempu memang harus ke desa seberang. Jadi untuk jembatan memang perlu dibangun,” imbuh Ridwan. (syaf)

Cara mendaftar TTE di lingkungan Kementerian Agama

 

Cara mendaftar tte di lingkungan Kementerian Agama

Tanda Tangan Elektronik yang selanjutnya disingkat TTE adalah tanda tangan yang terdiri atas Informasi Elektronik yang dilekatkan, terasosiasi atau terkait dengan Informasi Elektronik lainnya yang digunakan sebagai alat verifikasi dan autentikasi. Pada lingkungan Kementerian Agama telah ada tte ini dengan aplikasi yang beralamatkan pada tte.kemenag.go.id. Pada aplikasi tersebut, pegawai di lingkungan Kementerian Agama dapat melakukan tte maupun juga penerima dokumen yang sudah di-tte dapat melakukan verifikasi keaslian dokumen yang diterima dan telah di-tte.

Untuk pendaftaran tte ini paling tidak hal-hal yang diperlukan adalah sebagai berikut:
  1. Penandatangan tte memiliki email berdomain @kemenag.go.id
  2. Mengajukan surat rekomendasi tte pada eselon 2 dan akan diterbitkan surat rekomendasi dari eselon 2
  3. Menyiapkan pendaftaran admin tte melalui sigap dengan rekomendasi bisa dari eselon 3 dengan syarat admin tte juga memiliki email berdomain @kemenag.go.id
  4. Menyiapkan file foto tanda tangan, KTP, dan rekomendasi tte dari eselon 2 
Langkah pendaftarannya sebagai berikut;
Pertama silahkan masuk aplikasi tte.kemenag.go.id lalu pilih klik tautan ini di bagian bawah form login tte (panah merah)
Setelah itu akan menuju form registrasi tte seperti pada gambar di bawah
Silahkan diisikan sesuai form seperti NIP (lalu cek otomatis data nama sesuai simpeg), NIK (KTP), lalu isikan sandi (2 kali), alamat email kemenag, upload foto ttd, ktp (maks 250 KB), serta file rekom (maks 400 KB)
Jika berhasil maka akan ada notifikasi pendaftaran akun berhasil, silahkan login
Ketika pertama kali login akan ada pesan menunggu verifikasi, verifikasi ini terkait dengan data yang kita masukkan. Bila suatu saat nanti ternyata verifikasi gagal, maka kita tinggal melakukan perbaikan data di aplikasi tersebut dan ajukan verifikasi ulang.
Selanjutnya kita juga bisa melihat profil dari pengguna tte seperti contoh di bawah pada menu profil
Selain itu ada juga menu inbox, tempat nanti dokumen yang akan di-tte
dan menu lainnya adalah Dokumen DS
Jika status akun telah terverifikasi, selanjutnya pemegang tte dapat masuk pada email @kemenag.go.id untuk membuka link verifikasi dari BSrE dan akan muncul isian seperti gambar di bawah, dimana pemegang tte harus mengisikan data-data serta melakukan foto selfie KTP dan foto diri (tidak bisa menggunakan file yang sudah ada, namun harus langsung melakukan foto seperti ketika kita upgrade akun gopay misal)
Jika selesai akan muncul kebijakan provasi yang harus disetujui (submit) seperti gambar di bawah ini
Jika berhasil maka akan muncul notifikasi seperti berikut
Dan pengguna tte akan menuju aplikasi BSrE seperti gambar di bawah
Nah informasi lain yang penting dan menunjukkan keberhasilan pendaftaran tte ada di email seperti gambar di bawah
  1. Aktivasi Akun ; adalah email pertama untuk melakukan 4 langkah terakhir di atas
  2. Set Passphrase ; mengandung link yang akan digunakan untuk menentukan passphrase (semacam pin) untuk tte nanti
  3. Informasi Akun ; berisikan akun login dalam portal bsre, berisikan user id dan password untuk masuk portal bsre
  4. Permohonan Penerbitan Berhasil ; berisikan notifikasi bahwa sertifikat tanda tangan elektronik / tte / esign telah berhasil, biasanya didapat stelah proses pengisian passphrase


Jadi, akan ada 3 akun bagi pengguna tte yakni

  1. email kemenag, akun ini bisa digunakan sebagaimana email biasa
  2. akun tte, dimana biasanya login menggunakan NIP (kecuali admin tte) dan digunakan nanti untuk melakukan tte
  3. akun portal BSrE, bisa dibilang sebagai akun pancingan menuju tte, karena sertifikat elektroniknya yang menerbitkan BSrE ini, sebenarnya bisa juga digunakan untuk esign namun hanya dibatasi 100MB ketika tulisan ini dibuat, maka tetap disarankan untuk melakukan tte pada aplikasi tte.kemenag.go.id

PERJALANAN SETELAH PERSAKSIAN

 Faiz Abadi

PERJALANAN SETELAH PERSAKSIAN 

Aku lahir dan besar di kaki ijen

Spiritualku diantara auman macan jawa, desis ular kobra, ditengah belantara

Sebelum kabar dari sembilan kekasih dari langit samawi

Gigitan berbisa, cakaran raja rimba takkan terasa

Tawa peri, kuntilanak, genderuwo, pocong, raja siluman

Hanya seperti musik pengantar tidur

Belum lagi bertahun menyatu dalam debur ombak plengkung

Hening dalam auro Purwo

Beranikah datang hanya orasi

Basi seperti janji pepesan kosong

Namun ketika yang datang Syeh maulana isyak

Akupun terisak 

Jinakkan kobaran membara

Langitku tunduk pada langitnya

Tanpa harus kehilangan muka

Datanglah semua

Disini miniatur bhineka tunggal ika

Segala suku

Juga segala puncak ilmu hutan-hutan pertapa

Wahai dengarlah

Lahirmu bukan biasa saja

Apakah mungkin sayu wiwit hadir dengan kecengengan

Sedangkan laki-laki kompeni terkebiri

Apakah mungkin Prabu Tawang Alun gegerkan puncak Raung

Hanya dengan tekad munajat sekedarnya

Hingga Sang Maha perkasa limpahkan Gagahnya

Macan putih tunduk

Menjadi tunggangan 

Begitu pula ketika Buyut Wongsokaryo murka

Sabda lumatkan kesombongan 

Pada Agustus ini para syuhada tetap berharap 

Lanjutkan persaksian dengan pengorbanan

Lare osing takkan terjunggal 

Kecuali sesaat 

Menghela nafas

Kemudian kembali kibarkan

Kobarkan dilangit Belambangan

Raga bumi pertiwi dari ujung timur Jawa

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger