Pages

LEPASKAN JARING-JARING SUTERA

 Faiz Abadi

LEPASKAN JARING-JARING SUTERA

Begitu halus menjerat

Tak terasa usia hampir sekarat

NamaNya sering hanya lewat

Tanpa suluk apa bisa

Atau titipkan pada sholawat

Atau bermunajad bersama para kekasihNya

Pada belantara tanpa petunjuk jalan tak bisa

Sedangkan kuda-kuda jalang terus meradang

Sang penggoda telah ikrarkan diri

Segenap pintu dimasuki

Hingga sebanyak-banyak manusia kelak ikuti

Tebarkan jaring selembut sutra

Banyak tak melihat

Bahkan sampai akhir hayat dikandung badan

Lihat utusan Musa malu pada khidir

Utusan Ayub tak lelah didekap derita

Utusan Sulaiman tak lengkah

Dipeluk singgasana berbalut emas permata

Semua adalah jaring sutra bagi yang alpa

Lalu terperdaya

Tak terasa berhari-hari berenang dalam mimpi

Semu terus sepanjang waktu

Ketika waktu tinggal setarik nafas

Menangis telah terlambat

Sia-siakan amanat 

Ayo lepaskan kepakkan sayap 

Kibarkan bendera 

Hingga sukma merdeka

Lepaskan dari kukungan belenggu nikmat sesaat

Lewat tujuh pintu penyesat

Selebrasi Praja 28

 *Selebrasi Praja 28*

Derap gegap langkahmu pagi ini

Adalah perjuangan panjang yang kau lalui

Janganlah langkahmu terhenti

Karena ini baru mulai

Air mataku berderai

Ketika tanganmu tegap melambai


Hatiku selalu bersamamu

Dalam setiap derap langkamu

Sejak dalam rahim ibumu

Hingga ke peraduan terahirku


Perjuangan belumlah tuntas

Selebrasi hanyalah batas

Mendapatkan janji seutas

Bumi pertiwi memanggilmu bergegas

Kami telah rela melepas


Wahai para praja

Yang keluar dari lembah para kesatria

Aku tak sempat menghamburkan raga

Menyambutmu dengan segera

Percayalah, batinku tersiksa

Diantara rasa bahagia


03082021

Aku Kangen Mendekapmu

 *Aku Kangen Mendekapmu*


Sudah lama kutunggu

Rindu menghentak kalbu

Riuh mendendam seperti genderang perang

Menghentak ingin segera berangkat


Empat tahun bukan waktu yang lama

Terasa sebentar saja

Lebih lama menunggu esok rabu tibaa

Rasanya begitu sesak di dada


Aku kangen mendekapmu

Mendengarkan ceritamu

Tentang masa depan yang terlihat mapan

Tentang cinta yang lama telah kau angan

Lekaslah mendekap

Biar kuusap peluhmu

Biar tuntas menetes air mataku

Melihatmu menempuh bahagia


Ayo bergegas

Di BKD kita berjumpa

Hati tak lagi hampa

Meski tak kubawahakn buah naga


🙏03082021

DALAM NAFAS TERBATAS

 Faiz Abadi

DALAM NAFAS TERBATAS

Tunggu apa lagi

Satukan pikiran satukan jiwa

Sebut nama hingga tinggal rasa

Sirnalah dalam fana

Barulah kenal diri sendiri

Terbukalah rahasia adaNya

Lenyaplah mimpi puas dunia

Lenyaplah kelezatan terkadang menyesatkan

Lewati syariat

Jalani tarekat

Tenggelamlah dalam hakekat

Puncak makrifat biarlah datang atas kehendakNya

Tunggu apalagi

Haruskah disadari

Saat kain kafan menghampiri

Tiada lagi kesempatan

Padahal jalan-jalan telah ditunjukkan

Namun tetap saja

Angan-angan ikuti hati berbolak balik

Ikuti siang-malam

Pagi pun selalu hampa

Sang kekasihNya ada dimana-mana

Tuntunkan jalan menuju kesempurnaan

Tinggal mau atau tetap putus harapan

Ilusi terus bernyanyi dalam lorong lingkaran hampa

Hentikan ....

Masih ada waktu 

Bercermin pada semesta

Apalagi wabah tak juga berhenti

Masihkan merasa

Hidup atas mau sendiri

TANGIS BAYIKU

 Abdullah Fauzi

TANGIS BAYIKU

tiga hari lalu

Ibu bayi ini mati

Karena kekurangan darah saat melahirkan

Ayahnya tak bisa pulang

Komunikasipun hilang

Malam ini

Persediaan susu kaleng habis

Lengking tangis haus tak mampu kuredam

Kucoba dendangkan ninabobo

Iapun diam

Matanya memejam

Tapi bibir mungilnya masih merintih

Aku coba ikut pejamkan mata

Tapi laparku membuat mata terus terjaga

:lalu bagaimana dengan bayiku?

Kugendong ia dengan selendang Juwono

Kugayuh becak telusuri jalan kota

dengan harap ada iba 

menghampiriku

Tapi tidak

Jalanan sepi

Jalanan gelap

Jalanan banyak yang di tutup

Jalanan dijaga

Semilir angin menggugah tangis bayiku

Melengking penuhi kematian hati siapa saja

Bwi 100721

Lapar di sepertiga malam*❤️

 Puji

*Lapar di sepertiga malam*❤️


Jam dinding di gubuk ku

Detaknya memburu

Gulitaku terganggu

Oleh getarannya


Aghh

Wes meh subuh

Jare wes sepertiga malam

Namun hamparan selimut ini

Lebih ingin kunikmati


Batinku perang

Antara memelukmu

Atau bercengkerama

Dengan sang pemberi

Kehidupan ini..


Satu...

Dua...

Tiga...

Empat...

Asmara kita

Nafas kita

Tergeletak di ujung ranjang nestapa


Aku lapar

Di sepertiga malam

Tuhan imbuhkan

Dahaga Iman

Dalam untaian pinta


Hingga muadzin di mushola mengumandangkan

Suara panggilan adzan

Aku masih lapar

Dalam sajadah panjang

Hingga genangan tak tersisa 


Aghh, Tuhan

Sepertiga malam

Hampir hilang

Tapi lapar ku

Belum terkabarkan

Kenyangnya kapan...


_pak, saya lapar_

😭

LUMATLAH WADAH TELANJANGKU

 Faiz Abadi

LUMATLAH WADAH TELANJANGKU

Telah terbuka dada lebar

Namun kau lewat tanpa menyapa

Nyanyi dalam perih

Seperti buih dikulum lidah samudra

Ku sebutkan nama

Hingga hilang dalam hampa

Tinggalah jembatan rasa

Setelah melewati titian fatamorgana

Berenang-renang dalam harapan

Bercampur noda cinta dunia

Rasa ini tidak pernah mati

Menembus jasad 

Terbang di antara ruang-ruang kosong

Lidah-lidah menjulur pernah memperdaya 

Tersungkur sebentar pada lautan fitnah

Telah ku buang segala rasa gamang

Jasadku telah berbungkus kafan dunia

Lalu garang ku hempaskan ke bumi

Tak lagi menyeringai

Pada manusia-manusia hina papa

Telah telanjang segenap wadah jiwa

Jangan hanya terima sekejab

Sabarku sudah merasuk ke dalam darah daging

Kegelapan  sama sekali tak menakutkan

Terbenam dalam mimpi

Terkadang pudar lewati air selokan

Namun kemarilah

Jangan pernah lepas peluk kasihmu

Di sini pada lubuk rasa paling dalam

Kemudian terus terbawa melintasi lima penjuru alam

Dari sebelum bertapa pada rahim ibu

Berhenti pada upacara perhitungan di Padang  Mahsyar

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger