Pages

BUDAK DI DEPAN BIDAK

 Faiz Abadi

BUDAK DI DEPAN BIDAK

Hari terus menapak senja

Bidak-bidak catur terus terhempas

Kemenangan sang raja adalah segalanya

Seperti juga dirimu

Jika mabuk kepayang saat betkuasa

Tangisan derita nyanyi menyebalkan

Derita kekalahan adalah gelak tawa

Ha...ha...ha...

Angkuh adalah batu karang

Rapuh terhempas kesana kemari

Menari dalam senyum pahit

Kau tahu

Semua tahu

Ha...ha...ha

Biarkan memelas

Mana mungkin peduli

Ha...ha..ha..

Skak mat dia tertunduk malu

Siapa menyuruh kalah

Bukankah nasib si lemah seperti bidak-bidak jadi budak

Ha...ha...ha...

Sejak dulu tangan kurus menggapai-nggapai

Wajah-wajah pongah terus menginjaknya

Dasar nasib orang-orang selalu kalah

Nasibpun sama Jadi budak seperti bidak-bidak

Ha...ha...ha...

Tapi terkadang hati kecil bertanya

Penyiksaan oleh derita

Pantaskah hanya dimiliki mereka

Kemiskinan dan kekalahan adalah bahan perundungan...

Ha....ha...ha...

Tertawalah sepuasnya

Tapi ingatlah kau pun pasti mati

Tertikam sombong sendiri

SINGGAHI AKU WALAU SEKEJAP

 Faiz Abadi

SINGGAHI AKU WALAU SEKEJAP

Aku melihat wujudmu ketika itu

Di tepi pantai

Di batas pandang semesta

Aku melambai tapi tak kau hiraukan

Bagaimana jiwaku tidak luka

Harapan abadi terhempas merana

Aku terus mencarimu

Semakin luka dengan kerinduan

Sapalah aku

Bibirku lama menggigil

Terjerat dingin beku

Tanganku terus memegang bara api

Agar harapanku terus terbakar

Pandanglah aku singgahi diriku

Telah lama kau hidupkan

Haruskah lenyap tanpa apa-apa

Dengarkan lafadzku

Telah hilang berganti rasa

Tanpa ingin memiliki apapun

Kecuali tegur sapaMu

MENYEMAI RINDU PADA SUNYI

 Faiz Abadi

MENYEMAI RINDU PADA SUNYI

Ketika malam datang hatipun lengang

Seperti melewati tebing-tebing tinggi

Melintasi hutan belantara

Berteriak ditengah gulungan ombak samudra

Melihat jurang dalam menganga

Berenang dalam kawah ijen 

Melintasi puncak gunung 

Dudiuk bersila di atas nyiur melambai

Berbaring di atas bebatuan sungai paling deras

Lalu rindu tersemaikan begitu saja

Pada segenap kesunyian

Jiwapun mengembara

Mencari asal muasal cinta sebenatnya

Setelah tercampakkan pada birahi binal

Menari di atas gelimang emas permata

Tertawa-tawa di atas singgasana

Terperosok pada segenap candu

Terbenam pada rasa memiliki

Enggan kehilangan

Kemudian terbelenggu dengan fatamorgana

Cinta sejati membara di ujung bibir malam temaram

Hati bernyanyi ketika usia menjelang senja

Tertambat pada daun-daun kering

Dahan ranting patah

Pohon tumbang karena tua

Sejak di dalam rahim ibu

Cinta itu telah diikrarkan

Tetapi meranggas ketika alpa dan lupa

Belum terlambat sebelum sekarat

Pada kidung di kesunyian taburkan kembali

SETIA

 *SETIA*

Oleh : Nur Khofifa

Mau kemana kau setia

Berarak tawa dalam tangis tak berdaya

Lelaki iseng  diamuk kata 

Ada Wulandari yang mengigau dalam gigilnya

Jopuro mengedip sebinal alunan tari sidatnya

Mau bilang apa kau setia

Mencumbu rayu pagi meminjam cerlang cerah matahari

Matahari kan berkata padamu

"Tunggulah cintamu di langit biru"

 Ada sampur merah membelit leher jenjangnya

Ada ranum bibir mengecup lembar Mega

Kasih Wulandari dan Kerling Jopuro yang terus mengendap

Di hati

Masuk 

Rengkuhlah...

Jangan hanya mengais kata


isukiling@Viefa

Mngr, 250721

AKU MASIH bermimpi

 Giono

AKU MASIH bermimpi 


Pagi buta kau tlah datang di  huma kecilku 

Entah apa yg ingin kau ceritakan padaku 

Kau bawa sekeranjang kecil buah apel kesukaanku

Dengan mata nanar kau bilang ai lop yu 


Bibir merahmu selalu saja mengingatkanku 

Saat pertama ku kecup pelan dlm pelukanku 

Maauklah ..silahkan masuk  kataku 

Kau masih seperti latipa yg dulu ..

Embun Sepi

 Fatah Yasin Nor

*Embun Sepi*


Tak ada puisi pagi ini.

Sebab dingin menusuk tulang bahasa.

Menghisap tuntas sumsum kata.

Di atas bara arang dan sujen

Kau kipasi seperti cinta.

Unggun sajak tak kuasa menahan angin

Meski telah kupanggil perempuanku.

Bersetubuh, beralas rumput angan.

Semuanya basah oleh embun sepi. 

Kekasih jauh di pulau.

Dalam arti yang sebenarnya.


Wahai cintaku kenapa kau pergi?

Langit bersedih rindu kasihmu

Memeluk malam dalam kamar

Lampu temaram dan selimut kumal

Melirik percakapan grup yang sepi


23072021

Dosa

 Fatah Yasin Noor

*Dosa*


Selamat Idul Adha, kawan.

Mari kita sembelih

Apa saja yang bisa disembelih

Siapkan boding walau

Tak punya kambing

Siapkan arang kalau

Ingin membakar daging


Pergi ke langgar untuk

Takbiran bersama

Jangan cemaskan virus Corona

Selamat Idul Qurban, kawan

Ingatlah kembali sejarah

Yang bisa menuntun takwa

Itu nyata bisa menghapus dosa


Selasa, 20 Juli 2021

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger