Pages

MENYISIR LERENG LERENG TERJAL

 Faiz Abadi

MENYISIR LERENG LERENG TERJAL

Ijen ..

Tinggi menjulang walau tampak jauh

Memandangmu seperti hendak bercengkrama

Seperti menantang untuk dijamah dengan segenap eksotikmu

Api birumu seolah bercerita tentang nirwana

Negeri para peri menyambut para patriot negeri

Walaupun tak mungkin cuma diam disini

Agar mampu menjamah segenap lekuk tubuhmu

Lelah pasti lelah

Menggenapi seluruh ujung indahmu

Tak mengapa lereng-lereng terjal harus terlewati

Takkan menyerah 

Engkau telah menghipnotisku

Lalu silir angin bertiup membiusku

Semakin meradang

Setelah lereng-lereng terjal

Puncak bukitpun kuraih, kujamah

Takkan rela melepasnya

Hingga kabut berganti rupa

Bersama para pemikul-pemikul belerang

Selalu setia ceria diantara kesunyian

Sesekali auman si kucing hutan menyapa

Siapapun menjarah hutanku

Aku akan mencabikmu

Tinggalkan tempat ini

Kembalilah pada jalan terjalmu sendiri

Cascara*

 Syafaat

*Cascara*


Seperti biasa di rumah Bu Lutfi

Ada banyak ragam kopi

Kunikmati Cascara kulit kopi

Meski kulitnya tapi rasanya beda

Seperti BeHa dan Payudara


Kunikmati Cascara

Tanpa cafein di dalamnya

Kutuang perlahan di lembah cinta

Bergegas melambai kepada rindu asmara

Biarlah dia menikmati nestapa

Aku akan sangat bahagia


Cascara masih kunikmati

Dari bibir sepi

Menghujam rasa seperti tiada

Membilang jarak luka

Pergilah jauh kau kebalik dunia


Aku tak tahu ini Robusta atau Arabika

Tak seperti membedakan perawan atau janda

Jelas beda kopi dan robusta

Seperti juga rindu dan cinta


Merindumu menambah derita

Mencintaimu kunikmati luka

Mengimpikanku dalam bingkai malam semesta


22072021

Sambat Dalam Puisi*

 Fatah Yasin Nor

*Sambat Dalam Puisi*


Malam tampak lesu kekurangan angin. Maut seperti mengintai di balik pintu. Kengerian merambat diam-diam lewat aliran darah. Kegelisahan yang sulit dijelaskan. Perasaan mencekam sampai ke jantung. Seperti bendungan jebol. Gempa bumi dalam tubuhku. Doa istighfar terus dipanjatkan. Tak tahu kenapa aku dilahirkan. Merasakan nggeliyeng yang mencemaskan. Bukan mengingkari nikmat. Karena ajaib kita masih bernapas sampai detik ini. Ajaib ada waktu yang menentukan usia. Kebingungan dan ketidaktahuan. Kenyataan berjalan absurd dalam kegaiban. Mungkin besok mereda dengan sendirinya. Tiba terjaga dari tidur. Getarannya yang sampai ke sini. Kesedihan datang dari luka. Sakit datang dari penyakit. Seseorang sakit di rumah saja. Di pulau mana aku memerih?


Kamis 22072021

Elegi gelap wulandari*

 Ismudiarto

*#Elegi gelap wulandari*


Sepi menggilas naluriku/

Jalan-jalan kian senyap dipermainkan ketakutan/

Gelap telah termaknai disudut mulut² tuanku/

Suara helaan perut adalah keluhan dari si tersingkir yg butuh sesuap nasi/

Ah..... gelap apakah tidak memungkinkan timbulnya pikiran jahat ... untuk memanfaatkan situasi/


Gelap..... apakah ini keinginan *wulandari* agar aku bisa menyusul di peraduannya


23.00 /21.07.2021

lolong dari waktu

 Ismudiarto

*#lolong dari waktu*


Mata rasanya begitu sulit terpejam/

Sementara raungan bunyi kucing gorang menyayat hati dari kejauhan/

Merintih ... memelas dan kadang terdengar sayup suara tangis si kecil timbul tenggelam dipermainkan sepi/

Ah..... apa yg akan terjadi lagi disela malam menjelang pagi/

Ohhhh.... dentingan di lubang telinga mulai terngiang kembali/

Kau kirimkan kabar apa lagi kepada kami² di jeda waktu menjelang. 


02.09

EXCELSA

 Nurul Ludfia Rochmah

EXCELSA

Excelsa nanar

Senyum hambar

Serupa lantak emas

Bulan lalu berkarung-karung dikemas

Dipukul harga beras

Dipikul tengkulak bergegas

Seharusnya ia berguru dan menegak dagu

Dari luka yang dirawat bertahun beribu

Hanya Senyuman

 Fatah Yasin Nor

*Hanya Senyuman*


Harum kembang kopi di Telemung.

Pagi masih menggigil.

Mestinya aku lari ke plengsengan.

Mendengar sayup alunan ombak.

Selat Bali masih menyimpan ikan.

Burung putih mendarat di lambung perahu.

Rasanya ingin ikut menjerit

Ingat temanku yang menghilang.

Sudah lama sekali 

Kini semakin tua.

Tak punya bekal untuk dibawa pulang.

Ingin menebar amal tak punya uang.

Apa cukup dengan senyuman?


Juli 2021

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger