Pages

Untuk Cinta

 *Untuk Cinta*

oleh : Fatah Yasin Nor


Tak perlu lama

Untuk mencintaimu

Dari hari demi hari

Terus menggumpal

Membentuk biru

Seperti warna langit

Hiasan kapas putih

Mega-mega berarak pelan

Di tepi pantai


Tapi entah sejak kapan

Aku mencintaimu

Naik turun ke tangga gelap

Sampai hapal di tingkat berapa

Ada segumpal sunyi

Lama duduk di situ

Seperti menampung kesedihan

Atau warna senja yang meredup

Dan cinta adalah


Rumah panggung kayu jati

Menyimpan masa kanakku

Hanya takjub untuk sembunyi

Dari suara-suara pecah

Dari kayu bakar dan asap

Dan belumbang

Ibu yang pandai memasak


3062021

ENTERPRENEURSHIP MADRASAH DENGAN KOPI WINE

 ENTERPRENEURSHIP MADRASAH DENGAN KOPI WINE  

Oleh : Sri Endah Zulaikhatul Kharimah



Enterpreneur adalah jiwa dan semangat yang melihat berbagai macam keadaan sebagai peluang finansial. Kemampuan ini sangatlah dibutuhkan bagi generasi milenial untuk kehidupan mereka dimasa mendatang. Bangsa yang maju adalah bangsa yang mampu mencetak sebanyak mungkin generasi entrepreneur didalam proses edukasinya sehingga sesorang akan memiliki kreativitas serta inovasi melihat kondisi masyarakat sekitarnya.

Terkait dengan hal tersebut, madrasah yang selama ini bergerak dibidang edukasi perlu melihat tantangan Revolusi Industri 4.0 sebagai alat untuk memperkuat madrasah. Inovasi yang diambil dalam menjawab tantangan tersebut tak lain adalah pengembangan jiwa entrepreneur yang berdasar pada akhlaqul karimah. Inovasi ini sekaligus meningkatkan daya saing madrasah terhadap kompetensi dunia pendidikan yang bertumpu pada pengembangan karakter dan pembelajaran berbasis kecakapan hidup (life skills)

Madrasah adalah icon pendidikan yang memadukan kurikulum pendidikan nasional dan pendidikan keagamaan. Perpaduan ini menjadikan madrasah sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk mendidik putra-putri mereka berwawasan keilmuan sekaligus berakhlaqul karimah. Tantangan revolusi industry 4.0  yang mengedepankan aspek kemampuan (skills) menjadikan madrasah senantiasa berubah dalam arah dan kebijakannya. Sebuah terobosan dan inovasi wajib dilakukan untuk menyambut era revolusi industry tersebut. 

Kalibaru adalah salah satu kecamatan di sebelah barat kabupaten banyuwangi yang menghasilkan kopi robusta. Tanaman kopi robusta ini bernama latin Coffea canephora var. robusta dan dipercaya pertama kali ditemukan di Kongo. Jenis ini sebetulnya merupakan subspesies atau varietas dari Coffea canephora. Nama robusta diambil dari kata robust yang berarti kuat, sehingga jenis kopi ini lebih kuat baik dari sisi daya hidup tanaman hingga aromanya dibanding jenis arabika.  Indonesia termasuk penghasil kopi robusta terbesar setelah Vietnam dan Brazil dalam perdagangan global. Lebih dari 80% perkebunan di Indonesia ditanami robusta karena ketahanan dan perawatannya yang gampang.

Produk olahan biji kopi robusta kalibaru telah dipasarkan dari tingkat lokal  hingga nasional bahkan tidak sedikit juga yang terekspor di beberapa Negara. Berbagai macam inovasi dan kreativitas terhadap produk olahan kopi tersebut marak kita jumpai ditengah-tengah masyarakat pecinta kopi mulai dari cara penyajiannya hingga aroma atau kepekatan rasa. Fenomena ini tumbuh subur sejalan dengan aktivitas pecinta kopi generasi milenial yang mengadopsi pola konsumsi kopi di Negara-negara maju sehingga tak heran banyak kita jumpai café-café yang didesain minimalis dengan diiringi konsep natural maupun modern. 

Inovasi olahan produk kopi yang saat ini lagi terekspos secara nasional adalah Kopi Wine, yakni kopi yang memiliki citarasa aroma anggur. Kopi ini tidaklah mengandung alkohol sehingga aman dikonsumsi oleh siapa saja.  Aroma yang muncul dari kopi ini disebabkan oleh proses fermentasi biji kopi selama 2-3 bulan. Kopi Wine juga aman bagi yang mempunyai gangguan kesehatan terutama pada lambung sehingga tidak mustahil banyak orang kemudian tertarik dengan produk olahan kopi ini. Karena prosesnya yang tergolong rumit baik dalam proses pengolahan dan penyajiannya kopi wine memiliki harga  fantastis dalam penjualannya yakni 60-70 ribu per cangkir. 

Kopi Wine bisa diolah dari jenis biji kopi arabika maupun robusta, olahan produk ini membutuhkan ketelitian dan keuletan yang tinggi, yakni mulai dari pemilihan biji kopi yang benar-benar baik hingga proses rosting kopi. Pembuatan kopi wine juga  memadukan seni dan sains dalam proses pengolahan awal hingga penyajiannya sehingga dibutuhkan kemampuan baristo yang cukup baik untuk mendapatkan citarasa aroma anggur keluar dari secangkir kopi.

Madrasah Tsanawiyah Negeri 11 Banyuwangi berada di Kecamatan Kalibaru yang menghasilkan kopi robusta. Madrasah ini berhubungan langsung dengan petani kopi karena banyak dari putra-putri petani kopi yang belajar di madrasah ini. Aktivitas petik kopi hingga pemilihan biji kopi terbaik sudah terbiasa dilihat dan dilakukan oleh siswa-siswi putra petani kopi. Hal inilah yang mendasari MTsN 11 Banyuwangi melakukan terobosan baru dalam proses pembelajaran yakni menumbuhkan jiwa entrepreneur kopi wine. Inovasi ini bertujuan untuk memberikan ketrampilan dan kemampuan kepada siswa-siswi untuk mengolah biji kopi robusta mejadi biji kopi wine melalui proses fermentasi biji kopi.

Program Enterpreneur Kopi Wine ini diharapkan juga mampu meningkatkan kemampuan anak yang bertumpu pada kecakapan hidup (life skills). Program ini didesain mulai dari pengetahuan mengenai biji kopi robusta hingga bagaimana perlakuan ketika panen kopi yang baik. Hal ini dilakukan juga dalam rangka menjaga warisan alam dan budaya masyarakat petani kopi kalibaru. Kemampuan anak juga diasah dengan pengkiutsertaan mereka pada program kunjungan belajar di Pusat Penelitian Kopi dan KAKAO Indonesia yang intensif dilakukan untuk mengetahui bagaimana perlakuan tanaman kopi yang baik sehingga hal ini dapat memotivasi mereka untuk membantu orang tuanya sebagai petani kopi. 


Kebiasaan minum kopi sangat lekat dengan budaya kehidupan manusia sejak berabad-abad yang lalu. Produk olahan kopi telah menjadi bisnis yang menggiurkan dan menduduki peringkat kedua sebagai komoditas yang paling banyak diperdagangkan setelah minyak bumi. Pada era industrialisasi ini, kopi telah dimanfaatkan secara luas sebagai bahan baku berbagai jenis minuman yang memiliki nilai ekonomis tinggi.  Kopi diperdagangkan mulai dalam bentuk fisik sebagai biji kering yang dapat digolongkan  sebagai produk primer. Produk ini dihasilkan oleh petani kopi yang bersifat tradisional, sehingga petani bisa disebut sebagai pemegang saham terbesar kelompok industri paling hulu yang berperan mengolah buah kopi hasil panen menjadi biji kopi kering. Karena itu, putra-putri petani sudah sewajarnya dididik untuk memahami metoda pengolahan buah kopi yang standar sehingga bisa menambah nilai ekonomis dari aktivitas masyarakat petani kopi.

*Penulis adalah Kepala MTsN 11 Banyuwangi di Kaliba

Kopi itu Digiling dan Bukan Digunting

 Kopi itu Digiling dan Bukan Digunting

Oleh : Syafaat

"Apa kabar cinta?" Seminggu ini kupersiapkan jiwa untuk mendapatkan hatimu. Perkara kau mengerti atau tidak aku tak peduli. Sengaja kubeli kopi dan karbit di pasar kota. Kau tahu kopi ini kupesan mendadak, agar dapat kopi fresh sangrai yang digiling halus ketika pembeli datang. Aku mengalah dalam antrean penggemar kopi. Aneh mungkin bagi mereka mengapa aku ikut rapi dalam barisan dengan baju pink fanta. Ekor mata mereka mengawasiku. (Penggalan Cerpen Kopi dan Karbit karya Nurul Ludfia Rochmah).

Sore itu saya diajak Ngopi Mbak Iva, Kepala Desa Cantik, kreatif dan Enerjik di salah datu Desa di Kabupaten Banyuwangi. Kita ngopi bukan di kedai kopi biasa, tetapi di sebuah kedai kopi yang luar biasa. Dan menurut saya kedai dengan nama Kopi Lego inilah yang benar-benar kedai kopi, karena benar benar berada di kebun kopi, setidaknya saya benar-benar yakin bahwa kopi yang disuguhkan merupakan kopi asli yang nyaris tanpa campuran, tak seperti zaman saya kecil dulu dimana ketika orang desa mengsangrai kopi akan dicampur dengan banyak beras maupun jagung, itupun kopinya tidak diketahui jenisnya, yang penting kopi.

Saya biasa minum kopi di kantin Bu Dian yang berada di belakang kantor diwaktu istirahat, seringkali diskusi kecil kita lakukan sambil menikmati kopi sachet yang menurut iklan “dibuat dari biji kopi pilihan”. Beberapa ide dan gagasan muncul sambil menikmati kopi yang sudah dikemas bersama gula dalam satu sachet, harganya relatif sangat murah dan nyaris tanpa ampas. Berbeda dengan kopi di kedai kopi di tengah kebun kopi yang kita nikmati siang itu, kopi disajikan tanpa ditambahkan gula dan ada ampasnya alias cethe, meskipun juga disediakan gula, namun menurut pemilik kedai kopi, akan lebih nikmat meski tanpa dicampur dengan gula.

Saya mencoba menjadi pecinta kopi dengan cara menikmati kopi tanpa gula, begitu juga dengan Mbak Iva yang juga ngopi di depanku, pada awalnya kopi terasa pahit, namun lama kelamaan kopi tersebut akan terasa nikmat, dan saya yakin ini bukan karena saya berada di depan perempuan cantik dan manis yang juga sedang menikmati kopi, seperti halnya orang manca negara yang sebagian besar juga menikmati kopi tanpa ditambah dengan gula, kita akan benar benar menikmati kopi ketika kopi tersebut tidak ditambahkan gula.

Beberapa variasi dilakukan untuk menikmati secangkir kopi, ada yang menikmati kopi murni tanpa campuran apapun selain air, ada juga yang ditambah dengan gula, baik gula putih maupun gula merah, maupun dicampur dengan susu atau cream. Begitu juga dengan jenis kopi yang dihidangkan, ada yang senang dengan robusta, ada juga yang mengggemari arabika. Ada juga yang lebih senang dengan cascara,. Minuman yang terbuat dari kulit kopi yang ketika diseduh rasanya menyerupai teh, meskipun dibuat dari kulit kopi, namun cascara tidak mengandung cafein sebagaimana kopi, ternyata kulit tidak mesti identik dengan isi.

Mungkin jarang yang mengetahui bahwa sebutan kopi lanang yang disematkan pada kopi monokotil, yakni sebutan kopi yang tidak berkeping dua tersebut bukanlah jenis kopi dengan tumbuhan tersendiri, namun  kopi dengan pohon yang sama dengan kopi berbelah pada umumnya, dengan telaten disendirikan kopi yang tidak terbelah ini, karena nilai jualnya akan lebih tinggi. Begitu juga dengan biji kopi, para petani kopi saat ini sudah mulai menjual kopi dalam bentuk olahan, mereka memilah dan memproses biji kopi menjadi kopi siap saji dengan beberapa kualitas yang berbeda dengan cara di sortir sesuai dengan kelasnya.

Di Kedai kopi di tengah kebun kopi yang ada di beberapa wilayah di Kabupaten Banyuwangi, selain kita dapat menikmati berbegai jenis dan varian kopi, kita juga dapat mengetahui proses produksi kopi, cara pemilahan hingga pembuatan minumah kopi dengan takaran yang pas. Beberapa  jenis minuman kopi juga dikembangkan oleh petani kopi, selain pemanfaatan kulit kopi yang dijadikan minuman (cascara), juga Wine Coffe, yakni kopi yang diproses melalui fermentasi yang pada akhirnya akan mengeluarkan kopi dengan aroma wine tanpa alkohol.

Saya benar- benar menikmati kopi yang sebenarnya, kopi yang digiling dan bukan kopi yang digunting, yang tentu akan lebih sehat. Kopi dari biji kopi pilihan yang menurut petani dipilih dari biji kopi terbaik yang dimiliki, secangkir kopi yang merangsang dengan aroma harum dan serasa manis meski kita minum tidak ditemani perempuan dengan wajah manis, yang tentunya lebih terjamin keaslian kopinya, kopi yang di manca negara dibeli dengan harga yang tidak murah, sebuah tanaman yang dengan mudah tumbuh di Indonesia, yang seharusnya dapat mensejahterakan para petaninya.

Mungkin para petani kopi berkhayal bahwa kopi mereka dapat menguasai pangsa pasar diwilayahnya sendiri, meskipun saat ini penikmat kopi masih lebih banyak menikmati kopi yang digunting sebelum masuk cangkir daripada kopi yang digiling. Setidaknya minuman yang sebenarnya berkelas ini dinikmati oleh para pejabat dari kopi murni yang diproduksi oleh para petani, disangrai sendiri oleh masyarakat dengan doa dan kesabaran untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Bukankah kita minum kopi juga dengan penuh kesabaran?, secangkir kopi bisa kita nikmati berjam jam sambil mengesah inspirasi?,  tidak seperti minum es cendol yang satu mangkok penuh bisa nyaris tanpa sisa dalam hitungan menit?.

Sebagaimana yang disampaikan Mbak Iva sebagai Kepala Desa diwilayah yang sebagian besar wilayahnya merupakan kebun kopi, agar kopi yang dihasilkan dari perkebunan rakyat tersebut lebih bernilai daripada sekedar dijual ke pabrik yang kadangkala harganya kurang bersahabat, berharap masyarakat lebih memilih kopi murni yang diproduksi sendriri daripada kopi yang diseduh secara instan dari kopi yang digunting dari bungkusan sachet seharga tidak sampai seribu rupiah untuk satu gelas kopi.

*Penulis adalah Ketua Lentera sastra

 


GONDO ARUM RAMBUT KEBESNO URUP GENI

 GONDO ARUM RAMBUT KEBESNO URUP GENI

oleh : Faiz Abadi

Serto wis lawas

Buru sun sadari pengeran nguweni gondho sejati

Dudu amergo kulit mulus riko

Kekarepan bengen biso o pitung daratan sun sebrangi

Kanggo urip mulyo

Ngaru-ara ring pengeran

Hing kiro rabi kadung durung sugih bondo

Sampek megab-megab ulih e nglakoni lakon urip

Jug koyo njuger lemah watu

Kejuluk jaman jumput ati kang nelongso

Kejungkel roso ring kabur kanginan

Riko teko madangi ati

Kadheman kacir ngadoh

Buru sun sadari

Urip cukup sak majase

Kadhung nggayuh lintang kadohan

Temebluk dadi paran

TITIAN MENUJU KESEMPURNAAN

 TITIAN MENUJU KESEMPURNAAN

oleh : Faiz Abadi


Kita bukan melukis di atas air

Namun membasuh muka di dada 

Penuh debu karena telah tertipu

Kita terus bercermin

Namun bukan pada kaca

Ada pada diri

Bernama nurani

Kita dahaga tapi bukan kehendaki air

Haus tentang suatu kerinduan

Mimpi-mimpi kedamaian abadi

Datang ketika NamaMu kusebut

Tapi sering timbul tenggelam pada danau talas

Saat si kecil merengek minta roti 

Seharian dapur belum mengepul

Saat kekasih minta terbang ke angkasa

Sedangkan rumah kita belantara hutan

Kadang harus berpindah ke kota

Sedangkan hutan telah berubah aroma amis

Dengus liar

Membuat batu pertapaan terbakar

Mana mungkin bicara keabadian

Tanpa melalui kefanaan

Menyebut keAgungan-Mu

Seperti memintal kain sutra tercabik-cabik

Karena kita terlahir bukan sebagai kekasih yang hilang

Melainkan pengembara

Menuju sempurna sebenarnya semua tahu

Sebenarnya semua menyadari itu

Harus temukan titian misteri

Siapapun bisa terjatuh

Terbenam di dasar penyesalan kekal

Bagaimana tidak ladang subur telah kering kerontang

Benih-benih telah menjadi perih

Topeng-topeng dari tembikar

Dibakar sendiri 

Menutup muka-muka semu

DATANG DI RUMAH KEMARAU

 DATANG DI RUMAH KEMARAU

hari ini, hujan turun tak begitu lebat
mereka tahu
air mataku membuat bumi sudah terlalu basah

hari ini, hujan turun membawa selendang bidadari
mereka tahu hanya pelangi yang bisa menghapus dukaku

hari ini, hujan berbisik lirih di telingaku:
demi kamu aku rela datang di rumah kemarau.

/sunsrise of java/
/2021/

SIBAKKAN TIRAI

 SIBAKKAN TIRAI
oleh : Faiz Abadi

Walau lebih dekat dari urat leher
Namun hingga kini masih misteri
Hanya satu keyakinan
Sebelum maut menjemput
Engkau sendiri sibakkan tirai penghalang
Seandainya
Seandainya
Seandainya
Satu pengharapan menggoda kegigihan
Menghancurkan batu karang penghalang
Dinding tebal
Hijab tutupi pandangan luas tak terhingga
Apalah artinya hamba biasa
Mudah alpa
Mudah berbuat dosa
Mudah mendustai diri sendiri
Daging membungkus tulang
Dari waktu ke waktu semakin berlemak
Semakin tinggi kadar gula, kolesterol, asam urat
Hidup untuk makan
Atau makan untuk sekedar hidup
Manakah bisa dibedakan
Menghitung bintang
Menabur benih rasa ingin tahu
Namun hingga masih belum bisa leburkan dinding karang
Pada diri sendiri

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger