Pages

APAKAH MASIH DITUNDA-TUNDA

 APAKAH MASIH DITUNDA-TUNDA

oleh : Faiz Abadi

Kapan lagi kita mulai mendaki?

Terjalnya bukit ketaqwaan

Sebelum kesempurnaan iman

Mendesah

Berkeluh kesah ketika susah dan wabah

Tidur mendengkur saat panggilanNya memanggil

Kufur ketika harus bersyukur

Kembali tangan bertengadah

Pada saat mulai hidup susah

Memangnya hanya kita saja lontarkan

Makian

Lontarkan sumpah serapah atas nasib diri sendiri

Apakah Dia tak bisa marah

Menutup penglihatan kita tentang dirimu

Hingga tidak kenal

Apa yang harus kita lakukan

Sudahkah cukup

Kesana kemari

Ikuti Angin ke Timur

Kemudian ikuti angin ke Barat

Ikuti selera mereka

Padahal jelas-jelas dilarang olehNya

Barulah ketakutan

Ketika bencana dan wabah tumpah

Karena bumi mulai jengah

Kita mau lari kemana?

Masihkah terus ditunda-tunda

Mendaki terjal bukit ketaqwaan

Berpuasa

Berlelah-lelah bangun malam 

Bersujud

Tegakkan sholat

Tegarkan khusyuk kita kala menyebut namaNya

Mungkinkah raga kita sampai pada suatu tempat

Jika hanya duduk dan berandai-andai

Sama

Sama saja

Menuju kesempurnaan taqwa tidak bisa hanya berdiam diri saja

Bahkan semua

Jiwa, raga, harta, tahta

Apakah kita persembahkan semata-mata

Untuk mengharap keridhoanNya

Tentang Salju

 “Tentang Salju”

oleh : Dardiri

Padahal,

Salju itu tidak pernah permanen menyimpan sesuatu di dalamnya,

Sewaktu-waktu ia bisa meleleh lalu mencair dan kemudian mengalir,

Ke mana?,

Ke tempat yang lebih rendah sesuai peradaban sejak purba tentang air dan alir,

Salju itu air bukan?

Salju bukanlah bunga yang semerbak wanginya menikam di bawah telinga,

Salju bukanlah jilidan buku yang dapat kau tuliskan nama-nama dan alamat atau kau torehkan gambar-gambar bewarna di dalamnya,


Tetapi,

Kamu tetap saja menulis di atas salju itu,

Tentang dingin yang terjalin dan sepi yang meruncing,

Dari dalam dadamu,


Dan kamu masih berangan-angan bahwa suatu ketika nanti,

Ketika salju itu meleleh lalu mencair dan kemudian mengalir,

Menuju ke sebuah tempat di bawah sana,

Di mana aku sedang membersihkan guguran salju itu sambil sesekali memanggil namamu,-


(K G P H : 08 Maret 2021)

SEBUAH PEMBEBASAN

 SEBUAH PEMBEBASAN

oleh : Faiz Abadi

Perjalanan panjang hidup

Melewati terminal siang dan malam

Apabila semua terlelap dalam tidur

Mimpikah apakah yang terjadi?

Ikatan rasa dalam kesenangan

Ratapan kesedihan mendera

Segenap rasa tentang dunia

Masihkah membelenggu

Terlintas apakah dalam benak fikiran

Sejak mulai dewasa hingga renta usia

Totalitaskah segala niat menuju IradatNya

Segenap gerakan hidup apakah karenaNya

Terangkum pada satu waktu

Ketika kantuk menyerang

Lalu lelap dalam buaian mimpi

Mati kecil-mati kecil saban hari

Bukankah surga-neraka kala ini juga

Tanpa harus menghitung waktu

Sudahkah tatapan mata hati lurus tertuju

Menuju perjalanan sang musafir

Atau berhenti lalu berpaling

Bahkan tersesat pada saat mampir minum

Sebuah kebebasan hanyalah

Sesungguhnya segenap langkah hidup dan langkah setelahnya

Semata-mata karenaNya

Dalam tiap detik rasa terikat untuk mengingatNya

Bayangan Pasir

 “Bayangan Pasir”

oleh : Dardiri

Kamu tengah melihat bayang-bayangmu sendiri di permukaan pasir di tepi pantai yang landai itu,

Di sepanjang garis laut yang tampak membujur dalam pandangan mata senja,

Kamu sedang menyembunyikan sesuatu,

Bahwa,

Kamu takut pada kutub dunia yang melumut di pikiranmu dan senantiasa berkabut,

Kamu khawatir pada getir yang membulir dan terus mengalir dalam butir-butir napasmu,


Kamu terus saja memandangi bayanganmu sendiri di permukaan pasir dalam santapan senja yang merayap-rayap di garis pantai itu,

Keningmu yang dingin mengernyit lembut seolah mengingat sesuatu,

Sebuah nama,

Ya,

Sebuah nama yang telah sangat kau kenal,

Lalu kau tuliskan nama itu pada selembar daun bakung yang menjulur-julurkan tangannya di sekeliling pantai itu,

Berharap suatu saat ada yang membaca dan lalu memanggil-manggilnya dari sana,


Pelipis matamu yang menyempit  berulang kali berkedip dan lalu menggulirkan sebutir salju dari sudut-sudutnya yang mengerut,

Air mata,

Ya,

Air mata yang tak pernah bersuara itu,

Menjadi tanda paling berharga bagi sebuah ingatan,



Bayangan pasir yang terpaku dalam tatapan senja di sepanjang garis laut itu adalah kerinduanmu  sendiri yang tak lagi mampu menderu,

Dan nama yang kau tuliskan pada selembar daun bakung yang menjulur-julurkan tangannya di sekeliling pantai itu adalah dirimu sendiri, 

Yang telah tiada untuk selama-lamanya,-


(K G P H : 07 Maret 2021)

KEMERDEKAAN

 KEMERDEKAAN

oleh : Faiz Abadi

Kemerdekaan ikan di sungai 

Berenang kesana kemari

Mencari makan sesuka hati

Di sungai

Batas kemerdekaan ikan sungai adalah sungai

Kemerdekaan ikan di laut

Berenang, bernafas, mencari makan, kawin

Di batas laut dan samudra

Kemerdekaan burung-burung

Terbang kesana kemari di angkasa

Hinggap dari ranting ke ranting

Berkicau di pagi hari

Teriakkan kebebasan

Kemerdekaan Harimau dan singa

Adalah memangsa semua 

Menyingkirkan para saingan 

Ular,biawak, juga buaya

Bebas merampas apa saja

Di hutan

Ha...ha...ha..

Ho...ho..ho..

Hi... hi... hi..

Huu.......

Bagaimana dengan kemerdekaan manusia

Apakah merdeka bernafas di mana saja

Apakah merdeka teriak apa saja

Apakah bebas mencari makan di mana saja

Apakah bebas  bergerak di mana saja

Apakah bebas menginjak apa saja

Jika tertindas merdeka memberontak dengan segala cara?

Jika berkuasa merdeka memaksa siapa saja?

Kemerdekaan manusia kapan batas waktunya?

Kemerdekaan manusia di mana tempatnya?

Untuk semua kemerdekaan adakah tanpa batas tempat?

Adakah tanpa batas waktu?

Apakah seperti peluru?

Ditembakkan menuju sasaran

Lalu selongsong jatuh ke bumi

Di telan di dalamnya

Mengikuti putaran waktu 

Mengikuti matahari

Entah sampai kapan?

Kun 3

 “Kun 3”

oleh : Dardiri

Dari air mengalirlah darah,

Dari angin bergulirlah napas,

Dari api membulirlah amarah,

Dari tanah membutirlah tulang, daging, kulit, rambut, dan raga,

Dari Sukma Purba lahirlah segala nyawa,


Dari tanda lahirlah suara,

Dari suara lahirlah Ada,

Dari ada lahirlah nama,

Dari ada dan nama lahirlah rona,

Dari rona lahirlah warna,

Dari kelimanya lahirlah suasana,


Darah akan kembali kepada air,

Napas akan berpulang kepada angin,

Amarah akan musnah dalam jilat api,

Raga akan sirna dalam rahim tanah,

Nyawa akan dipanggil kembali oleh Sukma Purba,


Suasana akan  disadap warna,

Warna akan diresap rona,

Rona akan dihisap nama,

Nama akan dilindap ada,

Ada akan disenyap suara,

Suara akan dilenyap tanda,


Dari segala yang mengalir, bergulir, membulir, membutir, lahir,

Terjadilah diri-ku,


Dari segenap sadap, resap, hisap, lindap, senyap, lenyap,

Tertujulah pada-Mu,-


(K G P H : 07 Maret 2021)

TRAGEDI MYANMAR DI ABAD MILINEAL

 TRAGEDI MYANMAR DI ABAD MILINEAL

oleh ; Faiz Abadi

Terus maju

Jangan takut oleh peluru

Semua mata menyaksikan

Perampasan demokrasi adalah lelucon konyol

Perampasan demokrasi adalah kepicikan paling banci

Abad sudah Milineal

Masih saja ada tindakan binal

Bahkan biadab tidak beradab

Gadis remaja tertembak di kepala tanpa bersenjata

Hanya karena teriakkan pembebasan untuk pemimpin wanita

Najis

Bengis

Sadis

Tak hiraukan semua himbauan

Tak hiraukan jerit kematian

Tak hiraukan penderitaan

Di depan mata kalian lakukan apa saja

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger