Pages

PERDAMAIAN TAKKAN PERNAH SIRNA

 PERDAMAIAN TAKKAN PERNAH SIRNA

oleh : Faiz Abadi

Nyanyian burung di negeriku selalu ramah

Tetapi tidak lagi untuk saudara-saudaraku disana

Di Palestina

Di Suriah

Di Myanmar

Langit selalu kelabu

Oleh debu-debu mesiu

Jangan

Jangan sampai terjadi di sini

Hanya kecipak air 

Terpercik lalu kan kembali

Mengalir dengan tenang

Di sana di tanah timur negeri tercinta

Hentikan salah paham pada kami

Saudara-saudaraku di hutan Papua

Sambutlah uluran tangan kami di sini

Mari kita bangun bersama perdamaian

Di seluruh Nusantara

Kelak kalian menyadari

Semua berkesempatan sama

Menikmati elok negeri tercinta

Di sini bukan Irak yang membara

Disini bukan Afganistan terus menyala

Di sini negeri rayuan pulau kelapa

Sang mentari selalu berseri 

Mulai terbit hingga terbenam kala senja hari

PERDAMAIAN TAKKAN PERNAH SIRNA

 PERDAMAIAN TAKKAN PERNAH SIRNA

oleh : Faiz Abadi

Nyanyian burung di negeriku selalu ramah

Tetapi tidak lagi untuk saudara-saudaraku disana

Di Palestina

Di Suriah

Di Myanmar

Langit selalu kelabu

Oleh debu-debu mesiu

Jangan

Jangan sampai terjadi di sini

Hanya kecipak air 

Terpercik lalu kan kembali

Mengalir dengan tenang

Di sana di tanah timur negeri tercinta

Hentikan salah paham pada kami

Saudara-saudaraku di hutan Papua

Sambutlah uluran tangan kami di sini

Mari kita bangun bersama perdamaian

Di seluruh Nusantara

Kelak kalian menyadari

Semua berkesempatan sama

Menikmati elok negeri tercinta

Di sini bukan Irak yang membara

Disini bukan Afganistan terus menyala

Di sini negeri rayuan pulau kelapa

Sang mentari selalu berseri 

Mulai terbit hingga terbenam kala senja hari

Laki-laki dan Wanita

 “Laki-laki dan Wanita”

(Anaphora 3)


Laki-laki itu jelmaan Adam Bapa,

Wanita itu titisan Babu Hawa,

Laki-laki itu pemberani,

Wanita itu penari,

Laki-laki itu pencuri,

Wanita itu pencari,

Laki-laki itu pemburu,

Wanita itu pemalu,

Laki-laki itu pemabuk,

Wanita itu penakluk,

Laki-laki itu perkasa,

Wanita itu kharisma,

Laki-laki itu gelora,

Wanita itu pesona,

Laki-laki itu nakal,

Wanita itu binal,

Laki-laki itu pemenang,

Wanita itu penenang,

Laki-laki itu penantang,

Wanita itu penentang,

Laki-laki itu pelindung,

Wanita itu pelimbung,

Laki-laki itu pendusta,

Wanita itu penista,

Laki-laki itu penjerat,

Wanita itu pemikat,

Laki-laki itu perebut,

Wanita itu pelembut,

Laki-laki itu penyuruh,

Wanita itu peluruh,

Laki-laki itu pembunuh,

Wanita itu pelumpuh,

Laki-laki itu penyamun,

Wanita itu pelamun,

Laki-laki itu peragu,

Wanita itu perayu,

Laki-laki itu penukar,

Wanita itu penawar,

Laki-laki itu pembujuk,

Wanita itu perajuk,

Laki-laki itu penjual,

Wanita itu pengobral,

Laki-laki itu penggombal,

Wanita itu pembual,

Laki-laki itu penghianat,

Wanita itu pelaknat,

Laki-laki itu pemaksa,

Wanita itu penyiksa,

Laki-laki itu pengobar,

Wanita itu pengumbar,

Laki-laki itu membatu,

Wanita itu membeku,

Laki-laki itu membosankan,

Wanita itu menjemukan,

Laki-laki itu memporak-porandakan,

Wanita itu membinasakan,

Laki-laki itu menghujam,

Wanita itu menikam,

Laki-laki itu menyergap,

Wanita itu mengendap,

Laki-laki itu menyeringai,

Wanita itu mengintai,

Laki-laki itu membanjir,

Wanita itu mengalir,

Laki-laki itu meminta,

Wanita itu menyita,

Laki-laki itu menahan,

Wanita itu menawan,

Laki-laki itu menderu,

Wanita itu menyeru,

Laki-laki itu menyoal,

Wanita itu menyangkal,

Laki-laki itu menyasar,

Wanita itu melanggar,

Laki-laki itu melingkar,

Wanita itu menjalar,

Laki-laki itu melanda,

Wanita itu menanda,

Laki-laki itu melindas,

Wanita itu melandas,

Laki-laki itu mendidih,

Wanita itu merintih,

Laki-laki itu menjarah,

Wanita itu menjamah,

Laki-laki itu janji,

Wanita itu bukti,

Laki-laki itu pandai,

Wanita itu lihai,

Laki-laki itu garang,

Wanita itu girang,

Laki-laki itu akrobatik,

Wanita itu erotik,

Laki-laki itu atletik,

Wanita itu eksotik,

Laki-laki itu imajinatif,

Wanita itu instuitif,

Laki-laki itu kendur,

Wanita itu lentur,

Laki-laki itu berkarat,

Wanita itu berkerat,

Laki-laki itu penggoda,

Wanita itu penggadai,

Laki-laki itu pengasah,

Wanita itu pengasuh,

Laki-laki itu pengisah,

Wanita itu pengasih,

Laki-laki itu penangkap,

Wanita itu penyadap,

Laki-laki itu perangkap,

Wanita itu pelindap,

Laki-laki itu penggambar,

Wanita itu penyamar,

Laki-laki itu pelukis,

Wanita itu penulis,

Laki-laki itu penggaris,

Wanita itu pengiris,

Laki-laki itu perancu,

Wanita itu pemicu,

Laki-laki itu peracau,

Wanita itu pengigau,

Laki-laki penghalang,

Wanita itu penghilang,

Laki-laki itu penghapus,

Wanita itu pengaus,

Laki-laki itu penggempur,

Wanita itu peluntur,

Laki-laki itu penjaga,

Wanita itu penjaja,

Laki-laki itu penoda,

Wanita itu pewarna,

Laki-laki itu seketika,

Wanita itu tiba-tiba,

Laki-laki itu pongah,

Wanita itu goyah,

Laki-laki itu bergetar,

Wanita itu gemetar,

Laki-laki itu bergulat,

Wanita itu bergeliat,

Laki-laki itu berhasrat,

Wanita itu berkhidmat,

Laki-laki itu bergolak,

Wanita itu bergejolak,

Laki-laki itu berlompat,

Wanita itu berkelebat,

Laki-laki itu terhentak,

Wanita itu tersentak,

Laki-laki itu berhati baja,

Wanita itu bernadi sutra,

Laki-laki itu bermulut buaya,

Wanita itu berlidah singa,

Laki-laki itu berhati pualam,

Wanita itu berjantung nilam,

Laki-laki itu lautan badai,

Wanita itu tepian pantai,

Laki-laki itu seribu mata,

Wanita itu seribu rasa,


Laki-laki itu adalah aku,

Wanita itu adalah kamu,

Dan,

Perumpamaan-perumpamaan itu,

Adalah kita,-


(K G P H : 06 Maret 2021)

Wanita Berparas Jingga

 “Wanita Berparas Jingga”

oleh : Dardiri

Wanita berparas jingga itu undur dari medan laga,

Membawa sekantong permata dan seikat bunga tulip di dadanya,

Dinyanyikannya sendiri lagu-lagu nostalgia yang mulai kehilangan warna,

Entah menuju ke mana,

Melintasi gurun berdebu,

Mendaki pegunungan berbatu

Menyelam ke masa silam,

Melata ke sebuah dunia,

Tentang kanak-kanak dan balita,

Ya,

Dunia yang hanya terisi gembira, lepas dari pancaroba,

Di mana ia pernah menjadi paduka bagi siapa saja dan berdaulat penuh merdeka,


Suatu ketika,

Aku mendapatinya di bawah pohon bungur yang merontokkan semburat ungunya,

Terkadang juga ia duduk di atas batu gilang peninggalan para raja,

 Pun berdiri di pintu gerbang yang luas di tapal batas sebuah kota,


Wanita berparas Jingga dengan sekantong permata dan seikat bunga tulip di dadanya itu lalu bergegas ke sebuah tepi yang tajam bergerigi, 

Jauh,

Dari senja,

Dari malam,

Dari pagi, 

Dari hari,

Dari kutub-kutub dunia berbunga tipu daya,

Dan, menghilang begitu saja,


Saat-saat tertentu,

Ia datang dan membisikkan rindu kepadaku,


“Bersihkan debu yang menutupi namaku di pusara itu!”,-


(K G P H : 05 Maret 2021)

Gincu

 “Gincu”

oleh : Dardiri

Pagi,

Sejak matahari belum meretakkan hari,

Kamu sibuk sendiri,

Memuja harum melati,

Di ketiakmu yang lembut dan wangi,

Di emperan laci berhadapan cermin dan sederetan foto-foto yang sedikit lebih tua usianya darimu,

Dan kamu menganggap,

Siapa memuja siapa,


Siang,

Kamu masuk perkantoran, duduk  memandangi meja-meja besar dengan tumpukan kesepakatan,

Adakalanya kamu memilih ruang lobi dan meja makan, selasar trotoar, simpang jalan besar, keramaian pasar, kesunyian pekuburan, keramahan rumah-rumah pedesaaan, kemegahan bangunan kota,

Lalu menebar jaring laba-laba,

Mencari mangsa dari sudut kemerahan yang senantiasa dipenuhi jerat lembab dan basah,

Dan kamu bertanya,

Siapa menjerat siapa,


Senja,

Kamu menjadi semacam irisan jingga,

Mendaulat hajat peradaban purba,

Tentang rindu yang gila atau cinta rahasia,

Di sepanjang bidang pundak dan dada,

Menyematkan isyarat dan tanda yang rahasia pula,

Dan kamu berkata,

Siapa mengisyaratkan siapa,


Malam,

Kamu sibuk berkutat di bawah alis, lalu mata, lalu hidung, lalu bibir, lalu melahirkan suara-suara aneh yang selalu kau tunggu kehadirannya,

Dan ketika lampu-lampu yang lelah itu dimatikan,

Kamu menjelma sepasang sayap,

Merayap dari atas kepala dan menguras habis mata air kelelakian yang gersang,

Lalu terbang dengan ayunan penuh lantunan meniti perbukitan malam yang kau taklukkan pula di bawah mimpimu,

Dan kamu berujar,

Siapa menaklukkan siapa,


Dunia yang bundar dan lebar ini seakan kecil dan kerdil bagimu,

Pacuan waktu yang selalu memburu dengan seketika terhenti dalam asahan jeratmu,

Angin tipis beraroma melati yang muncul dari rongga merah saga yang mirip senja itu menjadi sihir paling mutakhir dan mantra paling memperdaya bagi sesiapa yang mengingatnya,

Keterpanaan yang sebenarnya merdeka dalam sekejap mata menjadi tawanan sukarela di hadapanmu,


Tunggu,

Jangan kau lanjutkan kata-katamu,

Kamu gincu bukan?,


Dan kamu,

Terus saja menebar harum melati di sekujur napasku,

Menjerat dan menyayat sendi-sendi ingatanku,-


(K G P H : 04 Maret 2021)

Cendana

“Cendana”

Oleh : Dardiri

Wanita dengan harum cendana itu datang lagi,

Menggerai rambut berwarna kelabu,

Diramunya sendiri aroma padma dan mawar dari sibak gaunnya yang berkibar,

Dari empat ratus purnama yang diseberanginya melalui sungai dan lautan cahaya,

Hingga sampailah ke ujung muara,


Tentu,

Siapa pula yang mengantarkannya malam ini,

Yang tiba-tiba datang dan melempar-lemparkan patahan sedap malam di ranjang mimpiku,

Ketika sesegera kuterka dalam tanya,

Ia lenyap begitu saja, 

Menjelma awan tipis lalu terbang ke negeri bunga,


Tebakanku sia-sia,

Karena sebenarnyalah ia tak ada,


Awan tipis yang melayang-layang itu adalah hembusan napas yang melekat di tiang pancang bayangan,

Patahan sedap malam yang dikirim dari negeri bunga itu adalah masa silam,

Kelopak padma dan aroma mawar yang diramunya itu adalah kerinduan,

Sungai yang mengalir di bawah ratusan purnama yang lalu bermuara di lautan cahaya itu adalah masa,


Dan wanita dengan harum cendana itu,


Adalah usia,-


(K G P H : 03 Maret 2021)

Televisi Pagi Ini

 “Televisi Pagi Ini”

oleh ; Dardiri

Setelah duduk di meja bundar, mereguk seduhan teh dan manisnya adukan kopi, sambil menikmati santapan dan siraman rohani dari televisi,


Kitapun mulai bertanya-tanya,

Hati siapa yang senantiasa lapar?,

Atau haus?,

Atau ngidam ingin camilan dan manisan?,


Dan kaupun menerka-nerka,

Nurani siapa yang selalu dilanda kerontang?,

Atau tandus?,

Atau kemarau panjang?,


Kita,

Atau layar televisi berisi iklan dan promosi itu yang sebenarnya lapar, haus, dan tandus?,

Lalu menyantap kita pelan-pelan dalam acara-acara buatan dan meminum habis kesadaran kita dalam tayangan-tayangan iklan?,


Lalu kita saling pandang,

Tak jelas,

Kita menatap layar televisi itu,

Atau televisi itu yang memandang kita tanpa jemu,-


(K G P H : 02 Maret 2021)

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger