Pages

Puisi Sunyi

 Puisi Sunyi

oleh : Syafaat

Lentera sastra terlihat sepi

Tak terlihat lagi Hilir mudik puisi

Jari-jari serasa tak mau bereaksi

Meski sekedar membunuh sunyi


Pagi seakan masih didekap mimpi

Suaramu masih terekam bercampur nadi

Meski kusadari bahwa kematian adalah hal yang pasti

Menerima beritanya seperti tak bernyali


Pagi ini aku menanti

Kiriman puisimu seperti biasanya

Meski kutahu takkan terjadi lagi

Masih kutunggu juga


Kau kabarkan rencana kepergianmu

Yang kau selipkan dibait puisimu

Dan kubaca dengan makna setelah kau tiada

Dibawah pohon bambu kau jemput senja

Kepergianmu

 Kepergianmu

By Lulu'


Aku tahu ini terasa berat

Air matapun tumpah tak terbendung

Sekilas waktu ku baru mengenalmu

Corona telah mempertemukan kita

Lewat wadah penulis Lentera Sastra

Tiba-tiba terdengar berita kepergianmu

Sontak menyesakkan dadaku

Rasa tidak percaya

Matamu yang teduh selalu memberi kedamaian

Karakter lembutmu yang memberi kesan

Lincah dalam berpikir

Cerdas dalam bertindak

Lembut dalam bertutur

Selalu sigap dan penuh tanggungjawab

Kini karena corona engkau pergi untuk selamanya 

Pulang dalam kedamaian kasih illahi

Semoga engkau tenang di alam pilihan

Engkau tetap abadi dalam sanubari

PERGILAH SUDAH

 PERGILAH SUDAH

oleh : Faiz Abadi

Mengapa bayanganmu masih di sini

Seperti menetap di pelupuk mata

Padahal derap derap langkahmu tak lagi terdengar

Lenyap bersama angin

Berhembus kesana

Lalu lenyap begitu saja

Mengapa harus ada

Mengapa harus melihat senyummu

Namun kau tinggalkan

Saat tangan mendambakan

Romansa kerinduan

Romansa cinta

Romansa religi tentang nurani

Pergi 

Pergilah

Kalau akhirnya kau tinggalkan 

Kenangan indah 

Pergi 

Pergilah segera

Tapi jangan lama-lama

Sebab segala suara hatimu

Ku abadikan di karya lentera

Bulu Merak Hijau

 “Bulu Merak Hijau”

oleh ; Dardiri

Entah berapa kali kubuka layar telepon genggamku,

Kuseka ke atas kusentuh ke bawah,

Kugeser ke kiri dan ke kanan,

Berkali-kali,

Lagi,

Dan lagi,


Nama dan pesan yang pertama kali kulihat tetap sama,

Selalu dirimu dan darimu,

Berharap warna centang kelabu menjadi biru,

Dan terbetiklah kata-kata di bawahnya,

Sebagaimana biasa,

Seperti biasa,


Kita bertukar tawar tentang bulan sabit, anak sungai, telaga, laut, gunung, bukit-bukit, langit, matahari, bintang, dan segala rerupa semesta yang sempat terpandang ujung mata,

Adakalanya kita ramaikan layar telepon genggam kita dengan persinggungan garis sepi dan sunyi,

Lalu kita sama-sama diam,

Dan menyelinapkan tentang bingkisan senja, pahatan malam, jerangan dini hari, rekah fajar, beranda pagi, dan amukan terik dalam diam-diam kita,

Lalu lahirlah kabut, salju, embun, rintik, gerimis, juga hujan berkeliaran dalam larik-larik tulisan kita,


Kutahu,

Sebenarnya,

Kita adalah sama-sama romansa,

Kita adalah sesama pengagum cinta dalam kembara semesta,

Hanya saja aku terkadang menutupinya dengan mantel baja lewat tulisan-tulisan gila yang aku sendiri sebenarnya pun tak ingin membacanya,


Bulu Merak Hijau,

Kamu telah terbang tinggi,

Mengikuti kabut mimpi yang jauh memintas batas,

Keberadaan dan ketiadaan,


Kamu tak lagi menjemput pagi dengan secangkir kopi dan seduh puisi,

Beranda yang kubuat khusus untuk menyambut guguran bulu-bulumu tak mungkin kau singgahi lagi,


Layar telepon genggam yang selalu kugeser dan kuseka,

Berisi pesanku dan namamu masih tetap kelabu,

Warna pada garis setengah kurva itu tak pernah menjadi biru,

Tulisan dan doa terakhirku masih membentuk awan kelabu di dadalamnya,

Dan kamu tak akan membacanya lagi,


Selamat jalan,

Bulu Merak Hijau yang bukan milikku,


Kamu telah membawa romansa bisu-mu dalam sebenar-benarnya bisu,

Kamu telah menyimpan romansa sunyi-mu dalam sepi yang benar-benar abadi,


Kamu mungkin sendiri,

Tetapi kamu tak akan pernah sepi dalam doa dan ingatanku,

Kamu tak akan pernah kehilangan bingkisan senja dan pahatan pagi dalam deretan abjad yang belum sempat merupakan dirinya menjadi kata,

Kamu tak akan pernah kehilangan gerimis dan hujan dalam ujaran yang belum sempat melahirkan  dirinya menjadi suara,


Kamu tak mungkin kembali,

Tapi percayalah Romansa-mu abadi,


Bulu Merak Hijau,

Yakinlah Tuhan menyayangi-mu,


Kuakhiri tulisanku malam ini dengan sebuah pantun,


“Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rajiun”,-


(Tulisan ini khusus didedikasikan sebagai doa untuk Alm. Yth. Bpk. Achlis Yusrianto, Allahu Yarham)


(K G P H : Jumat Legi : 19 Februari 2021)

SEPERTI MASIH BERSAMA

 SEPERTI MASIH BERSAMA

oleh : Faiz Abadi

Aku mengembara di negeri syair bersamamu

Namun tanpa berpamitan tiba-tiba engkau pergi

Masih terbayang di pelupuk mata

Ketika cahaya lentera kau nyalakan

Masih terngiang di telinga

Gaung suara kau kumandangkan

Nyanyi rindu

Nyanyi suara kalbu

Tetapi mengapa hanya sekejab saja

Terpana di sudut sudut literasi

Lalu terhempas di belantara kesunyian abadi

Aku tahu tersenyum di sana

Aku tahu kau bahagia di sisiNya

Tapi aku tidak tahu

Seberapa lama bisa kutepiskan

Kerinduan akan kehadiranmu

Proses Terjadinya Hujan

 -- Proses Terjadinyan Hujan-

oleh : Dardiri

Pada awalnya adalah air, nyaman tiduran di dalam tanah, sungai, telaga, juga di bawah laut, Lalu panas membangunkannya, Panas itu datangnya dari negeri di atas awan, Matahari namanya, Yang seolah membangun lorong panjang dari sana ke sini, Dengan tujuan pasti, Membangunkan air dan menjemputnya, Air yang terbangun seketika berubah menjadi uap, Lalu terbang tinggi menemui koleganya sesama uap yang terbentuk dari air tadi, Sesampainya di sempadan langit, Ia memadat dan jadilah embun,  Kemudian menjadi besar karena angin menyusuinya dengan seksama, Lalu menjadi raksasa berwarna kelabu, Mendung namanya, Karena angin tak mampu lagi menggendong dan menimangnya, Jadilah ia butir-butir kecil yang acak tetapi serasi dan senantiasa turun dengan bersamaan, Hujan begitulah namanya, Bermula dari air lalu kembali menjadi air,


Adakah kau tahu, Dari mana kisah ini bermuasal?, 


Pada mulanya tak terjadi apa-apa, Lalu ada yang tiba-tiba terbangun dari pandang mata, Lalu menjadi teguran sapa, Perlahan-lahan hinggap dan menyemat dalam ingatan, Kemudian lahirlah rindu, Sedikit mengganggu tetapi selalu ditunggu, Kadang menyiksa tetapi selalu memaksa, Ada yang lalu menyatu dan memadu seperti langit dan biru, Ada juga yang terberai seperti awan ketika tak mampu lagi menahan hujan, Hingga pada akhirnya, Menguap juga karena waktu tak mungkin selamanya terlipat dalam saku, Suatu ketika ia akan pecah dan membuncah, Dan kita, Entah sedang di mana?, Bermula dari tak ada lalu kembali dalam ketiadaan,


Jika hujan sesekali meninggalkan genangan,

Mungkin cinta sesekali menanggalkan kenangan,


Hingga huruf terakhir tulisan ini,

Aku tak mengerti siapa yang lebih paham tentang kita dan hujan,-


(K G P H : 18 Februari 2021)

ADAKAH KITA

 ADAKAH KITA

oleh ; Faiz Abadi

Pernah kau mengingatNya

Hingga kau lupa dunia

Adanya kita karena siapa

Saat ada tapi sebenarnya tiada

Adanya hanya Dia

Adakah engkau saat itu

Kita ada 

Tetapi bayangan saja

Menjalani hari hari

Dari yang telah digariskan

Tetapi kita ada juga

Dalam kuasa sementara

Menyiapkan bekal yang ada

Agar senantiasa hidup

Walaupun sudah tiada

Sebenarnya adakah kita dalam adaNya

Adanya kita tidakkan mengusik keberadaanNya

Adakah kau disana

Saat tangan tangan orang tidak berada terangkat

Membutuhkan adanya belas kasihanmu

Adakah kau disana 

Dalam majelis ilmu

Nabi Musa

Adakah kau disana

Dalam majelis ilmu Nabi Khidir

Adakah kau disana

Dalam majelis ilmu utusan penyempurna

Dalam pengembaraan usia dewasa hingga renta

Kau wariskan para putra

Majelis ilmu dan dzikir

Atau hanyalah harta dalam benaknya

Adakah disana

Saat kau tunggu masa penantian

Sebelum Terompet sangkakala dibunyikan

Pewaris generasi berlari menggantikanmu dalam majelis mulia

Mengumandangkan namaNya

Adakah kita terus melantunkan tembang paling suci

Tentang adaNya

Ada selamanya

Adakah kita disana

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger