Pages

Teman Sejawat

 --Teman Sejawat--

oleh : Dardiri

Teman sejawat, 

Adalah nurani-mu sendiri, Yang seringkali menasihati-mu tanpa kata dan mata, 

Dan kau sangkal pula dengan keinginan dan kebenaran yang kau buat sendiri,

Dengan Keakuan yang diakukan dan terus meraja rona pikir-mu,

Lalu dengan lantang pula kau paksakan dalam benak-mu,

Bahwa kebenaran adalah milik-mu,

Bukan milik orang lain,


Kau tak ingin dinilai dan dihakimi,

Tatkala engkau berpuluh juta kali menilai dan menghakimi orang lain,

Dengan kebenaran buatan-mu sendiri,


Kawan, 


Teman Sejawat,

Adalah jejak bayanganmu sendiri, 


Yang mungkin tak kau kenali lagi"


(K G P H : 17 Februari 2021)

BUKALAH SEKARANG

 BUKALAH SEKARANG

oleh ; Faiz Abadi

Kalau tidak sekarang

Kapan kau buka

Miftahul jannah

La ilaaha illallah

Tidak takutkah kau kehilangan

Tidak pernah mendapatkannya

Sebab selalu menunda 

Dari mencari jalan 

Di antara pilihan

Menyesal

Ujung akhirmu penyesalan

Luruskan segenap muka dalam keteguhan

Sebelum kau terpuruk pada fatamorgana

Seolah olah kamu ada

Tetapi lalu terhempas bagai buih

Ditengah lautan samudra

Prolog Debu

 “Prolog Debu”

oleh : Dardiri

Saksikanlah,

Serapah angin menjulurkan lidahnya di sepanjang jalanan beraspal legam,

Ada rerupa seperti asap sisa pembakaran jerami di permukaannya yang tampak rata,

Asap yang tidak berbau itu,

Masuklah ke dalam lubang kunci,

Kecil sekali,

Dicarinya jalan paling sempit untuk dilaluinya agar keluar dengan selamat dan sampai di dalam sebuah rumah bergorden kain warna biru langit,

Persis seperti warna layar telepon genggam yang dilihatnya semalam,


Dan ketika angin mendadak meninggalkannya begitu saja di kisi-kisi jendela,

Tiba-tiba ia letih dan ingin sejenak rebah di punggung kusen pintu yang terbuat dari besi tidak berwarna itu,

Ia tertidur karena pintu selalu tertutup dan jendela di sampingnya juga tidak pernah terbuka,


Sebelum mimpi menjadi cita-cita paling merdeka datang dan membawanya terbang kembali,

Ia berharap,

Ketika bangun nanti,

Ada sepasang lentik jari menyekanya dengan kain lembut,

Atau menggarisnya dengan tulisan-tulisan aneh tentang sesuatu yang bahkan tak pernah dikisahkan kepada kekasihnya, 

Siang itu,


Adakah ruang pengap yang dirasakannya juga berasal dari sepasang lentik jari dengan selingkar awan di manisnya itu?,


Ia baru mengerti bahwa sebenarnya ia adalah debu yang baru saja ditikam terik lalu terbawa angin dan masuk ke dalam sebuah rumah dengan tanpa mengucapkan salam atau menyampaikan kabar berita sebelumnya,


Iapun baru menyadari bahwa lentik jari yang selalu diharapkannya itu,


Tak ditemuinya lagi,-


(K G P H : 18 Februari 2021)

ADIK KAKAK MAU PERGI

 ADIK KAKAK MAU PERGI

oleh : Faiz Abadi

Adik tidakkah engkau ingin kesana

Terbang ke angkasa

Mengitari jagad raya

Aku tahu engkau mau

Tetap engkau laksana burung kecil

Sayapmu terlalu lemah

Untuk terbang

Hinggap kemana-mana

Adik tungguilah kakak disini

Bersama ibu dendangkan lagu ceria

Masa depan selalu tetap ada

Biarkan kukibarkan panji cita-cita

Segenap belahan bumi akan kutelusuri

Akan kuceritakan padamu

Tentang dunia beserta isinya

Aku akan kembali

Saat mentari tersenyum di pagi hari

Kelak kembali kulepas tawa

Ikhlaskan kepergian ku sementara

Kelak kan kubuktikan berita

Kehidupan dibalik dunia

Memang benar adanya

Ruh

 “Ruh”

oleh : Dardiri

Membuka kamus sore ini. Tiba-tiba saja terbetik dan ada yang menggelitik keingintahuanku. Berkali-kali kubuka dan kucari dengan teliti. Hasilnya sama. Angin. Ya angin-lah yang bisa mewakilinya dalam bahasa sederhana. Tetapi, bukan, dan tidak. Jelas-jelas bukanlah angin. Terlalu sepele dan teramat sederhana jika disebandingkan dan disetarakan hanya dengan angin. 

Ruh. Siapa yang pernah bertatap muka dengannya?. Agaknya sedikit konyol dan kurang terkontrol atau malah lebih tepat dikakatan sia-sia bahkan gila membanding dan menyetarakan ruh. Sejak zaman pra peradaban sampai era millenium ketiga ini tak ada satupun bahkan dari ciptaan paling dahsyat sekalipun yang pernah bertatap muka atau berbincang-bincang secara langsung dengannya. Segala warna dan rupa disematkan. Segala daya yang tampak dan yang tidak kasat mata dicurahkan. Toh, tak ada penggambaran yang benar-benar tepat mengejawantahkannya dalam ujaran. Wahyu, Ilham, wangsit, wisik, atau apapun juga yang senantiasa dikait-kaitkan dengan yang gaib-gaib dan yang serba ajaib pun tak pernah dengan cermat memerincinya. 

Ruh. Johar Awal,  Idhafi, Rabbani, Rohani, Nurani, Kudus, Rahmani, Jasmani, Nabati, Rewani, Insani, Hewani, Amri, Amin, Hayat, Jismulatif, Jiwa, Adam Makhdum, Makdum Sarpin, Atman, Juwatman, Nafas, Anfas, Tanafas, Nufus, Mutmainah, Amarah, Sufiyah, Aluwamah, Mulhimah,  Sukma Kawekas, Sukma Wening, Sukma Sejati, Sukma, Nyawa, Rahsa, Rasa Sejati, Urip Sejati, Dayaning Urip, Badan Alus, Proyeksi Eteris, Manifestasi Keabadian, Super Ego, Diri Pribadi,  Mana yang benar-benar Ruh?.

Ragam cara dan ungkapan telah ditempuh dan digubah hanya untuk benar-benar memberikan gambaran tentang Ruh. Lelaku Khalwat, Uzlah, Tawajuh, Samadi, Tapa Sepi, Tapa Ngrame, Aurad,  Mantra, Rajah, Kitab, Syiir, Kidung, Tembang, Lagu, Nyanyian, Raga Sukma, Ocultisme, Tanasukh, Reinkarnasi, Manitis, Ungkapan dan sebutan Warangka Manjing Curiga, Kodok Ngemuli Lenge, Kusuma Anjrah Ing Tawang, Galihing Kangkung, Susuh Angin, Gegering Punglu, Tapaking Kuntul Nglayang, Tanggal Pisan Kapurnaman, Alam Awang Uwung, Titik Ba’, Titik Nun, Manifestasi Alif, Sirr, Nur, Astakyun Awal, Martabat Tujuh, Tujuh Langit, Lima Bumi, Baitul Makdis, Baitul Muharram, Jagad Alit, Pastoral, Yoga, Manunggal, Al-Hulul, lalu gelar dan keadaan Indra ke enam, Indigo, Kawaskitan, Kesdik Paningal, Bashirah, Arif Billah, Fana Fillah, Baqa Billah, dan entah berapa banyak lagi yang tentu tidak semua pernah masuk di telingaku. Tetapi bukan itu yang terpenting. Adakah yang dapat benar-benar menjabarkan alam Ruh?.

Ruh tidak tersentuh. Ia sedikit abadi dan nyaris di bawah sempurna. Ia terkunci dan tidak ada yang tahu bagaimana, apa, dan di mana disimpan kunci itu. Ia mungkin berjalan, duduk, berlari, berkaca, merias diri, dan mungkin juga bercakap-cakap dengan sesamanya. Jauh di alam duga yang penuh perkiraan maya. Di luar batas analisa dan prasangka. Di bawah alam bawah sadar yang tidak pernah sadarkan diri. Di atas cakrawala semesta yang sama sekali tiada pernah tersentuh cahaya sehingga tidaklah mungkin dihitung bagaimana ruang, berapa jarak dan kecepatannya. Ruh begitu utuh dan rahasia. Murni juga hakiki. 

Hentikan!. Terlarang untuk membicarakannya lebih dalam.

Seketika. Aku merasa takut sekali. Tidak pernah aku merasakan ketakutan semacam ini. Aku benar-benar marasa takut. Jantungku berdebar hebat. Dadaku bergetar. Kututup kamus tebal di hadapanku. Kepejamkan kedua mataku. Aku ingin menangis tetapi malu kepada bayanganku sendiri. Kusandarkan kepalaku yang layu di kursi kayu yang tidak bergoyang itu. Pikiranku melayang-layang entah kemana. Dan tiba-tiba ada suara yang samar tetapi semakin jelas dan semakin terang. 

“Di mana Ruh, yang bernama “dirimu sendiri”. Ketika kau buka lembaran-lembaran kamus besar di hadapanmu, sore ini?”.


(K G P H : 18 Februari 2021)

Manusia 3

 "Manusia 3"

Oleh : Dardiri

Apa?,

Siapa?,

Di mana?,

Kapan?,

Mengapa?,

Bagaimana?,


Pertanyaan demi pertanyaan,

Atau mungkin terdapat sederetan pertanyaan lain yang tak kita temukan padanannya dalam perbendaharaan ujaran kita, 

Menjadi bilah pedang bermata dua,

Berkejaran di batas garis dan warna,


Adalah penentu,

Bahwa kita,

Benar-benar manusia, 

Yang senantiasa lapar dan haus,

Akan keberadaan dan kebenaran,


Dan, Tuhan,

Lebih dari sekedar persangkaan alam duga kita,-


(K G P H : 17 Februari 2021)

FATAMORGANA

 FATAMORGANA    

oleh : Laeli Sigit

Di sudut ruang

Ku duduk

Terabas pandang kaca jendela

Seakan kau ulurkan tanganmu

Dan... 

Ku sambut senyum bahagia


Halus sapamu ...

buatku ceria

Rengkuh batinku 

Senyaman di surga

Kehangatan hadirmu

Buatku tergoda

Tuk slalu bersama



Semilir angin... 

Sampaikan salam padanya

Bisikan ingat memorial berdua

Seraya berkata

Ku rindu hatimu yang slalu terjaga


Hadirmu buatku utuh

hatiku pun tersungkur luluh 

Kau lumpuhkan janjiku

Dari rasa yang tlah ku kubur tuk siapapun

Jelma sinaran harap

Sibak titik rintihku

Tuk jalani hidup sempurna


Akankah smua bisa terurai

Dan munculkan bunga rindu

Yang bermekaran 

Hiasi hidupku

tuk bisa satukan kita


Lonceng jam dinding 

Hentakkan lamunan

Beri jeda angan dan kenyataan


Aaah.... 

Lagu indah terhenyah

Denting senar terlepas

Nyanyian rindu terhempas

Deru batin terkoyak lemah

Hampa rasa bersimbah rekah



LS-AIA170221

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger