Pages

MEREKA SELALU TERTAWA

 MEREKA SELALU TERTAWA

Oleh : Faiz Abadi

Jis au

Setelah itu mereka mereka berpelukan

Makan bersama

Menelusuri hari demi hari tanpa kesenjangan

Mereka adalah lare lare osing

Selalu bernyanyi meneriakkan kebebasan

Segenap risi adalah kepura puraan

Apakah kau dulu singgah

Lalu tinggal kesini

Adakah rona kebencian pada Lare lare osing

Untuk tinggal di tanah nenek moyang mereka

Yang dibantai Belanda

Puluhan ribu tumbuh membiru

Di palagan Bayu

Jis au

Adalah celoteh persahabatan

Tak lekang oleh jaman

Di atas nampan kue kue dinikmati bersama

Ayah ibuku bertopi blangkon

Disambut udeng bapakku

Bersinergi membangun kejayaan kota

Jis au

Di pasar, angkot, di atas hamparan pasir

Saling piting saling tendang

Lalu pulang berpelukan

Sudah biasa

Bahkan umpatan berawalan huruf A,B,C

Tak mungkin siapa saja merebut kebebasan 

Sejak dulu mereka telah merdeka dari Basa basi

Dunia dan Mantra

 “Dunia dan Mantra”

Oleh : Dardiri

Aku berbicara dalam bahasa mantra,

Warisan indang dan karuhun, 

Inyiak Mamak dan para Datuk,

Para wiku dan ajar,

Resi dan begawan,


Aum,

Dunia mengaum,

Awignam,

Dunia bersemayam

Astu,

Dunia milikku,

Nama,

Dunia miliknya,

Sidham,

Dunia terbungkam,


Sarahita,

Dunia milik siapa,

Samahita,

Dunia kita punya,

Darmahita,

Dunia adalah kita,


Eneng,

Dunia kita oleng,

Ening,

Dunia mu tersungging,

Enung,

Dunia ku tercenung,


Mulih,

Dunia mu beralih,

Mula,

Dunia ku meraja,

Mulanira,

Dunia kita berbeda,


Rahayu,

Dunia mu layu,

Sagung,

Dunia ku tergulung,

Dumadi,

Dunia kita kembali,


Tibalah watunya sendiri menjadi mantra abadi,

Bagi ku,

Bagi mu,


Aum Awignam Astu Nama Sidham,

Eneng, Ening, Enung,

Mulih Mula Mulanira,

Rahayu Sagung Dumadi,-


(K G P H : 16 Februari 2021)

Romansa

 “Romansa”

Oleh : Dardiri

Ada yang tak ada,

Ketika pagi tiba-tiba beralih senja,

Dan senja tiba-tiba menjadi pagi,


Bulu-bulu merak,

Biasanya terbang rendah di atas tikar keterasingan-ku,

Lalu menyunting kelopak seroja merah muda,

Di beranda malam-ku,


Ia datang dari perbukitan romantika lewat belantara rahasia,

Menjadi pena biru bergambar hati,

Kini tengah sembunyi,

Atau memang sengaja disembunyikan dari kutub pandang,


Romansa,

Memang tak pernah lekang oleh masa,


Kamu tentu disekap sepi dan senantiasa terpenjara dalam pengapnya rindu,

Tapi,

Ada keyakinan yang terus mengembara dan berkelana dalam semak kata,

Bahwa kamu akan kembali,

Sebagaimana aku selalu menanti,-



(Tulisan ini didedikasikan sebagai doa untuk Yth. Bpk. Achlis Yusrianto)


(K G P H : 16 Februari 2021)

Seroja

 “Seroja”

Oleh : Dardiri

Baru aku ingat,

Bahwa seroja adalah sama dengan teratai,

Yang selalu gemilang di atas singgasana berpangku udara,

Di gurun mengalir, 

Air namanya,


Setelah beberapa dekade,

Baru kusadari,

Bahwa seroja dengan giwang pesona yang meneduhkan mata dan mengikat harum cahaya di atas telaga,

Pernah menjadi “tanaman” paling menakutkan di ujung timur Lorosae,

Kata mereka kiriman dari negeri kita Indonesia,

Kelopak seroja itu berwarna loreng hijau dan hitam,

Bermekaran di udara dan terjun dengan moncong senjata,

Siapa yang sanggup membelinya?,

Nyawa,

Jadilah penebus paling berharga,

Dengan sekira dua ratus ribu jiwa,

Menjadi rabuk dan pupuk awet muda bagi Indonesia,

Kata mereka,

Falintil dan Fretilin benar-benar merasa seperti lilin,

Yang kehabisan sumbu dan tempatnya berdiri,

Kemudian meleleh dan luluh lantak digilas kelopak seroja yang berterbangan seperti kelelawar siluman dan merayap mengendap seperti naga laut selatan,


Bunga seroja yang ditanam di sana,

Tumbuh bermekaran dengan pendar pesona,

Menjadi patung Cristo Rei di sempadan bukit Fatucama,

Menjadi Masjid An Nur di Kampung Alor,

Menjadi jembatan penghubung Atambua dan Belu,

Menjadi Universitas Timor-Timur dan bandara besar di jantung Kota Dili,

Menjadi warna biru, hitam, merah sejarah,

Ada darah,

Tak dipungkiri pula,

Begitulah adanya,


Dan atas nama kedaulatan,

Setelah dua dasawarsa lebih bunga seroja yang di sana kelopaknya ermekaran dan berguguran,

Kini,

Telah dikembalikan ke Indonesia yang katanya ingin selalu awet muda,

Lengkap dan utuh dengan warna senja yang dilesakkan matahari jingga,

Merdeka!,

Ujarnya,

Entah kebetulan, kebenaran, atau justru kesalahan,

Bumi Lorosae yang ranum dan wangi,

Benar-benar mandiri dan berdiri sendiri,

Siapa yang tak ingin mencicipi,

Berebut pandang dan tangan untuk menggoda dan dengan nakal mencubit bahunya,

Dan seandainya bunga seroja kita tidak pernah bermekaran di sana,

Mungkin lebih menakutkan apabila kita mendengar dongeng tentangnya,


Timor Lorosae telah menjadi kolase,

Terpampang di papan kaca,

Di harum cahaya bunga seroja,

Menjadi legenda dengan batas negara,

Di dalam skala peta Indonesia,


Sekarang bunga seroja memekarkan mahkotanya,

Merupa doa,

Di pemakaman para pecundang dan pahlawan yang pernah bersilang tajam,

Atas nama kedaulatan,

Dan kita,

Tetaplah Indonesia,

Dengan ratusan juta bunga seroja,

Bermekaran dalam jiwa kita yang merdeka,-


(K G P H : 16 Februari 2021)

Pesawat Dari Kertas

 “Pesawat Dari Kertas”

Oleh : Dardiri

Kamu tak pernah bilang jika air lautpun suatu saat menawar karena air mata,

Dan yang bergoyang karena terombang-ambing tamparan angin di atasnya,

Pun,

Suatu ketika terdiam dalam rimba sia-sia,


Bulu-bulu halus di perbukitan jemarimu setidaknya lebih cepat merampungkan sulaman masa silam,

Milikmu sendiri yang kau buatkan pesawat dari kertas dan lalu kau panggil siul angin untuk membawanya ke seberang,

Benar juga,

Menyeberang selalu membutuhkan ruang untuk ditinggalkan,

Berjalan selalu membutuhkan pijakan untuk dilewatkan,


Jika laut kelak akan bercerita perihal sesiapa yang berlalu lalang dan menyeberang,

Pesawat kertas yang kau sisipkan pada selembar angin suatu saat nanti akan berkisah tentang perjalanan yang tak pernah kembali,


Di situlah,

Aku, 

Pesawat kertas yang kau ciptakan,

Tinggal landas karena terlindas segala majas,

Terjerembab dalam pusaran masa silam di bawah sepatumu yang bergambar langit biru,


Akulah pesawat kertas yang kau ciptakan,

Dan setelah terbawa ke seberang bersama selembar angin,


Tak pernah kau cari lagi,-


(K G P H : 15 Februari 2021)

DIBALIK KEDAMAIAN ABADI

 DIBALIK KEDAMAIAN ABADI

Oleh : Faiz Abadi

Kadang kita menggerutu

Saat semuanya menjerit pilu

Di tanah rekah diterjang gempa

Di bumi telah rata setelah banjir bandang

Tapi kau selalu bisa menyalahkan saja

Lalu seolah empati

Dengan berebut nama 

Sedang bumi geram menahan marah

Sebab ulah tiada berkah

Jujur katakan

Kemudian Insyaflah

Dalam deru waktu yang pacu

Dalam setiap geliat nafas peradaban

Dalam diri kita

Siapakah yang bertahta

Tersungkur saat harusnya bersyukur

Apakah bukan kufur

Bahkan hak si Fakir

Rela kau berikan untuk segenap darahmu

Terkapar saat harusnya bersabar

Saat itu sebenarnya ingkar

Terpuruk di ujung keputusasaan

Dalam tiap detik kau hirup udara

Baru akui betapa nikmatnya

Saat semuanya sudah terlambat

Salahkah Bumi tumpahkan Murka

PERKENALKAN NAMANYA

 PERKENALKAN NAMANYA

Oleh : Faiz Abadi

Masihkah engkau menyebut namamu

Generasi penerus tak butuhkan sekedar nama

Sebab kelanggengan karenaNya

Setiap pemberian adalah untukNya

Keberkahan adalah seperti helaan nafas

Tidak berbekas

Lahirkan generasi

Berlari

Mengitari pagi sampai malam sunyi

Dendangkan puja puji

UntukNya

Hanya satu nama

Juga sebenarnya keberkahan abadi

Saat kau berbaring terasing

Di bawah sana

Masihkah pemberianmu

Masihkah jejak jejak langkahmu

Masihkah darah dagingmu

Laksana air mengalir tiada henti

Membentuk awan keabadian 

Selamanya mengalirkan pahal tiada hentimya

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger