Pages

KITA PERAWAT YANG TIDAK TERGESA-GESA

 KITA PERAWAT YANG TIDAK TERGESA-GESA

Oleh : Nurul Ludfia Rochmah

Kita tidak akan tergesa-gesa

untuk merawat bunga-bunga

biarkan tumbuh putik dalam kebun puitik

Akar menjalar kita tunggu dengan sabar

Ia akan menyembuhkan memar

Kita tidak gusar

Untuk menuntaskan luka

Biarkan ngalir ngilunya

Kita berani menawar

lalu menebus borok yang menganga

Mengurap belatung di muka

Menyajikan dalam secawan perih

Ranting rapuh mengaduh

boreh daun menggumpal menyumpal

sembuh yang berharap tidak menjauh

demikianlah kita merawat duka lalu luka lalu berlalu 

Kita memang hati-hati

Perlahan-lahan menyisakan keraguan

Namun senyum itu menghapus

Langkah yang hampir patah

Kita memang tidak akan sia-sia

Merawat ketidaktergesaan

Kembang Gula

 "Kembang Gula"

Oleh : Dardiri


Amit,

Amit,


Sambiloto memang pahit,

Brotowali terasa pahit,

Tapak Liman juga pahit,

Jintan hitam lebih pahit,

Babakan pule pun masih pahit,


Abrakadabra,

Abrakadabra,


Jadilah kembang gula,

Dikirim untuk siapa?,

Si anu yang sedang anu?


Pim pim pom,

Pim pim pom,


Kupu-kupu menjadi kepompong,

Nasi kebuli jadi oncom,


Kita,


Berkaca di bawah jendela,


Tak menjadi apa-apa,


(K G P H : 13 Januari 2021)

SATU NAMA BEDA AURA

 SATU NAMA BEDA AURA

Oleh : Faiz Abadi

Hanya satu nama

Hinggap di hati kita

Tetapi kasihMu tidak sama

Karena getaran cinta juga berbeda

Literasikan kalam Al kahfi

Kekuatan akal nyata

Tunduk tak berdaya

Di bawah telapak spiritual ghaib

Tersembunyi

Membaca dhohir

Hingga kearifan tersembunyi

KasihMu dari Bapak Adam hingga Rasul penutup jaman

Berlanjut sampai sangkakala ajal penutup roda kehidupan

Dari karbitan, semu, rindu sungguhan

Dari rindu bertemu, enggan bertemu, terpaksa bertemu, memaksa bertemu ditiang gantungan

KasihNya pada ujung namaNya pada jiwaMu

Tentunya sama sekali bukan untuk kufur padanya

Juga berbibir manis tapi legam hatinya

Mengatakan ya di mulut

Tapi tidak di hatinya

Sedangkan diam saja padahal melihat suatu kesalahan

Adalah selemah lemah iman

Kita strata ke berapa

Rupa mana tertanam pada jiwa

Bukankah kaum beriman tahu segenap kesenangan adalah penjara

Mengambil sebatas energi untuk ibadah

Lanjutkan tembang tembang puja puji hingga tembus di langitNya

Juga segenap kepemilikan emas permata 

Diberikan begitu

Pada setiap jalan keikhlasan membutuhkan

Atau tetap dipeluk hingga ajal tiba

Oleh Si kikir nelangsa jiwa

Kau semburkan kata egois pada para pejuang kalam

Bangun di sebagian malam

Ada banyak pilihan

Untuk namaNya tertanam dalam jiwa

Di sudut remang remang atau terang benderang

Co-Vi -Desease 19

 "Co-Vi -Desease 19"

Oleh : Dardiri


Wuhan,


Bukanlah Kediri atau Sumedang,

Tempat,

Tahu kuning sama-sama dinobatkan,


Angin,


Lewat angin,

Kabarmu berputar-putar,

Seperti gasing kayu dicumbu permukaan datar,


Segera saja,

Lautan bah, 

Berdesingan tiba-tiba seperti kerumunan lebah,


Kita,

Tentu ada di sana,

Sesekali saling mengeja,


Apa yang sedang diurapi dan digenapi?

Kehendak-mu begitu halus,

Seperti serabut sutra belum sempat bersenggama dengan  pintal pertama,


Apakah sia-sia?,

Melewatkan kepungan tiga ribu empat ratus delapan puluh delapan kilometer, 

Dan tikungan dua ribu seratus enam puluh tujuh mil,


Kamu sampai di sini,

Sedang kami,

Belum lagi mandi merias diri,


Hukuman,

Adalah bagi yang menimbulkan derita,


Teguran,

Adalah bagi yang sesekali bertatap muka,


Tuhan, 


Adalah Seniman Agung,

Dalam ke-Maha-annya,


Dan,

Kita,


Sendiri,


Menyambut janji dan teka-teki tak pasti, 


Jikalau,

"Takut" yang diciptakan dalam "kesempurnaan" kami,

Selaras dengan Kehendak-Mu,


Pulangkanlah,

Tamu kami,-


(K G P H : 12 Januari 2021)

Namamu ada di sana,

 "09 Januari 2021"


Lima senti ke timur,

Dari kota Semarang,

Sampailah di Jalan Tunjungan Surabaya,

Lebih cepat dari penerbangan super canggih sekalipun,


Di atas permukaan laut,

Di bawah jalan-jalan lengang "Daendels 1808",


Di dalam peta,

Kita tak pernah bicara,



Bawalah buku- buku-mu,

Di dalam tas,

Boleh juga di dalam sarung kotak-kotak yang berongga kedap udara,


Mutu manikam,

Mutu manikam,


Sungai Mahakam,

Lapar oleh makanan,

Tentu bukan racikan bumbu atau ulekan sambal udang,


Langitpun lapar,

Bukan oleh makanan,

Tetapi berita yang tiba-tiba,


Bukan,

Gelegar itu bukan gunung meletus,

Segera setelahnya, 

Senyap sesaat,

Merajai titik koordinat dan garis lintang,


Lebih dari empat lusin,

Dengan padanan kata "ruh",

Kehilangan tempat bermukim sementara,


Gugurlah,

"Kembang Goyang Udara",

Seperti getar "Ongklok"

Terlepas dari "Gending Lukinto",



Jikalau,

Andai saja,

Seumpama,


Tentu bukan saatnya "mengisi" teka teki silang,


Suatu saat nanti,

Ketika Kepulauan Seribu,

Berganti nama menjadi,

"Kepulauan Dua Ribu"

Atau,

"Kepulauan Sepuluh Ribu"


Barangkali,

Namamu ada di sana,

Oleh : Dardiri

Dan,

Sekali lagi,


Tuhan punya "rahasia",-


(Tulisan ini didedikasikan untuk perirtiwa dan korban kecelakaan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 Tanggal 09 Januari 2021)


(K G P H : 12 Januari 2021)

BERGURU PADAMU

 BERGURU PADAMU

Oleh : Faiz Abadi

Berguru padamu aku tak mungkin pongah

Di balik amanah masih saja payah

Ketika kuhampiri bapak si tukang becak

Iri sungguh iri

Tawamu tulus walau tanpa fulus

Keceriaan keikhlasan apa adanya

Meski tidak ada apa apa

Senyummu indah dikulum

Walau buta soal hukum

Sinar mentari membuat rambutmu keriting

Namun jiwamu tidak pernah kering

Kau tidak pernah jumawa

Lihatlah mereka

Terlena dengan kuasa sedikit saja

Abang tukang becak kemarilah

Bolehkah aku memintamu

Tuliskan satu sajak

Agar mimpiku selalu indah

Tuliskan kata kata

Mengapa dirimu bebas dari buruk sangka

BERGURU PADAMU

 BERGURU PADAMU

Oleh : Faiz Abadi

Berguru padamu aku tak mungkin pongah

Di balik amanah masih saja payah

Ketika kuhampiri bapak si tukang becak

Iri sungguh iri

Tawamu tulus walau tanpa fulus

Keceriaan keikhlasan apa adanya

Meski tidak ada apa apa

Senyummu indah dikulum

Walau buta soal hukum

Sinar mentari membuat rambutmu keriting

Namun jiwamu tidak pernah kering

Kau tidak pernah jumawa

Lihatlah mereka

Terlena dengan kuasa sedikit saja

Abang tukang becak kemarilah

Bolehkah aku memintamu

Tuliskan satu sajak

Agar mimpiku selalu indah

Tuliskan kata kata

Mengapa dirimu bebas dari buruk sangka

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger