Pages

Rindu membeku

 Rindu membeku

Oleh ; Syafaat

Aku titipkan rinduku kepada sinyal wifi yang berhembus 

Perlahan menyelusuri HP mu dan tak kunjung kau buka

Kuberharap kau merasakan rinduku juga

Rindu yang telah mencapai puncaknya

Hingga lelah membeku dan takkan pernah sirna

Meskipun rindu telah membunuh semangatku pagi ini

Tak mengapa jika itu membuatmu bahagia

Potret senyummu telah sedikit mengobati luka

Dari gairah yang kau pangkas begitu saja

Cintaku tak berkurang karenanya

Menunggumu dengan kesabaran ekstra

BORGOL AKU

 BORGOL AKU

Oleh : Faiz Abadi

Tuhan borgollah aku

Setelah lelah ku lepaskan anak panah

Seharian telah ku bawa dari langit

Ku kabarkan pada mereka

Ayat ayatmu tidak pernah mati

Tuhan borgol diriku

Mereka kini dalam buaian mimpi

Lelah bertingkah

Cicak, kadal, buaya, monyet srigala 

Juga manusia benar

Dan benar benar manusia

Terlelap mati sementara

Menunggu fajar menyingsing tiba

Tuhan borgol aku

Benamkan aku 

Pada ampunanmu

Pada rahmatmu

Nyayianku bukan lagi doa

Sudah bias Surga dan Neraka

Seharian sudah ku kabarkan pada mereka

Rindu menderu

Dendam membara

Pada kesunyian

Pada kemurnian rasa

Kini aku kembali tanpa tasbih

Ambil segenap kuasaku

Borgollah aku

EPISODE CICAK BUAYA

 EPISODE CICAK BUAYA

Oleh : Faiz Abadi

Telah lama

Tapi takkan pernah sirna

Meski dirimu telah hina

Tertelan congkakmu

Cicak telah mengirimmu ke penjara

Apakah kau ingin itu

Arogansi adalah orgasme

Sekian detik lantang

Sekian waktu lari tunggang langgang

Bersimbiosis dengan kadal

Kaupun jadi kadal

Sejarahpun kelak mencatatnya

Belum terlambat

Masih menunggu saat tepat

Gosoklah hati sebagai cermin

Senandung tombo ati

Pada tiap termin termin

Jadikan obat

Sebelum taubat

Waktu tetaplah lugu

Menggerus wajah wajah palsu

Subuh, terik mentari, senja, dingin menusuk nusuk

Sebenarnya kau tahu

Tetapi mengapa diam membisu

"Musang-Musang, Masing-Masing"

 "Musang-Musang, Masing-Masing"

Oleh : Dardiri


Musang-musang

Menyelundup di kolong jembatan

Membawa bokor kencana

Berisi durian yang hampir matang


Air kencing yang khas

Terpontang-panting di pantatnya

Tetapi tisak beracun kawan..


Musang-musang berenang di kali comberan

Yang warnanya hampir hitam

Membawa durian,

Dari hulu ke hilir

Hilir ke hulu

Mondar-mandir seperti kehabisan pikir,

Tetapi bukan bingung sobat…


Musang-musang-musang bertemu biawak

Tetapi tidak jijik

Musang-musang bertemu ular

Tetapi tidak gentar

Musang-musang bertemu segerombolan buaya

Tetapi tidak takut


Karena musang pandai menyelundup,

Karena musang pintar menyelinap,

Karena musang lihai menghilang,


Air kali telah menjadi hitam

Bau kentut ke mana-mana

Bau kencing ke mana-mana

Bau musang di mana-mana


Tetapi,

Musang menghilang

Membawa kisah kelabu dan biru tua

Dalam selinap masing-masing


(AY : 09 Januari 2021)

KATAMU TUHAN DI ATAS SANA

KATAMU TUHAN DI ATAS SANA

Oleh : Faiz Abadi

Katamu tuhan di atas sana

Di setiap sudut sudut maumu

Kau menghamba?

Seperti semuanya Pencipta

Di lembar lembar traktat manusia

Semua bisa berubah atas nama dinamika

Atau terlibas kemajuan begitu saja

Budaya, ekonomi, politik, kecuali ideolgi

Setiap terlahir sebagai bayi kudus

Tergenggam pada tangan tangan kesepakatan

Dengarkan kembali arti demokrasi

Adalah atas dasar suara hati

Adalah terbangun atas kebenaran menuju kebaikan

Bukan sebaliknya

Tidakkan bisa tutup telinga

Atas jeritan dibawah sana

Karena suara mereka adalah suara tuhan

[10/1 17.39] Syafaat: Tatap selain muka opo juga ditunda

APAKAH MULUTMU HARIMAU

 APAKAH MULUTMU HARIMAU

Oleh : Faiz Abadi

Itukan omongan sampah

Kau katakan banyak tingkah

Atau banyak polah

Kau bunuh karakter lawan lawanmu

Juga siapa tidak kau suka

Kau tutupi dirimu sendiri

Kreaktifitas dangkal

Ilmu terbatas 

Maklum buas

Anehnya cacian sarkasme berlanjut

Dari meja ke meja

Hingga bisik bisik tetangga

Sebenarnya siapa?

Mulut dan hati sama hitamnya

Siapapun terpuruk karena ulahmu

Menyeka air mata di malam gelap gulita

Jiwa dimabuk angkara 

Sedikit kesempatan saja

Enam puluh tahunan saja

Sebelum dikirim di bawah sana

Belatung

Amis tubuhmu

Cacing cacing tanah

Menemanimu

Pada setiap kata 

Tertiup angin kemana mana

Kembali

Kembalilah ubahlah arah

Sedekah harta

Sedekah ilmu

Akan menghapus duka

Kekal abadi di negeri sana

Atau

Tebarkan salam

Tebarkan keindahan senyuman

Lemparkan setiap keburukan pada setiap detik

Pada kata

Pada setiap prasangka

PASTI BERKIBAR

 PASTI BERKIBAR

Oleh : Faiz Abadi

Percuma kau menghalanginya

Ingatlah pada 10 November itu

Jerit pilu - letupan peluru

Menderu dalam catatan waktu

Seperti juga tahun 45

Dwi warna berkibar

Berjuta rintangan berkobar

Takkan bisa mencegahnya

Setelah sekian masa

Ayo terus maju

Kini kitalah sang pejuang

Di tengah angkara berbalut curiga

Bercampur iri dengki

Tetaplah terbang tinggi

Sama saja 

Di sini atau di sana

Untuk kejayaan teruslah jaya

Teruslah juara

Walau si pecundang menghadang menghalang

Tetaplah sirna

Raih prestasi setinggi tingginya

Pada gelaran sajadah di tengah malam

Dalam sujud pada setiap helaan nafas

Setiap onak duri pasti terhempas

Karena NurMu

Selalu bersama

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger