Pages

Bulan Hujan Penuh Cinta

 Bulan Hujan Penuh Cinta


By. Viefa


Cerah menoreh di cakrawala

Pagipun tiba 

Surya menyapa Semesta terjaga

Di bentang permadani alam

Petani tua tetap setia menyapa sawah di pagi buta

Daun-daun menghijau gembira

Rumput-rumput mendongak ceria

Bulan hujan penuh cinta

Bertubi-tubi melesak rintiknya menyapa

Aroma tanah sepekat coklat lekat

Kususuri sepanjang jalan

Di sana tempat pengabdian yang terus kujaga


swarapagi@Viefa

BWI, 10/1/21

BERIKAN AKU MINUM

 BERIKAN AKU MINUM

Oleh : Faiz Abadi

Tuhan sembuhkan dahagaku

Tetapi bukan air 

Aku haus akan kejayaan negeri

Semoga terulang kembali

Memori tak pernah terlupa

Gus Dur pemimpin agama sedunia

Kebanggaan kami

Juga tidak pernah sirna

Bapak Soekarno

Bapak Hasyim Asyari

Bapak Ahmad Dahlan

Atau semua mereka di sana

Cerahkan dunia

Wahai Anak anak negeri

Walau kini tinggal mimpi

Apalagi di atas angkasa dirgantara pernah berjaya

Namun Habibi telah tiada 

Bagaimana juga harapan terus ada

Kelak kan tiba

Harga pupuk murah

Petani kian berwajah cerah

Rakyat jelata tersenyum bangga

Tidak ada lagi kredit

Merk merk sepeda roda dua

Bahkan roda empat

Di atas jalan sempit dan jalan raya

Berganti nama oleh tangan tangan terampil

Pewaris negeri tercinta

BERHALA HARIMAU DAN SINGA

 BERHALA HARIMAU DAN SINGA

Oleh : Faiz Fauzi

Gemetar sedih

Ketakutan tiada tara

Di atas cucuran keringat dingin

Salah apa

Mengapa begitu mudahnya terjadi

Kekejaman pada sesama

Jerit tangis

Isak pilu

Terjadi di mana mana

Ketika angkara di atas tahta

Bayi suci di atas sungai Nil

Bilal Sang Muadzin

Potongan potongan jasad di jalur Gaza

Onggokan tulang di Bosnia

Kini berganti rupa

Pembunuhan karakter teman semeja

Kekejian lidah atas jiwa 

Saksi saksi abadi

Hingga kini terus terjadi

Kemana ayahku ibu?

Di mana kakiku Ayah?

Berganti ironi

Siapa kawan dan lawanku kini?

Mengapa

Mengapa nestapa itu tetap ada

Kuhaturkan padamu Paman Syam

Paman paman di seluruh dunia

Juga paman bibi di sini

Hentikan 

Hancurkan altar pemujaan

Berhala berkepala Singa

Patung patung Harimau

Porak porandakan di segenap penjuru dunia

Bersama bau kemenyan dan dupa

Enyahkan 

Tepiskan

Jangan pernah menjelma dan menitis

Pada muka hitam legam

Pada lidah menjulur

Menyanyi bahagia

Di atas derita para korban penindasan dan Fitnahs

#Lentera#sastra

Pagi Terus, Malam Jarang

 Pagi Terus, Malam Jarang

Oleh : A. Novel

Matahari terbit tanpa malu

Menyombongkan cahaya miliknya

Membubul tinggi kian tinggi

Seakan tersenyum bangga

Dipamerkan kepada alam

Alam pun menyambut dalam malu


Manusia pun terbantu dengan cahaya itu

Melihat jelas sudut pandang manapun

Terlihat jelas gagahnya

Terlihat jelas tampan dan cantiknya

Terihat jelas emas berkilauan terpasang di tangannya

Terlihat jelas keangkuhan

Tatkala memakai jas mahal berdasi


Sehingga terangnya cahaya itu

Membuat manusia hanya memandang hiasan

Manusia hanya megagumi ketampanan dan kecantikan

Hanya menganggap ada yang emasnya berkilauan


Sementara di sudut lain memojok malu

Kebenaran tak dilirik

Kejujuran tak diusik

Kebersahajaan tak diminati

Karena tak sempat mengurus dirinya

Tak sempat merias wajahnya

Sehingga terlihat lusuh dan tak diminati


Itu karena negeri kita, hari ini

Kebanyakan paginya, kekurangan Malam

Terlena akan kesenangan sementara

Kurang bahan tidak ada waktu

Untuk merenung.........



#Lentera#Sastra

Buka Pintu Rumahmu

 Buka Pintu Rumahmu

Oleh : Syafaat

Malam ini tetap saja aku kerumahmu

Sampai jenuh engkau memandangku

Biarlah begitu

Sampai engkau tak ragu

Mungkin

Bapakmu juga penuh tanya

Ada apa dan kenapa

Kembang kembang depan rumahmu juga sedang bermekaran

Menyambut aku datang

Dikiranya aku kumbang malam

Atau mungkin juga

Keraguanmu semakin tajam

Namun

Aku tak pernah pupus harapan

Penantian pasti kan berujung

Akan kubuka gaun biru yang kau kenakan

Dikamarmu, selepas kehadiran penghulu

Akan kubacakan puisi ku

Ah uh ah uh begitu

Suara tak menentu


Balada 12"

 "Balada 12"

Oleh : Dardiri

Suatu ketika, 

Serigala dan domba asyik bertukar muka,


Berkisah tentang negeri-negeri yang dipenuhi penguasa,

Lampu pijar dan kereta api,

Keruwetan sinyal dan tumpang tindih informasi,

Gending Manyura,

Orkestra balai kota,

Reagae nyat-nyut yang konon bisa bikin manggut-manggut,


Bulu kuduk mereka berdiri,

Tetapi bukan karena ngeri, 

Darah mereka terkesiap,

Tetapi bukan karena terperanjat,


Sementara abad beranjak milenial,

Dan hidup,

Masih saja saling jejal,


Lupa makan,

Lupa minum, 

Lupa tidur,

Lalu,

Lupa segala-galanya,


Hingga,

Suatu sore di penghujung bulan dua belas,


Serigala,

Mati ditembak pencuri,


Domba,

Mati disembelih Pak Haji,


Mungkin mereka lupa,


Bahwa serigala bukanlah domba,


Dan,


Domba,

Tentu bukanlah serigala,-


(K G P H : 09 Januari 2021)

"Surat Darimu"

 "Surat Darimu"

Oleh : Dardiri


Tiga hari yang lalu,

Kaukirim surat padaku,


Rindu,

Katamu,


Kamu bercerita,

Tentang langit yang menyempit,


Tentang lantai rumahmu yang porak poranda,

Karena hantaman dendam,


Tentang atap rumahmu yang bocor,

Dan air hujan,

Dengan bebasnya menjelajahi ruang tamu,

Dan dapur rumahmu,


Tentang kegelisahan istri dan anak-anakmu

Yang selalu dikuntit penyesalan


Kamu juga bercerita,

Bagaimana nasib yang mujur,

Telah mengalihkan pilihan kepada tetangga-tetanggamu


Suratmu begitu tebal,


Dan aku,

Belum sempat membalasnya,-


(AY : 09 Januari 2021)

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger