Pages

KAU TERTAWA SEDETIK SAJA AKU TERSENYUM SELAMANYA

 KAU TERTAWA SEDETIK SAJA AKU TERSENYUM SELAMANYA

Oleh : Faiz Abadi

Kau kira dirimu jaya

Bersimbiosis rupa rupa warna hitam

Bersekutu dengan kepalsuan

Lepaskan tawamu pada kelucuan semu

Kau tidak pernah memilih kalimat istighfar

Pada sajadah tergelar

Wajar saja di kala terik mentari gigimu menyeringai

Kadang kau mirip burung pelatuk

Takkan berhenti membikin keresahan

Sebelum pohon tumbang menimpa siapa saja

Sedangkan di kala senja menampakkan rupa kau terbuai mimpi terhimpit bumi

Tak bisa berlari 

Masihkah belum sadar

Pada Iqra pergantian malam dan siang

Atau menunggu waktu saat itu

Jiwamu diambil paksa

Walaupun rasa jasad kuat memilikinya

Ha ha ha

Masih juga kau tertawa lebar

Padahal kapanpun bisa terkapar

Tawamu  sesaat terperangkap sesat

Kau tetap tepiskan tanganku

Padahal kutawarkan senyum abadi

Tanda kedamaian di bawah pucuk pucuk Kamboja

LEMBAR KITAB LAUT MERAH

 LEMBAR KITAB LAUT MERAH

Oleh : Faiz Abadi

Awalnya  tidak pernah dimengerti

Betapa sayangnya engkau pada Musa

Mengapa engkau biarkan terlunta lunta bertahun tahun di bawah telapak kaki Fir'aun

Padahal begitu mudahnya Engkau selamatkan ketika masih bayi

Tuhan di kala dingin menusuk tulang

Saat cahaya cahaya bulan berbagi rasa dengan bintang

Ku literasikan ayat laut merah

Pada setiap denyut sejarah

Penyembahan manusia pada egonya

Berwujud kesirikan tahta ada sejak zaman dulu

Bahkan ketika qobil membunuh habil 

Dengan topeng kasih cinta

Ku kira sama saja

Tuhan sepertinya Engkau sengaja

Agar Musa tidak pernah lalai melantunkan namaMu

Dalam setiap detik hitungan tasbih

Agar namaMu

Tetap berkibar

Dari magma bumi hingga batas tertinggi angkasa

Allahu akbar walillahilham

Kau berikan mukjizatmu padanya di laut merah

Ketika nyalinya sudah di garis batas tidak berdaya

Sedangkan angkara jelas kufur karena merasa paling berkuasa

Seolah paling menentukan nasib manusia

Iman dan ketaqwaan benar benar dalam ujian kelulusan

Sebelum perintahMu

" Pukulkan tongkat ke Laut Merah"

Lantas bagaimana pada sekian kurun waktu

Tampaknya tidak terlalu berbeda

Banyak umat manusia pendengar ayat ayat ingkar 

Suka tertawa pada penderitaan sesama

Keluguan terpasung bisu ditempatnya

Segenap tipu daya terlalu sering memakan mangsa

Kamipun harus memilih di antara dua jalan itu

VIRUS DISEBERANG LAUTAN JELAS KELIHATAN

 VIRUS DISEBERANG LAUTAN JELAS KELIHATAN

Oleh : Faiz Abadi

Kita dalam

belantara terbakar

Nyanyi hati sunyi telah berganti hiruk pikuk caci maki

Apa kau dapat

Cermin cermin telah retak

Gajah dipelupuk mata tidak tampak

Aib sebesar zarah terbang kemana mana

Atas nama kebenaran

Kau lipat siapa saja

Kau hembuskan angin lesus

Puting beliung

Hujan badai

Jiwa kau gadai

Mengaku pandai

Padahal keledai

Sangkur bayonet bukanlah apa apa

Dibandingkan pembunuhan nama

Mulutmu angker

Pembunuh karakter

Kota tua dipenuhi semak belukar

Banyak kadal menunduk

Padahal hendak menimpuk

Sepercik api saja akan membara

Siapapun asing bahkan dengan diri sendiri

Gaung adzan tak lagi bermakna

Hatipun semakin merana

Semakin mudah saja

Ayat ayat kau jualbelikan

Seperti tidak berarti apa apa

Aktor Media

 Aktor Media

By. Viefa


Apakah ini yang namanya persatuan

Saling menimpuk padahal kawan

Mencaci saudara tak setujuan

Bersilang pedang lontarkan suara paling lantang

Sementara di bawah panggung bersama-sama melipat tangan di bawah meja 

"Keuntungan hari ini sudah berapa?"


Apakah ini yang disebut persatuan

Beragam peran aktor di panggung media

Sikut kawan

Kuntit teman

Saling mencuri pandang untuk dipuja

Beragam aksi cuitan terkini

Pasal-pasal berlapis

Menghiasi ragam media laris manis

Dibalik dasi menyulur panjang mainkan peran

Turun berlaga bercengkrama saling berbagi kembang gula

Apa yang dipertontonkan

Apa yang diperjual-belikan

Huru hara tiada henti 

Kau tertawa


selirispagi@viefa

BWI, 7/1/20

SAAT TUBUH KEHILANGAN RUH

 SAAT TUBUH KEHILANGAN RUH

Oleh : Faiz Abadi

Apakah kalian bangga

Di atas buku laporan mereka

Sedangkan jati diri tak hinggap di sana

Kecerdasan literasi alam, sosial, teknologi tak berbentuk rupa

Akan kemanakah mereka saat bertarung kelak

Jiwanya rapuh

Keuletan

Pantang menyerah

Kreativitas karena mandiri

Berkah rejeki karena kejujuran

Telah melayang dari jasad jasad tak berdosa

Ayolah kita perbaiki mindsetnya

Setelah itu kita bicara takdir

Mimpi harus segera terwujudkan

Industri otomotif, pertanian, kelautan,pertambangan segeralah hasilkan devisa

Tentunya lahir dari putra putri terbaik bangsa

Tidak ada lagi menjerit karena kredit

Karena harga semakin selangit

Karena memang bola ditangan mereka

Bahkan menggelinding menjadi roda

Menyebabkan rupiah belum menjadi raja

Bukalah matamu lebar lebar

Jangan mengatakan terserah tuhan saja

Kita adalah agen perubahan

Blue print kekuatan jiwa

Jadikan mereka seperti para ekspansi ekonomi

Berlayar ke segenap negeri

Berdalih rempah rempah seperti ketika itu

Jadikan mereka naga dunia membelit dengan SDM tiada tara

Jadikan mereka para Samurai sejati

Tusukkan senjata harakiri demi negeri

Ayo ambil ruh ruh mereka 

Hujamkan pada benak generasi generasi pewaris tahta

Narasikan dengan benar jangan berkelakar

Lewat instropeksi panjang

Bukan asal bicara

Jasad jasad tanpa jiwa

Menyebabkan menjadi pecundang

Di arena olah raga bangsa bangsa

Di arena perlombaan senjata

Disegenap medan tempur diplomasi

Lihat lihatlah 

Nasib berjuta generasi ada ditangan kita

Pemegang amanah sebagai agen perubahan

TUHAN PERTEMUKAN AKU DENGAN WALIMU

 TUHAN PERTEMUKAN AKU DENGAN WALIMU

Oleh : Faiz Abadi

Tuhan pertemukan aku dengan para kekasihmu

Penyelamat dunia, tidak pernah sekedar mencari muka

Mencari keselamatan diri tak peduli nasib sesama

Apalagi menyingkirkan teman satu profesi

Aku yakin selalu ada

Ku yakin Selalu Engkau berikan

Penyelamat negeri tercinta

Lewat mereka berseragam seperti kita ataupun rakyat jelata

Dimanapun jua mereka

Selalu kupanjatkan doa pertemukan dan kumpulkan

Agar mereka mencerahkan fikiranku

Mencerahkan hatiku

Membantu mengayomi diriku, masyarakatku, juga bumi pertiwi

Aku tidak peduli Siapa Mereka

Para mualafkah

Santrikah

Para ulamakah

Para pemimpin negerikukah

Atau sahabatku disini

Atau justru anakku, anak didikku

Karena belum tentu aku mengenalnya

Tuhan terus aku memohon dekatkan aku dengan mereka

Pembawa kedamaian juga keselamatan

Di dunia fana juga keabadian di sana

WAHAI PENCERAHKU SEMPURNAKAN NEGERIKU

 WAHAI PENCERAHKU SEMPURNAKAN NEGERIKU

Oleh : Faiz Abadi

Kalian disana kebanggaan kita

Penghuni dunia maya, media masa, media media di udara

Apalagi semua pemimpin hasil demokrasi

Juga yang dibubarkan tapi sebenarnya diselamatkan

Kalian adalah kecerdasan politik

Narasi kecerdasan kemajuan negeri

Narasi keutuhan dalam perbedaan

Satu permintaan saja

Untuk siapa saja

Dari para atasan atau semua rakyat jelata

Berikan narasi keindahan sastra

Tinggalkan sarkasme dalam berkata

Pada negeriku elok tercinta

Agar kebanggan kami sempuna

Tidak ada silat kata untuk sekedar pencitraan

Hantam sana hantam sini

Luruskan semata mata bagi kebaikan anak anak bangsa

Kita semua saudara dibawah kaki Burung Garuda

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger