Pages

LUKISAN KOTA DI LANGIT PANTAI BOOM

 LUKISAN KOTA DI LANGIT PANTAI BOOM

Faiz Abadi

Kini usiamu tak lagi muda

Geliat kota dari energi tarian gandrung sewu semakin bergairah

Api semangat Lare Osing terus menyala 

Sebab teraliri darah dari mereka, tidak pernah menyerah

Di sini, di bayu, di seluruh kota telah bersaksi

Geliat kota terus terbakar

Di atas tumbal tumbal sejarah 

Ketika meriam kompeni meledakkan jasad jasad para kusuma bangsa

Harumnya kini menyatu dengan derap kreasi belahan negeri  Dulu  wangi mu terus menitis membumi

Jiwamu belambangan lahir dari mereka

Kinipun warna kota 

Tetap terang benderang terukir indah dari tangan tangan luhur

Membangun negeri dari altar altar suci

Tanpa mengorbankan kemurnian api semangat anak anak negeri

Bisakah seperti mereka jika hanya manggut saja

Wek..wek..seperti bebek

Hanya membeo menirukan kata kata manis

Tidak malukah..

Lihat putih buih

Menjelma menjadi awan di mahkota langit jingga

Dari laman sejarah dewi sekar tanjung juga sayu wiwit lahirlah bayi bayi kudus 

Menepiskan kemalasan 

Apalagi nafsu angkara

Jangan pernah ada jerit pilu dari luka luka menganga

Karena ketidak adilan dan kemiskinan

Jadilah engkau  abstraksi lukisan terbaik di ujung timur pulau Jawa

Bagai nirwana penghias nusantara

Kopi Susu

 *Kopi Susu*

Oleh Achmad Nadzir

Siapa yang paling berjasa? demikianlah ungkapan yang seakan telah menjadi pola utama pada pikir manusia saat bersama-sama. Bersama-sama meniscayakan pergumulan keinginan, ide, gagasan, pengetahuan, pemahaman, dan aspek pikir lainnya.


Saat pergumulan terjadi, senantiasa diiringi riak-riak diri. Riak-riak yang menjelma ego, sombong, iri, dengki, dan sepadannya, kuat menekan pada tiap pribadi. Semua adalah indikator jiwa yang manusiawi.


Ego menolak pengakuan. Sombong menolak persamaan.

Iri menolak kelebihan.

Dengki menolak kemampuan.


Riak-riak diri melesapkan ketulus ikhlasan, dengan keangkuhannya. Tensi diri naik efek gengsi martabat, dan status sosial semata.


Belajar pada Kopi dan Susu yang saling larut dalam kenikmatan, memberi rasa nyaman tanpa keegoisan. Kopi dengan ketulusannya, Susu dengan keikhlasannya melebur larut dalam Kopi Susu yang nikmat rasanya.


_sruput kopi susu di Jumat pertama 2021 sambil ngemboh_

KULETAKKAN BUNGA MAWAR PADA RUMPUT

 KULETAKKAN BUNGA MAWAR PADA RUMPUT TETANGGA

Oleh : Faiz Abadi

Kupetik bunga mawar setelah ku singkirkan duri duri

Takjub terpesona lama memandang mensyukuri

Kubelai sisi atas hingga tengah tengah

Menghilangkan rasa pongah

Mengalah tidak selalu kalah

Setelah suara piring berantakan kini menyerah

Kupandang bunga mawar dari kejauhan

Walau rela kupetik penuh kepasrahan

Takkan kulupakan amarah semalaman

Sebilah pisau berlapis kemarahan

Disiapkan dipojok pintu rumah

Siapapun enggan enggan berkhayal

Ancaman senjata putus sangat menggoyahkan

Tetap ku pandangi bunga mawar itu

Disembunyikan di atas hijau rumput tetangga

Kupandangi semuanya sambil bernyanyi tralala

Sembunyikan muka dibalik koran sambil ku keraskan suara matsna, wa tsulasa wa ruba'

Duh rumput rumput hijau dibalik pagar

Ternyata diri ini tidaklah sangar...😁😁😁

KAU BERIKAN PERDAMAIAN

 KAU BERIKAN PERDAMAIAN

Faiz Abadi

Kukecup keningmu

tatkala tidur

Damai aura wajahmu adalah tanda penghuni surga

Kau segalanya bagi masa depan keluarga

Istriku tercinta kaulah pengobatku dalam segala luka

Kau adalah bening mata air

Penyejuk jiwaku yang garang

Karena pertempuran nurani tidak pernah usai

Di tengah konflik soal harga diri atau prestasi

Di tengah cibiran para pencari citra

Mengatasnamakan kebaikan di tengah penderitaan sesama

Membuat diri terkadang terkulai lemas

Ketika berbaring lepaskan keletihan

Kaulah penuntunku ajarkan kelembutan

Saat darah bergolak menahan marah

Perjalanan kebenaran tertatih

Di penghujung perputaran bumi

sebelum lepas dari orbitnya

KEMBALILAH PADA KEMURNIAN AYAT AYAT SATU

 KEMBALILAH PADA KEMURNIAN AYAT AYAT SATU

Faiz Abadi

Kubuka lembar sejarah risalah

2 kitab ini dogma bukan filosofi

Kubuka lembar tauhid

Al ikhlasmu tiada syair bisa menandinginya 

Karena firman mu adalah firman dari raja diraja

Untukmu sekalian manusia, segenap penghuni bumi, segenap nyata, bahkan segenap kegaiban

Wahai segenap pengikut

Adakah hendak samarkan 

Kebenaran hakiki ilahi dengan segenap hoby

Tidak...tentu tidak bisa

Al kafirun pembatas untuk sebuah sakral

Transfaransi hati menuju jati diri

Setelah buang segenap kesemuan apalagi kepalsuan

Buat apa kau tukarkan

absurdmu menjadi nyata 

Sekedar kesenanganmukah

Padahal jelas jelas tipuan untuk para musafir

Mengembara menuju titian jati diri khalifah

Penjaga keabadian orbit bumi

Untuk menahan murkaNya

Apalagi yang hendak kau cari?

Hadir..hadirkanlah namaNya seperti anak panah

Bisa ..bisakah?

Apakah mungkin badan halusmu penuh beban sarat

berlari sangat cepat

Kau mau miliki padahal cuma titipan

Kau tenggelamkan dirimu dalam segenap kepuasan

Padahal justru kebebasan diri dari semuanya adalah sebuah kemerdekaan sempurna

RAPALKAN AJI AJI PASAK BUMI

 RAPALKAN AJI AJI PASAK BUMI

Faiz Abadi

Genap sudah 3 hari segenap energi bernyawa telah sirna

Ku bilas rambut dengan bunga 3 warna

Jangankan haram subhatpun sirna

Putihlah jati diri

Tujuh pintu jalan neraka 

Murnikan dulu dengan dengan sari pati raga

Pada kemurnian jiwa

Segenap pertapaan belantara telah sirna

Kini kita duduk bersemadi bersama cercaan, hujatan, kasak kusuk, ghibah bahkan fitnah

Tak mengapa

Rapalkan dalam raga dari ujung kaki hingga mahkota kepala

Rapalkan rantai.jiwa pada setiap sel sel darah

Terus rapalkan jangan pernah goyah

Jin, demit, peri, kuntilanak pindah ke kota kota dengan seribu wajah

Anak tega pada ibunya

Orang tua lampiaskan keinginan pada dagingnya

Ha ha ha....

Energi jahiliyah semakin tak kentara

Jangan surut rapalkan

Sari sholawat

Sebut asma dengan tekad 7 petala langit

Lebur sufiah, aluamah, syahwat, juga amarah 

Redam diri menuju jati diri

Sucikan. Syukuri, tahlilkan, jabarkan kebesaran untukNya

Tetapi jangan lupa pintu langit akan terbuka

Apabila kau literasikan rapal pada mulut menghujam pada jiwamu

Leburkan doa dalam khusyuk

Menuju iradatnya

Rapalkan...rapalkan segenap rapal dan mantera jati diri khalifah bumi

Tapi ingatlah muara di tepi laut munajat

Tetap berwujud bidadari Akhlaqul karimah

MELEBURLAH NURANIMU

 MELEBURLAH NURANIMU

Faiz Abadi

Pantaskah kata kata sarkasmu itu

Tertuju untuk Anak anak bangsa

Menyusui, disapih, disemayamkan di bumi pertiwi

Wahai engkau tidak sadarkah

Setiap umpatan, caci maki, hujatan

Adalah busur panah melesat ke dadamu sendiri

Apakah semuanya lupa

Negeri ini tidak hadir serta merta

Ada genangan darah

Bahkan kubangan darah dan banjir airmata

Jikalau belum turut berjuang

Napak tilas jalan jalan setapak sudah cukup

Penuh liku para gerilyawan menempuhnya

Bapak Sudirman harus dengan satu paru paru

Bapak Diponegorp harus diasingkan di pulau sepi

Semua pahlawan harus menanggung penderitaan

Belum.cukupkah itu

Bangkitkah malumu

Untuk negeri tercinta 

Wahai para penghujat

Menghina sesama di kampung, kota, apalagi medsos

Belum terlambat bangkitkan rasa malumu

Semua mata tertuju padamu

Wahai saudara saudaraku di sana

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger