Pages

TULIS SAJA ALIF LAM MIM

 TULIS SAJA ALIF LAM MIM

Faiz Abadi

Maaf kawan ku tulis syair berbeda

Kurasa irama tidak lagi seperti dulu

Lewat medsos semuanya semakin tahu

Tetapi mengapa terbujur kaku

Membisu

Lidah kelu

Di sekitar tidak tahu malu

Banyak langkah salah

Akhlak bubrah

Di mana kemaksiatan merambah

Di tengah hidup susah

Kau teguk pembangkit amarah

Dan sungguh keterlaluan

Tidak mengenal tempat kau salurkan hasrat 

Mungkin persetan kuwalat

Liar denguskan hasrat

Dimabuk asmara instan

Harkat manusia kau gadaikan

Ayo semua 

katakan

Awali dengan Alif Lam Mim saja

Saat ku remas jarinya

 Faiz Abadi

Saat ku remas jarinya

Ditepisnya dengan mesra

Selamatkan...selamatkan cucu cicit kita

Aku bergumam

' Aku terus piye

Mabuk bersama

Atau

Waras bersama

Mboh

Wulandari muara tuk bersama'

Menetes terharu 

Kupeluk angan angan jauh

Dinda, kau selamatkan aku dari neraka

KUPELUK ENGKAU DALAM ANGAN

 KUPELUK ENGKAU DALAM ANGAN

Oleh Faiz Abadi

Kau tahu selalu keperhatikan

Ngilu kaki masih terasa

Ku tendang bangku

tanpa terasa

Duhai engkau ku sapa

Tidak menggubris

padahal sekedar senyum ku harapkan

Rambutmu pirang

Kukira kau gadis dari negeri sebrang

H ....dengan akhiran I

Tahukah engkau nilai merah pada raportku

Karena sepanjang hari wajahmu 

terus membayang

Teganya sungguh teganya

Kau buat kehilangan gairah

Duhai adik kelasku

Tiada pernah lelah aku menunggu

Kan kirimkan harum dupa dan kembang mayang

Siapapun didekatmu kelak terbuang

😁😁😁

Penantian Tak Berujung

 Penantian Tak Berujung

Oleh : Herny Nilawati

Sampai kapan?

Jumpa bersama guru

Menuntut ilmu seperti dulu


Sampai kapan? 

Ruang-ruangan kelas membisu

Menumpuk debu


Sampai kapan? 

Menuai ragu 

Dalam bertemu dan bertamu


Sampai kapan?

Langkah kakiku 

Kaku terbelenggu

Oleh cakar-cakar virusmu


Sampai kapan harus menunggu

Kau segera berlalu


Ingin  kulepas segala rindu 

Beradu dan bercumbu

Seperti dulu 

Tanpa batasan waktu

Tanpa banyak rambu


Banyuwangi/25122020

BISAKAH TERTIB ANTRI

 BISAKAH TERTIB ANTRIF

Faiz Abadi

Tidak perlu berebut

Bikin negeri carut marut

Episode ini lima tahunan

Seusai pilihan kembalilah berangkulan

Aku bertanya kepadamu

Semua penduduk negeri juga sama

Apakah perbedaan harus diselesaikan diujung belati pertikaian

Malu...Apakah tidak tahu malu

Terus menjadi tontonan

Hari ini dan seterusnya dalam sejarah peradaban

Bukankah sudah ditunjukkan

Pihak kalah diberi wadah

Apakah semuanya minta jatah

Boleh...boleh saja

Tapi kan harus menunggu antrian

Apabila kalian legawa bukankah sudah cukup

Tunjukkan pada dunia 

Kita negeri dewasa

Padahal pepatah indah menjadi legenda

Semakin tinggi pucuk pohon

Semakin kencang angin berhembus

Apabila tak juga diakhiri

Kita tetap menjadi raksasa dengan kaki teramputasi

Maukah kamu meninggalkan penderitaan

Buat cucu cicit di rumah

Menangis inginkan tuan tuan pulang

Satu kata saja 

Tertibkan antri menunggu giliran

Agar energi dibumi pertiwi tidak terbuang percuma

PENA DI UJUNG TAHTA ABU ABU

 PENA DI UJUNG TAHTA ABU ABU

Faiz Abadi

Berikan jalan pasti

Sebelum tergelincir lebih jauh

Putihlah putih

Hitam legamlah hitam

Berdirikah kita di bawah cahaya taram temaram?

Berdirikah kita di bawah bulan separo

Kaliankah melangkah terhuyung

Disebabkan ketidakpastian

Kaliankah bercita cita tanpa rencana

Produk Cibaduyut bermerk Singapura

Bagaikah mengayuh sampan di atas pasir

Maukah melayang tanpa batas nyata

Antara laut dan angkasa

Memeluk rindu kosong

Padahal waktu terus meluruh

Tidak kenal mengeluh

Kita dijebak pada nilai seolah olah pasti

Tapi sebenarnya tidak berarti apa apa

Masa depan adalah logika dan realita

Semua sudah tahu tidak boleh membisu

Apabila sudah tertulis di jiwa

Takkan mudah terhapus begitu saja

Warnamu abu abu

Mau jadi apa?

Pergi By. Viefa Kau padamkan apinya Kau bungkam denyutnya Tak terdengar lagi nyanyian itu Lolongan panjang Senyaring Auman srigala gurun Menyeringai hatimu berlari pecahbening@viefa BWI, 26/12/20

 Pergi


By. Viefa


Kau padamkan apinya

Kau bungkam denyutnya

Tak terdengar lagi nyanyian itu

Lolongan panjang 

Senyaring Auman srigala gurun

Menyeringai hatimu berlari


pecahbening@viefa

BWI, 26/12/20

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger