Pages

KUYAKIN PADAMU TUAN BIDEN

 KUYAKIN PADAMU TUAN BIDEN

Faiz Abadi

Pergilah tuan Trump

Berapa kubangan darah baru di mana mana

Episode paling buruk buat negeri raksasa

Bukannya memupuk perdamaian

Malah menambah pentas ring keonaran

Datang...datanglah tuanku yang baru

Rakyat rakyat jelata diseluruh belahan dunia penuh harap padamu

Akhiri segenap pertikaian selalu berujung pada pembantaian

Bukan hanya nuklir

Bukan bukan itu saja

Seolah musnah begitu marah

Seribu senjata pemusnah bertebaran

Sama saja..

Sama saja bukan

Tetapi lebih dari itu tuan

Sifat serakah menjarah

Sifat pongah menjajah

Berdalih persahabatan untuk dunia

Kalian tebarkan isu senjata kimia

Bagi lawan tak berdaya

Lewat propaganda diplomasi

Menutupi kebusukan tangan besi

Hentikan tuan..

Dengarkan suara suara rindu di gereja gereja

Sejuta uluran kasih kelak buatmu

Ketika terompet sangkakala mengakhiri dunia

Tuan biden ku tunggu kebesaran hatimu

Klambi

 Klambi

Oleh : Mulyo Cahyono

Kepingin nulis 

Seng tak tulis opo

Pikiran yo molak malik

Ora karuan

Ono ne mung nglayung

Wis ora kroso 

Sak iki wis akhir tahun

Klendi bagaimana ikai

Tahune lewat

La la la la 

Tangungan panggah mlaku

Opo kudu ngono yo

mek biso ne nyawang

Sinawang barang hang katon

Urip mek sak darmo wayang

Kang kudu obah 

Nuli tanggungan jajan

Prigele awak ndadek ake owahe kahanan

Prigele ati ndadek ake setiti

Opo to wangsalane

Yen manungso bakal

Muleh neng kandange dewe dewe

Mung gowo barang sak titik

Kang dadi klambine

Rayuan Malam

 Rayuan Malam

Syafaat

Di beranda

Kita sadur kisah cinta

Yang tak berkesudahan cerita

Kepucuk rindu terbelit kata

Entah sampai kapan rasa ini merana

Meski rayuan membuih mesra

Dengan sejuta kalimat tersirat makna 

Kau masih tak bergeming juga

Haruskah kita mesra dalam rayuan asmara

Dan bercumbu dalam mimpi semata

Sudahkah kau tikam mati cinta ?

Haruskah kupendam  asa ?

Wulandari yang kupuja

Racunmu telah menganga

Terlumat habis tubuh dan jiwa

Terpapar tak tersisa


BANGGALAH DENGAN JATIDIRI ANAK ANAK NEGERI

 BANGGALAH DENGAN JATIDIRI ANAK ANAK NEGERI

Faiz Abadi

Persada ini luas membentang 

Pegunungan tinggi seperti menantang

Kekayaan alam tiada pernah habis

Semboyan kerukunanpun tiada pernah terkikis

Nenek moyang kita pelaut pelaut gagah

Tiada pernah surut langkah meraih cita cita

Terbang jauh bersama kepakan sayap garuda

Menembus awan nyanyikan lagu Indonesia raya

Di negeri ini tidakkan pernah terjadi seperti di Rohingya

Rule off law menembus batas kebanggaan 

Hingga ke negeri Manca

Segenap fitnah apalagi sumpah serapah segeralah enyah

Tak elok, tak pantas, sungguh tak indah

Semuanya terpampang bukan, sudah sangat jelas

Tinggalkan malu ataupun gengsi-harga diri

Sehingga kau lupakan jatidiri

Tidak perlu parfum dari paris

Apalagi sekedar aksesoris

Harus kita dapatkan dari negeri seberang sana

Dari tanggulangin sampai Cibaduyut sudah tersedia

AYO PODHO NJINGKATO MUMPUNG DURUNG SURUB

 AYO PODHO NJINGKATO MUMPUNG DURUNG SURUB

Faiz Abadi


Tahun wis likuran

Babakan urip ono ring tengahan setengah abad

Opo wis jumeneng dulur papat

Marang gusti nggenepi syareat

Nguwati sempurnang ati minuju hakekat

Jingkato ojo mung klemer klemer

Babagan dunyo ketoro welo welo

Nanging babakan alam pungkasan angel diwoco

Koyo dayung perahu ring tengah samudro

Akeh dulur kegowo arus

Ugo mili tanpo ukoro

Dudu mung telu, papat segoro wis disebrangi

Limang daratan dilewati

Magih tetep baen bingung

Dudu serngenge

Taping ulane ati

Kabur kepilu ring sunar e lintang

Terus jangkah tapi sing duwe arah

Tangio jingkat sedurunge telat

Dung tanduran magih kathon ijo royo

Riko kabeh biso nggayuh kebecikan

Mumpung durung surub damar lakon riko

.

KEPAKU ROSO

 KEPAKU ROSO

Faiz Abadi


gending urip bebarengan selawase

Tumancep kegowo impen

Dudu mung gelung rambut

Gawe ati kepilu

Maku roso tresno

Sakjeroning ati kanggo riko

Siji sijine kembang e ati

Dudu mung rupo

Dudu mung bondo

Ugo atin riko sing ono maning ring dunyo

Ring palagan werno rupo

Sun depani

Sun belani

Masio hing saiki

Rondone hing paran paran

Wis kadung jeru kepaku roso

Creative Collaboration, Wajah Baru Gotong Royong

 Creative Collaboration, Wajah Baru Gotong Royong 


Oleh : Agus Novel Mukholis (Guru MAN 2 Banyuwangi)


Saat membaca tagar “10 Tahun Banyuwangi Penuh Inovasi”, saya jadi percaya dengan berubahnya tampilan wajah Banyuwangi sekarang ini di mata masyarakat Indonesia bahkan dunia. Saya memang bukan asli Banyuwangi. Berdomisili di Banyuwangi baru dua tahun berjalan karena tugas negara. Dua belas jam perjalanan dari Tulungagung, kota asal saya menuju ke Banyuwangi, namun terbayarkan dengan tampilan cantik nan indah panorama alam dan budayanya. Sebelum saya menginjakkan kaki di Bumi Blambangan ini, memang image Banyuwangi sebagai Kota magis masih melekat di fikiran saya. Namun setelah merasakan langsung bagaimana hidup di Bumi Kesenian ini, lalu membaur dan merasakan iklim budayanya, saya usir itu image “kota magis” dari fikiran ini.

Singkat cerita ada e-mail masuk dari Radar Banyuwangi, tentang lomba esai yang bertemakan “10 Tahun Banyuwangi Penuh Inovasi”. Brosur itu bagi saya adalah undangan untuk menulis. Saya menemukan satu konsep yang sangat cerdas sebagai Grand Design dari pembangunan Kabupaten Banyuwangi selama 10 tahun ini. Bapak Abdullah Azwar Annas bahkan menuangkannya dalam sebuah buku yang berjudul, “Creative Collaboration: 10 Tahun Perjalanan Transformasi Banyuwangi”. Walaupun belum membaca sampai khatam buku itu, namun saya berani menyatakan kalau konsep beliau adalah kearifan lokal yang dikemas secara modern, sistematis dan transformatif. 

Pertama, konsep itu merupakan suatu gerakan yang artinya terus-menerus mengusahakan perbaikan. Gerakan itu mengajak kembali masyarakat dan seluruh elemen yang bersinggungan dengan Kabupaten Banyuwangi untuk kembali membudayakan gotong royong dan bebrayan. Budaya luhur nenek moyang kita yang sempat terkikis oleh zaman dan kecanggihan teknologi. Gerakan ini mengajak masyarakat untuk bersama-sama menumbuhkan kembali rasa memiliki Banyuwangi, mencintainya, nguri-nguri menjaga dan mengharumkan namanya. Sehingga sang Bupati merangkul semua masyarakat untuk membangun Banyuwangi sebagai Kabupaten surganya kesenian, kebudayaan, perekonomian, pendidikan, pariwisata dan segala bidang dalam kehidupan bermasyarakat. 

Warna yang begitu mempesona dari gerakan Creative Collaboation ini ada di beberapa bidang. Di bidang pariwisata ditandai dengan munculnya homestay yang memanfaatkan rumah warga untuk wisatawan. Ini gerakan perekonomian rakyat. Di bidang kesehatan ada Gancang-Aron, kolaborasi antara pemkab dengan Gojek untuk mengantarkan obat bagi warga yang sakit. Di bidang pendidikan gerakan ini membantu memunculkan kecerdasan sosial bagi anak-anak Bangsa. Program ini dikenal dengan Siswa Asuh Sebaya. Bagaimana siswa dilatih dan dididik untuk saling membantu teman-temannya yang kurang beruntung dalam segi ekonomi agar tetap bisa melanjutkan pendidikannya. 

Bahkan Rhenald Kasali, founder Rumah Perubahan dan Penulis buku best seller #MO mengapresiasi gerakan Creative Collaboration tersebut. Menurut beliau gerakan ini bisa ditiru oleh Kabupaten/Kota yang lain. Jelas, memang budaya ini harus diterapkan oleh seluruh masyarakat Nusantara dalam segala bidang kehidupan, apalagi bidang pemerintahan dan pengelolaan sebuah negara, wilayah maupun daerah. Karena ini warisan yang sangat berharga dari nenek moyang kita. Gerakan ini mengikis egoisme, egosentrisme, ego-sektoral dan ego-ego yang lain yang berpotensi memupuskan kebersamaan, kerukunan dan persatuan dalam masyarakat. 

Yang kedua, terdapat penghargaan yang tinggi terhadap kemanusiaan dari gerakan ini. Creative Collaboration berarti gotong royong kreatif. Maka pencetus gerakan ini memandang semua orang, individu, personal dari berbagai lapisan masyarakat adalah pribadi yang mempunyai potensi, kehendak bahkan kreativitas. Sehingga kebijakan ini sangat humanis jika dikembangkan dan diperdalam dalam dimensi dan kultur yang lebih luas. Hulunya dan puncaknya ada pada konsep memanusiakan manusia dan menghapus diskriminasi. Sederhananya rakyat diajak bekerja-sama, bahu-membahu, bersama-sama membangun Banyuwangi. Kentara sekali nuansa dan iklim dari gotong royong ini saat pandemi. Bagaimana masyarakat saling menolong, membantu, memotivasi dalam segala bidang. Para warga diajak untuk bergotong royong menyediakan rumah dan kamar kosong mereka sebagai ruang isolasi bagi pasien dalam perawatan ataupun orang dalam pantauan, begitupun wisma pemkab dan gedung lain milik pemerintah.

Jika masyarakat merasa dirangkul dan digandeng tangannya untuk bersama-sama membangun kota tercintanya. Maka tanpa ada seruan, instruksi dan bahkan perda sekalipun dari pemerintah, masyarakat akan berbondong-bondong urun rembug, urun gawe, dan mengerahkan seluruh fikiran dan tenaganya membantu pemerintah dalam menjalankan program-programnya. 

Ketiga, gerakan gotong royong ini menurut saya bukan sebagai sebab. Namun gerakan ini adalah akibat. Jika kita mengaca pada konsep sebab-akibat, maka gerakan gotong royong ini merupakan buah, akibat atau hasil dari kondisi sosial-masyarakat serta budaya yang kondusif dan merdeka. Ini berkaitan dengan alasan kedua yang saya utarakan di atas. Jika masyarakat dan kondisi sosialnya telah merdeka maka gotong royong ini adalah akibat yang ditimbulkan dari kemerdekaan masyarakat. Gotong royong ini merupakan akibat dari adanya rasa aman, rasa percaya satu sama lain serta adanya keadilan. 

Jadi jika selama ini para pemangku kebijakan, para pemerintah, para pemimpin, para koordinator, dan semua manusia yang diberi wewenang mengatur masyarakat atau orang banyak masih merasa kesulitan mengupayakan budaya gotong royong, maka evaluasi terhadap sebabnya dulu. Mungkin kita selama ini salah identifikasi. Mungkin kita salah alur. Mereka beranggapan bahwa mengupayakan gotong royong dulu baru masyarakat akan damai, aman, tenteram, saling percaya, rukun dan sejahtera. Padahal aman, adil, damai yang tercipta dalam masyarakat itu adalah sebab yang akibatnya adalah tumbuhnya budaya gotong royong. Saya pun sebagai guru juga merasa seperti itu, saat semua siswa susah diatur, susah dikondisikan, susah kompak maka saya perlu berkaca dan mengoreksi perlakuan saya kepada mereka. Mungkin mereka merasa kurang mendapatkan keadilan, mereka merasa kurang mendapatkan rasa aman, mungkin mereka kurang merasa dihargai dan lain-lain. 

Maka melalui ulasan sederhana ini, mari kita deklarasikan diri kita untuk tidak pernah berhenti belajar. Creative Collaboration yang digagas Bapak Abdullah Azwar Anas membuka jendela pustaka dalam fikiran kita bahwa se-modern apapun zaman, secanggih apapun teknologi dan secepat apapun informasi dan komunikasi saat ini, jangan sampai kita meninggalkan budaya luhur nenek moyang kita. Gotong royong adalah keniscayaan dan fitrah umat manusia sebagai makhluk sosial. 

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger