Pages

KURIKULUM 2013 MURNI SAAT PANDEMI

 

KURIKULUM 2013 MURNI SAAT PANDEMI

Oleh : Nurhalimatus Sa`diyah

Sejak tujuh tahun lalu, kurikulum pendidikan di Indonesia sudah berubah dari KTSP ( Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ) menjadi Kurikulum 2013 atau lebih dikenal dengan istilah K-13,  dan disahkan pemberlakuannya di seluruh jenjang pendidikan  di Indonesia. Kurikulum 2013 merupakan penyempurnaan dari KTSP yang berdasarkan pada konsep saintific umum dengan menggunakan langkah 5 M yaitu mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi dan mengkomunikasikan.

Meskipun sudah diberlakukan lama, tapi masih banyak guru yang belum bisa mengaplikasikan kurikulum ini secara sempurna, dikarenakan terkendala sarana prasana dan tingkat kesiapan guru dalam menyajikan materi pelajaran, banyak diantara mereka yang menganggap kurikulum 2013 cenderung ribet dalam persiapan pembelajaran dan dalam proses pembelajaran siswa banyak yang belum bisa mengikuti dengan langkah 5 M. Hal inilah yang menyebabkan guru lebih nyaman kembali pada model klasik yaitu ceramah.

Munculnya covid-19 yang masih terus menyebar dan menyebabkan pandemi, telah menghasilkan keputusan pemerintah untuk menutup lmbaga pendidikan sampai waktu yang belum bisa dipastikan. Hal ini menyebabkan proses pembelajaran di sekolah yang awalnya tatap muka harus langsung berubah ke metode daring ( dalam jaringan ).Situasi ini mengharuskan guru dan murid segera beradaptasi dan bersahabat dengan IT, yang awalnya masih santai dan nyaman dengan metode klasik ( ceramah ) terpaksa harus segera belajar segala macam aplikasi IT, supaya bisa menyajikan pembelajaran online yang menarik dan bisa diserap maksimal oleh para siswa meskipun guru hanya bisa memantau dan mendampingi siswa dari jauh.


Pandemi ini sudah menyebabkan guru dan siswa secara tidak sadar menerapkan kurikulum 2013 secara murni. Diawali dengan langkah 5M yang pertama yaitu mengamati, di sini siswa dipaksa mengamati bahan ajar yang dikirimkan oleh guru melalui aplikasi online maupun offline baik hanya berupa copian buku siswa ataupun video pembelajaran. Tahap mengamati ini berfungsi untuk memunculkan sebuah fenomena yang bertujuan membangkitkan rasa ingin tahu dan semangat untuk mempelajari sesuatu. Untuk itulah guru dituntut untuk bisa menyajikan bahan ajar yang menarik bagi siswa sehingga bisa membangkitkan semangat siswa untuk mempelajari materi tersebut.

Langkah 5 M yang kedua yaitu menanya, setelah guru berhasil membangun rasa penasaran siswa melalui langkah mengamati, siswa memiliki banyak pertanyaan sebagai ungkapan rasa ingin tahunya terhadap materi yang disajikan. Langkah 5M yang ketiga yaitu mengumpulkan informasi, mencoba atau menguji, setelah memiliki pertanyaan siswa dituntut untuk memperoleh jawabannya sendiri melalui pengamatan langsung yang lebih mendalam, membaca buku rujukan lain, mencari artikel yang berhubungan bahkan melakukan percobaan secara mandiri di rumah masing – masing. Langkah 5 M yang keempat yaitu mengasosiasi, setelah proses mengumpulkan informasi, siswa dituntut untuk menyusun asil pengumpulan informasi itu dalam bentuk tulisan atau laporan, pada tahap ini guru dituntut untuk bisa mendampingi siswa dalam menyusun laporan yang sistematis dan logis. Sedangkan langkah 5M yang terakhir yaitu mengkomunikasikan, pada tahap ini siswa diharapkan mampu menjelaskan apa yang sudah dipelajari, kemampuan menjelaskan kembali ini menjadi indikator paling akurat untuk mengetahui pemaaman siswa pada apa yang telah dipelajarinya. Selain itu juga melatih cara berpikir, berbicara dan mengemukakan gagasan melalui video yang dibuat oleh siswa itu sendiri sebagai bentuk penyelesaian tugas atau proyek yang diberikan oleh guru.

Lima metode ini tidak boleh luput dari guru dalam membimbing siswanya, meskipun masih dalam daring, guru harus selalu siap 24 jam dalam menjawab pertanyaan, mengarahkan serta membimbing siswa untuk dapat memahami materi yang sudah diberikan, sehingga siswa tidak merasa terlantar ataupun terabaikan. Pada masa pandemi ini, seluruh guru dan siswa dari jenjang PAUD, TK/RA, SD/MI, SMP/MTs hingga SMA/MA setiap hari terpaksa melakukan kurikulum 2013 dengan metode scientific umumnya secara murni, tidak ada kesempatan untuk melakukan metode konvensional seperti ceramah karena pemerintah belum mengijinkan sekolah mengadakan jadwal tatap muka, mengingat penyebaran covid-19 yang masih terus meningkat.

 

Keterpaksaan yang dilakukan setiap hari ini sudah menghasilkan kebiasaan baru bagi guru untuk bersahabat dengan IT dan segala aplikasinya serta menghasilkan  kebiasaan baru bagi siswa yaitu mampu membangun pengetahuannya secara mandiri sehingga bisa lebih meresap, selalu diingat dan bermakna.

 

Penulis adalah Guru pada MAN 1 Banyuwangi

 

 

 

 

Matsama Virtual Mampukah Merengkuh Jiwa dan Mempertautkan Hati ?

 

Matsama Virtual Mampukah Merengkuh Jiwa dan Mempertautkan Hati ?

Oleh :  ENY SUSIANI

 

Matsama ( Masa Ta’aruf siswa Madrasah ) atau yang lebih dikenal dengan istilah MOS tentu sesuatu yang sangat ditunggu oleh siswa baru, mereka menunggu dengan harap harap cemas, menunggu dan menyimpan harapan mendalam tentang lembaga pilihan mereka, lembaga Pendidikan impian yang akan mengantarkan menuju asa mereka. Bahkan tidak jarang dari mereka sampai mempersiapkan penampilan dan senyum terbaiknya untuk teman sekelasnya, kakak kelasnya bahkan guru baru mereka. Begitupun para guru dan tenaga kependidikan tentu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan pertama ini, bersua dengan keluarga baru mereka, tempat menaburkan segala mimpi dan harapan pendidikan kedepan mau dibawa kemana.

Semua tentang itu sekarang sangat berbeda, dulu kita berusaha tampil terbaik dengan baju terbaik dan senyum hangat penuh makna menyambut mereka, saat ini seakan hilang entah kemana hal itu, semua tidak bisa kita lakukan lagi sesudah Kedatangan si COVID 19 yang datang tanpa permisi dan tanpa kita undang, seakan mengancam keberadaan jiwa-jiwa kita . Tentu kita tidak boleh menyerah dengan keadaan, MATSAMA harus kita hadir dan wujudkan dengan cara lain. Siswa baru kita harus tetap mengenal amamatenya, melatih ketahanan jiwa dan nilai nilai spriritual dan kedisiplinan, adab dan budaya, etika moral, tata tertib Madrasah atau lembaga pendidikan kita, mengenal sebaya, senior, guru dan karyawan bahkan sampai pesuruh dan seluruh lorong harapan yang ada.


Masalahnya tentu tidak semudah ketika kita bisa bersua bertatap muka dalam ruang dan waktu yang sama, ketika jiwa lebih mudah di rengkuh dan hati lebih mudah dipertautkan, karena kita semua meyakini pepatah “Tak kenal maka tak sayang”, bagaimana mau sayang wong kita tidak saling mengenal, tidak pernah bersua, apalagi sampai cinta, tentu sejuta Tanya mengalayut manja dalam relung hati kita, tapi kita tetap harus menerima kenyataan ini sepahit apapun itu. Kita mesti adaftif dengan keadaan, kita tidak boleh menyerah begitu saja. Kita tetap harus berinovasi bagaimana mengukir sejarah baru dalam dunia pendidikan yang selama ini kita tekuni dan kita cintai tanpa harus mengorbankan jiwa jiwa penuh asa dan harapan, pilihan ada pada kita buat sejarah penuh makna yang akan dikenang sepanjang masa oleh siswa siswi baru kita, atau kita memilih yang biasa biasa saja “Matsama” hampa tanpa makna sekedar mengugurkan kewajiban semata, tentu tidak bukan?  Kita bisa memilih melakukan apa yang terbaik yang kita miliki untuk menyambut dan merengkuh,dan mempertautkan jiwa dan hati kita atau diam ditempat tanpa beranjak mengkoyak dan memporakporandakan mimpi dan harapan mereka?

Anak anakku sayang selamat anda sudah diterima di sekolah pilihan, sekolah tempat menyemai harapan dan mimpi mimpi akan masa depan, jangan khawatir meski raga kita tidak bersua, kami sambut engkau semua dengan dua tangan terbuka, sehingga jiwa kita dan hati kita tetap terpaut, kami emban tanggung jawab ini untukmu untuk asamu, kita buat sejarah baru dalam dunia pendidikan kita di madrasah madrasah  atau sekolah sekolah pilihan walau virtual tetap bermakna, kami siapkan team team kreatif kami untuk merekam dan mengirim pesan tentang kami, tentang wawasan wiyata mandala, adab dan norma, keteriban guru dan karyawan yang cantik cantik dan ganteng ganteng sampai setiap sudut dan lorong sehingga mampu membawa makna bahwa kita seakan  tidak terpisah oleh jarak dan waktu, seakan kita berada di ruang dan lorong waktu yang sama. Tentu dengan segala harap Hati dan jiwa kita bisa saling terengkuh dan terpaut.

 Mari kita saling menyemangati diri kita dan semua orang yang bergelut di dunia pendidikan untuk mempersiapkan diri agar tidak ketigalan di gerbong kereta yang kita pilih dan kita harapkan mampu membawa kemaslahatan umat dan kemajuan pendidikan di segala lini mulai TK/RA, SD/MI, SMP/MTs,SMA/MA sampai perguruan Tinggi.

Selalu mengasah diri, tidak mudah puas dengan ilmu yang kita miliki dan selalu mencari inovasi sehingga hidup kita lebih bermakna dan membawa makna bagi dunia pendidikan yang kita geluti dan kita cintai ini, mari berkarya untu kemajuan Madrasah dan dunia pendidikan. Kita ukir sejarah baru jangan sampai kita mengecewakan siswa baru kita yang menunggu begitu lama menghitung waktu mematut diri, menyiapkan mental dan jiwa mereka untuk menyerahkan mimpi dan harapan mereka untuk masa depannya pada kita guru gurunya, tenaga pendidik dan kependidikan danLembaga pendidikan kita  dengan tanpa syarat dan tanpa paksaan.Akan sangat disayangkan jika Madrasah yang mulai dilirik dan bahkan dipinang oleh banyak kalangan, ibarat gadis cantik yang lagi molek moleknya menjadi hilang tak bermakna dan  tingal menyisakan sejarah, tentu tidak amu bukan?

Kita wujudkan era baru “Matsama Virtual“ seakan akan kita bersama dan bermakna, sehingga jiwa terengkuh dan hati terpaut, dengan memanfatkan teknologi yang bukan tanpa makna tapi benar benar bermakna, untuk kita, untuk peserta didik kita, untuk masa depan pendidikan kita, untuk Banyuwangi dan untuk Indonesia kedepan. Kita siapkan generasi milenial generasi 4.0, dengan tetap memperhatikan himbauan dari Ka Kanwil Jatim untuk lebik mengedepankan keselamatan jiwa peserta didik dari pada yang lainnya, tentu tetap dengan lebih bermakna. Dengan awal yang baik, karena semua yang berawal baik insyallah berakhir baik. Mari kita wujudkan  madrasah kita menjadi “ Madrasah Hebat Bermartabat

*Guru di MAN 3 Banyuwangi

Di Srono

VIRUS CORONA YANG DIRINDUKAN

 

VIRUS CORONA YANG DIRINDUKAN

Oleh : MASRUKAH, M.Pd

Istilah Virus corona paling terbaru yang ditemukan disebut virus corona COVID-19. Virus ini termasuk penyakit menular dan baru ditemukan di Wuhan, China pada Desember 2019 yang kemudian menjadi wabah. Penyebaran virus Corona atau Covid-19 begitu cepat dan masif di seluruh dunia, termasuk Indonesia (detik.com)

Saya tidak akan membahas lebih dalam tentang virus ini, namun sifat virus yang menular sangat cepat inilah sangat cocok jika dikaitkan dengan penularan guru penggerak. Arti CORONA di sini adalah Confident, Optimis, Receptiv, Objektif, Nasionalis, Aktif.  




Guru penggerak akan menjadi inspirasi bagi guru-guru yang lainya. Menginspirasi bagi peserta didiknya, dia akan menjadi role model dari setiap langkahnya, pada akhirnya dengan keleluasaan berexpresi, terus mengadakan perubahan-perubahan disetiap aktivitasnya. Itulah yang akan membuat lembaga pendidikan tersebut melesat dan menjadi pembeda bagi sekolah yang lain. Mampu menciptakan hal-hal baru, baik itu berupa kemampuan mengembangkan informasi atau ilmu pengetahuan dari dalam dan luar sekolah yang dikombinasikan dalam proses belajarnya. Masyarakat melihat sebagai sekolah yang berkompeten dalam memajukan pendidikan pada era masa kini yaitu globalisasi. Sehingga setiap ajaran baru jumlah peserta didik yang mendaftar terus meningkat seiring perubahan dan terus berinovasi mengikuti perkembangan zaman.    

Guru merupakan kunci utama dalam membawa pendidikan di masa depan yang lebih baik. Guru sebagai garda terdepan harus mampu melakukan perubahan dalam proses pembelajaran yang tidak hanya terpaku pada hal-hal konvensional, monoton, karena sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman. Perubahan dunia yang berlangsung dengan cepat dan menyangkut seluruh sisi kehidupan manusia. Guru penggerak pada era revolusi industri 4.0 seperti saat ini menjadi kebutuhan mendasar bagi sekolah untuk terus mampu menumbuh kembangkan inovasi dan kreativitas yang diyakini bisa mendorong cepatnya reformasi bagi pendidikan bagi bangsa Indonesia.

 

 

Guru penggerak harus memiliki 6 sifat virus CORONA :

1.    CONFIDENCE

Rasa percaya diri dan sikap percaya diri yang harus dimiliki oleh guru penggerak. Sebuah perasaan dimana seorang guru percaya bahwa sikap yang terbaik adalah dengan melakukan kinerja dengan sebaik-baiknya dan terus belajar. Bekerja sebaik-baiknya sebagai guru berarti, mau mencoba beragam metode pembelajaran, sabar dalam berproses serta menomor satukan siswa. Rasa percaya jika digabungkan dengan kinerja yang baik maka hasilnya akan dahsyat sekali. Teman sesama guru jadi mendukung, siswa senang belajar dengan kita sebagai gurunya, dan dukungan masyarakat akan mengalir dan lain sebagainya.

2.    OPTIMIS  

Guru sebagai agen perubahan pada dunia pendidikan harus memiliki keyakinan dan semangat dalam mengajar. Selalu berpandangan positif dalam menghadapi segala rintangan yang menghadang, walaupun ada cobaan yang berat sikap optimis mampu mengatasi hal-hal negatif, sehingga akan memperoleh kemenangan dan kepuasan dalam belajar mengajar terhadap siswa di kelas.

3.    RESEPTIF

Arti reseptif menurut KBBI adalah suatu perasan yang siap menerima, terbuka terhadap saran dan anjuran orang lain. Artinya guru yang memiliki sifat ini akan siap dan selalu terbuka terhadap masukan dan saran dari guru lain atau atasanya, bisa juga masukan dari walimurid untuk sebuah perubahan yang dilaksanakan di sekolah. Guru siap mengadopsi segala informasi dari manapun, baik dari dalam maupun luar sekolah.

4.    OBJEKTIF

Guru yang profesional menjadikan prinsip objektif dan adil sebagai landasan dalam menentukan sikap dan menilai kinerja peserta didik . Independen dan kebijaksanaan seorang guru menjadi pondasi yang kokoh bagi guru yang ingin menjadikan objektif dan adil sebagai prinsip penilaian.

Objektif berarti dalam memberikan penilaian guru melihat dari fakta dan data di lapangan tanpa ada intervensi dari pihak manapun, serta tanpa ada politik kepentingan di dalamnya. Adil sendiri bermakna proposional yang artinya bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya

 

5.    NASIONALIS

Guru harus mampu memberikan contoh serta mempraktekkan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dengan menanamkan sikap nasionalisme dengan menghargai kebhinnekaan, serta bangga sebagai bangsa Indonesia dengan menyanyikan lagi Indonesia Raya, lagu-lagu nasional dan patriotisme lainya. Mampu menghargai budaya bangsa sendiri dan produk-produk lokal.

 

6.    AKTIF

Jika gurunya aktif maka otomatis siswanya juga kreatif. Seorang guru merupakan teladan bagi murid-muridnya. Sikap dan tindak-tanduk guru tidak terlepas dari perhatian murid-muridnya. Bahkan guru jauh lebih memiliki nilai plus jika dibandingkan dengan orang tua murid dalam mendikte murid untuk belajar. Guru aktif akan terus mencari inovasi-inovasi dalam berkreasi, menciptakan bermacam-macam metode untuk menumbuhkan siswa terus berkembang dan mudah menyerap pembelajaran, termasuk menciptakan alat peraga untuk menunjang KBM.

 

 

 

 

BIODATA PENULIS

NAMA                        : MASRUKAH, M.Pd

TTL                 : Banyuwangi, 15-021974

INSTANSI      : MI Unggulan Al Ishlah Tembokrejo, Kec. Muncar, Kabupaten   Banyuwangi

JABATAN      : Kepala Madrasah

TELP              : 082334206852

Gurusiana     : https://masrukahazizah151117.gurusiana.id/

FB                   : https://www.facebook.com/masrukah.azizah

 

 

 

Rindu itu Ada

 

Rindu itu Ada

Penulis : Hj. St. Muanifah, M.Pd.I

Sejak virus corona menjangkit di Indonesia, lebih-lebih dinyatakan pandemi, dunia pendidikan terkena imbasnya, dengan tidak diperkenankan  guru dan siswa siswi masuk sekolah, digantikan dengan pembelajaran dalam jaringan (Daring), membuat suasana pendidikan menjadi tidak nyaman, karena mengharuskan pembelajaran jarak jauh, dengan istilah Work From Home ( WFH ), Bekerja dari Rumah, diharap anak-anak bisa belajar di rumah dan guru bekerja dari rumah, yang secara dadakan, guru dan murid harus siap-siap bekerja dan belajar dari rumah.

Tak terasa empat bulan sudah, terpisah dengan anak didik. Beraneka macam rasa dan peristiwa telah penulis rasakan. Sedih, rindu, dan berharap agar suasana kembali normal.

Pembelajaran secara Daring berjalan, dengan memanfaatkan grup Watshapp Wali Murid di kelas yang penulis pegang. Setiap hari belajar dalam jaringan, dengan menyapa, memberi materi dan tugas lewat video pembelajaran, anak-anakpun antusias belajar, dan menikmati tugas-tugas yang diberikan. Membuat video cerita fiksi, kegiatan ekonomi, praktik sumber energi, keberagaman keluarga, tentang lingkungan, tari daerah, dan masih banyak lagi kegiatan pembelajaran yang anak-anak lakukan.

Pembelajaran setiap hari berjalan normal, walau ada bermacam kendala muncul, dari latar belakang siswa yang berbeda, ada juga yang tidak bisa mengikuti pembelajaran dengan baik setiap harinya. Berbeda ketika kondisi normal, anak-anak bisa mengikuti materi yang sama.

Pada pembelajaran jarak jauh, tidak bisa maksimal, karena berbagai kendala, antara lain ;

~ Sebagian anak-anak tidak pegang hand phone sendiri, pinjam orang tuanya.


~ Hand phone dibawa kerja, sehingga siswa harus mengirim tugas setelah orang tua pulang.

~ Tidak semua wali murid mempunyai hand phone android, sehingga pembelajaran tidak bisa diikuti dengan baik.

~ Paket data wali murid terkadang habis, ini juga menjadi kendala belajar siswa.

~ Tidak bisa mengontrol siswa siswi dengan baik, karena pembelajaran jarak jauh.

Oleh sebab itu, baik guru maupun siswa menginginkan suasana segera kembali normal, bisa belajar bersama dengan tatap muka, yang membangun keharmonisan belajar, bukan pembelajaran yang membuat anak tertekan serta tidak maksimal belajar. Sering mendengar keluhan anak-anak ingin sekolah kembali, rindu gurunya, rindu temannya, yang sudah beberapa bulan pembelajaran dengan tatap muka dihentikan, beralih ke pembelajaran di rumah dan bekerja dari rumah.

Sampai waktunya tiba,  pada pembagian rapor setidaknya harapan bisa bertemu anak-anak, ternyata belum  bisa juga bertemu dengan anak-anak di Madrasah, karena keadaan belum mengizinkan anak-anak masuk sekolah, hingga pada akhirnya, wali murid yang mengambil rapor putra putrinya. Rasa kecewa kembali lagi menghampiri kami, anak-anak tetap diam di rumah, dengan memperoleh informasi di grup watshapp, tentang kenaikan kelas mereka, setelah dishare photo-photo dokumen penerimaan rapor, yang diambil orang tuanya.

Rasa rindu makin menyesak di dada, ketika photo-photo penulis bersama wali murid, disetting dengan lagu berjudul : Semua tentang Kita, dibuat oleh ananda Fitratur Arifansyah dan dikirim ke penulis. Tak terasa air mata meleleh, ingat ketika masih bersama-sama di kelas, suka duka bersama mereka, menyisakan rindu berat, ketika membuka video dan album mereka di dokumen penulis.

Waktu berjalan satu bulan setelah kenaikan kelas, tahun ajaran baru di mulai, tak lagi bersama anak-anak di kelas yang sama, karena anak-anak telah setingkat lebih tinggi dari kelas semula. Penulis buka-buka video yang anak-anak kirim. Spontan meleleh lagi air mata ini, entah kenapa rasa itu terus ada, mengiringi hari-hari terus berjalan menapaki masanya. Lagu tersebut penulis abadikan syair lagunya lewat cerita pendek ini, agar ingat selalu di masa pandemi Covid-19 ada seribu kisah bisa diceritakan dari bangku sekolah, yang tak terendus lagi oleh keramaian dan celoteh anak-anak.

~

Lagu : Semua tentang Kita

By     : Ariel Peterpan

 

Waktu terasa semakin berlalu

Tinggalkan cerita tentang kita

Akan tiada lagi kini tawamu

Tuk hapuskan semua sepi di hati

( # )

Teringat di saat kita tertawa bersama

Ceritakan semua tentang kita

 

Ada cerita tentang aku dan dia

Dan kita bersama saat dulu kala

Ada cerita tentang masa yang indah

Saat kita berduka saat kita tertawa.

~

Siapapun akan terharu, dan mungkin meneteskan air mata,  mendengar lagu tersebut. Membawa sekat rindu tak terurai diantara kami, hanya doa yang bisa kami selipkan diantara rasa itu, semoga suasana new normal akan kembali benar-benar normal, tanpa ada persyaratan ketat mengiringinya, sehingga bisa sekolah dengan tatap muka.

Dari deretan kisah yang terjadi, semua menemui takdirnya, bukan sebuah kebetulan tetapi sesuai takdir Allah SWT, telah tertulis sejak manusia belum lahir, tentang kelahiran, jodoh, rezeki, dan  kematian.  Sehingga manusia hanya bisa berikhtiar dan berdoa untuk kehidupan yang lebih baik. Tetap semangat belajar, baik yang sudah belajar langsung, maupun dalam jaringan.

Pesan Ka Kanwil Kemenag Jawa Timur, Dr. H. Ahmad Zayadi, M.Pd, dalam pembukaan Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (Matsama) RA, MI, MTs, MA, Tahun Pelajaran  2020-2021, Senin, 13 Juli 2020, "Hakekat belajar, bisa di mana saja, berbagai macam tempat, dan berbagai macam model pembelajaran bisa dilakukan."

Maka tetap semangat belajar dalam keadaan apapun. Rindu kita akan selalu ada, terpatri di sanubari sebagai siswa dan guru yang saling menyayangi.

 

The Sunrise of Java.

Senin, 20 Juli 2020.

Description: C:\Users\USER\Downloads\WhatsApp Image 2020-05-07 at 14.24.06.jpeg

Biodata Penulis : Hj. St. Muanifah, M.Pd.I, guru di MI Negeri 3 Banyuwangi, mulai menapaki karir menulis sejak ikut Workshop Satu Guru Satu Buku (SAGUSABU), di Kementerian Agama Banyuwangi Desember 2019. Buku karyanya yang telah terbit “Berkah di Ujung Senja,” Buku Antologi “Satu Derap Seribu Giat,” (123 Pemenang Lomba Menulis di Media Guru Indonesia), dan Insyaallah segera terbit Buku Antologi “Seribu Suara Warna,” “Dari Pledoi Hingga Ajal Menjemput,” “Pendidikan Indonesia di Era New Normal,” “Berani Mengajar, Siap Belajar’” ( 123 Pemenang lomba menulis di Media Guru bulan Juli 2020 ) dan “Bangga Menjadi Guru.”

New Normal Biasa Namun Jadi Primadona

 

New Normal Biasa Namun Jadi Primadona

 

Oleh
Eny Susiani

New normal alias normal baru atau kebiasaan anyar sebenarnya sangat biasa karena namanya normal ya normal atau biasa biasa saja, namun ternyata hal yang biasa bisa menjadi istimewa bahkan sangat istimewa dan menjadi primadona baru, menjadi buah bibir dimana mana mulai dari Presiden, para petinggi , orang biasa dan gaungnya  terdengar  diseantero negeri bahkan hampir di seluruh penjuru dunia bak bunga mawar yang sedang mekar mekarnya, bak gadis cantik sweet seventen yang mengundang pesona menjadi buah bibir dimanapun berada.

 

Normal memang biasa tidak istimewa bila keadaan  sedang normal, tetapi bisa menjadi sebuah asa baru bila keadaan sangat tidak normal, dimana kita semua tahu bahwa beberapa bulan terakhir ini tiba tiba dunia diguncangkan oleh kehadiran makhluk kecil yang diberi  nama covid 19. Tentara kecil kiriman Allah yang bahkan  mereka tidak tahu dengan nama mereka. Namun kehadirannya benar benar mampu merombak tatanan hidup manusia, mampu memporakporandakan semua lini kehidupan. Hampir semua lini kehidupan mati suri, Manusia yang tadinya dengan segala kesombongannya seakan akan mampu menguasai dunia, dimana dunia seakan  dalam gengamannya, tiba tiba terhenyak, terhempas, tergugu dan ilmu pengetahuan seakan akan kehilangan ruhnya.

 

Manusia tiba tiba dipaksa untuk diam di rumah , Stay at Home, Psysical Distancing, Sosial Distancing. Semua aktivitas harus di hentikan, yang biasanya bebas kapan saja ke Mall, ke tempat rekreasi, pergi melanglang buana kemanapun disuka sepanjang ada dana, dipaksa untuk tunduk pada keadaan yang sangat tidak biasa, tunduk dan bahkan seluruh penjuru negeri serta seluruh penjuru dunia dipaksa tunduk pada tentara kiriman Allah, kesombongan tiba tiba pergi entah kemana. Ngeri, takut, khawatir, masuk kerelung hati kita. Jadi takut ketika saling bersua, apalagi berjabat tangan, kita tidak pernah tahu siapa diantara kita yang membawa virus berbahaya yang penularannya bisa  lewat sentuhan yang di bawa oleh manusia.


Bila ketika keadaan normal, bersua dengan saudara, teman, kerabat menjadi hal yang istimewa, bakkan kita rentangkan tangan kita,  berpeluk erat dengan mereka, kita saling  tersenyum dan tertawa bersama dalam pelukan, itu bila keadaan normal.  Namu tiba tiba hal tersebut tidak berani kita lakukan karena keadaan sedang tidak normal. Jangankan berpelukan, mencium dan berjabat tangan saja kita tidak berani. Bahkan harus sering cuci tangan pakai sabun atau handsanitizer, jaga jarak, tidak perlu bertemu, bekerja dari rumah/ Work For Home (WFH), belajar di sekolah diliburkan atau Learning For Home (LFH), tempat rekreasi ditutup, mall dan pusat perbelanjaan dibatasi jam bukanya, kriinalitas meningkat, semua menjadi tidak normal.

Hari raya idul fitri yang merupakan hari kemenangan umat Islam setelah puasa satu bulan penuh yang di Indonesia biasanya dirayakan dengan sangat meriah, tiba tiba menjadi sepi suyi, bahkan sholat id saja di himbau oleh Pemerintah untuk dilaksanakan di rumah saja, kalaupun dilaksanakan di Masjid harus menenuhi protokol kesehatan, tidak ada mudik, tidak ada saling silaturahmi yang ada hanya saling menyapa secara virtual. Para suami tiba tiba jadi Imam Sholat Tarweh, jadi Imam Sholat Id, meskipun jamaahnya hanya beberapa saja, hanya istri dan anak anaknya.

 

Belajar dirumah diperpanjang berkali kali hingga kami guru dan siswa hanya bisa memeluk rindu,  tersekat ruang dan waktu, tentu kebosanan yang luar biasa yang kita rasakan, karena kita manusia itu makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Ibarat mata uang yang tidak bisa dipisahkan. jadi ketika manusia dipaksa keadaan untuk sosial distancing, ini adalah siksaan tersendiri bagi jiwa merdeka. Terlebih bagi anak sekolah dimana seharusnya dapat belajar bersama disekolah, bermain dan bercengkerama, bagi yang menginjak remaja dapat beremu dengan pujaan hatinya, dipaksa hanya bertemu virtual.

Itulah mengapa ketika Presiden mengumumkan New Normal, semua langsung menunjukkan sentimen positif, harga saham terkerek naik, rupiah menguat, ekonomi mulai mengeliat, banyak sektor yang tadinya seakan mati suri, pelan tapi pasti mulai hidup kembali,  dengan wajah yang lebih cantik berseri, menjadi primadona baru , New normal, kebiasaan anyar dengan standar baru. Di semua tempat selalu ada tempat cuci tangan lengkap dengan handsoapnya , di desa di kota disemua sudut kehidupan, kemanapun pergi bermasker dan berberkaca mata, mengunakan Face Shlid menjadi sebuah keharusan dan kewajaran, tetap jaga jarak, tetap tidak saling bersalaman dan memeluk meski rindu membuncah di dada, kita semua meski siap dengan New Normal.

Pelajaran berharga bagi kita semua untuk lebih menghargai yang biasa, karena yang biasa ternyata bisa sangat kita rindukan bahkan menjadi sesuatu yang Istimewa ketika kita hidup pada situasi yang tidak biasa. Situasi yang belum pernah tergambarkan dan disimulasikan, situasi yang memaksa kita untuk hidup lebih disiplin dan menghargai sesuatu dari makna.

Selamat memasuki era baru, New Normal, semoga kita menjadi lebih baik, lebih adaptif terhadap perubahan, lebih toleran, saling mendukung, bergotong royong bersama dengan harapan pandemi segera berlalu, covid 19 segera pergi dan kita kembali hidup normal,  atau kalaupun tetap ada kita bisa hidup berdampingan dan saling menghormati sebagai sesama makhluk ciptaan Allah yang tidak saling menyakiti.

 

*Penulis adalah Guru PPKn MAN 3 Banyuwangi di Srono

 

Melirik Kesiapan Madrasah Menghadapi Pendidikan Merdeka

 

Melirik Kesiapan Madrasah Menghadapi Pendidikan Merdeka

Oleh : Eny Susiani

 


Tahun pelajaran baru akan segera di mulai seluruh komponen dan stake holder yang ada di sekolah termasuk Madrasah sudah bersiap dan berbenah. Namun tahun ajaran baru kali ini tidan sesuai harapan, ternyata kita tetap tidak boleh saling bersua apalagi di kelas kelas kita yang tentu sangat kita rindukan jauh hari, kita sudah bosan berada di rumah terus menerus selam 3 bulan ini. Bahkan konon kabarnya kita akan tetap sekolah dari rumah baik daring maupun luring. Karenanya Madrasah meski menyiapkan Kurikulum dengan sebaik mungkin karena pemerintah hanya memberi rambu rambunya, kemudian Madrasahlah yang mengolahnya menjadi KTSP ( Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang dikemas sesuai visi , misi, tujuan, target, tantangan dan hambatan di Madrasah masing masing.

Bisakah Madrasah kita yang saat ini sedang banyak dilirik masyarakat

Mengemban amanah dengan membuat dan menyiapkan kurikulum darurat covid yang mampu menjawab tantangan zaman yang serba cepat diera global ini yang seakan akan dunia tanpa batas dengan istilah kerennya mengemban amanat generadi 4.0. Generasi milenial yang lahinya bersamaan dengan teknologi informasi dan teknologi  transfortasi yang serba cepat sehingga ibaratnya dunia dalam genggaman, dimana HP telah mengambil alih beberapa vitur yang sebelumnya ada pada alat elektronik lainnya, mulai dari Teknologi audio, visual, hingga transaksi keuangan.

 

Apa mau di kata, kita semua tahu saat ini Banyuwangi belum ada yang zona hijau sehingga pembelajaran belum boleh melalui tatap muka, tetap PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh)  dengan daring maupun luring sementara masing masing madrasah kondisinya berbeda, ada yang di pelosok sehingga signal HP sangat sulit, ada yang karena aturan dari yayasan (Pondok Pesantren) yang melarang membawa HP serta tingkat kemampuan ekonomi yang kurang, sehingga tidak punya HP. Akankah kita rela terhempas dan terpental dari panggung Pendidikan yang bertahun tahun kita rintis dan kita perjuangkan ?, akankah kita rela kepercayaan masyarakat yang mulai tumbuh, merekah, dalam alunan nada penuh harap menjawab tantangan generasi yang siap menghadapi tantangan jaman dengan tetap memegang teguh akhlakul karimah yang selama ini kita perjuangkan akan lebih mengharumkan sekitar kita atau justru sebaliknya menjadi layu ?. Tentu kita memilih yang pertama yakni Madrasah yang mampu memberi warna indah  dan aroma wangi di tengah kebun bunga Pendidikan Darurat covid.

Madrasah sebagai salah satu pilihan pendidikan saat ini banyak dilirik oleh masyarakat ibaratnya gadis cantik yang menawan hati,  menawarkan pendidikan yang setara dengan sekolah sekolah dengan kekhasan Keagamaan, dengan pembelajaran agama yang lebih banyak dan lebih luas dibanding sekolah umum Mengingat betapa pentingnya kurikulum bagi sebuah lembaga madrasah/ sekolah, kesiapan tersebut sangat diperlukan bagi Madrasah yang sebagian besar dikelola oleh Masyaratar. Ke khasan Madrasah dengan tambahan pendidikan berbeda dengan sekolah umum yang juga ada dengan tambahan pendidikan keagamaan, dimana pada Madrasah ini pendidikan rumpun keagamaan masuk kedalah kurikulum yang wajib ada dan diajarkan kepada siswa.

Kondisi Madrasah di Kabupaten Banyuwangi  yang negeri jumlahnya sangat terbatas sedangkan animo masyarakat untuk menyekolahkan putra putrinya di madrasah makin besar. Hanya ada 3 Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) atau setingkat SD, 12 Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) atau setingkat SMP serta 4 Madrasah Aliyah Negeri (MAN) atau setingkat SMA. Karenanya perhatian Pemerintah terhadap keberadaan Madrasah Swasta sangat dibutuhkan untuk menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan anak bangsa.

Meskipun Madrasah dibawah binaan Kementerian Agama yang notabene tidak termasuk wilayah otonomi daerah, namun tidak ada salahnya jika Madrasah Swasta yang dikelola Masyarakat tersebut mendapat perhatian dari Pemerintah Daerah, dengan mengingat siwa yang belajar pada Madrasah juga Masyarakat di daerah yang mempunyai hak yang sama dengan warga yang menitipkan pendidikan anaknya di sekolah selain madrasah.

Kondisi madrasah yang harus dan mau tidak mau berpacu dengan pesatnya kemajuan dan kita meski ingat bahwa cara mendidik yang kita terapkan tentu berbeda dengan jaman kita dulu, seperti yang Rosululloh Muhammad ajarkan “jangan mendidik anakmu seperti dulu kau didik karena mereka hidup di jaman yang berbeda denganmu”, apalagi di masa darurat covid ini tentu kita harus benar benar berbenah dan mengikuti perkembangan yang serba cepat ini kita dipaksa  harus adaftif dengan keadaan, kurikulum harus dikemas dengan memperhatikan kondisi siswa, guru dan sarana prasarana serta keadaan atau kondisi masing masing madrasah.

Belum lagi tingkat kebosanan siswa dan guru yang harus rela sementara  menahan rindu, rindu yang tak terperi lagi lagi harus kandas di tengah harapan tgl 13 juli sebagai awal tahun ajaran baru ternyata tetap belum bisa bertemu untuk saling mengungkapkan rindunya, sehingga kurikulum meski di kemas dengan teliti dan seksama dengan tidak membatasi kreativitas guru dan siswa sehingga benar benar terwujud " Madrasah Hebat Bermartabat".

 

Penulis adalah guru PKn dan waka Kurikulum MAN 3 Banyuwangi di Srono


Kerinduanku Terenggut Corona

 

Kerinduanku Terenggut Corona

Oleh : Yusi Nia Sari

Pada layar kaca usang disudut ruangan, tempat kita menikmati berita TV, kurasakan sepi disetiap celah pojok kelas, riuh gaduh yang biasa terdengar, canda gurau dengan segala riang, berkeluh kesah tanpa sebuah pertikaian, Bahkan damai dengan semua nuansa perbedaan. Kini kita hanya sebatas ketikan yang ada pada baris-baris kotak dilayar genggam, sebatas tawa  berpautan pada rona emoji, dan menembus rindu hanya berhadapan pada ponsel, ini hanya sebatas kita yang tidak bisa mendaratkan pelukan. Semua mulai terbatasi tidak ada lagi senda gurau atau setakat bersemuka dengan semua teman, guru, karyawan, dan warga sekolah lainnya.


Aku rindu, Atas segala dimensi yang pernah kita tempati, belajar bersama-sama dengan kekompakan yang amat kuat, antusias yang membara, semangat berapi-api, serta gelora yang selalu berkobar. Ah sial, kita sudah menerima hasil nilai tahun ajaran ini, Kalian pasti paham bukan? Mungkin tahun ajaran pelajaran besok kita sudah tidak sekelas lagi. Padahal kita belum genap setahun; sisa waktu kita terhabiskan dengan belajar sendiri tanpa harus kalian temani. Yah covid-19 maaf sudah sering menyalahkanmu meski sudah sekian banyak belati yang kamu tancapkan, ini hanya tentang keadaan. Bagaimana manusia bumi bisa membalut luka sendiri dan bertahan pada kehancuran yang terjadi saat ini. Sekalipun banyak yang tanggal disudut pipi lalu menjelma butiran air mata yang jatuh karena memayungi rasa yang amat nestapa, Di waktu-waktu hancur ketika harapan kita melebur. Namun percayalah bahwa kita hanya sedang tersungkur tapi tetap tidak boleh mundur.

Kelak kita akan belajar tentang makna bersyukur pada kehidupan yang sesungguhnya.,Makna terenggutnya kebersamaan kita karena virus corona, mungkin tahun ajaran besok kita sudah tidak sekelas lagi, tidak begitu bertatap meski hanya sekadar menanyakan tugas, sekadar menceritakan guru kiler yang selalu disegani, atau guru ganteng dan cantik yang sangat berbaik hati dan sangat dicintai. Suka dan duka telah sama-sama kita terima dengan lapang dada, kita sudah banyak mengarungi perbedaan ataupun melewati ancaman dan dengan bersama-sama kita lebih kuat menjalani kehidupan.

Dalam hidupku, kalian pernah menjadi segalanya. Banyak badai yang sudah kita lewati, namun kita tetap saling mengeratkan jemari, banyak pertanyaan yang sering kita tangguhkan tapi alhasil semua sudah menjadi pernyataan. Kebersamaan dan kekompakan kelas kita sudah sering dibicarakan orang, tapi tentu kelas kita selalu memegang medali tanda kemenangan. Makhuk kecil tak tampak telah merenggut sebagian masa terndah yang kita miliki. Kita akan terus belajar tentang makna kehidupan dari peristiwa yang kita alami saat ini, sebuah kondisi yang sangat tidak normal yang tidak pernah terpikirkan dalam angan sebelumnya.

Kalah maupun menang sudah biasa dalam permainan, tapi riang yang menjulang pada kebersamaan itu biasa kita sebut kenyamanan. Kita sudah amat dalam menyelami perbedaan, jika ada suatu kekurangan, semua telah sama-sama kita terima dengan lapang dada, kita paham bahwa tidak ada kesempurnaan ditubuh orang. Karena kesempurnaan yang utuh hanyalah milik Tuhan. Kita pernah sempat menjadi tempatmu bercerita, tentang hari mana yang membuatmu bahagia maupun menderita. Kitapun sangat paham kapan seriusmu menjadi canda, dan candamu menjadi candu. Tak ada yang selucu kelas kita, dan tak ada yang tempat yang ternyaman kecuali kelas kita, yak ada yang paling kurindu selain kenangan candaanmu.

Teruntuk kalian, Terimakasih sudah pernah hadir di hati dan jiwaku, meski keberadaan kalian hanya sebatas mampir. Seperti yang kita tahu, kelas kita adalah perjalananmu dan bukan rumahmu. Kita pernah melabuhkan kisah dan sekarang berakhir pisah. Panasnya terik yang kita lewati juga dinginnya  semilir malam karena hujan membasahi bumi, Perjuangan ini tak boleh tersekat sia-sia kalian harus terus bertarung dengan tahun ajaran berikutnya, meski pertempuran kalian esok tidak sama seperti dulu lagi.

Untuk seluruh percakapan yang pernah kita perbincangkan, terimakasih sudah menghadirkan nyaman, Tuhan memberikan kesempatan cukup baik dalam menghadirkan kalian dalam kehidupanku. Meskipun tak disebut selamanya, kalian pernah mengisi kekosongan ruang yang ada. Jangan merayakan perpisahan kelas dengan menjadi setengah gila, atau dijadikan alasan untuk menangis semalaman, Tapi jadikan cerita kita dalam bagian perjalanan hidupmu. Apapun takdir yang akan kita jalani, semoga selalu kalian sematkan dalam hati.

Tak ada resah dan gelisah seperti lagu lama Obbi Mesakh berjudul kisah kasih di sekolah dimana ketika lagu tersebut tenar, Orang tua kita mungkin juga masih Remaja seperti kita. Kerinduanku tanpa asnara, ketulusan candamu akan kita bawa selamanya. Sebagai kisah kasih terindah dari waktu terbaik yang kita miliki. Patut kita sukuri bahwa kita hidup dizaman yang mungkin tak akan terulang dalam sejarah kehidupan manusia, dimana generasi kita dapat naik kelas meski waktu belajar di kelas kita terpangkas. Kita yang mengawaali kegiatan belajar merdeka, dimana ruang kelas kita adalah sudut kamar kita sendiri, kerinduan bersua kita tertuangkan dalam segenggam kotak kecil secara virtual, kita tidak harus berbaju seragam nan rapi ketika memasuki dimensi pembelajaran.

Kerinduan kita terobati ketika kita memasuki era baru yang oleh orang orang dewasa disebut New Normal, yang menurut kita sungguh tidak normal, dimana canda dan tawa kita harus dibatasi dengan Face Shild dan masker, kita adalah generasi bebas yang sedang mencari jati diri, dan sekarang terkurung dalam pandemi yang harus kita jalani dan kita nikmati bagaimanapun pahitnya. Yakinlah bahwa kerinduan yang terenggut corona akan berbuah indah pada waktunya.

 

Penulis adalah Siswa Kelas XI IPS-4 MAN 3 Banyuwangi di Srono

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger