Pages

Belajar Daring, Belajar Mengatasi Berbagai Masalah

 

Belajar Daring, Belajar Mengatasi Berbagai Masalah

Oleh: Nurul Ludfia Rochmah,  S. Pd., M. Pd. MAN 1 Banyuwangi

 

Sudah kurang lebih dua bulan pandemi ini memaksa kita melakukan segala sesuatu dari rumah, termasuk dalam melakukan pembelajaran. Awalnya mungkin semua serba karut-marut dan seadanya, karena semua serba mendadak. Yang diperlukan sekarang adalah melakukan sesuatu agar segera dapat beradaptasi semua kenyataan yang ada.

Sama halnya dengan para siswa. Mereka yang awalnya gembira dengan pengumuman belajar di rumah untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19 mulai menyatakan berbagai macam kesedihannya. Mereka mulai mengeluh tentang banyak hal. Tentang tempat tinggal yang sulit dijangkau jaringan internet, gawai yang tidak support, tugas mapel yang berbarengan, guru lebih banyak memberi tugas daripada menyampaikan materi belajar, ribetnya berbagai aplikasi daring yang dipakai guru, orang tua yang kurang mendukung, dan lain sebagainya. Satu per satu permasalahan itu perlu diuraikan. Saya sebagai gurunya harus berperan untuk membantu berbagai kesulitan yang dialami siswa selama mereka belajar dari rumah.

Tidak semua siswa memiliki tempat tinggal di daerah yang mudah dijangkau oleh jaringan internet. Ada di antara mereka yang tinggal daerah yang hampir zero sinyal. Kita sering menyebut dan berkelakar, “di daerah tersebut sinyalnya timbul tenggelam.” Memasang wi-fi mungkin bisa jadi solusi tapi bagi orang tua mereka, wi-fi itu barang mahal yang sulit dijangkau. Demikian juga dengan gawai yang bisa support. Mereka memiliki hape yang bisa dibuat wa saja sudah beruntung. Kepada mereka, saya sangat memahami dan memaklumi. Saya akan membantu mereka melalui komunikasi di wa. Materi dan tugas saya kirimkan lewat wa. Kadang saya yang menelfon mereka untuk memberi masukan atau koreksi tentang tugas yang mereka kerjakan.


Membangun komunikasi secara intens dengan para siswa saat pembelajaran daring merupakan hal yang penting. Dari situ saya memahami apa yang dikeluhkan siswa. Misalnya mereka mengeluh tentang banyaknya guru yang hanya memberikan tugas saja tanpa menjelaskan. Yang bisa saya lakukan adalah memberikan masukan kepada sesama guru untuk mengubah teknik mengajar daringnya. Kepada teman guru mapel saya mengimbau agar sedapatnya memberikan ulasan materi sebelum memberikan tugas. Bentuknya bisa berupa video atau rekaman suara. Para siswa masih ingin dijelaskan materi belajarnya, oleh gurunya, tidak sekadar disuruh membaca sendiri materi tersebut lewat buku masing-masing.

Demikian juga dengan aplikasi daring yang dipakai. Para siswa mengeluh banyaknya aplikasi daring yang harus diunduh padahal gawai mereka tidak semuanya bisa support. Untuk mengunduh beberapa aplikasi, harus menghapus aplikasi lain yang sudah ada. Solusinya tentu saja kembali kepada kebijakan para guru dalam memakai aplikasi. Saya memberikan masukan kepada para guru agar bersepakat tentang aplikasi apa yang dipakai dalam pembelajaran daring ini. Kesepakatan ini untuk memudahkan siswa, terutama bagi mereka yang gawainya terbatas.

Yang tak kalah penting dalam melayani siswa belajar daring ini adalah membantunya untuk menjelaskan kepada orang tua masing-masing bahwa anaknya sedang belajar. Sebagian siswa memang mengeluh bahwa orang tuanya menganggap mereka sedang bermain-main saja dengan hape. Tugas saya adalah memberi penjelasan kepada wali murid bahwa memang sekarang ini semua kegiatan belajar memakai gawai. Kadang secara tidak sadar, orang tua menyuruh anak membantunya mengerjakan sesuatu di rumah padahal anaknya sedang mengerjakan tugas sekolah. Ini yang kadang-kadang membuat konsentrasi anak buyar karena jengkel. Saya juga meminta dukungan para orang tua untuk memberikan tambahan pulsa data atau syukur-syukur  orang tua dapat menyediakan wi-fi di rumah. Tentu ini akan membantu putra-putrinya belajar dari rumah.

Belajar daring ternyata menyimpan banyak hikmah. Sebagai guru, saya belajar menjalankan peran sebagai guru yang harus peka dengan masalah yang dialami siswa saya. Saya harus membantunya semaksimal mungkin terutama dalam menjalani kegagapan belajar daring di masa pandemi. Saya juga dapat memberi dukungan pada sesama teman guru untuk mencari cara paling efektif untuk mengajar daring. Selain itu saya juga dapat berinteraksi dengan para orang tua untuk bekerja sama memberikan dukungan belajar daring bagi putra-putrinya.

Penulis: Nurul Ludfia Rochmah, S.Pd., M.Pd. Lahir di Banyuwangi, 18 April 1976. Mengajar di MAN 1 Banyuwangi. Email: nurul.lutfia@gmail.com. WA: 081391433945.

Description: E:\oppo 16092019\IMG_20190907_071337.jpg

 


VIRUS POSITIF DI MASA COVID 19

 

VIRUS POSITIF DI MASA COVID 19

Banyuwangi,7 Juli 2020

Oleh: Kur Asriatun

 

Menularkan virus positif kepada orang lain adalah sesuatu yang menyenangkan. Ada kepuasan tersendiri yang dirasakan penulis. Semenjak didengungkannya program literasi oleh kemendiknas disusul kemudian dengan program GERAMM ( Gerakan Ayo Membangun Madrasah) membuat penulis mulai berfikir kegiatan apa kiranya yang bisa mendukung program baik dari pemerintah tersebut. Program  GERAMM dibagi dalam 7 gerakan, yaitu Gerakan Literasi Madrasah (GELEM), Gerakan Madrasah Sehat (GEMES), Gerakan Madrasah Inovatif (GEMI), Gerakan Furudhul Ainiyah (GEFA), Gerakan Peningkatan Kompetensi Guru (KATA SIGURU), Gerakan Peningkatan Kompetensi Kepala Madrasah (KATA SIKAMAD), Gerakan Peningkatan Kompetensi Pengawas (KATA SIAWAS). Penulis yang merupakan salah satu personel inti dari tim pengembang madrasah di instansinya kemudian mulai berinisiatif mengajukan program terkait hal tersebut. Alhamdulillah beberapa program yang mendukung program GELEM dapat terealisasi diantaranya reading center, Gerakan Membaca (GeMa) dan Sabtu Menulis (SaLis). Hanya karena masa pandemi covid 19 akhirnya kegiatan tersebut tertunda. Program GEMES juga turut dilaksanakan melalui gerakan galonisasi, mengurangi menjual jajanan kemasan plastik yang bekerja sama dengan kantin dan koperasi sekolah. Predikat Adiwiyata Nasional yang disandang madrasah penulis juga merupakan hasil dari aktualisasi nyata pelaksanaan gerakan madrasah sehat.

Masa pandemi yang di mulai bulan maret hingga sekarang memunculkan paradigma baru terkait pembelajaran di madrasah. Tatap muka dalam pembelajaran yang tak lagi bisa dilakukan secara langsung membuat para praktisi pendidikan utamanya guru harus  cerdas mengambil sikap. Mengeluh bukan pilihan dan malas adalah hal yang harus dilawan. Kenyamanan bersama keluarga karena orangtua yang bekerja dari rumah dan anak anak yang juga belajar dari rumah jangan sampai meninabobokan kita dengan kelalaian. Kelalaian bahwa sebagai pendidik juga dituntut untuk terus berproses meningkatkan kompetensi diri agar ilmu dapat tersampaikan dengan baik kepada peserta didik meski dari rumah. 

Giat belajar tentang berbagai aplikasi yang mendukung pembelajaran jarak jauh (PJJ)  baik secara formal maupun non formal haruslah dihidupkan dalam semangat seorang pendidik. Secara formal belajar bisa dengan mengikuti Webinar, DJJ (Diklat Jarak Jauh) ataupun kelas online yang banyak ditawarkan. Secara non formal seorang pendidik juga bisa belajar otodidak melalui youtube ataupun artikel .


 

Rindu? Tentu saja semua merasakannya. Baik itu pendidik dan peserta didik semua mengharapkan moda pembelajaran yang normal bisa bertatap muka, berdiskusi, dan melakukan praktik belajar bersama dengan menyenangkan. Meski hal tersebut dapat sedikit terobati dengan aplikasi zoom, webex, ataupun vcall. Namun pembelajaran dengan tatap muka secara normal masihlah tetap diangankan. 

Inilah kemudian dikatakan  betapa peran guru tak tergantikan. Secanggih apapun aplikasinya, bimbingan guru tak bisa digantikan. Pakar pendidikan Universitas Brawijaya (UB) Aulia Luqman Aziz dalam kompas.com menyatakan  Peran guru tak tergantikan. Luqman juga mengatakan bahwa Melalui proses belajar mengajar secara tatap muka,siswa mendapatkan nilai-nilai yang tak bisa didapatkan melalui pembelajaran daring.Nilai-nilai tersebut antara lain proses pendewasaan sosial, budaya, etika, dan moral, yang hanya bisa didapatkan dengan interaksi sosial di suatu area pendidikan.

Sejatinya semua mengharapkan pembelajaran akan kembali seperti sedia kala. Kebosanan orangtua yang mulai terasa dalam mendampingi siswa belajar. Para pendidik yang juga mulai bergaya monoton dalam pembelajaran virtual. Sikap bersabar dan menyadari bahwa ini semua adalah keniscayaan yang harus dihadapi dan ditaklukkan adalah modal untuk hidup nyaman di era pandemi ini. 

Menggiatkan literasi di komunitas Madrasah penulis adalah usaha nyata penulis untuk mewarnai kehidupan pendidik di madrasahnya menjadi lebih ceria. Berawal dengan membuat grup bertajuk "Literasi sks" para pendidik di madrasah penulis dengan suka cita menuangkan ide pikirannya dalam bentuk puisi, cerpen dan artikel. Tujuan akhir nantinya tulisan tersebut dapat dibukukan baik dalam bentuk solo ataupun antologi.

 

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. [Yûnus/10:26]

(https://almanhaj.or.id/3345-mari-berbuat-baik-selalu.html)

 

Berbuat baiklah setiap saat, karena saat kebaikan yang kita lakukan diikuti orang lain. Maka pahala kebaikan itu akan terus mengalir pada kita. Tidak ada sesuatu yang langsung sempurna saat dilakukan. Maka awalilah dengan bismillah, belajar untuk kemudian mampu membelajarkan. Berlomba untuk kebaikan dengan cara yang baik insyaalloh akan menghasilkan sesuatu yang baik. 

Semoga Alloh memberkahi. 

 


 

BIODATA PENULIS

Memiliki nama lengkap Kur Asriatun dengan nama panggilan Asri, penulis lahir di Banyuwangi pada 25 Juli  tahun 1980.Mengajar bidang matematika di MTs Negeri 1 Banyuwangi.Penulis dapat dihubungi melalui email amelkfin@gmail.com atau nomer WA 085233266408.Penulis pernah mengikuti Sagusabu Banyuwangi dan menghasilkan buku karya pertama terbitan Media guru berjudul Hiruk Pikuk Menuju Adiwiyata Nasional.

Menggegam Asa Dalam Kerinduan

 Menggegam Asa Dalam Kerinduan

Oleh : Lulu’ Anwariyah, S.S

            Dendang rindu mengalun indah ditengah pandemi, segenggam asa sebuah cita-cita tetap terukir walau tidak pernah bertemu. Gelora semangat belajar harus tetap terukir demi kejayaan pendidikan. Guru tetap mengajar di rumah (Teaching From Home), siswa harus belajar di rumah (Learning From Home).  Keadaan yang tidak bisa di hindari, sejak tanggal 11 maret 2020 WHO menetapkan virus corona atau covid-19 sebagai pandemi dunia. Sehingga pembatasan aktifitas harus di lakukan, termasuk dalam dunia pendidikan harus melakukan physical distancing dan social distancing.

            Pembelajaran daring menjadi solusi terbaik, menyisakan kenangan tersendiri dengan siswa. Guru harus sabar menjawab setiap pertanyaan, karena kendala tidak bertatap muka, maka kepahaman siswa akan terasa lebih berat, mereka selalu mengatan, “kapan sekolah lagi?, capek berjauhan, capek mencari sinyal demi pembelajaran.” Sekuat tenaga guru memberi motivasi kepada siswa untuk tetap sabar dan bersemangat dalam belajar, walau pun secara daring.

            Pada pembelajaran oneline, peserta didik dapat menjadi kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran, karena ruang gerak mereka terbatas. Mereka tidak mampu secara luas menyampaikan aspirasi dan pemikirannya, sehingga dapat mengakibatkan siswa mengalami kejenuhan. Dengan demikian belajar siswa tidak optimal,dan prestasi siswa cenderung akan menurun. Perlu kiat-kiat husus untuk terus memompa semangat belajar mereka.

            Beberapa motivasi yang bisa guru terapkan untuk membuat para siswa tetap bersemangat dalam pembelajaran daring, pembelajaran daring yang anti garing:

a.    Membuat pesan cinta

Pesan cinta bukan masalah tentang teori dan metode pembelajaran, tetapi pesan cinta adalah bentuk awal penyemangat untuk siswa dalam belajar. Dikatakan oleh Akhmad Sudrajat, M.Pd, 2008 (motivasi diartikan sebagai kekuatan atau energi seseorang yang dapat menimbulkan tingkat kemauan untuk melaksanakan suatu kegiatan, baik motivasi dari dalam sendiri, atau dari luar individu). Seberapa kuat motivasi akan menentukan keberhasilan sebuah prestasi siswa. Pesan cinta yang dikemas dalam bentuk video, dan disampaikan lewat akun Youtube membuat siswa berada dalam dekapan kasih sang guru. Motivator sejati bagi para siswa, guna memumpuk rasa cinta, dan mengikis rasa rindu.

b.    Umpan balik

Upan balik pada saat pembelajaran daring, adalah ruhnya daya ketertarikan siswa terhadap apa yang sedang mereka pelajari. Mereka akan bersemangat bertanya, bersemangat mengerjakan tugas, jika guru bersemangat memberikan dorongan umpan balik kepada siswa. Kesabaran yang optimal adalah kunci dari kesuksesan dalam memberikan umpan balik kepada siswa. Membimbing, dan mengarahkan dengan penuh perhatian. Sejenak saja kita tinggal, beberapa notifikasi akan berhamburan muncul, tidak mudah bahkan terasa sangat melelahkan dari pada pembelajaran di kelas. Dengan kesabaran guru menanggapi segala pertanyaan, akan membuat siswa bersemangat dalam mengemban tugas dengan jarak jauh.

c.    Apresiasi

Setelah terjadi umpan balik, maka siswa perlu adanya dukungan dan apresiasi terhadap apa yang telah siswa lakukan. Usaha keras mereka akan terobati ketika tugas-tugas yang mereka kerjakan mendapat reward atau pujian dari guru. Apresiasi dalam pembelajaran daring sangat berbeda dengan pembelajaran di kelas, selalu mengecek tugas yang masuk dan memberi jempol dengan perkataan good job. Sebuah hadiah yang luar biasa bagi siswa yang merasa rajin dalam mengemban tugas daring. Bagaimana bagi siswa yang masih pasif? Guru juga memberi apresiasi, dengan menyapa lembut, “bangun anak-anak, yuuk masuk kelas, ibu rindu, kamu anak yang pintar, kamu pasti bisa, sudah dua belas siswa bangun, ayo yang lain bangun, dan masuk.” Lelah yang wonderful bukan?

            Tidak mudah memupuk asa dalam kerinduan, perlu motivasi yang kuat baik dari dalam diri siswa dan guru. Dalam teori Herzberg dikatakan bahwa motivasi yang optimal terdapat dari dua faktor yang sifatnya instrinsik, yang bersumber dari diri siswa, dan faktor dari ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri siswa, yaitu bisa guru dan orang tua.  Hal ini akan mampu menentukan semangat siswa dalam belajar.

            Harapan-harapan siswa terbentang luas, walaupun pembelajaran secara daring. Dengan cara-cara yang sederhana kerinduan akan terobati dengan pembelajaran daring yang anti garing. Victor H. Vroom dalam bukunya yang berjudul “Work and Motivation” mengetengahkan suatu teori harapan yang memberi motivasi yang mengarah kepada suatu hasil yang diinginkan. Jika harapan untuk memperoleh sesuatu itu besar, yang bersangkutan akan sangat terdorong untuk belajar. Sebaliknya jika harapan memperoleh hal yang diinginkannya tipis, motivasinya untuk berupaya akan menjadi rendah.

            Harapan orang tua dan siswa tetap belajar secara efisien walau di rumah, atau bahkan dimana pun berada, taman, pekarangan, bahan kebun sekali pun. Bentuk dari kemudahan belajar oneline bisa dimana pun berada, dan pengaruh motivasi guru dari kejauhan akan membuat belajar mereka serasa mudah dan menyenangkan. Kondisi saat ini mendorong seluruh elemen, guru, orang tua, dan siswa tetap bersemangat untuk menggapai asa dan cita-cita.

            Seiring waktu para siswa akan terbiasa dengan kondisi yang ada, berdampingan dengan hal yang sulit butuh latihan dan proses yang melelahkan. Memupuk asa dalam kerinduan tidaklah mudah, perlu ada pengorbanan oah rasa di jiwa. Guru adalah faktor penentu kualitas pembelajaran, pembelajaran yang memiliki kualitas yang baik akan menghasilkan hasil belajar yang baik juga. Salam sukses untuk yang jauh di mata namun tetap dekat di hati, terus berpacu meraih asa dan cita-cita dalam keterbatasan ruang dan waktu. Kerinduan kalian para siswa, adalah penyemangat kami para guru dalam menorehkan karya lewat pembelajaran daring yang tepat guna. Tetap semangat dan tersenyum dalah menggengam asa, demi masa depan yang gemilang.

PROFIL PENULIS

               


Nama, Lulu’ Anwariyah, S.S., lahir di Banyuwangi, 18 Desember 1979. Hobi membaca dan menulis.

Guru Bahasa Inggris MTsN 4 Banyuwangi. Aktif dalam kegiatan MGMP Bahasa Inggris, dan pernah menjadi tutor penulisan soal HOTs pada tahun 2018 dan Sebagai tutor penulisan bedah soal pada tahun 2019 di Kabupaten Banyuwangi pada tingkat madrasah.

Bisa di hubungi di FB Lulu Anwariyah atau di no WA 081336115200. Email (luluanwariyah79@gmail.com.)

 

Melayani Dengan Sepenuh Hati

 Melayani Dengan Sepenuh Hati

Oleh : Eny Susiani

 

Melayani dengan hati, ah seperti slogan saja, hanya abang abang lambe. Mungkin ada yang berfikir seperti itu. Tapi tunggu dulu, itulah yang kami lakukan, mengakhiri pembelajaran dengan pembagian Raport siswa. Kami buat undangan dengan memperhatikan protokol kesehatan di era kebiasaan anyar (New Normal) mulai kami layani di meja meja yang kami tata di luar kelas berjauhan, wajib memakai masker, wajib cuci tangan, himbauan tidak berkerumun, tidak usah bersalaman apalagi cipika cipiki, tidak tanda tangan dan hanya di beri tanda centang untuk kehadiran, wali kelas dan guru yang melayani mengunakan face shield, kehadiran orang tua dilakukan beberapa shif yang mengakibatkan kegiatan semakin lama, tidak ada lagi rapat besar wali murid dengan komite.

Ah ternyata semua itu tidak cukup menyakinkan untuk sebagian wali siswa, ada yang tetap tidak berani hadir dengan segala argumennya, bahkan mereka ada yang tetap ngotot minta dikirim file PDF Raport putranya, dan semua kami layani dengan segenap hati yang minta file kami kirim file, yang berkenan datang kami layani dengan segenap hati dan jiwa raga kami, meskipun kami tahu bagaimana resikonya ketika kami harus keluar rumah kami berikan senyuman terbaik kami, ucapan selamat telah naik kelas diera pandemi, dan sedikit petuah khas seorang guru.


Dan yang orang tuanya dengan segala alasan tidak bisa hadirpun tetap kami layani, anaknya sendiri yang mengambil, padahal kami sampai harus lembur bermalam malam untuk menyiapkan semua ini, karena bagi kami siswa adalah amanah yang dititipkan pada kami sehingga harus kami pertanggungjawabkan pada orang tua dan Allah tentunya, mereka begitu berharga, pandemi covid-19 menjadi alasan orang tua untuk tidak hadir di sekolah. Kamipun harus memberikan pengertian pada siswa untuk menjaga protokol kesehatan, sungguh sebuah kebiasaan anyar yang sulit dan benar benar perlu pembiasaan untuk melakukannya.

Tapi sudahlah, karena kami memang harus melayani dengan sepenuh hati semua kami layani dengan tetap berpikir positif, tanpa prasangka dan tetap semangat tentunya, yakin bahwa suatu saat akan segera berakhirnya pandemi covid-19 yang menyita energi dari semua ini tanpa harus menghakimi, sebagaimana lagu Ebid G Ade “Badai Pasti Berlalu”.

Dan tentunya diiringi rasa syukur, meski sulit dan terasa menghimpit, menyesakkan dada dan jiwa sosial kita. Alhamdulillah lega rasanya tahun pembelajaran 2019/2020 berakhir sudah, semua sudah terlewati tanpa ada yang terlompati, mulai PAT (penilaian akhir tahun) dengan segala keruwetannya, Remidi, proses pengisian ARD ( Aplikasi Raport Digital), Rapat kenaikan kelas dan pembagian Hasil Belajar Semester genap. Anak anak dapat menikmati uji semesteran meski sebelumnya menikmati “libur corona”.

Meski semua harus mekewati jalan terjal berliku dan kadang berduri menembus relung hati guru guru hebat kami, guru yang rela lembur sampai malam untuk siswanya agar mempunyai nilai yang diharapkan melebihi standar KKM ( Kriteria Ketuntasan Minimal), kadang juga harus telaten menelepon siswa yang belum memenuhi standar, bukan hanya ke siswa tapi juga ke orang tuanya. Kami menyadari bahwa mengerjakan ujian online dari rumah tidak semudah bayangan, semangat anak anak berbeda ketika mengerjakan bersama teman sekelasnya, terlebih disekolah bisa bertemu dengan sang pujaan hati cinta SMA.

Dan bila tetap tidak ada respon dengan segenap cintanya guru rela menembus ruang dan waktu menyusuri jalan berliku untuk menemui siswa agar terpenuhi nilainya, karena nilai disini bukan sekedar nilai yang sebenarnya bisa kita rekayasa dengan mudahnya, dengan mengaji alias ngarang biji tapi itu tidak kami lakukan, karena nilai yang kami berharap ada nilai tanggung jawab dari mereka siswa siswa kami bahwa apa yang mereka dapatkan sesuai apa yang mereka lakukan bukan bim salabim abagadabra yang membuat mental mereka mental yang menghalalkan segala cara, dan mental yang mengangap sesuatu serba mudah tanpa perlu berjuang dan berkompetisi.

Kami tidak ingin mereka menganggap nilai sesuatu yang mudah, diperlukan perjuangan sehingga mereka nantinya akan menjadi pejuang pejuang tangguh yang berkarakter yang akan menjadi lentera bahkan pemimpin di negeri ini, negeri yang sangat kita cintai tentu sesuai potensi mereka masing masing, generasi yang proses pembelajarannya sangat istimewa dimana akan dikenang sepanjang sejarah manusia.

Perjuangan para guru dimasa pandemi tidaklah mudah, banyak resiko yang harus kami hadapi ketika kami melakukan tugas kami, karena tidak semua dapat kami lakukan ketika para siswa melakukan LFH (Learning From Home), atau ketika Penilaian Akhir Tahun (PAT) dan menyelesaikan pengisian Raport secara online. Cinta guru terhadap siswa tak akan pudar oleh waktu, dimana masa depan mereka baik maupun buruk juga akan membawa nama baik almamaternya.

 

*Penulis adalah Guru PPKn MAN 3 Banyuwangi di Srono

Kuantar Sampai Terminal Harapan

 


Kuantar  Sampai Terminal Harapan

Oleh :Eny Susiani

Maaf kami hanya bisa mengantarkanmu sampai terminal, dengan sedikit bekal ilmu yang kami berikan berharap kalian bisa menuju tujuan dan cita cita, pergilah jauh, terbanglah tinggi dan arungi luasnya samudra kehidupan. Ingatlah perjuangan baru dimulai, berjuanglah semanpu yang anda bisa. Jangan pernah menyerah, diluar sana banyak onak berduri, jalan terjal berliku, kerikil tajam, bahkan bongkahan batu, jurang dan menghadang langkahmu. Tidak seperti waktu kamu disini dalam dekapan dan pelukan kami yang setiap saat siap membantu mengoleskan obat dan memelukmu bila engkau terluka. Diluar sana kau akan berhadapan dengan banyak rintagan dengan berbagai tipe golongan,usia,dan latar brlakang pendidikan dan ekonomi yang berbeda.

Disini dulu kamu hanya bersaing untuk mendapatkan nilai, perhatian,dan penghargaan dari kami guru gurumu,dan pesaingmu hanyalah teman sebaya dengan usia yang hampir sepadan, latar belakang ekonomi dan sosial budaya yang tidak terlalu mencolok perbedaannya, juga hanya denga didikan kami yang hampir seragam hampir sama, sebagaimana seragammu tiap hari. Kalau toh ada ujian hanya sebatas kerikil kecil bukan bongkahan batu dan onak berduri. Anakku kami memang bukan orang tua biologismu, bukan orang tua kandungmu, kami hanyalah orang tua ideologis yang berharap engkau menjadi insan mulia pemimpin segala kehidupan ini. suatu saat nanti, minimal pemimpin bagi dirimu sendiri dan keluargamu. Berharap suatu saat nanti ada goresan pena yang mewarnai hidupmu, membentuk mozaik mozaik karakter dan budi pekertimu agar bisa mengapai mimpi mimpimu.

Anakku, bermimpilah setinggi langit, kalau toh kamu jatuh, jatuhnya masih diantara bintang bintang. Jangan mudah menyerah oleh keadaan, jangan melihat kesuksesan seseorang secara instan kamu tidak pernah tahu apa saja yang pernah mereka lalui. Jadilah dirimu sendiri dengan keunggulan masing masing karena semua dari kalian sudah diberi bekal yang cukup oleh Allah, berupa segenap kelebihan dan kekuranganmu. Dulu kita memang tidak saling kenal, tapi segalanya berubah setelah tiga tahun yang lalu engkau dinobatkan menjadi anak didik kami melalui, akhirnya kita saling kenal, saling sayang, saling merindukan, saling mendoakan dan terbersit harapan akan masa depan kalian.

Maafkan kami yang kadang mendidikmu sedikit keras, kadang ada sedikit cubitan, tempelengan masuk relung hatimu tidak lain dan tidak bukan karena kami sayang padamu, bahkan separuh jiwaku untukmu anak anakku, cinta dan sayangku begitu dalam, kami tidak mau engkau tidak siap, bahkan terluka dan terjerembab diluar sana. Meski hanya kabar lewat angin malam dan rintik hujan berharap kau baik baik saja diluar sana, berharap engkau semua bisa mengenggam dunia untuk bekal dunia dan akhiratmu kelak. Kami akan bahagia bila itu yang terjadi dan kami akan ikut sedih bila kau gagal.

Maafkan kami bila mengantarmu sampai terminal harapan, tanpa suara, tanpa gegap gempita, tanpa alunan musik merdu. Tanpa lantunan adik adikmu di ballroom hotel ternama seperti kakak kakak kelasmu dulu. Tanpa prosesi pengalungan gordom, tanpa  baju baru paling indah yang sudah kalian siapkan jauh hari awal kelas XII, tanpa bunga ditangan dan tanpa prosesi sungkeman ke orang tua kandungmu, ayah ibumu yang begitu bangga melihatmu berjalan di karpet merah menuju kedepan untuk pengalungan gordom tanda anda resmi kami lepas. Semua dalam hening dan serba ketidak pastian sejak munculnya si kecil bernama cantik "Corona". Itulah hidup anakku kadang tidak sesuai ekspektasi.

Kutulis semua ini karena ada sedikit yang menyesakkan dada ini, kukira hari ini anda sudah legowo untuk tidak diwisuda. Kukira engkau sudah menelan pil pahit kehidupan ini. Oh ternyata masih ada saja tiap hari yang Japri, bu " kapan wisuda"  kan sudah New Normal alias kebiyasaan anyar berarti kita bisa wisuda". Sayang bu nanti teman teman dan guru tidak bisa menyaksikan pesona kecantikanku, aku tertawa kecil tawa yang kuharapka sedikit mengobati luka.

Anak ku kita memang sudah jauh hari merencanakan semuanya bahkan mulai bulan Juli awal kalian rela menabung untuk beli baju terbaik saat wisuda, baju yang sudah kita sepakati bersama warna dan modelnya, merah untuk jurusan MIPA, kuning untuk jurusan IPS dan hijau untuk jurusan Agama yang kalian perjuangkan melalui lobi lobi sengit dengan panitia untuk di ganti warna Navi, berkali kali kalian menemuiku untuk jadi mediator dengan panitia dan akhirnya deal warna navi, waktu itu kalian bersorak riang. Ah ternyata itu sebatas bayang semu.

Ada yang di Whatsapp Group sekali lagi dan terus bertanya bahkan terakhir dengan sedikit ancaman yang membuatku geli di tengah kegalauan kalian, bagaimana tidak, kau ancam kami bila tidak digunakan untuk wisuda bajunya digunakan untuk menikah saja katanya, kujawab ancaman itu dengan gurauan yang menjadikan group kelas menjadi rame, oh ya nanti kami guru guru yang jadi pengiringnya. Munculah emoji lucu lucuan. Wisuda sebatas angan karena kalau kami lakukan tetap menyalahi protokol kesehatan,kami harus berkumpul dalam ruangan yang sama 1000 orang lebih, karena tidak mungkin sudahlah anakku tidak usah terlalu dipikirkan, ini juga pembelajaran hidup yang kadang tidak sesuai rencana dan kalian adalah generasi hebat yang dipaksa untuk adaptif terhadap keadaan dan ini modal anda generasi emas dimana keadaan sewaktu waktu berubah dan hanya orang adaptif yang sukses menapaki kehidupan karena dunia berubah begitu cepat..

Maafkan kami sekali lagi hanya mengantarmu sampai disini diterminal terakhir menuju tujuan dan asamu, tolong jangan lupakan kami,kutunggu engkau semua dalam dekapan rinduku menuju suksesmu. Ingatlah pesan kami gurumu," jatuh itu biasa, segera bangun, bangkit, berdiri dan berlarilah, orang sukses itu tidak mudah mungkin mereka jatuh dan bangun berkali kali untuk suksesnya.

Salam sayang selalu dari gurumu orang tua ideologismu, ingat kami satu persatu tanpa kecuali. Selamat untuk yang sudah mendapat perguruan tinggi impian melalui SNMPTN, SPAN-PTKIN, PMDK-PN, dan selamat berjuang untuk yang belum mendapatkan melalui SBMPTN,UMPN dan jalur mandiri lainnya, masih banyak jalan menuju roma. Dan selamat juga bagi yang memutuskan untuk bekerja bahkan menikah semoga sukses bersama Anda,  dari pada sibuk memikirkan wisuda yang menghabiskan energi lebih baik menata hidup kedepan lebih yang lebih baik.

 

Penulis : Guru PPKn MAN 3 Banyuwangi di Srono

 

Kebiasaan Anyar Dalam Dunia Pendidikan

 

Kebiasaan Anyar Dalam Dunia Pendidikan

Oleh : Sri Endah Zulaikhatul Kharimah

            Hampir semua orang tua  kebagian tanggung jawab mendampingi anak-anak belajar dirumah, banyak yang mengakui bahwa menjelaskan berbagai mata pelajaran dan menemani anak-anak mengerjakan tugas –tugas sekolah tidak semudah yang dibayangkan, kerja keras para guru selama ini sungguh patut diapresiasi, di tengah wabah covid-19 kita harus terus semangat mengejar dan mengajar. Tidak ada yang membayangkan, wajah pendidikan akan berubah drastis akibat pandemi covid -19

            Konsep Belajar dirumah ( BDR ), Pembelajaran Jarak Jauh  ( PJJ ), pembelajaran dalam jaringan ( daring ) tidak pernah menjadi arus utama dalam wacana pendidikan Nasional, meski makin popular, penerapan pembelajaran online  ( online Learning ) yang selama ini terbatas pada Universitas Terbuka, program kuliah bagi karyawan dan kursus-kursus tambahan ( online courses ) tapi kebijakan social distancing, physical distancing untuk memutus penyebaran wabah, memaksa perubahan dari pendidikan formal di bangku sekolah menjadi belajar di rumah dengan sistim online dalam skala nasional, bahkan Ujian nasional tahun ini terpaksa ditiadakan.

            Sistem pendidikan online tidaklah mudah, disamping disiplin pribadi untuk belajar secara mandiri, ada fasilitas dan sumber daya yang mesti disediakan. Bersyukur bagi orang tua yang bisa menfasilatasi anaknya untuk pendidikan jarak jauh tapi tidak sedikit orang tua dan juga tenaga pendidik yang kesulitan, baik dalam menyediakan perangkat belajar seperti ponsel dan laptop maupun pulsa untuk koneksi internet. Disisi lain ada  tantangan yang harus ditaklukkan oleh para pendidik dalam menjaga kualitas  pembelajaran ditengah pandemi corona,  Salah satunya adalah memonitoring seberapa besar materi yang bisa diserap oleh peserta didik,  belum lagi masalah pendidikan karakter mereka, terkait kejujuran dalam mengerjakan tugas dan tanggung jawab dalam ketepatan mengerjakan tugas, penggunaan perangkat berbasis teknologi memiliki kemudahan sekaligus membawa tantangan tersendiri. Banyak hambatan dan rintangan dalam pembelajaran jarak jauh yang sudah terjadi selama tiga  bulan, mulai tanggal 16 maret 2020, sesuai dengan Menteri Pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia terkait Surat E nomor 4 tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam masa darurat penyebaran corona virus Disease ( Covid -19 ). Kini pemerintah menggulirkan wacana dan   harapan baru dengan diberlakukannya  “New Normal “ termasuk kenormalan baru dalam bidang pendidikan, new normal kita diminta untuk bisa hidup berdampingan dengan covid-19, Kenormalan baru atau new normal ini bukan berarti peserta didik dipersiapkan kembali kesekolah, namun membantu menyiapkan siswa agar mampu beradaptasi  dengan situasi belajar di tengah wabah covid-19, lalu apa yang  perlu kita  bantu agar siswa lebih siap menghadapi tantangan yang mungkin ditimbulkan  oleh kenormalan baru belajar ini ?

           

Kenormalan baru Dalam Dunia Pendidikan

            Pertama : Layanan pendidikan yang berkualitas di setiap satuan pendidikan Sebelum dimulainya tahun ajaran baru , guru, kepala sekolah / madrasah, orang tua  dan peserta didik perlu berdiskusi bersama untuk mengevaluasi pelaksanaan belajar dari rumah, terutama untuk menentukan hal-hal  apa yang harus dilanjutkan dan apa yang harus dirubah

            Esensi belajar sesungguhnya memberikan tantangan dan pengalaman baru bagi anak, bila  tantangan  tugas sebelumnya hanya mencatat ulang buku paket atau menyelesaikan soal-soal, dimana siswa dikatagorikan belajar pada level rendah. Mereka hanya belajar untuk menghafal atau mengulang gagasan yang ada didalam buku. Sekarang banyak guru yang mulai terbiasa memanfaatkan berbagai aplikasi untuk pembelajaran seperti  dengan menggunakan e-learning, proses belajar mengajar dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun ( anywhere, anytime and anyplace ) selama memiliki akses internet. E–learning sebagai pendukung proses .

Pembelajaran memiliki keunggulan- keunggulan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas perencanaan, pemantauan, dan evaluasi pendidikan, sementara di madrasah menggunakan e-learning madrasah, bahkan sekarang banyak guru mulai dari tingkat PAUD/TK sampai perguruan Tinggi berlomba-lomba membuat Video pembelajaran menjadi yuotuber  dadakan, penggunaan aplikasi Google Claasroom, Edmodo, Quuizzes, Zoom, Webex atau sejenisnya. Pembelajaran jarak jauh ini bukan hanya pada penggunaan teknologi saja. Penggunaan teknologi hanya menggantikan tempat ceramah guru dari ruang kelas berpindah tempat melalui teknologi virtual. Banyak unsur yang lebih penting  dalam menyiapkan layanan pendidikan yang berkualitas yang tidak dapat dilakukan dengan daring,  seperti juga dalam pemilihan metode pembelajaran dalam proses belajar sekalipun dalam jarak jauh, terutama adalah upaya menyediakan pengalaman belajar yang mendorong sisiwa lebih banyak mengalami ( berbuat atau mengamati ) melakukan interaksi dan komunikasi, ada umpan balik dalam mengkonstruksi pengetahuan sehingga siswa dapat belajar secara bermakna . Belajar bermakna mengutip teori Ausubel ( 1963 ). Materi pembelajaran dikaitkan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa didalam pembelajaran, siswa mendapatkan materi-materi yang bermanfaat  untuk kehidupan sehari-hari.

Secara proses, model pembelajaran modern ini sudah diatur dalam Permendikbud No. 22 tahun 2016 tentang standar proses dengan prinsip sebagai berikut : (1). Dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu. (2). Dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar. (3). Dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah. (4). Dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi. (5). Dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu (6). Dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi demensi. (7). Dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikasi. (8). Peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan  fisikal ( hardskills) dan keterampilan mental ( softskills ) (9). Pembelajaran yang mengutamakan  pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajaran sepanjang hayat. (10). Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan  ( ing ngarso sung tulodo ), membangun kemauan ( ing madyo mangun karso ) dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran ( tut wuri handayani ). (11). Pembelajaran yang berlangsung di rumah di sekolah dan dimasyarakat (12). Pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah peserta didik dan dimana saja adalah kelas. (13). Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan afektivitas pembelajaran  (14). Pengakuan atas perbedaan individu dan latar belakang budaya peserta didik.

Apabila prinsip pembelajaran di atas diselaraskan  dengan 4 pilar pendidikan  yang disusun oleh UNESCO, yaitu Learning to Know ( belajar untuk mengetahui ) Learning to Do ( belajar untuk melakukan sesuatu ) Learning to Be ( belajar untuk menjadi sesuatu ) dan learning to Live Together ( belajar untuk hidup bersama ), maka saat ini adalah kesempatan paling tepat untuk mengatur ulang arah dunia pendidikan yang selama ini sudah jauh dari tujuan .

Kedua Keamanan peserta didik dan stakeholder dari penularan wabah Covid 19. Memprioritaskan  kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga dan masyarakat menjadi prinsip dikeluarkannya. Kebijakan pendidikan di masa pandemi Covid-19 begitu juga dengan SKB 4 Menteri tentang panduan pelaksaanaan pendidikan selama pandemi untuk tahun ajaran baru 2020/2021 ( senin,15/6) keempat kementerian itu adalah, Kemenbikbud, Kemendagri , Kemenag, Kemenkes dalam kesempatan itu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyampaikan bahwa sebayak 94 % seluruh wilayah Indonesia masih zona kuning, oranye dan merah , masih harus melakukan aktivitas Belajar Jarak Jauh ( BJJ ) dan hanya 6 % sekolah dianggap Zona hijau boleh saja melakukan belajar tatap muka kendati harus tetap mematuhi persyaratan yang ketat.

Selain protokol kesehatan yang harus diterapkan  dengan lengkap dan ketat  ada persyaratan berlapis bagi zona hijau yang akan melakukan pembelajaran tatap muka, pertama keberadaan satuan pendidikan di zona hijau kedua jika pemerintah daerah atau Kantor wilayah/kantor kementerian Agama memberi ijin, Ketiga jika satuan pendidikan sudah memenuhi semua daftar periksa dan siap melakukan pembelajaran tatap muka, Keempat orang tua/ wali murid menyetujui putra /putrinya melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan, jika salah satu dari empat syarat tersebut tidaj terpenuhi, peserta didik melanjutkan belajar dari rumah secara penuh “ tegas Mendikbud. Sementara menurut Menteri Agama ada 4 ketentuan utama yang berlaku selain dari ketentuan diatas dalam pembelajaran di masa pandemic baik pendidikan keagamaan berasrama maupun tidak berasrama adalah pertama, Membentuk gugus tugas percepatan penanganan Covid 19, kedua memiliki fasilitas yang memenuhi protokol kesehatan , ketiga, Aman Covid-19 dibuktikan dengan surat keterangan dari gugus tugas percepatan penanganan Covid-19/ atau pemerintah daerah setempat, keempat Pimpinan , pengelola, pendidik dan peserta didik dalam kondisi sehat dibuktikan dengan surat keterangan sehat dari fasilitas pelayanan kesehatan setempat, “ keempat ketentuan ini harus dijadikan panduan bersama bagi pesantren  dan lembaga pendidikan keagamaan yang akan menggelar pembelajaran dimasa pandemic” kata Menag melalui siaran pers yang diterima Republika Kamis ( 18/6 ).


Pada intinya  New Normal adalah kembali pada nilai agama, kembali pada nilai kebersihan  ( thoharoh ), prilaku hidup bersih dan sehat  ( PHBS ) tak sekedar ada hanya dalam slogan tetapi betul betul diterapkan dalam prilaku, dalam menghadapi pandemic diperlukan berbagai inovasi dan perubahan-perubahan baik dalam belajar, bekerja dan beribadah bahkan dalam dunia pendidikan, tentunya kebijakan new normal atau apun namanya adalah dalam rangka kemaslahatan bersama, perubahan perilaku memang dibutuhkan saat terjadi perubahan besar; Adam dan hawa saat diusir kebumi, yunus ditelan ikan, Nuh dilanda tsunami, Luth dalam penyimpangan seksual umatnya, Ibrahim  saat diperintahkan untuk menyemblih Ismail, yusuf diperdaya Zulaikha, Musa melawan Fir’aun, Dawud dalam  perang thalut dan jalut serta Nabi Muhammad SAW saat  merancang piagam Madinah, dsb Semua membutuhkan perubahan prilaku yang Revolusioner.

*Staf Pengajar Pada MTsN 3 Banyuwangi di Srono

Dilangit Yang Kau Tatap Ada Rindu Yang Ku Titip

 

Dilangit Yang Kau Tatap Ada Rindu Yang Ku Titip

Oleh : ANNISA ARAHMA

 

Semakin kesini semakin sadar, memang roda kehidupan selalu mengajarkan pentingnya menggunakan perasaan dalam setiap keadaan dan kesadaran. Semua tahu, semua sadar, bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja, meskipun ada tante corona. Satu hari, dua hari, satu minggu, sampai berbulan-bulan sepi ini belum berlalu. Menggoreskan luka, menusuk jiwa, serta terjauh dari cinta. Menutup diri menjauh dari keramaian dengan segenggam harapan bencana segera terselesaikan. Aku tidak tahu, siapa lagi yang dapat menjelaskan. Harus mengakui. Bahwa aku sedang dirundung rindu. Seperti halnya sebayaku juga tidak ingin hanya berandai-andai, meramaikan harapan yang sebenarnya hidup dalam sepi, diimana saat ramai yang dulu sering terjadi di bumi pertiwi.  Bersama bergandengan, melepas luka rindu saling berpelukan, mengobrol santai tanpa beban. Kenangan yang tak terlupakan, semakin menyimpannya kedalam memori indah, belum sempat mengatakan sampai jumpa, semakin merindu untuk berjumpa dengan madrasah kita.

Tak banyak yang dapat dilakukan agar kau tetap bersemangat menjalani karantina. Tentunya kita saling support dari rumah masing-masing. Dengan berbaring di kamar seharian. Kita sering menghabiskan waktu bersama dengan bermain, belajar, dan membuat keributan kecil khas remaja. Yang jika mwngingatnya jadi malu tapi mau. Melakukannya lagi dan lebih sering. Namun kini serasa bosan sekali karena tidak ada kehadiranmu di sisi ku. Tidak ada lagi bising di telingaku, tidak ada lagi seriusmu yang malah mengundang tawa. Bagaimana ini? Aku malah mengingat hal-hal konyol yang kita lakukan, tentang guru killer yang menjengkelkan, namun juga dirindukan, tentang meteri pelajaran yang kadang serasa membosankan. Saat ini berkirim kabar secara online adalah pilihan terbaik yang bisa dilakukan, bermain tiktok bersama, membuat kelas online dari kamar kita masing masing yang sedikit bau apek dan berantakan.

Berhari hari setelah jenuh selalu datang, otak mulai memutarkan hari-hari indah dan buruk di masa lalu bersama kawan sepembelajaran sepermainan. Membuat hati merasa “terpuaskan”. Yang terbiasa tertawa riang gembira, hal apapun yang sulit diselesaikan bersama-sama, Merayakan hari bahagia, dan terkadang, ada beberapa pertengkaran kecil yang membuat kami jadi jauh sementara. Namun, namanya remaja pasti emosi nya masih sedang labil. Boleh juga dikatakan “sek proses belajar dadi dewasa” (masih proses belajar menjadi dewasa). Apapun itu, nyatanya setelah bertengkar rasanya jadi tambah sayang, karena kita jadi semakin mengenali satu sama lain. Dari sini semakin memahami jika yang kita suka belum tentu disukai orang lain, yang kita mau belum tentu juga di inginkan orang lain, yang kita lihat juga belum tentu dilihat orang lain. Dari pertengkaran itulah kita, yang sebagai anak remaja benar-benar diberikan pelajaran berharga untuk saling menghormati dan menghargai. Dengan itu kasih sayang dan cinta akan terbentuk. Dengan inilah, rindu didalam hati juga terbentuk pada waktunya. Dimana kita tidak dapat mengulanginya. Dan dari rindu, kita juga belajar, jangan pernah menyia-nyiakan waktu. Ciptakan kenangan indah dalam kondisi apapun bersama siapapun. Dikala kondisi pandemi covid-19 seperti ini, rindu juga dapat menjadi rasa pereda di saat suasana hati sedang tidak enak-enaknya. Dengan rindu, menguatkan ingatan kita tentang kenangan bahwa kita ernah belajar bersama ditempat yang sama, dan dengan guru yang sama.

Untuk mengurangi bosan, kia dapat memanfaatkan beberapa fitur dari media online untuk mengabadikan beberapa kenangan yang  sempat terekam melalui foto dan video, kita dapat mengunggahnya kedalam Facebook maupun Youtube. Suatu saat kita akan tertawa karena kekonyolan yang dulu Sering terjadi. Sempat berfikir, apakah nanti kita dapat tidur kalau kenangan-kenangan indah ini masih menghantui pikiran? Tidak, itu pertanyaan yang konyol enjoy saja kita geser layar Handphone untuk melihat momen-momen indah itu. Sungguh, kita memang benar-benar terbukti sering menghabiskan waktu bersama-sama disela menyerap materi pelajaran. Kita sekarang sering cekikitan sendiri dalam kamar ditengah malam,orang orang dewasa tidak akan mengerti hati kita yang sedang menikmati masa remaja dengan membuat kelas online, membuat taman bermain dalam kotak kecil elektronik yang kita bawa kemanapun juga.

Sembari mengingat-ingat memori indah mengusir kebosanan, kadang sedikit tertawa dan tak terasa juga meneteskan air mata. Di sudut jendela ruang tamu, bertanya-tanya dan penasaran dengan menatap langit. Apakah temanku juga merasakan rindu yang kurasakan? Apa juga sedang mengingat kenangan indah itu? Apakah mau menatap langit yang sama sekarang juga?, Di langit yang kau tatap ada rindu yang ku titip, bahkan juga akan menitipkan rindu pada seisi tata surya., agar musibah ini segera berakhir. Kita menitipkannya langsung pada sang Pencipta. Agar rindu ku dapat segera sampai dan berkuranglah rindu-rindu dahsyat lainnya, pada masa dimana penguasa menyebutnya New Normal.


Pasti Sudah terungkap bagaimana perasaan ini. Jarak yang kian lama kian membatasi hingga terasa sesak di hati, menjalani kehidupan yang sama sekali tak pernah terbayangkan. Dan pasti, mencetak sejarah yang menjadi kenangan terindah walaupun sangat berat saat melaluinya. Perjuangan garda terdepan, para tenaga medis, perawat dan rakyat yang bersama-sama saling menguatkan dalam keterbatasan. Segala profesi dianjurkan membatasi diri agar rasa rindu ini segera terobati. Dan apapun harapan kebaikannya semoga kan terjadi.

Adakah yang belum mengakui rindunya? Rasakan dulu. Ingatlah keadaan dimana kita sama-sama menebar kasih sayang, cinta pada sesama hingga memupuk ketaqwaan yang sejati kepada Tuhan semesta alam, Allah swt. Ku katakan yang ada dalam benakku. Aku rindu. Rindu pada guru-guru hebat di Madrasahku, teman-teman seperjuangan, dan bahkan tempatku menempuh pendidikan. Saat ini memang sedang tepat saat nya bersedih hati. Namun tidak, jangan terlarut. Aku tidak boleh menyerah karena rindu ini. Harus semakin semangat. Dan semangat nya benar-benar membara karena kita pasti segera berjumpa, bersama keyakinan dan doa kita. Semua pasti akan baik-baik saja.

Oleh :

ANNISA ARAHMA


Kelas XI MIPA MAN 3 BANYUWANGI

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger