Pages

BERTABUR RINDU

 BERTABUR RINDU

Oleh : Uswatun Hasanah,M.Pd.I

 

Hari-hari hanya bisa memandangi kalender. Menghitung waktu yang tiada pernah menentu. Hanya melakukan kegiatan yang monoton. Aktivitas rumah selesai, lanjut pada aktivitas rutin yang inti, yakni memegang hp. Memainkan lentiknya jari jemari. Membuka fitur WA, instagram dan google drive untuk menulis dan mengirimkan tugas. Semua itu bukan tanpa sebab. Galau, sedih, bosan dan jenuh dengan keadaan yang ada. Mau apa, mau kemana serba semrawut. Campur aduk jadi satu. Menunggu siapa yang ditunggu. Menanti siapa juga yang dinanti. Mau diam saja, nyatanya bekerja. Mau bekerja nyatanya butuh teman butuh rekan yang bisa membantu kerjanya. Mau pergi kemana, nyatanya masih ada tugas yang harus diselesaikan. Banyak bertanya, banyak berharap, sedangkan tutorial tak jarang masih mengalami kesulitan.

 

Yang lebih dalam lagi mau menyelesaikan tugas nyatanya tidak ada petunjuk yang pasti. Jadi Serba salah. Kepastian yang diharapkan tak juga datang. Tarik ulur kebijakan semakin membuat hati tak karuan. Berada di rumah saja. Bekerja dari rumah. Beribadah dari rumah. Tapi ketika harus memenuhi kebutuhan hidup, barangnya tidak tersedia di rumah. Barangnya ada di toko, di pasar dan bahkan di tempat kerja atau di tempat lain yang jauh dari jangkauan. Ada saran bisa online. Tapi tak semua yang dibutuhkan tersedia jaring online nya. Sungguh membingungkan. Ibarat kata pepatah. Bagai makan buah simalakama.

 

Sebagai seorang guru. Yang tempat kerjanya di madrasah lengkap beserta suasananya. Ada gedung madrasah, rekan sesama guru, ruang kelas dan yang paling utama adalah para murid sebagai peserta didiknya. Semua disuruh menghilangkan. Menggantinya dengan tatanan baru. Semua harus dilakukan di rumah. Meski menurut para ilmuwan ini merupakan era milenial. Jaman modern. Era 4.0 bahkan era digital. Guru mengajar bisa menggunakan teknologi yang serba canggih. Tak perlu tatap muka. Cukup menggunakan android. Guru cukup berada di rumah, sudah bisa melaksanakan kegiatan pembelajaran. Pembelajaran Virtual istilahnya. Tapi hal itu masih tetap dirasakan berbeda. Sungguh tidaklah sama.

 

Kadang terlintas di benak. Apa karena ini sebagai akibat dari belum biasa. Atau karena belum bisa mengubah mindset dari pelaku dunia pendidikan saat ini. Sehingga masih senantiasa berpikir secara konvensional. Yang beranggapan bahwa Kegiatan pembelajaran itu identik dengan kegiatan tatap muka di kelas. Atau memang mayoritas

orang yang belum siap dengan perubahan era ini. Diakui atau tidak. Keadaan ini tak dapat disangkal. Membuat kita semua merindukan suasana indahnya kebersamaan. Dimana ada ada tawa canda para murid. Tangis gurau dan keriuhan yang khas. Bersalaman saat berjumpa, sekadar menepuk pundak untuk memberikan penguatan. Ungkapan bahasa tubuh yang spontanitas. Yang tak bias diungkapkan dengan kata-kata. Meskipun harus menggunakan majas personifikasi ataupun hiperbola sekalipun.

 

Jujur kerinduan mendalam tak tersampaikan. Tak bisa digantikan. Walau sudah bisa menelpon ataupun melakukan video call ataupun google meet. Tapi rasa puas ketika tatap muka dengan menikmati tanya jawab sembari ada kekonyolan dari beberapa siswa dengan ulah jail dan nakalnya. Itulah yang tak bisa dirasakan ketika melakukan kegiatan virtual atau google meet.

 

Sekarang dalam keadaan yang serba dibatasi. Semua itu hanya menjadi sebuah cerita yang beraneka ragam sudut pandangnya. Guru - murid merindukan suasana sekolah. Orang dalam perantauan rindu kampung halaman. Anak merindukan orang tua begitu juga sebaliknya. Yang lebih tragis lagi seorang pecinta merindukan kehadiran kekasihnya. Keterbatasan ruang dan gerak serba menjadi penghalang. Namun pada intinya semua orang sepakat bahwa kehadiran nyata adalah hal segala-galanya.

 

Tak jarang dijumpai dalam media sosial. Rintihan kekalutan hati sang murid yang mendambakan bisa masuk sekolah seperti semula. Bisa bertemu dengan gurunya, bisa

mendapatkan pujian saat memperoleh nilai bagus, bisa bertemu teman-temannya, bermain bersama, membeli jajanan bersama di kantin sekolah. Dan masih banyak lagi aktivitas lain yang ingin dilakukan. Di sisi lain curhat manja dari para wali murid yang memiliki putra putri masih duduk di bangku sekolah dasar. Mereka merasakan begitu beratnya beban hidup yang ditanggung. Selain harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari masih harus mengajari putra putrinya dalam mengerjakan tugas dari sekolahnya. Masih ditambah lagi dengan permasalahan krisis kepercayaan yang dialami.

 

Betapa tidak, tidak jarang para putra putri sendiri di rumah ketika diajari mengerjakan tugas. Mereka mempertanyakan kebenaran jawaban yang diajarkan oleh orang tua. Para putra putri kita percayanya lebih besar kepada bapak dan ibu guru di sekolah. Jadi ketika orang tua yang mengajarinya, mereka tidak percaya meskipun tak jarang orang tuanya juga berprofesi sebagai guru. Bagi mayoritas anak, pelajaran yang paling manjur adalah pelajaran yang disampaikan oleh bapak/ibu gurunya di sekolah.


 

Kalau mengingat hal itu semua, harus berapa lama lagi semua ini akan berakhir? Haruskah kita mengorbankan segalanya? Materi, waktu, fisik dan psikis kita semua. Yang tak kalah pentingnya yang harus jadi pemikiran bersama, yaitu generasi penerus bangsa ini. Haruskah mereka menjadi korban? Di masa yang seperti ini, yang menjadi harapan kita semua adalah Pandemi segera berakhir. Berakhir dan tak akan pernah terulang lagi.

 

Oleh : Uswatun Hasanah,M.Pd.I

Kepala MIS Miftahul Huda Yosomulyo

E-Mail : agushasansyahputra@gmail.com

No. WA : 081231534111

Pesantren Tangguh

 

Pesantren Tangguh

Oleh : Syafaat

Ya Allah, hindarkanlah kami dari resesi ekonomi, bala, penyakit, kekejian, kemunkaran,peperangan, kesulitan-kesulitan dan berbagai petaka baik yang Nampak maupun tersebunyi. (dan) Dari negeri kami khususnya, sertadari negeri kaum muslim pada umumnya. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Bisa dibayangkan jika terpaparnya covid-19 hingga ratusan dlingkungan pendidikan  tersebut bukan di pondok pesantren, terlebih jika menimpa pada lembaga pendidikan yang peserta didiknya tidak diasramakan, mereka akan bertemu banyak orang diluar lembaga pendidikannya, baik terhadap keluarga maupun lingkungan disekelilingnya. Bagaimana ribetnya menelusuri orang orang yang melakukan kontak langsung dengan orang yang terpapar covid-19 karena selepas dari embaga pendidikan mereka melakukan aktifitas diluar lembaga pendidikan, juga tidak adanya tempat khusus untuk melakukan karantina terhadap mereka yang terpapar covid-19, karena lembaga pendidikan selain pesantren sebagian besar tidak dilengkapi dengan sarana asrama.


Pondok pesantren di desain melakukan pendidikan dan pembelajaran terpadu selama 24 jam, sehingga semua aktifitas para santri dilakukan secara teratur dan terjdwal yang diharapkan menjadi pembiasaan hingga para santri tersebut kembali ke masyarakat. Model pendidikan di Pesantren ini banyak di akomodir oleh beberapa lembaga pendidikan dengan menerapkan pendidikan diasramakan. Beberapa lembaga pendidikan kedinasan dengan model diasramakan juga tetap melakukan aktifitas pembelajaran. Aktifitas keluar masuk kedalam asrama tersebut melalui prosedur yang ketat bukan hanya masa pandemi covid-19, namun menjadi aturan yang diterapkan sehari hari, terlebih dimasa pandemi seperti sekarang ini, sehingga tidak ada kontak langsung penghuni asrama dengan pihak luar.

Pondok pesantren selain melakukan pendidikan keilmuan, juga melakukan pendidikan karekter keagamaan terhadap para santri. Mental keagamaan yang kuat tersebut sangat penting, terlebih ketika menghadapi masalah seperti sekarang. Dengan mental yang kuat, jiwa yang sehat, serta kondisi lingkungan yang mendukung sangat berpengaruh terhadap imunitas tubuh seseorang, sehingga lebih kebal ketika terkena penyakit dan virus menular. Pikiran positif yang selalu ditanamkan kepada santri bukan hanya membentuk mentalitas yang tangguh, namun juga akan membentuk antibody dalam tubuhnya.

Aktifitas santri dilingkungan pondok pesantren bukan halnya menuntut ilmu keagamaan semata, namun berbgai macam Ilmu dan kecakapan hidup juga diajarkan dilingkungan pondok pesantren, karennya lulusan pondok pesantren relatif dapat hidup mandiri ketika kembali ke masyarakat. Aktifitas olahraga juga teratur dilakukan dilingkungan pesantren, sehingga tidak heran ketika banyak santri yang terpapar covid-19 di salah satu pesantren di Kabupaten Banyuwangi, mereka melakukan pertandingan olahraga antar asrama karantina, sebuah aktifitas untuk meningkatkan imunitas tubuh. Kecerian mereka seakan tak berkurang meski terpapar corona. Bagi para santri ini (mungkin) covid-19 tak ubahnya seperti flu biasa yang akan hilang dengan sendirinya dan dijaga agar tidak menular kepada yang lain.

Pesantren yang dilengkapi dengan asrama dan kampus pendidikan formal dapat digunakan sebagai karantina bagi mereka yang terpapar covid-19. Disiplin santri dan adanya gedung yang memadai untuk karantina tersebut dapat dijadikan sebagai modal utama agar virus corona yang menghinggapi mereka segera menyingkir dari tubuhnya. Terlebih dengan keceriaan anak anak yang masih tetap melakukan aktifitas rutin dengan tetap menerapkan protokol kesehatan tak menyurutkan niat menggapai cita cita, mereka sudah terbiasa jauh dari orang tua, sudah terbiasa hidup dengan teman temannya, karenanya ketika mereka terpapar covid-19 dan harus dikarantina, mereka tidak menjadi beban, karena dikarantina tak ubahnya juga hidup dipesantren seperti sedia kala, dengan sedikit perbedaan, mereka dikarantina bersama rekan rekannya yang juga terpapar covid-19.

Tidak heran ketika ada santri yang sudah sembuh dafri covid-19, mereka menolak ketika diajak pulang kerumah orang tuanya, karena anak anak ini menikmati kegiatan dipesantren, mereka masih dapat mengaji dan beraktifitas bersama rekan rekannya, dapat memberikan semangat kepada rekan rekannya yang masih terpapar covid-19 yag masih di karantina. Disiplin yang diterapkan dipesantren mempercepat penyembuhan bagi santri yang terpapar corona.

Beberapa video yang beredar di media sosial menggambarkan kehidupan para santri yang dikarantina jauh dari rasa cemas dan takut. Dalam video tersebut terilhat aktifitas para santri yang tetap melakukan aktifitas ibadah sebagaimana mestinya, melakukan senam bersama dan aktifitas lainnya. Permainan adu ketangkasan juga tetap dilakukan seakan tidak terjadi apa apa. Mereka benar benar tangguh dengan mental yang kuat dalam menghadapi ujian yang menurut kita seakan terasa berat, senyum ceria masih tetap terlintas meskipun ada perasaan was was.

Para santri ini akan lebih aman berada dilingkungan pondok pesantren, aktifitas mereka akan lebih terjaga. Lingkungan pesantren yang ketat juga mempersempit ruang gerak penularan virus, meskipun jika terkena akan mudah penyebarannya, namun juga lebih mudah penangannya.  Covid-19 yang menimpa mereka adalah peringatan bagi kita semua agar lebih disiplin dan mentaati protokol kesehatan. Virus yang tak kasat mata mungkin ada disekitar kita, atau jangan jangan kita yang membawa virus tersebut. Ketika anak anak berada di rumah, tidak ada jaminan bagi anak anak untuk tidak beraktifitas diluar rumah, terlebih belum sepenuhnya tempat tempat umum menerapkan dengan ketat protocol kesehatan, bisa jadi anak anak yang berada dirumah tersebut terkontaminasi dengan mereka yang terpapar covi-19 yang akan berdampak terhadap diri dan keluarganya.

Pondok pesantren memberikan sumbangsih besar terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Baik ketika merebut dan mempertahankan kemerdekan maupun dalam  Pembangunan pendidikan. Lembaga pendidikan di pondok pesantren dibangun dan dikelola secara swadaya, output dari pondok pesantren banyak yang menjadi tokoh Nasional maupun Internasional. Solidaritas masyarakat maupun antar pondok pesantren ketika menghadapi musibah menjadi salah satu perwujudan bahwa pesantren sangat dibutuhkan di Indonesia sebagai salah satu bentuk lembaga pendidikan ideal yang banyak diadopsi oleh lembaga pendidikan lain.

Solidaritas yang dilakukan beberapa Pondok pesantren, baik dalam bentuk motivasi, serta bentuk kepedulian lain (bantuan dana) dari masyarakat untuk penanganan pesantren yang terpapar covid-19 merupakan slah satu bentuk rasa peduli sebagaimana moto “kita peduli, kita bisa atasi”. Namun seringkali kita lupa untuk menjaga diri kita sendiri agar tidak terpapar virus tersebut. Seringkali kita memakai masker hanya karena takut terkena razia.

Penulia anggota Termina Literasi Pegawai Kemenag Kab. Banyuwangi.

Mathematics is a Ghost bagi Siswa

 Mathematics is a Ghost bagi Siswa

Oleh :  Kavita Dela Agustin

Matematika sudah tidak asing bagi dunia, siapa yang tidak mengenal istilah matematika hampir semua orang terpelajar bahkan yang tidak menuntaskan sekolah saja tahu istilah matematika. Secara etimologi, matematika berasal dari bahasa latin manthanein atau mathemata yang berarti belajar atau hal yang dipelajari (things that are learned). Dan dari bahasa Yunani Matematika adalah "pengetahuan, pemikiran,pembelajaran") atau sebelumnya disebut ilmu hisab adalah ilmu yang mempelajari besaran, struktur, ruang, dan perubahan. Kini sistem matematika sudah digunakan di seluruh dunia sebagai alat penting di berbagai bidang, termasuk ilmu alam, teknik, kedokteran/medis, dan ilmu sosial seperti ekonomi dan psikologi. Kebutuhan matematika sangat di perlukan dalam perhitungan perdagangan bukan hanya dalam sistem perdagangan tetapi matematika juga digunakan untuk memahami hubungan antarbilangan, untuk mengukur tanah, dan untuk meramal peristiwa astronomi. Apalagi pada era ini sistem matematika semakin berkembang mengikuti perkembangan dunia yang terus maju.


Matematika juga bermanfaat bagi kehidupan manusia, seperti melatih kesabaran, melatih ketelitian dan kecermatan, melatih cara berfikir, membantu dalam sistem perdagangan, dan matematika membantu kita untuk berfikir rasional dan logis. Namun tidak sedikit yang tidak suka dengan matematika, mungkin banyak yang menganggap matematika, mungkin banyak yang menganggap bahwa matematika adalah suatu hal yang rumit dan membosankan karena hanya mengelola angka dan bilangan, apalagi di dunia pendidikan matematika termasuk mata pelajaran yang tidak disukai siswasiswi di sekolah. Bahkan matematika sering dianggap momok bagi siswa-siswi, banyak dari mereka yang beranggapan bahwa matematika adalah pelajaran yang sangat sulit di pahami dan di pelajari, pasti sudah biasa terdengar keluhan dari para pelajar soal rumitnya matematika yang di ajarkan di sekolah, banyak yang berargumen yang di jelaskan oleh guru berbeda dengan tipe soal ulangan atau ujian yang di berikan kepada siswa-siswi, itu mungkin yang menjadi salah satu penyebab orang tidak menyukai matematika.

Survei kemampuan pelajar yang dirilis oleh Programme for International Student Assessment (PISA), pada Selasa (3/12) di Paris, menempatkan Indonesia di peringkat ke-72 dari 77 negara. Data ini menjadikan Indonesia bertempat di peringkat enam terbawah, masih sangat jauh di bawah negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam. Survei PISA merupakan rujukan dalam menilai kualitas pendidikan di dunia, yang menilai kemampuan membaca, matematika dan sains. Lalu apa yang menyebabkan kemampuan dan kualitas pendidikan di Indonesia buruk? Yang pertama adalah kualitas pengajar, kualitas pengajar sangat berpengaruh bagi pendidikan karena untuk membentuk siswa-siswi yang berkompeten juga di perlukan sumber pengajar yang berkompeten juga. di perlukan sumber pengajar yang berkompeten juga. Yang kedua adalah sistem pendidikan yang terlalu kuno, setiap anak memiliki karakter dan kemampuan yang berbeda-beda, anak atau pelajar akan menjadi lebih paham atau cerdas sesuai kemampuan bakat dan minatnya. Yang ketiga adalah lembaga pendidikan perlu pembenahan, kompetensi guru atau pengajar yang rendah akan berpengaruh kepada siswa-siswi yang diajar, perlunya meningkatkan kualitas lembaga pendidikan yang mencetak guru-guru berkualitas di masa depan. Contohnya salah satunya yakni Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP). Kualitas Pendidikan sangatlah penting bagi negara

Semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat maka menunjukkan semakin tingginya kualitas penduduk di negara tersebut. Karena Pendidikan akan meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengolah sumber daya alam yang dimiliki negara sehingga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pendidikan juga berperan penting untuk mencetak (SDM) Sumber daya manusia yang unggul, karena sumber daya manusia yang unggul adalah Aset bagi negara pentingnya sumber daya manusia sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, sosia dan budaya di negara tersebut. Lalu bagaimana cara kita untuk meningkatkan kemampuan belajar untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul di Indonesia khususnya dalam bidang matematika, apa yang perlu dilakukan agar visual matematika yang menyeramkan di mata pelajar visual matematika yang menyeramkan di mata pelajar berubah menjadi visual yang menyenangkan.

Ada beberapa tips agar pelajar menyukai matematika. Pertama adalah ciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan saat mulai pembelajaran. Kedua adalah tanamkan pemahaman bahwa mata pelajaran apapun tidak ada yang sulit jika terus di pelajari. Ketiga adalah hargai proses anak atau siswasiswi yang mau belajar dengan sungguh-sugguh bukan hanya melihat dari pencapaian anak atau murid tersebut. Keempat berikan penjelasan yang mudah di pahami dan di mengerti. Kelima adalah gunakan media pembelajaran yang menarik agar tidak membosankan dan mudah materi diserap oleh anak atau murid. Keenam adalah memberi reward, dengan memberi pujian atau hadiah kecil bisa membuat anak atau murid merasa lebih di hargai dan semangat untuk lebih giat belajar lagi.

Sebenarnya masih sangat banyak tips agar kita lebih menyukai pelajaran matematika dan mata pelajaran lainya banyak hal yang bisa kita lakukan karena setiap anak atau pelajar memiliki cara belajar yang berbedabeda, contohnya ada yang lebih nyaman dan paham jika belajar sambil mendengarkan musik, ada juga yang menggunakan cara menghafal dan lain sebagainya. Setelah mendapatkan tips belajar yang menyenangkan dan efektif untuk mata pelajaran matematika apakah kita masih beranggapan bahwa matematika apakah kita masih beranggapan bahwa mathematics is a ghost ? Atau matematika adalah visual yang menyeramkan, tentu setengah logika kita pasti beranggapan bahwa matematika tidak seburuk itu tetapi kembali ke dirisendiri setiap orang memiliki bakat dan minat atau kemampuan yang berbedabeda di segala bidang, jadi jangan menilai orang atau anak yang tidak terlalu pandai di mata pelajaran matematika adalah orang atau anak yang bodoh dan jangan pernah mengukur kepintaran atau kecerdasan anak atau orang melalui matematika, karena jika kita mengukur kecerdasan atau kemampuan dari satu patokan saja, maka sama saja kita menilai ikan dengan cara memanjat pohon dan menilai semut dari cara berenangnya, tanpa melihat kemampuan luar biasa yang dimiliki si ikan dan si semut pada tempatnya masing-masing. Walaupun kita sadar kemampuan kita sebenarnya lebih menonjol ke bidang lain bukan ke matematika tetapi apa salahnya jika mempelajari ilmu matematika kita tetap perlu yang namanya sistem matematika di kehidupan sehari-hari, karena matematika adalah dasar dari ilmu menghitung, seperti fisika, kimia, ekonomi, akutansi, dan lainnya. Jadi matematika sangatlah penting dan wajib untuk di pelajari.

Kavita Dela Agustin siswa kelas XI MIPA MAN 3 Banyuwangi di Srono



Empon-empon Plus Untuk Guru


Empon-empon Plus Untuk Guru

Achmad Nadzir

 

      Pandemi Covid-19 memberikan dampak pada sendi-sendi kehidupan manusia. Semua sektor merasakan bagaimana Korona mengacaubalaukan perencanaan dan pelaksanaan sebuah program. Dunia pendidikan pun tidak bisa steril dari paparan Korona dan efek sampingnya. Di antaranya adalah pembelajaran tidak bisa dilaksanakan secara tatap muka langsung di sekolah. Guru dan murid tidak boleh bersua, mengikuti social dan phisycal distancing patokannya.


     Guru sebagai manusia, perlu menguatkan imun agar bisa menjaga dan mempertahankan kesehatannya dari serangan virus dan bakteri sebagai sumber penyakit. Asupan makan dan minum yang bergizi dan bernutrisi, menjadi keniscayaan. "Empat sehat lima selamat," itulah ungkapan yang patut untuk diingat bersama. Pola hidup perlu diperbaiki dengan mengikuti protokol kesehatan yang baik di era new normal.

   Saat berbicara tentang imun tubuh, saya jadi teringat empon-empon yang sudah lama menjadi kekayaan Nusantara. Rimpang tanaman yang mengandung senyawa khusus di dalamnya. Kunyit, jahe, temulawak, sereh, dan kunci bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan dan menguatkan imun tubuh, dengan cara mengkonsumsinya dalam bentuk minuman (jamu).

   Empon-empon merupakan istilah yang digunakan untuk memberi nama bagian tanaman yang kaya akan senyawa. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi V, merupakan rimpang (Jahe, kunyit, temulawak, sereh, kunci dan lainnya) yang bisa digunakan sebagai ramuan tradisional. Jadi empon-empon bukan nama bagian (individu), tapi sekelompok tanaman yang bisa menghasilkan senyawa.

     Namun, empon-empon untuk guru dalam tulisan ini tidak akan mengulas tanaman dan kandungan senyawanya, yang bermanfaat untuk kesehatan jasmani. Tulisan ini lebih menfokuskan pada startegi penerapan pembelajaran yang saat ini belum bisa dilakukan secara tatap muka di sekolah. Sehingga pembelajaran jarak jauh dan dalam jaringan (online) menjadi pilihan utama di era pandemi yang belum juga membaik.

   Empon-empon yang dimaksud, merupakan afiliasi dari Efektif dan efisien Mengelola Pembelajaran Online. Jadi empon-empon dalam tulisan ini, sebuah stategi alternatif dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran secara daring bagi seorang guru. Proses pembelajaran yang dilakukan agar bisa tetap efektif dan efisien meski dilakukan dengan pola jarak jauh dan secara daring.

  Bagaimana seharusnya guru meramu pembelajaran agar bisa Efektif dan efisien dalam mengelola pembelajaran online (empon-empon)? Pertama siapkan KUNYIT. Apa itu kunyit? Kurangi kegiatan siswa Nyatat Item Tidak perlu (efektif).

      Di era pembelajaran online, tidaklah efektif jika peserta didik hanya disuruh menyalin materi yang ada di buku teks utama, dengan cara menuliskan ulang di buku tulisnya. Peserta didik sangat perlu penjelasan agar mereka bisa memahami materi. Pembelajaran jarak jauh maupun secara online harus bisa memaksimalkan komunikasi antara guru, peserta didik dan orang tua, agar materi bisa tersampaikan dan mudah dipahami.

     Kedua siapkan JAHE. Apa itu jahe? Jawaban Hemat. Dalam proses pembelajaran jarak jauh dan online, guru harus mampu meramu pertanyaan esensial, sehingga jawaban peserta didik bisa fokus dan tepat guna sesuai kompetensi yang diharus dikuasai.

     Empon yang ketiga, siapkan TEMULAWAK. Artinya, tugas-tugas dari guru dalam pembelajaran jarak jauh maupun daring harus Tepat, Mudah, Layak, dan Waktunya efisien. Tugas harus tepat sesuai materi dan petunjuk yang disiapkan oleh guru. Selain itu, harus mudah dipahami oleh peserta didik bahkan mereka yang memiliki kemampuan rendah. Dalam memberikan tugas, harus diperhatikan layak tidaknya bagi peserta didik sesuai umur dan tumbuh kembangnya. Terakhir, guru harus memerhatikan waktu ketika memberi tugas, agar peserta didik disiplin, tepat waktu dan efektif saat mengerjakan.

   Bahan keempat adalah SEREH (Selektif, Rencanakan, Hati-hati). Guru harus Selektif dalam memilih dan menyajikan materi. Konten materi dan tugas perlu disaring kualitas dan kuantitasnya. Rencanakan dengan baik, setiap proses yang akan dilaksanakan. Lalu, Hindari pembelajaran jarak jauh atau pun online yang berbelit-belit.

     KUNCI merupakan bahan yang kelima. Koreksi semua hasil kerja siswa. Ungkapkan dengan baik kelebihan dan kekurangannya. Coba analisis untuk mengetahui faktor yang memengaruhi. Interpretasikan untuk bekal memperbaiki perencanaan dan proses pembelajaran selanjutnya. Guru bertanggung jawab penuh atas proses dan hasil pembelajaran. Tanyakan kesulitan yang siswa alami, agar guru bisa memperbaiki perencanaan dan pelaksanaan proses pembelajaran.

     Selain empon-empon, guru juga memerlukan MADU dalam pembelajaran daring di era new normal. Apa itu madu? Mahir (mampu) mengoperasikan perangkat teknologi, dan selalu Update perkembangannya. Guru harus merasa butuh untuk senantiasa memperbaharui informasi dan kemampuannya, guna meningkatkan kualitas diri dan kinerjanya dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.

  Efektif dan efisien dalam Mengelola Pembelajaran Online (Empon-empon), menjadi kebutuhan bagi seorang guru di era pandemi. Mengetahui bagian-bagian yang perlu dikuasai sangatlah penting, agar peserta didik tetap dapat pelayanan belajar yang maksimal. Jangan biarkan pandemi Covid-19 merampas hak dan kesempatan generasi bangsa dalam mengembangkan dirinya di masa tumbuh kembang.

      Selain itu, kesehatan jasmani guru, perlu terus dijaga dan pertahankan dengan konsumsi makan minum yang sehat dan bergizi. Salah satunya, mengonsumsi empon-empon (rimpang) yang telah diramu menjadi minuman. Manfaat dari senyawa yang dikandung dari empon-empon dapat meningkatkan dan menguatkan imun tubuh, sehingga kalau ada virus atau bakteri yang masuk bisa membentengi diri.

       Untuk menjadi guru diperlukan syarat-syaray khusus. Di dalam Undang-Undang RI disebutkan ada lima syarat yang harus dimiliki guru. Syarat tersebut di antaranya memiliki kualifikasi akademik, mempunyai kompetensi, mempunyai sertifikat pendidik serta sehat jasmani dan rohani serta mempunyai kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kelima syarat tersebut harus dimiliki seluruh guru yang ada di Indonesia.

     Para guru, harus tetap semangat memberikan layanan pendidikan untuk peserta didik. Berikan mereka pembelajaran yang baik dan bermutu, agar menjadi generasi yang berkualitas. Namun, tetap jaga kesehatan jasmani dengan konsumsi empon-empon setiap hari, lakukan dan ikuti protokol kesehatan. Semoga pandemi ini segera berlalu, hingga para guru bisa kembali bertemu peserta didik tanpa merasa terganggu.

       "Tangkaplah ide yang muncul tiba-tiba. Catat, meski hanya sebatas hal yang sederhana. Siapa tahu, bisa menjadi inspirasi untuk dituliskan dan terus mengalir menjadi sebuah tulisan penuh makna."

     Pesan mentor saat mengikuti pelatihan menulis, yang selalu saya ingat. Hal tersebut perlu saya coba dan praktekkan. Menangkap ide tentang empon-empon dan guru, yang tiba-tiba muncul saat duduk-duduk santai di serambi rumah. Menikmati kebersamaan dengan peserta didik secara virtual,  dalam proses pembelajaran karena kita berjauhan.

 


Banyuwangi, 30 Agustus 2020

achmadnadzir15@yahoo.com

MEMBUMIKAN NAHDLATUL ‘ULAMA SOBO DESO

 MEMBUMIKAN NAHDLATUL ‘ULAMA SOBO DESO

OLEH : SAEROJI

Nahdlatul ‘Ulama sejak berdirinya tanggal 16 Rojab 1344 H / 31 Agustus 1926  dengan tujuan keagamaan, pendidikan dan sosial yang di gagas oleh para Kyai ternama  dari Jawa Timur, Madura, Jawa Tengah dan Jawa Barat yang telah menyebar dan berkembambang ke seluruh pelosok Nusantara dari Sabang sampai Merauke. 

Dari titik ini kita mencoba melihat secara fakta tentang NU yang ada di Kabupaten paling ujung timur Pulau Jawa yakni Banyuwangi, perkembangan Islam di Kabupaten Banyuwangi telah tumbuh dengan baik dan berkembang dengan pesat bahkan menjadi masyarakat mayoritas agama islam demikian juga dengan perkembangan Nahdlatul ‘Ulamanya, secara organisasi NU di Kab Banyuwangi sudah ada dan keberadaanya telah berkembang dengan baik pula, namun dari hasil survey jamaah NU warganya masih ditemukan kurang  pemahaman apa itu NU. Maka di era NU di Pimpin oleh Rois Syuriah KH. Zainullah Marwan dan Ketua Tanfidziyah KH. Muhammad Ali Makki Zaini sejak dilantiknya pada tahun 2018 memiliki program yang nyata real salah satunya “MEMBUMIKAN NAHDLATUL ‘ULAMA SOBO DESO “ untuk membedah dan menggali tentang Nahdlatul ‘Ulama tentu berpijak pada firman Allah Swt surat Al-Baqoroh ayat 143 yang artinya “ Dan demikian (pula) kami menjadikan kamu (umat Islam),umat penengah (adil dan pilihan), agar kamu menjadi saksi atas seluruh manusia dan agar Rasul (Muhammad Saw) menjadi saksi atas kamu “

Nahhdlatul ‘Ulama,  salah satu ajarannya ialah moderasi, bersikap bijak dalam melaksanakan misi perjuangannya. NU Sobo Deso memiliki makna bahwa “Membumikan” artinya: Menanam, menyimpan secara dalam arti lain Memasyarakatkan, Jadi Nahdlatul ‘Ulama harus di kenal, dimengerti, dan di pahamkan kepada seluruh jamaah, juga warga muslim yang ada di Banyuwangi. Kenapa Nahdlatul ‘Ulama harus di kenalkan di Masyarakat (di Bumikan) ?. karena  dari hasil penelitian dan kajian  telah ditemukan fakta dimana ajaran Nahdlatul ‘Ulama masih belum di pahami oleh warga NU secara utuh. “Sebagai organisasi terbesar di bumi Nusantara ini, keberadaanya harus sampai pada lapisan paling bawah untuk jamaah NU”. Maka untuk mencapai hasil yang maksimal dalam mensosialisasikan tentang arah  perjuangan  NU melalui SOBO DESO .kegiatan NU Sobo Deso  bisa melaksanakan tugas tiga program dalam satu waktu (Three in one). Pertama Kegiatan Keagamaan, Kedua Kegiatan Pendidikan, Ketiga Sosial,  dari ketiganya tersebut adalah misi Nahdlatul ‘Ulama dalam membangun dan mengawal umat.

NU SOBO DESO di Bumi Blambangan memberikan warna baru atas hadirnya  bersama seluruh elemen masyarakat yang berada di wilayah desa tersebut.Tokoh-tokoh NU, Ulama’ Kyai, Kepala Desa , Muslimat, Fatayat, Ansor, Ipnu, Ippnu, Banser Pagar Nusa dan jamaah dari tingkat ranting sampai anak ranting tumplek blek ( berkumpul jadi satu) dalam rumah besar yang namanya Pendopo Balai Deso, sekat, jurang pemisah, status, jabatan semuanya di tanggalkan, yang ada adalah berbaur menjadi satu warga Nahdlatul ‘Ulama , disinilah Sang Penggagas  NU SOBO DESO memberikan Pendidikan tentang organisasi NU dan seluruh lembaga dan banomnya juga kiprah dan perjuanganya serta ajaran NU yang di ajarkan oleh Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari, bagaimana NU dalam mengembangkan ajaran keagamaan Manhaj Ahlusunnah Waljamaah An-Nahdliyah, bagaimana NU berkontribusi dalam mengembangkan pendidikan dengan Lembaga Pesantren dan Lembaga Pendidikan Ma’arif, lagi-lagi NU memberikan pembelajaran tentang kegiatan sosial, dimana kegiatan ini sangat menyentuh terhadap warga dan jamaah untuk di ajarkan sikap saling peduli membantu kesulitan orang lain,menyelesaikan aspek kehidupan sosial yang saat ini masih sangat di perlukan dan ini sinergi dengan program pemerintah baik dari pusat sampai daerah. Pemberdayaan LAZISNU ( Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul ‘Ulama), telah menjadi program unggulan untuk hadirnya sang Aghniya’ untuk Mentasharufkan hartanya baik zakat, infak ataupun shodaqohnya sebagai aplikasi kesholehan sosial,   dan hari ini telah menyentuh ke seluruh bumi Blambangan dari tingakat Cabang sampai tingkat MWC bahkan Ranting dengan gerakan NU CARE-LAZISNU.

Hadirnya NU Mobile, telah memberi angin segar untuk percepatan akses informasi yang bernilai ekonomi umat, se-iring dengan majunya dunia digital. Warga NU tertuntut untuk lebih melek IT dan dunia teknik bukan barang baru bagi warga NU karena NU SOBO DESO hadir di relung hati warga dan jamaah Nahdlatul ‘Ulama, ekonomi warga NU  sangat tertopang dengan gagasan cerdas dari pengurus Cabang NU Banyuwangi. Lembaga Pendidikan dibawah Naungan Pendidikan Ma’arif NU telah memberi warna baru juga bahkan menunjukkan lompatan yang luar biasa atas program program unggulan di Madrasah maupun di sekolah, terbangunnya sinergitas dengan Kementerian Agama  Kab.Banyuwangi  dalam hal ini di bidang Pendidikan Madrasah (PENMA), Regulasi tentang pendidikan di Madrasah yang sumbernya dari Kementerian Agama baik itu PMA, Dirjen Pendis, Surat Edaran Kanwil Kemenag dan Kemenag Kab Banyuwangi telah tersosialisai oleh Sang ketua Maarif Cabang NU Banyuwangi, dengan maraton terus hadir di Madrasah maupun sekolah untuk memberi suntikan energi baru dalam mengelola pendidikan, demikian juga pendidikan di bawah naungan Dinas Pendidikan baik tingkat Kabupaten Maupun  Cabang Dinas Pendidikan  Propinsi, sehingga Pendidikan Maarif sangat eksis keberadaanya sampai pelosok Banyuwangi dan bisa terakses oleh program tersebut.

Ekonomi berbasis ke umatan juga menjadi bidang garap untuk di kembangkan dalam program NU SOBO DESO karena warga jamaah dan jami’iyah NU diberi penguatan  dibidang ekonomi, pemerataan ekonomi untuk warga NU harus dirasakan di nikmati kata pengurus NU di Lembaga Perokonomian, dengan menggali potensi yang telah dimilki, dan bisa kerjasama dengan pihak lain CSR, BUMN , BUMD Lembaga swasta menjadi mitra yang  di kenalkan dan di bumikan ke warga NU sampai kepolosok tanah Blambangan agar kesejahteraan benar benar merata, Ekonomi kuat NU jaya.

Bidang Kegaaman, kehadiranya pendakwah ajaran Manhaj Ahlussunnah Waljamaah An Nahdliyah  dalam memberikan penguatan ke ilmuan tentang dinniyah keagaaman , warga jamaah yang saat ini masih di temukan miniminya pemahaman keagamaan maka NU SOBO DESO hadir di tengah tengah hausnya nilai-nilai ajaran agama yang santun, ramah dan humanis dalam rangka membentengi aqidah yang benar sesuai dengan tuntunan Ahlususnnah Wal-Jamaah An-Nahdliyah yang Rahmatan lil ‘alamiin. demikian menurut Rois Syuriah Cabang NU Banyuwangi. Keberadaan NU SOBO DESO telah terasa kehadiranya, umat mendapat layanan dan ilmu pengetahuan yang utuh dan komprehensif tentang seluruh aspek bidang garap Nahdlatul ‘Ulama, sehingga warga Nahdlatul ‘Ulama memeliki perubahan sikap dalam melihat NU dan berubah mindset/pola pikirnya selangkah lebih maju.

Silaturahmi melalui NU SOBO DESO membuka mata hati kita bahwa yang selama ini kita anggap bahwa warga NU telah mengerti tentang NU, namun dalam fakta yang terjadi masih banyak yang belum memahami apa itu NU, oleh karenanya pengurus Jamiyyah Nahdlatul ‘Ulamam  harus hadir di tengah tengah jamaahnya agar mengerti tentang Jami’yyah NU secara utuh, maka metode pendekatanya juga mengalami perubahan sesuai dengan kondisi warga NU saat ini yang sudah sangat moderen, dengan  tidak meninggalkan azas “ Mempertahankan dan memelihara yang lama dan baik dan menggali inovasi yang baru yang lebih baik “ sehingga hadirnya NU di tengah tengah umat bak seperti intan permata yang menyejukkan, air telaga yang menyegarkan. Generasi melinia, dan seluruh warga Nahdlatul ‘Ulama sampai pada lembaga dan banomnya meraskan kebanggaan dan puas dengan pakain dan identitas Nahdlatul ‘Ulama yang telah mampu mengurai tugas tugasnya dalam memerankan dan mengejawantahkan  ajaran NU secara moderat, tidak terjebak pada lingkaran kejumudan yang cenderung pada kegiatan rutinitas yang kurang produktif. Maka Membumikan NU SOBO DESO langkah cermat, cerdas dan mampu mengakselerasi/percepatan dalam memberikan pencerahan jati dirinya Nahdlatul ‘Ulama, dan telah mampu memetakan kondisi NU di masing masing desa, inilah sejatinya hasil yang ingin di capai oleh NU dalam kegiatan NU SOBO DESO dengan kegiatan yang masif, terencana dan capaian yang terukur, dengan bergandengan tangan, kebersamaan dan kekompakan.dalam membangun negeri Nusantara yang ber Bhennika Tunggal Ika, keberagaman ini harus kita jaga dan dirawat dengan sebaik baiknya, ukhuwah Nahdliyah, Ukhuwah Wathoniyah menjadi pilar yang kita junjung tinggi menuju Indonesia Merdeka secara utuh, dan menuai hidup dalam kemakmuran aamiin.

Pantun untuk kita “ Ada Pemuda  ada Pemudi Sumpah kesana Sumpah kesini, mumpung muda sebelum Kembali banyaklah senyum juga berbagi “

Penulis : Saeroji, Kepala Man 1 Banyuwangi, dan Ketua Tanfidiyah MWC NU Bangorejo


Satya

SATYA

Wajahnya manis menggoda, senyum manis tanpa lipstick menyapa, serempang sampur merah mengiringi langkah menuju arena. Api unggun masih menyala, banyak hati yang ikut berkobar karenanya. Senyumnya seakan meminta izin kakinya memainkan tarian mantra.

“Ayo kutunggu di arena.”

Berpuluh pasang mata pandega tak bekedip karenanya. Rambut Niken terbiarkan terurai, tali rumput pengikat  lepas tanpa permisi. Suara gamelan terdengar lirih dari sound system kecil panitia, separuh suaranya terbawa angin entah ke mana, mataku terpejam ketika terbentur sorot matanya tembus bagai panah ke ulu hati.

“Silahkan menari, aku akan mengiringi.”

Aku kenal tarian itu, tarian Mantra Jaran Goyang.

“Ayo Kak, iringi aku memainkan tarianku” pintanya.

“Aku tak pandai menari”

Aku hanya berdiri kaku di pinggir arena, menikmati  dan larut dalam tariannya. Tarian jaran goyang tanpa mantra mencapai puncak tengah malam, matanya masih berbinar, tempik sorak melawan sepoi dingin malam. Jiwa ini terus mengiringi tariannya, membakar dinding cinta, mengitari api unggun yang terus menyalak, seakan ada suara ”ikuti tarianku meski dalam lamunanmu, meski tanpa tirakat dan mantra.” Beberapa orang berkalung narakarya mondar-mandir ditenda panitia.

Semua terdiam membisu, suara gamelan tak lagi lirih, dia terus menari mengitari api unggun, kalung merah putih masih tersemat di leher jenjangnya yang bening. Ketika minum, seakan terlihar air mengalir dari tenggorokannya, mungkin dia bidadari surga yang sedang berlibur di bumi, ribuan bintang tersenyum, mereka bertaruh tentang siapa yang akan menang, siapa pemburu dan yang diburu. Kulihat kembang kanthil terselit di sela jemarinya.

 “Tangkap kanthilku Kak.” Mataku tak berkedip menatap kanthil yang dilemparkan ke langit, baunya harum memikat, kanthil itu tak turun ke bumi, entah terbang ke mana. Niken terus menari, aku terhanyut dalam bayangnya.

Aku masih mengitari api unggun yang mulai redup, sayup-sayup kudengar  mazmur malam dalam bayangan. 

”Dalam kasih tidak ada ketakutan. Kasih yang sempurna menghilangkan segala rasa takut karena ketakutan ada kaitan dengan hukuman. Dengan demikian, orang yang takut belum mengenal kasih yang semnpura”. 

Masih kuingat alunan deresannya, meski itu kudengar setahun yang lalu, pertama kali kuikmati tatapan matanya. Malam ini tak ada purnama, gemerlap bintang menyibak awan, memberikan kesempatan kobaran api cinta penawar kecewa, tak terdengar lagi mantra dari kitab suci. Dia seakan terus melantunkan sayup mantra di sela bayang tariannya, melati di atas daun telinganya masih jangkep, tak terlihat layu meski sedari pagi dipetik dari tangkainya, pertanda kesucian jiwa masih terjaga. “Teruslah menari hingga habis mantra mantra itu terurai.”

Sun matek ajiku si jaran goyang, sun goyang ring tengah latar, sun sabetaken gunung gugur, sun sabetken lemah bengkah, sun sabetaken segoro asat, sun sabetaken ombak sirap, Pet sabetake ati si jabang bayine penari, Cep sido cep edan ketresnan. Yen dudu aku sing nambani”. 

Kucoba rapalkan mantra tanpa puasa tanpa suara, Kubuang melati ke arahnya, seperti halnya nelayan membuang sauh, kembang terbakar sebelum menyentuh bumi.  Sampur merah ngiwi-iwi lamunanku. Tangan Niken masih gemulai melanjutkan tariannya. Begitu lihainya gadis manis itu menarikan tarian Jaran Goyang meski tak terdengar mantra. Kanthil dan melati sama-sama tak menyentuh bumi, tak ada yang lebih hebat antara tarian dan mantra, para pandega masih tetap bersorak menikmati, mereka tidak menyadari yang terjadi pada dua hati di antara kobaran api.


Mantramu tak kauucapkan dari mulut mungilmu, selembar bibir itu cukup tersenyum menatapku. Mantra-mantra itu telah menyatu dalam tarian jiwa. Aku bagaikan pemburu yang tak jelas siapa yang diburu, tirakatku ambyar sebelum mantra itu kuucapkan. Mantra pada tarianmu telah membius dan menghapus hafalanku pada rapal yang sudah kusiapkan. Tak seperti engkau yang telah hafal dengan ayat-ayat mazmurmu, yang kau deres dengan merdu mendayu. Aku lelah dan harus pasrah terkena mantra tarianmu, engkau kembali ke pangkalan diiringi sorai pandega yang juga pengagummu. 

“Bagaimana tarian Niken Kak?” tanyanya sambil meneguk segelas air mineral yang kusodorkan. Ingin aku menyeka buliran keringat di wajahnya. Aku tidak menjawab pertanyaannya, hanya mengacungan jempol kepadanya.

Engkau terbangun ketika azan Subuh kukumandangkan. Engkau sabar menungguku melakukan sembahyang pagi sebelum senam dimulai. Mungkin engkau akan menceritakan kepadaku isi buku Scouting For Boys atau kita bersama mengurai tali simpul yang terlanjur menjerat hati tak terluka. Aku akan tetap setia pada satya yang akan kudarmakan dan akan terus  menebar darma dengan cinta yang terus menyala meski tanpa tarianmu. Kita terikat pada satya dan mungkin cinta tanpa asmara dan cemburu. Satya telah terpatri tanpa harus merapalkan mantra, satya yang harus tertebar ke mana-mana. 

Haruskah cerita itu berhenti di sini? 

“Ayo Kak, sarapan” suaranya lirih mengaburkan lamunan, aku tidak menjawabnya, segera melangkahkan kaki untuk sarapan bersama.

Kulihat Wall Facebook, foto gadis berbaju Pramuka memegang Jargon di tangannya. Bukan Mantra Jaran goyang seperti yang pernah kurapalkan. Atau sederet ayat-ayat pada Mazmur yang pernah dideresnya. Senyum manis masih menghiasi setiap kutatap wajahnya, senyum yang sama ketika gadis manis itu menari mengitari api menyala, memegang erat pamflet yang telah lama ingin dibuangnya, namun di masih sanggup tersenyum bahagia, “Biar jomblo asal pramuka”. Aku tak sempat lagi melempar jiwa melati kepadanya, memegang hati, dan cinta tanpa bara. Senyumnya tetap bertebaran, menghiasi Facebook dan Instagram, tak ada picture tarian.

Kita mengitari kembang buah naga yang sedang bermekaran semalam, benang sari menunggu uluran tangan untuk menyatukan asmara dengan putik cantik merinu yang dari perkawinannya akan muncul buah hati yang dapat dinikmati. Aku mengejarmu meski engkau tak lagi menari, lampu neon mempercepat pubertas, buah naga tersebut dapat bercinta di luar musim yang dikehendaki, entah dengan kita. Sekat yang memisahkan kita seakan tak akan pernah tertembus meski belati cinta berkali-kali kautancapkan di dada. Kita masih sibuk mengawinkan buah naga, hanya bisa meraih bayang. Tatapan matamu menembus pilu hati yang sedang merasakan perana, kita tabur cinta untuk hinggap ke mana dia suka, dan kita tetap bahagia.

“Kenapa kembang ini harus dikawinkan?” tanyaku.

“Kalau nggak dikawinkan nggak akan jadi besar Kak.”

”Kok harus malam hari?”

“Ketika matahari beranjak sepenggalah, kembang-kembang ini layu Kak.”

Langit cerah, rembulan pun memberikan kesempurnaan sinarnya, ada yang terjatuh dari langit, baunya harum semerbak, hafal betul aku dengan baunya, ini bukan harum kembang buah naga, harumnya seperti kembang kanthil atau melati. Kutangkap pelan benda dari langit tersebut.

“Lihat Kak, aku menangkap bunga melati yang jatuh entah dari mana.” Niken menunjukkan kembang di tangannya dan tanpa kusadari Kanthil itu sudah ada di tanganku.

 “Iya, aku juga menangkap kembang kanthil yang jatuh dari langit.”

Kami saling menatap, tidak tahu kenapa ada kembang kanthil dan melati ada di tangan. Mungkinkah ini kembang yang lenyap ketika Niken menari dan aku merapalkan mantra dulu? Bukankah itu hanya permainan sesaat? Imajinasiku semakin liar, tarian Niken di antara api unggun seakan kembali hadir. Bau kembang semakin harum, kanthil, melati, berdekapan erat. Tak terasa keringat dingin keluar dari kuduk, masih ada sepasang kembang yang perlu dikawinkan.

Tirakatku, mantra-mantramu belum benar menyatu, masih kuingat pesanmu “Lakukankah apa yang ingin Kakak lakukan.”

Aku bukan ingin mendengarkan deresan mazmurmu atau tarian Jaran goyang tengah malam yang telah membakar melatiku, karena aku tak tahu apa yang kuinginkan darimu. 

“Ayolah kita menyanyi lagi, mengitari api unggun bersama kembali.”

Kaujawab ajakanku ini dengan senyum manismu. Senyum yang kaubawa kemana pun engkau pergi.

Tarian itu telah menebarkan benih cinta tak sengaja, sebuah tarian dan mantra  yang seharusnya tidak dipermainkkan. Kami duduk di beranda, secangkir kopi telah kuteguk setengahnya, menyesali tarian dan mantra yang pernah dimainkannya.

“Sudahlah Kak, tarian jaran goyang adalah tarian takdir, seperti halnya mantranya,” ucapnya tanpa menghidangkan senyum manisnya.

“Iya, kita sudah terjebak dalam permainan tarian dan mantra, menapaki garis takdir”

Aku tak menunggu nya, Kami terduduk beradu senyum yang tidak diketahui maknya dari padanya, hanya satya yang menyatukan dua jika, entah dengan rindu dan cinta

 

Syafaat

Anggota Terminal Literasi Pegawai Kementerian Agama (Lentera Sastra)

Suami yang dipenjarakan

 Suami yang dipenjarakan

Oleh : Syafaat

 

Parasnya cantik dengan balutan baju serasi sederhana, dia sangat ramah menjawab salam yang tersampaikan, meskipun kami berjanji bertemu jam 9 pagi, namun perempuan manis berparas ayu ini datang beberapa menit sebelumnya. Nampaknya akan betah jika harus berlama lama ngobrol dengannya, tentang kisah cinta rumah tangganya yang harus kandas setelah bertahun dijalaninya. Meskipun pengorbanan demi keutuhan maghligai rumah tangga telah dilakukan, namun bahtera tetap karam diduga ditumpangi orang ketiga. Dua orang anak buah perkawinannya tak mampu menyelamatkannya dari badai yang menghantam.

Kami memang mengundang perempuan berparas ayu dan suaminya tersebut atas permntaan atasan dari instansi suaminya, keduanya merupkan PNS pada Instansi Lembaga negara Verikal yang mengharuskan orang yang akan mengajukan perceraian maupun mendapat gugatan untuk datang ke BP.4 Kabupaten untuk diadakan mediasi. Meskipun sebagian besar upaya yang dilakukan selalu gagal dengan mengingat bahtera rumah tangga yang hampir tenggelam, namun bagi kami dalam kondisi apapun sebuah bahtera tersebut harus ada upaya untuk menyelamatan seluruh penumpang agar tidak terhanyut dalam gelombang.mungkin ini merupakan upaya terlambat dimana permasalahan ini sudah pada sidang ketiga di Pengadilan.

Senyum getir perempuan yang berprofesi sebagai Guru Bahasa Inggris tersebut seakan dipaksa hadir disela cerita haru biru biduk rumah tangganya. Menurutya baru kali ini mediasi yang dilakukan dengan menghadirkan kedua belah pihak secara bersama, yang sebelumnya pada Instansi dari suaminya, mereka diundang secara terpisah dengan alasan untuk menjaga privasi masing masing, dan yang dihadapi sebelumnya menurut perempuan dengan dua anak ini bukanlah mediasi, tetapi Berita Acara Pemeriksaan, karena dia hanya diberi kesempatan untuk menjawab Ya dan Tidak dari persangkaan yang dilaporkan suaminya.

Setidaknya hari ini dia masih diberi kesempatan menatap wajah suaminya, seorang lelaki yang pernah memberikan nikmat surga dunia dan daripadanya lahir anak dari keduanya. Rasa kangen pada suaminya yang sudah lama tak dijumpainya dapat bertemu diruangan BP.4, meski tidak saling bertegur sapa. Setidaknya keduanya dapat menyampaikan semua masalah yang dihadapinya meskipun mereka tahu keduanya akan sangat sulit untuk bertemu dalam biduk rumah tangga kembal. Dan mungkin mereka berdua sudah mempunyai calon pengganti masing masing.

Sang suami pernah dilaporkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) karena lama meninggalkan keluarga tanpa berita. Dan sang suami mengiyakan bahwa dia pernah dilaporkan ke Kantor Polisi, dimana dia harus merasakan sebulan menginap dibalik jeruji besi. Bagaimanapun itu merupakan salah satu konsekwensi dari kelalaian yang dilakukannya, meskiun tidak menyelesaikan masalah.

Memang perbuatan suami yang meninggalkan istri dan anak anakya tanpa kabar berita dan nafkah lahir batin merupakan pelanggaran atas kewajiban suami terhadap istri dan melanggar kewajiban orang tua terhadap anak anaknya berdasarkan Undang Undang Perkawinan dan kompilasi Hukum Islam (KHI). Perbuatan tersebut juga tergolong tindakan menelantarkan istri dan anak berdasarkan pasal 9 Undang Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU Penghapusan KDRT), karenanya apa yang dilakukan istri tidaklah salah karena dia ingin kepastian hukum dari suaminya, meskipun hal ini akan mengakibatkan sakit hati dari suaminya dari akibat dipenjarakan.

Pasal 9 UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang penghapusan KDRT tersebut berbunyi :

(1)  Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang tersebut.

(2)  Penelantaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut.

 

Adapun berdasarkan Pasal 49 UU tersebut menyatakan bahwa suami yang dinyatakan bersalah dengan suatu putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap, maka suami dapat dipidana dengan penjara paling lama tiga tahun atau denda paling banyak 15 juta rupiah.

Setiap orang mempunyai masalah tersendiri, begitu juga dengan rumah tangga, dimana banyak pasangan rumah tangga yang gagal dan harus menyerahkan masalah tersebut pada selembar akta yang dikeluarkan oleh pengadilan. Terlebih jika permasalahan yang dihadapi adalah kehadran orang ketiga dan perselingkuhan dimana masalah ini paling sulit untuk saling memaafkan, dengan mengingat sudah tidak adanya saling menjaga kepercayaan.

Kami tidak yakin bahwa kedua orang ini dapat rukun kembali, setidaknya kami dapat memberikan gambaran kepada keduanya tentang konsekwensi dari perceraiannya, meskipun sang istri merupakan wanita karier yang juga mempunyai penghasilan, namun tidak menghapuskan kewajiban suami sebagai ayah dari anak anaknya untuk memberikan nafkah dan biaya pendidikan. Begitupun dengan kewajiba  kewajiban lain dengan mengingat ada anak peremuan diantara keduanya yang merupakan amanah dari yang maha kuasa yang suatu saat juga akan menikah dan sang suami harus menjadi wali nikahnya.



 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger