Pages

Kemerdekaan Belajar dalam Menyongsong Era Revolusi industri 4.0.

 Kemerdekaan Belajar dalam Menyongsong Era Revolusi  industri 4.0.

Oleh : lulu Anwariyah

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, “Merdeka belajar adalah kemerdekaan berfikir”. Siswa diberi keluasan berfikir cara pandang terhadap materi dan lingkungan mereka. Siswa tidak didekte secara konseptual bahwa sebuah jawaban A itu salah dan jawaban B itu yang paling benar. Siswa diarahkan untuk berpikir mengapa memilih jawaban A dan mengapa memilih jawaban B.

Dalam pengalaman guru di masa lampau peserta didik belajar jika ada guru, hiruk pikuk gurauan di kelas menjadi sunyi ketika guru datang. Anak akan terdiam dan hanya mendengarkan guru berbicara tanpa ada pertanyaan yang menyela, jika siswa ramai dan bicara sendiri maka seketika guru akan marah dan mengancam dengan hukuman. Semua penguasaan kelas berpusat pada guru, dengan ancaman yang ada siswa seperti sulit bernafas karena ada tekanan.

      Kemerdekaan belajar dengan memberi rangsangan kepada siswa untuk selalu mengajukan pertanyaan dan berani untuk mencoba suatu hal yang baru. Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan daya pikir yang relevan dengan materi yang guru ajarkan. Terbuka dengan kearifan temuan siswa jika memang dirasa benar, jangan merasa gengsi dengan kesalahan. Menutupi kesalahan karena suatu kehormatan adalah kesalahan fatal, karena karakter siswa akan di pengaruhi oleh karakter gurunya.


Biarkan siswa secara dinamis mengembangkan ilmu yang di pelajari dengan riang gembira tanpa tekanan. Seperti yang di ajarkan Ki Hajar tentang kemerdekaan belajar.

“.....kemerdekaan hendaknya di kenakan terhadap caranya anak-anak berfikir, yaitu jangan selalu “dipelopori” atau disuruh mengakui pikiran orang lain, akan tetap biasakan lah anak-anak mencari sendiri segala pengetahuan dengan menggunakan pikiranya sendiri”.

Contoh materi dengan menggunakan gambar misalnya, bagaimana siswa di ajak berfikir untuk memecahkan masalahnya sendiri. Beberapa pertanyaan akan muncul dan guru tidak harus mendikte dan menjelaskan satu persatu apa yang ada di dalam gambar tersebut. Tetapi siswa akan bertanya dan menyelesaikan pertanyaan mereka sendiri. Dengan cara berdiskusi kelompok dengan temannya. Beberapa pertanyaan yang muncul misalkan: “Mengapa semut bergandengan tangan?” “Apa fungsi antena pada semut?,” “Sifat apa yang bisa di pelajari pada seekor semut?”. Dan banyak hal lagi respon berfikir siswa akan muncul. Sehingga daya fikir mereka menjadi luas, yang pada akhirnya guru hanya menjadi fasilitator dan mediator di tengah tengah para siswa. Siswa berperan aktif secara merdeka menumbuhkan daya nalar mereka dengan rasa senang dan gembira.

            Mengutip istilah yang dipopulerkan Professor Rhenald Kasali sebagai Self Disruption. Atau bahasa sederhananya adalah instropeksi diri untuk mewujudkan rencana aksi, Startegi Pembelajaran di Era Revolusi Industri 4.0 sebagai berikut.

a.      Dalam proses belajar mengajar, guru hanya sebagai fasilitator untuk membantu siswa belajar bagaimana mereka harus belajar dalam konteks kehidupan mereka. Ada empat pilar pembelajaran:  Learning to Know (Belajar untuk tahu), Learning to do (Belajar untuk beraksi),  Learning to be (Belajar untuk mandiri),  Learning to Live Together (Belajar untuk hidup bersama)

b.      Memberikan kesempatan siswa untuk berkembang dan berprestasi. Menurut Gardner, setiap manusia mempunyai potensi memiliki salah satu kecerdasan di antara kecerdasan jamak (Multiple Intelligence) di bawah ini:  Kecerdasan Logika,  Kecerdasan Linguistik,  Kecerdasan Kinestetik,  Kecerdasan Natural, Kecerdasan Spasial, Kecerdasan Musikal Kecerdasan Intrapersonal, Kecerdasan Interpersonal, Kecerdasan Naturalis.

c.       Membumikan pendidikan karakter bangsa, budi pekerti, sopan santun, nilai-nilai etika, dan agama. Menjadi sasaran penting di dunia pendidikan, untuk menjadikan siswa sosok yang kuat dan berintegritas.

d.      Menciptakan lingkungan ramah anak, karena madrasah atau sekolah adalah tempat ke-dua dari kehidupan keluarga mereka sebagai aktualisasi diri. Bersama guru dan para sahabat, anak akan mengubah cakrawala kehidupan mereka jika sekolah atau madrasah membuat menjadi tempat yang nyaman untuk belajar.

e.      Melek teknologi internet. Dunia milenia tak lepas dari smart phone yang sungguh besar pengaruhnya bagi siswa, maka guru diharapkan memanfaatkan teknologi ini sebagai wadah pembelajaran bagi siswa. Mengurangi hoby main game dan bersosialisasi di dunia maya, dengan mengakses materi pembelajaran lewat media teknologi.

            Di harapkan dengan beberapa konsep revolusi industri 4.0, dapat benar-benar menjadikan kemerdekaan belajar bagi siswa. Selaras dengan Ki Hajar Dewantara bahwa, “dalam pndidikan harus senantiasa diingat bahwa kemerdekaan itu bersifat tiga macam: berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain, dan dapat mengatur diri sendiri. Berdiri sendiri berarti mengakui anak sebagai pemilik belajar. Anak mempunyai kewenangan dan inisiatif untuk belajar. Tidak tergantung pada orang lain berarti anak secara mandiri mengembangkan diri dan tidak tergantungpada kehadiran guru. Belajar menjadi kegemaran, tanpa kehadiran guru pun anak tetap belajar.

            Kemerdekaan belajar adalah perkara subtansial, sebagai prasyarat pencapaian belajar. Dengan mempelajari kondisi pada madrasah dan sekolah, guru dapat mengaplikasikannya dengan sederhana sesuai real kondisi dan infrastruktur pada madrasah dan sekolah tersebut. Perbanyak kegiatan nonkompetisi untuk anak, dengan menampilkan bakat dan karya mereka. Siswa akan lebih merdeka mengekspresikan potensi dirinya tanpa harus takut kalah atau di permalukan. Beri stimulasi bacaan bermutu, beri kesempatan eksplorasi lingkungan sekitar, beri kesempatan menganalisis bacaan  dan lingkungan tersebut. Indonesia telah merdeka tetapi anak-anak masih terpaksa belajar, tantangan bagi guru untuk mewujudkan pemikiran siswa untuk tidak terpaksa belajar tetapi menjadi gemar belajar dengan memberi ruang kemerdekaan belajar.

Contoh pembelajaran menggunakan media gambar misalnya, bagaimana siswa di ajak berfikir untuk memecahkan masalahnya sendiri. Beberapa pertanyaan akan muncul dan guru tidak harus mendikte dan menjelaskan satu persatu apa yang ada di dalam gambar tersebut. Tetapi siswa akan bertanya dan menyelesaikan pertanyaan mereka sendiri. Dengan cara berdiskusi kelompok dengan temannya. Beberapa pertanyaan yang muncul misalkan: “Mengapa semut bergandengan tangan?” “Apa fungsi antena pada semut?,” “Sifat apa yang bisa di pelajari pada seekor semut?”. Dan banyak hal lagi respon berfikir siswa akan muncul. Sehingga daya fikir mereka menjadi luas, yang pada akhirnya guru hanya menjadi fasilitator dan mediator di tengah tengah para siswa. Siswa berperan aktif secara merdeka menumbuhkan daya nalar mereka dengan rasa senang dan gembira.

            Mengutip istilah yang dipopulerkan Professor Rhenald Kasali sebagai Self Disruption. Atau bahasa sederhananya adalah instropeksi diri untuk mewujudkan rencana aksi, Startegi Pembelajaran di Era Revolusi Industri 4.0 sebagai berikut.

a.      Dalam proses belajar mengajar, guru hanya sebagai fasilitator untuk membantu siswa belajar bagaimana mereka harus belajar dalam konteks kehidupan mereka. Ada empat pilar pembelajaran:  Learning to Know (Belajar untuk tahu), Learning to do (Belajar untuk beraksi),  Learning to be (Belajar untuk mandiri),  Learning to Live Together (Belajar untuk hidup bersama)

b.      Memberikan kesempatan siswa untuk berkembang dan berprestasi. Menurut Gardner, setiap manusia mempunyai potensi memiliki salah satu kecerdasan di antara kecerdasan jamak (Multiple Intelligence) di bawah ini:  Kecerdasan Logika,  Kecerdasan Linguistik,  Kecerdasan Kinestetik,  Kecerdasan Natural, Kecerdasan Spasial, Kecerdasan Musikal Kecerdasan Intrapersonal, Kecerdasan Interpersonal, Kecerdasan Naturalis.

c.       Membumikan pendidikan karakter bangsa, budi pekerti, sopan santun, nilai-nilai etika, dan agama. Menjadi sasaran penting di dunia pendidikan, untuk menjadikan siswa sosok yang kuat dan berintegritas.

d.      Menciptakan lingkungan ramah anak, karena madrasah atau sekolah adalah tempat ke-dua dari kehidupan keluarga mereka sebagai aktualisasi diri. Bersama guru dan para sahabat, anak akan mengubah cakrawala kehidupan mereka jika sekolah atau madrasah membuat menjadi tempat yang nyaman untuk belajar.

e.      Melek teknologi internet. Dunia milenia tak lepas dari smart phone yang sungguh besar pengaruhnya bagi siswa, maka guru diharapkan memanfaatkan teknologi ini sebagai wadah pembelajaran bagi siswa. Mengurangi hoby main game dan bersosialisasi di dunia maya, dengan mengakses materi pembelajaran lewat media teknologi.

            Di harapkan dengan beberapa konsep revolusi industri 4.0, dapat benar-benar menjadikan kemerdekaan belajar bagi siswa. Selaras dengan Ki Hajar Dewantara bahwa, “dalam pndidikan harus senantiasa diingat bahwa kemerdekaan itu bersifat tiga macam: berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain, dan dapat mengatur diri sendiri. Berdiri sendiri berarti mengakui anak sebagai pemilik belajar. Anak mempunyai kewenangan dan inisiatif untuk belajar. Tidak tergantung pada orang lain berarti anak secara mandiri mengembangkan diri dan tidak tergantungpada kehadiran guru. Belajar menjadi kegemaran, tanpa kehadiran guru pun anak tetap belajar.

            Kemerdekaan belajar adalah perkara subtansial, sebagai prasyarat pencapaian belajar. Dengan mempelajari kondisi pada madrasah dan sekolah, guru dapat mengaplikasikannya dengan sederhana sesuai real kondisi dan infrastruktur pada madrasah dan sekolah tersebut. Perbanyak kegiatan nonkompetisi untuk anak, dengan menampilkan bakat dan karya mereka. Siswa akan lebih merdeka mengekspresikan potensi dirinya tanpa harus takut kalah atau di permalukan. Beri stimulasi bacaan bermutu, beri kesempatan eksplorasi lingkungan sekitar, beri kesempatan menganalisis bacaan  dan lingkungan tersebut. Indonesia telah merdeka tetapi anak-anak masih terpaksa belajar, tantangan bagi guru untuk mewujudkan pemikiran siswa untuk tidak terpaksa belajar tetapi menjadi gemar belajar dengan memberi ruang kemerdekaan belajar.

Penulis : Lulu’ Anwariyah, S.S.

Guru Bahasa MTsN 4 Banyuwangi.



 

 

RUMAHKU MADRASAH PEMBELAJARAN JARAK JAUH

 RUMAHKU MADRASAH PEMBELAJARAN JARAK JAUH

OLEH : Saeroji

Undang Undang Nomor 20 Tahun  2003 tentang Sistem Pendidikan  Nasional adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa  dan negara. Kata kunci dari pendidikan nasional ini pada nilai-nilai kepribadian akhlak mulia, agama, kebudayaan nasional Indonesia

Pendidikan di era pembelajaran Jarak Jauh/PJJ pada masa pandemi covid 19, telah memberikan nuansa baru dalam proses pembentukan keilmuan pada peserta didik, guru, orang tua , siswa dan masyarakat secara total beralih pada proses belajar mulai dari tempat belajar, sarana belajar, metode belajar dan mengajar, bahan ajar, waktu belajar semua itu berorientasi pada ilmu tehnologi sebagai sahabat kita, disamping itu menjadi sahabat yang sangat akrab adalah orang tua baik ayah atau ibu atau kakak dan adik dimana keluarga tersebut sangat lengkap. Pembelajaran jarak jauh memberikan suasana baru dan memberikan fungsi dan peran orang tua sebagai pendidik sejati selama 24 jam tanpa karat,  tentu ini membuat orang tua juga berancang ancang untuk mendesain bagaimana materi pembelajaran yang telah di sampaikan oleh sang guru terserap dengan baik karena pendampingan sang ibu atau ayah telah hadir bersama anak di sampingnya sebagai jembatan atas apa yang telah tersampaikan oleh gurunya.

Pendidikan spiritual, pengendalian diri, pembentukan kepribadian berkarakter, kecerdasan, serta akhlak mulia ini menjadi ladang Uswah bagi ayah dan ibu dalam lingukungan rumah, segala tingkah Laku perbuatan dan prilaku orang tua menjadi bagian rekaman yang suatu saat akan di vidiokan untuk di tonton  di cermati lalu di praktekkan oleh anak. Lingkungan rumah yang ramah, sejuk menyenangkan memberikan pendidikan yang akan melahirkan karakter  yang kuat mandiri bahkan cakupan kepribadian insani yang iman dan akhlak.

Menurut Syaekh Hasan Albanna pembentukan  kepribadian atau karakter dalam Islam mencakup sepuluh aspek diantaranya : akhlak yang bersih, ibadah yang lurus, wawasan yang luas, fisik yang kuat, perjuangan diri sendiri hingga bermanfaat untuk orang lain. Saatnya sekarang orang tua bersama guru untuk mendesain pembelajaran berbasis rumah atau keluarga.

Bagaimana peran orang tua dalam Pembelajaran Jarak Jauh/PJJ pada masa pandemi covid 19 ? amanat undang undang pendidikan bahwa  anak sebagai aset negara yang harus mendapatkan pendidikan yang layak dalam situasi dan kondisi apapun, tingkat keberhasilanya orang tua memiliki andil besar dalam mengawal pendidikan ini. Pertama, Pembelajaran Jarak Jauh bisa terlaksana dengan interaksi yang baik antara guru dan siswa dan pendampingan orang tua, bahan ajar tersampaikan dengan baik karena adanya umpan balik dari guru kepada siswa dan orang tua memberikan kontrol secara terus menerus atas tugas yang di berikanya. Kedua, hadirnya orang tua kepada anak anaknya dalam setiap pembelajaran untuk memberi motivasi agar seberat apapun tugasnya tetap dikerjakan dengan penuh tanggung jawab, ini semua bisa terlaksana bila tingkat strata pendidikan orang tua mampu mengupdate perkembangan pendidikan saat ini. Lalu bagaimana bila orang tua yang memiliki strata pendidikan belum sebanding dengan perkembangan pendidikan saat ini ? Orang tua sebagai sosok primadona dalam keluarga tentu memberi nuansa baru terhadap tugas-tugas yang diberikan guru kepada anaknya, peran utamanya memberikan pendampingan moril sentuhan dan belaian kasih sayang yang luar biasa agar spirit hati dan semangat belajar menjadi energi baru dalam mengerjakan seluruh tugas dari guru sehingga capaianya pun bisa sesuai target yang di inginkan oleh anak dan guru.

Rumah memiliki fungsi edukasi, rumah sebagai tempat menimba ilmu yang didalamnya timbulnya bakat, minat bahkan talenta anak bisa di gali potensinya menjadi sosok insan yang memiliki multi talenta dan daya kompetitifnya bisa di pertaruhkan. Pemahaman pskologi jiwa anak bagi orang tua amat sangat penting lebih lebih di saat Pembelajaran Jarak Jauh/PJJ ini beban berat bagi kita semua termasuk orang tua, anak juga guru, maka konsep manejemen pembelajaran/edukasi ramah lingkungan sesuai dengan kebutuhan adalah keniscayaan untuk di terapkan dan di aplikasikan agar hasil pembentukan karakter mulia dan inteltual yang bagus bisa tercapai secara maksimal.

Pembelajaran Jarak Jauh/PJJ telah menginspirasi semua pihak guru, siswa, orang tua, akan tetapi pendidikan karakter, pembiasaan baik, praktek ketrampilan dan juga forum diskusi dalam pemecahan problem yang sangat membutuhkan kehadiran sosok guru tidak akan di temukan dalam Pembelajaran Jarak Jauh, sehingga kondisi seperti ini memberikan pembelajaran bahwa peran Guru tak tergantikan. Maka hadirnya sang idola yakni orang tua ayah atau ibu memiliki peran strategis dalam mengawal pendidikan baik secara inteltual maupun pembentukan karakter yang utuh.

Optimalisasi pembelajaran dan pendidikan yang dilakukan orang tua dalam lingkungan keluarga harus memberikan suport dan penguatan yang lebih variatif juga bersinergi dengan panduan guru dalam memberikan bahan ajar yang lebih fleksibel. Capain dari pendidikan berbasis keluraga di saat pandemi covid 19, untuk menguatkan akan pembentukan karakter, kepribadian anak yang sehat lahir dan bathinya, atas hilangnya pembelajaran tatap muka yang telah terjadi cukup panjang dan sampai kapan ini akan berakhir, tentu ini bagian dari Tim Kesehatan yang lebih memahami. Mendidik, membimbing yang pada prinsipnya adalahmenjadi kewajiban pertama dan utama bagi orang tua (Home schooling) yang saat ini sudah menjadi trend di dunia pendidikan,maka peran utama orang tua dalam membentuk kepribadian Budi pekerti yang luhur, Akhlakul Karimah memiliki kesempatan yang baik untuk memberikan pendidikan terbaiknya kepada anak anak di saat pandemi covid 19. Di. Sini sangat nampak sekali Bahwa rumah adalah tempat terbaik juga dalam mempersiapkan generasi  emas generasi cemerlang karena peran orang tua telah menemukan jati dirinya sebagai figur Mudaris yang Humanis.Alhasil Pembelajaran Jarak Jauh telah memberikan tempat dan poisisi bahwa orang tua sebagai bagian terdepan dalam mengawal pendidikan dan suksesnya pembelajaran yang sekaligus memiliki misi  anak utuh, anak tangguh dan anak siap sungguh menuju akselerasi pendidikan yang  sangat hebat dan memiliki martabat unggul. “ Jalan jalan ke kota Jakarta, tidak lupa membeli burger, pagi  sudah tiba, ayo kita belajar “

 Penulis : Kepala MAN 1 Banyuwnagi / Ketua MWC NU Kecamatan Bangorejo



Merubah Insecure Menjadi Bersyukur

 Merubah Insecure Menjadi Bersyukur

Oleh : Trya Nur Annisa

            Kebanyakan dari kita sudah tahu apa itu Insecure, yakni perasaan semacam tidak percaya diri pada apa yang kita tunjukkan kepada publik, perasaan tidak nyaman akan diri kita sendiri, takut akan kegagalan yang bahkan belum terjadi, atau bahkan perasaan tidak aman dan cemas yang berlebih yang timbul dalam diri kita sendiri. Sebenarnya Insecure itu wajar namum akan menjadi masalah jika itu kita alami berlarut-larut. Sebenarnya apa sih yang membuat kita selalu merasa Insecure?. Apa kita seburuk itu hingga merasa Insecure berlarut-larut?. Ayo bersama-sama merubah rasa Insecure menjadi rasa bersyukur. Sebenarnya apa sih penyebab kita merasa Insecure?  

pertama  kita sering membandingkan diri kita dengan diri orang lain, apa sih untungnya membanding-bandingkan diri kita sendiri?. Kita saja biasanya sering tidak suka jika ada orang yang membandingkan diri kita dengan orang lain, lalu mengapa diri kita sendiri tidak ada capek-capeknya membandingkan diri kita sendiri dengan orang lain?. Setiap orang diciptakan oleh Tuhan dengan porsinya masing-masing, di dunia yang seluas ini dan bahkan miliaran orang punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Ingatlah Tuhan menciptakan kita dengan kelebihan yang kita miliki saat ini dan asahlah menjadi lebih baik lagi, dan mulailah menerima kekurangan kita karena itu sebagian dari diri kita sendiri.

            Kedua menoleh ke masa lalu. Yap, buat apa sih kita harus selalu menoleh ke masa lalu?. Masa lalu diciptakan hanya untuk menjadi pembelajaran bagi kita di masa sekarang maupun masa depan. Boleh saja kita menengok masa lalu tapi ingat hanya sekedar jadi bahan pembelajaran hidup. Kita semua pastinya memiliki masa lalu kelam yang bahkan bisa merubah hidup kita dan lantas membuat kita merasa tidak layak untuk hidup, tapi ingatlah masa depanmu tidak ditentukan oleh apa yang kita lakukan kemarin tetapi masa depan kita ditentukan oleh apa yang kita lakukan hari ini. Jadi biarkan masa lalu kita berlalu dan mulailah berdamai dengannya.

            Ketiga Kita terlalu banyak melihat sosial media. Hah, memang bisa berpengaruh?. Yap, bahkan pengaruh sosial media lebih besar terhadap rasa Insecure yang kita miliki. Boleh saja melihat sosial media tapi lihatlah sebagai hal positif contohnya mencari inspirasi ataupun motivasi, jangan terlalu melihat sosial media orang lain karena kita akan merasakan perasaan ingin memiliki apa yang mereka miliki dan kita merasa tidak cukup dengan kemampuan ataupun barang yang kita miliki. Selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini bisa saja mereka yang diluar sana menginginkan apa yang sedang kita miliki.

            Keempat Overthinking. Jujur saja kita semua pasti selalu berfikir berlebihan apalagi pada saat malam hari, terlalu banyak berfikir tidaklah baik bagi kesehatan tubuh apalagi mental kita. Bukan berarti kita menjadi orang yang cuek, namun jangan terlalu keras pada diri kita sendiri. Jangan selalu berfikir bahwa kita tidak berharga, kita tidak menarik, dan kita tidak pintar. Remember, everything start from the mind!. Mulailah memiliki fikiran yang positif dan tinggalkan fikiran negatif.

             Kelima kata-kata negatif orang lain. Kita semua pasti pernah di kritik orang lain dengan sangat pedas dan membuat diri kita down. Memang kita tidak bisa mengkontrol omongan orang lain. Namun, kita bisa memilih mana perkataan yang dapat kita terima dan mana yang harus kita abaikan. Jika ada orang yang mengomentari diri kita buruk, maka jangan pernah dengarkan dan abaikan saja! Jangan di simpan dalam hati. Ingat, identitas kita tidak ditentukan oleh apa yang dikatakan orang lain. Kelilingi diri kita dengan orang-orang yang berfikiran dan berkomentar positif tentang diri kita.

             Bagaimana cara kita mengatasi rasa insecure pada diri kita? Yang pertama adalah tulis kata-kata positif di jurnalmu. Memang bisa? Tentu saja iya, saat diri kita merasa insecure, kita butuh kata-kata positif untuk melawan rasa insecure dalam diri kita. Salah satu cara paling ampuh adalah dengan membaca kata-kata positif yang ada di jurnal kita keras-keras atau terus ulangi kata-kata itu dalam hati kita. Contohnya, " I am smart. I am loved. I am accepted. I am not who I used to be."

             Kedua adalah kelilingi diri kita dengan orang-orang yang suportif. Kita pasti membutuhkan teman-teman yang bisa mendukung diri kita di saat kita sedang tidak percaya diri. Saat kita mulai merasa insecure, berbicaralah kepada teman-teman terdekat kita dan minta mereka untuk mengingatkan kita akan hal positif yang ada pada diri kita. Itu akan membuat rasa insecure kita perlahan menghilang.

             Ketiga kurangi penggunaan sosial media. Coba kita kurangi penggunaan sosial media kita, dengan mengurangi penggunaan sosial media kita, kita bisa fokus dengan kehidupan diri kita sendiri. Kita menjadi tidak fokus dengan kehidupan yang orang lain jalani dan tidak lagi membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Jadi, sangat berpengaruh bukan?

             Keempat adalah tempel kata-kata positif di sekitar mu. Apa menulis kata-kata di jurnal saja tidak cukup? Tentu tidak. Kita semua butuh pengingat bagi diri kita akan kelebihan yang kita miliki. Tempel kata-kata positif di sekitar kita hingga kita tidak punya ruang untuk merasa insecure lagi.

             Nah, cara diatas bisa menjamin kita tidak merasa insecure pada diri kira sendiri, sebenarnya masih banyak lagi hal-hal yang bisa kita lakukan contohnya mendengarkan musik-musik yang membangun atau memotivasi, melakukan hal-hal positif, melupakan masa lalu yang dapat memunculkan rasa insecure pada diri kita, lakukan hal-hal positif, konsultasi dengan seseorang, temukan kelebihan-kelebihan pada diri kita, dan lawan terus rasa insecure dengan perkataan positif. Okay pembahasan kita selesai sampai disini, semoga membantu ya! Ingat, kesehatan mental kita itu sama pentingnya dengan kesehatan fisik kita. Jangan anggap enteng perasaan insecure, bila tidak ditangani dengan tepat, hal itu bisa mempengaruhi kehidupan kita. Semangat ya kita pasti bisa mengubah rasa insecure menjadi bersyukur bersama-sama!

*Penulis adalah Siswa Kelas XI MIPA-3 MAN 3 Banyuwangi di Srono



FAKTOR RISIKO ANEMIA PADA REMAJA PUTRI PESERTA PROGRAM PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN ANEMIA GIZI BESI (PPAGB) DI KOTA BEKASI ERMITA ARUMSARI PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA

 FAKTOR RISIKO ANEMIA PADA REMAJA PUTRI PESERTA PROGRAM PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN ANEMIA GIZI BESI (PPAGB) DI KOTA BEKASI ERMITA ARUMSARI PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 Sebanyak 99.3 persen contoh tidak memiliki riwayat penyakit yang berhubungan dengan anemia seperti malaria, tuberculosis, dan kecacingan (dalam jangka waktu sebulan yang lalu). Sebagian besar contoh memiliki kebiasaan mencuci tangan sebelum makan. Sebanyak 52.0 persen contoh memiliki aktivitas fisik olahraga ringan. Persentase contoh anemia yang melakukan aktivitas olahraga sedang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan contoh tidak anemia. Hampir separuh contoh jarang mengkonsumsi ikan segar (47.3%) dan daging ayam (48.5%). Telur ayam paling sering dikonsumsi oleh contoh setiap hari (10.3%). Semakin jarang telur ayam dan telur bebek dikonsumsi maka kecenderungan anemia akan semakin kecil (p<0.1). Frekuensi lauk nabati berkisar 0-6 kali seminggu. Lauk nabati dikonsumsi kurang dari 20 persen contoh dengan frekuensi setiap hari. Kurang dari 5 persen contoh mengkonsumsi sayuran setiap hari. Sayuran hijau seperti bayam lebih jarang dikonsumsi oleh contoh yang anemia (43.2%). Semakin jarang waluh dan sawi dikonsumsi maka kecenderungan anemia akan semakin kecil (p<0.1). Kurang dari 12 persen contoh mengkonsumsi buah-buahan setiap hari. Semakin jarang pepaya dikonsumsi maka kecenderungan anemia akan semakin kecil. Lebih dari separuh contoh tidak pernah mengkonsumsi makanan jajanan (bakso, mie, dan gorengan). Contoh anemia lebih sering mengkonsumsi teh dan kopi. Hampir separuh contoh (44.8%) tidak pernah mengkonsumsi susu. Contoh anemia lebih sering mengkonsumsi suplemen Hasil korelasi Spearman menunjukkan bahwa faktor risiko yang secara signifikan mempengaruhi status anemia adalah usia, status menstruasi, frekuensi konsumsi telur ayam, telur bebek, waluh, dan sawi. Hasil regresi logistik menunjukkan remaja putri yang berada pada kisaran usia 13-15 tahun memiliki kecenderungan untuk mengalami anemia 2.73 kali lebih besar dibandingkan remaja putri yang berusia 10-12 tahun (p=0.001). Remaja putri yang berstatus gizi kurus cenderung untuk mengalami anemia 8.32 kali lebih besar dibandingkan remaja putri yang berstatus gizi gemuk (p=0.006). Remaja putri yang berstatus gizi normal memiliki kecenderungan 6.73 kali lebih besar untuk mengalami anemia dibandingkan remaja putri yang berstatus gizi gemuk (p=0.013). RINGKASAN ERMITA ARUMSARI. Faktor Risiko Anemia pada Remaja Putri Peserta Program Pencegahan dan Penanggulangan Anemia Gizi Besi (PPAGB) di Kota Bekasi. Di bawah bimbingan Dodik Briawan Tujuan umum dari penelitian ini adalah mengetahui faktor risiko anemia remaja putri peserta program Pencegahan dan Penanggulangan Anemia Gizi Besi (PPAGB) di Kota Bekasi. Tujuan khusus dari penelitian adalah : (1) mengkaji kadar hemoglobin dan status anemia remaja putri, (2) mengkaji usia dan status gizi antropometri remaja putri, (3) mengkaji pola menstruasi remaja putri, (4) mengkaji riwayat penyakit remaja putri, (5) mengkaji perilaku hidup bersih dan sehat remaja putri, (6) mengkaji aktivitas fisik remaja putri, (7) mengkaji frekuensi konsumsi pangan sumber zat besi remaja putri, (8) menganalisis faktor risiko anemia remaja putri. Desain penelitian adalah cross-sectional study yaitu data baseline dari Dinas Kesehatan Kota Bekasi untuk pelaksanaan Program Pencegahan dan Penanggulangan Anemia Gizi Besi (PPAGB). Lokasi penelitian dilaksanakan di SMP VII dan SMK Teratai Putih Global 2. Pemilihan didasarkan kesediaan sekolah mengikuti program serta keaktifan puskesmas yang dekat dengan lokasi sekolah untuk mengumpulkan data pengukuran hemoglobin. Waktu pengambilan data dilakukan pada November 2007-Februari 2008. Contoh sejumlah 400 orang terdiri dari 200 orang siswi SMP VII dan 200 orang siswi SMK Teratai Putih Global 2. Usia contoh berkisar 10-18 tahun. Pengambilan contoh dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan kesediaan siswi mengikuti program dan adanya izin dari orangtua. Data yang dikumpulkan berupa data sekunder dari Dinas Kesehatan Kota Bekasi. Data dikumpulkan melalui tiga cara (wawancara, pengukuran langsung, pemeriksaan laboratorium). Wawancara langsung saat pengumpulan data menggunakan kuisioner yang berisi data usia, aktivitas fisik, pola menstruasi, riwayat penyakit, perilaku hidup bersih dan sehat, dan frekuensi konsumsi pangan. Data antropometri dan status gizi diketahui melalui pengukuran berat dan tinggi badan. Penentuan kadar hemoglobin dilakukan dengan pengambilan sampel darah dan dianalisis dengan metode Cyanmethemoglobin. Analisis korelasi Spearman dilakukan untuk melihat besar hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Regresi Logistik dilakukan untuk mengetahui faktor risiko yang paling berkaitan dengan status anemia. Rata-rata kadar hemoglobin adalah 12.4 g/dl (7.2-16.0 g/dl). Lebih dari separuh contoh (61.7%) tidak mengalami anemia. Terdapat 6.0 persen contoh mengalami anemia sedang. Secara keseluruhan 38.3 persen contoh mengalami anemia. Rata-rata usia adalah 13.7 tahun (10-18 tahun). Proporsi ter

penanggulangan anemia gizi untuk remaja putri dan wanita usia subur

 

penanggulangan anemia gizi untuk remaja putri dan wanita usia subur 


Disusun oleh Kelompok C4 :

1.     Antonius Priambodo      (14700157)

2.     Cindyesti Larissa            (14700159)

3.     Yusuf Selawijaya            (14700161)

4.     Febriana Trisna Fitri      (14700163)

5.     Fashfachish Shofchal      (14700165)

6.     Gita Qatrunnada             (14700169)

7.     Mery Rizqiana Putri        (14700171)

8.     Silvya Mahmuda              (14700173)

 

Pembimbing Tutor: dr. Sukma Sahadewa,M.Kes

 

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA

2016

 

BAB 1

PENDAHULUAN

A.    Pengertian Berbagai istilah sehubungan dengan anemia dan KEK (kekurangan energi kronis)

Anemia gizi : adalah kekurangan hemoglobin (dalam darah) yang disebabkan karena kekurangan zat  gizi yang di perlukan untuk di pembentukan Hb tersebut. di indonesia sebagian besar anemia ini disebabkan karena kekurangan zat besi (Fe) hingga disebut anemia kekurangan zat besi atau Anemia gizi besi .

Remaja putri : adalah nama peralihan dari anak menjadi dewasa di tandai dengan perubahan fisik dan mental. Perubahan fisik ditandai dengan berfungsinya alat reproduksi seperti menstruasi (umur 10 - 19 tahun).

Wanita usia subur (WUS) : adalah wanita pada masa atau periode dimana dapat mengalami proses reproduksi. Ditandai masih mengalami menstruasi (umur 15-45 tahun).

Tablet tambah darah ( besi-folat) : adalah tablet untuk suplementasi penanggulangan anemia gizi yang setiap tablet mengandung fero sulfat 200 mg atau setara 60 mg besi elemental daei 0,25 mg asam folat .

komunikasi , informasi edukasi (KIE) : adalah berbagai kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan , sikap dan perilaku yang dalam hal ini berkaitan dengan anemia gizi dan suplementasi Tablet Tambah Darah (TTD) .

LILA : ukuran lingkar lengan kiri atas .

Risiko kekurangan energi kronis ( KEK) : adalah keadaan dimana remaja putri/wanita mempunyai kecenderungan menderita KEK. Seseorang dikatakan menderita risiko KEK bilamana LILA <23,5 Cm.

KEK : adalah keadaan dimana remaja putri / wanita mengalami kekurangan gizi ( kalori dan protein) yang berlangsung lama atau menahun .

B.     Tujuan dan sasaran program anemia

1.      Tujuan

a. Umum :             Meningkatkan status kesehatan dan gizi remaja putri dan wanita usia subur dengan mengurangi prevalensi anemia gizi.

b. Khusus :            1. Meningkatkan kinerja petugas kesehatan dalam upaya penanggulangan anemia gizi.

2. Meningkatkan partisipasi dan kerjasama antara sektor kesehatan dengan sektor pendidikan, keagamaan, organisasi dan LSM untuk penanggulangan masalah anemia gizi.

3. Meningkatkan kesadaran remaja putri dan wanista usis subur serta keluarganya akan pentingnya meningkatkan status kesehatan dan gizi dengan mencegah masalah anemia sedini mungkin.

4. Melaksanakan suplementasi TTD untuk remaja putri dan wanita usia subur secara mandiri.

5. Menurunkan prevalensi Anemia Gizi pada wanita usis subur khususnya remaja putri

6. Meningkatkan pengelahuan-sikap remaja putri dan wanita usis subur tentang anemia dan tablet tambah darah

7. Meningkatkan jumlah TTD yang dikonsumsi oleh remaja putri dan wanita usis subur (kepatuhan)

(sumber : http://pdf.usaid.gov/pdf_docs/pnacp844.pdf , http://www.kalbemed.com/Portals/6/KOMELIB/GENITO-URINARY%20SYSTEM/Obsgyn/Ferofort/pedoman%20anemia%20gizi.pdf)

2.      Sasaran

a.       Langsung : Remaja Putri dan Wanita Usia Subur

b.      Tidak Langsung :

1.      Remaja Putra

2.      Guru/pendidik

3.      Pemuka agama

4.      Ketua Organisasi Kepemudaan

5.      Ketua Organisasi dan LSM

6.      Ketua federasi pekerja sektor non formal

7.      Petugas kesehatan (puskesmas)

8.      Tempat kerja

9.      Distributor

10.  Masyarakat umum

 

 

 

 

 

C.    Kegiatan operasional penanggulangan anemia gizi untuk remaja putri dan wanita usia subur

Kegiatan penanggulangan anemia gizi untuk remaja putri dan wanita usia subur adalah melakukan promosi atau kampanye tentang anemia kepada masyarakat luas, ditunjang dengan kegiatan penyuluhan kelompok serta konseling yang ditujukan secara langsung pada remaja putri dan wanita usia subur melalui wadah yang sudah ada di masyarakat seperti sekolah, pesantren, tempat kerja (formal atau informal), organisasi dan LSM bidang kepemudaan, kesehatan, keagamaan dan wanita. Untuk alternatif penyelesaian masalahnya dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut:

1.      Suplementasi Zat Besi

Pemberian suplemen zat besi menguntungkan karena dapat memperbaiki status hemoglobin dalam waktu yang relatif singkat. Di Indonesia pil besi yang umum digunakan dalam suplementasi zat besi adalah frrous sulfat.

2.      Meningkatkan Konsumsi Pangan Mengandung Zat Besi

Faktor utama yang menyebabkan terjadinya anemia  besi adalah kurangnya konsumsi zat besi yang berasal dari makanan, atau rendahya absorbsi zat besi yang ada dalam makanan. Ketersediaan zat besi dari makanan yang tidak mencukupi kebutuhan tubuh akan mengakibatkan tubuh mengalami anemia besi. Konsumsi makanan yang cukup jumlahnya dan macamnya akan menjamin kesehatan. Makanan yang banyak mengandung zat besi adalah bahan makanan yang berasal dari hewani.

3.      Mengatur Pola Makan

Dengan memperhatikan pola makan, diharapkan kebutuhan zat besi pada masing-masing individu dapat terpenuhi sebagaimana yang dibutuhkan, dengan cara menerapkan pola makan yang baik  dan bergizi seimbang.

 

 

 

 

 

 

D.    Pembinaan dan pengawasan petugas lintas sector

1. Kecamatan : Sekolah/Puskesmas/tempat   kerja/organisasi   kesehatan,   wanita,   pemuda  dan keagamaan :

a. Melaksanakan bimbingan dan penyuluhan kepada Remaja Putri/Wanita.

b. Menyediakan paket penyuluhan/kurikulum kesehatan dan gizi untuk Remaja Putridan Wanita.

c. Melaksanakan   koordinasi   dengan   camat   oleh   jajaran   kesehatan,   pendidikan,agama dan instansi terkait untuk kelancaran pelaksanaan program.

d. Mengadakan koordinasi dengan tempat tersedianya Tablet Tambah Darah.

e. Melaksanakan penyuluhan kesehatan dan gizi serta konseling.

2.. Daerah Tingkat II :Kantor Depdikbud, Kandepkes, Dinkes, dan Kantor Depag Kabupaten/ Kotamadya :

a. Melaksanakan pengadaan dan pendistribusian paket penyuluhan/ kurikulum untuktiap kecamatan.

b. Melaksanakan koordinasi dengan Pemda Tingkat II Kabupaten/ Kotamadya daninstansi terkait serta LSM.

c. Melakukan koordinasi dengan Pedagang Besar Farmasi (PBF) atau distributortentang distribusi Tablet Tambah Darah.

d. Mengadakan   pemantauan   ke   sekolah/pesantren/tempat   kerja/organisasi   bidangkesehatan/wanita/kepemudaan/keagamaan.

3. Daerah Tingkat I :

a. Merencanakan   kebutuhan   paket   penyuluhan/kurikulum   kesehatan   dan   gizi,pengadaan dan distribusi untuk tiap kabupaten/kotamadya.

b. Melakukan koordinasi dengan Pemda Tingkat I Propinsi dan instansi terkait serta LSM.

c. Melakukan koordinasi dengan Pedagang Besar Farmasi (PBF) atau distributortentang distribusi Tablet Tambah Darah.

d. Melakukan   pemantauan   ke   Daerah   Tingkat   II   Kabupaten/Kotamadya   dan Kecamatan

4. Pusat :Depdikbud, Depkes, dan Depag :

a. Melakukan koordinasi dalam penyusunan paket penyuluhan/kurikulum kesehatandan gizi, pengadaan dan distribusi untuk tiap propinsi.

b. Melakukan   koordinasi   dengan   produsen   tentang   penyediaan   Tablet   Tambah Darah.

c. Melaksanakan koordinasi dengan lintas sektor lain (Depsos, BKKBN) serta LSM tentang pengembangan dan pelaksanaan Program Penanggulangan Anemia Gizi untuk Remaja Putri dan WUS.C/Anemia/1/AnmGiz

d. Melakukan   pemantauan   ke   Daerah   Tingkat   I   Propinsi,  Daerah Tingkat   II Kabupaten/Kotamadya dan Kecamatan.

E.     Evaluasi program

Untuk mengetahui perkembangan dan keberhasilan program Penanggulangan Anemia Gizi untuk Remaja Putri/WUS, perlu dilakukan evaluasi pelaksanaan kegiatan. Kegiatan evaluasi meliputi :

A.Kelancaran logistik dan dana.

B.Pelaksanaan kegiatan penyuluhan, pembinaan deteksi dini dan konseling.

C.Survei Cepat Kelainan Gizi.

D.Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT).

E.Penelitian atau studi.

Ø  Indikator keberhasilan antara lain :

A.Meningkatkan Pengetahuan, Sikap dan Perilaku (PSP) Remaja Putri/Wanita tentanganemia gizi.

B. Cakupan distribusi dan konsumsi Tablet Tambah Darah pada Remaja Putri/Wanita.

C. Kepatuhan minum Tablet Tambah Darah.

D. Menurunnya prevalensi anemia pada Wanita Usia Subur khususnya Remaja Putri.

Hasil evaluasi sangat bermanfaat sebagai bahan perencanaan lebih lanjut.

 

(sumber : http://docplayer.info/160293-Pedoman-penanggulangan-anemia-gizi-untuk-remaja-putri-dan-wanita-usia-subur.html (diakses: rabu,09 Maret 2016 pukul 20:52))

 

 

 

 

 

F.     Contoh leaflet/flayer terhadap penanggulangan terhadap anemia gizi untuk remaja putri dan wanita usia subur

v  CARA MENCEGAH  DAN  MENGOBATI ANEMIA

a.       Meningkatkan Konsumsi Makanan Bergizi

1.      Makan makanan yang banyak mengandung zat besi dari bahan makanan hewani (daging, ikan, ayam, hati, telur) dan bahan makanan nabati (sayuran berwarna hijau tua, kacang-kacangan, tempe)

2.      Makan sayur-sayuran dan buah-buahan yang banyak mengandung vitamin C (daun singkong, bayam, jeruk dan tomat) sangat bermanfaat untuk meningkatkan penyerapan zat besi dalam usus.

b.      Menambah pemasukan zat besi kedalam tubuh dengan minum Tablet Tambah Darah (TTD)

c.       Mengobati penyakit yang menyebabkan atau memperberat anemia seperti : kecacingan, malaria, dan penyakit TBC.

PROGRAM PENANGGULANGAN ANEMIA PADA REMAJA PUTRI DAN WANITA MEMERLUKAN PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM RANGKA KEMANDIRIAN

 
 

 


                                                                    

 

REMAJA PUTRI DAN WANITA DIANJURKAN MINUM TABLET TAMBAH DARAH AGAR SENANTIASA SEHAT, SEGAR BUGAR, BERSERI, DAN BERSEMANGAT

 
 

 

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger