Pages

DEGRADASI MORAL GENERASI MILENIAL

DEGRADASI MORAL GENERASI MILENIAL

Oleh : Inindra Cahyo

Generasi milenial adalah generasi yang lahir pada rentang waktu tahun 1980 sampai awal tahun 2000-an. Generasi inilah yang digadang-gadang menjadi generasi promotor dalam mengerakkan sendi - sendi kebangkitan bangsa mulai dari ekonomi, politik, sosial budaya, iptek dan sebagainnya.Generasi milenial diidentikkan dengan pemikiran yang inovatif, kreatif, aktif, energik dan menguasai teknologi digital dalam semua lini sektoral. Dalam menjalankan peran penting sebagai generasi milenial, kita di tuntut untuk bisa beradaptasi sesuai perkembangan zaman. Penguasaan aspek digital menjadi tolok ukur generasi milenial agar bisa bersaing dengan negara lain. Platform media digital seperti facebook, instagram, whatsaap, telegram, line, dan sebagainya merupakan kebutuhan kita sehari-hari yang menjadi keharusan, mengingat pentingnya informasi yang bisa kita dapatkan dari platform media digital tersebut. Tak bisa dipungkiri bahwa digitalisasi semua lini kehidupan akan membawa dampak negatif dan positif bagi pengunannya dan orang lain. Sehingga kita dalam menggunakan media sosial harus selektif agar informasi yang kita konsumsi benar-benar akurat dan terpercaya serta tidak mengandung unsur hoax. Terlepas sebagai sumber informasi, media sosial juga digunakan sebagai sarana mengunggah aktifitas kita seperti berswafoto,vlog dan sebagainya melaui patform media sosial tersebut.

Dampak positif dari pengggunaan media sosial tersebut adalah beragam,salah satunya ialah dari segi ekonomi.Pemanfaatan media digital yang tepat sangat bermanfaat pada ekonomi,yaitu orang bisa mempromosikan produk-produk rumahan dan umkm pada platfrom digital tersebut,sehingga lebih efektif dan efisien. Cara yang biasa digunakan mensukseskan promosi yaitu dengan memposting produk yang akan dipasarkan.Dampak negatif dari media sosial adalah maraknya berita hoax, penipuan, saling menghujat di media sosial hanya karena tidak sependapat dengan sesuatu hal tertentu.Dalam konteks generasi milenial. Medsos ini sering kali menjadi wasillah dalam mempublish keburukan orang lain,yaang notabene menjadi musuh dan ketidaksukaan pada sesuatu hal tertentu.

Dalam bermedia sosial mayoritas orang tanpa sadar telah melewati batas-batas norma kesopanan,hal ini tercermin pada postingan sesorang yang berkata kasar,postingan mengandung unsur pornografi, menghujat dan lain sebagainnya. Adab dan tata krama seolah-olah tidak diperhatikan dalam berselancar bebas di media sosial, mereka tanpa batas dan tidak ada sekat-sekat penghalang dalam melakukan apapun.Hal ini menjadi pemicu degadasi moral generasi milenial yang notabene digadang-gadang menjadi penerus tonggak estafet kepemipinan bangsa kedepan. Dampak yang signifikan pada generasi milenial adalah me-mirror sesuatu dari media sosial yang itu tidak sesuai dengan kebudayaan kita sebagai orang timur .Katakanlah fenomena pacaran yang telah menginfiltrasi generasi milenial untuk bertindak sesuai apa yang mereka lihat di media sosial tanpa memfilter hal tersebut. Alhasil banyak sekali hal-hal negatif yang tentunya tidak kita ingginkan terjadi kepada kita karena kita lalai dalam bermedia sosial.

Fenomena yang sering terjadi disekitar kita ialah berpacaran tanpa menmperhatikan tempat dan waktu,disekolah, dijalan ,ditempat hiburan, ditempat wisata mereka tidak memperdulikan adab kesopanan. Dalam agama kita diajarkan tidak boleh berduaan dan berkholwat dengan lawan jenis tanpa ikatan yang sah, yaitu pernikahan. Seseorang yang pacaran berpegangan tangan,ciuman dan berpelukan merupakan hal biasa dan menurut sebagian seseorang yang berpacaran merupakan keharusan karena me mirror cara berpacaran ala barat. Tidak berhenti disitu, orang yang berpacaran akan menggangu proses belajar disekolah.Malam hari saat yang krusial untuk mengasah otak untuk belajar mereka harus mencurahkan perhatian yang lebih pada pasagan hanya untuk memberi kabar dan basa-basi yang tidak berfaedah sama sekali hingga larut malam. Tentu ini sangat berdampak pada proses akademik seseorang karena fokus utama seharusnya pada belajar, tetapi malah teralihkan pada pasangan.

Pacaran juga merupakan pemborosan keuangan,karena setiap hari mereka harus mengeluarkan uang untuk jajan dan jalan serta nongkrong disana sini yang tidak bermanfaat. Ironisnya, ketika pacaran telah mencapai tingkat akut maka mereka merasa bahwa sudah menjadi satu kesatuan dan tidak ada lagi hal yang patut disembunyikan,bahkan kehormatan masing-masing. Mencermati fenomena ahir-ahir ini banyak sekali anak yang berpacaran hamil dluar nikah,karena mereka berasumsi tidak ada yang harus disembunyikan dan apapun yang mereka miliki menjadi milik berdua dan berhak menikmatinya secara bersama.Secara tidak sadar hal itu mayoritas pernah dilakukan oleh orang-orang yang menjalin hubungan asmara. Buntut panjang dari perilaku tiidak senonoh yang merka lakukan ialah rusaknya masa depan masing-masing pihak, cita-cita yang mulia untuk membahagiakan ayah dan bunda pupus diterjang ganasnya asmara yang belum saatnya.

Terlepas hilangnya masa depan,orang tua juga harus menanggung beban moral malu atas tindakan anaknya yang memprihatinkan.Anak itu mengemban misi mendem jero mikul duwur drajat orang tua,justru malah membuat orang tua malu.Beban sikis dan psikologis tentu siap menyambut dalam kehidupan mereka.Bagaimana tidak,mereka mau tidak mau harus dinikahkan saat masih muda.Mereka akan dihadapkan pada problematika sosial yang kompleks. Misalnya aspek finansial, sang lelaki harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan anak dan istrinya,memenuhi sandang pangan dan papan dan itupun tidak mudah. Kemudian dari pada itu, pemenuhan kebutuhan primer dalam keluarga yang tidak bisa dipenuhi, maka aji mumpung digunakan untuk meyelesaikan masalah tersebut yaitu dengan mencuri. Dengan mencuri maka tingkat kriminalitas tinggi yang disebabkan oleh lapangan pengangguran yang sedikit dan ditambah lagi minimnya keterampilan. Problematika sosial selanjutnya yang siap menyambuti di depan ialah stunting pada anak.

Pemenuhan kebutuhan gizi dan nutrisi yang tidak seimbang bahkan kurang,akan mempengaruhi tumbuh kembag pada anak. Stunting di Indnesia masih tinggi dan mejadi perhatian khusus bagi pemerintah untuk menurunkan hal ini,mengingat negara sangat dirugikan atas hal tersebut. Selanjutnya, pendidikan merupakan aspek krusial yang menjadi hal penting yang wajib disorot, pasalnya orang-orang yang ekonomi kelas bawah dalam pemenuhan pendidikan banyak yang terkendala karena mahalnya biaya pendidikan. Alhasil mereka lebih memilih untuk tidak sekolah dan bekerja apa adanya.Padahal diera digitalisasi revolusi industri 4;0, orang dituntut dalam pengetahuan dan keterampilan. Akibat dari putusnya sekolah anak, maka kedepan akan menjadikan masalah baru yaitu kemisinan. Disisi lain pemerintah fokus untuk menurunkan kemiskinan justru kita sebagai generasi milenial yang digadang-gadang sebagai generasi promotor dan eksekutor setiap problematika justru malah ikut menciptakan masalah tersebut.

Sebagai generasi milenial sudah sepatutnya membangun diri dengan memeperkaya ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk bekal masa depan dan berkontribusi untuk negeri.Kita tidak bisa memungkiri bahwa kedepan tantangan baik kehidupan maupun kebangsaan akan semakin kompleks. Ekonomi, politik, sosial budaya,teknologi akan berkembang pesat dan tidak bisa dibendung,maka kita yang harus berasimilasi dengan hal tersebut. Kita tahu bahwa telah lama indonesia telah memasuki suatu masa krusial dalam pengembangan sumber daya manusia.Era itu disebut era revolusi industri 4:0, era ini banyak sekali pekerjaaan manusia yang digantikan oleh robot. Jika moral kita sebaga generasi milenial rusak maka bagaimana kita sebagai generasi milenial bisa berkontribusi untuk negeri?. Indonesia adalah bangsa besar yang membutuhkan kontribusi generasi milenial dalam pemerintahan beberapa tahun ke depan,yang lebih terpenting ialah kita harus menjaga moral kita dalam dunia nyata maupun dunia maya. Tunjukkan uswah-usah yang hasanah sebagai media untuk berdakwah,karena sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang berakhlakul karimah.

*Penulis Alumni MAN 3 Banyuwangi di Srono Tahun 2020

Tinggalkan Sekolah Sebelum Terlambat

 Tinggalkan Sekolah Sebelum Terlambat

Oleh : Syafaat


"Saat ini, Indonesia sedang memasuki era di mana gelar tidak menjamin kompetensi. Kita memasuki era di mana kelulusan tidak menjamin kesiapan berkarya, akreditasi tidak menjamin mutu, kita memasuki era dimana masuk kelas tidak menjamin belajar," pernyataan Mendikbud Nadiem Makarim saat memberikan sambutan di acara serah terima Rektor Universitas Indonesia di Depok, Rabu (4/12/2019). Menjadi pembicaraan dikalangan akademisi. Pro dan kontra terhadap pernyataan tersebut terus bergulir berbanding dengan kebijakan Pemerintah dibidang pendidikan yang berpacu, mengejar, melawan dan berdamai ditengah pandemic covid-19.

Judul tulisan ini saya ambil dari sebuah buku karangan James Marcus Bach dengan judul lengkap "Tinggalkan Sekolah Sebelum Terlambat: Belajar Cerdas Mandiri dan Meraih Sukses dengan Metode Bajak Laut". Demikian metafora yang digunakan untuk mendeskripsikan aktifitas pembelajaran yang di dominasi dengan pemikiran heuristiknya yang liar, tanpa terkungkung dalam kurikulum. Yang mungkin saat ini dengan istilah yang didengungkan secara berbeda dengan istilah merdeka belajar.

Dalam bukunya tersebut James Marcus Bach menyampaikan bahwa ibarat sebuah perahu bajak laut yang berlayar bebas ditengah lautan tanpa tujuan dimana akan berlabuh, karena pelabuhan bukan satu satunya tujuan dari pelayaran. Bach menulis dalam bukunya: “Saya meninggalkan sekolah menengah karena bangku sekolah tidak membantu saya. Saya merasa bahwa saya membuang waktu. Jadi saya mengembangkan sebuah pendekatan sendiri terhadap pembelajaran. Saya belajar memprogram komputer. Dan Bach sukses menduduki jabatan bergengsi diperusahaan raksasa apel computer.

Tidak sedikit orang sukses yang tidak mempunyai gelar sarjana, bahkan pada periode pertama menjabat, Presiden Joko Widodo juga mempercayakan jabatan salah seorang menteri dari orang yang drop out dari pendidikan SMA, namuun sukses sebagai seorang pengusaha yang dimulainya dari nol, karena mengangap bahwa pendidikan yang saat itu digelutinya hanya akan berkutat pada sebuah teori, sedang yang diinginkannya adalah praktek nyata, dan itu didapatkannya ketika beliau mulai menjalankan usaha dibidang perikanan dri hasil laut yang membawanya sukses hingga dipercaya mengemban tugas sebagai nahkoda pada Kementerian Perikanan dan Kelautan.

Program merdeka belajar merupakan program kebijakan baru Pemerintah yang dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Indonesia Maju, esensi kemerdekaan berfikir harus dimulai dri guru, sebelum mengajarkannya pada siswa. Dalam kompetensi guru di level apapun, tanpa ada proses penerjemahan dari kompetensi dasar dn kurikulum yang ada, maka tidak akan pernah ada pembelajaran yang terjadi.

Setiap kita bertanggung jawab atas pikiran kita sendiri, dengan demikian pembelajaran adalah tanggung jawab pribadi, dan bukan merupakan tanggung jawab sekolah. Penjejalan berbagai materi pembelajaran yang tidak kontekstual dengan target nilai (menurut Bach) telah mereduksi esensi pembelajaran itu sendiri dalam kaitannya dengan pemecahan masalah dikehidupan nyata. Pembelajaran mandiri sangat membantu untuk membaca dan memahami dalam pemecahan masalah, pengembangan ide dab gagasan dengan menggunakan imajinasi liar sebagaimana bajak laut yang tidak terkungkung pada aturan bahkan target mencapai pelabuhan tertentu. Merdeka belajar meskipun masih dalam koridor kurikulum, namun memberikan ruang yang lebih luas bagi pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM). Pembelajaran tidak hanya dapat dilakukan dengan kegiatan tatap muka di bangsu sekolah dengan aturan aturan tertentu, namun juga dapat dilakukan dilar sekolah maupun classroom online.

Covid-19 benar benar memaksa anak anak meninggalkan bangku sekolah, beberapa diantaranya sukses mengembangkan bakat dalam menuangkan ide dan gagasan dalam bentuk karya tulis sebagaimana kelompok Jurnalis Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Banyuwangi. Keterbatasan sarana bukan satu satunya penghalang untuk berkarya. Terbukti ada beberapa siswa yang tidak mempunyai Laptop, namun mampu menuangkan ide ide cemerlang di harian Radar Banyuwangi. Para siswa ini menuliskannya dalam fasilitas Note & memo dan kemudian meminta bantuan mentor pembimbing memindahkan kedalam bentuk Word maupun Rich Text Format (RTF).  Meskipun pada awalnya mereka juga kesulitan untuk mengirimkan berkas RTF dengan email melalui androidnya hingga terkirim 7 kali, namun pada akhirnya mereka menikmati.

Waktu pembelajaran secara daring yang dilakukan hanya beberapa jam membuat anak anak semakin banyak waktu untuk mengembangkan kemampuan sesuai dengan bakatnya. Hal ini membuat anak anak yang benar benar ingin belajar memanfaatkan waktu tersebut dengan memanfaatkan tehnologi, terlebih dengan adanya classroom online yang memungkinkan seorang siswa dengan cepat berpindah ruang maupun mengikuti pembelajaran dari classroom yang berbeda.

Imajinasi liar dalam dunia maya bukan hanya hunting pengetahuan dan pembelajaran,  bisa jadi mereka terjebak pada conten negative maupun permainan games yang tidak terkendali. Hal inilah yang sering dikhawatirkan sebagaimana perahu yang berlajar dan terjebak pada gelombang pusaran air, mereka belum tentu mampu menjadi nahkoda atas pikirannya sendiri. Dunia digital dari satu sisi memudahkan semua urusan, namun pada sisi lain juga dapat dimanfaatkan untuk tujuan negative yang merugikan.

Pegembangan pengetahuan secara mandiri sangat perlu dilakukan, namun seakan kita masih terjebat dengan formalitas ijazah dan gelar akademis. Dan hal ini tidaklah mudah untuk dilakukan perubahan dengan mengingat aturan yang diterapkan masih mewajibkan, karena secara umum lebih mudah menilai kemampuan seseorang dri ijazah dan gelar akademik daripada melakukan uji kompetensi tersendiri. Meskipun pada akhirnya kemampuan mandiri tanpa terjebak dalam gelar akademis yang lebih menentukan dalam pengembangan diri dalam meraih kesuksesan.


Penulis adalah ASN pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi.


<script data-ad-client="ca-pub-3419811707585229" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>



PEMBIASAAN KARAKTER VIA DARING DENGAN THREE GOOD WORD

PEMBIASAAN KARAKTER VIA DARING DENGAN THREE GOOD WORD

Oleh: Laeli Sigit

Pembelajaran daring/on line di masa New Normal ini merupakan tantangan tersendiri bagi guru, siswa, dan orang tua milenial. Bagaimana tidak, Kegiatan Belajar Mengajar yang seyogyanya melalui tatap muka langsung di kelas harus dirubah dengan pembiasaan baru yaitu dengan pembelajaran jarak jauh. Konsekuensinya siswa harus belajar mandiri di rumah, pembiasaan orang tua untuk mengontrol, mengawasi, mendampingi putra/ putrinya ketika belajar di rumah, dan bahkan memfasilitasi putra putrinya dengan biaya dan sarana yang lebih dari biasa untuk bisa mengikuti pelajaran dengan baik dari rumah.  Demikian juga guru yang dianggap sebagai ujung tombak untuk mengarahkan siswa- siswinya belajar di rumah dengan terpaut jarak. Ini adalah tantangan tersendiri.

Memang segala sesuatunya berpulang pada ketiga komponen tersebut baik siswa, guru maupun orang tua. Bisa saja sih salah satu, atau dua komponen tersebut kurang care, sehingga  efektifitas pembelajaran daring tidak tercapai. Jadi ketiga komponen tersebut harus saling menyadari bahwa keberhasilan siswa/ anak  dalam belajar diperlukan kekompakan ketiga komponen dengan win win solution.

Guru sebagai pengajar sekaligus pendidik dengan pembelajaran online ini memperoleh tantangan tersendiri. Sebagai pengajar guru dituntut secara administrasi terhadap pelaksanaannya dan implementasi tanggungjawab moral guru secara hakiki adalah bagaimana siswa dalam mengikuti pelajaran on line ini berproses. Dalam arti berproses untuk belajar  yaitu dimana yang tadinya siswa tidak tahu menjadi tahu, yang sudah tahu menjadi lebih paham, dan yang sudah paham akan lebih bisa mengerjakan/ menyelesaikan dengan baik dan benar dalam waktu singkat.

Guru sebagai pengajar dengan komitmen yang tinggi untuk bisa membawa siswa -siswinya berproses dalam belajar. Jadi dalam proses pembelajaran online pun tetap mengedepankan roh/ jiwa dari kegiatan belajar mengajar dengan gold setting pada berprosesnya,  bukan fokus pada hasil. Karena hasil merupakan efek  linearitas dari sebuah proses atau saya katakan bonus/ reward dari sebuah proses pembelajaran. Guru dituntut untuk melek teknologi dan dipacu untuk belajar meningkatkan kemampuan diri. Baik dalam hal membuat media pembelajaran berbasis teknologi, belajar menyampaikan pembelajaran yang efisien (biaya) dan efektif ( ketercapaian tujuan) tanpa terkendala jarak dengan  tetap memperhatikan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan dengan esensi pemahaman isi/ konten dari sebuah materi pembelajaran.

Sedangkan  tantangan guru sebagai pendidik, ini lebih luas lagi karena profesi guru itu tidak mengikat dalam hal formal saja. Seperti dalam budaya Jawa ada akronim/ tembung kerata basa untuk kata “guru” adalah digugu lan ditiru. Artinya apa bahwa nota bene guru sebagai profesi yang dalam status kemasyarakatannya dituntut 24 jam untuk menjadi tauladan yang baik bagi masyarakat di lingkungannya. Sehingga apapun polah tingkah, tutur katanya menjadi sorotan atau bahkan center of interest bagi masyarakat sekitar. Nah disitulah tanggungjawab moral seorang yang berprofesi guru dibanding profesi yang lainnya.

Demikian juga dalam proses pembelajaran di rumah/ daring, titik sentral yang tidak kalah penting yaitu guru sebagai pendidik. Ini hal yang menarik, bagi saya ini adalah roh dari sebuah pembelajaran atau bahkan pendidikan formal sekalipun. Dalam bahasa tatanan formal dinamakan hidden curriculum. Dimana hidden curriculum di masa yang akan datang, bagi  siswa/ anak akan mampu memberikan nuansa penyesuaian diri yang berdampak pada pengambilan keputusan terbaik dari berbagai alternatif pilihan yang baik. Bahkan menjadi core of life skill bagi anak di masa yang akan datang. Walaupun kadang hidden curriculum dalam teorinya hanya sebagai pelengkap atau penyempurna kurikulum formal atau hal yang saling melengkapi antara keduanya.

Bagaimana pembiasaan karakter via daring dengan three good word? Yaitu pembelajaran daring dalam komunikasinya senantiasa menggunakan kata “tolong, terima kasih, dan maaf. Pembelajaran daring memang tidak boleh lepas dari pembentukan karakter, walaupun seakan tidak mungkin karena tidak langsung dan terpaut jarak. Karakter dalam pembelajaran daring harus tetap ada. Komunikasi antara guru dan siswa baik via lisan maupun tulisan melalui whatsapp, video, telepon, media radio, media TV, handy talkie dan lain-lain dilakukan dengan membiasakan dengan kata tolong, maaf, maaf dan terima kasih.

Ketiga kata tersebut memang sering kita dengar dan familiar di telinga kita, akan tetapi kadang karena alasan tertentu kata-kata tersebut terlewatkan begitu saja. Kemungkinan masih merasa canggung untuk mengatakan karena belum terbiasa, enggan, atau tidak mau atau bahkan tidak tahu. Dalam komunikasi pembelajaran daring juga perlu pembiasaan menggunakan kata- kata tersebut dalam rangka mendekatkan hubungan antara guru dan siswa, mencairkan kekakuan pembelajaran sehingga siswa ketika menerima pelajaran tetep enjoy  sehingga dalam memahami pembelajaran akan lebih mudah dan paham.

Ketika guru menyuruh siswa hendaknya guru mengawali dengan kata “ tolong “ . Karena ketika guru mengawalinya dengan tanpa kata tolong, kalimat yang diucapkan akan terdengar seperti perintah dan tak sadar akan bisa menyinggung perasaan. Misalkan “Tolong buka materi dan tugas di file power point yang ibu share ini serta perhatikan petunjuk cara pengiriman tugas dan penilaiannya!”. Dengan kata “ tolong” maka siswa yang disuruh untuk membuka materi tersebut tentunya akan dengan senang hati membuka materi tersebut ( minimal sungkan untuk tidak membuka materi), dan tanpa ada keterpaksaan karena siswa merasa dihargai sebagai pribadi yang utuh ( kalau dalam bahasa jawanya “ diuwongke”). Selain itu guru akan memberikan kata “ terima kasih “ dan “ maaf”  ketika siswa telah mengirim tugas ke guru. Misal , “Terima kasih tugas kamu sudah ibu terima, dan maaf masih nunggu antrian koreksi, mohon sabar ya….”.

Dengan guru senantiasa legowo untuk membiasakan 3 kata tersebut dalam berkomunikasi secara daring kepada siswa secara tertulis sekalipun, otomatis guru memberikan contoh langsung kepada siswa. Ketika menyuruh siswa dengan kata tolong sebelum kata perintah yang lain, meminta maaf jika guru memang kebetulan salah. Misal ada kesalahan cetak ataupun salah penjelasan dalam materi daring, maka dengan kerendahan hati seorang guru harus berani minta maaf kepada siswanya. Atau bahkan memberikan kata terima kasih pada siswanya ketika siswa memberi masukan yang sifatnya membangun pada guru. Sehingga dengan pembiasaan/ membudayakan menggunakan kata tolong, terima kasih, dan maaf, harapannya siswa akan mencontoh dan membiasakan diri untuk mengatakan 3 kata tersebut dalam komunikasi pembelajaran daring. Sebagai contoh, Siswa : “ Maaf Bu,  transaksi tanggal 6 itu belum dikurangi ya bu?” Misal ada chat wa seperti ini dari siswa, kita sebagai guru harus  tanggap dan segera melihat/ cek kembali  materi yang sudah kita layangkan via wa tersebut. Ketika memang benar seperti yang dikatakan siswa, maka guru segera meralat dan menyampaikan penjelasannya kembali sesuai ralat tersebut. Dan guru segera chat seketika itu juga, menyampaikan kata , “ Iya betul, maaf belum mengurangkan dan terima kasih atas masukannya” “ ini ralatnya sudah ibu share kembali. Terima kasih”. Jika perlu menggunakan emoji sebagai ganti ekspresi kita ketika minta maaf dan terima kasih seperti ketika kita bertatap muka langsung/  face to face. Hal ini bertujuan untuk menyangatkan tujuan bahwa kita bersungguh-sungguh menuliskan kata minta maaf dan terima kasih dengan penuh ikhlas seperti ketika berkomunikasi langsung. Dan akan lebih memberikan penghargaan lagi ketika kita sebagai guru menyempatkan untuk telepon balik ke siswa, sehingga siswa akan bangga dan attitude nya akan muncul/ naik karena dia bisa dan mendapat pengakuan/ penghargaan  dari guru. Jadi sebuah penghargaan tidak harus dengan materi ataupun sebuah penilaian. Guru juga tidak perlu khawatir yang berlebihan pada anak/ siswa akan “ nglunjak” atau tidak menghargai guru. Dengan siswa merasa harga dirinya naik maka untuk memunculkan lagi lebih gampang ketika siswa tersebut sedang bad mood dalam belajar.

 Hal-hal sederhana seperti inilah yang harus dibiasakan oleh guru sehingga akan ditiru oleh siswanya, dan dengan komunikasi yang lebih intens siswa akan membiasakan dengan kata tolong, maaf, dan terima kasih dalam forum komunikasi pembelajaran daring dengan guru, maupun dengan sesama teman. Harapannya ketika di luar daring akan lebih mengaplikasikannya dengan baik dengan sesama teman, guru, bahkan orang lain. Dengan membudayakan 3 kata ini siswa secara lisan/ tulisan diharapkan mampu membawa sikap, tindakannya itu mengiringi ucapannya. Sehingga menjadi efek positif  berantai yang akan melebarkan sayap ke kata-kata dan  tindakan positif dan arif yang lain.

Kata maaf guru tidak hanya sampai disitu saja, guru harus mengikhlaskan segala bentuk kiriman tugas baik yang salah kirim tidak sesuai petunjuk karena keterbatasan siswa dalam hal sarana pendukung yang ada ( misal harusnya via email , siswa kirim via wa karena tidak mempunyai laptop, membedakan penilaian dengan latar pengetahuan yang tidak sama ( karena dalam pembelajaran ada sebagian yang di tingkat kelas sebelumnya sudah dapat materi tersebut, dan ada yang belum (*maaf saya guru yang suka curi start materi) sehingga guru harus bisa memberikan penilaian sesuai based anak memulai. Atau katakanlah secara umum bahwa guru harus “narima” atas kebisaan atau bahkan ketidakbisaan siswa karena tingkat pemahaman dan latar belakang siswa berbeda-beda. Nah ini nanti sebagai umpan balik untuk introspeksi dan memperbaiki diri sebagai ranah evaluasi untuk bisa mengefektifkan pembelajaran baik cara penyampaian, media, bahkan cara berkomunikasi.

Demikian juga harus selalu positif thinking dan memberikan permakluman ketika siswa mengirim tugas terlambat ketika memang siswa memberikan alasan yang tepat, dan  siswa sudah mengawalinya dengan kata “maaf”.

Dengan penggunaan kata “ tolong” dalam pembelajaran daring/ online mampu membentuk karakter siswa menjadi lebih sopan, lebih menghargai, rendah hati, dan tidak semena-mena. Dan dengan membiasakan kata “terima kasih” mengajarkan siswa arti rasa bersyukur, sedangkan kata “maaf” akan mengajarkan keberanian siswa untuk mengakui kesalahan, mengajarkan sikap untuk memiliki rasa tanggungjawab terhadap kesalahan yang telah diperbuat dan tidak akan melakukannya kembali, mengajarkan empati dan tidak menyakiti perasaan orang lain. Kata maaf bukan berarti mengakui kekalahan ataupun kelemahan.

Sehingga komunikasi dua arah yang baik antara siswa dan guru di pembelajaran daring dengan membiasakan three good word yaitu tolong, terima kasih, dan maaf, diharapkan antara guru dan siswa bisa saling menghargai  sehingga efektifitas pembelajaran daring tercapai. Bahkan akan  memberikan nilai positif bagi pengembangan karakter siswa (karena terinternalisai dalam diri siswa) sehingga berdaya saing tinggi dalam era milenial yang kompetitif ini.

            Guru sebagai pengajar dan pendidik mampu menerima siswa layaknya air, menerima air apapun bentuknya dengan memberikan penguatan atas kelebihannya dan selalu memberikan pembiasaan muatan positif atas segala kekurangannya. Dalam kamus guru,  guru tidak pernah bosan dan tidak punya batas kesabaran untuk mengarahkan, membimbing, mendampingi siswa-siswinya  dengan cara bijak dan arif untuk pembentukan sikap  ( attitude ) dan karakter sehingga menjadi pribadi-pribadi yang hebat dan membentuk generasi mileneal yang kokoh kuat yang berdaya bersaing bersinergi dengan sains dan teknologi.

Guru MAN 2 Banyuwangi di Genteng


Apa Arti “New Normal” pada masa pandemi COVID-19

 

Apa Arti “New Normal” pada masa pandemi COVID-19

                (Oleh BITHARI NOVI AGUSTIN)

            Memasuki kehidupan “New Normal” bukanlah hal yang mudah. Ternyata, masih banyak yang belum memahami arti “New Normal” pada masa pandemi ini. Terlalu banyak yang menyepelekan protokol kesehatan. Mereka belum begitu memahami fungsi dari menggunakan masker,menjaga jarak,mencuci tangan,dll. Masih banyak yang belum mengerti mengapa kita tidak boleh sering kali menyentuh wajah sebelum mencuci tangan.

         Perlu diketahui, istilah “New Normal” atau normal baru sudah digunakan setelah krisis keuangan 2007-2008,setelah resesi global 2008-2012,dan pandemi COVID-19 sekarang ini. Dan pastinya, New Normal ini dilakukan dengan normal yang berbeda-beda. Dan untuk kasus pandemi COVID-19 ini, sebenarnya normal baru hanya berinti pada protokol kesehatan. Beradaptasi dengan normal yang baru ini memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak pula pro dan kontra dari berbagai sudut pandang. Namun, berusaha untuk mengurangi penyebaran virus ini merupakan kewajiban semua orang tanpa terkecuali.

         Kenapa sih kita tidak boleh sering kali menyentuh wajah? Terutama mata, hidung,dan mulut?. Alasannya adalah, virus tidaklah mustahil berada di sekitar anda. Jika virus tersebut menempel pada mata,hidung,dan mulut, kemungkinan besar anda dapat terinfeksi virus tersebut. Maka dari itulah mengapa pemerintah mewajibkan kita memakai masker, sering mencuci tangan, menjaga jarak, dan yang terpenting adalah tidak menyentuh mata, hidung, dan mulut.

          Mari kita cermati, bahwa kasus yang didapatkan pada akhir-akhir ini sangat signifikan terutama konfirmasi positif tanpa gejala. Ini dimaknai bahwa bisa mengurangi angka hunian rumah sakit, namun ini menjadi kewaspadaan untuk kita bahwa mereka harus melaksanakan isolasi di rumah secara ketat. Kalau tidak, maka akan menjadi sumber penularan ditengah-tengah kita.

          Kemudian identifikasi selanjutnya dari penambahan kasus ini ternyata banyak yang terjadi di lingkungan kerja dengan kualitas udara yang tidak bagus. Ruang kerja tanpa sirkulasi udara dengan lancar yang hanya mengandalkan sistem pendingin udara dengan sirkulasi udara yang berputar dilingkungan itu, dan kemudian juga kurang disiplin menjaga jarak dan menganggap bahwa karena berada dilingkungan teman kerja yang sudah akrab menggunakan masker pun dianggap tidak perlu. Ingat, selalu gunakan masker di luar rumah. Satu-satunya tempat aman untuk kita saat ini hanya di rumah, sekali pun berada di kantor dengan orang-orang yang sudah biasa kita temui harus tetap kita ingat bahwa mereka berasal dari lingkungan dan resiko yang berbeda dengan kita. Oleh sebab itu tetap gunakan masker sekalipun berada di kantor.

          Pilihlah masker yang nyaman, yang membuat kita tetap bisa bertahan menggunakan masker dengan cara yang benar dalam waktu yang lama. Masker yang terlalu ketat membuat kita tidak nyaman, dan inilah yang menyebabkan penggunaan masker tidak digunakan semestinya. Banyak kita lihat masker hanya diturunkan menutup mulut tidak menutup hidung. Bahkan ada juga masker yang hanya digunakan menutup dagu dan tidak menutup hidung dan mulut. Kondisi ini sebenarnya sangat tidak menguntungkan, ini sama saja tidak menggunakan masker. Artinya, kemungkinan penularan masih tetap terjadi. Lalu menggunakan makser,melepas masker, kemudian tidak menyimpan dengan baik. Sering kali kita menyentuh bagian luar masker kemudian menyentuh hidung, menyentuh mulut. Ini sama dengan menghantarkan penyakit ke dalam saluran pernapasan kita.

        Kemudian tentang penularan yang terjadi di fasilitas umum. Kita tahu bahwa sebagian besar masyarakat kita dari saudara-saudara kita yang bekerja pada saatnya jam makan siang tentunya akan meninggalkan tempat kerja untuk makan siang. Nah, makan siang ini kita sering kali lupa bahwa protokol kesehatan harus lebih ketat dilaksanakan. Mengapa? Karena pada saat itulah kita melepas masker untuk makan. Oleh karena itu menjaga jarak, menjamin bahwa lingkungan tempat kita makan itu memiliki sirkulasi udara yang cukup baik ini menjadi penting. Saya menyarankan membawa alat makan sendiri-sendiri setidaknya agar kita bisa meyakini bahwa kita bisa makan dengan kondisi yang tenang. Menjaga jarak, dan upayakan tidak ada pembicaraan sama sekali selama kita masih makan bersama orang lain di tempat makan. Ini penting, agar ini tidak menambah resiko penyebaran penyakit. Kita kadang-kadang tidak pernah tahu, kita di tempat makan itu dengan siapa, bersama orang dari asal mana kita juga tidak tahu. Oleh karena itu makan, tidak berbicara, segera selesaikan dan segera tinggalkan tempat itu. Ini sesuatu yang baru, karena biasanya di tempat makan itulah kita bisa bertemu dengan banyak orang, ngobrol berkepanjangan dengan seseorang yang saling dekat, saling akrab. Inilah yang harus kita rubah, inilah yang disebut adaptasi kebiasaan yang baru.

        Kemudian berikutnya yang juga memiliki peluang besar untuk terjadinya penularan adalah public transportation, di sarana angkut umum. Bisa di kereta, bisa di bus, ataupun di dalam angkutan kota. Upayakan untuk tidak melakukan pembicaraan apa pun. Tetap gunakan masker, dan hindari kemungkinan untuk menempatkan posisi berhadapan pada jarak yang kurang dari 1 meter. Ini menjadi penting, kita harus mampu menjaga diri kita agar tetap sehat. Karena jika kita sehat kita produktif, dan jika kita sakit kita tidak akan pernah bisa produktif. Oleh karena itu ini penting, dan ingat, aktifitas apapun diluar rumah jangan sampai membawa penyakit ke rumah. Karena di rumah ada anggota keluarga kita yang rentan untuk menjadi sakit,orang tua kita yang sudah lanjut usia, anak-anak kita yang masih balita, mereka bisa menjadi korban dari penyakit yang tidak kita sadari telah kita bawa dari tempat kita beraktivitas.

        Mudah-mudahan ini bisa dipahami, karena ini merupakan bentuk dan upaya kita untuk mengurangi sebaran COVID-19 ini. Saudara-saudara, mari kita tetap laksanakan ini dengan baik, karena COVID-19 ini masih ada masih mengancam kita semua,siapa saja, dan di mana saja. Dalam penerapan New Normal ini kita dibiasakan untuk menjalani hidup normal yang “berdampingan” dengan COVID-19. Untuk itu, kita semua harus ekstra hati-hati dalam beraktivitas. Ingat, “virus mematikan berada di sekitarmu dan siap mengancam nyawamu”.

Penulis oleh siswi X1 MIPA MAN 3 BANYUWANGI


 

 

 

Belajar online tidak merusak otak

 Belajar online tidak merusak otak

                                         Oleh : Bithari Novi Agustin

Sampai saat ini, dunia pendidikan telah diributkan oleh penerapan belajar secara online akibat pandemi virus Covid-19 sejak beberapa bulan lalu. Akibat Covid-19 meluas di Indonesia, pemerintah menerapkan kebijakan belajar daring atau online menggunakan gadget masing-masing. Hal ini tentu tidak langsung disetujui oleh berbagai kalangan. Rupanya, warga negara berkembang ini yaitu Indonesia banyak yang masih belum beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Hal ini berdampak pada aktivitas para pelajar di Indonesia. Dengan kelengkapan teknologi yang belum memadai, aktivitas belajar menjadi terhambat dan terganggu.

      Tidak dapat dipungkiri aktivitas belajar mandiri di rumah, yang artinya para pelajar tidak terfasilitasi seperti biasanya, mereka tidak lagi berinteraksi secara langsung dengan guru atau teman-temannya meskipun masih bisa berkomunikasi secara online. Juga masih banyak yang merasa bahwa belajar mandiri ini kurang efektif, malah merusak otak karena terus memandang layar gagdet, bikin pusing karena pelajaran menghitung yang rumusnya tak tersampaikan dengan baik, dll. Dan apa kabar untuk pelajar anti belajar?. Tentu saja belajar tanpa bertatap muka malah membuat mereka terbebas dari aturan, mereka malah menjadikan ini sebagai kesempatan untuk bermalas-malasan di rumah. Apalagi jika orang tua tak begitu memperhatikan perkembangan anaknya, karena orang tua lah peran penting bagi anak.

     Sering pula terjadi terlalu lama memandang layar HP membuat kita pusing, ini juga berbahaya, bisa berakibat fatal jika terlalu sering memainkan gadget. Ini pun tergantung kepada pelajar itu sendiri, apakah mereka dapat mengatur waktu atau tidak. Mungkin aktifitas yang tidak terlalu penting bisa dikurangi dalam bersosial media, seperti kebiasaan game berjam-jam yang sebaiknya dikurangi untuk lebih fokus ke pelajaran. Karena jika pagi saja kalian sudah diwajibkan membuka HP sampai pelajaran selesai (biasanya menjelang Dzuhur), dan waktu selesai pelajaran kalian gunakan dengan bermain game sampai petang, lalu kapan otak anda akan beristirahat?. Kalian rela dipuaskan dengan kesenangan yang merugikan, jangan biarkan itu terjadi. Nah, sebenarnya hal itulah yang menyebabkan penggunaan gadget dapat merusak otak, bukan karena belajarnya, karena belajar online sendiri tidak dituntut untuk satu hari penuh.

     Lalu apakah belajar online atau mandiri memberikan dampak positif?. Tentu saja pendapat setiap individu berbeda-beda. Sebenarnya, keluh kesah belajar ini terjadi karena mereka (para pelajar) tidak terbiasa melakukan aktivitas tersebut. Oleh karena itu dukungan guru sangat lah penting, contohnya sederhana saja, suasana yang baik dalam pembelajaran juga sangat mempengaruhi aktivitas belajar, aktivitas belajar yang terlalu monoton dan terlalu serius menyebabkan para pelajar tidak nyaman yang tentunya menyebabkan rasa malas berinteraksi. Guru tidak hanya memberikan tugas saja, tapi beliau juga sebagai motivasi para pelajar untuk lebih giat dan rajin meskipun harus mendekam dalam isolasi.

     Selain tidak terbiasa, yang membuat para pelajar tidak aktif dalam proses pembelajaran juga diakibatkan oleh gaya hidup. Mungkin masih banyak yang mengira selama ini belum mengenal teknologi seperti Handphone. Masalah tersebut juga memiliki alasan yang berbeda-beda, banyak yang mengira jika HP hanya memiliki dampak negatif sehingga orang tua mereka tidak mengijinkan untuk memegang HP. Ada pula untuk mereka yang berekonomi pas-pasan, yang belum mampu membeli teknologi milenial ini sehingga mau tidak mau mereka harus tertinggal dalam pembelajaran. Ada pula yang bermasalah dengan sinyal dan paket data, diberbagai wilayah memiliki kecepatan sinyal yang berbeda. Apalagi didaerah pelosok mungkin sinyal memang sulit dijangkau. Mau apa pun masalahnya, pasti ada solusinya. Pasti ada kebijakan tersendiri dari pihak sekolah. Jadi tetap tenang, tetap percaya diri.

    Belajar tidak harus mencatat, tapi belajar harus paham. Paham akan apa yang dijelaskan dalam materi tersebut. Jika anda masih belum memahami materi, gurumu pasti akan membantu sampai kamu paham, sampai kamu mampu menjelaskan isi materi tersebut. Dan tingkat pemahaman masing-masing pelajar tentunya berbeda-beda. Ada yang sekali diberikan contoh langsung paham, ada pula yang masih berpikir. Jika kamu tetap masih belum memahami materi, jangan menyerah begitu saja. Bunga bermekaran tidak dalam waktu yang sama, prosesmu dengan proses orang lain berbeda. Tapi perlu diingat, usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil. Jika kamu bersungguh-sungguh, pasti kamu akan sukses dikemudian hari.

     Lalu bagaimana jika tidak menerapkan pembelajaran online dan tetap melaksanakan belajar tatap muka di tengah pandemi?. Oke, rupanya mereka sangat tertinggal informasi. Di Indonesia peningkatan Covid-19 ini selalu naik, meskipun sekarang sudah banyak konfirmasi sembuh daripada konfirmasi meninggal. Tetapi, Covid-19 masih berada ditengah-tengah kita. Bahkan beberapa hari lalu konfirmasi positif sudah mencapai 100.000 dalam sehari. Wow, ini sangat mengejutkan. Apakah anda masih bertanya tentang larangan belajar tatap muka ini?. Tentu saja dengan belajar tatap muka otomatis kita telah membuat kerumunan. Dan jika itu terjadi, maka resiko anda terkena virus sangat besar. Meskipun sudah menerapkan protokol kesehatan, namun kita tetaplah manusia tak luput dari kelalaian. Bagaimana jika tiba-tiba tidak sengaja ada satu saja protokol kesehatan yang tidak dilakukan, penularan ini semakin mudah.

    Saudara-saudaraku, dengan belajar online kita juga dapat memanfaatkan lebih banyak waktu di rumah bersama keluarga, tidak perlu keluar jalan raya yang penuh debu, bisa mengerjakan tugas dengan saudara, bisa sambil mendengarkan musik dan makan, jadi lebih produktif dengan mengikuti lomba-lomba di dalam rumah saja, dll. Tentunya moment itu tak biasa kita lakukan saat disekolah, itu termasuk pengalaman baru. Jadikan aktivitas belajar di rumah ini senyaman mungkin, mengisolasi bukan berarti kita tak dapat berkutik, tak berlibur ke tempat wisata tak berarti kita tak bahagia. Kebahagiaan tergantung pada penikmatnya, kalau saya sendiri dapat berkumpul dengan keluarga di rumah sudah menjadi kebahagian yang sempurna. Masak di dapur dengan ibu, bergurau dengan adik-adik, bermain alat musik dengan ayah, aktivitas tersebut adalah sebuah hiburan sekaligus membangun kepedulian satu sama lain.

     Semoga dengan adanya isolasi diri ini kita sadar bahwa kita ini adalah makhluk sosial, kita tidak akan bisa hidup tanpa campur tangan orang lain. Kita ini hidup disatu wilayah, di didalam negara yang sama. Meskipun berjajar dengan suku, agama, dan ras yang berbeda-beda, namun tetap memiliki jiwa nasionalisme yang sama, wawasan yang sama, dan tujuan yang sama.

*Siswi X1 MIPA 3, MAN 3 Banyuwangi


 

 

Qurban Berkah di Tengah Wabah

Kementerian Agama RI mengeluarkan panduan penyembelihan hewan qurban di hari raya Idul Adha 2020 atau 1441 H. Selama pandemi Covid-19, pelaksanaan hari raya Idul Adha harus sesuai dengan protokol kesehatan mulai dari Sholat Idul Adha, proses penyembelihan hewan qurban hingga pendistribusian hewan qurban. Diharapkan pelaksanaan ibadah qurban tersebut  tetap dapat memberikan ‘rasa aman’ dengan tidak mengurangi nilai keberkahannya. Panduan itu tercantum dalam Surat Edaran Kementerian Agama Nomor 18 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Shalat Idul Adha dan Penyembelihan Hewan Kurban Tahun 1441 H/2020 M Menuju Masyarakat Produktif dan Aman COVID-19.  Panduan ini wajib diperhatikan oleh semua kalangan masyarakat terlebih daerah yang masuk dalam zona merah Covid-19,  dan diharapkan menjadi petunjuk penerapan protokol kesehatan pada pelaksanaan sholat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban dengan menyesuaikan pelaksanaan tatanan kenormalan baru atau New Normal. Dengan begitu, pelaksanaan sholat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban dapat berjalan optimal serta terjaga dari penularan COVID-19.

Qurban Berkah di Tengah Wabah

BY  :  Unu Masnun

 

Panduan lengkap potong hewan qurban saat Idul Adha 2020 atau 1441 H selama pandemi corona yaitu Penerapan jaga jarak fisik meliputi: 1) Pemotongan hewan qurban dilakukan di area yang memungkinkan penerapan jarak fisik. 2) Penyelenggara mengatur kepadatan di lokasi penyembelihan, hanya dihadiri oleh panitia dan pihak yang berqurban. 3) Pengaturan jarak antar panitia pada saat melakukan pemotongan, pengulitan, pencacahan, dan pengemasan daging.4) Pendistribusian daging hewan qurban dilakukan oleh panitia kerumah mustahik.

Hari raya kurban sebentar lagi. Gaung Idul Adha lamat lamat terbuka. Dimulainya puasa sunnah 1 Dzulhijah, dzikir harian, hingga rencana pelaksanaan shalat Idul Adha,  dan penyembelihan hewan kurban sudah terasa dekat. Di tambah lagi suasana Idul Adha kali ini dipastikan akan berbeda sekali dengan pelaksanaan di tahun tahun sebelumnya. Sudah barang tentu disebabkan Idul Adha kali ini dilaksanakan dalam suasana yang masih remang remang keamanannya karena pandemic masih belum berakhir.

Panduan selanjutnya adalah Penerapan kebersihan alat meliputi: 1) Melakukan pembersihan dan disinfeksi seluruh peralatan sebelum dan sesudah digunakan, serta membersihkan area dan peralatan setelah seluruh prosesi penyembelihan selesai dilaksanakan. 2) Menerapkan sistem satu orang satu alat. Jika pada kondisi tertentu seorang panitia harus menggunakan alat lain maka harus dilakukan disinfeksi sebelum digunakan (Lintasjatim.com)

Penerapan kebersihan personal panitia meliputi: 1) Pemeriksaan kesehatan awal yaitu melakukan pengukuran suhu tubuh di setiap pintu/jalur masuk tempat penyembelihan dengan alat pengukur suhu oleh petugas. 2) Panitia yang berada di area penyembelihan dan penanganan daging, tulang, serta jeroan harus dibedakan. 3) Setiap panitia yang melakukan penyembelihan, pengulitan, pencacahan, pengemasan, dan pendistribusian daging hewan harus menggunakan masker, pakaian lengan panjang, dan sarung tangan selama di area penyembelihan.4) Penyelenggara hendaklah selalu mengedukasi para panitia agar tidak menyentuh mata, hidung, mulut, dan telinga, serta sering mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer. 5) Panitia menghindari berjabat tangan atau kontak langsung serta memperhatikan etika batuk, bersin dan meludah. 6) Panitia yang berada di area penyembelihan harus segera membersihkan diri (mandi) sebelum bertemu anggota keluarga.

Bagi masyarakat Indonesia, Idul Adha tidak hanya dianggap sebagai hari raya umat Islam. Idul Adha menjadi momen spesial, saling berbagi antar-warga. Namun Idul Adha kali ini harus digelar sedikit berbeda karena berlangsung di tengah pandemi Covid-19. Sejumlah daerah pun telah membuat regulasi agar pelaksanaan Idul Adha berlangsung sesuai protokol kesehatan.

Berbagai  Pemerintah Kota diantaranya pemkot Jakarta Utara mengadakan kegiatan sosialisasi penyembelihan hewan kurban di masa pandemi Covid-19 jelang pelaksanaan Idul Adha. Para ulama mendapatkan sosialisasi atau pembekalan tentang penanganan limbah hewan kurban, sesuai fatwa MUI Nomor 36 Tahun 2020 tentang pelaksanaan sholat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban ditengah wabah COVID-19. Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta Darjamuni mengimbau agar warga tidak berkerumun saat pelaksanaan pemotongan hewan kurban dan proses pembagian daging kurban kepada penerima zakat atau mustahiq. Hal ini juga pernah disampaikan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, yang mengimbau agar warga menerapkan protokol kesehatan selama masa tanggap darurat Covid-19.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatur agar salat Idul Adha digelar betul-betul menggunakan protokol kesehatan. Menurutnya, sejumlah wilayahnya sudah ada yang berstatus zona hijau sehingga bisa melaksanakan salat Idul Adha. "Saat ini, beberapa wilayah di Surabaya sudah ada yang zona hijau. Artinya, kita harus menjaga dan terus meningkatkan kedisiplinan. Protokol kesehatan hukumnya wajib tidak bisa ditawar. Kapolda Banten Irjen Fiandar meminta kegiatan ritual ibadah diatur supaya tak menimbulkan kerumunan. Kegiatan harus ditata sesuai protokol kesehatan, terutama terkait jaga jarak. "Tidak ada antrean (Kompas.com). Jika masyarakat nekat, polisi akan melakukan pembubaran demi menekan potensi penyebaran Covid-19. DKI Jakarta menyiapkan sentra kurban Idul Adha di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Cakung.  RPH tersebut menjadi sentra pemotongan hewan kurban yang proses penyembelihan hingga pendistribusiannya dilakukan sesuai protokol Covid-19.

Perencanaan pelaksanaan yang sedemikian di atas tentunya menjadi salah satu jalan untuk  memberikan ‘rasa aman’  dalam beribadah kurban. Diharapkan juga  tidak mengurangi keberkahan ibadah di tengah wabah.

 

Penulis adalah Guru MAN 3 Banyuwangi di Srono


ESTETISNYA KERAMAHTAMAHAN NEGERIKU

ESTETISNYA KERAMAHTAMAHAN NEGERIKU

Penulis : Mila Dewi Partikasari

   Indonesia adalah sosok negara yang sangat hebat. Prahara di masa lalu membuat indonesia menjadi semakin kuat. Merdeka dari kecaman belenggu penjajah pada 17 Agustus 1945 merupakan tonggak awal kebangkitan Indonesia untuk berevolusi menjadi sebuah negara yang tangguh dan mampu menandingi negara-negara lain dari segi potensi yang sangat fantastis, sehingga membuat beberapa jajaran negara mengagumi seluruh keandalan yang dimiliki oleh Negara Zamrud Katulistiwa ini . Tidak heran apabila Indonesia hingga saat ini selalu mengalami progress menuju nation yang bergengsi dengan segala tatanan dan keunggulan spektakulernya. Tak tanggung-tanggung  Indonesia juga menonjolkan kekayaan dan potensi elite yang dimilikinya pada kancah internasional bahkan dunia. Bukan hanya mengedepankan keagungan substansi alam dan infrastrukturnya saja, namun Indonesia juga menjunjung tinggi dan sangat memprioritaskan eminensi dalam beretika, bermoral, berakhlak dan berbudi pekerti yang adiluhung.

    Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang dikenal dengan keramahtamahannya. Dengan hal itulah yang dapat memunculkan eksotisme, kepermaian dan keunikan tersendiri. Pesona yang diciptakan oleh indahnya pola kerukunan ditengah-tengah seluruh warga masyarakat Indonesia sangatlah berharga dan tentunya mengandung sebuah nilai yang positif. Keramahtamahan ini tidak hanya diaplikasikan dengan sesama warga masyarakat Indonesia saja, melainkan juga diterapkan kepada warga negara asing yang berkunjung ke Indonesia. Memang sudah terbukti kebenarannya bahwa orang Indonesia memiliki etika dan moral yang elok terhadap sesamanya. Orang Indonesia sangat erat sekali hubungannya dengan sifat baik hati, sopan, murah senyum, ramah, mudah dalam bergaul dan berinteraksi, tutur kata dan bahasanya juga sangat lemah lembut. Kolaborasi antara perangai komersial tersebut dapat menciptakan sebuah suasana dan kondisi yang kondusif dan menggembirakan. Dengan keramahtamahan tersebut, otomatis akan terciptalah sebuah tebaran senyuman indah antara satu sama lain. Dan senyuman itulah yang menggambarkan kebahagiaan, kegirangan dan keceriaan masyarakat Indonesia. Karena orang Indonesia tahu bahwa dengan menebar senyum antara satu sama lainnya tanpa pandang bulu, baik itu sesama laki-laki, perempuan, tua, muda, kaya,ataupun miskin itu adalah hal yang baik dan sungguh menawan. Karena dengan senyumanlah yang akan lebih mempererat rasa kasih sayang dan tali persaudaraan. Dan menurut pandangan islam, tersenyum juga termasuk dalam point positif dari  ibadah.

Memang benar keberadaannya, bahwa Negara Indonesia wilayahnya sangat luas dan di dalamnya terdapat banyak keanekaragaman agama, ras, suku, etnis budaya,tradisi, kepercayaan dan adat istiadat. Namun semua perbedaan itu tidak menghalangi mereka untuk saling bertoleransi, saling menghargai dan saling memahami. Dengan keramahtamahan inilah yang akan membuat mereka semua bisa berkontribusi dengan suatu keadaan heterogen untuk membentuk sebuah suasana dan situasi yang homogen tanpa harus membeda-bedakan dan mendiskriminasi antara satu sama lain hanya karena terkendala dengan sebatas perbedaan saja. Dengan menginterpretasikan perbedaan itu sebagai sebuah hal yang lumrah, membuat kehidupan dan limitasi mereka merasa tentram, aman dan damai. Karena memang Indonesia dikenal dengan semboyan " Bhineka Tunggal Ika " Yang artinya Berbeda-beda tetapi tetap satu. Dengan alasan itulah mengapa kehidupan masyarakat di Indonesia selalu diselimuti oleh rasa kebahagiaan tanpa tekanan. Mereka selalu hidup berkesinambungan meskipun terdapat banyak faktor dismilaritas di tengah-tengah mereka. Dan menariknya budaya keramahtamahan di Negara Indonesia sudah diketahui dan dikenal oleh negara asing sejak zaman dahulu kala. Dengan budaya ramah tamah yang sudah kental mendalam di hati masyarakat Indonesia, membuat bangsa asing merasa gembira dan tidak canggung saat mendatangi Indonesia baik untuk berwisata ataupun kunjungan kerja. Karena mereka tahu bahwa masyarakat Indonesia selalu welcome dengan kedatangan mereka dan selalu memberikan sambutan baik kepada mereka semua. Tak heran jika banyak warga negara asing yang berdatangan ke Negeri Nyiur ini. Dan yang menakjubkannya lagi, budaya keramahtamahan di Negara Indonesia ini masih bertahan hingga saat ini meskipun terdapat banyak ancaman dan hambatan yang menerka baik intimidasi dari dalam ataupun luar negeri seperti membeludaknya kebudayaan bangsa asing yang masuk ke Indonesia dengan sangat ekstrem. Namun hal itu tidak berhasil dalam melunturkan dan meluluhlantahkan budaya ramah tamah yang sudah terpaku erat di benak masyarakat. Inilah yang melantarkan Bangsa Indonesia dicintai dan dikagumi oleh banyak negara-negara asing yang ada di dunia.

Kehidupan Bangsa Indonesia saat ini memang ada hubungan kausalitasnya dengan kontroversi di masa lalu. Kerusuhan, keriwuhan dan kekacauan pada zaman dahulu memang menancapkan rasa kesedihan dan kepedihan di hati masyarakat. Namun dengan kerja keras,kerjasama, kolaborasi dan kontribusi para pahlawan perjuangan dahulu dalam merebut seutuhnya bangsa kita ini dari belenggu penjajah akhirnya membuahkan hasil manis yaitu sebuah kemerdekaan yang hingga sekarang memberikan kebahagiaan, keutuhan dan kedamaian kepada seluruhnya. Dengan melihat replika tragedi tersebut, tak heran apabila Negara Indonesia erat sekali hubungannya dengan budaya gotong royong, saling membantu, kerja sama dan coaction. Nilai baik dari sikap kegotong royongan itu bisa diterapkan kapan saja dan dimana saja, bisa diterapkan dilingkungan keluarga,sekolah,masyarakat ataupun di lingkungan lainnya.Karena dengan hal ini, kita bisa belajar untuk saling membantu satu sama lain sebagai bentuk rasa kemanusiaan dan persaudaraan. Kebahagiaan Negara Indonesia saat ini tercipta tidak hanya oleh satu golongan saja, melainkan kooperasi dari beragam pihak yang pastinya terdiri dari berbagai kalangan yang memiliki perbedaan suku,etnis, agama, ras, maupun kepercayaan. Maka dari itu, Negara Indonesia sangatlah menjunjung tinggi rasa toleransi antar satu sama lain. Karena mereka sadar bahwa kedamaian dan keceriaan saat ini tidak akan pernah bisa terbina tanpa ada kesatu paduan antara para pejuang ataupun pahlawan yang pastinya berasal dari berbagai macam divergensi.

Senyuman orang Indonesia saat ini adalah sebuah deskripsi dari suksesnya perjuangan berat para pahlawan kemerdekaan. Dan senyuman itulah yang menandakan bahwa rakyat pribumi adalah orang-orang yang memiliki karakter ramah. Orang yang ramah dan ceria biasanya mengisyaratkan bahwa keadaan dirinya disaat itu "being happy, always happy and definitely happy". Dan hal itu memang benar-benar dialami dan terjadi pada masarakat Indonesia. Pesona karakter ramah tamah yang dipancarkan oleh raut wajah dan hati mereka merupakan perwujudan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan karunia kehidupan yang layak, memadai dan dipenuhi oleh keindahan dan kekayaan alam,sosial,budaya dan moral yang unggul. Dan tak lupa juga bahwa senyum semringah mereka merupakan sebuah kebahagiaan dan bukti tanda terimakasih terhadap para pahlawan intense yang telah berkorban dan berjuang mati-matian demi kemerdekaan bangsa dan mengentaskan seluruh masyarakat nusantara dari segala kepedihan dan awan kelabu tanpa adanya keluh kesah sedikitpun yang keluar dari lisan mereka.

Memang benar bahwa Keramahtamahan warga Negara Indonesia merupakan interpretasi dari kebahagiaan dan kebanggaan menjadi penduduk nusantara. Dengan itu mereka mengungkapkan kebahagiaan itu dalam bentuk kesederhanaan, yaitu menjadi sosok asosiasi yang supel. Dengan sikap simpatik inilah yang menjadikan Negeri Nusantara ini menjadi pesona yang sangat berharga dan terhormat dimata dunia dan alam semesta. Sangat hebat negeri kita ini, menjadi sosok bangsa yang menginspirasi dan banyak dicintai oleh negara-negara asing. Mengaktualkan keramahtamahan menjadi aset terbesar bangsa yang sangat berharga itu adalah keputusan yang luar biasa. Contohnya saja Lombok, Bali, Bangka dan tempat destinasi wisata lain yang telah berhasil menjadi adibintang di nusantara ini. Seluruh warga masyarakatnya selalu memancarkan keramahtamahan dan welcome kepada semua orang yang berkunjung di sana baik wisatawan domestik ataupun mancanegara. Dengan budaya ramah yang sangat eksotis ini, dapat dijadikan sebagai instrumen untuk menarik perhatian warga negara asing supaya bersambang ke bumi pertiwi kita ini.

Disamping mencuatnya pamor potensi kekayaan alam bagai suaka dunia dengan penuh keeksotisan dan keestetisan yang menakjubkan, keramahan dan kesopanan dalam berbudi luhur inilah yang menjadikan Negara Indonesia memiliki nilai yang lebih unggul dibanding potensi bangsa lain. Menegur sapa dan berbaur dengan orang lain baik yang sudah dikenal ataupu belum dikenal sekalipun, hanya untuk mendesakan dalam bercengkrama membahas permasalahan apapun baik tentang hal pribadi ataupun topik umum. "Yang penting ada topik bahasan antara kami, dan dengan topik itulah akan tercipta sebuah obrolan seru yang akan mempererat rasa persaudaraan antara kami" Itulah orang Indonesia. Notabenenya mereka bisa berbaur dengan siapa saja dalam segala situasi. Tanpa ada rasa perbedaan ditengah mereka, membuat mereka saling berkolaborasi antara satu sama lain dalam membuat suatu topik bahasan hingga tercipta suasana yang hangat, komunikatif, interaktif,dan tentunya atraktif. Integrasi unik antara perangai positif tersebut berpotensi memancarkan eksistensi unggul Negara Indonesia di seluruh gelanggang dunia.

Definisi kebahagiaan itu sangatlah sederhana. Dan masa pandemi ini memang memberikan kesedihan disemua kalangan, karena banyak yang dirugikan dengan peristiwa bencana non alam yaitu serangan brutal Corona Virus Disease. Meskipun itu, ada sisi positif dari prahara tersebut. Dengan menjadikan celah kepedihan itu sebagai peluang untuk berbuat baik kepada orang lain yang mengalami kesusahan seperti mendirikan sebuah komunitas yang bertujuan mulia untuk membantu menyalurkan bantuan kepada korban, relawan sekaligus pejuang tenaga medis dan memberikan manfaat kepada sesama. Karena komunitas mulia itulah yang menggambarkan sifat asli orang indonesia yaitu saling tolong menolong, toleransi, peduli sesama dan beretika baik. Meskipun dari komunitas itu terdiri dari anggota yang berasal dari berbagai suku, ras, etnis ataupun agama namun dengan rasa tolerir, perbedaan itu akan berubah menjadi integrate yang terpusat pada tujuan yang bermartabat. Dengan sifat keramahtamahan itulah yang memudahkan mereka semua untuk berbaur dan bersatu dalam situasi maupun kondisi genting saat ini. Perlu diketahui bahwa orang Indonesia tidak egois hanya karena perbedaan. Demi keutuhan dan kebaikan bumi pertiwi mereka siap dalam berkontribusi dengan siapapun tanpa harus memandang dismilaritas ataupun problem diantara mereka.

Selain keunggulan istimewa dalam aspek dan potensi luar biasa dibidang pariwisata maupun prasarana yang memadai bagai suaka dunia, Indonesia memiliki kekayaan yang lebih utama dari segalanya yaitu kualitas keunggulan moral, etika, attitude, dan budi pekerti yang luhur. Sebesar dan sebanyak apapun sebuah kekayaan material, jika moralitas sangat minim semua aset itu tidak akan ada artinya.

 

Siswa kelas XI MIPA 3 MAN 3 BANYUWANGI


 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger