Pages

Pembelajaran Daring Anti Garing Bersama e-Learning Madrasah

Pembelajaran Daring Anti Garing Bersama e-Learning Madrasah

Penyebaran virus corona memaksa siswa dan guru untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran dari rumah. Selama ini guru melaksanakan daring dengan menggunakan google classroom, google drive
atau pesan singkat dari whatsapp. Kegiatan pembelajaran daring dengan menggunakan beberapa aplikasi tersebut tidak bisa terpantau langsung oleh Kepala Madrasah. Sehingga Kepala Madrasah dan segenap team teknisi madrasah meluncurkan sistem e-Learning Madrasah untuk MTsN 4 Banyuwangi, yang bisa diakses dan di pantau langsung oleh Pengawas Madrsah dan Kepala Madrasah.
Hadirnya e-Learning madrasah sangat memudahkan kegiatan pembelajaran siswa dan guru di MTsN 4 Banyuwangi, di tengah hiruk pikuk melawan covid-19 saat ini. Fitur yang ada dalam e-Learning sangat lengkap, guru cukup mempersiapkan bahan ajar sesuai dengan KD yang diajarkan, siswa pun cukup memilih kelas dan mata pelajaran pada jadwal kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung. Dengan aplikasi ini guru dapat mengontrol perkembangan belajar peserta didik, membuat agenda dengan siswa dan sebagainya.
Berikut beberapa fitur yang dapat digunakan dalam pembelajaran dengan menggunakan e-Learning Madrasah.
Forum Madrasah
Menu ini berguna sebagai Media Sosial Madrasah. Dalam fitur ini guru dapat berkomunikasi dan berbagi informasi dengan guru dan siswa.
Ruang Kelas
Menu ini berfungsi untuk membuat kelas baru. Kelas yang bapak ibu guru buat akan diikuti siswa yang harus guru ajar dalam satu semester dan tahun ajaran aktif,
Kalender Akademik
Menu ini menyajikan kalender akademik dalam satu semester dan tahun ajaran aktif.
Guru Berbagi
Menu ini berguna sebagai wadah untuk berbagi ide atau gagasan serta materi pembelajaran. Materi yang guru berikan dapat dipelajari oleh guru Madrasah dan siswa.
Komunikasi
Menu ini dapat digunakan untuk berinteraksi dengan guru lain dan mengirim pesan pribadi ke guru lain.
Ruang Kelas Anda
Panel ini merupakan fitur yang berguna untuk masuk ke ruang kelas yang telah guru buat.
Berbagi Ide dan Gagasan
Fitur ini dapat digunakan untuk berbagi ide dan gagasan. Guru dapat mem-posting gagasanya lalu guru lain dan siswa dapat berkomentar di dalam postingan tersebut.
Daftar Siswa
Pada panel ini guru dapat melihat seluruh siswa di MTsN 4 Banyuwangi.
Daftar Guru
Panel ini dapat digunakan untuk melihat seluruh guru di MTsN 4 Banyuwangi.
Lihat Profil Anda
Menu ini dapat digunakan untuk memperbaharui profil dan password akun e-Learning.
Empat bulan lebih pembelajaran daring di MTsN 4 Banyuwangi telah dilalui bersama e-Learning Madrasah. Siswa dan guru tetap aktif di rumahnya masing-masing, siswa aktif belajar dan guru aktif mengajar (Work From Home). Sehingga kegiatan pembelajaran tetap berjalan sesuai dengan target yang diharapkan oleh Madrasah.
Peserta didik merasa nyaman dalam belajar dengan menggunakan sistem e-Learning. Siswa dapat secara langsung melihat hasil belajar mereka, karena sistem penilaian secara otomatis akan terpampang di layar handphone atau laptop mereka masing-masing. Ada beberapa jenis tugas yang bisa di akses siswa, sesuai dengan tujuan pembelajaran pada saat pembelajaran berlangsung. Tugas bisa berupa CBT test, bisa dalam bentuk uraian dan pilihan ganda, bisa berupa penugasan dalam bentuk portofolio atau tanya jawab. Secara langsung, tugas di upload di ruang tugas yang sudah tersedia. Anak didik sekarang lebih cerdas dari pada gurunya tentang teknologi, sehingga keterangan yang singkat dari bapak ibu guru pun dapat dengan cepat di terima.
Penugasan yang paling di gemari siswa adalah pada fitur CBT, jika nilai kurang dari KKM maka dengan mudah guru dapat meriset pekerjaan siswa. Sehingga proses remidial dengan mudah bisa di laksanakan, peserta didik akan tertantang mengulang jika mengetahui nilainya di bawah KKM. Sangat seru, ternyata anak-anak bersemangat untuk mengulang agar nilainya mencapai KKM. Memang harus meluangkan waktu dan kesabaran hati untuk menampung kemauan siswa. Kelas daring semakin menarik jika respon siswa riuh gemuruh. Sehingga pembelajaran daring serasa hidup, dan tidak garing. Sehingga tujuan pembelajaran akan tercapai dengan sangat menyenangkan.
Sistem pembelajaran lewat e-Learning Madrasah ini, diharapkan dapat membantu siswa dan guru untuk tetap semangat belajar dan mengajar. Bersama-sama guru dan siswa aktif dalam pembelajaran, karena dalam sistem ini siswa diajak
berkomunikasi layaknya siswa berada di kelas ketika bertatap muka. Semangat baru di tahun ajaran baru bersama e-Learning Madrasah, tetap menatap masa depan yang gemilang. Pendidikan harus tetap berkibar, bersama menggapai cita dan asa. Madrasah hebat bermartabat membimbing generasi millenia yang cerdas dan berahlakul karimah. Bersama e-Learning Madrasah pembelajaran daring asyik dan menyenangkan, menggapai kualitas ilmu yang gemilang.

Oleh; Lulu’ Anwariyah, S.S
Guru Bahasa Inggris MTsN 4 Banyuwangi

Mabrur Tanpa Berangkat Haji

Mabrur Tanpa Berangkat Haji
Oleh : Syafaat
Suatu waktu Abdullah bin Mubarok (118-181 H/726-797 M), berkeinginan pergi haji. ia bekerja keras mengumpulkan uang. iapun melaksanakan niatnya, menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Ketika sudah selesai mengerjakan berbagai tahapan ibadah haji, ia tertidur. Dalam tidurnya, ia bermimpi menyaksikan dua orang malaikat turun ke bumi. Kedua malaikat ini pun terlibat dalam perbincangan. “Berapa banyak jamaah yang datang tahun ini?” tanya malaikat yang satu kepada malaikat lainnya. “Enam ratus ribu orang,” jawab malaikat lainnya. “Tapi, tak satu pun diterima, kecuali seorang tukang sepatu bernama Muwaffaq yang tinggal di Damsyik (Damaskus). Dan berkat dia, maka semua jamaah yang berhaji diterima hajinya,” kata malaikat yang kedua. Ketika Ibnu Mubarok mendengar percakapan malaikat itu, terbangunlah ia. Ia pun berkeinginan mengunjungi Muwaffaq yang tinggal di Damsyik. Ia telusuri kediamannya dan kemudian menemukannya.
Ibnu Mubarok menyampaikan mimpi yang didapatnya. Mendengar cerita itu, maka menangislah Muwaffaq hingga akhirnya jatuh pingsan. Dan setelah sadar, Muwaffaq menceritakan bahwa selama lebih dari 40 tahun, dia berkeinginan untuk melakukan ibadah haji. Karenanya, dia pun mengumpulkan uang untuk itu. Jumlahnya sekitar 350 dirham (perak) dari hasil berdagang sepatu. Ketika musim haji tiba, ia mempersiapkan diri untuk berangkat bersama istrinya. Menjelang keberangkatan itu, istrinya yang sedang hamil mencium aroma makanan yang sangat sedap dari tetangganya. Muwaffaq pun mendatanginya dan memohon agar istrinya diberikan sedikit makanan tersebut. Tetangganya ini langsung menangis. Ia lalu menceritakan kisahnya. “Sudah tiga hari ini anakku tidak makan apa-apa,” katanya. “Hari ini, aku melihat seekor keledai mati tergeletak dan kemudian aku memotongnya, lalu kumasak untuk mereka. Ini terpaksa kulakukan karena kami memang tidak punya. Jadi, makanan ini tidak layak buat kalian karena makanan ini tidak halal bagimu,” terangnya sambil menangis. Mendengar hal itu, tanpa berpikir panjang Muwaffaq langsung kembali ke rumahnya mengambil tabungannya 350 dirham untuk diserahkan kepada keluarga tersebut. “Belanjakan ini untuk anakmu. Inilah perjalanan hajiku,” ungkapnya. Kisah ini memberikan pelajaran bagi kita bahwa sesungguhnya haji adalah amal yang utama. Namun, menyantuni anak yatim, orang miskin, dan telantar merupakan amal yang lebih utama.
Jadi peningkatan komitmen sosial inilah yang menjadi kemabruran ibadah haji seseorang. Setelah pulang dari kota suci, ia menjadi pribadi yang baik, lebih terbuka, dan mementingkan dimensi sosial. Itulah sebabnya mengapa haji mabrur dipandang sebagai jihad yang utama (HR. Bukhari no.1520). kemabruran inilah yang diharapkan ada pada segiap orang yang telah melaksanakan Ibadah Haji, namun sebagimana dalam kisah tersebut diatas, bahwa ada yang memperoleh predikat mabrur meskipun tidak melaksanakan ibadah haji. Kisah diatas merupakan salah satu kisah saja, ada beberapa kisah lain yang ditulis dibeberapa kitab yang menggambarkan orang yang mendapatkan predikat Mabrur meskipun tidak berangkat haji. Tidak menutup kemunkinan calon jamaah yang gagal berangkat karena pandemi covid-19 akan mendapatkan kemabruran, kemulyaan yang tidak kalah dengan mereka yang telah melaksanakan Ibadh Haji.
Covid-19 telah membuyarkan impian ribuan orang menunaikan Ibadah Haji tahun ini, banyak diantaranya yang hidup sangat hemat untuk dapatnya menabung dan menunaikan Rukun Islam kelima tersebut, yang diwajibkan bagi yang mampu untuk melaksanakannya. Meskipun demikian, tidak ada larangan bagi yang belum benar benar mampu untuk tetap melaksanakan Ibadah Haji. Begitupun dengan yang pernah melaksanakan Ibadah Haji, ada kenikmatan rohani yang biasanya orang yang telah melaksanakan ibadah haji berharap ingin kembali melaksanakannya, meskipun ketika beribadah mereka mengalami cobaan dan ujian, mereka akan mendapatkan kenikmatan spiritual dan keimanan yang semakin tinggi. Banyak alasan bagi seseorang berangkat menunaikan rukun Islam kelima tersebut, ada yang benar benar berangat karena sudah mampu, ada juga yang berangkat karena dibiayai anaknya atau orang lain, juga yang berangkat haji dengn mengemban tugas Negara sebagai petugas haji.
Pandemi ini bukan hanya membatalkan pemberangkatan haji tahun ini, namun juga berimbas pada antrian bagi pendaftar haji yang ingin mendapatkan nomor porsi. Animo masyarakat yang ingin berangkat haji dengan dibuktikan dengan semakin lamanya antrian untuk mendapatkan nomor porsi tersebut membuktikan bahwa kesadaran masyarakat untuk melaksanakan salah satu kewajibannya dalam beragama semakin tinggi, begitu juga dengan kewajiban yang berkaitan dengan peningkatan komitmen sosial dari Ibadah haji tersebut. Tidak ada jaminan bagi jamaah haji yang mengalami penundaan keberangkatan karena covid-19 dapat berangkat seluruhnya tahun ini. Hal ini terkait dengan Istithaah Kesehatan calon jamaah haji yang mungkin akan ada perubahan pada tahun yang akan datang.
Peningkatan komitmen menjadi lebih baik diperlukan bukan hanya kepada orang yang telah melaksanakan Ibadah Haji, namun juga kepada mereka yang telah mendaftar dan menunggu antrian untuk berangkat haji, karena kemabruran bukan hanya didapatkan dari mereka yang telah melaksanakan haji, namun juga bisa didapatkan dari mereka yang benar benar ikhlas mementingkan dimensi sosial bagi sesama tanpa menunggu keberangkatan haji yang belum tentu dapat dilaksanakan karena kondisi.

Penulis adalah Penyusun Bahan Pembinaan Keluarga Sakinah Kemenag Kab Banyuwangi


CORONAVIRUS AND THE REAL QURBAN


CORONAVIRUS AND THE REAL QURBAN
Oleh : UNU MASNUN

          Keputusan pembatalan pemberangkatan jemaah haji Indonesia tahun 1441 Hijriah dituangkan melalui Keputusan Menteri Agama RI Nomor 494 Tahun 2020. Dalam keputusan itu, Menteri Agama menegaskan bahwa pembatalan pemberangkatan ibadah haji tahun ini berlaku untuk seluruh warga negara Indonesia tanpa terkecuali. Akan tetapi meskipun begitu, ibadah kurban dihari Raya Idhul Adha dan Hari Tasryik tentunya tetap akan dilaksanakan bagi yang merasa mampu.
          Terjadinya pandemi tak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tapi juga dapat memengaruhi kondisi mental setiap orang. Terlebih lagi saat ini masyarakat dihadapkan pada aturan new normal yang mendorong masyarakat untuk beradaptasi cepat dengan kebiasaan baru. Pemerintah Indonesia, dalam hal ini termasuk  pemerintah daerah maupun provinsi masih mencanangkan protocol kesehatan dalam rangka new normal. Hal ini tentu berkaitan erat dengan diwajibkannya menggunakan masker, cuci tangan, dan jaga jarak bagi seluruh individu. Dalam rangka memperoleh ‘rasa aman’ tersebut akan sangat dibutuhkan kedisiplinan bagi semua kita.  
          Kondisi tersebut diperparah dengan dampak sosial ekonomi yakni potensi terkena PHK yang membuat masyarakat risau masalah finansial, pekerjaan, dan masa depan seusai pandemi berakhir. Jika tidak segera ditangani, masyarakat dapat mengalami gangguan kesehatan mental atau penyakit mental. dr. Monika Joy Reverger, Sp.KJ menguraikan beberapa tanda gangguan akibat pandemi           Perubahan pola tidur, gangguan pola makan, sulit berkonsentrasi, penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan, timbulnya rasa bosan dan stres, terutama pada remaja dan anak-anak karena terus berada di rumah dan harus beradaptasi dengan kebiasaan baru, memburuknya kesehatan fisik, khususnya bagi orang dengan penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi, rasa takut berlebihan akan keselamatan diri dan orang-orang terdekat, muncul gangguan psikosomatik. 
Berkurban ( fisik, mental, juga hewan) seperti inilah yang  perlu mendapat perhatian lebih sehingga seakan manjadi korban yang sebenar-benarnya  di masa sekarang.
Kambing dan coronavirus mempunyai kesamaan, yaitu sama sama makhluk yang Allah ciptakan sebagai ujian bagi umat manusia. Baik ujian kebaikan maupun keburukan. Yang satu mempunyai sisi positif karena ditujukan sebagai penutup kebutuhan fisik manusia / sebagai makanan  dan yang lain dianggap ‘menakutkan’ karena mengganggu kesehatan manusia hingga berakibat kematian.
          Deni Mardiana, Lc. Mengatakan bahwa berqurban  artinya  artinya bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan cara menjalankan perintah Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah saw. Bertaqarrub sejatinya tidak mengenal musiman, apalagi hanya sekedar ritual. Tentu sebagai hamba Allah yang taat, wajib hukumnya kita terus meningkatkan kualitas dan kuantitas taqarrub kita kepada-Nya, karena Allahlah pemilik segalanya.
          Diantara beberapa beragam bentuk ketaatan kita adalah  dengan melaksanakan kewajiban dan meningkatkan ibadah sunnah kepada-Nya di bulan ini. Seruan Allah itu tergambar juga dalam hadits yang artinya, “Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satu pun. (HR. Muslim)
          Dari sekian amalan di atas, yang utama tentu menjalankan ibadah haji. Namun faktanya tidak semua dari kita diberikan kesempatan untuk bisa melaksanakan rukun islam yang kelima ini. Bahkan pelaksanaan ibadah haji tahun ini tampaknya tertunda disebabkan pandemi.            Banyak hikmah yang bisa diambil dari syari’at penyembelihan hewan qurban. Dalam kitab Minhajul Muslim (Hal 339-340) karya Syekh Abu Bakr Al-jazairi Bab tentang Udhiyyah menyebutkan beberapa hikmah disyariatkannya ibadah qurban yaitu bentuk Taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT, menghidupkan sunnah tokoh revolusi tauhid Nabi Ibrahim as, menghadirkan kebahagiaan bagi fakir miskin di hari raya, wujud kesyukuran kepada Allah atas nikmat hewan yang ditundukkan untuk kita, dan juga kita pun bersepakat bahwa berqurban menghadirkan upaya mengentaskan kesenjangan hubungan antara si kaya dan si miskin.
          Di samping hal-hal di atas, berbagai tujuan berkurban juga 1) sebagai bentuk syukur atas nikmat hidup dari Allah SWT.Hidup dengan tubuh yang sehat dan rezeki yang mencukupi adalah nikmat terbesar yang diberikan oleh Allah SWT. Dengan berkurban, rasa syukur atas limpahan rezeki yang telah dilimpahkan oleh Allah SWT dapat mewujud. 2) Berkurban adalah ciri keislaman seseorang. Ibadah kurban menjadi bentuk ketaqwaan kita terhadap Allah SWT karena perintah berkurban telah termaktub dalam Al-quran. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah pun menjelaskan hal tersebut, Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang, lalu ia tidak berkurban, maka jangan sekali-kali mendekati tempat sholat kami.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
          Berkurban lebih baik dari sedekah senilai hewan kurban. Ibnu Qayyim berkata, “Penyembelihan yang dilakukan di waktu mulia lebih afdhol daripada sedekah senilai penyembelihan tersebut. Oleh karenanya jika seseorang bersedekah untuk menggantikan kewajiban penyembelihan pada manasik tamuttu’ dan qiron meskipun dengan sedekah yang bernilai lipat ganda, tentu tidak bisa menyamai udhiyah. (Shahih Fiqh Sunnah 2 : 379).  Menguatkan solidaritas. Berkurban dilakukan oleh orang yang mampu dan akan dinikmati oleh orang yang kurang mampu. Dengan berkurban, seseorang dapat memupuk rasa kepedulian terhadap sesama, dan akan terjalin pula sikap solidaritas yang kuat di antara pemberi dan penerima kurban.(gomuslim.id)
         
Memang tidak mudah untuk terus berada di jalan Allah, apa lagi di masa masa seperti ini, pandemi yang melanda dunia tanpa kecuali. Sudah barang tentu juga melanda umat islam .Di mana masyarakat sudah terbebani dengan berbagai macam kebutuhan baik fisik maupun psikis yang membutuhkan perjuangan luar biasa untuk sekadar bertahan hidup dan menjaga kesehatan

          Sebagai penutup diharapkan pelaksanaan ibadah kurban tahun ini tetap terlaksana dengan baik walaupun pandemi coronavirus belum berakhir. Tentu saja dengan tidak mengurangi sedikitpun dari hakikat dan tujuan berkurban.



Nama ; Unu Masnun
Guru Bahasa Indonesia di MAN 3 Banyuwangi




Terhempasnya Tradisi Qurban oleh Hembusan Corona


Terhempasnya Tradisi Qurban oleh Hembusan Corona

Oleh; ENY SUSIANI

   Hari Raya Idhul Adha atau yang lebih di kenal dengan Idhul Qurban adalah hari yang sangat di tunggu –tunggu oleh seluruh umat muslim di dunia, tidak terkecuali di lembaga Pendidikan seperti di Madrasah. Hari dimana seluruh umat muslim merayakannya dengan Dua Hal sekaligus yaitu Kesahlihan pada Allah Tuhan sekalian alam dan sekaligus Keshalihan social, karena kepada Allah sebagai bukti ketaqwaan kita dengan rela mengorbankan milik harta kita berupa kambing untuk satu orang atau sapi untuk 7 orang Dan Bukan Daging serta darah hewan Qurban melainkan ketaqwaan umat-Nya sebuah penghambaan sebagai makhluk ciptaan sekaligus keshalihan social karena dengan berqurban berarti kita berbagi dengan sesama yang membutuhkan sebagai wujud dan bentuk keshalihan social.
Para siswa menunggu momen ini, dimana anda bisa berkreasi dan tak perlu malu pada semut merah  karena berdusta pada guru, untuk sekedar memandang dari jauh kakak kelas, sebaya kelas lain atau adik kelas, karena sudah menjadi tradisi di madrasah, dimana  Hari Raya Idhul Adha, dirayakan dengan sholat dan mendengarkan Khutbah di madrasah. Disusul hari Tasryik Penyembelihan hewan qurban dan juga digebernya ajang kreatifitas siswa, setiap kelas menampilkan kreasi masing –masing ada Drama Kolosal, Nyanyi Islami, Fashion show dan Ajang Lomba masak ala Chef Nasional berikut Penyajiannya. Momen dimana para siswa begitu merayakan kebebasan tanpa takut di point, memakai sepatu berwarna bebas, kaos kelas berwarna warni sesuai kreasi,berusaha tampil terbaik di hadapan guru dan teman yang di taksir barangkali. Ah semua  tinggal kenangan dan mimpi tak bertepi tahun ini.
Namun Corona alias covid 19 benar –benar masuk ke semua lini kehidupan masuk tanpa kata,tanpa bicara,namun syarat makna ,banyak yang terhempas tak berdaya olehnya, Sedih, bingung, linglung bahkan tradisi berqurban yang sudah menjadi tradisi di madrasah-madrasah, sekolah-sekolah dan perkantoran harus rela menyerah pada keadaan hadirnya si corona/covid 19 ini, bagaimana tidak kami sama sekali tidak diperbolehkan untuk mengumpuklan siswa, berada di satuan pendidikan untuk waktu yang cukup lama, karena dirasa bisa membahayakan peserta didik maupun tenaga pendidik dan kependidkan. Ada kekhawatiran muncul cluter baru penyebaran si kecil coronayang seksi karena menjadi perbincangan hangan 5 bulan terakhir ini di seantero negeri bahkan seantero jagat raya ini.
Tidak ada satupun penduduk bumi yang tidak mengenal namanya meski si kecil tak pernah tahu akan hal itu. Kebosanan –kebosanan smulai mendekap erat jiwa dan tubuh kita, tapi apa mau dikata, tahun ajaran barupun, seakan berlalu tanpa banyak makna karena kita tetap sama belajar dan mengajar jarak jauh (PJJ). Apa mau dikata, demi kebaikan kita dan semuanya tentu itu tetap kita lakukan, kita tidak boleh menyerah dan terhempas oleh keadaan, kita harus segera bangkit untuk kembali kokoh berdiri, menuju asa kita dan juga tetap setia dan berusaha mengubah perilaku dan cara kita tetap hidup bersih sehingga Corona segera berlalu,dan kita bisa hidup normal kembali. Sebagai makhluk individu sekalugus makluk social, yang tentu tidak bisa terus menerus hanya memeluk rindu, kita ingin aktualisasi diri dan memberi arti untuk hidup kita dan orang lain tentunya.
Lalu dengan yang meski kita lakukan ketika yang sudah lama kita rancang kita tunggu tunggu tiba tiba hilang menguap entah kemana diterpa angin dan hembusan badai covid 19. Tradisi Penyembelihan hewan Qurban di satuan pendidikan termasuk Madrasah sudah mengakar dan mendarah daging, dan ini tentu momen yang sangat di tunggu oleh guru dan siswa, momen dimana kami ajarkan tentang Keshalihan social sekaligus momen pengujian Tingkat keimanan kita pada Allah Pemberi kuasa Kehidupan ini. Covid 19 memang memhempaskan tradisi Sholat Idhul adha dan penyembelihan hewan Qurban di madrasah atau sekolah sekolah tapi tidak berarti boleh menghempaskan dan memporak porandakan keshalihan kita tentunya
Tidak adanya Tradisi penyembelihan hewan qurban yang tidak hanya ditunggu oleh siswa dan guru juga tentu di tunggu oleh masyarakat sekitar tahun ini semoga menjadikan kita lebih bersyukur atas sesuatu hal yang dulu barangkali kita keluhkan, tidak ada kejadian yang percuma semua terjadi atas ijin dan kehendak Allah kita tinggal mengambil hikmahnya, semua kita lakukan demi anda semua anak- anakku, demi keselamatan jiwa raga kalian karena anda semua begitu berharga, anda adalah generasi yang harus kami lindungi untuk masa depan negeri kita tercinta, biarlah untuk sementara kita simpan rindu, asa dan mimpi kita untuk berada di tempat yang sama berkreasi bersama dalam ruang danwaktu yang sama dalam kotak kreatifitas yang lain.Semoga kita bisa menjadi lebih baik, dan hempasan  corona segera berlalu.
Banyak hal yang bisa kita lakukan dengan sholat Idhul Adha bersama Keluarga Tercinta atau di tempat yang diizinkan seperti masjid lapangan sekitar tempat tinggal kita, membantu penyembelihan atau pendistribusian hewan qurban di lingkungan tentu tetap dengan memperhatikan protocol kesehatan, cuci tangan, jaga jarak,memakai masker, tidak berjabat tangan dan tidak berkerumun. Kita juga tetap bisa berkreasi melalui media apa saja, misal membuat konten youtobe tentang qurban di era corona ,membuat tulisan artikel, atau puisi bahkan cerpen, dan hal hal baik lainnya.
Selamat berkreasi diera pandemi menuju New Normal alias kebyasaan anyar, semoga tahun depan kita bisa merayakan Hari Raya Idhul Adha dengan lebih baik  dan lebih mengasah kesahalihan pada Allah serta sesame hidup.


*Guru MA Negeri 3 Banyuwang di Srono

KAMBING, CORONAVIRUS, THE REAL QURBAN


KAMBING, CORONAVIRUS, THE REAL QURBAN
BY : UNU MASNUN

          Kambing dan coronavirus mempunyai kesamaan, yaitu sama sama makhluk yang Allah ciptakan sebagai ujian bagi umat manusia. Baik ujian kebaikan maupun keburukan. Yang satu mempunyai sisi positif karena ditujukan sebagai penutup kebutuhan fisik manusia / sebagai makanan  dan yang lain dianggap ‘menakutkan’ karena mengganggu kesehatan manusia hingga berakibat kematian.
          Hadirnya coronavirus bersamaan dengan kambing di masa masa pandemic seperti ini menimbulkan ‘dilema’ bagi sebagian umat muslim yang notabene terdampak secara fisik maupun secara mental. Akan tetapi menyimak seruan Allah dalam firman-Nya “Inna a’thoinaakal kautsar.. fasholli lirobbika wanhar” (QS 108 : 1-2). Sungguh , Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu , dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah) Al Kautsar ayat 1-2.
Artinya Alloh  kembali menyeru kita untuk mengoptimalkan beragam bentuk ketaatan kepada Nya dengan melaksanakan kewajiban dan meningkatkan ibadah sunnah kepada-Nya di bulan Dzulhijjah meski dalam masa-masa sulit seperti sekarang ini. Sudah barang tentu terbersit terbayang di benak kita seekor kambing (hewan kurban) sebagai sarana untuk berkurban. Dan akan memaksa kita untuk berkurban, dengan menyembelih hewan kurban maupun mengorbankan perasaaan kita demi memenuhi perintah Allah tersebut.
          Deni Mardiana, Lc. Mengatakan bahwa berqurban  artinya  artinya bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Alloh dengan cara menjalankan perintah Alloh dan mengikuti sunnah Rasulullah saw. Bertaqarrub sejatinya tidak mengenal musiman, apalagi hanya sekedar ritual. Tentu sebagai hamba Alloh yang taat, wajib hukumnya kita terus meningkatkan kualitas dan kuantitas taqarrub kita kepada-Nya, karena Allohlah pemilik segalanya.
          Memang tidak mudah untuk terus berada di jalan Alloh, apa lagi di masa masa seperti ini, pandemic yang melanda dunia tanpa kecuali. Sudah barang tentu juga melanda umat islam .Di mana masyarakat sudah terbebani dengan berbagai macam kebutuhan baik fisik maupun psikis yang membutuhkan perjuangan luar biasa untuk sekadar bertahan hidup dan menjaga kesehatan .
          Namun upaya dan optimalisasi taqarrub kita kepada-Nya harus menjadi perhatian utama dan pertama dalam hidup kita. Kata berqurban di bulan Dzulhijjah selanjutnya didefinisikan dan diekspresikan dengan melakukan penyembelihan hewan qurban sesuai petunjuk Alloh dan sunnah Rasulullah saw.
          Di antara beberapa beragam bentuk ketaatan kita adalah  dengan melaksanakan kewajiban dan meningkatkan ibadah sunnah kepada-Nya di bulan ini. Seruan Alloh itu tergambar juga dalam hadits yang artinya, “Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satu pun. (HR. Muslim)
          Dari hadits di atas amalan utama di bulan ini diantaranya ialah : Menjalankan ibadah haji (bagi yang mampu), melaksanakan shaum ‘arafah tanggal 9 Dzulhijjah, Melaksanakan Shalat Idul Adha, menyembelih hewan Qurban, memperbanyak takbir dan dzikir di hari tasyriq dan meningkatkan amalan ibadah sunnah.
          Dari sekian amalan di atas, yang utama tentu menjalankan ibadah haji. Namun faktanya tidak semua dari kita diberikan kesempatan untuk bisa melaksanakan rukun islam yang kelima ini. Bahkan pelaksanaan ibadah haji tahun ini tampaknya tertunda disebabkan pandemic.  Keputusan pembatalan pemberangkatan jemaah haji Indonesia tahun 1441 Hijriah dituangkan melalui Keputusan Menteri Agama RI Nomor 494 Tahun 2020. Dalam keputusan itu, Fachrul menegaskan bahwa pembatalan pemberangkatan ibadah haji tahun ini berlaku untuk seluruh warga negara Indonesia tanpa terkecuali. Akan tetapi meskipun begitu, ibadah kurban tentunya tetap akan dilaksanakan.
          Banyak sekali hikmah yang bisa diambil dari syari’at penyembelihan hewan qurban. Dalam kitab Minhajul Muslim (Hal 339-340) karya Syekh Abu Bakr Al-jazairi Bab tentang Udhiyyah menyebutkan beberapa hikmah disyariatkannya ibadah qurban yaitu bentuk Taqarrub (mendekatkan diri) kepada Alloh SWT, menghidupkan sunnah tokoh revolusi tauhid Nabi Ibrahim as, menghadirkan kebahagiaan bagi fakir miskin di hari raya, wujud kesyukuran kepada Alloh atas nikmat hewan yang ditundukkan untuk kita, dan juga kita pun bersepakat bahwa berqurban menghadirkan upaya mengentaskan kesenjangan hubungan antara si kaya dan si miskin.
          Di samping hal-hal di atas, berbagai tujuan berkurban juga 1) sebagai bentuk syukur atas nikmat hidup dari Allah SWT.Hidup dengan tubuh yang sehat dan rezeki yang mencukupi adalah nikmat terbesar yang diberikan oleh Allah SWT. Dengan berkurban, rasa syukur atas limpahan rezeki yang telah dilimpahkan oleh Allah SWT dapat mewujud. 2) Berkurban adalah ciri keislaman seseorang. Ibadah kurban menjadi bentuk ketaqwaan kita terhadap Allah SWT karena perintah berkurban telah termaktub dalam Al-quran. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah pun menjelaskan hal tersebut, Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang, lalu ia tidak berkurban, maka jangan sekali-kali mendekati tempat sholat kami.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
          Di samping itu berkurban lebih baik dari sedekah senilai hewan kurban. Ibnu Qayyim berkata, “Penyembelihan yang dilakukan di waktu mulia lebih afdhol daripada sedekah senilai penyembelihan tersebut. Oleh karenanya jika seseorang bersedekah untuk menggantikan kewajiban penyembelihan pada manasik tamuttu’ dan qiron meskipun dengan sedekah yang bernilai lipat ganda, tentu tidak bisa menyamai udhiyah. (Shahih Fiqh Sunnah 2 : 379).  Menguatkan solidaritas. Berkurban dilakukan oleh orang yang mampu dan akan dinikmati oleh orang yang kurang mampu. Dengan berkurban, seseorang dapat memupuk rasa kepedulian terhadap sesama, dan akan terjalin pula sikap solidaritas yang kuat di antara pemberi dan penerima kurban.(gomuslim.id)
          Terjadinya pandemic ini tak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tapi juga dapat memengaruhi kondisi mental setiap orang. Terlebih lagi saat ini masyarakat dihadapkan pada aturan new normal yang mendorong masyarakat untuk beradaptasi cepat dengan kebiasaan baru. 
Pemerintah Indonesia, dalam hal ini termasuk  pemerintah daerah maupun provinsi masih mencanangkan protocol kesehatan dalam rangka new normal. Hal ini tentu berkaitan erat dengan diwajibkannya menggunakan masker, cuci tangan, dan jaga jarak bagi seluruh individu. Dalam rangka memperoleh ‘rasa aman’ tersebut akan sangat dibutuhkan kedisiplinan bagi semua kita.  
          Kondisi tersebut diperparah dengan dampak sosial ekonomi yakni potensi terkena PHK yang membuat masyarakat risau masalah finansial, pekerjaan, dan masa depan seusai pandemi berakhir. Jika tidak segera ditangani, masyarakat dapat mengalami gangguan kesehatan mental atau penyakit mental. dr. Monika Joy Reverger, Sp.KJ menguraikan beberapa tanda gangguan akibat pandemi           Perubahan pola tidur, gangguan pola makan, sulit berkonsentrasi, penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan, timbulnya rasa bosan dan stres, terutama pada remaja dan anak-anak karena terus berada di rumah dan harus beradaptasi dengan kebiasaan baru, memburuknya kesehatan fisik, khususnya bagi orang dengan penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi, rasa takut berlebihan akan keselamatan diri dan orang-orang terdekat, muncul gangguan psikosomatik. 
Berkurban ( fisik, mental, juga hewan) seperti inilah yang  perlu mendapat perhatian lebih sehingga seakan manjadi kurban yang sebenar-benarnya  di masa sekarang.

          Sebagai penutup diharapkan pelaksanaan ibadah kurban tahun ini tetap terlaksana dengan baik walaupun pandemi coronavirus belum berakhir. Tentu saja dengan tidak mengurangi sedikitpun dari hakikat dan tujuan berkurban.



Nama ; Unu Masnun
Guru Bahasa Indonesia di MAN 3 Banyuwangi

Dibawa Cinta Wulandari



Dibawa Cinta Wulandari
Oleh : Syafaat
Pipinya nyempluk meski usianya tak lagi muda, senyumnya dibawa kemana mana seakan tak pernah tutup pabriknya. Dua kali kirim Jaringan Pribadi (Japri), belum sempat aku membalas dari nomor tak dikenal, hingga pemilik nomor tersebut datang dengan senyum dan sedikit rasa kecewa. Tak kusangka, betapa manis senyum yang dibawanya cinta sang rembulan seakan dibawa semua nyaris tak tersisa. Ruang sunyi sejak kehadirannya, jari jari berhenti menari diatas keyboard menyambut kehadirannya. Kuambil otak yang sejak tadi bersemayam dalam kotak Personal Computer untuk fokus memandang wajahnya.
Senyum itu telah membiusku hingga ke ulu nadi. Entah dimana pernah menikmatinya, gambarannya sangat jelas meski samar dan mengerahkan segenap rasa, namun tetap saja tidak mengingatnya. Aku tak sanggup menatap mata elang dibalik kacatamanya, takut tertembak senyum merekah dibalik bibir mawar merah itu. Bahkan tangan diatas mouse yang sedari tadi bergerilya pada aplikasi simpatika seakan kram mengikuti pemiliknya. perlahan dia memperkenalkan diri bahwa dia sudah dua kali Japri dan belum mendapatkan balasan apa apa. Kulihat sorot matanya memberikan benih cinta yang harus kutanam dalam dalam. Entahlah aku tidak mendengar perkataan setelahnya, aku sibuk menelusuri jalan panjang ingatan, dimana aku pertama kali melihatya.
Kertas kerja masih berserakan di meja, beberapa buku juga belum sempat dirapikan. Pemilik senyum merekah diantara pipi tembem sorot matanya tertuju pada sebuah buku yang baru saja kubaca, aku tidak tahu apa menariknya buku tersebut. Mungkin karena akulah penulisnya sehingga kuanggap biasa. “boleh dipinjam bukunya?”, tanpa menunggu jawaban, jari lentiknya telah mengambi buku bersampul merah jambu tersebut, mengamati tanpa membukanya, lalu ditaruh begitu saja. Aku harus menghabiskan segelas air sebelum melanjutkan bicara, mata elang dibalik kacamata bukan hanya membius lunglai, namun menumpas tuntas semua kata yang seharusnya kuucapkan untuknya.
“apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
“Iya, sepertinya saya pernah bertemu, dan saya juga diberi Buku ini oleh Bapak” jawabnya sambil menyuguhkan senyum.

Kutaruh semua kertas kerja menjelang senja. Kugandeng tangan mungilnya menyusuri Jiwa Jawa Terakota. Mencari cinta lama terucap tertunda, menelusuri jiwa yang sedang kosong. Menyerahkan diri pada takdir yang membawa. 
Senja sebentar lagi menyapa, kubawa bersama sorot elang cintanya mengikuti irama gamelan di Taman gandrung terakota. Aku menikmatinya dalam bisu, hanya menikmati sayup rindu tanpa tarianya. Dalam satu hitungan, dia berhasil menghitung patung gandrung yang berendam di kolam. Tidak banyak yang bisa melakukannya, kadang butuh dua sampai tiga kali untuk menghitung dengan tepat. Tapi dia beda, mungkin karena dia guru matematika. Konon bagi mereka yang dengan tepat menghitung patung gandrung tersebut adalah mereka yang masih dalam konsentrasi tingkat tinggi.  Senyum merekah patung gandrung menyambut kedatangan kami yang sedang dirundung asmara. Tanpa kata kata, para gandrung masih asyik berendam tanpa menanggalkan selendang dan busana.
“ayolah berendam bersamaku, bersama gandrung secantik dirimu”
Para gandrung tetap membisu, kurendamkan diri dalam kolam cinta bersama. “jangan !!!, cintakan membunuhmu”. Aku terkejut mendengar ucapannya, namun tetap saja kutenggelamkan dalam rendamannya.
Tak apalah ikut berendam bersamanya, sebelum senja beranjak pergi. Wulandari mulai menyapa, para gandrung membiarkanku merendamkan diri bersamanya. Aku tak tahu mereka pria atau wanita. Sekilas terlihat lekuk tubuhnya, namun belum membuktikan jenis kelaminnya. Ompyok gandrung turut timbul tenggelang dalam kolam, aku sudah tidak tertarik lagi memeriksa jenis kelaminnya, sebelum benar benar hanyut dalam lembah  sastra. Kukecup pipi tembem nyempluk diantara para penari gandrung yang tak kenal lelah meski senja telah beranjak ke peraduan. Penari gandrung timbul tenggelam mengikuti irama masa, dipematang sawah dari irama diatas paglak mereka menari, menyambut berkah panen padi tiba.
Hari beranjak malam, patung gandrung  masih berdiri kokoh tak beranjak, didepannya Nampak induk ayam melindungi keempat anaknya dari terpaan dingin dan hujan, wulandari menunjukkan pesonanya. Dibawah sinarnya para gandrung tersenyum menyapa, alunan nada dari paglak malam tak henti mengiringi. Para gandrung mengajakku menari. pajuan jiwa terbalut cinta membawaku hanyut dalam lirikannya, tariannya teratur dn terukur, pernah dentuman mesiu tak menyurutkan nyali untuk tetap menari dibawah sinar cinta wulandari. Pemilik pipi nyempluk hanyut dalam tarian malam. Para bidadari menyaksikan tarian kami, semalaman tanpa henti, seperti malam pengantin dilembah serpihan surgawi. Selendang merah telah siap dibahunya “ayo kita terus menari, melambung tinggi dalam tarian mimpi”.  Aku tetap memajunya dengan sisa tenaga yang ada. “ayo nona, kita pacu nafsu paling jalang mala mini”
Sambil menari, pemilik pipi tembem terus menghujamkan belati, tepat di ulu nadi. Aku terus melambai rindu dalam pajuannya. Tarian itu terlanjur membius jiwa yang sedang kosong, dari mulutnya keluar nada cinta tanpa kata. Belatinya terlalu tajam untuk dilawan, para penari terus menonton tarian jiwa berbalut asmara dibawah gerimis malam merindu purnama. Wulandari Tersenyum dalam kepongahan dengan perasaan menang ketika belati cinta terlanjur menancap dijiwa. “aku jadi pemenangnya”. Aku terdiam, lemas dalam dekapannya. Sinarnya terlalu tajam, wajahnya cerah, hanya wulandari tanpa awan yang sanggup menawarnya. “ambilah jiwaku, tanamkan dibalik belahan dadamu”. Kita ditakdirkan dalam satu cinta.
Patung gandrung tetap berdiri menunggu larut, mereka tetap membisu, hanya bayangannya menemaniku menerima ucapan cinta darinya. “aku juga menyerah kalah, hujamkanlah belatimu dirongga cintaku, aku akan tersenyum menerimanya”. Kuikuti cinta yang terbimbing nafsu serakahku “Biarlah para gandrung menjadi saksi tanpa bukti” bisiknya ditelingaku.
Aku tak lagi menungu di pojok pendma, tempat pertamakali kutaruh separuh jiwa untuknya. Tak lagi merindu dalam sendu, dia terus menari mengajakku menjadi pemajunya. Pemilik pipi tembem yang selalu tersenyum masih tetap menyimpan buku kenangan yang enam tahun lalu kuberikan dikampusnya, memadu janji diteluk pampang melihat perahu nelayan mencari ikan, tanpa mengabaikan dua penari yang tertidur di semenanjung sembulungan. Menunggunya mengajakku bergandengan tangan menuju pelaminan, meskipun selalu diingat dua japri pertama yang kuabaikan

Penulis adalah anggota Kelompok Terminal Literasi Pegawai Kemenag Kabupaten Banyuwangi





Mabrur Tanpa Berangkat Haji


Mabrur Tanpa Berangkat Haji
Oleh : Syafaat
Suatu waktu Abdullah bin Mubarok (118-181 H/726-797 M), berkeinginan pergi haji. ia bekerja keras mengumpulkan uang. iapun melaksanakan niatnya, menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Ketika sudah selesai mengerjakan berbagai tahapan ibadah haji, ia tertidur. Dalam tidurnya, ia bermimpi menyaksikan dua orang malaikat turun ke bumi. Kedua malaikat ini pun terlibat dalam perbincangan. “Berapa banyak jamaah yang datang tahun ini?” tanya malaikat yang satu kepada malaikat lainnya. “Enam ratus ribu orang,” jawab malaikat lainnya. “Tapi, tak satu pun diterima, kecuali seorang tukang sepatu bernama Muwaffaq yang tinggal di Damsyik (Damaskus). Dan berkat dia, maka semua jamaah yang berhaji diterima hajinya,” kata malaikat yang kedua. Ketika Ibnu Mubarok mendengar percakapan malaikat itu, terbangunlah ia. Ia pun berkeinginan mengunjungi Muwaffaq yang tinggal di Damsyik. Ia telusuri kediamannya dan kemudian menemukannya.
Ibnu Mubarok menyampaikan mimpi yang didapatnya. Mendengar cerita itu, maka menangislah Muwaffaq hingga akhirnya jatuh pingsan. Dan setelah sadar, Muwaffaq menceritakan bahwa selama lebih dari 40 tahun, dia berkeinginan untuk melakukan ibadah haji. Karenanya, dia pun mengumpulkan uang untuk itu. Jumlahnya sekitar 350 dirham (perak) dari hasil berdagang sepatu. Ketika musim haji tiba, ia mempersiapkan diri untuk berangkat bersama istrinya. Menjelang keberangkatan itu, istrinya yang sedang hamil mencium aroma makanan yang sangat sedap dari tetangganya. Muwaffaq pun mendatanginya dan memohon agar istrinya diberikan sedikit makanan tersebut. Tetangganya ini langsung menangis. Ia lalu menceritakan kisahnya. “Sudah tiga hari ini anakku tidak makan apa-apa,” katanya. “Hari ini, aku melihat seekor keledai mati tergeletak dan kemudian aku memotongnya, lalu kumasak untuk mereka. Ini terpaksa kulakukan karena kami memang tidak punya. Jadi, makanan ini tidak layak buat kalian karena makanan ini tidak halal bagimu,” terangnya sambil menangis. Mendengar hal itu, tanpa berpikir panjang Muwaffaq langsung kembali ke rumahnya mengambil tabungannya 350 dirham untuk diserahkan kepada keluarga tersebut. “Belanjakan ini untuk anakmu. Inilah perjalanan hajiku,” ungkapnya. Kisah ini memberikan pelajaran bagi kita bahwa sesungguhnya haji adalah amal yang utama. Namun, menyantuni anak yatim, orang miskin, dan telantar merupakan amal yang lebih utama.
Jadi peningkatan komitmen sosial inilah yang menjadi kemabruran ibadah haji seseorang. Setelah pulang dari kota suci, ia menjadi pribadi yang baik, lebih terbuka, dan mementingkan dimensi sosial. Itulah sebabnya mengapa haji mabrur dipandang sebagai jihad yang utama (HR. Bukhari no.1520). kemabruran inilah yang diharapkan ada pada segiap orang yang telah melaksanakan Ibadah Haji, namun sebagimana dalam kisah tersebut diatas, bahwa ada yang memperoleh predikat mabrur meskipun tidak melaksanakan ibadah haji. Kisah diatas merupakan salah satu kisah saja, ada beberapa kisah lain yang ditulis dibeberapa kitab yang menggambarkan orang yang mendapatkan predikat Mabrur meskipun tidak berangkat haji. Tidak menutup kemunkinan calon jamaah yang gagal berangkat karena pandemi covid-19 akan mendapatkan kemabruran, kemulyaan yang tidak kalah dengan mereka yang telah melaksanakan Ibadh Haji.
Covid-19 telah membuyarkan impian ribuan orang menunaikan Ibadah Haji tahun ini, banyak diantaranya yang hidup sangat hemat untuk dapatnya menabung dan menunaikan Rukun Islam kelima tersebut, yang diwajibkan bagi yang mampu untuk melaksanakannya. Meskipun demikian, tidak ada larangan bagi yang belum benar benar mampu untuk tetap melaksanakan Ibadah Haji. Begitupun dengan yang pernah melaksanakan Ibadah Haji, ada kenikmatan rohani yang biasanya orang yang telah melaksanakan ibadah haji berharap ingin kembali melaksanakannya, meskipun ketika beribadah mereka mengalami cobaan dan ujian, mereka akan mendapatkan kenikmatan spiritual dan keimanan yang semakin tinggi. Banyak alasan bagi seseorang berangkat menunaikan rukun Islam kelima tersebut, ada yang benar benar berangat karena sudah mampu, ada juga yang berangkat karena dibiayai anaknya atau orang lain, juga yang berangkat haji dengn mengemban tugas Negara sebagai petugas haji.
Pandemi ini bukan hanya membatalkan pemberangkatan haji tahun ini, namun juga berimbas pada antrian bagi pendaftar haji yang ingin mendapatkan nomor porsi. Animo masyarakat yang ingin berangkat haji dengan dibuktikan dengan semakin lamanya antrian untuk mendapatkan nomor porsi tersebut membuktikan bahwa kesadaran masyarakat untuk melaksanakan salah satu kewajibannya dalam beragama semakin tinggi, begitu juga dengan kewajiban yang berkaitan dengan peningkatan komitmen sosial dari Ibadah haji tersebut. Tidak ada jaminan bagi jamaah haji yang mengalami penundaan keberangkatan karena covid-19 dapat berangkat seluruhnya tahun ini. Hal ini terkait dengan Istithaah Kesehatan calon jamaah haji yang mungkin akan ada perubahan pada tahun yang akan datang.

Peningkatan komitmen menjadi lebih baik diperlukan bukan hanya kepada orang yang telah melaksanakan Ibadah Haji, namun juga kepada mereka yang telah mendaftar dan menunggu antrian untuk berangkat haji, karena kemabruran bukan hanya didapatkan dari mereka yang telah melaksanakan haji, namun juga bisa didapatkan dari mereka yang benar benar ikhlas mementingkan dimensi sosial bagi sesama tanpa menunggu keberangkatan haji yang belum tentu dapat dilaksanakan karena kondisi.

Penulis adalah Penyusun Bahan Pembinaan Keluarga Sakinah Kemenag Kab Banyuwangi

 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger