Pages

Dilangit Yang Kau Tatap Ada Rindu Yang Kau Titip



Dilangit Yang Kau Tatap Ada Rindu Yang Ku Titip
Oleh : ANNISA ARAHMA

Semakin kesini semakin sadar, memang roda kehidupan selalu mengajarkan pentingnya menggunakan perasaan dalam setiap keadaan dan kesadaran. Semua tahu, semua sadar, bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja, meskipun ada tante corona. Satu hari, dua hari, satu minggu, sampai berbulan-bulan sepi ini belum berlalu. Menggoreskan luka, menusuk jiwa, serta terjauh dari cinta. Menutup diri menjauh dari keramaian dengan segenggam harapan bencana segera terselesaikan. Aku tidak tahu, siapa lagi yang dapat menjelaskan. Harus mengakui. Bahwa aku sedang dirundung rindu. Seperti halnya sebayaku juga tidak ingin hanya berandai-andai, meramaikan harapan yang sebenarnya hidup dalam sepi, diimana saat ramai yang dulu sering terjadi di bumi pertiwi.  Bersama bergandengan, melepas luka rindu saling berpelukan, mengobrol santai tanpa beban. Kenangan yang tak terlupakan, semakin menyimpannya kedalam memori indah, belum sempat mengatakan sampai jumpa, semakin merindu untuk berjumpa dengan madrasah kita.
Tak banyak yang dapat dilakukan agar kau tetap bersemangat menjalani karantina. Tentunya kita saling support dari rumah masing-masing. Dengan berbaring di kamar seharian. Kita sering menghabiskan waktu bersama dengan bermain, belajar, dan membuat keributan kecil khas remaja. Yang jika mwngingatnya jadi malu tapi mau. Melakukannya lagi dan lebih sering. Namun kini serasa bosan sekali karena tidak ada kehadiranmu di sisi ku. Tidak ada lagi bising di telingaku, tidak ada lagi seriusmu yang malah mengundang tawa. Bagaimana ini? Aku malah mengingat hal-hal konyol yang kita lakukan, tentang guru killer yang menjengkelkan, namun juga dirindukan, tentang meteri pelajaran yang kadang serasa membosankan. Saat ini berkirim kabar secara online adalah pilihan terbaik yang bisa dilakukan, bermain tiktok bersama, membuat kelas online dari kamar kita masing masing yang sedikit bau apek dan berantakan.
Berhari hari setelah jenuh selalu datang, otak mulai memutarkan hari-hari indah dan buruk di masa lalu bersama kawan sepembelajaran sepermainan. Membuat hati merasa “terpuaskan”. Yang terbiasa tertawa riang gembira, hal apapun yang sulit diselesaikan bersama-sama, Merayakan hari bahagia, dan terkadang, ada beberapa pertengkaran kecil yang membuat kami jadi jauh sementara. Namun, namanya remaja pasti emosi nya masih sedang labil. Boleh juga dikatakan “sek proses belajar dadi dewasa” (masih proses belajar menjadi dewasa). Apapun itu, nyatanya setelah bertengkar rasanya jadi tambah sayang, karena kita jadi semakin mengenali satu sama lain. Dari sini semakin memahami jika yang kita suka belum tentu disukai orang lain, yang kita mau belum tentu juga di inginkan orang lain, yang kita lihat juga belum tentu dilihat orang lain. Dari pertengkaran itulah kita, yang sebagai anak remaja benar-benar diberikan pelajaran berharga untuk saling menghormati dan menghargai. Dengan itu kasih sayang dan cinta akan terbentuk. Dengan inilah, rindu didalam hati juga terbentuk pada waktunya. Dimana kita tidak dapat mengulanginya. Dan dari rindu, kita juga belajar, jangan pernah menyia-nyiakan waktu. Ciptakan kenangan indah dalam kondisi apapun bersama siapapun. Dikala kondisi pandemi covid-19 seperti ini, rindu juga dapat menjadi rasa pereda di saat suasana hati sedang tidak enak-enaknya. Dengan rindu, menguatkan ingatan kita tentang kenangan bahwa kita ernah belajar bersama ditempat yang sama, dan dengan guru yang sama.
Untuk mengurangi bosan, kia dapat memanfaatkan beberapa fitur dari media online untuk mengabadikan beberapa kenangan yang  sempat terekam melalui foto dan video, kita dapat mengunggahnya kedalam Facebook maupun Youtube. Suatu saat kita akan tertawa karena kekonyolan yang dulu Sering terjadi. Sempat berfikir, apakah nanti kita dapat tidur kalau kenangan-kenangan indah ini masih menghantui pikiran? Tidak, itu pertanyaan yang konyol enjoy saja kita geser layar Handphone untuk melihat momen-momen indah itu. Sungguh, kita memang benar-benar terbukti sering menghabiskan waktu bersama-sama disela menyerap materi pelajaran. Kita sekarang sering cekikitan sendiri dalam kamar ditengah malam,orang orang dewasa tidak akan mengerti hati kita yang sedang menikmati masa remaja dengan membuat kelas online, membuat taman bermain dalam kotak kecil elektronik yang kita bawa kemanapun juga.
Sembari mengingat-ingat memori indah mengusir kebosanan, kadang sedikit tertawa dan tak terasa juga meneteskan air mata. Di sudut jendela ruang tamu, bertanya-tanya dan penasaran dengan menatap langit. Apakah temanku juga merasakan rindu yang kurasakan? Apa juga sedang mengingat kenangan indah itu? Apakah mau menatap langit yang sama sekarang juga?, Di langit yang kau tatap ada rindu yang ku titip, bahkan juga akan menitipkan rindu pada seisi tata surya., agar musibah ini segera berakhir. Kita menitipkannya langsung pada sang Pencipta. Agar rindu ku dapat segera sampai dan berkuranglah rindu-rindu dahsyat lainnya, pada masa dimana penguasa menyebutnya New Normal.
Pasti Sudah terungkap bagaimana perasaan ini. Jarak yang kian lama kian membatasi hingga terasa sesak di hati, menjalani kehidupan yang sama sekali tak pernah terbayangkan. Dan pasti, mencetak sejarah yang menjadi kenangan terindah walaupun sangat berat saat melaluinya. Perjuangan garda terdepan, para tenaga medis, perawat dan rakyat yang bersama-sama saling menguatkan dalam keterbatasan. Segala profesi dianjurkan membatasi diri agar rasa rindu ini segera terobati. Dan apapun harapan kebaikannya semoga kan terjadi.
Adakah yang belum mengakui rindunya? Rasakan dulu. Ingatlah keadaan dimana kita sama-sama menebar kasih sayang, cinta pada sesama hingga memupuk ketaqwaan yang sejati kepada Tuhan semesta alam, Allah swt. Ku katakan yang ada dalam benakku. Aku rindu. Rindu pada guru-guru hebat di Madrasahku, teman-teman seperjuangan, dan bahkan tempatku menempuh pendidikan. Saat ini memang sedang tepat saat nya bersedih hati. Namun tidak, jangan terlarut. Aku tidak boleh menyerah karena rindu ini. Harus semakin semangat. Dan semangat nya benar-benar membara karena kita pasti segera berjumpa, bersama keyakinan dan doa kita. Semua pasti akan baik-baik saja.

Oleh :
ANNISA ARAHMA
Kelas XI MIPA MAN 3 BANYUWANGI

Kuantar Sampai Terminal Harapan


Kuantar  Sampai Terminal Harapan
Oleh :Eny Susiani
Maaf kami hanya bisa mengantarkanmu sampai terminal, dengan sedikit bekal ilmu yang kami berikan berharap kalian bisa menuju tujuan dan cita cita, bergilah jauh,terbanglah tinggi dan arungi luasnya samudra kehidupan.ingatlah perjuangan baru dimulai, berjuanlah semanpu yang anda bias. Jangan pernah menyerah,diluar sana banyak onak berduri,jalan terjal berliku,kerikil tajam,bahkan bongkahan batu,jurang dan menghadang langkahmu.Tidak seperti waktu kamu disini dalam dekapan dan pelukan kami yang setiap saat siap membantu mengoleskan obat dan memelukmu bila engkau terluka. Diluar sana kau akan berhadapan dengan banyak rintagan dengan berbagai tipe golongan,usia,dan latar brlakang pendidikan dan ekonomi yang berbeda.
Disini dulu kamu hanya bersaing untuk mendapatkan nilai, perhatian,dan penghargaan dari kami guru gurumu,dan pesaingmu hanyalah teman sebaya dengan usia yang hampir sepadan, latar belakang ekonomi dan sosial budaya yang tidak terlalu mencolok perbedaannya,juga hanya denga didikan kami yang hampir seragam hampir sama, sebagaimana seragammu tiap hari. Kalau toh ada ujian hanya sebatas kerikil kecil bukan bongkahan batu dan onak berduri. Anakku kami memang bukan orang tua biologismu,bukan orang tua kandungmu, kami hanyalah orang tua ideologis yang berharap engkau menjadi insan mulia pemimpin segala lini kehidupan. suatu saat nanti, minimal pemimpin bagi dirimu sendiri dan keluargamu.Berharap suatu saat nanti ada goresan pena yang mewarnai hidupmu, membentuk mozaik mozaik karakter dan budi pekertimu agar bisa mengapai mimpi mimpimu.

Anakku,bermimpilah setinggi langit, kalau toh kamu jatuh, jatuhnya masih diantara bintang bintang. Jangam mudah menyerah oleh keadaan,jangan melihat kesuksesan seseorang secara instan kamu tidak pernah tahu apa saja yang pernah mereka lalui. Jadilah dirimu sendiri dengan keunggulan masing masing karena semua dari kalian sudah diberi bekal yang cukup oleh Allah, berupa segenap kelebihan dan kekuranganmu. Dulu kita memang tidak saling kenal, tapi segalanya berubah setelah tiga tahun yang lalu engkau dinobatkan menjadi anak didik kami melalui,akhirnya kita saling kenal,saling sayang,saling merindukan,saling mendoakan dan terbersit harapan akan masa depan kalian.
Maafkan kami yang kadang mendidikmu sedikit keras, kadang ada sedikit cubitan, tempelengan masuk relung hatimu tidak lain dan tidak bukan karena kami sayang padamu,bahkan separuh jiwaku untukmu anak anakku,cinta dan sayangku begitu dalam,kami tidak mau engkau tidak siap,bahkan terluka dan terjerembab diluar sana. Meski hanya kabar lewat angin malam dan rintik hujan berharap kau baik baik saja diluar sana,berharap engkau semua bisa mengenggam dunia untuk bekal dunia dan akhiratmu kelak. Kami akan bahagia bila itu yang terjadi dan kami akan ikut sedih bila kau gagal.
Maafkan kami bila mengantarmu sampai terminal harapan, tanpa suara, tanpa gegap gempita,tanpa alunan musik merdu. Tanpa lantunan adik adikmu di ballroom hotel ternama seperti kakak kakak kelasmu dulu. Tanpa prosesi pengalungan gordom,tanpa  baju baru paling indah yang sudah kalian siapkan jauh hari awal kelas XII, tanpa bunga ditangan dan tanpa prosesi sungkeman ke orang tua kandungmu,ayah ibumu yang begitu bangga melihatmu berjalan di karpet merah menuju kedepan untuk pengalungan gordom tanda anda resmi kami lepas.Semua dalam hening dan serba ketidak pastian sejak munculnya si kecil bernama cantik "Corona". Itulah hidup anak ku kadang tidak sesuai ekspektasi.
Kutulis semua ini karena ada sedikit yang menyesakkan dada ini, kukira hari ini anda sudah legowo untuk tidak diwisuda. Kukira engkau sudah menelan pul pahit kehidupa ini. Oh ternyata masing ada saja tiap hari yang Japri, bu " kapan wisuda"  kan sudah New Normal alias kebiyasaan anyar berarti kita bisa wisuda". Sayang bu nanti teman teman dan guru tidak bisa menyaksikan pesona kecantikanku, aku tertawa kecil tawa yang kuharapka sedikit mengobati luka.
Anak ku kita memang sudah jauh hari merencanakan semuanya bahkan mulai bulan juli awal kalian rela menabung untuk beli baju terbaik saat wisuda, baju yang sudah kita sepakati bersama warna dan modelnya, merah untuk jurusan MIPA, kuning untuk jurusan IPS dan hijau untuk jurusan Agama yang kalian perjuangkan melalui lobi lobi sengit dengan panitia untuk di ganti warna Navi, berkali kali kalian menemuiku untuk jadi mediator dengan panitia dan akhirnya deal warna navi, waktu itu kalian bersorak riang. Ah ternyata itu sebatas bayang semu.
Ada yang di Whatapp Group sekali lagi dan terus bertanya bahkan terakhir dengan sedikit ancaman yang membuatku geli di tengah kegalauan kalian, bagaimana tidak, kau ancam kami bila tidak digunakan untuk wisuda bajunya digunakan untuk menikah saja katanya, kujawab ancaman itu dengan gurauan yang menjadilan group kelas menjadi rame, oh ya nanti kami guru guru yang jadi pengiringnya.Munculah emocy lucu lucuan. Wisuda sebatas angan karena kalau kami lakukan tetap menyalahi protokol kesehatan,kami harus berkumpul dalam ruangann yang sama 1000 orang lebih, karena tidak mungkin sudahlah anakku tidak usah terlalu dipikirkan,ini juga pembelajaran hidup yang kadang tidak sesuai rencana dan kalian adalah generasi hebat yang dipaksa untuk adaptif terhadap keadaan dan ini modal anda generasi emas dimana keadaan sewakru waktu berubah dan hanya orang adaptif yang sukses menapaki kehidupan karena dunia berubah begitu cepat..
Maafkan kami sekali lagi hanya mengantarmu sampai disini diterminal terakhir menuju tujuan dan asamu, tolong jangan lupakan kami,kutunggu engkau semua dalam dekapan rinduku menuju suksesmu. Ingatlah pesan kami gurumu," jatuh itu biasa,segera bangun,bangkit, berdiri dan berlarilah, orang sukses itu tidak mudah mungkin mereka jatuh dan bangun berkali kali untuk suksesnya.
Salam sayang selalu dari gurumu orang tua ideologismu, ingat kami satu persatu tanpa kecuali.Selamat untuk yang sudah mendapat perguruan tinggi impian melalui SNMPTN,SPAN-PTKIN,PMDK-PN,dan selamat berjuang untuk yang belum mendapatkan melalui SBMPTN,UMPN dan jalur mandiri lainnya, masih banyak jalan menuju roma.Dan selamat juga bagi yang memutuskan untuk bekerja bahkan menikah semoga sukses bersama Anda,  dari pada sibuk memikirkan wisuda yan menghabiskan energi lebih baik menata hidup kedepan lebih yang lebih baik.

Penulis : Guru PPKn MAN 3 Banyuwangi di Srono

Jokowi dan Geliat Wisata Banyuwangi


Jokowi dan Geliat Wisata Banyuwangi
Oleh : Syafaat
            Rasanya semua orang terkenal di Indonesia pernah menginjakkan kakinya di Bumi Blambangan, tanpa terkecuali Presiden Joko Widodo, orang nomor satu di negeri ini melakukan kunjungan kerja di Kabupaten terluas se Pulau Jawa ini. Kehadirannya bukan sekedar penasaran terhadap bumi dimana orang oranya menikmati pertama kali Matahari  pagi di Pulau Jawa. P Jokowi tidak pernah mempermasalahkan dan tidak pernah iri bahwa Matahari yang dinikmati orang Jakarta sudah pernah dinikmati orang Banyuwangi, karena karuna sinar Matahari tak akan pernah berkurang meski jutaan tahun.
Akses yang mudah dengan panorama alam nan elok yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada Kabupaten yang berjuluk The Sunrise Of Java ini pantas menjadi pemikat siapa saja untuk mengunjunginya. Meski hanya sebuah Kabupaten, namun parorama alam lengkap mulai dari ombak laut yang paling tenang nyaris seperti aliran sungai, hingga ombak terbaik yang menjadi primadona peselancar dunia. Dari puncak gunung dengan aroma belerang aktif hingga waduk dengan gugusan pulau pulau kecil didalamnya.

Jokowi tidak akan mengunjungi seluruh tempat wisata di Bumi Blambangan, mungkin hanya makan siang dengan makanan khas Banyuwangi ditepi pantai selat Bali dengan iringan Tari Gandrung yang memukau, atau pasar layanan publik yang merakyat yang hanya ada di wilayah ujung timur Pulau Jawa ini. Presiden Republik Indonesia untuk saat ini tidak akan naik ke Puncak Ijen untuk menikmati Blue Fire yang di Indonesia hanya ada di Banyuwangi, atau tempat wisata lain yang tak kalah elok dan mempesona dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia, namun kehadirannya sangat berarti bagi geliat wisata di Banyuwangi.
Geliat wisata sangat berpengaruh terhadap perkembangan perekonomian masyarakat, multiefek yang ditimbulkan dari kunjungan Presiden ketujuh tersebut mungkin tidak dapat dirasakan secara instan, namun perlahan akan membangkitkan kembali wisata yang seakan sedang tidur akibat pandemi covid-19. Terlebih di Bumi Blambangan dimana pengembangan wisata yang seakan masih mencari jati diri. Icon wisata masih belum benar benar disepakati, begitupun dengan sebtan khusus sebagai daya tarik dari daerah ini.
Sebagai wilayah yang pada pada zaman dahulu lebih mudah diakses melalui Pulau Bali dibandingkan dengan ketika masuk melalui wilayah Kabupaten lain di Pulau Jawa, Tradisi dan budaya yang berkembang di Kabupaten Banyuwangi sangat beraneka ragam dan khas, dimana tradisi dan budaya diwilayah ini beraneka ragam yang dipengaruhi oleh tari dan budaya dari wilayah sekitar, disamping tari dan budaya yang tumbuh secara alami dari wilayah yang dulu pernah menjadi Kerajaan besar yang wilayahnya bukan hanya wilayah Kabupaten Banyuwangi saat ini, namun juga wilayah lain di Pulau Jawa, karenanya bukan hal yang aneh ketika dulu pernah ada wacana untuk membentuk Provinsi Blambangan yang wilayahnya terdiri dari bekas wilayah Kerajaan Blambangan.
Masyarakat Banyuwangi harus berbangga dengan kehadiran Presiden ke Tujuh ini, dengan mengingat dimasa Pandemi Covid-19 ini dimana kita tidak tahu kapan akan berakhirnya, terlebih dengan semakin meningkatnya prosentase orang yang terjangkit penyakit dari virus tersebut. Denga kehadiran rombongan presiden ini, sebagai salah satu bukti bahwa Banyuwangi aman dan ramah dikunjungi. Namun kita juga tidak boleh terlena karenanya. Dengan mengingat penyebaran virus tersebut masih tetap membahayakan bagi kita semua.
Roda kehidupan tidak boleh terhenti hanya karena Pandemi covid-19, seperti adagium baru bahwa lebih baik mati karena corona daripada mati karena kelaparan. Meskipun adagium tersebut tidak selamanya benar, namun dapat kita jadikan sebuah renungan dan pengambilan kebutusan bagi para penguasa untuk menentukan sikap dan strategi dalam menghadapi musibah global ini agar rakyat tidak mati kelaparan dan terhindar dari virus corona. Kaena ketersediaan pangan sangat berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat, berbngsa dan bernegara.
Terlepas dari kepentingan politik yang mungkin ada dalam kunjungan presiden tersebut, harap dimaklumi karena lembaga kepresidenan merupakan jabatan politik, dan dalam bernegara saat ini tidak akan terlepas dari kepentingan politik. Kunjungan Kerja Presiden tersebut di Bumi Blambangan dengan melihat perkembangan layanan publik yang dilakukan Pemerintah dengan menggunakan protokol kesehatan dalam kebiyasaan anyar, dengan berbagai inovasi yang dilakukan, dengan penggunaan media online, jika hal ini dianggap bagus dan pertama kali dilakukan, mungkin dapat diterapkan di daerah lainnya di Indonesia.
Terlalu jauh kita berfikir jika kunjungan Presiden tersebut untuk menjajaki kemungkinan dipindahkannya Ibukota Negara ke Kabupaten Banyuwangi, meskipun jika itu dilakukan akan sangat menguntungkan negara dengan mengingat fasilitas yang sudah banyak tersedia bagi pemindahan Ibukota tersebut, namun Pemerintah telah memutuskan pemindahan Ibukota dilakukan di Pulau teruas yang letaknya dianggap ditengah tengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.  Karenanya berharap pemindahan Ibukota kewilayah Kabupaten Banyuwangi sebuah mimpi yang rasanya sulit untuk diwujutkan menjadi sebuah impian.
*Penulis Warga Desa Sumberberas Kecamatan Muncar



Kerinduanku Terenggut Corona

Kerinduanku Terenggut Corona
Oleh : Yusi Nia Sar

i

Pada layar kaca usang disudut ruangan, tempat kita menikmati berita TV, kurasakan sepi disetiap celah pojok kelas, riuh gaduh yang biasa terdengar, canda gurau dengan segala riang, berkeluh kesah tanpa sebuah pertikaian, Bahkan damai dengan semua nuansa perbedaan. Kini kita hanya sebatas ketikan yang ada pada baris-baris kotak dilayar genggam, sebatas tawa  berpautan pada rona emoji, dan menembus rindu hanya berhadapan pada ponsel, ini hanya sebatas kita yang tidak bisa mendaratkan pelukan. Semua mulai terbatasi tidak ada lagi senda gurau atau setakat bersemuka dengan semua teman, guru, karyawan, dan warga sekolah lainnya.
Aku rindu, Atas segala dimensi yang pernah kita tempati, belajar bersama-sama dengan kekompakan yang amat kuat, antusias yang membara, semangat berapi-api, serta gelora yang selalu berkobar. Ah sial, kita sudah menerima hasil nilai tahun ajaran ini, Kalian pasti paham bukan? Mungkin tahun ajaran pelajaran besok kita sudah tidak sekelas lagi. Padahal kita belum genap setahun; sisa waktu kita terhabiskan dengan belajar sendiri tanpa harus kalian temani. Yah covid-19 maaf sudah sering menyalahkanmu meski sudah sekian banyak belati yang kamu tancapkan, ini hanya tentang keadaan. Bagaimana manusia bumi bisa membalut luka sendiri dan bertahan pada kehancuran yang terjadi saat ini. Sekalipun banyak yang tanggal disudut pipi lalu menjelma butiran air mata yang jatuh karena memayungi rasa yang amat nestapa, Di waktu-waktu hancur ketika harapan kita melebur. Namun percayalah bahwa kita hanya sedang tersungkur tapi tetap tidak boleh mundur.
Kelak kita akan belajar tentang makna bersyukur pada kehidupan yang sesungguhnya.,Makna terenggutnya kebersamaan kita karena virus corona, mungkin tahun ajaran besok kita sudah tidak sekelas lagi, tidak begitu bertatap meski hanya sekadar menanyakan tugas, sekadar menceritakan guru kiler yang selalu disegani, atau guru ganteng dan cantik yang sangat berbaik hati dan sangat dicintai. Suka dan duka telah sama-sama kita terima dengan lapang dada, kita sudah banyak mengarungi perbedaan ataupun melewati ancaman dan dengan bersama-sama kita lebih kuat menjalani kehidupan.
Dalam hidupku, kalian pernah menjadi segalanya. Banyak badai yang sudah kita lewati, namun kita tetap saling mengeratkan jemari, banyak pertanyaan yang sering kita tangguhkan tapi alhasil semua sudah menjadi pernyataan. Kebersamaan dan kekompakan kelas kita sudah sering dibicarakan orang, tapi tentu kelas kita selalu memegang medali tanda kemenangan. Makhuk kecil tak tampak telah merenggut sebagian masa terndah yang kita miliki. Kita akan terus belajar tentang makna kehidupan dari peristiwa yang kita alami saat ini, sebuah kondisi yang sangat tidak normal yang tidak pernah terpikirkan dalam angan sebelumnya.
Kalah maupun menang sudah biasa dalam permainan, tapi riang yang menjulang pada kebersamaan itu biasa kita sebut kenyamanan. Kita sudah amat dalam menyelami perbedaan, jika ada suatu kekurangan, semua telah sama-sama kita terima dengan lapang dada, kita paham bahwa tidak ada kesempurnaan ditubuh orang. Karena kesempurnaan yang utuh hanyalah milik Tuhan. Kita pernah sempat menjadi tempatmu bercerita, tentang hari mana yang membuatmu bahagia maupun menderita. Kitapun sangat paham kapan seriusmu menjadi canda, dan candamu menjadi candu. Tak ada yang selucu kelas kita, dan tak ada yang tempat yang ternyaman kecuali kelas kita, yak ada yang paling kurindu selain kenangan candaanmu.
Teruntuk kalian, Terimakasih sudah pernah hadir di hati dan jiwaku, meski keberadaan kalian hanya sebatas mampir. Seperti yang kita tahu, kelas kita adalah perjalananmu dan bukan rumahmu. Kita pernah melabuhkan kisah dan sekarang berakhir pisah. Panasnya terik yang kita lewati juga dinginnya  semilir malam karena hujan membasahi bumi, Perjuangan ini tak boleh tersekat sia-sia kalian harus terus bertarung dengan tahun ajaran berikutnya, meski pertempuran kalian esok tidak sama seperti dulu lagi.
Untuk seluruh percakapan yang pernah kita perbincangkan, terimakasih sudah menghadirkan nyaman, Tuhan memberikan kesempatan cukup baik dalam menghadirkan kalian dalam kehidupanku. Meskipun tak disebut selamanya, kalian pernah mengisi kekosongan ruang yang ada. Jangan merayakan perpisahan kelas dengan menjadi setengah gila, atau dijadikan alasan untuk menangis semalaman, Tapi jadikan cerita kita dalam bagian perjalanan hidupmu. Apapun takdir yang akan kita jalani, semoga selalu kalian sematkan dalam hati.
Tak ada resah dan gelisah seperti lagu lama Obbi Mesakh berjudul kisah kasih di sekolah dimana ketika lagu tersebut tenar, Orang tua kita mungkin juga masih Remaja seperti kita. Kerinduanku tanpa asnara, ketulusan candamu akan kita bawa selamanya. Sebagai kisah kasih terindah dari waktu terbaik yang kita miliki. Patut kita sukuri bahwa kita hidup dizaman yang mungkin tak akan terulang dalam sejarah kehidupan manusia, dimana generasi kita dapat naik kelas meski waktu belajar di kelas kita terpangkas. Kita yang mengawaali kegiatan belajar merdeka, dimana ruang kelas kita adalah sudut kamar kita sendiri, kerinduan bersua kita tertuangkan dalam segenggam kotak kecil secara virtual, kita tidak harus berbaju seragam nan rapi ketika memasuki dimensi pembelajaran.
Kerinduan kita terobati ketika kita memasuki era baru yang oleh orang orang dewasa disebut New Normal, yang menurut kita sungguh tidak normal, dimana canda dan tawa kita harus dibatasi dengan Face Shild dan masker, kita adalah generasi bebas yang sedang mencari jati diri, dan sekarang terkurung dalam pandemi yang harus kita jalani dan kita nikmati bagaimanapun pahitnya. Yakinlah bahwa kerinduan yang terenggut corona akan berbuah indah pada waktunya.


Penulis adalah Siswa Kelas XI IPS-4 MAN 3 Banyuwangi di Srono

Biarlah Kenangan Kita Sebatas Bayangan


Biarlah Kenangan Kita Sebatas Bayangan
Oleh; Tria Aini Wulandari, S.Pd

Tanpa sengaja ku buka galeri Handphone, kurasakan ada yang menari-nari dalam benakku. Ketika jari lentikku menggeser layar slide by slide, seolah diriku diajak berkelana dalam memori lama. Mengingatkanku akan pertemuanku denganmu adalah sebuah takdir yang tak bisa kita tentukan sendiri. Pertemuan yang awal membawa keraguan dan ketidakpastian. Apakah aku pantas bersanding denganmu? Apakah aku bisa menyeimbangimu? Apakah aku bisa membimbingmu dengan sepenuh hati? Apakah aku bisa berteman baik denganmu? Dan apakah kita bisa saling mengerti dan peduli satu sama lain?  Begitu banyak pertanyaan yang muncul dibenakku kala itu sehingga membuatku dilema. Tapi tidak setelahnya, mengenalmu dalam sekejap dunia terasa indah. Layaknya orang sedang jatuh cinta. Tak ingin seharipun ada yang kulewati tanpa dirimu. Hari-hari kuhabiskan, walau engkau hanya sebatas orang asing yang di kirim Tuhan sejenak dalam kehidupanku namun ku berharap kita bisa seperti kawan yang akan terus bermain dan belajar bersama. Seperti sahabat yang bisa peduli dan saling memahami. Serta seperti keluarga yang bisa memberikan rasa rindu dan kehangatan yang berarti setiap saat.
Begitu dahsyatnya, kekuatan dimensi ruang dan waktu yang pernah kita lalui bersama, seolah memanggil dan mengajakku untuk kita berjumpa dan bersama kembali. Dari setiap foto yang kupandangi membawaku menyelami kenangan lama kita bersama, ternyata dulu kita pernah sedekat nadi, bercanda bersama, bermain bersama, belajar bersama bak sisi mata uang yang tak bisa terpisahkan dan akan selalu bersama selamanya. Masyaallah, kenangan yang terukir di setiap sudut ruang persegi dimana kala semangatmu tuk belajar setiap hari yang kian membara tak lagi ku lihat dan keasyikanmu bersendau gurau bersama teman ketika jam kosong tanpa sebuah pertikaian tak lagi terdengar. Bermain lompat tali dan bermain permainan tradisional lainnya dijam istirahat di lahan yang luas tak lagi bisa kita lakukan bersama karena kenangan itu hanya mampu tertuang dalam sebatas bayangan dan membuatku kini hanya bisa memeluk rindu. Rindu yang tersekat oleh ruang dan waktu. Padahal kuberharap, kemesraan ini. Janganlah cepat berlalu. Kemesraan ini. Ingin ku kenang selalu. Sebagaimana lagu Iwan Fals-Kemesraan. Hubungan kita bukan lagi seperti seorang sahabat, bukan lagi seorang guru dan murid, namun sekan jiwa kita telah menyatu dalam rindu dan cinta.
Ah sudahlah, ku mulai tersadar ada yang aneh, basah dan lembab. Ketika kedua pipi tembemku merasakan ada kehangatan dari air mata yang tanpa sengaja ku teteskan. Secara spontan senyum yang awal merekah kini tertutup mendung yang menyelimuti. Kurasakan jariku terasa kaku dan tak mampu lagi bergerak menggeser foto di slide berikutnya, ketika aku menemukan foto perpisahan kita. Perpisahan yang hanya bisa kita rayakan secara sederhana. Tak ada panggung yang megah, tak ada tarian yang spektakuler, tak ada suara drumband yang mengiringi, tak ada momen kalian dandan cantik dan ganteng yang sedang memakai baju toga, yang ada hanya penampilan kalian yang sederhana, memakai seragam sekolah dan wajah imut kalian yang berusaha bahagia dibalik masker dalam acara tasyakur lepas pisah kelas akhir yang saat itu hanya bisa dihadiri oleh orang tertentu saja karena kita tidak diijinkan untuk melakukan perkumpulan yang disebabakan adanya tentara kecil tak kasat mata bak selebritis internasional yang mampu membuat semua media masa seperti, facebook, instagram, twitter, koran dan televisi mengagung-agungkan namanya dan berhasil pula membuat semua orang resah atas kedatangan Covid-19.
Benar-benar terasa sedih yang teramat, karena dihari kita pisah tak ada pelukan, tak ada ciuman, dan tak ada berjabat tangan yang bisa aku lakukan hanya sebatas ucapan selamat jalan semoga kalian sukses yang mampu terucap dari bibir mungilku yang sesungguhnya berat untuk terucap. Momen itu, benar-benar berhasil menghipnotisku terlarut dalam kenangan yang penuh deraian air mata. Rasa takut akan kenyamanan diantara kita yang sulit didapatkan dari orang lain mulai muncul karena ku merasa rumah lama memberikan begitu banyak kenangan yang belum tentu didapat dari rumah baru hanya karena perpisahaan. Walau ku tersadar, berpisah bukan berarti bercerai. Jiwa raga kita boleh terluka dan tak lagi bersatu, tetapi hati kita harus tetap selalu menyatu. Perpisahan bukanlah cerita akhir dari sebuah kehidupan. Tetapi perpisahan adalah langkah awal seberapa kuat kita meneruskan kehidupan tanpanya. Perpisahan mengajarkan kita untuk menghargai bahwa setiap detik kebersamaan adalah anugerah yang tidak boleh disia-siakan.
Jangan katakan selamat tinggal bila engkau mencintai karena mata. Karena bagi mereka yang mencintai dengan hati dan jiwa tidak ada yang namanya perpisahan. Dan bila boleh memilih, sejujurnya aku tak ingin berpisah denganmu, tapi aku tak boleh egois. Engkau bukan tahanan yang bisa kami tahan untuk selalu menemani. Tapi engkau adalah generasi masa depan yang selalu dinanti. Generasi yang diharapkan mampu bersaing di kancah internasional sehingga bisa mengantarkanmu menjadi generasi hebat.
Pertemuan dan perpisahan. Kita pasti selalu mengalami dua hal tersebut dalam kurun waktu tertentu. Setiap orang pasti memiliki tabungan pertemuan dan perpisahan yang berbeda-beda. Walau, pertemuan membawa suatu kebahagiaan tapi ingat akan selalu ada perpisahan yang menunggu. Mereka layaknya dua sejoli yang tak bisa dipisahkan tapi mampu membuat manusia dapat memahami arti penting pertemuan dan perpisahan yang sesungguhnya.
Mengiklaskan adalah salah satu jalan yang membawa kita dalam titik rasa bersyukur kepada Tuhan Allah. Karena-Nya kita memahami arti bertemu dan berpisah yang indah. Jelas sangat sulit mengobati hati yang sudah terlanjur patah tapi tak sakit, terluka tapi tak berdarah, hanya karena kita berpisah. Namun Ingat setiap tetes air mata yang tertumpah, akan menjadi saksi atas jalinan erat yang selama ini kita simpul erat-erat.
Biarlah pertemuan dan perpisahan kita menjadi kenangan yang seperti bayangan. Semakin kita menjauh semakin dekat ia mengikuti, dan semakin kita dekati ia akan semakin berlari menjauh. Begitupun kenangan kita, semakin aku merindukanmu engkau akan terasa jauh karena engkau tak lagi berada di sisiku. Namun semakin aku berusaha melupakanmu tapi engkau selalu berusaha dekat dihatiku. Dan biarlah jiwa raga kita berpisah, tenanglah engkau tetaplah anak asuh ku yang berarti dan engkau akan selalu ada dalam hati.
Selamat jalan anak anakku, selamat meneruskan pendidikan ssuai cita citamu, doa dan restu dari orang tuamu yang bukan hanya bertemu denganmu didalam kelas selalu menyertai untuk kesuksesanmu. Cinta kami selalu bersamamu, kerinduan kami kepadamu sebagai generasi tangguh akan terus terpupuk dalam bingkai cerita peperangan hebat kita melawan corona.
*Penulis adalah Guru pada MI Darul Amien Jajag Kecamatan Gambiran


Melayani Dengan Sepenuh Hati


Melayani Dengan Sepenuh Hati
Oleh : Eny Susiani

Melayani dengan hati, ah seperti slogan saja, hanya abang abang lambe. Mungkin ada yang berfikir seperti itu. Tapi tunggu dulu, itulah yang kami lakukan, mengakhiri pembelajaran dengan pembagian Raport siswa. Kami buat undangan dengan memperhatikan protokol kesehatan di era kebiasaan anyar (New Normal) mulai kami layani di meja meja yang kami tata di luar kelas berjauhan, wajib memakai masker, wajib cuci tangan, himbauan tidak berkerumun, tidak usah bersalaman apalagi cipika cipiki, tidak tanda tanga dan hanya di beri tanda centang untuk kehadiran, wali kelas dan guru yang melayani mengunakan face shild, kehadiran orang tua dilakukan beberapa shif yang mengakibatkan kegiatan semakin lama, tidak adalagi rapat besar wali murid dengan komite.
Ah ternyata semua itu tidak cukup menyakinkan untuk sebagian wali siswa, ada yang tetap tidak berani hadir dengan segala argumennya, bahkan mereka ada yang tetap ngotot minta dikirim file PDF Raport putranya, dan semua kami layani dengan segenap hati yang minta file kami kirim file, yang berkenan datang kami layani dengan segenap hati dan jiwa raga kami, meskiun kami tahu bagaimana resikonya ketika kami harus keluar rumah kami berikan senyuman terbaik kami, ucapan selamat telah naik kelas diera pandemi, dan sedikit petuah khas seorang guru.
Dan yang orang tuanya dengan segala alasan tidak bisa hadirpun tetap kami layani, anaknya sendiri yang mengambil, padahal kami sampai harus lembur bermalam malam untuk menyiapkan semua ini, karena bagi kami siswa adalah amanah yang dititipkan pada kami sehingga harus kami pertanggung jawabkan pada orang tua dan Allah tentunya, mereka begitu berharga, pandemi covid-19 menjadi alasan orang tua untuk tiak hadir di sekolah. Kamipun harus memberikan pengertian pada siswa untuk menjaga protokol kesehatan, sungguh sebuah kebiasaan anyar yang sulit dan benar benar perlu pembiasaan untuk melakukannya.
Tapi sudahlah, karena kami memang harus melayani dengan sepenuh hati semua kami layani dengan tetap berpikir positif, tanpa prasangka dan tetap semangat tentunya, yakin bahwa suatu saat akan segera berakhirnya pandemi covid-19 yang menyita energi dari semua lini tanpa harus menghakimi, sebagaimana lagu Ebid G Ade “badai pasti berlalu”.
Dan tentunya diiringi rasa syukur, meski sulit dan terasa menghimpit, menyesakan dada dan jiwa sosial kita. Alhamdulillah lega rasanya tahun pembelajaran 2019/2020 berakhir sudah, semua sudah terlewati tanpa ada yang terlompati, mulai PAT (penilaian akhir tahun) dengan segala keruwetannya, Remidi, proses pengisian ARD ( Aplikasi Raport Digital), Rapat kenaikan kelas dan pembagian Hasil Belajar Semester genap. Anak anak dapat menikmati liu semesteran meski sebelumnya menikmati “libur corona”.
Meski semua harus mekewati jalan terjal berliku dan kadang berduri menembus relung hati guru guru hebat kami, guru yang rela lembur sampai malam untuk siswanya agar mempunyai nilai yang diharapkan melebihi standar KKM ( Kriteria Ketuntasan Minimal), kadang juga harus telaten menelepon siswa yang belum memenuhi standar, bukan hanya ke siswa tapi juga ke orang tuanya. Kami menyadari bahwa mengerjakan ujian online dari rumah tidak semudah bayangan, semangat anak anak berbeda ketika mengerjakan bersama teman sekelasnya, terlebih disekolah bisa bertemu dengan sang pujaan hati cinta SMA.
Dan bila tetap tidak ada respon dengan segenap cintanya guru rela menembus ruang dan waktu menyusuri jalan berliku untuk menemui siswa agar terpenuhi nilainya, karena nilai disini bukan sekedar nilai yang sebenarnya bisa kita rekayasa dengan mudahnya, dengan mengaji alias ngarang biji tapi itu tidak kami lakukan, karena nilai yang kami berharap ada nilai tanggung jawab dari mereka siswa siswa kami bahwa apa yang mereka dapatkan sesuai apa yang mereka lakukan bukan bim salabim abagadabra yang membuat mental mereka mental Yang menghalalkan segala cara, dan mental yang mengangap sesuatu serba mudah tanpa perlu berjuang dan berkompetisi.
Kami tidak ingin mereka menganggap nilai sesuatu yang mudah, diperlukan perjuangan sehingga mereka nantinya akan menjadi pejuang pejuang tangguh yang berkarakter yang akan menjadi lentera bahkan pemimpin di negeri ini, negeri yang sangat kita cintai tentu sesuai potensi mereka masing masing, generasi yang proses pembelajarannya sangat istimewa dimana akan dikenang sepanjang sejarah manusia.
Perjuangan para guru dimasa pandemi tidaklah mudah, banyak resiko yang harus kami hadapi ketika kami melakukan tugas kami, karena tidak semua dapat kami lakukan ketika para siswa melakukan LFH (Learning From Home), atau ketika Penilaian Akhir Tahun (PAT) dan menyelesaikan pengisian Raport secara online. Cinta guru terhadap siswa tak akan pudar oleh waktu, dimana masa depan mereka baik maupun buruk juga akan membawa nama baik almamaternya.

*Penulis adalah Guru PPKn MAN 3 Banyuwangi di Srono


New Normal Biasa Namun Jadi Primadona

New Normal Biasa Namun Jadi Primadona
Oleh
Eny Susiani

New normal alias normal baru atau kebiasaan anyar sebenarnya sangat biasa karena namanya normal ya normal atau biasa biasa saja, namun ternyata hal yang biasa bisa menjadi istimewa bahkan sangat istimewa dan menjadi primadona baru, menjadi buah bibir dimana mana mulai dari Presiden, para petinggi , orang biasa dan gaungnya  terdengar  diseantero negeri bahkan hampir di seluruh penjuru dunia bak bunga mawar yang sedang mekar mekarnya, bak gadis cantik swetseventen yang mengundang pesona menjadi buah bibir dimanapun berada.
Normal memang biasa tidak istimewa bila keadaan  sedang normal, tetapi bisa menjadi sebuah asa baru bila keadaan sangat tidak normal, dimana kita semua tahu bahwa beberapa bulan terakhir ini tiba tiba dunia diguncangkan oleh kehadiran makhluk kecil yang disebut dan diberi  nama covid 19. Tentara kecil kiriman Tuhan Allah yang bahkan  mereka tidak tahu dengan nama mereka. Namun kehadirannya benar benar mampu merombak tatanan hidup manusia, mampu memporak porandakan semua lini kehidupan. Hampir semua lini kehidupan mati suri, Manusia yang tadinya dengan segala kesombongannya seakan akan mampu menguasai dunia, dimana dunia seakan  dalam gengamannya, tiba tiba terhenyak, terhempas, tergugu dan ilmu pengetahuan seakan akan kehilangan ruhnya.
Manusia tiba tiba dipaksa untuk diam di rumah , Stay At Home, Psysical Distancing, Sosial Distancing. Semua aktivitas harus di hentikan, yang biasanya bebas kapan saja ke Mall, ke tempat rekreasi, pergi melanglang buana kemanapun disuka sepanjang ada dana, dipaksa untuk tunduk pada keadaan yang sangat tidak biasa, tunduk dan bahkan seluruh penjuru negeri serta seluruh penjuru dunia dipaksa tunduk pada tentara kiriman Allah, kesombongan tiba tiba pergi entah kemana.
Ngeri, takut, khawatir, masuk kerelung hati kita. Jadi takut ketika saling bersua, apalagi berjabat tangan, kita tidak pernah tahu siapa diantara kita yang membawa virus berbahaya yang penularannya bisa  lewat sentuhan yang di bawa oleh manusia. Bila ketika keadaan normal, bersua dengan saudara, teman, kerabat menjadi hal yang istimewa, bakkan kita rentangkan tangan kita,  berpeluk erat dengan mereka, kita saling  tersenyum dan tertawa bersama dalam pelukan, itu bila keadaan normal.  Namu tiba tiba hal tersebut tidak berani kita lakukan karena keadaan sedang tidak normal. Jangankan berpelukan, mencium dan berjabat tangan saja kita tidak berani. Bahkan harus sering cuci tangan pakai sabun atau handsanitizer, jaga jarak, tidak perlu bertemu, bekerja dari rumah/ Work For Home (WFH), belajar di sekolah diliburkan atau Learning For Home (LFH), tempat rekreasi ditutup, mall dan pusat perbelanjaan dibatasi jam bukanya, kriinalitas meningkat, semua menjadi tidak normal.
Hari raya idhul fitri yang merupakan hari kemenangan umat Islam setelah puasa satu bulan penuh yang di Indonesia biasanya dirayakan dengan sangat meriah, tiba tiba menjadi sepi suyi, bahkan sholat id saja di himbau oleh Pemerintah untuk dilaksanaka di rumah saja, kalaupun dilaksanakan di Masjid harus menenuhi protokol kesehatan, tidak ada mudik, tidak ada saling silaturahmi yang ada hanya saling menyapa secara virtual. Para suami tiba tiba jadi Imam Sholat Tarweh, jadi Imam Sholat Id, meskipun jamaahnya hanya beberapa saja, hanya istri dan anak anaknya.
Belajar dirumah diperpanjang berkali kali hingga kami guru dan siswa hanya bisa memeluk rindu,  tersekat ruang dan waktu, tentu kebosanan yang luar biasa yang kita rasakan, karena kita manusia itu makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Ibarat mata uang yang tidak bisa dipisahkan. jadi ketika manusia dipaksa keadaan untuk sosial distancing, ini adalah siksaan tersendiri bagi jiwa merdeka. Terlebih bagi anak sekolah dimana seharusnya dapat belajar bersama disekolah, bermain dan bercengkerama, bagi yang menginjak remaja dapat beremu dengan pujaan hatinya, dipaksa hanya bertemu virtual.
Itulah mengapa ketika Presiden mengumumkan New Normal, semua langsung menunjukkan sentimen positip, harga saham terkerek naik, Rupiah menguat, ekonomi mulai mengeliat, banyak sektor yang tadinya seakan mati suri, pelan tapi pasti mulai hidup kembali,  dengan wajah yang lebih cantik berseri, menjadi primadona baru , New normal, kebiasaan anyar dengan standar baru. Di semua tempat selalu ada tempat cuci tangan lengkap dengan handsoapnya , di desa di kota disemua sudut kehidupan, kemanapun pergi bermasker dan berberkaca mata, mengunakan Face Shlid menjadi sebuah keharusan dan kewajaran, tetap jaga jarak, tetap tidak saling bersalaman dan memeluk meski rindu membuncah di dada, kita semua meski siap dengan New Normal.
Pelajaran berharga bagi kita semua untuk lebih menghargai yang biasa, karena yang biasa ternyata bisa sangat kita rindukan bahkan menjadi sesuatu yang Istimewa ketika kita hidup pada situasi yang tidak biasa. Situasi yang belum pernah tergambarkan dan disimulasikan, situasi yang memaksa kita untuk hidup lebih disiplin dan menghargai sesuatu dari makna.
Selamat memasuki era baru, New Normal, semoga kita menjadi lebih baik, lebih adaptif terhadap perubahan, lebih toleran, saling mendukung, bergotong royong bersama dengan harapan pandemi segera berlalu, covid 19 segera pergi dan kita kembali hidup normal,  atau kalaupun tetap ada kita bisa hidup berdampingan dan saling menghormati sebagai sesama makhluk ciptaan Allah yang tidak saling menyakiti.

*Penulis adalah Guru PPKn MAN 3 Banyuwangi di Srono


 
Copyright © 2013. Warta Blambangan - Semua Hak Dilindungi
Template Modify by Blogger Tutorial
Proudly powered by Blogger